Anda di halaman 1dari 23

Tugas Kelompok Analisis Kebijakan Pelayanan Kesehatan

Fasilitator : DR. Elly L. Sjattar, S.Kp, M.Kes

KEBIJAKAN SISTEM KESEHATAN INDONESIA TERKAIT


JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

Disusun oleh:

1. Herni Sulastien (P4200216002)


2. Elifa Ihda R (P4200216404)
3. Satmayani (P4200216044)
4. Andi Satriana (P4200216045)
5. Nour Sriyana (P4200216411)
6. Wirda (P4200216412)
7. Wa Ode Indrawaty (P4200216056)

PROGRAM PASCA SARJANA


PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 1946 keadaan sehat


adalah suatu keadaan sejahtera di tinjau dari aspek fisik, mental dan sosial, bukan
hanya terbebas dari sakit atau cacat. Definisi tersebut menjadi dasar bahwa setiap
individu berhak untuk mendapatkan akses dan pelayanan kesehatan. Hal ini di
perkuat kembali dengan salah satu yang tertuang dalam The Universal
Declaration of Human Right (UNO) dan The International Covenantof
Economic, Social and Cultural Right (ICESCR). (Ayuningtyas D, 2015)
Pada tahun 1978 Kesehatan bagi semua secara tegas di nyatakan oleh
sejumlah besar bangsa yang tergabung dalam WHO di Alma Ata yang di kenal
dengan Deklarasi Alma Ata. Dalam deklarasi tersebut juga menetapkan pelayanan
kesehatan primer sebagai sebuah starategi kesehatan internasional. Kesehatan
merupakan hal penting yang menjadi hak setiap individu dan menjadi kewajiban
negara untuk menjamin agar setiap warga negaranya mau dan mampu untuk hidup
sehat dan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Kesehatan juga merupakan bagian
dari indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan indicator penentu
tingkat kesejahteraan masyarakat (Ayuningtyas D, 2015).
Untuk mewujudkan hal tersebut di butuhkan regulasi dari pemerintah
berupa aturan aturan yang dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat
terkhusus di bidang kesehatan, aturan aturan tersebut dituangkan dalam bentuk
kebijakan kesehatan. Kebijakan adalah sejumlah keputusan yang di buat oleh
orang orang yang bertanggung jawab dalam bidangnya masing masing.
Kebijakan kesehatan di defenisikan sebagai suatu cara atau tindakan yang
dilakukan yang dapat berpengaruh terhadap perangkat institusi, organisasi,
pelayanan kesehatan, dan pengaturan keuangan dari system kesehatan (Walt G,
Mays N, Buse K, Buse K, 1994) yang bertujuan untuk merancang program-
program di tingkat pusat dan daerah, agar dapat di lakukan perubahan terhadap
determinan determinan kesehatan termasuk kebijakan kesehatan internasional,
selain itu kebijakan kesehatan dapat menyediakan pola pencegahan, pelayanan
yang berfokus pada pemeliharaan kesehatan, pengobatan penyakit, dan
perlindungan terhadap kaum rentan (Gormley, 1999). Kebijakan kesehatan ini

2
merupakan transformasi dari kebijakan publik ketika pedoman yang di tetapkan
bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Ayuningtyas D,
2015).
Kebijakan kesehatan di buat oleh pemerintah dan swasta. dan kebijakan ini
merupakan produk pemerintah walaupun pelayanan kesehatan sebagian besar di
lakukan oleh swasta, di kontrakkan atau melalui suatu kerja sama. Kebijakannya
di siapkan oleh pemerintah di mana keputusannya mempertimbangkan aspek
politik (Buse, May dan Walt, 2005).
Pengembangan kebijakan top-down di mana Departemen Kesehatan
memiliki kewenangan dalam mempersiapkan kebijakan. Implementasi dan
strateginya adalah botton-up. Kebijakan seharusnya di kembangkan dengan
peran serta orang orang yang terlibat dalam kebijakan tersebut. Halini bertujuan
agar kebijakan realistis dan sasaran dapat tercapai (Fafard, 2008).
Di Asia Tenggara, hampir seluruh negara membebankan biaya kesehatan
yang cukup besar kepada masyarakat. Walaupun Indonesia, Malaysia, dan
Thailand pembiayaan penyelenggaraan kesehatan melalui pendapatan pajak. Di
Indonesia sendiri tertuang dalam Rencana Strategi kementrian Kesehatan (Renstra
Kemenkes) tahun 2010-2014 di sebutkan bahwa pembangunan kesehatan di
Indonesia yang di laksanakan secara berkesinambungan telah cukup berhasil
meningkatkan derajat kesehatan, namun demikian derajat kesehatan tersebut
masih terhitung rendah apabila di bandingkan dengan negara-negara tetangga.
Dalam Kemenkes 2010 yang di kutip dari Adisasmito. W tahun 2010 memasuki
millennium ke tiga Indonesia menghadapi berbagai perubahan dan tantangan
strategis yang mendasar baik internal maupun eksternal yang perlu di
pertimbangkan dalam melaksanakan pembangunan nasional termasuk
pembangunan kesehatan.
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional merupakan kebijakan baru di bidang jaminan sosial di Indonesia yang
bertujuan untuk menggantikan program-program jaminan sosial yang ada
sebelumnya seperti ASKES, JAMSOSTEK, TASPEN, DAN ASABRI dan
mencakup seluruh penduduk. Sebagai program baru tentu saja diperlukan analisis
yang baik agar pada tataran impelementasinya tujuan yang diharapkan dapat
tercapai secara optimal yang pada gilirannya akan meningkatnya kesejahteraan

3
penduduk termasuk di bidang kesehatan melalu Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN).

BAB II
MANAJEMEN KEBIJAKAN dan METODE PENYELENGGARAAN

4
JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

Menurut Peraturan Presiden RI No. 19 Tahun 2016, Kebijakan Penjaminan


Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah
membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah (Peraturan Presiden NO.
19, 2016).

Kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di


Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang
diselenggarakan melalui mekanisme asuransi sosial yang bertujuan agar seluruh
penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi sehingga mereka dapat
memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Perlindungan ini diberikan kepada setiap
orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. (PMK
RI No. 28 Tahun 2014, n.d.)

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang


dibentuk dengan Undang-Undang untuk menyelenggarakan program jaminan
sosial. (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 1 angka 6 UU) BPJS menyelenggarakan
sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas: (UU RI No. 24 Tahun 2011, n.d.)

a. Kemanusiaan, yaitu asas yang terkait dengan penghargaan terhadap martabat


manusia
b. Manfaat, asas yang bersifat operasional menggambarkan pengelolaan yang
efisien dan efektif.
c. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, asas yang bersifat adil.

Dalam pembahasan terkait Penyelenggaraan Jaminan Nasional (JKN)


buku acuan atau pedoman dalam penyusunan makalah ini adalah berdasarkan
Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem
Jaminan Sosial Nasional. Yang meliputi beberapa pokok bahasan, diantaranya
adalah (Kemenkes, 2013):
I. KEPESERTAAN
Beberapa pengertian:

5
a. Peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling
singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar Iuran.
b. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah, atau
imbalan dalam bentuk lain.
c. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau
badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja, atau penyelenggara
negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah,
atau imbalan dalam bentuk lainnya.
Peserta tersebut meliputi: Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan
bukan PBI JKN dengan rincian sebagai berikut:
a. Peserta PBI Jaminan Kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir
miskin dan orang tidak mampu.
b. Peserta bukan PBI adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan
orang tidak mampu yang terdiri atas:
1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya, yaitu:
a) Pegawai Negeri Sipil
b) Anggota TNI
c) Anggota Polri
d) Pejabat Negara
e) Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri
f) Pegawai Swasta
g) Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf f yang
menerima Upah.
2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya, yaitu:
a) Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri
b) Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah
c) Pekerja sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b, termasuk
warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat 6
(enam) bulan.
3) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya terdiri atas:
a) Investor
b) Pemberi Kerja
c) Penerima Pensiun
d) Veteran
e) Perintis Kemerdekaan
f) Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan huruf e
yang mampu membayar Iuran.
4) Penerima pensiun terdiri atas:
a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun
b) Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun
c) Pejabat Negara yang berhenti dengan hak pensiun

6
d) Penerima Pensiun selain huruf a, huruf b, dan huruf c
e) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun
sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang
mendapat hak pensiun.
Anggota keluarga bagi pekerja penerima upah meliputi:
a. Istri atau suami yang sah dari Peserta
b. Anak kandung, anak tiri dan/atau anak angkat yang sah dari
Peserta, dengan kriteria:
1. Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai
penghasilan sendiri
2. Belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun atau belum berusia 25
(duapuluh lima) tahun yang masih melanjutkan pendidikan
formal.
Sedangkan Peserta bukan PBI JKN dapat juga
mengikutsertakan anggota keluarga yang lain.

5) WNI di Luar Negeri


Jaminan kesehatan bagi pekerja WNI yang bekerja di luar
negeri diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
tersendiri.
6) Syarat pendaftaran
Syarat pendaftaran akan diatur kemudian dalam peraturan BPJS.
7) Lokasi pendaftaran
Pendaftaran Peserta dilakukan di kantor BPJS terdekat/setempat.
8) Prosedur pendaftaran Peserta
a. Pemerintah mendaftarkan PBI JKN sebagai Peserta kepada BPJS
Kesehatan
b. Pemberi Kerja mendaftarkan pekerjanya atau pekerja dapat
mendaftarkan diri sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan
c. Bukan pekerja dan peserta lainnya wajib mendaftarkan diri dan
keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS Kesehatan.
9) Hak dan kewajiban Peserta
a. Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak
mendapatkan
a) Identitas peserta
b) Manfaat pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan yang
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan

7
b. Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan
berkewajiban untuk:
a) Membayar iuran
b) Melaporkan data kepesertaannya kepada bpjs kesehatan dengan
menunjukkan identitas peserta pada saat pindah domisili dan
atau pindah kerja
10) Masa berlaku kepesertaan
a. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama yang
bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta.
b. Status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran
atau meninggal dunia.
c. Ketentuan lebih lanjut terhadap hal tersebut diatas, akan diatur oleh
Peraturan BPJS.
11) Pentahapan kepesertaan
Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara
bertahap, yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014, kepesertaannya
paling sedikit meliputi: PBI Jaminan Kesehatan; Anggota TNI/PNS di
lingkungan Kementerian Pertahanan dan anggota keluarganya;
Anggota Polri/PNS di lingkungan Polri dan anggota keluarganya;
peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) beserta anggota
keluarganya, serta peserta jaminan pemeliharaan kesehatan Jamsostek
dan anggota keluarganya. Selanjutnya tahap kedua meliputi seluruh
penduduk yang belum masuk sebagai Peserta BPJS Kesehatan paling
lambat pada tanggal 1 Januari 2019.

II. PEMBIAYAAN
1. Iuran Iuran
Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur
oleh Peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk program Jaminan
Kesehatan (pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan).
2. Pembayar Iuran
a. Bagi peserta PBI, iuran dibayar oleh Pemerintah
b. Bagi peserta Pekerja Penerima Upah, Iurannya dibayar oleh Pemberi
Kerja dan Pekerja
c. Bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja
iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan

8
d. Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui
Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan
perkembangan sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar hidup yang layak.

(Peraturan Presiden NO. 19, 2016)

3. Pembayaran Iuran
Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan
berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu
jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).
Setiap Pemberi Kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya,
menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya, dan
membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara
berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). Apabila tanggal 10
(sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja
berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda
administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang
tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja. Peserta Pekerja Bukan
Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja wajib membayar iuran JKN
pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10 (sepuluh)

9
setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran JKN dapat
dilakukan diawal.
BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN
sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Dalam hal terjadi kelebihan atau
kekurangan pembayaran iuran, BPJS Kesehatan memberitahukan secara
tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat
belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan
pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan
berikutnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran iuran
diatur dengan Peraturan BPJS Kesehatan.
Namun, Pada Tahun 2016 yang lalu terdapat beberapa perubahan
kebijakan pemerintah melalui Perpres No 19 Tahun 2016 terkait Jaminan
BPJS Kesehatan antara lain sebagai berikut :

a. Kenaikan tarif iuran BPJS yang berlaku


efektif per April 2016 ;
b. Perubahan sistem pembayaran bagi peserta BPJS untuk kategori
Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP)
atau Peserta Mandiri (Perorangan) dengan sistem Virtual Account
(VA) ;
c. Batas keterlambatan Pembayaran iuran maksimal 1 bulan (batas
waktu pembayaran BPJS terhitung sejak tanggal 10 setiap
bulannya), apabila lewat maka status penjaminan dihentikan
sementara waktu, dan denda keterlambatan naik menjadi 2,5%
(sebelumnya 2%). Jumlah tertunggak maksimum 12 bulan atau
paling tinggi maksimal Rp. 30.000.000,-

4. Cara Pembayaran
Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan akan membayar kepada
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi. Untuk Fasilitas
Kesehatan rujukan tingkat lanjutan, BPJS Kesehatan membayar dengan
sistem paket INA CBGs. Mengingat kondisi geografis Indonesia, tidak
semua Fasilitas Kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. Maka, jika di

10
suatu daerah tidak memungkinkan pembayaran berdasarkan Kapitasi,
BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan
mekanisme lain yang lebih berhasil guna.
Semua Fasilitas Kesehatan meskipun tidak menjalin kerja sama
dengan BPJS Kesehatan wajib melayani pasien dalam keadaan gawat
darurat, setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dapat
dipindahkan, maka fasilitas kesehatan tersebut wajib merujuk ke fasilitas
kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan
akan membayar kepada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerjasama
setelah memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang
berlaku di wilayah tersebut.
Terhitung sejak Tanggal 1 September 2016, Peserta BPJS
Kesehatan kategori PBPU dan PB, bisa melakukan pembayaran iuran
BPJS Kesehatan untuk seluruh anggota keluarganya yang terdaftar dalam
Kartu Keluarga melalui satu kartu virtual account ini secara kolektif.
Transaksi melalui virtual account ini sangat fleksibel, hemat waktu
dan biaya, jika melalui transfer bank yang bekerjasama dengan BPJS
(Bank Mandiri, BNI, BRI, & BTN) tidak akan dikenakan biaya
administrasi.

Apabila pembayaran Anda lakukan di tempat lainnya yang telah


bekerjasama dengan BPJS seperti Indomaret, Alfamart, Kantor Pos &
JNE, atau Pegadaian, akan sangat menghemat biaya karena jika
sebelumnya Anda membayar biaya transaksi per masing-masing peserta
anggota keluarga, namun dengan virtual account pembayaran bisa Anda
lakukan secara kolektif dan hanya satu kali transaksi saja (Rp. 2.500,- per
transaksi). Atau saat ini yang lebis praktis Anda bisa melakukan
pembayaran BPJS secara online melalui situs tokopedia.com.
(Ferry, 2017)

11
5. Pertanggungjawaban BPJS
Kesehatan BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan
atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima
belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Besaran pembayaran
kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara
BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut
dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran,
Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN
yang diberikan. Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan.
Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa
manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya: Peserta
yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya,
dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan
tambahan, atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh
BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas
perawatan, yang disebut dengan iur biaya (additional charge). Ketentuan
tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya,
BPJS Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk
laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1
Januari sampai dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh
akuntan publik dikirimkan kepada Presiden dengan tembusan kepada
DJSN paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya. Laporan tersebut
dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif melalui media massa
elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang
memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal 31 Juli
tahun berikutnya.

12
III. PELAYANAN
1. Jenis Pelayanan
Ada 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh Peserta JKN,
yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta akomodasi dan
ambulans (manfaat non medis). Ambulans hanya diberikan untuk pasien
rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan
oleh BPJS Kesehatan.

2. Prosedur Pelayanan
Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus
memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama. Bila Peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan,
maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh Fasilitas Kesehatan
tingkat pertama, kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis.
3. Kompensasi Pelayanan
Bila di suatu daerah belum tersedia Fasilitas Kesehatan yang
memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah Peserta,
BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi, yang dapat berupa:
penggantian uang tunai, pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan
Fasilitas Kesehatan tertentu. Penggantian uang tunai hanya digunakan
untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi.

4. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan


Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas
Kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan baik fasilitas
kesehatan milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan swasta yang
memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing.

13
IV. MANFAAT JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu
manfaat medis berupa pelayanan kesehatan dan manfaat non medis meliputi
akomodasi dan ambulans. Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan
dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS
Kesehatan.
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional mencakup pelayanan promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis
habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis.
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan:
a. Penyuluhan kesehatan perorangan, meliputi paling sedikit penyuluhan
mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih
dan sehat.
b. Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis
Tetanus dan HepatitisB (DPTHB), Polio, dan Campak.
c. Keluarga berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi,
dan tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga
berencana. Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar
disediakan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.

14
d. Skrining kesehatan, diberikan secara selektif yang ditujukan untuk
mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko
penyakit tertentu.
Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif,
masih ada manfaat yang tidak dijamin meliputi:
a. Tidak sesuai prosedur
b. Pelayanan di luar Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS;
c. Pelayanan bertujuan kosmetik
d. General checkup, pengobatan alternatif
e. Pengobatan untuk mendapatkan keturunan, pengobatan impotensi;
f. Pelayanan kesehatan pada saat bencana
g. Pasien Bunuh Diri /Penyakit yang timbul akibat kesengajaan untuk
menyiksa diri sendiri/ Bunuh Diri/Narkoba.
V. PENANGANAN KELUHAN
1. Pengertian
Keluhan adalah ungkapan ketidakpuasan peserta terhadap
pelayanan yang telah diberikan dalam hal ini penyelenggaraan Jaminan
Kesehatan Nasional. Penanganan keluhan adalah upaya atau proses untuk
mengetahui suatu permasalahan dengan jelas, menilai, dan menyelesaikan
permasalahan tersebut.
2. Prinsip Penanganan Keluhan
a. Obyektif: penanganan keluhan masyarakat harus berdasarkan fakta
atau bukti yang dapat dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang
ditetapkan.
b. Responsif (cepat dan akurat): setiap pengaduan dan permasalahan
perlu ditangani/ditanggapi secara cepat dan tepat. Untuk itu
penanganan dan penyelesaian pengaduan diselesaikan pada tingkat
yang terdekat dengan lokasi timbulnya masalah.
c. Koordinatif: penanganan keluhan masyarakat harus dilaksanakan
dengan kerja sama yang baik di antara pejabat yang berwenang dan
terkait, berdasarkan mekanisme, tata kerja, dan prosedur yang berlaku,
sehingga permasalahan dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
d. Efektif dan efisien: penanganan keluhan masyarakat harus
dilaksanakan secara tepat sasaran, hemat tenaga, waktu, dan biaya.
e. Akuntabel: proses penanganan keluhan masyarakat dan tindak
lanjutnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat

15
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan prosedur
yang berlaku.
f. Transparan: penanganan keluhan masyarakat dilakukan berdasarkan
mekanisme dan prosedur yang jelas dan terbuka, sehingga masyarakat
yang berkepentingan dapat mengetahui perkembangan tindak
lanjutnya.

3. Mekanisme Penanganan Keluhan


Penanganan keluhan merupakan salah satu komponen untuk
menyelesaikan masalah pelayanan kesehatan, baik yang bersifat
administratif maupun bersifat medis. Permasalahan bisa terjadi antara
Peserta dan Fasilitas Kesehatan; antara Peserta dan BPJS Kesehatan;
antara BPJS Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan; atau antara BPJS
Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan.
Mekanisme yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan
ketidakpuasan para pihak tersebut adalah:
1) Jika Peserta tidak puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh
fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, Peserta
dapat mengajukan pengaduan kepada Fasilitas Kesehatan yang
bekerja sama dengan BPJS dan atau BPJS Kesehatan.
2) Jika Peserta dan/atau fasilitas kesehatan tidak mendapatkan pelayanan
yang baik dari BPJS Kesehatan maka dapat menyampaikan pengaduan
kepada Menteri Kesehatan.
Jika terjadi sengketa antara Peserta dengan fasilitas kesehatan,
Peserta dengan BPJS kesehatan, BPS Kesehatan dengan Fasilitas
Kesehatan atau BPJS Kesehatan dengan asosiasi Fasilitas Kesehatan maka
sebaiknya diselesaikan secara musyawarah oleh para pihak yang
bersengketa. Jika tidak dapat diselesaikan secara musyawarah sengketa
diselesaikan dengan cara mediasi atau pengadilan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

16
BAB III
ANALISIS IMPLEMENTASI PENYELENGGARAAN JAMINAN
KESEHATAN NASIONAL

Setelah kebijakan JKN telah dirumuskan, tahapan yang perlu dianalisis


berikutnya adalah implementasi JKN itu sendiri. Secara umum, implementasi
kebijakan merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan
melakukan suatu aktifitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan

17
mendapatkan Suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu
sendiri (Agustino, 2012). Sementara menurut (Nugroho, 2012) menjelaskan
bahwa implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan
dapat mencapai tujuannya.
Dalam pelaksanaan imlementasi tersebut, terkadang terdapat kendala atau
dampak yang mungkin muncul misalnya pendataan yang dilakuan pemerintah
dengan menggunakan data terpusat memungkinkan terjadinya kesalahan
terjadinya mis-database yaitu terjadinya kesalahan pendataan seperti warga yang
tidak terdaftar. Selain itu, terdapat banyak warga yang ikut terdaftar misalnya
pemegang kartu JAMKESMAS meskipun tidak tergolong warga miskin
(Purwanto & Sulistyastuti, 2012).
Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah memberikan kesempatan
bagi warga miskin yang belum didata untuk mendaftarkan diri menjadi peserta.
Warga yang belum terdata dapat mengajukan permohonan melalui RT/RW,
selanjutnya ketingkat kelurahan, sampai kecamatan dan terakhhir ke Dinas Sosial
setempat. Sehingga diharapkan semua warga miskin dapat mendapatkan
pelayanan kesehatan yang memadai. Pemerintah juga seharusnya melakukan
survey secara langsung untuk mengantisipasi kesalahan pendataan bagi warga
yang tidak masuk kategori miskin (Purwanto & Sulistyastuti, 2012).
Lebih lanjut lagi dijelaskan lebih detail oleh (Nugroho, 2012) bahwa:
1. Komunikasi berkenaan dengan bagaimana kebijakan dikomunikasikan pada
organisasi dan/ atau publik dan sikap serta tanggapan dari para pihak yang
terlibat.
2. Resources berkenaan dengan ketersediaan sumber daya pendukung,
khususnya sumber daya manusia. Hal ini berkenaan dengan kecakapan
pelaksana kebijakan publik untuk carry out kebijakan secara efektif.
3. Disposition berkenaan dengan kesediaan dari para implementor untuk carry
out kebijakan publik tersebut. Kecakapan saja tidak mencukupi, tanpa
kesediaan dan komitmen untuk melaksanakan kebijakan.
4. Struktur Birokrasi berkenaan dengan kesesuaian organisasi birokrasi yang
menjadi penyelenggara implementasi.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Kesmawan, 2015) menyatakan
bahwa Implementasi kebijakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

18
Kesehatan dibangun oleh dimensi komunikasi, sumber daya, disposisi dan
struktur birokrasi.
Dalam penyelenggaraan kesehatan di masyarakat, diperlukan upaya
peningkatan pembangunan di bidang kesehatan. Dalam hal ini pemerintah
mempunyai fungsi dan tanggung jawab agar tujuan pemerintah di bidang
kesehatan dapat mencapai hasil yang optimal melalui penempatan tenaga, sarana,
dan prasarana baik dalam hitungan jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas)
sesuai dengan yang tertulis dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan yang berbunyi Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya
kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat (Purwoko, 2012).
Dalam menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional ini pemerintah
menemui berbagai halangan, beberapa halangan-halangan yang dihadapi dalam
menjalankan program Jaminan Kesehatan Nasional tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang kurang mencukupi dan
persebarannya kurang merata khususnya bagi Daerah Terpencil Perbatasan
dan Kepulauan (DTPK) dengan tingkat utilisasi yang rendah akibat
kondisi geografis dan tidak memadainya fasilitas kesehatan pada daerah
tersebut.
2. Jumlah tenaga kesehatan yang ada masih kurang dari jumlah yang
dibutuhkan.
3. Untuk pekerja sektor informal nantinya akan mengalami kesulitan dalam
penarikan iurannya setiap bulan karena pada sektor tersebut belum ada
badan atau lembaga yang menaungi sehingga akan menyulitkan dalam
penarikan iuran di sektor tersebut.
4. Permasalahan akan timbul pada penerima PBI karena data banyak yang
tidak sesuai antara pemerintah pusat dan daerah sehingga data penduduk
tidak mampu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
5. Sosialisasi yang belum optimal
6. Masih adanya peserta yang tidak menggunakan kartu ketika berobat
7. Masih ada peserta JKN yang mengeluarkan biaya
8. Masih rendahnya mutu pelayanan.
Saat ini masalah banyak yang muncul dari implementasi BPJS
(Gunawan, 2014) yaitu :
1. Sistem pelayanan kesehatan (Health Care Delivery System)

19
a. Penolakan pasien tidak mampu di fasilitas pelayanan kesehatan hal ini
dikarenakan PP No. 101/2012 tentang PBI jo. Perpres 111/2013 tentang
Jaminan kesehatan hanya mengakomodasi 86,4 juta rakyat miskin
sebagai PBI padahal menurut BPS (2011) orang miskin ada 96,7 juta.
Pelaksanaan BPJS tahun 2014 didukung pendanaan dari pemerintah
sebesar Rp. 26 trliun yang dianggarkan di RAPBN 2014. Anggaran
tersebut dipergunakan untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebesar Rp.
16.07 trliun bagi 86,4 juta masyarakat miskin sedangkan sisanya bagi
PNS, TNI dan Polri. Pemerintah harus secepatnya menganggarkan
biaya kesehatan Rp. 400 milyar untuk gelandangan, anak jalanan,
penghuni panti asuhan, panti jompo dan penghuni lapas (jumlahnya
sekitar 1,7 juta orang). Dan tentunya jumlah orang miskin yang
discover BPJS kesehatan harus dinaikkan menjadi 96,7 juta dengan
konsekuensi menambah anggaran dari APBN.
b. Pelaksanaan di lapangan, pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
oleh PPK I (Puskesmas klinik) maupun PPK II (Rumah Sakit) sampai
saat ini masih bermasalah. Pasien harus mencari-cari kamar dari satu
RS ke RS lainnya karena dibilang penuh oleh RS, bukanlah hal yang
baru dan baru sekali terjadi.
2. Sistem pembayaran (Health Care Payment System)
a. Belum tercukupinya dana yang ditetapkan BPJS dengan real cost,
terkait dengan pembiayaan dengan skema INA CBGs dan Kapitasi yang
dikebiri oleh Permenkes No. 69/2013. Dikeluarkannya SE No. 31 dan
32 tahun 2014 oleh Menteri Kesehatan untuk memperkuat Permenkes
No.69 ternyata belum bisa mengurangi masalah di lapangan.
b. Kejelasan area pengawasan masih lemah baik dari segi internal maupun
eksternal. Pengawasan internal seperti melalui peningkatan jumlah
peserta dari 20 juta (dulu dikelola PT Askes) hingga lebih dari 111 juta
peserta, perlu diantisipasi dengan perubahan system dan pola
pengawasan agar tidak terjadi korupsi. Pengawasan eksternal, melalui
pengawasan Otoritas jasa Keuangan (OJK), Dewan Jaminan Sosial
Nasional (DJSN) dan Badan Pengawas Keuangan (BPK) masih belum
jelas area pengawasannya.
3. Sistem mutu pelayanan kesehatan (Health Care Quality System)

20
a. Keharusan perusahaan BUMN dan swasta nasional, menengah dan
kecil masuk menjadi peserta BPJS Kesehatan belum terealisasi
mengingat manfaat tambahan yang diterima pekerja BUMN atau swasta
lainnya melalui regulasi turunan belum selesai dibuat. Hal ini belum
sesuai dengan amanat Perpres No. 111/2013 (pasal 24 dan 27)
mengenai keharusan pekerja BUMN dan swasta menjadi peserta BPJS
Kesehatan paling lambat 1 Januari 2015. Dan regulasi tambahan ini
harus dikomunikasikan secara transparan dengan asuransi kesehatan
swasta, serikat pekerja dan Apindo sehingga soal Manfaat tambahan
tidak lagi menjadi masalah.
b. Masih kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia di fasilitas kesehatan
sehingga peserta BPJS tidak tertangani dengan cepat.

BAB IV
KESIMPULAN

Setiap warga Indonesia berhak mendapatkan perlindungan kesehatan dan


memenuhi kebutuhan kesehatan dasar dan untuk mewujudkan hal tersebut
pemerintah membuat kebijakan dalam bidang kesehatan berupa kebijkan Jaminan
Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) yang menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan
asas kemanusiaan, manfaat, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
asas yang bersifat adil.

Dalam mengimplementasikan kebijakan JKN pemerintah melakukan


peningkatan pembangunan di bidang kesehatan untuk mencapai hasil yang
optimal melalui penempatan tenaga, sarana, dan prasarana baik dalam hitungan
jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas). Walaupun dalam melaksanakan
implementasi kebijakan JKN pemerintah diperhadpkan pada halangan misalnya
jumlah tenaga dan fasilitas kesehatan yang kurang yang mengakibatkan
rendahnya mutu pelayanan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Agustino, L. (2012). Dasar - Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

Ferry, R. (2017). Tarif Iuran & Sistem Pembayaran BPJS Kesehatan Terbaru 2017.
Retrieved March 6, 2017, from http://www.kembar.pro/2017/01/Iuran-dan-
Pembayaran-BPJS-Kesehatan-2017.html
Gormley. K, 1999. Social Policy and Health care. Churchill Livingstone
Kesmawan, A. P. (2015). Implementasi Kebijakan Badan Penyelenggaraan
Jaminan Sosial (Bpjs) Kesehatan Di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa
Yogyakarta. Konferensi Nasional Ke-2 APPPTM (p. 285). Yogyakarta:
Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah
(APPPTM).

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Buku Pegangan Sosilaisasi Jaminan


Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sitem Jaminan Kesehatan Nasional.
Jakarta: Sekretariat Jenderal.

Kementerian Kesehatan RI. (2013) Buku Saku FAQ BPJS Kesehatan, Jakarta:
Sekretariat Jenderal.
Nugroho, R. (2012). Public Policy. Jakarta: Gramedia.

22
Peraturan Presiden NO. 19. (2016). Jaminan Kesehatan. Pemerintah RI. Retrieved
fromwww.kemendagri.go.id/media/documents/2016/03/28/p/e/perpres01920
16.pdf
PMK RI No. 28 Tahun 2014. (n.d.). Peraturan Menteri Kesehatan Tentang
Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan kesehatah Nasional.
UU RI No. 24 Tahun 2011. (n.d.). Undang-undang RI Tentang Badan
Penyelengara jaminan Sosial.

23