Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pajak penghasilan merupakan pajak yang dipungut kepada obyek pajak atas
penghsilan yang diperolehnya. PPh akan selalu dikenakan terhadap orang atau badan usaha
selaku wajib pajak yang memperoleh penghasilan. Setiap perusahaan jasa maupun non jasa
sebagai wajib pajak diwajibkan untuk membayar pajak. Bagi perusahaan, pajak merupakan
sumber pengeluaran(cash disbursment) tanpa adanya imbalan langsung untuk perusahaan
tersebut. Sehingga biasanya banyak perusahaan melakukan upaya untuk membayar pajak
terutangnya sekecil mungkin selama hal tersebut memungkinkanPada hakekatnya perpajakan
di Indonesia di tetapkan berdasarkan undang-undang, hal ini merupakan pencerminan bagian
dari pelaksanaan tonggak demokrasi dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dalam hubungan
ini merupakan suatu realita negara yang merdeka dan berdaulat. Sesuai perjalanan sejarah
perpajakan nasional di Indonesia, tak dapat dipungkiri bahwa dalam penyusunan kerangka
acuan perubahan undang-undang dan peraturan perpajakan sebagian besar bersumber dari
sistem perpajakan warisan kolonial penjajah, terutama ketika negara Republik Indonesia baru
terbentuk. Dalam beberapa dekade terakhir ini perubahan tersebut telah banyak mengalami
perubahan yang bersumber dari sistem perpajakan negara lain.
Dalam teori ekonomi klasik yang kini masih relevan diterapkan di berbagai negara
menyebutkan bahwa : salah satu sumber penerimaan negara ialah dari sektor pajak.
Pernyataan ini tertuang di dalam naskah Undang-Undang Dasar 1945 pasal 23 ayat 2 yang
berbunyi sebagai berikut : segala pajak dipungut berdasarkan undang-undang demi
kepentingan negara dan ditunjukan kesejahteraan rakyat.
Pajak adalah salah satu alat yang digunakan pemerintah didalam mencapai tujuan
untuk mendapatkan penerimaan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung dari
masyarakat, untuk itu diperlukan adanya kesadaran dari masyarakat akan kewajiban pajaknya
karena pajak yang dikumpul digunakan untuk kepentingan dan membiayai pengeluaran rutin
serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pajak merupakan fenomena umum sebagai sumber penerimaan negara yang berlaku
di berbagai negara. Tiap negara membuat aturan dan dalam mengenakkan dan memungut
pajak di negaranya. Bagi Indonesia, penerimaan pajak sangat besar perannya dalam
mengamankan anggaran negara dalam APBN setiap tahun. Kondisi itu tercapai ketika harga
minyak bumi berfluktuasi di pasar internasional dalam kurun waktu yang relatif panjang pada
1
awal dekade 1980-an. Fluktuasi harga tersebut telah membuat struktur penerimaan negara
yang saat itu sangat mengandalkan penerimaan dari minyak bumi dan gas (migas) tidak bisa
diandalkan lagi untuk kesinambungannya. Dari aspek budgeting, bila penerimaan andalan
dari migas tetap di pertahankan, maka akan merusak tatanan atau struktur penerimaan negara
di APBN. Akibatnya, pembangunan nasional yang telah dilaksanakan dan diprogramkan
diberbagai bidang, dan membutuhkan biaya saat itu, bisa saja tidak dapat dilaksanakan sesuai
dengan rencana (program pembangunan).

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai
dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen kekonsumen. Dalam bahasa inggris,
PPN disebut Value Added Tax (VAT) atauGoods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis
pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang
bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak
menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung.

Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau
produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam
perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak
masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya,
sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau
membuat produknya.
Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar
hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang
No. 8 Tahun 1983 berikut perubahannya, yaitu Undang-Undang No. 11 Tahun1994, Undang-
Undang No. 18 Tahun2000, dan Undang_Undang No. 42 Tahun2009
Pemerintah menegaskanakan tetap memprioritaskan sector pajak sebagai tulangpunggung
penerimaan negara,
karena pajak merupakan harapan terbesar bagi penerimaanNegara kita dewasa ini tercatat
lebih 70% penerimaan dalam APBN berasal dari berbagai jenispajak.
Pungutan pajak dapat kita jumpai hampir di setiap negara di dunia.Ada
beberapa istilahtersendiri atas pungutan yang di Indonesia dikenal dengan pajak,
yaitu belasting, tax, tariff, steuer, abgabe, gebuhr dan sebagainya, yang pasti melalui pajak,
Negara mengharapkanadanya penerimaan.

2
B. Rumusan Masalah
Apa pengertian pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai ?
Adakah sejarah mengenai pajak penghasilan ?
Apa Unsur-unsur pengenaan pajak pertambahan nilai ?
Bagaimana Mekanisme pembayaran pajak pertambahan nilai ?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar kita lebih memahami pembahasan mengenai
pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai. Dan dapat memudahkan dalam
pengaplikasian dalam dunia kerja.

BAB II

3
PEMBAHASAN

I. PAJAK PENGHASILAN

A. Pengertian Pajak Penghasilan


Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau
perseorangan dan badan, berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya
selama satu tahun pajak. Ditinjau dari segi sejarahnya, pajak sudah ada sejak jaman dahulu
kala yang saat itu pemberiannya sukarela dari rakyat kepada rajanya. Pada mulanya pajak
merupakan suatu upeti (pemberian secara cuma-cuma) namun sifatnya merupakan suatu
kewajiban yang dapat dipaksakan yang harus dilaksanakan oleh rakyat (masyarakat) kepada
seorang raja atau penguasa. Saat itu, rakyat memberikan upetinya kepada raja atau penguasa
berbentuk natura berupa padi, ternak, atau hasil tanaman lainnya seperti pisang, kelapa, dan
lain-lain. Pemberian yang dilakukan rakyat saat itu digunakan untuk keperluan atau
kepentingan raja atau penguasa setempat dan tidak ada imbalan atau prestasi yang
dikembalikan kepada rakyat karena memang sifatnya hanya untuk kepentingan sepihak dan
seolah-olah ada tekanan secara psikologis karena kedudukan raja yang lebih tinggi status
sosialnya dibandingkan rakyat.
Pajak menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah
disempurnakan terakhir dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
umum dan tata cara perpajakan adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan
tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

B. Sejarah Pajak Penghasilan


Sejarah pengenaan Pajak Penghasilan di Indonesia dimulai dengan adanya tenement
tax (huistaks) pada tahun 1816, yakni sejenis pajak yang dikenakan sebagai sewa terhadap
mereka yang menggunakan bumi sebagai tempat berdirinya rumah atau bangunan. Pada
periode sampai dengan tahun 1908 terdapat perbedaan perlakuan perpajakan antara penduduk
pribumi dengan orang Asia dan Eropa, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat
banyak perbedaan dan tidak ada uniformitas dalam perlakuan perpajakan Tercatat beberapa
jenis pajak yang hanya diperlakukan kepada orang Eropa seperti "patent duty". Sebaliknya
business tax atau bedrijfsbelasting untuk orang pribumi. Di samping itu, sejak tahun 1882

4
hingga 1916 dikenal adanya Poll Tax yang pengenaannya berdasarkan status pribadi,
pemilikan rumah dan tanah.
Pada 1908 terdapat Ordonansi Pajak Pendapatan yang diperlakukan untuk orang
Eropa, dan badan-badan yang melakukan usaha bisnis tanpa memperhatikan kebangsaan
pemegang sahamnya. Dasar pengenaan pajaknya penghasilan yang berasal dari barang
bergerak maupun barang tak gerak, penghasilan dari usaha, penghasilan pejabat pemerintah,
pensiun dan pembayaran berkala. Tarifnya bersifat proporsional dari 1%, 2% dan 3% atas
dasar kriteria tertentu. Selanjutnya, tahun 1920 dianggap sebagai tahun unifikasi, dimana
dualistik yang selama ini ada, dihilangkan dengan diperkenalkannya General income tax
yakni Ordonansi pajak pendapatan yang diperbaharui pada tahun 1920 (Ordonantie op de
Herziene Inkomstenbelasting 1920, Staatsblad 1920 1921, No.312) yang berlaku baik bagi
penduduk pribumi, orang Asia maupun orang Eropa. Dalam Ordonansi pajak pendapatan ini
telah diterapkan asas-asas pajak penghasilan yakni asas keadilan domisili dan asas sumber.
Karena desakan kebutuhan dengan makin banyaknya perusahaan yang didirikan di
Indonesia seperti perkebunan-perkebunan (on dememing), pada tahun 1925 ditetapkanlah
Ordonasi pajak perseroan tahun 1925 (Ordonantie op de Vennootschapbelasting) yakni pajak
yang dikenakan tethadap laba perseroan, yang terkenal dengan nama PPs (Pajak Perseroan).
Ordonansi ini telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan antara lain
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Penyempurnaan
Tatacara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan Pajak Perseroan
tahun 1925 yang dalam praktck lebih dikenal dengan UU MPO dan MPS. Perubahan penting
lainnya adalah dengan UU No. 8 tahun 1970 dimana fungsi pajak mengatur/regulerend
dimasukkan ke dalam Ordonansi PPs 1925., khususnya tentang ketentuan cuti pajak (tax
holiday).
Ordonasi PPs 1925 berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983, yakni pada
saat diadakannya reformasi pajak, Pada awal tahun 1925-an yakni dengan mulai berlakunya
Ordonansi Pajak Perseroan 1925 dan dengan perkembangan pajak pendapatan di Negeri
Belanda, maka timbul kebutuhan untuk merevisi Ordonansi Pajak Pendapatan 1920, yakni
dengan ditetapkannnya Ordonasi Pajak Pendapatan tahun 1932 (Ordonantie op de
Incomstenbelasting 1932, Staatsblad 1932, No.111) yang dikenakan kepada orang pribadi
(Personal Income Tax). Asas-asas pajak penghasilan telah diterapkan kepada penduduk
Indonesia; kepada bukan penduduk Indonesia hanya dikenakan pajak atas penghasilan yang
dihasilkannnya di Indonesia; Ordonansi ini juga telah mengenal asas sumber dan asas
domisili.
5
Dengan makin banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia, maka kebutuhan akan
mengenakan pajak terhadap pendapatan karyawan perusahaan muncul. Maka pada tahun
1935 ditetapkanlah Ordonansi Pajak Pajak Upah (loonbelasting) yang memberi kewajiban
kepada majikan untuk memotong Pajak Upah/gaji pegawai yang mempunyai tarif progresif
dari 0% sampai dengan 15%. Pada zaman Perang Dunia II diberlakukan Oorlogsbelasting
(Pajak perang) menggantikan ordonansi yang ada dan pada tahun 1946 diganti dengan nama
Overgangsbelasting (Pajak Peralihan). Dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1957 nama
Pajak Peralihan diganti dengan nama Pajak Pendapatan tahun 1944 yang disingkat dengan
Ord. PPd. 1944. Pajak Pendapatan sendiri disingkat dengan PPd. saja.
Ord. PPd. 1944 setelah beberapa kali mengalami perubahan terutama dengan
perubahan tahun 1968 yakni dengan adanya UU No. 8 tahun 1968 tentang Perubahan dan
Penyempurnaan Tatacara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932 dan
Pajak Perseroan 1925, yang lebih terkenal dengan "UU MPO dan MPS". Perubahan lainnya
adalah dengan UU No. 9 tahun 1970 yang berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 1983,
yakni dengan diadakannya reformasi pajak di Indonesia.

C. Ketentuan
1. Subyek pajak Penghasilan
Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, subyek pajak penghasilan adalah
sebagai berikut:
a. Subyek pajak pribadi yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di
Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
b. Subyek pajak harta warisan belum dibagi yaitu warisan dari seseorang yang sudah
meninggal dan belum dibagi tetapi menghasilkan pendapatan, maka pendapatan itu
dikenakan pajak.
c. Subyek pajak badan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia,
kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria:
pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah;
penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah;
dan
6
pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional negara; dan
d. Bentuk usaha tetap yaitu bentuk usaha yang digunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia atau berada di indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu dua belas bulan, atau badan yang tidak didirikan dan berkedudukan di Indonesia, yang
melakukan kegiatan di Indonesia.

D. Pajak Pengahasilan
Menurut Waluyo (2006) : pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap
subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau yang diperolehnya dalam
tahun pajak.Menurut ketentuan pajak, pajak penghasilan merupakan jenis pajak subjektif
yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek pajak yang bersangkutan, artinya pajak
tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada subjek pajak lainya. Oleh karena itu
dalam rangka memberikan kepastian hukum, penentuan saat mulai dan berakhirnya
kewajiban pajak subjektif yang penting. Dalam pajak penghasilan tarifnya dapat dibedakan
menjadi beberapa tarif,sebagai berikut :
1) Tarif marginal
Persentase tarif ini berlaku untuk suatu kenaikan dasar pengenaan pajak. Sebagai
contoh , tarif pajak penghasilan untuk tahun 2009 bagi wajib pajak orang (perhatikan contoh
tarif progresif) bahwa tarif marginal untuk setiap tambahan penghasilan kena pajak yang
melebihi 0 sampai dengan Rp.50.000.000,00 sebesar 5% yang diikuti pula setiap tambahan
penghasilan kena pajak diatas Rp.50.000.000,00 sampai dengan tarif marginal 15% dan
seterusnya.
2) Tarif efektif
Persentase tarif pajak yang efektif berlaku atau harus diterapkan atas dasar pengenaan
pajak tertentu.
1. Kutipan Undang-Undang Tentang Pajak Penghasilan
a. Yang termasuk subjek pajak penghasilan
1) Orang pribadi
Adalah mereka yang tinggal atau (berdomisili) atau berada di Indonesia ataupun
diluar indonesia tanpa melihat batas umur, jenjang sosial ekonomi dan kebangsaan dan
kewarganegaraannya.
2) Warisan
Warisan yang belum belum terbagi satu kesatuan menggantikan yang berhak warisan
merupakan subjek pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris.
7
3) Badan
Sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha.
4) Bentuk usaha tetap (BUT)
Perusahaan luar negeri yang bergerak dalam kegiatan ekonomi suatu negara, dalam
hal ini negara Indonesia. Subjek pajak dapat pula dibedakan yaitu subjek pajak dalam negeri
dan subjek pajak luar negeri. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa subjek pajak dalam negeri
adalah wajib pajak membuat SPT sementara subjek pajak luar negeri tidak wajib membuat
SPT.

b. Termasuk objek pajak penghasilan


Yang menjadi objek pajak penghasilan yaitu, setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia yang dapat di pakai untuk dikonsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk :
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau
diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang
pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya kecuali ditentukan lain dalam undang-undang
PPh.
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.
3. Laba usaha.
4. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta :
- Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya
sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.
- Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena pengalihan
harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota.
- Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau
pengambilalihan usaha.
- Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang
diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan
keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi
yg ditetapkan oleh menteri keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,pekerjaan,
kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.
8
6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.
7. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi
kepada pemegang polis dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
8. Royalti.
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala contoh leasing.
11. Keuntungan karena pembebasan utang kecuali yang diatur pada PP 130 Tahun 2000 (atas
keuntungan karena pembebasan utang debitur kecil termasuk Kukesra, KUT, KPRSS, KUK
dan kredit kecil dan hanya dapat dinikmati satu kali dalam satu tahun pajak sampai dengan
jumlah Rp 350 Juta).
12. Keuntungan karena selisih kurs dengan mata uang asing.
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
14. Premi Asuransi.
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib
Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
16. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak

E. Bukan Subyek Pajak


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 200 menjelaskan tentang apa yang tidak termasuk
obyek pajak sebagai berikut:
a. Badan perwakilan negara asing.
b. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat - pejabat lain dari negara asing
dan orang - orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat
tinggal bersama mereka dengan syarat bukan warga negara indonesia dan negara yang
bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
c. Organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri keuangan dengan
syarat Indonesia ikut dalam organisasi tersebut dan organisasi tersebut tidak melakukan
kegiatan usaha di Indonesia. Contoh: WTO, FAO, UNICEF.
d. Pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh keputusan menteri
keuangan dengan syarat bukan warga negara indonesia dan tidak memperoleh penghasilan
dari Indonesia.

F. Obyek Pajak Penghasilan


9
Objek pajak penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun. Undang-undang Pajak Penghasilan
Indonesia menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu
bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh wajib pajak darimanapun asalnya yang dapat dipergunakan untuk konsumsi atau
menambah kekayaan wajib pajak tersebut.
Pengertian penghasilan dalam Undang-undang PPh tidak memperhatikan adanya
penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis.
Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan
ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut bersama-sama
memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan. Dilihat
dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat pula ditabung
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
Karena Undang-undang PPh menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua
jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan untuk
mendapatkan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satu Tahun Pajak
suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan
dengan penghasilan lainnya (Kompensasi Horisontal), kecuali kerugian yang diderita di luar
negeri. Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan tarif yang
bersifat final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka penghasilan tersebut tidak boleh
digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif umum.
Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

10
II. PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

A. Objek Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Objek Pajak
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dikenakan atas hal-hal sebagai berikut:
a. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;
b. Impor Barang KenaPajak;
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah Pabean di
dalam daerahPabean;
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah maupun di dalam daerah Pabean
f. Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak
g. Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud oleh pengusaha kena pajak
h. Ekspor Jasa Kena Pajak oleh pengusaha kena pajak

Jenisbarang yang tidak dikenakan PPN


a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya,
meliputi:
1. minyak mentah.
2. Gas bumi
3. Pasir dan kerikil
4. Batubara sebelum diproses menjadi briket batu bara
5. bijih besi, bijih timah, bijIh emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak
6. Barang hasil pertambangan dan pengeboran lainya yang diambil langsung dari sumbernya.

b. Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak, yaitu sebagai berikut:
1. Segala jenis beras dan gabah, seperti beras putih, beras merah,
beras ketan hitam atauberas ketan putih dalam bentuk:
a. Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih;

11
b. Digiling
c. Beras setengah giling atau digiling seluruhnya, disosoh, dikilapkan maupun tidak,;
beras pecah;
d. Menir (groats) dari beras
2. Segala jenis jagung, seperti jagung putih, jagung kuning, jagung kuning,
jagung kuningkemerahan atau popcorn (jagung brondong), dalam bentuk:
a. Jagung yang telah dikupas maupun belum/jagung tongkol dan biji jagung/jagung pipilan;
b. Menir (groats)/beras jagung, sepanjang masih dalam bentuk butiran.
c. Sagu,
d. Tepung, tepung kasar dan bubuk dari sagu
3. Segala jenis kedelai, seperti kedelai putih, kedelai hijau,
kedelai kuning atau kedelai hitamdalam bentuk pecah atau utuh.
4. Garam baik yang beryodium maupun tidak beryodium termasuk:
a. Garam meja;
b. Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 kg atau lebih, dengan kadar Na CL 94,7 % (dry
basis)
c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung,
dansejenisnya.
Barang-barang tersebut meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di
tempatmaupun tidak; tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha
catering atau usahaja saboga.
d. Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga

Jenis jasa yang tidak kena PPN


a. Jasa pelayanan kesehatan medis, meliputi:
1. Jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi.
2. Jasa dokter hewan.
3. Jasa ahli kesehatan, seperti ahli akupunktur, ahli gigi, ahli gizi, dan ahli fisioterapi.
4. Jasa kebidanan dan dukun bayi.
5. Jasa paramedis dan perawat.
6. Jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium.
b. Jasa pelayanan sosial, meliputi:
1. Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo.
2. Jasa pemadam kebakaran.
12
3. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan.
4. Jasa lembaga rehabilitasi.
5. Jasa penyediaan rumah duka atau jasa pemakaman, termasuk krematorium.
6. Jasa di bidangolah raga kecuali yang bersifatkomersial.
c. Jasa pengiriman surat dengan perangko meliputi jasa pengiriman surat dengan menggunakan
perangko temple dan menggunakan cara lain pengganti perangko tempel.

B. Unsur Unsur Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah :
a. Adanya penyerahan;
b. Yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP);
c. Yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP);
d. Penyerahannya harus di Daerah Pabean, yaitu daerah Republik Indonesia;
e. PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan /pekerjaannya terhadap
barang yang dihasilkan.
Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi:
a. Penyerahan hak karena suatu perjanjian;
b. Pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian leasing;
c. Penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang;
d. Pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma;
e. Penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjual belikan, yang
masih tersisa pada saat pembubaran, sepanjang PPN sewaktu memperoleh aktiva dapat
dikreditkan menurut perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan;
f. Penyerahan dari cabang ke cabang lainnya, atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya.
g. Penyerahan secara konsinyasi.

C. Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


1. Pajak Tidak Langsung dan Pajak Objektif
PPN adalah pajak tidak langsung, artinya beban pajak dilimpahkan kepada pihak lain.
Sehingga pemikul beban pajak (WP) dan penyetor pajak ke DJP (pemungut) adalah pihak
yang dapat berbeda.
PPN tergolong sebagai pajak yang obyektif, karena penekanannya mula-mula kepada
obyeknya terlebih dahulu, baru kemudian kepada subyeknya. Siapapun subyeknya
13
(masyarakat yang mampu maupun yang kurang mampu), akan dikenakan PPN, selama
mereka mengonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak, di dalam daerah pabean.
2. Multi Stage Levy namun Non Commulative
PPN bersifat multi stage levy, artinya dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan
jalur distribusi. Mulai dari pertama kali setelah diproduksi, hingga sampai ke tangan
konsumen akhir.
Sifat non kumulatif dari Pajak Pertambahan Nilai terletak pada mekanisme pemungutannya
yang dikenakan pada Nilai Tambah (Added Value) dari Barang Kena Pajak dan Jasa Kena
Pajak dan tidak diperhitungkan di akhir tahun. Diharapkan dengan sifat seperti ini akan
mengurangi hasrat para Wajib Pajak untuk menghindari bahkan menyelundupkan Pajak
Pertambahan Nilai yang menjadi kewajibannya.
3. Penghitungan PPN terutang untuk dibayar ke kas negara menggunakan indirect
subtraction method
Yaitu PPN dikenakan bedasarkan atas pertambahan nilai (added value) dari barang yang
dihasilkan atau diserahkan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP).
4. Merupakan Pajak atas Konsumsi Umum Dalam Negeri sehingga memiliki kedudukan
netral
PPN dikenakan untuk berbagai konsumsi BKP di daerah pabean tanpa terkecuali.
5. Menerapkan tarif tunggal (single rate)
Tarif Pajak PPN adalah 10 %. Namun bisa juga melalui berbagai pertimbangan dan keluarnya
PP, tarif diubah antara 5-15 %.
6. Termasuk tipe konsumsi (Consumption Type VAT)
Pada VAT type ini, seluruh pengeluaran atas pembelian produk, termasuk barang modal,
dapat menjadi pengurang terhadap penerimaan.

D. Mekanisme Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Pembayaran PPN dapat dilakukan dengan cara menitipkan uang pajak kepada pihak penjual
(pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak) yang telah berstatus
sebagai Pengusaha Kena Pajak, atau dengan cara membayarkannya secara langsung ke
negara.
1. Pembayaran PPN dengan Menitipkan Ke Pihak Penjual
Pembayaran PPN dengan cara menitipkan uang pembayarannya kepada pihak penjual, yaitu
pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dan telah berstatus
sebagai Pengusaha Kena Pajak, dilakukan dalam hal terjadi konsumsi Barang Kena Pajak
14
atau Jasa Kena Pajak oleh siapapun dari pihak penjual atau pihak yang menyerahkan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak tersebut. Cara seperti ini merupakan cara yang paling
umum dilakukan dan dikenal dengan mekanisme umum. Dengan mekanisme ini, pihak
penjual atau pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak tersebut akan
mendapatkan aliran uang masuk (cash inflow) berupa Pajak Pertambahan Nilai (Pajak
Keluaran). Pajak Keluaran yang telah diterima dan merupakan cash inflow tersebut, akan
disetorkan atau tidak disetorkan ke negara, tergantung kepada hasil pertandingan antara Pajak
Keluaran tersebut dengan Pajak Masukan atau Cash Outflow.
2. Pembayaran PPN Secara Langsung ke Negara
Mekanisme pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dengan cara membayarkan secara langsung
ke negara, dilakukan apabila:
a. Dalam hal Pengusaha Kena Pajak menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak
kepada Instansi Pemerintah, dimana instansi pemerintah tidak menitipkan uang pembayaran
PPN kepada pihak penjual, melainkan langsung menyetorkannya ke negara;
b. Dalam hal terjadi impor Barang Kena Pajak, dimana pihak yang melakukan impor akan
membayar PPN secara langsung ke negara sebagai bagian dari persyaratan untuk menebus
Barang Kena Pajak yang diimpornya;
c. Dalam hal terjadi pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean, dimana pihak
yang memanfaatkan Jasa Kena Pajak akan menyetor sendiri PPN yang terutang dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak yang berfungsi sebagai Faktur Pajak Standar;
d. Dalam hal terjadi pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean,
dimana pihak yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud tersebut akan menyetor
sendiri PPN yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang berfungsi sebagai
Faktur Pajak Standar;
e. Dalam hal terjadi kegiatan membangun bangunan yang dilakukan sendiri, apabila
persyaratan-persyaratannya dipenuhi;
f. Dalam hal terjadi penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan, apabila persyaratan-persyaratannya dipenuhi;
g. Dalam hal SPT Masa PPN berstatus kurang bayar yang disebabkan oleh jumlah Pajak
Keluaran yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah Pajak Masukan, dimana batas paling
lambat untuk menyetorkan selisihnya (Pajak Keluaran VS- Pajak Masukan) adalah pada
tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya. Terdapat Pengusaha Kena Pajak tertentu yang Dasar
Pengenaan Pajaknya menggunakan Nilai Lain, artinya jumlah Pajak Masukannya dianggap

15
(deemed) selalu lebih kecil dibandingkan dengan jumlah Pajak Keluarannya, sehingga SPT
Masa PPN-nya selalu berstatus kurang bayar.

Tata Cara Pembayaran Dan Pelaporan PPN/PPnBM


Siapa saja yang wajib membayar/menyetor & melaporkan PPN/PPnBM ?
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
2. Pemungut PPN/PPn BM, adalah :
KPKN
Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Pertamina
BUMN/ BUMD
Kontraktor Bagi Hasil dan Kontrak Karya bidang Migas dan Pertambangan Umum lainnya
Bank Pemerintah
Bank Pembangunan Daerah
Perusahaan Operator Telepon Selular.
Apa saja yang wajib disetor oleh PKP dan pemungut PPN & PPnBM ?
1. Oleh PKP adalah :
PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan Pajak Masukan dan Pajak
Keluaran.Yang disetor adalah selisih Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, bila Pajak Masukan
lebih kecil dari Pajak Keluaran.
PPn BM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong
mewah.
PPN/ PPn BM yang ditetapkan oleh DJP dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Tagihan
Pajak (STP).
2. Oleh Pemungut PPN/PPn BM adalah PPN/PPn BM yang dipungut oleh Pemungut PPN/ PPn
BM

Dimana tempat pembayaran/penyetoran pajak ?


1. Kantor Pos dan Giro
16
2. Bank Pemerintah, kecuali BTN
3. Bank Pembangunan Daerah
4. Bank Devisa
5. Bank-bank lain penerima setoran pajak
6. Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Khusus untuk impor tanpa LKP

Kapan saat pembayaran/penyetoran PPN/PPnBM ?


1. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetorkan paling lambat tanggal 15
bulan takwim berikutnya setelah bulan Masa Pajak.. Contoh : Masa Pajak Januari 1996,
penyetoran paling lambat tanggal 15 Pebruari 1996.
2. PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP harus dibayar/ disetor
sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP tersebut.
3. PPN/ PPn BM atas Impor, harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk,
dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/ dibebaskan, harus dilunasi pada saat
penyelesaian dokumen.
4. PPN/PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh:
Bendaharawan Pemerintah, harus disetor selambat-lambatnya tanggal 7 bulan takwim
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Pemungut PPN selain Bendaharawan Pemerintah, harus disetor selambat-lambatnya tanggal
15 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungut PPN/ PPn BM atas Impor, harus menyetor
dalam jangka waktu sehari setelah pemungutan pajak dilakukan.
PPN dari penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh Badan Urusan Logistik (BULOG),
harus dilunasi sendiri oleh PKP sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (D.O) ditebus.
Catatan:Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari libur, maka pembayaran
harus dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.
Kapan saat pelaporan PPN/PPnBM ?
1. PPN dan PPn BM yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan
disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat selambat-lambatnya 20 hari setelah
Masa Pajak berakhir
2. PPN dan PPn BM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP yang telah dilunasi
segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan.
3. PPN dan PPn BM yang pemungutannya dilakukan oleh :

17
Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan selambat-lambatnya 14 hari setelah Masa Pajak
berakhir.
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai selain Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan
selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas Impor, harus dilaporkan secara mingguan selambat-
lambatnya 7 hari setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir.
4. Untuk penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh BULOG, maka PPN dan PPn BM
dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada KPP
setempat selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
Catatan : Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur, maka pelaporan harus
dilaksanakan pada hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo.

Apa sarana yang digunakan untuk melakukan pembayaran/penyetoran pajak?


1. Untuk membayar/menyetor PPN dan PPn BM digunakan formulir Surat Setoran Pajak yang
tersedia gratis di Kantor-kantor Pelayanan Pajak dan Kantor-kantor Penyuluhan Pajak di
seluruh Indonesia.
2. Surat Setoran Pajak menjadi lengkap dan sah bila jumlah PPN/PPnBM yang disetorkan telah
diberi teraan oleh : Bank, Kantor Pos dan Giro, atau Kantor Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai penerima setoran.

Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


a. Tarif Pajak Pertambahan Nilai
1. Tarif PPN yang berlaku saat ini adalah 10%
2. Tarif PPN atas ekspor BKP adalah 0%
3. Dengan PP, tarif PPN dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%.
b. Dasar pengenaan PPN
1. Harga jual
2. Nilai penggantian
3. Nilai impor
4. Nilai ekspor

Tipe Pajak Pertambahan Nilai


a. consumption Type VAT

18
dalam consumtion type value added tax semua pembelian yang digunaka untuk produksi
termasuk pembelian barang modal dikurangkan dari penghitungan nilai tambah.
Pajak pertambahan nilai tipe konsumsi ini memiliki beberapa nilai positif, yaitu:
1) Membantu likuiditas perusahaan, karena seluruh Pajak Masukan atas pembelian Barang
Kena Pajak yang digunakan dalam proses produksi segera dapat dikreditkan.
2) Menunjang ikli investasi sehat
3) Mendorong pengusaha secara berkala melakukan regenerasi alat produksi barang modal
tidak dikenakan pajak lebih dari satu kali.
4) Tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda (bersift non kumulasi).
b. Net Income Type VAT
Dalam Net Income Type Value Added Tax, pengurangan pembelian barang modal dari dasar
pengenaan pajak tidak dimungkinkan. Pembelian barang modal hanya boleh dikurangkan
sebesar presentase penyusutan yang ditentukan pada waktu menghitung hasi l bersih dalam
rangka penghiungan pajak penghasilan. Oleh karena itu dasar pengenaan pajak pertambahan
nilai akan sama dengan dasar pengenaan pajak penghasilan.
c. Gross Product Type VAT
dalam Gross Product Tyoe Value Added tax, pembelian barang modal sama sekali tidak boleh
dikurangkan dari dasar pengenaan pajak. Hal ini mengakibatkan barang modal dikenakan
pajak dua kali yaitu pada saat dibeli, kemudian pemajakan yang kedua dilakukan melalui
hasil produksi yang dijual kepada konsumen.

Pencatatan Dan Pebukuan Dalam Pajak Pertambahan Nilai


a. Dasar hukum
Ketentuan mengenai pembukuan yang sebelum 1 januari 2001diatur dalam pasal 6 UU PPN
1984, dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 dihapus sehingga mengenai kewajiban pembukuan
dibidang PPn semata-mata mengacu pada pasal 28 UU KUP. Ide yang melatarbelakangi
penghapusan pasal 6 UU PN 1984 dapat dipahami yaitu mengenai kewajiban
menyelenggrankan pembukuan dan pencatatan sudah diatur dalam Pasal 28 UU KUP.
Kewajiban ini merupakan bagian dari ketentuan formal.UU no 8 tahun 1984 merupakan
ketentuan materil sehingga tidak dapat apabila mengatur juga kewajiban formal.Selai itu
untuk menghindari pengaturan ganda terhadap satu masalah.
b. Pencatatan yang Wajib Diselenggarakan Oleh PKP
1) Kuantum Barang Kena Pajak Yang diserahkan
2) Harga Perolehan Barang/Jasa Kena Pajak dan Pajak Masukan
19
3) Harga Jual/Penggantian dan Pajak keluaran yang dikenakan
4) Penyerahan yang terutang PPN 10%
5) Penyerahan yang terutang PPN 0%
6) Penyerahan yag tidak terutang PPN
7) Penyerahan yang terutang PPnBM
Karena berdasarkan pasal 16B UU PPN 1984, terhadap penyerahan BKP/JKP tertentu
diberikan fasilitas maka bagi PKP yang melakukan penyerahan terkait dengan fasilitas
dimaksud, pencatatan itu harus ditambah dengan dua materi lagi yaitu :
8) Penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan pajak
9) Penyerahan yang PPN dan PPnBM-nya tidak dipungut.

E. Tata Cara Menghitung Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Cara menghitung PPN


PPN = DasarPengenaanPajak (DPP) x tarifpajak

20
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan kepada orang pribadi atau
badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu Tahun Pajak. Yang
dimaksud dengan penghasilan adlah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang berasal
baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat digunakan untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan dengan nama dan dalam bentuk apapun. Dengan demikian maka
penghasilan itu dapat berupa keuntungan usaha, gaji, honorarium, hadiah, dan lain
sebagainya.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan
nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen kekonsumen.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas :
a. Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha;
b. Impor Barang Kena Pajak;
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh
Pengusaha;
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah . Pabean;
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; atau
f. Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
Mekanisme pembayaran pajak pertambahan nilai dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Pembayaran PPN dengan menitipkan kepada pihak penjual
2. Pembayaran PPN secara langsung kepada Negara

21
DAFTAR PUSTAKA

http://www.pusatmakalah.com/p/penutup-makalah-pajak-penghasilan.html

http://phnharapan.blogspot.co.id/2015/05/makalah-pajak-pertambahan-nilai.html

22