Anda di halaman 1dari 11

NAMA : AULIYAH ULIL ALBAB

NIM : 1507 14201 390

KELAS : KEPERAWATAN 4 A

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GANGGUAN ASAM BASA DAN ELEKTROLIT

A. MEKANISME ASAM BASA


1. DEFINISI
Keseimbangan asam basa adalah homeostasis dari kadar hidrogen (H+) pada cairan
tubuh. Asam terus menerus diproduksi dalam metabolisme yang normal. Asam adalah
suatu subtansi yang mengandung satu atau lebih ion H + yang dapat dilepaskan dalam
larutan (donor proton). Salah satu dari asam kuat adalah asam hidroklorida (HCL),
hampir terurai sempurna dalam larutan, sehingga melepaskan lebih banyak ion H+.
Asam lemah, seperti asam karbonat (H2CO3), hanya terurai sebagian dalam larutan
sehingga lebih sedikit ion H+ yang dilepaskan.
pH adalah pencerminan rasio antara asam terhadap basa dalam cairan ekstrasel. pH
dalam serum dapat diukur dengan pH meter, atau dihitung dengan mengukur
konsentrasi bikarbonat dan karbondioksida serum dan menempatkan nilai-nilainya ke
dalam persamaan Henderson Hasselbach. pH = pK + log H- /CO2
Proses metabolisme dalam tubuh menyebabkan terjadinya pembentukan dua jenis
asam , yaitu mudah menguap (volatil) dan tidak mudah menguap (non volatil). Asam
volatil dapat berubah menjadi bentuk cair maupun gas.
Basa adalah subtansi yang dapat menangkap atau bersenyawa dengan ion hidrogen
sebuah larutan (akseptor proton). Basa kuat, seperti natrium hidroksida (NaOH), terurai
dengan mudah dalam larutan dan bereaksi kuat dengan asam. Basa lemah seperti
natrium bikarbonat (NaHCO3), hanya sebagian yang terurai dalam larutan dan kurang
bereaksi kuat dengan asam.
Disamping air dan elektrolit cairan tubuh juga mengandung asam-basa, seperti asam
karbonat. Keadaan asam dan basa ditentukan oleh adanya pH cairan tubuh. pH adalah
sImbol dari adanya ion hydrogen dalam larutan pH netral adalah 7, jika dibawah 7 maka
disebut asam dan diatas 7 disebut basa. Sedangkan pH plasma normal aldalah 7,35-
7,45. Untuk memperthankan pH plasma normal dalam tubuh terdapat buffer asam-basa
yaitu larutan yang terdiri dari dua atau lebih zat kimia untuk mencegah terjadinya
perubahan ion hydrogen.
Keseimbangan asam-basa ditentukan oleh pengaturan buffer pernafasan dan ginjal.
a. Sistem Buffer
Buffer membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan
menetralisir kelebihan asam melalui pemindahan atau pelepasan ion hydrogen.
b. Pengaturan pernapasan
Paru-paru membantu mengatur keseimbangan asam-basa dengan cara
mengeluarkan karbondioksida.
c. Pengaturan oleh Ginjal
Pengaturan keseimbangan asam-basa oleh ginjal relative lebih lama
dibandingkan dengan pernapasan dan sistem buffer yaitu beberapa jam atau
beberapa hari stelah adanya ketidak-seimbangan asam-basa.

2. GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA


a. Asidosis respiratorik
Pengertian
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena
penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-
paru yang buruk atau pernafasan yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah
karbohidrat dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul Ph dalam
darah akan menurun dan darah menjadi asam.
Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak
mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan dalam.
Penyebab
1. Empisema
2. Bronkritis kronis
3. Pneumonia berat
4. Asma
Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat
narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan Asidosis
respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada
menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan.
Gejala
Gejala pertama berupa sakit kepala dan rasa mengantuk. Jika keadaannya
memburuk, rasa mengantuk akan berlanjut menjadi stupor (penurunan
kesadaran) dan koma. Stupor dan koma dapat terjadi dalam beberapa saat
jika pernafasan terhenti atau jika pernafasan sangat terganggu; atau setelah
berjam-jam jika pernafasan tidak terlalu terganggu. Ginjal berusaha untuk
mengkompensasi asidosis dengan menahan bikarbonat, namun proses ini
memerlukan waktu beberapa jam bahkan beberapa hari.
Diagnosa
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan pH darah dan
pengukuran karbondioksida dari darah arteri.
Pengobatan
Pengobatan asidosis respiratorik bertujuan untuk meningkatkan fungsi dari
paru-paru. Obat-obatan untuk memperbaiki pernafasan bisa diberikan kepada
penderita penyakit paru-paru seperti asma dan emfisema. Pada penderita
yang mengalami gangguan pernafasan yang berat, mungkin perlu diberikan
pernafasan buatan dengan bantuan ventilator mekanik
b. Asidosis metabolik
Pengertian
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai
dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan
keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar
menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi
lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan
kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon
dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan
tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.
Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus
menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan
berakhir dengan keadaan koma.
Penyebab
Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok
utama adalah:
1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu
asam atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar
bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.
Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen
glikol).Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.
2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui
metabolisme.Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai
suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah
diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh
akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam
yang berlebihan juga ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam
laktat dibentuk dari metabolisme gula.
3. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang
asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang
normalpun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara
normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis,
yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang
mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.
a. Penyebab utama dari asidois metabolik : Gagal ginjal
b. Asidosis tubulus renalis (kelainan bentuk ginjal)
c. Ketoasidosis diabetikum
d. Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)
e. Bahan beracun seperti etilen glikol, overdosis salisilat, metanol,
paraldehid, asetazolamid atau amonium klorida
f. Kehilangan basa (misalnya bikarbonat) melalui saluran pencernaan
karena diare, leostomi atau kolostomi.
Gejala
Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala, namun biasanya
penderita merasakan mual, muntah dan kelelahan. Pernafasan menjadi lebih
dalam atau sedikit lebih cepat, namun kebanyakan penderita tidak
memperhatikan hal ini. Sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita
mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, semakin mual
dan mengalami kebingungan. Bila asidosis semakin memburuk, tekanan
darah dapat turun, menyebabkan syok, koma dan kematian.
Diagnosa
Diagnosis asidosis biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran pH
darah yang diambil dari darah arteri (arteri radialis di pergelangan tangan).
Darah arteri digunakan sebagai contoh karena darah vena tidak akurat untuk
mengukur pH darah. Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan pengukuran
kadar karbon dioksida dan bikarbonat dalam darah. Mungkin diperlukan
pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya.
Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya
menunjukkan suatu diabetes yang tak terkendali. Adanya bahan toksik dalam
darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh
keracunan atau overdosis. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan air kemih
secara mikroskopis dan pengukuran pH air kemih.
Pengobatan
Pengobatan asidosis metabolik tergantung kepada penyebabnya. Sebagai
contoh, diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan
membuang bahan racun tersebut dari dalam darah. Kadang-kadang perlu
dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan yang berat.
Asidosis metabolik juga bisa diobati secara langsung.Bila terjadi asidosis
ringan, yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap
penyebabnya. Bila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara
intravena; tetapi bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan
dapat membahayakan.
c. Alkalosis respiratorik
Pengertian
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa
karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar
karbondioksida dalam darah menjadi rendah.
Penyebab
Pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan
terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah.
Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan.
Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah :
1. Rasa nyeri
2. Sirosis hati
3. Kadar oksigen darah yang rendah
4. Demam
5. Overdosis aspirin
Gejala
Alkalosis respiratorik dapat membuat penderita merasa cemas dan dapat
menyebabkan rasa gatal disekitar bibir dan wajah. Jika keadaannya makin
memburuk, bisa terjadi kejang otot dan penurunan kesadaran.
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pengukuran kadar karbondioksida
dalam darah arteri. pH darah juga sering meningkat.
Pengobatan
Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah
memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan,
memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini.Jika penyebabnya
adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Menghembuskan nafas dalam
kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa membantu meningkatkan kadar
karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang
dihembuskannya.
Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya
selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali
nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian
sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala
hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita
dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik.
d. Alkalosis metabolik
Pengertian
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa
karena tingginya kadar bikarbonat.
Penyebab
Penyebab Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak
asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama
periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot
dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah
sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang
mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda
bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan
natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan
ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
Gejala
Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot
berkedut dan kejang otot; atau tanpa gejala sama sekali. Bila terjadi alkalosis
yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot
yang berkepanjangan (tetani).
Diagnosa
Dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam
keadaan basa.
Pengobatan
Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit
(natrium dan kalium) . Pada kasus yang berat, diberikan amonium klorida
secara intravena.
Pengobatan alkalosis metabolik adalah dengan pemberian ainonium kiorida
dengan dosis dihitung menurut rumus:
Amonium kiorida yang diperlukan (mEq) = (Ki - Ku) x BB x fd
Keterangan:
Ki = konsentrasi bikarbonat natrikus yang diinginkan
Ku = konsentrasi bikarbonat natrikus yang diukur
BB = berat badan dalam kg
Fd = faktor distribusi dalam tubuh, untuk ainonium kiorida adalah 0.2 -0.3

B. MEKANISME ELEKTROLIT
1. DEFINISI
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan
listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Elektrolit terdapat pada seluruh
cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen, nutrien, dan sisa metabolisme
(seperti karbondioksida), yang semuanya disebut ion. Beberpa jenis garam akan
dipecah menjadi elektrolit. Contohnya NaCl akan dipecah menjadi Na + dan Cl.
Pecahan elektrolit tersebut merupakan ion yang dapat mengahantarkan arus litrik.
Elektrolit adalah substansi ion-ion yang bermuatan listrik yang terdapat pada cairan.
Satuan pengukuran elektrolit menggunakan istilah milliequivalent (mEq). Satu
milliequivalent adalah aktivitass secara kimia dari 1 mg dari hidrogen.

2. KESEIMBANGAN ELEKTROLIT
Ada 2 elektrolit yang sangat berpengaruh terhadap konsentrasi cairan intasel dan
ekstrasel yaitu natrium dan kalium.
a. Keseimbangan Natrium/sodium (Na+)
Natrium merupakan kation paling banyak pada cairan ekstrasel serta sangat
berperan dalam keseimbangan air, hantaran impuls saraf dan kontraksi otot. Ion
natrium didapat dari saluran pencernaan, makanan atau minuman kemudian
masuk ke dalam cairan ekstrasel melalui proses difusi. Pengeluaran ion natrium
melalui ginjal, pernapasan, saluran pencernaan dan kulit. Pengaturan
konsentrasi ion natrium dilakukan oleh ginjal, jika konsentrasi natrium serum
menurun maka ginjal akan mengeluarkan cairan sehingga konsentrasi natrium
akan meningkat. Sebaliknya jika terjadi peningkatan konsentrasi natrium serum
maka akan merangsang pelepasan ADH sehingga ginjal akan menahan air.
Jumlah normal 135-148 mEq/Lt
b. Keseimbangan kalium/potassium (K+)
Kalium adalah kation yang paling banyak pada intraseluler. Ion kalium 98%
berada pada cairan intasel, hanya 2% berada pada cairan ekstrasel. Kalium
dapat diperoleh melalaui makanan seperti daging, buah-buahan dan sayuran.
Jumlah normal 3,5-5,5 mEq/Lt.
c. Keseimbangan Kalsium (Ca2+)
Kalsium merupakan ion yang paling banyak dalam tubuh, terutama berikatan
dengan fosfor membentuk mineral untuk pembentukan tulang dan gigi.
Diperoleh dari reabsorpsi usus dan reabsorpsi tulang. Dikeluarkan melalui ginjal,
sedikit melalui keringat dan disimpan dalam tulang. Pengaturan konsentrasi
kalsium dilakukan hormon kalsitonin yang dihasilkan oleh kelnjar tiroid dan
hormon paratiroid. Jika kadar kalsium rendah maka hormon paratiroid
dilepaskan sehingga terjadi peningkatan reabsorpsi kalsium pada tulang dan jika
terjadi peningkatan kadar kalsium maka hormon kalsitonin dilepaskan untuk
menghambat reabsorpsi tulang. Jumlah normal 4-5mEq/Lt.
d. Keseimbangan Magnesium (Mg2+)
Magnesium biasanya ditemukan pada cairan intrasel dan tulang, berperan
dalam metabolisme sel, sintesis DNA, regulasi neuromuscular dan fungsi
jantung. Sumbernya didapat dari makanan seperti sayuran hijau, daging dan
ikan. Magnesium Diabsorpsi dari usus halus, peningkatan absorpsi dipengaruhi
oleh vitamin D dan hormon paratiroid.
e. Keseimbangan Fosfor (PO4)
Fosfor merupakan anion utama cairan intasel, ditemukan juga di cairan
ekstrasel, tulang, otot rangka dan jaringan saraf. Fosfor sangat berperan dalam
berbagai fungsi kimia, terutama fungsi otot, sel darah merah, metabolisme
protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan tulang dan gigi, regulasi asam
basa, regulassi kadar kalsium. Di reabsorpsi dari usus halus dan banyak
ditemukan dari makanan daging, ikan dan susu. Disekresi dan reabsorpsi
melalui ginjal. Pengaturan konsentrasi fosfor oleh hormon paratiroid dan
berhubungan dengan kadar kalsium. Jika kadar kalsium meningkat akan
menurunkan kadar fosfat demikian sebaliknya. Jumlah normal sekitar 2,5-4,5
mEq/Lt.
f. Keseimbangan Klorida (Cl)
Klorida merupakan anion utama pada cairan ekstrasel. Klorida berperan dalam
pengaturan osmolaritas serum dan volume darah bersama natrium, regulasi
asam basa, berperan dalam buffer pertukaran oksigen dan karbondioksida
dalam sel darah merah. Disekresi dan direabsorpsi bersama natrium diginjal.
Pengaturan klorida oleh hormon aldosteron. Kadar klorida yang normal dalam
darah orang dewasa adalah 95-108mEq/Lt.
g. Keseimbangan Bikarbonat
Bikarbonat berada di dalam cairan intrasel maupun di dalam ekstrasel dengan
fungsi utama yaitu regulasi keseimbangan asam basa. Disekresi dan
direabsorpsi oleh ginjal. Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam
karbonat dan suasana garam untuk menurunkan PH. Nilai normal sekitar 25-
29mEq/Lt
.
3. GANGGUAN KEBUTUHAN ELEKTROLIT
a. Hiponatremi
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam
plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang
dari 135 mEq/Lt, mual, muntah dan diare.
b. Hipermatremia
Hipernatremia merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma
tinggi yang ditandai dengan addanya mukosa kering, oliguria/anuria, turgor kulit
buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan
kemerahan, konvulsi, suhu badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih
dari 145 mEq/Lt. kondisi demikian dapat disebabkan oleh dehidrasi, diare, dan
asupan, air yang berlebihan sedangkan asupan garamnya sedikit.
c. Hipokalemia
Hipoklemia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah.
Hipokalemia ini dapat terjadi dengan sangat cepat. Sering terjadi pada pasien
yang mengalami diare yang berkepanjangan dan juga ditandai dengan
lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-
muntah, perut kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantung tidak
beraturan (aritmia), penurunan bising usus, kadar kalium plasma menurun
kurang dari 3,5 mEq/L.
d. Hiperkalemia
Hiperkalemia merupakan suatu keadaan di mana kadar kalium dalam darah
tinggi, sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik,
pembe:rian kalium yang berlebihan melalui intravena yang ditandai dengan
adanya mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, kelemahan, jumlah
urine sedikit sekali, diare, adanya kecemasan dan irritable (peka rangsang),
serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
e. Hipokalsemia
Hipokalsemia me:rupakan keekurangan kadar kalsium dalam plasma darah
yang ditandai de:ngan adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar
kalsium dalam plasma kurang dari 4,3 mEq/L dan kesemutan pada jari dan
sekitar mulut yang dapat disebabkan oleh pengaruh pengangkatan kelenjar
gondok atau kehilangan sejumlah kalsium karena sekresi intestinal.
f. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia merupakan suatu ke;adaan kelebihan kadar kalsium dalam darah
yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan kelenjar gondok
dan makan vitamin D secara berlebihan, ditandai dengan adanya nyeri pada
tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma, dan kadar kalsium dalam
plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
g. Hipomagnesia
Hipomagnesia merupakan kekurangan kadar magnesium dalam darah yang
ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi,
hipertensi, disorientasi dan konvulsi. Kadar magnesium dalam darah kurang dari
1,3 mEq/L.
h. Hipermagnesia
Hipermagnesia merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah
yang ditandai dengan adanya, koma, gangguan pernapasan, dan kadar
magnesium lebih dari 2,5 mEq/L.

C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat keperawatan
Faktor resiko terjadinya ketidakseimbangan
Usia
Penyakit kronik : kanker, gagal jantung kongestif, DM, cushing sindrom,
malnutrisi, gagal ginjal progresif, penyakit paru obstruksi menahun
Trauma : cedera akibat kecelakaan, cedera kepala, luka bakar
Terapi : diuretic, steroid, terapi intravena, nutrisi parenteral total
Kehilangan melalui saluran gastrointestinal : gastroenteritis, pengisapan
nasogastrik, fistula
Penghitungan intake (asupan) dan output (haluaran)
Asupan oral meliputi semua cairan yang dikonsumsi melalui mulut,
selang nasogastrik atau jejunostomi, likuid yang diberikan melalui cairan
intravena, dan darah atau komponen-komponen darah.
Haluaran cairan meliputi urine, feces, muntah, pengisapan gaster,
drainase dari selang pasca bedah.
Pengukuran umumnya dilakukan secara rutin pada klien : pasca
pembedahan, kondisi yang tidak stabil, demam, asupan cairan yang
dibatasi, klien yang menerima terapi diuretic atau intravena, klien dengan
kardiopulmonar kronik atau penyakit ginjal, dan status kesehatannya
menurun.
Rumus Menentukan keseimbangan cairan tubuh :
Keseimbangan cairan tubuh = asupan haluaran
b. Pemeriksaan fisik
Pengkajian fisik meliputi sistem yang berhubungan dengan masalah cairan dan
elektrolit, seperti sistem integumen (status turgor kulit dan edema), sistem
kardiovaskular (adanya distensi vena jugularis, tekanan darah, dan bunyi
jantung), sistem neurologi (gangguan sensorik/motorik, status kesadaran, dan
adanya refleks), dan gastrointestinal (keadaan mukosa mulut, lidah, dan bising
usus) (Head to too)
c. Pemeriksaan laboratorium
1. Kadar elektrlolit serum diukur untuk menentukan status hidrasi, konsentrasi
elektrolit pada plasma darah, dan keseimbangan asam basa. Elektrolit yang
sering diukur natrium, kalium, klorida, dan bikarbonat.
2. Hitung darah lengkap adalah suatu penetapan jumlah dan tipe sel darah
putih dan sel darah merah per millimeter kubik darah.
3. Kadar kreatinin darah bermanfaat untuk mengukur fungsi ginjal
4. Pemeriksaan berat jenis urine mengukur derajat konsentrasi urine
5. Pemeriksaan gas darah arteri memberikan informasi tentang status
keseimbangan asam-basa dan tentang keefktifa fungsi ventilasi dalam
mengakomodasi pertukaran oksigen-karbon dioksida secara normal.
6. pH untuk mengukur konsentrasi ion hydrogen
7. PaCO2 mengukur tekanan parsial karbondioksida dalam darah arteri
8. Bikarbonat serum adalah komponen lain dari gas darah arteri.
9.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan plasma yang
berkaitan dengan luka bakar, muntah, kegagalan mekanisme pengaturan
b. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan mekanisme regulator
akibat kelainan ginjal
c. Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan dengan edema
d. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan disritmia yang berkaitan
dengan ketidakseimbangan elektrolit
3. INTERVENSI
N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
o keperawatan
1 kekurangan NOC : keseimbangan NIC : Manajemen cairan
volume cairan cairan, 1. Ukur intake dan output
berhubungan Setelah dilakukan cairan serta timbang
dengan tindakan keperawatan berat badan setiap hari.
2. Pasang kateter urin, jika
kehilangan selama 3 x 24 jam, di
ada.
plasma yang harapkan volume cairan
3. Monitor status hidrasi
berkaitan kembali normal dengan
(misalnya kelembaban
dengan luka kriteria hasil:
membran mukosa, nadi,
bakar, 1. Tekanan darah, nadi,
dan tekanan darah
muntah, suhu dalam batas
ortostatik).
kegagalan normal 4. Monitor hasil
2. Nadi perifer dapat
mekanisme laboratorium yang
teraba
pengaturan berhubungan dengan
3. Keseimbangan intake
retensi cairan
dan output selama 24
5. Monitor TTV
jam 6. Pasang IV line, sesuai
4. Tidak terdapat rasa
dengan yang diresepkan.
haus yang abnormal 7. Kolaborasi dengan tim
5. Elektrolit serum dan
medis lain dalam
hematokrit
pemberian terapi