Anda di halaman 1dari 21

Kafir Dalam Konteks Islam

( Kafir Dzimmi dan Kafir Muahad)

Di ajukan sebagai salah satu sayarat memenuhi tugas pada mata kuliah

Pendidikan Agama Islam

Di Susun Oleh :

RIZKA NURIZQIAWATI (12166303)

AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER

Jl.Cemerlang No.08, Sukakarya, Sukabumi, Telp.(0266) 6251992. 6251993

e-mail : amik.sukabumi@bsi.ac.id

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah Swt. Tuhan yang menguasai alam semesta beserta isinya
dan tiada sekutu bagi-Nya. Shalawat dan salam sejahtera semoga dilimpahkan atas Nabi
Muhammad SAW dan keluarganya, begitu pula atas para sahabat beliau yang senantiasa setia
terhadap ajaran-ajaran islam yang mulia sehingga alhamdulilah saya bisa menyelesaikan
makalah Pendidikan Agama Islam ini dengan baik dan tepat waktu.
Tujuan utama dalam penyusunan makalah ini yaitu sebagai bukti tertulis dari hasil presentasi
mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak yang
telah membantu penyelesaian tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.

Sukabumi, April 2017

Penulis,
DAFTAR ISI

Kata Pengantar........ii

Daftar Isi......iii

Abtraksi.. iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


................................................................................................................
1
1.2 Tujuan
.................................................................................................................
2
1.3 Rumusan Masalah
.................................................................................................................
2
1.4 Ruang Lingkup
................................................................................................................
2

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kafir Dzimmi


................................................................................................................
3
2.2 ................................................................................................................
5
2.3 ................................................................................................................
6
2.4 ................................................................................................................
7

BAB IV PENUTUP

a. Kesimpulan
................................................................................................................
11
b. Saran
................................................................................................................
11

DAFTAR REFERENSI

ABTRAKSI
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Ada beberapa orang kafir yang hidup di negeri islam terhadap mereka di
larang keras meembunuhnya.karena mereka punya juga hak hidup.mereka punya hak
perlidungan dari negeri islam dimanapun mereka tinggal.Dan mereka wajib patuh
pada perauran di negeri islam itu,termasuk dalam hal membayar pajak (bukan
jakat).maka ketika zaman nabi saw pun keadaan mereka sangant terjamin.Aman tanpa
gannguan,dan di jamin hak hak kehidupannya.
Bahkan mmerebut harta mereka sama saja merebut harta kaum muslim
sendiri.Kegiatan ibadah apapun yang mereka lakukan juga di jamin keamanan nya
pada saat itu sehingga mereka sangat menghormati nabi saw dan para khalifah karena
kebijaksanaan dalam memimpin.
Tentunya selama mereka tidak memusuhi islam maka tidak jadi masalah. Dulu
kaum quraisy yang terkenal bencinya pada islam dan sangat membenci nabi SAW
juga merasa terlindungi.
Saat itu penaklukan makkah (Fathul Makkah) dimana mereka sampai nasibnya di
ujung tanduk. Terintas sudan nasib yang mungkin akan mereka peroleh. Terutamaatas
rencana pembunuhan terhadap nabi SAW betapa buruk perbuatan saat itu.
Kafir adalah orang yang menutupi, menyembunyikan sesuatu, atau
menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau tidak berterima kasih atau
mengingkari kebenaran.

Hadis dari riwayat muslim yang menjelaskan mengenai pemberian perlindungan


terhadap seorang kafir dzimmi oleh seorang muslim, sebab mereka telah melakukan
atau mengadakan diplomasi dengan orang muslim sendiri, sehingga seorang kafir
dzimmi terikat sebuah hubungan perjanjian, kemudian seorang muslimpun
sedemikian rupa, dan salah satu contoh perjanjian yang tanpak pada suatu piagam
madinah yang telaha dideklarasikan secara bersama yaitu umat muslim dan kafir
dzimmi, dimana terdiri dari 47 pasal.
Sejak dideklarasikannya piagam tersebut, dan saat itulah sistem kenegaraan islam
mulai terbentuk. Salah satu isi piagam tersebut mengenai hubungan kaum muslim dan
kaum non muslim. Pada dasarnya ialah membentuk suatu sistem negara secara
maslahat, dan saling menjaga kerukunan dan kemajuan peradaban manusia.
Kafir Muahad yaitu orang kafir yang diantara kita terikat perjanjian, baik di negeri
kita, atau di negerinya yang diantara kita dengannya perjanjian damai untuk tidak
berperang, maka ini dinamakan kafir Mu'ahad.(Tri Handoko)

1.1 Maksud dan Tujuan


Tujuan disusunnya makalah ini yaitu untuk menyelesaikan tugas Ujian Akhir Semester 2
mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, kami berharap di buatnya makalah ini
bukan hanya untuk tugas yang diberikan semata, akan tetapi membantu kita semua dalam hal
mempelajari ilmu pengetahuan khususnya mengenai kafir dalam konteks islam.

Maksud
Di buat nya makalah ini :

1.menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang mata kuliah Pendidikan Agama Islam .

2. Mengetahui pengertian kafir Dzimmi dan Muahad

3.Mengetahui tentang Ayat dan hadist tentang kafir Dzimmi dan muahad

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah ini diperlukan guna memperoleh pembahasan yang mengarah pada
pemecahan masalah yang diinginkan. Berdasarkan pembahasan masalah yang telah
dikemukakan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
A. Apa pengertian kafir dzimmi dan kafir muahad?
B. Kafir Dzimmi menurut para Ulama?
C. Hak hak dan kewajiban kafir dzimmi?
D. Sebutkan beberapa contoh Ayat dan Hadist mengenai untuk melindungi kafir dzimmi
dan muahad ?

1.4 Ruang Lingkup


Ruang lingup makalah ini adalah membahas seputar kafir Dzimmi dan muahad.

BAB II
Landasan Teori

2.1 Orang kafir di negeri islam

Terma kafir telah ada sejak masa Rasulullah Saw, yang dibuktikan dengan banyaknya
ayat-ayat al-Quran yang mengulas tentang kafir, baik dari sisi pelakunya maupun
perbuatannya. Hal ini menunjukkan bahwa menyematan vonis kafir (takfi>r) telah
ada sejak masa itu. Munculnya konsep takfi>r di masa ini di dukung dengan dalil-
dalil syari berupa wahyu yang diturunkan langsung kepada Rasulullah Saw (QS. an-
Najm : 34). Vonis kafir ini merupakan salah satu bagian dari konsep syariat dalam
Islam, sehingga dalam penerapannya harus berdasarkan dalil-dalil syari (QS. al-
Isra> : 36). Selama periode kepemimpinan Rasulullah Saw ataupun pada masa
pemerintahan Abu> Bakar, Umar, dan Us\man, tidak pernah terjadi
perpecahan di antara umat Islam. Perbedaan pandangan yang terjadi dalam
beberapa perkara besar seperti wafatnya Rasulullah Saw, pemakaman beliau,
peristiwa S|aqifah, dan peperangan terhadap orang-orang yang murtad, serta
dalam beberapa masalah hukum berakhir dan dapat diselesaikan tanpa adanya
perpecahan di tubuh umat Islam. (Aini, 2013)
BAB III

PEMBAHASAN

2.1 A. Pengertian Kafir Dzimmi

Secara istilah, dzimmi (bahasa Arab: , majemuk: , ahlul dzimmah, "orang-orang


dzimmah") adalah orang non-Muslim merdeka yang hidup dalam negara Islam yang, sebagai
balasan karena membayar pajak perorangan, menerima perlindungan dan keamanan.

Hukum mengenai dzimmi berlaku di sebuah negara yang menjalankan Syariah Islam.
Kata dzimmi sendiri berarti "perlindungan".Status dzimmi mulai berlaku di daerah-daerah
Islam dari Samudera Atlantik hingga India sejak zaman Muhammad pada abad ke-7 hingga
zaman modern. Dari waktu ke waktu, banyak orang dzimmi yang masuk Islam. Kebanyakan
dari mereka pindah agama secara sukarela, kecuali pada beberapa kasus pada abad ke-12,
misalnya zaman kekuasaan Muwahidun di Afrika Utara dan Al-Andalus, serta pada masa
kekuasaan Syiah di Persia.

Secara Definisi kafir dzimmi (Ahlud dzimmah) adalah setiap orang yang beragama bukan
Islam dan menjadi rakyat negara yang memberlakukan syariat Islam secara legal formal, serta
memenuhi aturan yang ditentukan negara Islam, seperti berrsedia ikut memberlakukan
pelaksanaan hukum pidana Islam.

Terhadap kafir dzimmi ini umat Islam dilarang untuk mengganggu, mendhalimi atau
mengurangi hak-haknya, karena perbuatan semacam itu telah diharamkan secara mutlak
dalam syariat Islam. Selaras dengan pengertian ahlu zimmah adalah ahlul aman. Mereka
adalah orang kafir yang mendapatkan perlindungan sementara dari umat Islam. Misalnya,
mereka berasal dari kalangan kafir harbi, namun meminta izin untuk sementara waktu datang
kepada umat Islam.
Bedanya dengan ahlu dzimmah adalah jaminan keamanannya itu bersifat sementara dan
dalam waktu tertentu saja. Contohnya adalah juru runding dari pihak kafir harbi yang datang
ke wilayah umat Islam, mereka akan mendapatkan jaminan keamanan atas diri dan hartanya,
selama menjadi tamu di kalangan umat Islam.

Kafir dzimmi, yaitu kafir yang tidak memusuhi Islam, sebaliknya, mereka adalah kafir yang
tunduk kepada aturan negara Khilafah sebagai warga negara, meskipun mereka tetap dalam
agama mereka.

B. Pengertian kafir Muahad

Kafir Muahad, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan
kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Dan kafir
seperti ini juga tidak boleh diganggu sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah
dibuat.

Kafir Mu'ahad adalah orang kafir yang diantara kita terikat perjanjian, baik di negeri kita,
atau di negerinya yang diantara kita dengannya perjanjian damai untuk tidak berperang, maka
ini dinamakan kafir Mu'ahad.
2.2 KAFIR DZIMMI MENURUT PARA ULAMA.

KETENTUAN AHLI DZIMMAH (KAFIR YANG DIBERI JAMINAN DI NEGRI ISLAM)

Allah Ta'alaa berfirman:


(
)
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari
kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang
diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang
mereka dalam keadaan tunduk."
[Surat At-Tawbah 29]

Dalam ayat ini menerangkan bahwa orang-orang kafir yang tidak diperangi karena tunduk
dengan islam menjadi ahli dzimmah/kafir dzimmi (kafir yang dijamin atau dilindungi),
Maka para ulama mendifinisikan makna TUNDUK .

Ibnu Hazm al-andalusi berkata tentang maksud "tunduk


"Maksud Shighor(tunduk) adalah berlaku hukum islam kepada mereka (kafir dzimmi) dan
agar mereka tidak menampakkan terang-terangan sedikitpun kekufuran mereka dan juga tidak
(menampakan ) apa-apa yang diharamkan dalam dienul islam, Allah Ta'ala berfirman:
" Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu seluruhnya hanya
milik Allah". (Al-Anfaal: 39)
(Al Muhallaa/ibnu hazm)

Imam As-Syafii berkata

"Maka Shigor "Tunduk" maksudnya -wallahu 'alam- adalah berlaku atas mereka (ahli
dzimmah) hukum islam"(Al Umm, 4/233)
Dan Imam As Syafii juga berkata :

"..seandainya mereka mengatakan, kami akan berikan kalian Jizyah, akan tetapi jangan
berlakukan kepada kami hukum kalian maka tidaklah lazim bagi kita menerima itu dari
mereka, karena Allah azza wa jalla berfirman:
"sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk".

(At-Taubah: 29)

Dan Aku tidak pernah mendengar satupun(ulama salaf) yang menyelisihi bahwa makna
Shigor (Tunduk) adalah hukum islam berada diatas hukum syirik dan berlaku (hukum islam)
atas mereka (ahli dzimmah)". (Al Umm, 4/297)

Muhammad bin Hasan al hanafi berkata :

"Bahwa maksud dari aqad dzimmah(jaminan) bagi kafir harbi bukanlah harta (jizyah) akan
tetapi kafir harbi(yang memiliki aqad dzimmah/menjadi dzimmi) dia harus taat dengan
hukum-hukum islam yang berlaku pada perkara-perkara muamalah".
(Syarh siyar kabir, 5/152)

Imam As- Syafii dalam kitabnya tentang syarat ahli dzimmah :

"Wajib atas kalian untuk tidak menampakan sedikitpun bentuk SALIB diwilayah-wilayah
kaum muslimin dan kalian tidak boleh menampakkan terang-terangan kesyirikan dan jangan
membangun gereja ataupun tempat (khusus) berkumpul untuk ibadah kalian dan jangan
memukul lonceng kecuali jika terdapat maslahat bagi mereka dan janganlah menampakkan
khomer seluruh wilayah kaum muslimin". ( Al Umm, 4/210).
Abu bakar al kasani ulama hanafiah berkata :

"Tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menampakkan salib mereka pada hari raya mereka
karena hal tersebut adalah bentuk menampakkan syiar-syiar kufur maka tidak boleh bagi
mereka diseluruh wilayah kaum muslimin".
(Badaa'iyu As Snonaayi', 1/144)

Ibnu Qudamah didalam.kitab Syarah Kabir, 10/587 berkata :

"Tidak boleh ada aqad ahli dzimmah yang kekal kecuali dengan 2 syarat, yang pertama :
dia(kafir dzimmi) wajib untuk membayar jizyah setiap tahunnya.
yang kedua : dia harus tunduk dengan hukum-hukum islam yaitu menerima akan apa-apa
yang mereka dihukumi dengannya dari penunaian haq atau meninggalkan yang dilarang
berdasarkan firman Allah Ta'alaa:
"sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka shogir(tunduk)".
(As Syarh Alkabiir,10/587)

Imam As Syaukaani berkata :

"Tetapnya dzimmah(jaminan kafir dzimmi) bagi mereka disyaratkan untuk membayar jizyah
dan wajib bagi mereka sebagaimana yang wajib bagi kaum muslimin(hukum islam), maka
apabila tidak ada pelaksanaan dari syarat-syarat yang diwajibkan atas mereka, maka mereka
kembali menjadigoogle keadaan sebelumnya dari dihalalkannya darah dan harta mereka,
dan ini perkara yang telah diketahui dan tidak ada khilafiyah padanya".
(Sailul Jaraar, 1/975, cetakan Ad Daar Ibnu Hazm)
2.3 HAK HAK DAN KEWAJIBAN KAFIR DZIMMI

HAK-HAK KAFIR DZIMMI, ANTARA LAIN:

1.Berhak mendapatkan izin tinggal dan menjadi penduduk secara resmi di dalam wilayah
negara bersyariat Islam.
2. Jaminan keamananan atas nyawa mereka dan keluarga.
3. Jaminan keamanan atas harta benda yang dimilikinya.
4. Jaminan untuk melaksanakan ibadah menurut agamanya. Umat Islam dilarang memaksa,
menyudutkan atau memerintahkan mereka masuk Islam, kecuali bila atas kesadaran mereka
sendiri.
5. Jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
6. Jaminan atas keamanan kehormatan dan harga diri mereka, baik yang terkait dengan nama
baik, nasab, susila dan lainnya.
7. Jaminan dari berbagai macam ganggungan lainnya, baik yang berasal dari umat Islam atau
pun dari orang kafir lainnya.

Seorang dzimmi itulah yang diberi hak untuk menyampaikan aspirasinya dalam suatu
negara. Mereka tidak boleh dibunuh atas dasar kemanusiaan dan perjanjiannya, sebab
seorang muslim yang mengganggunya tidak akan pernah mencium bau surga tersebut.
Dalam hal ini Bukhari dan Ibnu Majah menjelaskan kata Lam Yarih Raaihata al-Jannah :

1. Orang yang mengganggu mereka (al-Muaahad / Ahl al-Dzimmah) harus ditindak secara
hukum.
2. Orang yang membunuh mereka (al-Muahad / Ahl al-Dzimmah) tidak akan masuk surga.
3. Orang yang membunuh mereka (al-Muahad / Ahl al-Dzimmah) bisa masuk surga, tapi
tidak akan dapat menciu bau surga (Majaz).

KEWAJIBAN BAGI KAFIR DZIMMI, ANTARA LAIN:


1. Membayar jizyah (upeti) kepada pemerintah Islam, sebagai jaminan keamanan. Bukan
bayar pajak seperti yang diberlakukan di Indonesia dengan kesamaan tarikan terhadap umat
Islam dan non muslim.
2. Jika berbuat pelanggaran secara pidana, maka harus mengikuti hukum Islam untuk
penentuan sanksinya.
3. Berlaku sopan santun terhadap umat Islam yang ditemuinya. Bahkan tidak boleh duduk di
tempat yang berkonotasi melebihi dari kehormatan umat Islam.

2.4 Beberapa Contoh Surat,Ayat dan Hadits Untuk Melindungi Kafir Dzimi :
Contoh Surat ayat Kafir Dzimmi

"Bahwasanya, barangsiapa membunuh suatu jiwa, padahal dia tidak membunuh jiwa atau
tidak membuat kerusuhan di permukaan bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh
manusia seluruhnya" (al-Maidah: 32).

"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang
tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil" (QS. Al Mumtahanah (60) : 8).

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu
menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah! karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS. Al Maidah (5) : 8).

"Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu,
lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak
memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi
jalan bagimu untuk melawan mereka" (QS. Al Maidah (4) :90).

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung (Surah Ali Imran ayat 110).

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah .
(Surah An-Nisa` ayat 114).

Contoh Hadist Kafir Dzimmi

"Barang Siapa Menyakiti Kafir Dzimmi, Maka Aku (Rasulullah) Akan Menjadi Lawannya di
Hari Kiamat" (HR. Muslim).

Barang Siapa Membunuh Seorang Kafir Dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga.
Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun

(HR. An Nasai. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

"Rasulullah saw. mengecam keras pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak"

(HR. Bukhari [3014] dan Muslim [1744]).

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya
dengan tangannya, jika dia tidak sanggup maka dengan lisannya, jika dia tidak sanggup maka
dengan hatinya dan itulah selemah-lemah keimanan (HR. Muslim).

Contoh Surat dan ayat Kafir Muahad


Maka selama mereka berlaku istiqomah terhadap kalian, hendaklah kalian berlaku istiqomah
(pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
(QS. At-Taubah : 7).

Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka)
dan mereka tidak mengurangi dari kalian sesuatu pun (dari isi perjanjian) dan tidak (pula)
mereka membantu seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah
janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertakwa.
(QS. At-Taubah : 4).

Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca
agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran itu, karena sesungguhnya
mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka
berhenti. (QS. At-Taubah : 12).

Contoh Hadist Kafir Muahad


Dan Rasulullah shollallahu alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Abdullah bin
Amr riwayat Bukhary:

Siapa yang membunuh kafir Muahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya
bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhary)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, Barang siapa yang membunuh
seorang kafir muahad maka dia tidak akan bisa mencium baunya surga dan sesungguhnya
baunya itu bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.

( Hadits riwayat Bukhari, Kitab Al Jizyah wal muwaadaah, bab man qatala muaahadan
bighairi jurmin, hadits no. 3166 dari Abdullah bin Amr ).
BAB IV

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

Penulis menyadari keterbatasan serta ketidak sempurnaan makalah ini, meskipun telah bersungguh-
sungguh mencurahkan segenap kemampuan untuk menyelesaikannya. Untuk itu kami berharap
pembaca dapat memberikan kritik maupun saran yang bersifat membangun, agar pembuatan makalah
ini bisa lebih baik kedepannya.
DAFTAR REFERENSI

Al-'Asqalaniy, Syihabuddin Abu Al-FadhAhmad bin 'Aliy bin Hajar, Tahdzibu Al-
Tahdzib, Juz 2. (Libanon : Dar SADER, 1986).

Al-Bukhariy, Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Al-Mughirah bin Bardizbah,
Shahih Al-Bukhariy, jilid 7. (Libanon : Dar Al-Fikr, 1981)

Al-Nasa'iy, Abu Abdir Rahman Ahmad Bin Syu'aib, Kitab Sunan Al-Kubra, juz 4
(Libanon : Dar Al-Kutub).

Al-Qazwayniy, Abu 'Abdillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Madjah. juz 2.
(Libanon : Dar Al-Fikr, 1995).

Djasuli, H.A. Fiqih Siyasah; Implementasi Kemashlahatan Umat Dalam Rambu-Rambu


Syari'ah, (Jakarta : Kencana, 2003).

Sjadzali, Munawir, Islam Dan Tata Negara, (Jakarta : UI-Press, 1993), 9-15

Program CD Kutub Al-Tis'ah (Mausu'ah Al-Hadits Al-Syarif).