Anda di halaman 1dari 22

RANGKUMAN ELASTISITAS

Disusun oleh :

Winda Meutia

20216030

MAGISTER FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017
A. ELASTISITAS

Jika sebuah medium/benda padat berada dalam keadaaan setimbang dipengaruhi


gaya-gaya yang berusaha menarik, menggeser, atau menekannya maka bentuk benda tersebut
akan berubah (terdeformasi). Jika benda kembali ke bentuknya semula bila gaya-gaya
dihilangkan maka benda dikatakan elastik. Hubungan antara gaya dan deformasinya dapat
dijelaskan dengan menggunakan konsep tegangan (stress), regangan (strain), hukum Hooke
dan konstanta elastiknya. Perubahan bentuk batuan dapat terjadi karena adanya perpindahan
elemen pembentuk batuan seperti atom, molekul, ion, dan berbagai fasa.

1. Tegangan (Stress)

Tegangan (stress) didefenisikan sebagai gaya persatuan luas. Apabila gaya yang
bekerja pada batuan tegak lurus terhadap permukaan, maka stress yang demikian dikatakan
tegangan normal (normal stress). Sedangkan gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan
batuan dikatakan sebagai tegangan geser (shearing stress). Untuk gaya yang bekerja dalam
arah yang tidak sejajar dan tidak tegak lurus pada permukaan batuan, tegangannya dapat
diuraikan ke dalam komponen normal dan komponen geser. Contoh Tegangan pada batuan di
bawah permukaan yang terjadi apabila disekitar batuan terdapat gejala geologi seperti
patahan.

F
=
A

Dimana :

=Tegangan
F=Gaya
A=Luas Permukaan
Gambar 1: tegangan yang terjadi
pada benda yang diberikan gaya

Terdapat dua jenis tegangan, yaitu tegangan normal dan tegangan geser. Tegangan
normal adalah teganganyang bekerja tegak lurus terhadap bidang .
Gambar 2: Tegangan normal dan tegangan geser

1.1 Tegangan dalam Komponen 3D

Besarnya tegangan normal pada setiap


komponen dapat di rumuskan sebagai
berikut:

Fx
xx =lim
n AX

Fy
yy=lim
n Ay

Fz
zz =lim
n Az

Gambar 3: Tegangan dalam komponen 3D

Dan besarnya tegangan geser pada setiap arah dapat dirumuskan :

Fy
xy =lim
n Ax

Fz
zy =lim
n Ay
Fx
zz =lim
n Az

2. Regangan (strain)

Gaya-gaya yang dikerjakan pada batuan berusaha meregangkan batuan tersebut.


Perubahan fraksional suatu batuan elastik baik bentuk maupun dimensinya dinamakan
dengan regangan (strain). Regangan adalah Perbandingan antara pertambahan panjang L

terhadap panjang mula-mula (Lo). Regangan dinotasikan dengan dan tidak mempunyai

satuan. Terdapat dua jenis regangan yaitu regangan normal dan regangan geser. Regangan
normal biasanya disebut juga dengan regangan. Regangan timbul akibat adanya tegangan
normal. Regangan geser terjadi akibat adanya terjadi akibat adanya tegangan geser. Namun
tegangan geser tidak memiliki kecenderungan untuk meperpanjang ataupun memperpendek
element dalam arah x, y, dan z tetapi tegangan geser akan menghasilkan perubahan bentuk.

l
=
l

Dimana :
= Regangan
l = Panjang mula- mula (m)
l = Pertambahan panjang (m)
Gambar 4: Regangan Normal

l
tan =
x
= Sudut yang dibentuk oleh l dan

l = Perubahan Panjang (m) yang sejajar

dengan gaya F
x = Perubahan Panjang (m)

Gambar 5: Regangan Geser

Analisis kuantitatif dua dimensi (2D) regangan dapat diilustrasikan seperti pada gambar
B. Pada gambar tersebut kita dapat melihat perubahan posisi koordinat PQRS menjadi
PQRS. Pada saat titik P berubah menjadi P, PP mempunyai komponen u dan v. Kita
misalkan u= u(x,y) dan v= v(x,y), sehingga:

u ( x , t )= perubahan posisi pada sumbu x

v ( y ,t )= perubahan posisi pada sumbu y

Sehingga :

u
= perubahan panjang pada arah x
x
v
= perubahan panjang pada arah x
y

Gambar 6: Regangan dalam 2 Dimensi

v
= perubahan geser pada arah y yang terjadi di x
x
u
= perubahan geser pada arah x yang terjadi di y
y
1 2
Untuk menentukan besarnya sudut dan yaitu:

v
dx
x
tan 1=
dx

v
tan 1=
x

1 maka besarnya tan 1 = 1

v
1=
x

u
dy
y
tan 2=
dy

u
tan 2=
y

2 maka besarnya tan 2 = 2

u
1=
y

1 2
Jika kedua dan dijumlahkan, maka akan menghasilkan:

1+ 2= ( vx + uy )
1+ 2= yx + xy

yx = xy
Karena maka:
2 yx= ( vx + uy )
1 v u
yx = xy= ( +
2 x y )

3. Dilatasi

Dilatasi (pembesaran atau perkalian) ialah suatu transformasi yang mengubah ukuran
(memperkecil atau memperbesar) suatu bangun tetapi tidak mengubah bentuk bangun yang
bersangkutan. Dilatasi ditentukan oleh titik pusat dan faktor (faktor skala) dilatasi. Dilatasi di

representasikan dengan . Jika dianggap sisi kubus adalah adalah dx dy dz , sehingga

persamaannya dapat diturunkan sebagai berikut:

Jika volume awal kubus adalah :

v 0 =dxdydz

Dan ketika diberikan tegangan maka volue berubah menjadi:

u v w
(
v 1= dx +
x )(
dx + dy +
y )(
dx + dz +
z
dz )

v v
= 1 0 =
( dx+ ux dx)+(dy + vy dx )+(dz + wz dz)dxdydz
v0 dxdydz

u v w
(dxdydz ) ( dxdydz) ( dxdydz )
x y z
+ +
dxdydz dxdydz dxdydz

u v w
= + +
x y z

= xx + yy + zz
4. Hukum Hooke

Hukum Hooke merumuskan hubungan antara tegangan dan regangan. Hooke


mengemukakan bahwa jika tegangan bekerja pada batuan dan menimbulkan regangan, maka
terdapat hubungan secara linier antara tegangan dan regangan. Tanpa memperhitungkan
komponen arah atas kedua variabel tersebut, pada medium yang bersifat homogen isotropik .
Dalam seismologi, medium elastik yang bersifat homogen isotropik didefinisikan sebagai
sifat medium dimana tidak terdapat variasi densitas didalam medium sehingga gelombang
menjalar dengan kecepatan yang sama dalam medium.

Gambar 7: Grafik tegangan dan regangan

Hubungan antara tegangan dan regangan dapat di definisikan sebagai berikut:

ij ij

Dalam kordinat kartesian i, j=x , y , z secara umum hubungan tegangan dengan

regangan dapat dituliskan sebagai berikut

3 3
ij = c ijkl kl
k=1 l =1
c ijkl
Dimana disebut dengan modulus elastik kekakuan, secara berkebalikan dapat pula

dinyatakan bahwa:

3 3
ij = s ijkl kl
k=1 l =1

s ijkl
Dengan disebut dengan komplians elastik.

5. Konstanta Elastisitas

Konstanta elastik adalah tinjauan hubungan antara tegangan-regangan dan perubahan


bentuk benda yang ditimbulkannya. Untuk medium yang homogen isotropik terdapat
konstanta elastik meliputi modulus Young, modulus Bulk, modulus Rigiditas dan rasio
Poisson.

a. Modulus Young

Didefinisikan sebagai besarnya regangan yang ditunjukkan oleh perubahan panjang


suatu benda. Semua komponen regangan yang tidak searah sumbu panjang adalah nol. Hal ini
disebabkan tegangan hanya terjadi pada arah sumbu panjang tersebut, pada arah yang lain
tegangannya nol. Perumusannya adalah:

Berdasarkan hukum Hooke,

xx = +2 xx

yy= +2 yy

zz = +2 zz

yy zz xx
Persamaan dan dapat disubtitusikan ke persamaan sehingga diperoleh :


( xx + yy+ zz)
xx =3 +2
xx =3 +2

xx =(3 + 2 )

xx
=
( 3 + 2 )

Gambar 8: Tegangan dan Regangan Normal

Apabila di subtitusikan kedalam persamaan awal maka diperoleh :

xx
xx = +2 xx
(3 +2 )

xx
xx =2 xx
(3 +2 )

3 +2
xx = xx
( + )

Fn
tegangan normal A
=
Karena besarnya nilai modulus young merupakan regangannormal l sehingga:
l

xx (3 +2 )
E= =
xx ( + )

b. Modulus Geser
Tekanan terhadap suatu benda dapat menimbulkan
regangan berupa pergeseran pada salah satu permukaan
bidangnya. Tekanan yang bekerja pada benda ini disebut
tekanan geser dan regangannya disebut regangan geser.
Perubahan bentuk akibat pergeseran ini tidak disertai
perubahan volumenya. Hubungan antara tegangan dan
regangan yang menimbulkan pergeseran sederhana ini
disebut modulus rigiditas atau modulus geser.
Gambar 8. Modulus
geser Perumusan matematisnya adalah:

Tegangan Geser
=
ReganganGeser

F/A F/A
= =
l/l tan

c. Rasio Poisson

Rasio Poisson atau poissons ratio adalah ukuran besarnya


regangan pada suatu benda berupa kontraksi dalam arah
transversal dan peregangan dalam arah longitudinal akibat
terkena tekanan. Apabila pernyataan tersebut diterapkan
pada silinder dimana arah transversalnya dinyatakan
dengan diameter silinder (D) dan arah longitudinal dengan
panjang silinder (L), maka rasio Poisson adalah:

Gambar 8: Rasio Poisson


yang berlaku pada benda
yang diberikan gaya

x / x yy zz
v= = =
l/l zz xx

d. Modulus Bulk
Menyatakan regangan yang dialami oleh suatu benda yang ditunjukkan oleh
perubahan volume benda tersebut. Tegangan pada modulus ini didefinisikan sebagai tekanan
hidrostatik. Jadi modulus Bulk adalah hubungan antara tegangan dan regangan pada benda
yang mengalami tekanan hidrostatik. Bila perubahan tekanan hidrostatik P dan regangan
volume V/V, maka modulus Bulk adalah:

Tegangan Volume P P
v= = =
Regangan Volume V /V tan

Berdasarkan hukum Hooke:

xx = +2 xx

yy= +2 yy

zz = +2 zz

Gambar 9: Modulus bulk


( xx+ yy + zz )
xx + yy + zz =3 +2

xx = yy= zz =P

3 P=3 + 2

P 3
K= =+
2

e. Modulus Elastisitas dalam Medium Berpori


Gambar 10. Medium berpori

Faktor faktor yang mempengaruhi elastisitas dalam medium berpori adalah:

Modulus elstisitas matrik (material penyusunnya)


Porositas ( )
Kepadatan antar butiran penyusunnya ( )

Secara matematis:

K d =K ma ( 1+1 )
d =ma ( 1+1
)

Dimana :

Kd 2
= modulus elstisitas pada medium ( N /m

K ma 2
= modulus elstisitas penyusunnya ( N /m

= porositas batuan

= kepadatan antar butiran penyusunnya ( 2-20) untuk batuan terkonsolidasi dan

>> untuk batuan tidak terkonsolidasi


vp vs
= perbandingan dan
f. Gelombang Elastik

Gelombang seismik merupakan gelombang yang merambat melalui bumi. perambatan


gelombang ini bergantung pada sifat elastisitas batuan. Gelombang seismik termasuk
kedalam gelombang elastik karena medium yang dilaui yaitu bumi bersifat elastik. Oleh
karena sifat penjalaran gelombang seismik bergantung pada elastisitas batuan yang
dilewatinya. Gelombang seismik ada yang merambat melalui interior bumi yang disebut
sebagai body wave dan ada juga yang merambat melalui permukaan bumi. Masing masing
jenis gelombang tersebut memiliki karakteristik yng berbeda beda yang dibedakan dalam
gelombang P dan S.

Gambar 11: Penjalaran gelombang badan dan gelombang permukaan pada medium homogen

Persamaan Gelombang badan

Gelombang badan adalah gelombang yang menjalar melalui media elastik dana arah
perambatannya keseluruh bagian di dalam bumi. Berdasarkan gerak partikel dan arah
penjalarannya gelombang dibedakan menjadi gelombang P dan S. Gelombang P disebut
dengan gelombang kompresi / gelombang longitudinal. Gelombang ini memiliki kecepatan
rambat paling besar dibandingkan dengan gelombang seismik lain, dapat merambat melalui
medium padat, cair dan gas. Berdasarkan gambar dibawah, dapat diuraikan :
Gambar 13: (a) arah gelombang permukaan (b) arah gelombang yang searah sumbu x


U (u , v , w) adalah komponen partikel dalam medium. Dimana perubahan
Misalnya

gayanya adalah:

Fx
d F x= dx
x

2 u xx
( dxAx ) = dx A x
2 t x

2 2
( ) 2u =E 2 u
t x

2 u E 2 u
=
2 t 2 x

2 u 2
2 u
=V
2 t 2 x

Sehingga ditemukan kecepatan gelombang pada medium adalah

V=
E

Persamaan gelombang dalam dilatasi

2 2
2
2
= 2
t x

Dimana = kecepatan gelombang pada modulus geser

=
x +2

Persamaan gelombang pada setiap komponen adalah

2 (
2 = + ) + 2 u
t x

2v ( 2
2
= +) + V
t y

2w (
2
= + ) + 2 w
t z

Persamaan gelombang P

Gelombang P adalah gelombag permukaan yang dilatasional (longitudinal). Arah gerak


partikel tegak lurus dengan arah rambat, maka hasil yang diperoleh dari (cross product)

persamaan umum gelombang ( x ) , sehingga

2 u ( 2
2
= +2 ) 2
t x x

2 2
v (
2
= + 2 ) 2
t y y
2 w ( 2
= +2 )
2t z 2 z

2
1
2 2 2
=0
vp t

kecepatannya adalah:

v p=
+ 2

Persamaan gelombang S

Gelombang S adalah gelombang permukaan yang terjadi setelah gelombang P,


dimana merupakan gelombang tranversal.

Arah gerak partikel searah dengan arah rambat, maka hasilnya diperoleh dari

divergensi dari persamaan umum gelombnag ( , , sehingga:

2 2 2

u ^ u ^
2
t z(y
z )
z =( + 2 )
^
x z (
y
^
x z
z + 2
z ) (
u ^ u ^
y
z
z )
2 v ^ v ^ 2 ^ 2 ^
2
t z( x
x
z = ( )
+2 )
yz
x (x y ) (
z + 2
v ^ v ^
z
x+
x
z )
2 w ^ v ^ 2 ^ 2 ^
2
t y( x
x
y = ( )
+ 2 )
yz (
x
x y ) (
y + 2
w ^ v ^
y
x
x
y )
Arah rambatnya sejajar sumbu x, maka semua besaran pada arah x sama dengan nol.
Misalkan gerak partikel searah sumbu z dengan menjumlahkan ketiga persamaan tersebut
didapatkan :
v u ^ 2 v u ^

2
(
x y )
z = 2
t x y( z )
x= ( wy vz )
y= ( uz wx )
z= ( vx uy )

Sehingga persamaan gelombang s menjadi :

2
2 1 z
z 2 =0
vp t2

Dan kecepatannya :

v s=

Untuk fluida, karena =0 maka kecepatan gelombang S juga bernilai nol. Rsio

keceptan gelombang P dan S, dapat dinyatakan sebagai berikut:

vp
vs
=
+2

= 2+



3 K
+
4

Selanjutnya beberapa hubungan antara besaran elstik dapat ditulisakan sebagai:

1. Poissons ratio
2
v
( p ) 2
1 vs
v= =
2( + ) 2 v p 2
( ) 1
vs

2. Bulk modulus
P 2 E
K= = + =
3 3 ( 12 v )

3. Shear modulus
xy E
==
xx 2 ( 1+ v )

4. Modulus young
(3 +2 )
E= xy =
xx xx

g. Nilai Modulus elastis dan kecepatan gelombang pada Batuan

B. Jelaskan bagaimana perambatan gelombang pada medium dispersif dan non


dispersif?
Dispersi gelombang adalah perubahan bentuk gelombang ketika merambat disuatu
medium. Gelombang yang merambat pada sebuah medium dimana laju tidak bergantung
pada frekuensi dan panjang gelombang disebut gelombang tak dispersif dan medium tempat
merambatnya gelombang dinamakan medium tak dispersif. Begitu pula sebaliknya
gelombang yang merambat pada medium yang dimana laju gelombang bergantung pada
frekuensi dan panjang gelombang dinamakan gelombang dispersif dan medium tempat
gelombang tersebut merambat disebut medium dispersif.

Pada gelombang tidak dipersif berlaku persamaan:

2 2
2
2
=c 2
t x

i(kxt)
Persamaan diatas dapat diselesaikan dengan fungsi exponensial ( x , t )= Ae

sehingga menghasilkan persamaan

2 =c 2 k 2

Sedangkan pada gelombang dispersif, hubungan antara dan k berlaku persamaan :

=(k )

Dan

( k )
c=
k

Contoh gelombang dispersif adalah gelombang Rayleigh dimana kecepatan


gelombang bergantung pada frekuensi. Umumnya gelombang dengan frekuensi rendah
merambat pada kecepatan yang lebih tinggi. Kedalaman penetrasi gelombang juga
tergantung pada frekuens yaitu frekuensi yang lebih rendah untuk menembus lebih
mendalam. Gelombang ini juga mengami sifat yang unik yaitu pada saat melewati setiap
batas permukaan bumi gelombang ini akan mengalami dispersi. Sedangkan contoh
gelombang tidak dipersif adalah gelombang badan atau body wave.

C. Mengapa persamaan Poisson dapat menentukan jenis fluida?

Poisson ration dapat dinyatakan dalam besaran kecepatan gelombang seismik, yaitu:
2
vp
( ) 2
1 vs
v=
2 vp 2
( ) 1
vs
vp
Berdasarkan persamaan diatas, poisson ratio mengukur besarnya v s . Besarnya nilai

poisson adalah berkisar antara 0 sampai 0,5. Poisson ration akan bernilai 0 jika nilai
vp
= 2 , dan piosson ratio akan bernilai 0,5 apabila vs = 0.
vs

Jika medium medium gelombang berbeda, maka kecepatan gelombang akan menunjukkan
nilai geombang yang berbeda. Berdasarkan kecepatan rambatan gelombang tersebut maka
dapat ditentukan jenis fluida yang terdapat didalam pori.
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Efendi, 2005, Elastic Wave Phenomena,(online,


https://www.academia.edu/13520057/Elastic_Wave_phenomena, diakses tanggal 12
Februari 2017)

Morin , David, 2008, Introduction to Classical Mechanics, Cambridge University Press,


Camridge

Fauzi, Umar, 2016, Diktat Fisika Batuan, ITB, Bandung

Fisika Zone, 2015, Tegangan Regangan dan Modulus Elastisitas, (online,


http://fisikazone.com/tegangan-regangan-dan-modulus-elastisitas/, diakses tanggal 12
Februari 2017)

Juanita, Retno, Gelombang Seismik, (online , juanita.blog.uns.ac.id/files/2011/01/gelombang-


seismik1.pdf, diakses tanggal 12 Februari 2017)

Nurcahyono, Sigit, 2015, Elastisitas Zat Padat, (online,


https://sigitnurachigo.wordpress.com/elastisitas-zat-padat/, diakses tanggal 12
Februari 2017)

Ruwanto, Bambang, 2010, Gelombang dan Bunyi (online diakses tanggal 12 februari 1017
diakses tanggal 12 Februari 2017)

Sholihah, Ahmad, et.al, 2009, Aanalisis Dispersi Gelombang Rayleigh Struktur Geologi
Bawah Permukaan Studi Kasus: Daerah Pasir Putih Delegan Gresik. (online,
https://www.scribd.com/document/195539218/Analisis-Dispersi-Gelombang-
Rayleigh, diakses tanggal 14 Februari 2017)

Telford, W.M, et.al, 1990, Applied Geophysics Second Edition, Camridge University
press, Camridge