Anda di halaman 1dari 23

PERHITUNGAN PADA GTT 1

PERHITUNGAN PENGHANTAR JTM - JTR

1) Perhitungan penghantar pada SUTM.


Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:

Daya trafo GTT : 160 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).

Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:

160 kVA
IN= =4.62 A
3 20 kV

KHA =1.25 x In
= 1.25 x 4.62
= 5.77 A

Dari tabel KHA penghantar AAAC-S (SPLN 41-10) didapat luas penampang penghantar
sebesar 35mm2 karena untuk menekan rugi rugi sepanjang SUTM, contohnya seperti

drop tegangan yang terlalu besar. Maka, dipilih untuk penghantar SUTM digunakan

kabel AAAC-S merk KABELINDO

2) Perhitungan penghantar pada SUTR (Sekunder Trafo)


Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:

Daya trafo GTT : 160 KVA ( lihat perhitungan trafo GTT).


Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:

160 kVA
IN= =243.09 A
3 380
KHA =1.25 x In
= 1.25 x 243.09
= 303.87 A

Dari tabel KHA penghantar NYY didapat luas penampang penghantar sebesar 95
mm2 dan netral 50 mm2

3) Perhitungan penghantar pada SUTR (Jurusan)


Untuk menghitung KHA penghantar kita harus mengetahui data-data yang
diperlukan untuk kebutuhan perhitungan KHA penghantar tersebut, yaitu:

Daya trafo GTT : 160 kVA ( lihat perhitungan trafo GTT).


Dari data diatas maka In dapat dihitung yaitu:

1. Pada Group 1
(59575,32) VA
IN= =90,52 A
3 380

KHA = 1.25 x In
= 1.25 x 90,52= 113,144 A
Dari table KHA penghantar TC NFA 2X-T didapat luas penampang penghantar
sebesar 70 mm2 dan netral 50 mm2

2. Pada Group 2
58665,32 VA
IN= =89,133 A
3 380

KHA = 1.25 x In
= 1.25 x 89,133 = 111,42 A
Dari table KHA penghantar TC NFA 2X-T didapat luas penampang penghantar
sebesar 70 mm2 dan netral 50 mm2
Perhitungan Kabel Sutr Berdasarkan Drop Tegangan

Untuk perhitungan luas penampang kabel JTR digunakan sampel Fasa T dari C1
C1B3C3 karena dihubungkan dengan beban yang paling besar dan jarak jaringan
yang paling panjang

o Untuk C8D7A2D1
Jarak GTT C1 = 8 m

Untuk andongan maka di tambahkan 2 %

8 x 102% =8,16M

Beban = 0

o Untuk C8D7A2D1
Jarak GTT C1 = 40 m

Untuk andongan maka di tambahkan 2 %

40 x 102% =40,08M

(1300 x10)
IN 59,1A
220

o Untuk C8D7AA2B1
Jarak GTT C1 = 40 m

Untuk andongan maka di tambahkan 2 %

40 x 102% =40,08M

(1300 x5)
IN 29,55 A
220
Luas Penampang Kabel

V =220/380V

V = 5% x 220 = 11 V

xlxI
A lxi
V v

8,16
0,0178
A 40,08 x59,1 5,76mm
11
40,08 x 29,55

Dari tabel KHA penghantar TC (PUIL 2000) maka menggunakan penghantar TC

dengan luas penampang penghantar sebesar 25 mm /fasa (KHA 108 A), hal
tersebut dilakukan untuk menekan rugi-rugi sepanjang saluran SUTR, contohnya
seperti drop tegangan yang terlau besar, yang diakibatkan oleh suhu sekitar dan
jarak pemasangan. Dan untuk SR menggunakan penghantar TC 10mm 2.
Perhitungan Panjang Kabel JTR dan Pengaman GTT

Kabel JTR

1. Fasa R
50 m + 50 m + 40 = 140 m
2. Fasa S
60 m + 40 m + 40 =140 m
3. Fasa T
50 m + 10 m + 40 = 100 m
4. Netral
100 + 100 m = 200m
PENGAMAN PADA GTT

SUTM 20 kV

Cut Out

Arester

Pengaman Grounding trafo maksimal 5


utama 80
% x In
sekunder

Grounding LA Maksimal 1
PERHITUNGAN ARUS HUBUNG PENDEK
Jaringan sisi atas (tegangan menengah)
Psc = 500 MVA

400
x0,15.10 0,005m
500
R1 =

400
x0,9810 0,33m
500
X1=
Z= R1+X1 = 0,005+0,33 = 0,34 m
Transformator
S = 160 KVA
Usc= 4%
U = 400 V
Wc = 2 kW

2000 x 4002 x 103


R 2= =12,5 m
1602

4 400
( x ) (12,5) 38m
100 160
X= (
Koneksi kabel dari trafo kepemutus daya 4x120mm (NYY) L=7,5 m/phase

l 7,5
2,64m
A 4 x120
R3= 22,5x

0,12
x7,5 0,23m
4
X3=
Koneksi busbar Cu untuk KHA 303,87 A = Cu 1x (12x2)mm
L=3m

l 3
2,8m
A 24
R4= 22,5x
X4= 0,15 x 3 = 0,45
V0 400 400
I SC 5,38kA
3. R X
2 2
3. 17,945 2 39,012 74,37

Pengaman GTT
Dalam perencanaan ini perhitungan pengaman melihat daya trafo yang digunakan pada trafo
GTT

A. CUT OUT
Cut Out berfungsi untuk mengamankan transformator dari arus lebih. Cut out
dipasang pada sisi primer transformator, dalam menentukan cut-out hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah:

Arus nominal beban untuk pemilihan rating arus kontinyu cut-out


Tegangan sistem untuk pemilihan rating tegangan
Penggunaan CO tergantung pada arus beban, tegangan sistem, type sistem, dan
arus gangguan yang mungkin terjadi.
Dalam pemilihan Cut Out, teragantung dari pemakaian trafo apakah memakai minyak
atau trafo kering. Di dalam PUIL 2000 hal 190, apabila menggunakan trafo kering, In CO
dikalikan 125 % (maksimal).

160kVA
3 X 20kV
In CO = 125 % X

= 5,77 A

Sehingga Menggunakan Fuse Link Tipe K dengan arus nominal 6 A

B. Pemilihan Load Breaker Switch (LBS)


Alat proteksi untuk memutus arus, baik saat berbeban maupun tak berbeban.LBS ini
dipasang pada LV panel untuk memutus koneksi dengan beban. Kemampuan dari LBS
disesuaikan dengan rating arus nominal jaringan yang akan diproteksi oleh LBS. Syarat
dari LBS adalah mampu memutus jaringan dengan arus yang sangat besar tanpa
mengalami kerusakan mekanis.
160000
In sekunder 230,94 A
3 400
In LBS 115% 265,58 A
1,15 x 265,58 305,42 A

Maka dipilih LBS dengan In minimal 315 A

C. Penentuan Fuse Pengaman Utama dan Cabang SUTR


S
I N pada sisi sekunder=
3 V
160 kVA
I N pada sisi sekunder= =243,09 A
3 380

Dari perhitungan diatas maka perhitungan menggunakan MCCB dengan perhitungannya


adalah sebagai berikut :
KHA = 1.25 x In
= 1.25 x 243,08 = 303,87 A
Maka digunkana NH fuse dengan rating 315 A, Tegangan 400 V

Uuntuk pengaman cabang :


- Cabang (jurusan 1), KHA = 113,144 A
Maka digunkan NH fuse dengan rating 125 A, V = 400 V
- Cabang (jurusan 2), KHA = 111,42 A
Maka digunkana NH fuse dengan rating 125 A, V = 400 V
ARESTER
Arrester dipakai sebagai alat proteksi utama dari tegangan lebih.. Karena
kepekaan arrester terhadap tegangan, maka pemakainya harus disesuikan dengan
tegangan sistem. Pemilihan lightning arrester dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat
isolasi dasar yang sesuai dengan Basic Insulation Level (BIL) peralatan yang dilindungi,
sehingga didapatkan perlindungan yang baik. Pada pemilihan arrester ini dimisalkan
tegangan impuls petir yang datang berkekuatan 200 KV dalam waktu 0,1s, jarak titik
penyambaran dengan transformator 5 Km.

Tegangan dasar arrester


Pada jaringan tegangan menengah arrester ditempatkan pada sisi tegangan tinggi
(primer) yaitu 20 KV. Tegangan dasar yang dipakai adalah 20 KV sama seperti
tegangan pada sistem. Hal ini dimaksudkan agar pada tegangan 20 KV arrester
tersebut masih tetap mampu memutuskan arus ikutan dari sistem yang effektif.

Tegangan sistem tertinggi umumnya diambil harga 110% dari harga tegangan
nominal sistem. Pada arrester yang dipakai PLN adalah :
Vmaks = 110% x 20 KV

= 22 KV

Koefisien Pentanahan
Didefinisikan sebagai perbandingan antara tegangan rms fasa sehat ke tanah dalam
keadaan gangguan pada tempat dimana penangkal petir. Untuk menetukan tegangan
puncak (Vrms) antar fasa dengan ground digunakan persamaan :

Vrms = 20 KV

Dari persamaan di atas maka diperoleh persamaan untuk tegangan phasa dengan
ground pada sistem 3 phasa didapatkan persamaan :

20kV 2
3
Vm(L - G) =

20 2
3
=
= 16,33 KV

16,33 KV
20 KV
Koefisien pentanahan =

= 0,82

Keterangan :

Vm = Tegangan puncak antara phasa dengan ground (KV)

Vrms = Tegangan nominal sistem (KV)

Tegangan pelepasan arrester


Tegangan kerja penangkap petir akan naik dengan naiknya arus pelepasan, tetapi
kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan linier dari penangkap petir.

Tegangan yang sampai pada arrester :

e
K .e.x
E =

200 KV
0,0006 5 Km
E =

= 66,6 KV

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (A)

e = tegangan surja yang datang (KV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)

Z = impedansi surja saluran ()

R = tahanan arrester ()
Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang dibatasi
oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flashover dan probabilitas tembus
isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga e adalah :

e =1,2 BIL saluran

Keterangan :

e = tegangan surja yang datang (KV)

BIL = tingkat isolasi dasar transformator (KV)

2e Eo
Z+R

Arus pelepasan nominal (Nominal Discharge Current)


I =

Z adalah impedansi saluran yang dianggap diabaikan karena jarak perambatan


sambaran tidak melebihi 10 Km dalam arti jarak antara GTT yang satu dengan yang GTT
yang lain berjarak antara 8 KM sampai 10 KM. ( SPLN 52-3,1983 : 11 )

tegangan kejut impuls 100%


arus pemuat
R =

105KV
2,5KA
=

= 42

2 x 200 KV 66,6
0 42
I =

= 7,94 kA

Keterangan :

E = tegangan pelepasan arester (KV)

e = puncak tegangan surja yang datang


K = konsatanta redaman (0,0006)

x = jarak perambatan

Jatuh tegangan pada arrester dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

V =IxR

Sehingga tegangan pelepasan arrester didapatkan sesuai persamaan :

ea = Eo + (I x R)

Keterangan :

I = arus pelepasan arrester (KA)

Eo = tegangan arrester pada saat arus nol (KV)

Eo = tegangan pelepasan arrester (KV)

Z = impedansi surja ()

R = tahanan arrester ()

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,5 x 40 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut.

Pemilihan tingkat isolasi dasar (BIL)


Harga puncak surja petir yang masuk ke pembangkit datang dari saluran yang dibatasi
oleh BIL saluran. Dengan mengingat variasi tegangan flasover dan probabilitas
tembus isolator, maka 20% untuk faktor keamanannya, sehingga harga E adalah :

e =1,2 BIL saluran

e = 1,2 x 125 KV

e = 150 KV
Basic Impuls Insulation Level (BIL) level yang dinyatakan dalam impulse crest
voltage (tegangan puncak impuls) dengan standart suatu gelombang 1,2/50 s.
Sehingga isolasi dari peralatan-peralatan listrik harus mempunyai karakteristik
ketahanan impuls sama atau lebih tinggi dari BIL tersebut. Sehingga dipilih BIL
arrester yang sama dengan BIL transformator yaitu 125 KV

Tabel Batas Aman Arrester

Pemilihan Arrester
Dalam hal ini pemilihan arrester yang digunakan untuk sistem tegangan menengah
yaitu arrester katup. Arrester ini terdiri dari atas beberapa sela percik yang
dihubungkan seri dengan resistor tak-linier. Resistor tak linier mempunyai tahanan
yang rendah bila dialiri arus besar dan mempunyai tahanan yang besar saat dialiri arus
kecil. Resistor tak-linier umumnya digunakan untuk arrester yang terbuat dari bahan
silikon karbid. Kerja arrester ini tidak dipengaruhi keadaan udara sekitar karena sela
percik dan resistor tak-linier keduanya ditempatkan dalam tabung isolasi tertutup.

Buatan : Elpro

Rated Voltage : 21 kV

MCOV : 17 kV

Ref. Voltage : 21 kV

Arus pelepasan : 5 kA

Switcing impulse : 125 A


PENTANAHAN GROUNDING JTR
Agar permukaan tanah di lokasi GTT mempunyai perbedaan potensial yang serendah-
rendahnya pada waktu terjadi hubung tanah. Sistem pentanahan GTT menggunakan
konduktor yang ditanam secara horisontal dengan bentuk kisi-kisi. Pada pentanahan harus
mempunyai tahanan maksimum 5 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem
pentanahan elektroda batang tunggal dan dipasang pada tiap tempat diatas dengan catatan:

Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m

mm 2
Luas penampang elektroda adalah 50

L .r 2

50 3,14.r 2

50
r
3,14

r 4mm

Menggunakan sistem pentanahan elektroda batang tunggal


Panjang elektroda ( l ) = 3 meter
Elektroda ditanam sedalam panjang elektroda
Jarak antar elektroda 2 mtet.

4L
ln 1
2. . a
R pentanahan =

100 4 x3
ln 1
2. .3 0,004


= 42,47

JUMALAH PARALEL ELEKTRODE


42,47
=4,71
9buah

Jadi, tahanan pentanahan yang diperoleh dengan sistem pentanahan elektroda


batang tunggal dan diparalel / menggunakan sistem Grid sejumlah 9 buah
elektrode masing masing dengan panjang 3 meter adalah sebesar 4,71 . Sehingga
memenuhi syarat PUIL.
2m 2m

2m
2m
Detail Pemasangan Elektroda Pentanahan pada Pipa Bantu

D. PENTANAHAN TITIK NETRAL TRAFO GTT

Pada pentanahan titik netral trafo, panel MDP, body Genset, dan panel genset

harus mempunyai tahanan tahanan < 1 ohm. Dalam pentanahan ini menggunakan sistem

pentanahan elektroda batang triangle dengan catatan :


Elektroda ditanam pada tanah ladang dengan tahanan jenis ( ): 100 ohm/m (hasil
pengukuran)
Data Elektroda yang digunakan (Menurut katalog) :

l (Panjang Elektroda) : 10 ft = 3.048 meter

d (diameter elektroda) : inch = 12.7 mm = 12.7 10 -3 m

r (jari-jari elektroda) : 6.35 10 -3 m

Konfigurasi : triangle

Jarak antarelektroda (L) : 6.1 m (2 kali panjang elektroda)

Dimana :

1+2 m
k=
3

1+ L 1+6.1 7.1
x= = = =1.16
L 6.1 6.1

ln x ln1.16 0.15
m= = = =0.02
l 3.048 6.14
ln ln
r 6.35 103

1+2 m 1+2( 0.02) 1+ 0.04 1.04


k= = = = =0.34
3 3 3 3

k 100 0.34
Rpt= = =0.88 ohm sudah memenuhi standart pentanahan yaitu<1 ohm
2 L 2 3.14 6.1
Detail Pemasangan Elektroda Pentanahan pada Pipa Bantu