Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Profil Proses Pembelajaran


Secara umum Bahasa Inggris memiliki peran sentral dalam

perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan

penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.

Pembelajaran bahasa diharapkan membantu Peserta didik mengenal dirinya,

budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga

membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan,

berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan

kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.


Pendidikan sebagai bagian integral kehidupan masyarakat di era

global harus dapat memberi dan memfasilitasi bagi tumbuh dan

berkembangnya keterampilan intelektual, sosial, dan personal. Pendidikan

harus menumbuhkan berbagai kompetensi peserta didik. Keterampilan

intelektual, sosial, dan personal dibangun tidak hanya dengan landasan rasio

dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreativitas, moral, intuisi (emosi) dan

spiritual.
Sekolah sebagai institusi pendidikan dan miniatur masyarakat perlu

mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan kebutuhan era global. Melalui

sekolah siswa belajar mengenai banyak hal. Pembelajaran yang berlangsung

disekolah-sekolah diharapakan berlangsung secara efektif namun, banyak hal

yang mempengaruhi hasil belajar siswa, diantaranya kondisi pembelajaran

umumnya dilakukan dalam bentuk satu arah artinya guru lebih banyak

berceramah dihadapan siswa sementara siswa hanya diam mendengarkan.

1
Guru beranggapan bahwa tugasnya hanya mentransfer topik-topik yang

tertulis dalam dokumen kurikulum. Pada umumnya guru tidak memberikan

inspirasi kepada siswa untuk berkreasi dan tidak melatih siswa untuk hidup

mandiri, pada dasarnya pelajaran yang disajikan guru kurang menantang

siswa untuk berfikir secara aktif akibatnya pemahaman siswa terhadap

pelajaran tersebut sangatlah kurang dan siswa menjadi tidak menyenangi

pelajaran terutama pelajaran Bahasa Inggris.


Proses pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan metode

ceramah, pemberian tugas dan latihan pada pokok bahasan tertentu

merupakan kegiatan pokok namun proses pembelajaran seperti ini akan lebih

efektif apabila siswa dilibatkan secara aktif. Dalam pembelajaran Bahasa

Inggris siswa tidak hanya diharapkan dapat menguasai konsep, prinsip, fakta

dan keterampilan yang berkenaan dengan pembelajaran Bahasa Inggris.Akan

tetapi keterampilan untuk hidup dimasyarakat seperti rasa tanggung jawab,

rasa percaya diri, saling menghargai, dan memiliki sikap sosial yang tinggi,

serta memiliki sikap kepemimpinan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran

Bahasa Inggris guru hendaknya mempunyai berbagai variasi, pendekatan,

stategi dan metode yang sesuai dengan situasi, sehingga tujuan pembelajaran

dapat tercapai. Pembelajaran kooperatif berpotensi menjadikan siswa sebagai

pusat pembelajaran sehingga siswa akan lebih aktif dalam proses

pembelajaran. Dengan demikian dalam pembelajaran Bahasa Inggris sangat

perlu diterapkan pembelajaran kooperatif.


Pembelajaran kooperatif memandang siswa sebagai makhluk sosial

karena dalam pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaannya mengacu pada

2
belajar kelompok. Dalam hal ini siswa diharapkan dapat dapat belajar lebih

aktif, bertanggung jawab, serta berkembangnya daya kreasi dalam

mengemukakan pendapat dalam diskusi kelompok sehingga dapat mencapai

tujuan pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang benar-

benar bisa memberi jawaban dari masalah ini. Salah satu metode yang bisa

lebih memberdayakan siswa adalah pendekatan kontekstual (Contextual

Teaching and Learning / CTL).

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran

yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang

mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan

konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar

informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek,

yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang

sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan.

Contextual Teaching and Learning (CTL) disebut pendekatan

kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara

materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong

siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

B. Profil Hasil Belajar

SMP Negeri 2 Segeri adalah salah satu SMP di Kabupaten Pangkep

yang secara umum sudah sepenuhnya menerapkan model pembelajaran yang

3
lebih mengaktifkan siswa yaitu model pembelajaran kooperatif khususnya

pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Sehingga nilai hasil belajar Bahasa

Inggris siswa, khususnya pada siswa kelas VIII C di SMP Negeri 2 Segeri

Kabupaten Pangkep bisa dikatakan masuk kategori maksimal mengingat

asumsi bahwa pembelajaran Bahasa Inggris itu mencakup beberapa

keterampilan dalam memecahkan masalah, memahami konsep serta

keterampilan dalam menerapkan konsep tersebut . Hal ini dapat dilihat dari

keseharian siswa yang sangat efektif dalam menyelesaikan soal-sola atau pun

tugas-tugas yang diberikan oleh guru.


Berdasarkan observasi lapangan penulis menemukan salah satu

masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. Permasalah terbesar

yang dihadapi para peserta didik sekarang (siswa) adalah mereka belum bisa

menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan

itu akan digunakan. Hal ini dikarenakan cara mereka memperolah informasi

dan motivasi diri belum tersentuh oleh metode yang betul-betul bisa

membantu mereka. Para siswa kesulitan untuk memahami konsep-konsep

akademis, karena metode mengajar yang selama ini digunakan oleh pendidik

(guru) hanya terbatas pada metode ceramah. Di sini lain tentunya siswa tahu

apa yang mereka pelajari saat ini akan sangat berguna bagi kehidupan mereka

di masa datang, yaitu saat mereka bermasyarakat ataupun saat di tempat kerja

kelak. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang benar-benar bisa

memberi jawaban dari masalah ini.Salah satu metode yang bisa lebih

memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching

and Learning / CTL).

4
C. Rumusan masalah berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil

belajar
Berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar yang telah

dikemukakan di atas, maka masalah penelitian ini adalah bagaimana

meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas VIII C SMP

Negeri 2 Segeri.
D. Bentuk tindakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan masalah
Masalah rendahnya hasil belajar Bahasa Inggris siswa kelas VIII C

SMP Negeri 2 Segeri ditingkatkan melalui metode koopertif tipe Contextual

Teaching and Learning (CTL).


E. Ada argumentasi logis pilihan tindakan
Model pembelajaran yang diterapkan guru adalah salah satu faktor yang

menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pemilihan model

pembelajaran yang tidak tepat dapat menurunkan motivasi dan minat belajar

siswa sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal. Apabila

dikaji lebih lanjut berdasarkan teori yang telah ada maka salah satu alternatif

peningkatan hasil belajar siswa di sekolah adalah penggunaan model

pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa lebih aktif dalam proses

belajar mengajar, memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dan

berinteraksi dengan siswa lainnya dan guru, serta memungkinkan siswa untuk

membangun sendiri pengetahuannya. Selain itu, siswa tidak lagi memandang

siswa lain sebagai saingan atau ancaman, melainkan mitra yang mendukung

untuk mencapai tujuan dan kesuksesan.


Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Contextual Teaching and

Learning (CTL). CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar

yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan

5
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan

mereka.
Menurut teori pembelajaran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya ketika

siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian

rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu

menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka.

Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari

makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya. Dalam model

pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching and Learning (CTL),siswa

ditempatkan dalam kelompok kelompok kecil yang heterogen untuk

menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh guru, selanjutnya

diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang

memerlukannya. Siswa tetap dikelompokkan, tetapi setiap siswa belajar sesuai

dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Selain itu, setiap anggota

kelompok saling membantu dan saling mengecek sehingga siswa merasa

benar-benar ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses belajar

mengajar.
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Contextual

Teaching and Learning (CTL), diharapkan dapat meningkatkan partisipasi

siswa dalam proses belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa

untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, serta dapat meningkatkan minat

siswa dalam belajar matematika sehingga akan berdampak pada meningkatnya

hasil belajar bahasa inggris siswa.


F. Tujuan

6
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Ingrris siswa kelas VIII C

SMP Negeri 2 Segeri melalui model pembelajaran kooperatif tipe Contextual

Teaching and Learning (CTL).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian Belajar
Belajar dalam idealisme berarti kegiatan psiko-fisik-sosio menuju ke

perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh

sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggapnya properti

sekolah. Namun, ada beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang

belajar diantaranya:
Gagne (dalam buku cooperative learning 2009: 2) Belajar adalah

perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui

aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari

proses pertumbuhan seseorang secara alamiah.


Travers (dalam buku cooperative learning 2009: 2) Belajar adalah proses

menghasilkan penyesuaian tingkah laku.


Cronbach (dalam buku cooperative learning 2009: 2) Learning is shown

by a change in behavior as a result of experience. (Belajar adalah

perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman)


Pengertian belajar dapat kita temukan diberbagai sumber dan

litelatur. Meskipun kita melihat ada perbedaan perbedaan didalam

rumusan pengertian belajar namun secara prinsip kita menemukan

7
kesamaan-kesamaan dan jika kita simpulkan pengertian belajar adalah

suatu proses perubahan diri seseorang dengan ditandai adanya

peningkatan pengetahuan dan tingkah laku yang dilakukan secara

sengaja, kearah yang lebih baik.

2. Hasil Belajar Bahasa Inggris

Jika dikaitkan dengan belajar Bahasa Inggris maka hasil belajar terjadi

karena evaluasi yang dilakukan guru dalam mempelajari Bahasa Inggris. Agar

dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran maka

perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar.

Bloom(Agus Suprijono,2012:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif,

afektif, dan psikomotorik.


Menurut Ismail Yusanto, dkk(2011:224) menyangkut penilaian hasil

belajar akan memperlihatkan tingkat penguasaan dan pemahaman konsep,

perwujudan sikap dan partisipasi dalam interaksi sosial secara nyata. Jadi hasil

belajar Bahasa Inggris adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai dan

memahami bahan pelajaran Bahasa Inggris setelah menempuh proses belajar

mengajar yang terlihat pada nilai yang diperoleh dari tes hasil belajarnya.
3. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) merupakan bentuk

pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-

kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai

enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pembelajaran

kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan

siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Menurut

8
Eggen dan Kuchak ( dalam Trianto 2007 : 42) pembelajaran kooperatif disusun

dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa

dengan mengalami sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam

kelompok serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan

belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Dengan bekerja

secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama, maka siswa akan

mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia yang

akan sangat bermanfaat bagi kehidupan diluar sekolah.


Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-

tugas akademik unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-

konsep yang sulit dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir

kritis. Pembelajaran Koopertif memberikan peluang kepada siswa yang

berbeda latar belakang dan kondisi, untuk bekerja saling bergantug satu sama

lain atas tugas-tugas bersama dengan melalui penggunaan stuktur penghargaan

Kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Model pembelajaran

Kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif, sebab peserta

didik akan lebih banyak belajar melalui proses pembentukan dan penciptaan,

kerja dalam kelompok dan berbagai pengetahuan serta tanggung jawab

individu tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.


Menurut Nur (dalam Daryanto 2012: 242) prinsip dasar pembelajaran

kooperatif sebagi berikut:


Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang dikerjakan dalam kelompoknya.


Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua

anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.

9
Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung

jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.


Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan

membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses

belajarnya.
Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung

jawabkan secara individu materi yang ditangani dalam kelompok

kooperatif.
Ciri ciri model pembelajaran kooperatif:
Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar

sesuai kompetensi dasar yang ingin dicapai.


Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda

baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, jika mungkin

anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta

memperhatikankesetaraan gender.
Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing

individu.
Menurut Ibrahim (Trianto 2007: 48-49) langkah-langkah dalam

pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut yang disajikan dalam bentuk

tabel:

Tabel 2.1. Langkah- langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase Kegiatan guru


Fase- I Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran

yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan


Menyampaikan tujuan
memotivasi siswa belajar
dan memotivasi siswa

10
Fase-II Guru menyajiakn informasi kepada siswa baik

dengan demonstrasi atau lewat bahan bacaan


Menyajikan inforamasi

Fase-III Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana

caranya membentuk kelompok belajar dan


Mengorganisasikan
membantu setiap kelompok agar melakukan
siswa dalam bentuk
transisi secara efisien
kelompok-kelompok

Fase-IV Guru membimbing kelompok-kelompok belajar

pada saat mereka mengerjakan tugas.


Membimbing kelompok

bekerja dan belajar Guru memberikan soal sesuai dengan materi yang

telah dipelajari

Fase-V Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi

yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok


Evaluasi
mempersentasekan hasil kerjanya

Fase- VI Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya

maupuan hasil belajar individu maupun kelompok.


Memberikan

penghargaan

Tujuan dalam pembejaran kooperatif ini dikembangkan agar siswa saling

berbagai kemampuan, saling belajar berfikir kritis, saling menyampaikan

pendapat, saling memberikan kesempatan menyalurkan kemampuan, saling

membantu mengajar, serta saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri

maupun teman lain.


4. Pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching and Learning (CTL)

11
Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara

konstektual antara lain:

1. Pembelajaran berbasis masalah.

Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama, siswa

ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan .

2. Menggunakan konteks yang beragam.

Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga

makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.

3. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa.

Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual

dan social seyogianya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk

belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan

interpersonal.

4. Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri.

Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa

untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri dikemudian hari.

5. Belajar melalui kolaborasi

12
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan

dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam

kelompoknya

6. Menggunakan penelitian autentik

Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung

secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk

dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya

7. Mengejar standar tinggi

Setiap seyogianya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu

kewaktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan

Benchmarking dengan melukan study banding keberbagai sekolah dan luar

negeri

Berdasarkan Center for Occupational Research and Development

(CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai

berikut:

1. Relating

Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata

,konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk

membantu peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna

13
2. Experiencing

Belajar adalah kegiatan mengalami peserta didik diproses

secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan

eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan dan

menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.

3. Applying

Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan

pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks dan pemanfaatannya.

4.Cooperative

Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui

kegiatan kelompok,komunikasi interpersonal atau hubunngan

intersubjektif

6.Transfering

Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan

memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.

Berikut Langkah-langkah Model Pembelajaran Contextual

Teaching and Learning (CTL) :


1. Kegiatan Awal
Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti

proses pembelajaran,

14
Apersepsi, sebagai penggalian pengetahuan awal siswa terhadap materi

yang akan diajarkan.


Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang

akan dipelajari
Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar.

2. Kegiatan Inti
Siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan permasalahan yang

diajukan guru. Guru berkeliling untuk mengecek keaktifan siswa


Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan

atas jawaban permasalahan yang diajukan guru.


Siswa dalam kelompok menyelesaikan lembar kerja (LKS: mengenai

materi yang diajarkan : Teks Descriptive dan text procedure) yang

diajukan guru. Guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan

memfasilitasi kerja sama.


Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan

kelompok yang lain menanggapi hasil kerja kelompok yang mendapat

tugas.
Dengan mengacu pada jawaban siswa, melalui tanya jawab, guru dan

siswa membahas cara penyelesaian masalah yang tepat.


Guru mengadakan refleksi dengan menanyakan kepada siswa tentang hal-

hal yang dirasakan siswa, materi yang belum dipahami dengan baik, kesan

dan pesan selama mengikuti pembelajaran.


3. Kegiatan Akhir
Guru dan siswa membuat kesimpulan mengenai materi yang telah dibahas

( Recount text dan Narrative text)


Siswa mengerjakan lembar tugas (LTS: Recount dan Narrative text).
Siswa menukarkan lembar tugas satu dengan yang lain, kemudian, guru

bersama siswa membahas penyelesaian lembar tugas dan sekaligus dapat

15
memberi nilai pada lembar tugas sesuai kesepakatan yang telah diambil

(ini dapat dilakukan apabila waktu masih tersedia)

B. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka di atas, maka hipotesis tindakan penelitian

sebagai jawaban dari permasalahan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif Contextual Teaching and

Learning (CTL) maka hasil belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas VIII C

SMPN 2 SEGERI dapat meningkat.

BAB III

PROSEDUR PELAKSANAAN

A. Jumlah siswa, tempat, dan waktu pelaksanaan P2K


Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII C SMPN 2 SEGERI tahun

pelajaran 2016/2017 sebanyak 17 orang siswa yang terdiri atas 12 siswa laki-

laki dan 5 perempuan. Tentu kemampuan siswa dalam satu kelas beragam,

ada yang pandai, sedang dan ada pula yang kurang sehubungan dengan

keragaman kemampuan tersebut, guru perlu mengatur secara cermat kapan

siswa harus bekerja secara perorangan, secara berpasangan ataupun secara

berkelompok.
Untuk pengelolaan siswa kita harus melihat hal-hal yang perlu menjadi

bahan pertimbangan yaitu:


1. Jenis kegiatan
2. Tujuan kegiatan
3. Keterlibatan siswa

16
4. Waktu belajar
5. Ketersediaan sarana/prasarana
6. Karakteristik siswa

Seorang guru, sebelum melakukan pelaksanaan pembelajaran dikelas,

sebaiknya mempertimbangkan bagaimana pengelolaan isi pembelajaran

seperti hal-hal berikut:

1. Materi dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang

ingin dicapai.
2. Tingkat keluasan dan kedalaman materi dan disesuaikan dengan

karakteristik peserta termasuk (yang tercepat dan yang terlambat, yang

bermotivasi tinggi dan rendah)

3. Kemungkinan tidaknya keluasan dan kedalaman materi dapat dicapai

dalam waktu yang disediakan


4. Menggunakan variasi materi ajar untuk menunjang pembelajaran sesuai

tujuan/kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai


5. Menggunakan materi ajar yang dapat diterapkan, dimanfaatkan, atau

difungsikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari

Pemilihan media pembelajaran perlu mempertimbangkan jumlah peserta

didik. Jika jumlah peserta didik sedikit, maka menggunakan media

pembelajaran yang tepat, contohnya pembelajaran yang berlangsung di dalam

kelas dengan jumlah peserta didik sekitar 17 orang, maka media pembelajaran

yang digunakan dengan papan tulis atau gambar. Namun jika jumlah

pembelajarannya banyak dalam satu ruangan atau tempat yang luas. Maka

media pembelajaran yang digunakan adalah yang bisa dilihat, didengar dan

diikuti oleh seluruhnya.

17
Pemilihan media pembelajaran perlu juga mempertimbangkan waktu

agar digunakan seefisien mungkin. Waktu yang tersedia sesuai dengan yang

dibutuhkan untuk belajar dengan mempergunakan media pembelajaran

tersebut. Penggunaan media pembelajaran yang tidak sesuai dengan waktu

akan menggangu keberhasilan belajar. Misalnya waktu untuk pembelajaran

yang tersedia 40 menit, maka kurang tepat.

Ruang kelas atau tempat belajar, terutama kursi dengan meja siswa serta

posisi guru ditata sedemikian rupa sehingga menunjang kegiatan

pembelajaran aktif, yang memungkinkan muncul kondisi berikut:

1. Aksesibilitas yaitu siswa mudah menjangkau alat dan sumber belajar.


2. Mobilitas yaitu siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke

bagian lain dalam kelas.


3. Interaktif yaitu siswa mudah untuk saling berinteraksi dan

berkomunikasi baik antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa.


4. Variasi kerja sama yaitu siswa bisa bekerja secara perorangan,

berpasangan atau berkelompok.


Demikianlah gambaran umum tentang pembelajaran berbasis

kompetensi dan pendekatan kontekstual yang disarankan dalam KTSP.

Sebagaimana kreativitas guru untuk terus mengembangkan model-model

pembelajaran demi maksimalisasi pencapaian kompetensi siswa

merupakan bukti profesionalisme dan dedikasi guru atau tugasnya

sebagai pendidik. Sedangkan uji coba dengan jalan penelitian tindakan

kelas untuk memperoleh model-model pembelajaran yang efektif, ramu

pendapat dengan guru sejenis terkait dengan efektifitas pembelajaran,

18
mencontoh model pembelajaran yang diterapkan oleh guru yang dinilai

sukses, merupakan bukti kreativitas tersebut.

B. Langkah-Langkah Pembuatan Perangkat Pembelajaran Inovatif Seperti

RPP dan Alat Evaluasi

Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit

yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP

inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang

bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram.

Sebagaimana rencana pembelajaran pada umumnya, rencana

pembelajaran secara terprogram melalui pendekatan kontekstual dirancang

oleh guru yang akan melaksanakan berbasis kompetensi kelas yang berisi

skenario tentang apa yang akan melaksanakan pembelajaran di topik yang

akan di pelajarannya.

Secara teknis rencana minimal mencakup komponen-komponen yaitu:

1. Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil

belajar.
2. Tujuan pembelajaran.
3. Materi
4. Pendekatan dan metode pembelajaran.
5. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
6. Alat dan Sumber Belajar.
7. Evaluasi Pembelajaran

19
Langkah-langkah yang patut dilakukan oleh guru dalam menyusun RPP

adalah sebagai berikut:

1. Ambillah satu unit pembelajaran (dalam silabus) yang akan diterapkan

dalam pembelajaran.
2. Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit

tersebut.
3. Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator

tersebut.
4. Rumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran

tersebut.
5. Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/yang diperlukan

kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah

dirumuskan.
6. Pilihlah metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat-sifat materi

dan tujuan pembelajaran.


7. Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan

rumusan tujuan pembelajaran, yang biasa dikelompokkan menjadi

kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.


8. Jika alokasi waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar lebih dari dua

jam pelajaran bagilah langkah-langkah pembelajaran lebih dari satu

pertemuan.
9. Sebutkan sumber atau media belajar yang akan digunakan dalam

pembelajaran secara konkrit untuk setiap bagian unit pertemuan.


10. Tentukan teknik penilaian, bentuk dan contoh instrumen penilaian yang

akan digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau

tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

Jika instrumen penilaian berbentuk tugas rumuskan tujuan tersebut secara

jelas dan bagaimana rambu-rambu penilaiannya. Jika instrumen penilaian

20
berbentuk soal cantumkan soal-soal tersebut dan tentukan rambu-rambu

penilaiannya atau kunci jawabannya. Jika penilaiannya berbentuk proses

susunlah rubrik dan indikatornya masing-masing.

C. Implementasi RPP dan Evaluasi Di Kelas


Pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) ini terdiri atas dua

siklus.yaitu siklus I, dan siklus 2, tiap siklus dilaksanakan dengan 2 kali

pertemuan dan 1 kali pertemuan digunakan untuk tes siklus. Siklus II juga

dilaksanakan dengan 2 kali pertemuan dan 1 kali pertemuan digunakan untuk

pemberian tes siklus. Siklus II juga dilaksanakan dengan 2 kali pertemuan

dan 1 kali pertemuan digunakan untuk pemberian tes siklus. Secara lebih

rinci, implementasi penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat dijabarkan

sebagai berikut

Siklus I

1. Tahap perencanaan tindakan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

a. Melaksanakan observasi awal pada kelas tempat penelitian.


b. Mengadakan sosialisasi rencana dan maksud penelitian untuk

memaksimalkan hasil dan keterlibatan siswa dan guru.


c. Menelaah kurikulum SMP NEGERI 2 SEGERI semester genap mata

pelajaran Bahasa Inggris.


d. Membuat skenario pembelajaran berdasarkan model pembelajaran

kooperatif tipe Contextual Learning and Teaching untuk setiap kali

pertemuan.
e. Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas siswa selama

proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

21
f. Mendesain alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam

menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang telah diberikan.


g. Mempelajari bahan yang akan diajarkan dari berbagai sumber.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan ini adalah

antara lain:
a. Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada

pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar.


b. Menyajikan informasi atau materi kepada siswa.
c. Pembentukan kelompok
d. Diskusi masalah
e. Memberikan kesimpulan
f. Guru memberi penghargaan atas hasil kerja siswa baik secara individual

maupun kelompok.
g. Guru memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan dengan

menggunakan lembar observasi.


h. Pada akhir siklus diadakan tes hasil belajar.
3. Tahap Observasi
Observasi dilaksanakan ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Hal-hal yang dicatat dalam observasi yaitu:


a. Siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran berlangsung
b. Kemampuan siswa memahami materi yang telah dipelajaridengan

menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching and

Learning
c. Keaktifan siswa dalam kelompok baik bertanya kepada temannya

maupun kepada guru serta keaktifan siswa menjawab pertanyaan yang

diajukan oleh guru maupun kelompoknya dengan menggunakan

pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching And Learning

kerjasama kelompok yang diperlihatkan siswa.


d. Siswa yang mengajukan tanggapan pada persentase kelompok.
e. Siswa yang melakukan kegiatan lain pada saat pembelajaran

berlangsung.

22
f. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam mengerjakan soal-soal

latihan
4. Tahap Refleksi
Refleksi dilakukan pada setiap akhir siklus. Hasil yang diperoleh

pada tahap observasi dikumpulkan. Hasil analisis siklus pertama inilah yang

dijadikan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya, sehingga

hasil yang dicapai pada siklus berikutnya sesuai dengan yang diharapkan dan

hendaknya lebih baik dari siklus sebelumnya.


Siklus II
1. Tahap perencanaan tindakan
Pada siklus II direncanakan untuk melanjutkan program pada siklus I.

Hal-hal yang diperhatikan:


a. Siswa yang kurang aktif pada siklus I akan diupayakan jalan keluarnya

supaya dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran di siklus II.


b. Siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menemukan dan

memahami konsep, diupayakan berpasangan dengan siswa yang

memiliki kemampuan lebih (pintar).


c. Mengamati siklus II dan pusat pengamatan adalah siswa.
d. Pada akhir siklus II diberikan tes.
e. Hasil pengamatan dianalisis untuk dijadikan bahan pemikiran dan

merefleksi tindakan yang telah diberikan.


2. Tahap pelaksanaan tindakan
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan

tindakan ini adalah :


a. Pada setiap pertemuan di siklus II, guru tetap menjelaskan konsep secara

terurut dan sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Dalam hal ini tetap

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching

and Learning dengan memperhatikan hasil yang diperoleh siswa pada

siklus I dan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil tindakan

pada siklus II. Prosedur pembelajaran sama seperti pada siklus I.

23
b. Siswa yang kurang aktif pada pembelajaran di siklus 1 di pasangkan

(dikelompokkan) dengan siswa yang aktif.


c. Pada akhir siklus II diberikan tes siklus II.
3. Tahap Observasi
Secara umum tahap observasi pada siklus II ini adalah melanjutkan

kegiatan observasi pada siklus I.


4. Tahap Refleksi
Pada akhir siklus diadakan refleksi terhadap hasil-hasil yang

diperoleh, baik dari hasil tes siklus II, maupun dari pengamatan sikap dan

aktifitas siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini

adalah antara lain :


1. Sumber Data

Sumber data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa kelas

VIII C SMPN 2 SEGERI

2. Jenis Data

Jenis data yang didapatkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif

dari tes hasil belajar dan data kualitatif dari lembar observasi.

3. Cara pengumpulan Data

Adapun cara pengumpulan data pada penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Data dari hasil belajar siswa diperoleh dari tes tertulis yang

diberikan kepada siswa pada tiap akhir siklus.

b. Data tentang situasi belajar mengajar diambil pada saat

pelaksanaan penelitian dengan menggunakan lembar observasi.

24
E. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik

analisis statistik deskriptif, yaitu statistik yang berfungsi untuk

mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap faktor yang diteliti,

misalnya pada data kondisi belajar mengajar dideskripsikan mengenai

aktivitas siswa dan guru selama proses belajar mengajar, meliputi kehadiran

siswa, keaktifan, perhatian, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa

dengan guru, serta keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran,

sedangkan data mengenai hasil belajar Bahasa Inggris siswa digambarkan

mengenai nilai rata-rata, nilai maksimum, nilai minimum, rentang skor, dan

standar deviasi, selanjutnya nilai rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris siswa

akan dikategorikan menurut standar kategorisasi dari Kementrian

Pendidikan Nasional (Ayudiah: 2007) yang dinyatakan dalam tabel berikut:


Tabel 3.1 Kategorisasi Standar yang Ditetapkan Kementrian

Pendidikan Nasional

NO Nilai Kategori
1. 0 54 Sangat Rendah
2. 54 < 64 Rendah
3. 64 < 79 Sedang
4. 79 < 89 Tinggi
5. 89 < 100 Sangat Tinggi

Sumber: Kementrian Pendidikan Nasional (Ayudiah: 2007)

F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah

apabila hasil belajar Bahasa Inggris siswa dari siklus I, ke siklus II yang

ditinjau dari tes akhir setiap siklus mengalami peningkatan skor rata-rata

25
yaitu di atas standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan

oleh sekolah yaitu 75 pada siswa kelas VIII C SMPN 2 SEGERI setelah

diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Contextual teaching and

Learning. Selain itu apabila terjadi peningkatan aktivitas siswa yang meliputi:

kehadiran di kelas, ketepatan waktu mengikuti pelajaran, berpakaian rapi di

sekolah, kelengkapan buku catatan, mengumpulkan tugas, mengajukan

pertanyaan, membuat kesimpulan dan yang masih memerlukan bimbingan.

BAB IV

HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

Pada Bab ini akan dibahas hasil-hasil pelaksanaan penelitian tindakan

kelas pada program Pemantapan Profesi Keguruan (P2K) yang memperlihatkan

peningkatan hasil belajar melalui penerapan model kooperatif dalam

pembelajaran Bahasa Inggris. Adapun yang dibahas dan dianalisis adalah hasil

belajar siklus I, dan siklus II serta data perubahan sikap siswa secara umum

yang diambil melalui lembar pengamatan sikap siswa.


A. Hasil Pelaksanaan
1. Analisis data kuantitatif
a. Hasil tes siklus I

Pada siklus I ini dilaksanakan tes hasil belajar Bahasa Inggris

dengan bentuk tes essay, berjumlah 5 nomor. Tes hasil belajar tersebut

26
dilaksanakan setelah penyajian materi Narrative Text. Adapun data skor

hasil belajar siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1 Statistik Skor Hasil Balajar Bahasa Inggris Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Subjek Penelitian 17
Skor Maksimum Ideal 100
Skor Rata-rata 63,71
Skor Tertinggi 69
Skor Terendah 33

Berdasarkan Tabel 1.1 diperoleh bahwa skor rata-rata hasil belajar

Bahasa Inggris siswa kelas VIII C SMPN 2 SEGERI setelah pemberian

tindakan pada siklus I adalah 59,21 dari skor ideal yang mungkin dicapai

yaitu 100. Skor tertinggi yakni 69 dan terendah 33. Jika skor hasil belajar

Bahasa Inggris siswa tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori,

maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti disajikan pada

Tabel 4.2 berikut.

Tabel 1.2 Statistik Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

Bahasa Inggris untuk Siklus I

Persentase
Skor Kategori Frekuensi
(%)
51 60 Sangat Rendah 16 94,11 %
61 70 Rendah 1 5,8%
71 80 Sedang 0 0%
81 90 Tinggi 0 0%
91 100 Sangat Tinggi 0 0%

27
Berdasarkan Tabel 1.2 diperoleh bahwa dari 17 siswa yang

mengikuti tes siklus I pada kelas kelas VIII C SMPN 2 SEGERI terdapat

94,11 % yang hasil belajarnya masuk dalam kategori sangat rendah. 5,8

% masuk dalam kategori rendah dan dari nilai rata-rata hasil tes siklus I

siswa SMPN 2 Segeri kelas VIII C masuk dalam kategori sangat

rendah.
b. Hasil tes siklus II

Pada siklus II ini dilaksanakan tes hasil belajar bahasa inggris

dengan bentuk tes essay, berjumlah 10 nomor. Tes hasil belajar tersebut

dilaksanakan setelah penyajian materi Narrative dan Recount Text.

Adapun data skor hasil belajar siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.3 Statistik Skor Hasil Balajar Bahasa inggris Siklus II

Statistik Nilai Statistik


Subjek Penelitian 17
Skor Maksimum Ideal 100
Skor Rata-rata 70,14
Skor Tertinggi 81
Skor Terendah 59
Berdasarkan Tabel 1.3 diperoleh bahwa skor rata-rata hasil belajar

bahasa inggris siswa kelas VIII C SMPN 2 SEGERI setelah pemberian

tindakan pada siklus II adalah 70,14 dari skor ideal yang mungkin dicapai

yaitu 100. Skor tertinggi yakni 81 dan terendah 59. Jika skor hasil belajar

Bahasa Inggris siswa tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori,

maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti disajikan pada

Tabel 1.4 berikut:

28
Tabel 1.4 Statistik Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

Bahasa Inggris untuk Siklus II

Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)


51 60 Sangat Rendah 3 17,64%
61 70 Rendah 3 17,64%
71 80 Sedang 7 41,17%
81 90 Tinggi 4 23,52%
91 100 Sangat Tinggi 0 0 %
Berdasarkan Tabel 1.4 diperoleh bahwa dari 17 orang siswa kelas

VIII C SMPN 2 SEGERI yang mengikuti tes, terdapat 17,64 % yang

hasil belajarnya masuk dalam kategori sangat rendah. 17,64 % masuk

dalam kategori rendah dan 41,17 % masuk dalam kategori sedang.

Kemudian 23,53 % masuk dalam kategori tinggi dan 0 % masuk dalam

kategori sangat tinggi.

Berdasarkan Tabel 1.4, maka diperoleh skor rata-rata hasil belajar

siswa pada siklus II yaitu 70,14. Jika skor rata-rata siswa tersebut

dikonsultasikan dengan Tabel 1.4, maka skor rata-rata hasil belajar pada

siklus II masuk dalam kategori tinggi.

2. Analisis data kualitatif

Data kualitatif merupakan data sikap siswa yakni diperoleh melalui

lembar observasi siswa. Lembar observasi pelaksanaan pembelajaran

dengan metode Contextual teaching and Learning terdiri atas dua, yaitu

lembar observasi siklus I, lembar observasi siklus II. Lembar observasi

siklus I, merupakan gambaran sikap siswa dalam mengikuti proses

pembelajaran tiap pertemuan pada siklus I. Dan lembar observasi siklus II

29
merupakan gambaran sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran

tiap pertemuan pada siklus II. Sedangkan tanggapan siswa diperoleh dari

kegiatan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan selama proses

pembelajaran. Adapun hasil analisis deskriptif tentang sikap siswa selama

mengikuti proses pembelajaran siklus I dan II adalah sebagai berikut:

a. Persentase kehadiran siswa meningkat dari 96,42 % pada siklus I,pada

dan siklus II meningkat menjadi 97,62 %


b. Persentase siswa yang memperhatikan pembahasan materi pelajaran

mengalami peningkatan yaitu dari 78,57 % pada siklus I, menjadi

80,95 % pada siklus II.


c. Persentase siswa yang bertanya tentang materi yang belum dimengerti

mengalami peningkatan dari 16,66 % pada siklus I pada siklus II

meningkat menjadi 23,80 % . Hal ini disebabkan karena siswa

menyadari akan pentingnya dalam memperhatikan materi yang

dijelaskan oleh guru.


d. Pada proses belajar mengajar masih banyak siswa yang meminta untuk

dibimbing. Ketika model pembelajaran kooperatif tipe CTL telah

diterapkan sudah terjadi penurunan yaitu dari 23,80 % pada siklus I dan

menjadi 19,5 % pada siklus II. Hal ini disebabkan karena terjalin

kerjasama kelompok dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh

guru.
e. Persentase siswa yang mengerjakan aktivitas lain selama proses belajar

mengajar berlangsung mengalami penurunan dari 8,33 % pada siklus I,

pada siklus II menjadi 5,95 %. Hal ini disebabkan karena siswa

menyadari akan pentingnya berprilaku disiplin di dalam kelas.

30
f. Persentase siswa yang kurang aktif dalam kelompoknya mengalami

penurunan dari 9,52 % pada siklus I, pada siklus II menurun menjadi

5,95 %. Hal ini disebabkan karena siswa menyadari akan pentingnya

saling kerjasama dalam berkelompok dimana kita dapat menyelesaikan

soal-soal yang sulit bersama teman kelompok.


g. Persentase siswa yang tidak memperhatikan presentase kelompok lain

mengalami penurunan dari 5,95% pada siklus I, pada siklus II menurun

menjadi 3,57%. Hal ini disebabkan karena guru terus memberikan

motivasi untuk aktif dalam proses belajar mengajar.


B. Pembahasan

Pada pertemuan awal pelaksanaan siklus I semangat dan keaktifan

siswa menyelesaikan tugas berdasarkan kelompoknya dan soal yang

diberikan disetiap akhir pertemuan tidak mengalami perubahan yang berarti

dibanding dengan sebelum pelaksanaan tindakan. Pada umumnya siswa

hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru tanpa ada pemahaman.

Jika guru mengajukan pertanyaan siswa tampak lebih berani untuk

memberikan jawaban lisan secara bersama-sama. Namun, jika siswa diminta

untuk menjawab secara perorangan, maka hanya satu atau dua orang saja

yang berani memberikan jawabannya.

Dari hasil pengamatan juga diketahui bahwa soal yang dijawab oleh

siswa tersebut sebagian besar diperoleh dari temannya yang telah selesai. Hal

ini ditunjukkan ketika pekerjaan siswa yang sudah selesai diambil secara acak

kemudian ditanya kembali tentang apa yang ditulis, ternyata pada umumnya

mereka tidak bisa menjawab. Dari soal yang diberikan ini juga ditemukan

31
beberapa siswa yang masih kurang memahami procedure text. Hal ini dapat

dilihat dari hasil pekerjaannya yang tidak mendapatkan hasil akhir yang benar

walaupun langkah-langkah pengerjaan soal tersebut sudah benar.

Menjelang pertemuan-pertemuan akhir pelaksanaan siklus I sudah

nampak sedikit kemajuan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa orang yang

berani mengajukan pertanyaan atau tanggapan pada saat proses belajar

mengajar atau proses pembahasan tugas kelompok. Siswa juga sudah

semangat dalam mengerjakan soal yang diberikan. Namun, pada umumnya

siswa-siswa yang aktif tersebut hanya siswa yang memperoleh nilai yang baik

pada tugas atau soal-soal sebelumnya, sedangkan siswa yang lain hanya diam

dan mencatat setiap materi yang diberikan.

Pada siklus II perhatian dan keaktifan siswa dalam bekerja sama

dengan kelompoknya semakin memperlihatkan kemajuan. Hal ini dilihat dari

kekompakan siswa dalam belajar kelompok dan mengerjakan tugas-tugas

kelompok. Siswa juga sudah semakin aktif di dalam kelas selama proses

pembelajaran. Aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

Berdasarkan pada indicator keberhasilan, siswa dikatakan tuntas

secara individual apabila memperoleh skor minimal 75 dari skor ideal yaitu

100 (sesuai dengan KKM = 75). Dari data yang diperoleh setelah perlakuan

dapat ditunjukkan bahwa pada siklus I dan II tidak terdapat siswa yang tidak

tuntas belajar. Sehingga, skor rata-rata hasil belajar siswa diatas KKM yang

telah ditentukan sekolah yaitu pada siklus I 65,00 dan pada siklus II 65,00.

32
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Prototype perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam pembelajaran

ini adalah buku siswa, buku guru, acuan penyusunan rencana

pelaksanaan pembelajaran, rencana pembelajaran dan lembar evaluasi.


2. Guru mampu mengelola pembelajaran dengan pendekatan keterampilan

proses dalam setiap pembelajaran kooperatif tipe CTL dengan baik dan

melatih dan mengoperasikan dengan baik perangkat pembelajaran sesuai

dengan alokasi waktu yang telah ditentukan serta membuat siswa

antusias dalam mengikuti pembelajaran.


a. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam setting

pembelajaran tipe Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat

membuat pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.


b. Guru mampu menguasai dan terampil dalam melatih keterampilan

proses yang digunakan dalam pembelajaran.


c. Pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses dalam setting

pembelajaran kooperatif tipeContextual Teaching and Learning

(CTL) dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa serta

sebagian tujuan pembelajaran khusus yang dirumuskan tuntas.


d. Respon siswa terhadap komponen kegiatan belajar mengajar yaitu

berminat mengikuti pembelajaran berikutnya jika digunakan

pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses dalam

setting pembelajaran tipeContextual Teaching and Learning (CTL).

33
e. Hasil belajar siswa yang di ajar pembelajaran dengan pendekatan

keterampilan proses dalam setiap pembelajaran kooperatif tipe

Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik dari pada siswa

yang di ajar tidak menggunakan pembelajaran kooperatif

tipeContextual Teaching and Learning (CTL).


B. Saran
1. Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan

keterampilan kooperatif sebelum dan selama pembelajaran agar siswa

mampu meningkatkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang

dituntut.
2. Guru perlu menambah wawasan tentang teori mengajar dan model-model

pembelajaran yang inovatif.


3. Agar pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses berorientasi

pembelajaran kooperatif tipe Contextual Teaching and Learning (CTL)

dapat berjalan dengan baik sebaiknya guru membuat perencanaan belajar

dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan dan

untuk setiap konsep ditentukan metodenya atau pendekatan yang akan

digunakan serta proses yang akan dikembangkan.

34