Anda di halaman 1dari 3

170507

Tittle : Hujan
Cast : SugaSunhee
Author : Sunbee_7

Mia meninggalnya sejak tiga puluh menit yang lalu, namun ia sama sekai belum
bergerak dari sana. Entahlah, ia hanya ingin menikmati kesendirian. Sendiri dengan
angin penggoda yang terus menggoyahkan tubuhnya untuk pergi. Begitupun
dengan mendung langit yang begitu kentara di atas kepalanya. Seharusnya, ia
cepat pulang, berteduh atau mencari tempat teraman yang dapat menghindari air
langit yang bisa saja membuat tubuhnya basah.
Namun hingga air tak dapat lagi terhitung detik, ia masih duduk sendiri, menikmati
hujaman yang terasa lebih menyakitkan dalam tubuhnya. Tidak biasanya ia bodoh.
Tidak biasanya ia berubah semelankolis ini. Rasanya wujud Min Yoongi yang dingin
dan angkuh telah mati, berubah menjadi Yoongi si pengecut yang patah hati karena
sosok yang tak mungkin lagi ia dapatkan.
Kulit tangannya yang putih bahkan lebih pasi ketika keduanya terkepal. Rasa sakit
yang menjalar di seluruh tubuh, menyebar luka yang terasa berdenyut hingga ia tak
dapat lagi menegakkan wajah. Andai benci dan cinta tak pernah menjumpai dirinya
pada sosok itu, mungkin Yoongi tak akan berubah sedemian buruk ini. Sungguhpun
waktu dan penyesalan yang begitu kentara ketika ia dapat mengenal sosok yang
sekarang tergambar di pikirannya. Tak dapat terhapus, namun juga tak dapat
menghilang dengan mudah. Ia terlalu mengikat pikiran Yoongi saat ini.
Seandainya ada yang bersedia memukul kepalanya hingga terluka dan
menghilangkan sebagian ingatan, Yoongi akan sangat berterima kasih untuk itu.
Tidak apa jika luka darah memperparahnya, asalkan dapat menjamin semua rasa
sakit di dadanya menghilang, musnah dan berakhir dengan cara tersebut.
Tak peduli semua mengatakan ia sehebat apa. Tak peduli lagi seberapa banyak
orang memuji dirinya. Namun kenyataan menaklukan satu hati saja ia tak mampu.
Gadis yang selalu berada dalam jangkauannya namun ia terlalu pengecut untuk
dapat memahami dan mengatakan maksudnya. Min Yoongi mungkin bukan seorang
romantisme yang mengutarakan perasaan hatinya secara gamblang. Ia seorang
yang amat kaku dan menyalurkan perasaan dengan cara yang dapat dipahami
dirinya sendiri. Ia terlalu takut kehilangan, takut melukai, takut jika terkasih merasa
terkekang. Ia akan memberikan apapun dengan diam-diam. Ia pemikir unggul. Ia
memiliki perasaan amat peka hingga ia sendiri tidak dapat memahami caranya
benar atau salah.
Kegetiran membuat Yoongi tersenyum miris. Ia berjalan gontai dengan setengah
tubuhnya yang basah. Bukannya mempercepat langkah, Yoongi malah berjalan
menikmati hujan yang beraroma dingin. Sesekali ia menendang air yang percuma,
sengaja membuat apa yang dikenakannnya semakin kuyup. Raganya terasa tak
bersemangat untuk melakukan hal yang lebih waras. Layaknya anak kecil Yoongi
memainkan kecipak genangan air yang dilangkahi sepatunya.
Sepertinya anjuran dari Mia untuk pulang ke rumahnya tadi harus ia abaikan. Yoongi
tidak ingin kena omel adik angkatnya karena pulang terlambat bahkan dalam
keadaan memprihatinkan seperti ini. Ia harus bisa menguasai dirinya lebih dulu,
membuat Mia berpikir bahwa ia lebih baik ketika sudah memutuskan untuk
menghilang perlahan dan menjadi dingin seperti sosok dulu yang tak berperasaan.
Min Yoongi bahkan sengaja berbelok lebih jauh, mengingkari jalan yang seharusnya
mengarah ke rumah Mia. Ia ingin menenangkan dirinya sendiri. Tanpa siapa pun,
tanpa sosok apapun, dan tanpa seseorang yang tahu keberadaanya dimana pun. Ia
harap ini cara terbaik saat seseorang tak tahu dirinya.
Getaran ponsel membuat ia berhenti sejenak di halte bus terdekat. Ini
pertamakalinya Min Yoongi berteduh setelah berjalan cukup jauh menembus hujan.
Nama adiknya tertera, dan ia segera menggeser untuk membuka ke-14 pesan dan 5
panggilan tak terjawab dari nama yang sama.
Oppa, kau dimana?
Sepertinya akan hujan, kau harus cepat pulang.
Apa jalanan sedang macet? Jangan pulang terlambat.
Oppa, kau baik-baik saja?
Oppa!
Yak! Min Yoongi!
Setidaknya kau membalas pesanku, oppa.
Cepat jawab telponku, oppa.
Jangan membuatku khawatir.
Aku tidak akan membuka pintu rumahku jika kau belum juga membalas pesanku!
Oppa, kau dimana, huh?
Oppa, sekarang aku menangis karenamu,
Aku benar-benar menangis, tahu!
Aku akan mengadukanmu pada Jungkook!
Tanpa sadar Yoongi tersenyum, semua pesan dibacanya namun tak satu pun berniat
membalas. Yoongi hendak meletakkan ponselnya ke saku celana ketika tiba-tiba
satu pesan dari pengirim yang sama kembali mengiriminya.
Oppaaa, kau dimana? Aku merindukanmu. Tolong cepat pulang dan peluk aku.
Saranghae.
Dan sekarang Min Yoongi benar-benar tertawa sendiri di dalam bus. Membayangkan
begitu manjanya sang adik yang merajuk kesal. Ia sendiri bingung harus membalas
apa, apalagi sekarang ada panggilan video call dari gadi 17 tahun itu. Ia ragu untuk
mengangkat, akhirnya ia memilih untuk mendiamkan ponselnya hingga sambungan
terputus.
Kau baru menemuiku beberapa jam yang lalu, Mia. Aku sedang dalam perjalanan
menuju suatu tempat. Jangan menghubungiku lagi, ponselku sebentar lagi mati. Aku
tidak ingin kau kecewa. Hubungi tunanganmu jika kau butuh sesuatu. Aku juga
mencintaimu.
Kirim. Semuanya singkat dan jelas dalam satu pesan. Yoongi segera mematikan
ponselnya karena tak ingin Mia mengganggunya lagi. Padahal ponselnya masih
terisi penuh. Bukan untuk menghindar, hanya saja ia butuh sendiri untuk
menjernihkan pikiran sekusut langit yang tak juga menandakan pemberhentian
hujan.
Selama perjalanan hanya ada rasa sepi dan dingin yang menyelimuti tubuhnya
yang basah. Air hujan tadi mungkin telah menempel di tubuhnya, menyebabkan
rasa tak nyaman hingga Yoongi ingin cepat sampai pada tempat tujuan. Ia mencoba
berpikir kosong. Walau nyatanya sulit. Atau mencoba memikirkan hal lain. Namun,
pecah ketika rintik hujan membasahi kaca jendela yang membuat bintik kecil.
Kenapa setiap hal sepele selalu mengingatkannya pada semua yang berhubungan
dengan sosok itu. Ini sebuah kesialan ketika otaknya selalu berujung padanya.
Yoongi mendengus memperhatikan dirinya yang terlihat memprihatinkan. Ingin
menertawakan dirinya karena sosok itu yang terus berada pada ujung pikiran
Yoongi, dan sangat sulit untuk menghindarinya. Ini menyusahkan.
Payung hitam berdiri di bawah genggaman seorang pengunjung yang berdiam diri
di depan restoran yang cukup ramai sore itu. Yoongi hendak mengabaikan ketika
kedua mata saling bersitatap dengannya. Tak asing, namun juga merasa tak
mengenal. Mereka dalam satu lurus jarak yang sama. Saling meragu, juga
penasaran satu sama lain.
Min Yoongi-ssi? Ia memiliki mata kecil setajam elang, Yoongi mengerut bingung
pada perawakan kurus berpakaian hitam di hadapannya. Entah pernah tahu, pernah
berpapasan atau memang kenal tapi melupakan. Aku Kim Jongwoon.