Anda di halaman 1dari 12

A.

PENGERTIAN EKSPLOITASI ANAK


Pengertian eksploitasi anak dalam kamus Bahasa Indonesia :
Eksploitasi anak adalah pemanfaatan untuk keuntungan sendiri melalui anak dibawah umur.
Dengan kata lain anak-anak digunakan sebagai media untuk mencari uang.
Pengertian eksploitasi secara umum:
Eksploitasi anak adalah mempekerjakan seorang anak dengan tujuan ingin meraih
keuntungan.

B. CONTOH EKSPLOITASI ANAK


1. Mempekerjakan anak-anak sebagai pekerja seksual
2. Mempekerjakan anak-anak di pertambangan
3. Mempekerjakan anak-anak sebagai penyelam mutiara
4. Mempekerjakan anak-anak di bidang kontruksi
5. Menugaskan anak-anak di anjungan penangkapan ikan lepas pantai
6. Mempekerjakan anak-anak sebagai pemulung
7. Melibatkan anak-anak dalam pembuatan dan kegiatan yang menggunakan bahan peledak
8. Mempekerjakan anak-anak di jalanan
9. Mempekerjakan anak-anak sebagai tulang punggung keluarga
10. Mempekerjakan anak-anak di industri rumah tangga
11. Mempekerjakan anak-anak di perkebunan
12. Mempekerjakan anak-anak untuk mengemis
13. Orang tua yang mengajak anaknya untuk mengemis

C. SEBAB EKSPLOITASI ANAK


1. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi merupakan pangkal utama dalam peningkatan jumlah pekerja anak.
Harga bahan pokok yang semakin mahal, tingkat kebutuhan yang tinggi serta
pengeluaran yang bertambah menuntut anak terjun untuk membantu mencukupi
kebutuhan dasarnya. Sebagian kasus pekerja anak ini terjadi pada keluarga menengah
kebawah.

2. Factor Migrasi
Banyaknya migrasi terutama urbanisasi yakni perpindahan penduduk dari desa ke kota
meningkatkan jumlah pekerja anak.
Beberapa penyebab meningkatnya jumlah pekerja anak terhadap faktor migrasi,
khususnya urbanisasi, diketahui bahwa ketidakpahaman mengenai urbanisasi itu sendiri
dapat digunakan beberapa oknum untuk menjebak ( khususnya pekerja anak) dalam
pekerjaan yang di sewenang-wenangkan atau pekerjaan yang mirip perbudakan.

3. Faktor Budaya
Beberapa faktor budaya yang memberi kontribusi terhadap peningkatan jumlah pekerja
anak antara lain :
a. Peran perempuan dalam keluarga
Meskipun norma-norma budaya menekankan bahwa tempat perempuan adalah di
rumah sebagai istri dan ibu, juga diakui bahwa perempuan seringkali menjadi pencari
nafkah tambahan/pelengkap buat kebutuhan keluarga. Rasa tanggung jawab dan
kewajiban membuat banyak wanita bermigrasi untuk bekerja agar dapat membantu
keluarga mereka. Ada beberapa kemungkinan disini. Pertama, pada masyarakat desa yang
masih tertekan oleh adat-istiadat menganggap bahwa perempuan dapat dinikahkan
secepatnya ketika sudah dianggap cukup waktunya, walaupun belum matang secara
psikis maupun fisik. Hal ini mengakibatkan banyak anak-anak perempuan yang masih di
bawah umur menanggung beban layaknya perempuan dewasa sebagai istri.

b. Perkawinan dini
Perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan
termasuk bahaya kesehatan, putus sekolah, kesempatan ekonomi yang terbatas, gangguan
perkembangan pribadi, dan seringkali, juga perceraian dini. Anak-anak perempuan yang
sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafiking
disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
c. Sejarah pekerjaan karena jeratan hutang
Praktek menyewakan tenaga anggota keluarga untuk melunasi pinjaman merupakan
strategi penopang kehidupan keluarga yang dapat diterima oleh masyarakat. Orang yang
ditempatkan sebagai buruh karena jeratan hutang khususnya, rentan terhadap kondisi-
kondisi yang sewenang-wenang dan kondisi yang mirip dengan perbudakan.
d. Peran anak dalam keluarga
Kepatuhan terhadap orang tua dan kewajiban untuk membantu keluarga membuat
anak-anak rentan terhadap trafiking. Buruh/pekerja anak, anak bermigrasi untuk bekerja,
dan buruh anak karena jeratan hutang dianggap sebagai strategi-strategi keuangan
keluarga yang dapat diterima untuk dapat menopang kehidupan keuangan keluarga.

4. Faktor Kurangnya Pencatatan Kelahiran


Orang tanpa pengenal yang memadai lebih mudah menjadi mangsa trafiking karena usia
dan kewarganegaraan mereka tidak terdokumentasi. Anak-anak yang dipekerjakan,
biasanya lebih mudah diwalikan ke orang dewasa manapun yang memintanya. Dalam hal
ini, ketidakmampuan Sistem Pendidikan Nasional yang ada maupun dalam masyarakat
untuk mempertahankan agar anak tidak putus sekolah dan melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi sangat besar. Sehingga anak-anak dilibatkan dalam hal kesempatan kerja
dengan bermigrasi terlebih dahulu atau langsung terjun mencari pekerjaan yang tidak
membutuhkan keahlian.

5. Faktor Kontrol Sosial


Lemahnya kontrol sosial Pejabat penegak hukum dan imigrasi yang korupsi dapat disuap
untuk tidak mempedulikan kegiatan-kegiatan yang bersifat kriminal. Para pejabat
pemerintah juga disuap agar memberikan informasi yang tidak benar pada kartu tanda
pengenal (KTP), akte kelahiran, dan paspor khususnya anak-anak dapt denagn mudah
diwalikan atau bahkan diubah kewarganegaraannya.. Kurangnya budget/anggaran dana
negara untuk menanggulangi usaha-usaha trafiking menghalangi kemampuan para
penegak hukum untuk secara efektif menjerakan dan menuntut pelaku- pelakunya.

D. AKIBAT EKSPLOITASI ANAK


1. Anak kehilangan haknya untuk belajar. Sebagian besar anak jalanan adalah anak-anak
yang putus sekolah dan bahkan tidak pernah merasakan bangku pendidikan.
2. Perilaku anak banyak yang menyimpang. Hidup di jalanan bukan lah hal mudah terlebih
bagi anak dibawah umur. Mereka harus berjuang mencari uang dan besar kemungkinan
terpengaruh hal-hal buruk, seperti merokok di usia anak-anak, berbahasa kasar, terkadang
bertengkar dengan anak-anak lainnya, dsb
3. Anak kekurangan kasih sayang. Poin ini juga merupakan faktor penyebab eksploitasi
anak. Mereka dipaksa bekerja dan lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan
mencari uang daripada merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

E. SOLUSI EKSPLOITASI ANAK


1. Keluarga
a. Lebih memahami dan mengerti bahwa anak bukanlah milik pribadi karena pada
dasarnya setiap anak adalah sebuah pribadi yang utuh yang juga memiliki hak
sebagaimana individu lainnya, sehingga anak tidak dapat dijadikan tumpuan amarah
atas semua permasalahan yang dialami orangtua (Domestic Based Violence).
b. Lebih berhati-hati dan memberikan perhatian serta menjaga anak-anak dari
kemungkinan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar
kita (Community Based Violence).

2. Masyarakat
a. Lebih peka dan tidak menutup mata terhadap keadaan sekitar sehingga apabila terjadi
kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar penanganannya dapat lebih cepat guna
menghindari kemungkinan yang lebih buruk pada anak yang bersangkutan.
b. Aparat hukum seharusnya dapat lebih peka anak pada setiap proses penanganan
perkara anak baik dalam hal anak sebagai korban tindak pidana maupun anak sebagai
pelaku dengan mengedepankan prinsip demi kepentingan terbaik bagi anak (the best
interest for the child).
c. Pihak sekolah dan orang tua asuh sebagai pendidik kedua setelah orang tua kandung,
diharapkan dapat lebih sensitif anak dalam mendidik anak-anak yang berada dibawah
pengasuhan mereka.
d. Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang adanya undang-undang perlindungan
anak, terutama pada ancman pidana/hukuman pada tindakan tersebut secara
menyeluruh

3. Negara
a. Menyelesaikan dengan segera konflik-konflik sosial dan politik yang berkepanjangan
di berbagai daerah.
b. Memperbaiki seluruh pelayanan publik baik itu pelayanan kesehatan, pendidikan.
c. Mengajak kembali pekerja anak yang putus sekolah ke bangku sekolah dengan
memberikan bantuan beasiswa.
d. Memberikan pendidikan nonformal.
e. Mengadakan keterampilan bagi anak, pembiayaan atau penanggulangan pekerja anak
bisa dilakukan oleh masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan anak.

Aborsi

1. Pengertian Aborsi

Pengertian aborsi menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) adalah terpencarnya embrio
yang tak mungkin lagi hidup (sebelum habis bulan keempat dari kehamilan).

Pengertian aborsi menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di Indonesia adalah : 1)


Pengeluaran hasil konsepsi pada stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang
lengkap tercapai (38-40 minggu); 2) Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).

Pada UU kesehatan, pengertian aborsi dibahas secara tersirat pada pasal 15 (1) UU
Kesehatan Nomor 23/1992 disebutkan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk
menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Maksud dari tindakan medis tertentu, yaitu aborsi.

Sementara aborsi atau abortus menurut dunia kedokteran adalah kehamilan berhenti
sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir
selamat sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, disebut kelahiran prematur.

Wanita dan pasangannya yang menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan biasanya
mempertimbangkan aborsi. Alasan untuk memilih aborsi berbeda-beda, termasuk mengakhiri
kehamilan yang tidak diinginkan atau ketika mengetahui janin memiliki kelainan
(Perry&Potter,2010).

2. Jenis Aborsi

Klasifikasi abortus atau aborsi berdasarkan dunia kedokteran, yaitu:

1. Abortus spontanea

Abortus spontanea merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan. Aborsi ini
dibedakan menjadi 5 yaitu :
1. Abortus imminens, pada kehamilan kurang dari 20 minggu terjadi perdarahan dari
uterus atau rahim, dimana janin masih didalam rahim, serta leher rahim belum
melebar (tanpa dilatasi serviks).

2. Abortus insipiens, istilah ini kebalikan dari abortus imminens, yakni pada kehamilan
kurang dari 20 minggu,terjadi pendarahan,dimana janin masih didalam rahim, dan
ikuti dengan melebarnya leher rahim(dengan dilatasi serviks)

3. Abortus inkompletus, keluarnya sebagian organ janin yang berusia sebelum 20


minggu, namun organ janin masih tertinggal didalam rahim

4. Abortus kompletus, semua hasil konsepsi(pembuahan) sudah di keluarkan

5. Abortus provokatus

Berbeda dengan abortus spontanea yang prosesnya tiba-tiba dan tidak diharapkan tapi
tindakan abortus harus dilakukan. Maka pengertian aborsi atau abortus jenis provokatus
adalah jenis abortus yang sengaja dibuat atau dilakukan, yakni dengan cara menghentikan
kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu atau kira-kira sebelum berat janin
mencapai setengah kilogram.

Abortus provakatus dibagi menjadi 2 jenis:

a) Abortus provokatus medisinalis/artificialis/therapeuticus. Abortus yang dilakukan


dengan disertai indikasi medis. Di indinesia yang dimaksud dengan indikasi medik
adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Indikasi medis yang dimaksud misalnya:
calon ibu yang sedang hamil tapi punya penyakit yang berbahaya seperti penyakit
jantung, bila kehamilan diteruskan akan membahayakan nyawa ibu serta janin, sekali
lagi keputusan menggugurkan akan sangat dipikirkan secara matang.
b) Abortus provokatus kriminalis, istilah ini adalah kebalikan dari abortus provokatus
medisinalis, aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal).
Dalam proses menggugurkan janin pun kurang mempertimbangkan srgala
kemungkinan apa yang akan terjadi kepada wanita / calon ibu yang melakukan
tindakan aborsi ilegal.

2. Abortus habitualis
Abortus habitualis termasuk abortus spontan namun habit ( kebiasaan) yang terjadi
berturut-turut tiga kali atau lebih.

3. Missed abortion
Kematian janin yang berusua sebelum 20 minggu, namun janin tersebut tidak dikeluarkan
selama 8 minggu atau lebih, dan terpaksa harus dikeluarkan. Missed abortion
digolongkan kepada abortus imminens.

4. Abortus septik
Tindakan menghentikan kehamilan karena tindakan abortus yang disengaja (dilakukan
dukun atau bukan ahli ) lalu menimbulkan infeksi. Perlu diwaspadai adalah tindakan
abortus yang semacam bisa membahayakan hidup dan kehidupan

3. Penyebab Aborsi

Setiap tindakan pasti ada yang menyebabkannya. Berikut beberapa penyebab aborsi
dilakukan :

1. Umur
Umur menjadi pertimbangan seseorang wanita memilih abortus. Apalagi untuk calon ibu
yang merasa masih terlalu muda secara emosional,fisik belum matang, tingkat pendidikan
rendah dan masih terlalu tergantung pada orang lain masalah umur yang terlalu tua untuk
mengandungpun menjadi penyebab abortus

2. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat


Jarak kehamilan yang terlalu rapat menjadi alasan abortus, karena jika tidak dilakukan
abortus akan menyebabkan pertumbuhan janin kurang baik, bahkan menimbulkan
pendarahan hal itu disebabkan karena keadaan rahim yang belum pulih benar

3. Paritas ibu
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup (anak) yang dimiliki wanita. Resiko paritas
tinggi , banyak wanita melakukan abortus.

4. Riwayat kehamilan yang lalu


Wanita yang sebelumnya pernah abortus, kemungkinan besar akan dilakukan abortus
lagi. penyebabnya yang lainnya masih banyak, seperti calon ibu yang memiliki penyakit
berat hingga takut bila ia melahirkan anaknya, anaknya akan tertular penyak it pula, ada
juga masalah ekonomi banyak anak banyak pengeluaran dan lain sebagainya.

Selain penyebab di atas, aborsi juga dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :

a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan


sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini ialah :

1. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi

2. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.


3. Pengaruh teratogen akibat radiasi, firus, obat-obatan, tembakaou dan alkohol

b) Kelainan pada plasenta, misalnya enderteritis vili korialis karena hipotensi menahun.
c) Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan, toksoplasmosis.
d) Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester
kedua), retroversi uteri, dan kelainan bawaan uterus.

4. Resiko Aborsi
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang
wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia tidak
merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang. Ini adalah informasi yang sangat
menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak
menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.

Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:


1. Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan
dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh
Brian Clowes, Phd yaitu:

1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat


2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal

3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan

4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)

5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat


pada anak berikutnya.

6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)

7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)

8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)

9. Kanker hati (Liver Cancer)

10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada
anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.

11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)

12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)

13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)


2. Resiko kesehatan mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat
terhadap keadaan mental seorang wanita.

Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai Post-Abortion Syndrome (Sindrom
Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam Psychological Reactions Reported
After Abortion di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).

Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti
berikut ini:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2. Berteriak-teriak histeris (51%)
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)

Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan
bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya. Rasa bersalah tersebut
dapat menyebabkan stres psikis atau emosional, yaitustres yang disebabkan karena gangguan
situasi psikologis (Hidayat, 2007).