Anda di halaman 1dari 55

i

PELAKSANAAN MANAJEMEN SEKOLAH BERBASIS PESANTREN


DI MADRASAH TSANAWIYAH PESANTREN SATU ATAP
NURUL AMAL KENTENG KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN
SEMARANG
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
\
Oleh
NUR SAID
NIM 11110102
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2015 ii iii iv v vi

MOTTO

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku


hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S Al Anam 162)
(Al Quran dan Terjemah, 1992: 216) vii

PERSEMBAHAN
Kupersembahkan skripsi ini untuk:
1. Ayahku Bapak Soleh yang selalu memberi arahan,kasih sayang,
bimbingan dan motivasi.
2. Ibuku Siti Mukaromah yang selalu sabar merawat, mendidikku,
memberikan kasih sayang, motivasi dan dukungan sampai saat ini.
3. Keluarga besarku yaitu adik-adik kandungku (Dik Fifa dan Dik Lala)
yang selalu memberi dukungan moril.
4. Keluarga besar dan teman-teman seperjuanganku di Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) yaitu Mas Alwi, Pak Shine, Bang Titih, Mbak Kiki,
Mbak Bibah, Mas Fandra, Mas Pras, Mbak Ninit, Mbak Penor, Mbak Iim, Mas
Senthot, Didik, Jarwati, Mas Andri, Usna, Bang Reza, Bnag Fauzi, Pak
Bambang dan keluarga besar HMI Cabang Salatiga lainnya, yang selalu
memberikanku semangat berjuang dan selalu menemaniku di saat sedih
dan duka ketika di kampus.
5. Teman-temanku di kampus yaitu kelas PAI C angkatan tahun 2010,
kelompok PPL, kelompok KKN, dan teman lainnya di STAIN Salatiga.
viii

KATA PENGANTAR
Asslamualaikum Wr. Wb
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Allah SWT.
Atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
diberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta
salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat dan
para pengikut setianya.
Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan guna untuk memperoleh
gelar kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Salatiga. Dengan selesainya skripsi ini tidak lupa penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati M.Ag selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Bapak Fatchurrahman, M.Pd., sebagai dosen pembimbing skripsi yang
telah dengan ikhlas mencurahkan pikiran dan tenaganya serta
pengorbanan waktunya dalam upaya membimbing penulis untuk
menyelesaikan tugas ini.
5. Ibu Muna Erawati, M.Si., selaku pembimbing akademik
6. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak
membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
ix

7. Kepala sekolah, guru, dan siswa MTs PSA Nurul Amal yang telah
memberikan ijin serta membantu penulis dalam melakukan penelitian di
sekolah tersebut.
8. Bapak dan ibu serta saudara-sadaraku di rumah yang telah mendoakan
dan membantu dalam bentuk materi untuk membiayai penulis dalam
menyelesaikan studi di IAIN Salatiga dengan penuh kasih sayang dan
kesabaran.

Harapan penulis, semoga amal baik dari beliau mendapatkan balasan


yang setimpal dan mendapatkan ridho Allah SWT.
Akhirnya dengan tulisan ini semoga bisa bermanfaat bagi penulis
khususnya dan para pembaca umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Salatiga, 16 Februari 2015
Penulis
Nur Said x

ABSTRAK
Said, Nur. 2015 Pelaksanaan Manajemen Sekolah Berbasis Pesantren di
Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Nurul Amal Kenteng
Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2014/2015.
Pembimbing Fatchurrohaman M.Pd.
Kata kunci: Manajemen, Sekolah, Pesantren Satu Atap
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui pelaksanaan
manajemen sekolah berbasis pesantren di MTs Pesantren Saatu Atap Nurul
Amal. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah (1)
bagaimanakah pelaksanaan Manajemen yang ditinjau dari manajemen
kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen keuangan, manajemen
sarana dan prasarana, serta manajemen tenaga kependidikan di MTs PSA
Nurul Amal, (2) faktor pendukung dan faktor penghambat dalam
melaksanakan manajemen sekolah berbasis pesantren, (3) upaya yang
dilakukan dalam meningkatkan manajemen sekolah berbasis pesantren.
Metode penelitian adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Teknik pengumpulan data adalah: observasi, wawancara, dan studi
dokumentasi. Subyek penelitian adalah Kepala Sekolah, Wakabid
Kurikulum, Wakabid Kesiswaan, Bendahara, Wakabid Sarana dan
Prasarana, serta Kepala Bidang Personalia.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa manajemen kurikulum telah
dilaksanakan, realitasnya terlaksana program pembelajaran, dilakukan
pengawasan, serta terlaksananya proses pembelajaran sesuai dengan
pembagian tugas yang telah ditetapkan kepada guru pengajar.
Manajemen kesiswaan telah dilaksanakan sessuai yang direncanakan, hal
ini tergambar dengan adanya program penerimaan siswa baru dan
berjalannya kegiatan ekstrakurikuler. Manajemen keuangan telah
dilaksanakan, dengan mengatur segala pemasukan dan pengeluaran.
Manajemen personalia yang dilaksanakan termasuk kategori sudah baik.
Manajemen sarana dan prasarana sudah termasuk kategori baik, karena
beberapa fasilitas madrasah sudah terpenuhi. xi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................... i
HALAMAN BERLOGO ....................................................... ii
HALAMAN NOTA PEMBIMBING................................................ iii
HALAMAN PENGESAHAN............................................................ iv
DEKLARASI...................................................................................... v
MOTTO............................................................................................... vi
PERSEMBAHAN.............................................................................. vii
KATA PENGANTAR........................................................................ viii
ABSTRAK.......................................................................................... x
DAFTAR ISI...................................................................................... xi
DAFTAR TABEL.............................................................................. xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................... 6
C. Tujuan Penelitian............................................................ 7
D. Kegunaan Penelitian....................................................... 8
E. Penegasan Istilah............................................................. 9
F. Metode Penelitian........................................................... 10
G. Sistematika Penulisan Skripsi......................................... 17
xii

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Lembaga Pendidikan Islam........................................... 20
B. Sekolah Berbasis Pesantren........................................... 29
C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Manajemen

Sekolah Berbasis Pesantren.......................................... 56


D. Upaya dalam Meningkatkan Manajemen seklah........... 60

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN


A. Gambaran Lokasi dan Objek Penelitian........................ 63
B. Pelaksanaan Manajemen Sekolah Berbasis Pesantren... 73
C. Faktor Pendukung Dan Penghambat Manajemen Sekolah

Berbasis Pesantren di MTs PSA Nurul Amal Kenteng.... 81


D. Upaya Dalam Meningatkan elaksanaan Manajemen

Sekolah Berbasis Pesantren............................................. 82


BAB IV PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Madrasah Tsanawiyah

Pesantren Satu Atap Nurul Amal....................................... 84


B. PelaksanaanManajemen Kesiswaan Madrasah Tsanawiyah
Pesantren Satu Atap Nurul Amal...................................... 87
C. Pelaksanaan Manajemen Keuangan Madrasah Tsanawiyah

Pesantren Satu Atap Nurul Amal....................................... 90


D. Pelaksanaan Manajemen Sarana Prasarana Madrasah

Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Nurul Amal..................... 91 xiii

E. Pelaksanaan Manajemen Personalia Madrasah Tsanawiyah

Pesantren Satu Atap Nurul Amal....................................... 92


F. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Manajemen

Sekolah Berbasis Pesantren di Madrasah Tsanawiyah


Pesantren Satu Atap Nurul Amal..................................... 94
G. Upaya Dalam Meningkatkan Pelaksanaan Manajemen

Sekolah Berbasis Pesantren di Madrasah Tsanawiyah


Pesantren Satu Atap Nurul Amal. 95
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................... 97
B. Saran-saran...................................................................... 99

DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 100


LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................. 102 xiv

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Prestasi Akademik dan Nonakademik ............................ 67
Tabel 3.2 Sarana Prasarana.............................................................. 68
Tabel 3.3 Mebeler............................................................................ 69
Tabel 3.4 Keadaan Barang............................................................... 69
Tabel 3.5 Sarana Olah Raga............................................................. 70
Tabel 3.6 Labolaturium................................................................. 70
Tabel 3.7 Buku Perpustakaan.......................................................... 70
Tabel 3.8 Lingkungan Fisik Dan Madrasah.................................... 70
Tabel 3.9 Kualifikasi Guru............................................................. 71
Tabel 3.10 Data Jumlah Siswa.......................................................... 71
Tabel 3.11 Struktur Organisasi Madrasah........................................ 71 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian yang tidak lepas dari semua individu di


dunia ini. Dengan pendidikan maka tingkat kepandaian dan kemampuan
setiap orang akan meningkat. Pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang
mendapatkan sorotan, baik dari pemerintah maupun pihak-pihak yang
berkaitan langsung dengan aspek pendidikan. Pada mulanya
pertumbuhan pendidikan selalu berawal dari bentuk pembelajaran yang
terselenggara di masyarakat dalam bentuk informal atau sistem
pembelajaran tradisional. Wujud pendidikan yang ada mengikuti dalam
kehidupan sehingga prosesnya bercorak simbiosis yaitu menyatu dengan
hidup dan interaksi sosial.
Kemajuan pendidikan saat ini menunjukan perkembangan yang sangat
pesat. Indikatornya adalah muncul sekolah-sekolah baru yang
menawarkan berbagai kelebihan dalam membekali setiap peserta didik.
Sekolah atau satuan pendidikan semacam itu memiliki perbedaan dalam
hal metode dan media pembelajaran, serta memiliki komitmen dan
kesungguhan dalam mewujudkan transformasi pendidikan yang bertujuan
untuk menciptakan pendidikan secara hierarki. Konsep pendidikan
semacam itu, nyatanya lebih diminati dan terbukti kualitas yang
dihasilkan berdasar konsep pendidikan di atas outputnya, jauh berbeda
dari pendidikan konvensional yang selama ini ada. Beranjak dari
fenomena di atas, maka perlu adanya evaluasi dan pembenahan secara
menyeluruh terhadap satuan pendidikan yang masih memberlakukan
sistem 2

dan metode pendidikan konvensional tersebut. Jika tidak, bukan hanya


satuan pendidikan tersebut yang harus siap tertinggal dan tidak ada yang
meminatinya. Jauh dari itu, tujuan awal untuk menciptakan peserta didik
yang berkarakter sebagaimana yang diharapkan justru tidak dapat
diwujudkan.
Fenomena pendidikan yang menampilkan wajah keberagamaan utamanya
islam, kini mulai marak, berkembang dan populer di tengah-tengah
kehidupan bermasyarakat. Fenomena pendidikan itu mewujud dalam
bentuk penggabungan antara pendidikan formal serta informal yang
terbalut dalam satu bingkai lembaga atau satuan pendidikan. Atau boleh
di katakana dengan bahasa yang lain yaitu pendidikan yang
mengintegrasikan (Integrated Education) antara pendidikan umum dan
pendidikan agama. Bentuk pendidikan terintegrasi itu bisa di lihat dari
pendidikan pesantren atau yang populer disebut Boarding School.
Pendidikan yang popular secara umum di Indonesia. Model pendidikan
yang menggabungkan antara pendidikan umum dan agama, namun pada
sisi luar, orang menganggap nuansa agama sangat kental.
Era modernisasi seperti saat ini dimana proses interaksi sosial berjalan
semakin meningkat cepat, tingkat mobilisasi masyarakatpun semakin
tinggi. Maka, diharapkan pendidikan pun mampu menjawab tantangan
hadirnya dunia baru yang semakin akseleratif dengan berbagai macam
konsekuensi di dalamnya. Pendidikan perlu sekiranya menampilkan kesan
modern dan juga kesan religiousislamis. Mengapa Islami, sebab karakter
yang telah krisis seperti saat ini mampu dijawab oleh penanaman
pendidikan agama khususnya karakter Islam. Sering dijumpai maraknya
sekolah Islam terpadu baik dasar 3

maupun menengah yang berkembang di Indonesia akhir-akhir ini, tidak


lain adalah sebagai salah satu jawaban atas kegelisahan masyarakat
terhadap harapan terwujudnya pendidikan yang baik. Yang pada intinya,
pendidikan semacam ini mampu mengkolaborasikan antara pendidikan
berlatar formal maupun informal.
Lembaga pendidikan setidak-tidaknya mampu memberikan bekal
pengetahuan dan kecakapan terhadap peserta yang dididik. Pemberian
informasi serta pengetahuan itupun semata-mata tidak melulu saklek
pada teks yang tertulis, namun perlu disesuaikan dengan perkembangan
peradaban jaman. Dalam Suprayogo dan Tobroni dikemukakan bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan terjadi antara lain disebabkan oleh
fitrah manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa ingin tahu, mencari
dan berpihak pada hal kebenaran. Di samping itu manusia juga memiliki
sikap hanif (akal budi) yaitu keinginan yang tidak terbatas untuk
menggapai yang terbaik dalam kehidupanya. Tuntunan fitrah dan hanif
manusia tersebut dapat terpenuhi apabila manusia memperoleh
pengetahuan yang sistematis dan mampu memecahkan masalah yang
dihadapi teknologi (Suprayogo dan Tobroni, 2003:3).
Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai ciri
khas tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya.
Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah,
pengembangan kemasyarakatan, dan pendidikan lainnya yang sejenis
dalam bidangnya. Di Pesantren, tempat dimana para santri menetap atau
bermukim. Di lingkungan Pesantren, disebut dengan istilah Pondok. Dari
sinilah timbul istilah Pondok Pesantren. Ditinjau 4

dari segi historisnya, Pondok Pesantren adalah bentuk lembaga


pendidikan pribumi tertua yang ada di Indonesia. Pondok Pesantren sudah
dikenal jauh sebelum Negara Indonesia merdeka, bahkan sejak islam
masuk ke Indonesia terus tumbuh dan berkembang di dunia pendidikan
pada umumnya. Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama
berkembang di Indonesia, Pondok Pesantren selain telah berhasil
membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga
ikut berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat
Indonesia, serta ikut berperan aktif dalam upaya mencerdaskan bangsa.
Sesuai dengan salah satu tujuan Negara Indonesia yang tercantum dalam
pembukaan Undang-Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945 yaitu
ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tujuan inilah suatu
wujud yang ingin dicapai untuk membangun sumber daya manusia yang
lebih maju dalam masa globalisasi ini.
Berbicara mengenai SDM, sebenarnya dapat dilihat dari kedua aspek,
yakni kuantitas dan kualitas. Kuantitas menyangkut jumlah SDM yang
umumnya dapat dianggap kurang penting kontribusinya terhadap
pembangunan masyarakat, dibandingkan aspek kualitas. Bahkan
kuantitas SDM tanpa disertai kualitas yang baik, akan menjadi beban
pembangunan itu sendiri. Sedangkan kualitas menyangkut mutu SDM,
yang berkaitan dengan kemampuan, baik kualitas fisik maupun kualitas
non-fisik (kecerdasan dan mental). Karena itu, untuk kepentingan
pembangunan, maka kualitas SDM merupakan prasarat utama. 5

Untuk mendapatkan kualitas serta kuantitas sumber daya manusia yang


mumpuni sebagaimana yang telah tertulis di atas. Maka, sangat
diperlukan adanya sistem tata kelola yang baik, manajemen yang terarah,
sistematis serta produktif. Manajemen mencakup kegiatan untuk
mencapai tujuan, dilakukan oleh individu-individu yang menyumbangkan
upaya yang terbaik melalui tindakan yang telah diputuskan sebelumnya.
Hal tersebut meliputi segala pengetahuan yang mana harus di
laksanakan.
Sejalan dengan itu, manajemen pengelolaan yang ada relevansinya
dengan lembaga, institusi, instansi maupun satuan pendidikan perlu
ditata sedemikian rupa hingga mampu menciptakan iklim yang
terintegrasi satu sama lain. Manajemen yang berbasis sekolah perlu betul-
betul diarahkan kepada manajemen yang efektif dan tepat sasaran guna
menyasar pada pencapaian pendidikan yang transformative sesuai pada
prinsip pengajaran pesantren.
Ada suatu hal yang menarik untuk diteliti bahwa belum tentu sekolah-
sekolah yang berada di bawah pemerintah atau sekolah yang
berstatuskan negeri akan menjadi sekolah favorit bagi masyarakat yang
ingin menyekolahkan anaknya. Kenyataan pada masa kini banyak sekolah
swasta yang menjadi sekolah favorit yang didambakan orang tua untuk
menyekolahkan anaknya. Karena sekolah tersebut tidak hanya memiliki
standar kompetensi yang baik tetapi juga menghasilkan lulusan peserta
didik yang dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuanya ke dalam masa
yang akan datang. 6

Dalam proses pendidikan sekarang ini, tidak hanya diperlukan modal,


teknologi, dan keahlian di bidang sosial. Selain itu perlu ditunjang
pengeloaan manajemen yang mampu dilaksanakan oleh para guru.
Dari masalah yang telah dipaparkan sebagaimana keterangan yang telah
di terangkan. Untuk membuktikan konsep tersebut maka penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul: PELAKSANAAN MANAJEMEN
SEKOLAH BERBASIS PESANTREN DI MADRASAH TSANAWIYAH PESANTREN
SATU ATAP NURUL AMAL KENTENG KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN
SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2014/2015.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan beberapa


masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan manajemen di Madrasah Tsanawiyah
Pesantren Satu Atap Nurul Amal Kenteng, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang di tinjau dari:
a. Manajemen Kurikulum.
b. Manajemen kesiswaan.
c. Manajemen Keuangan.
d. Manajemen sarana dan prasarana.
e. Manajemen tenaga kependidikan.
2. Apa faktor pendukung dan faktor penghambat manajemen sekolah
berbasis pesantren yang dihadapi Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu
Atap Nurul Amal Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang
dalam melaksanakan manajemen sekolah berbasis pesantren?
7
3. Upaya apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas
manajemen sekolah berbasis pesantren di Madrasah Tsanawiyah
Pesantren Satu Atap Nurul Amal Kenteng, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang?
C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupkan pernyataan sasaran yang ingin di capai dalam


penelitian. Isis dan rumusan tujauan penelitian mengacu pada rumusan
masalah.
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah:
1. Untuk dapat mengetahui peaksanaan manajemen pada Madrasah
Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kab,
Semarang, yang ditinjau darai manajemen kurikulum, manajemen
kesiswaan, manajemen keuangan, manajemen sarana prasarana, dan
manajemen personalia.
2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat yang di
hadapi MTs PSA Nurul Amal dalam melaksanakan manajemen
pembelajaranya.
3. Untuk dapat mengetahui upaya yang dilakukan dalam meningkatkan
manajemen sekolah berbasis pesantren di Madrasah Tsanawiyah
Pesantren Satu Atap Nurul Amal Kenteng, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang.
D. Kegunaan Penelitian
1. Teoritis

Secara teoritis penelitian yang dilakukan dapat memberikan wawasan


yang luas mengenai model pendidikan saat ini serta dapat memberikan
sumbangsih dalam perkembangkan pendidikan pada umumnya, 8
khususnya dapat memperkaya ilmu pengetahuan yang ditekankan pada
pendidikan agama Islam.
2. Praktis
a. Lembaga Pendidikan Umum

Dengan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran


berkenaan dengan model manajemen pendidikan pada lembagaan
tertentu, sehingga dapat meningkatkan kualitasnya.
b. Mahasiswa

Agar ada peningkatan dalam pembelajaran dan diharapkan mampu


menjadi guru yang dapat melaksanakan manajemen sekolah dengan baik.
c. Guru

Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang cukup


mengenai pengelolaan manajemen.Sehingga dapat meningkatkan
pengembangan manajemen kususnya pada bidang kurikulum dan
kesiswaan pada pesantren.
d. Lembaga Pendidikan

Dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan baru dalam pendidikan


agama Islam khususnya pada bidang manajemen pengeloaan sekolah
yang bermutu yang diharapkan sesuai kebutuhan masyarakat umumnya.
E. Penegasan Istilah
1. Manajemen
9

Manajemen merupakan proses merencana, mengorganisasi, memimpin


dan mengendalikan upaya organisasi dngan segala aspeknya agar tujuan
organisasi tercapai ecara efektifdan efisien (Fattah, 2004:1).
2. Sekolah
Sekolah adalah organisasi kerja sebagai wadah kerja sama sekelompok
orang untuk mencapai suatu tujuan. Wadah tersebut merupakanalat dan
bukan tujuan. Dengan kata lain sekolah adalah salah satubentuk ikatan
kerjasama sekelompok orang yang bermaksud mencapai suatu tujuan
yang di sepakati bersama.
3.Pondok Pesantren Satu Atap
Pondok Pesantren Satu Atap (PSA), yaitu pondok pesantren yang di
dalamnya memiliki lembaga pendidikan formal MI dan kemudian
mendapat sumbangan bantuan gedung untuk MTs dari pemerintah
Australia pada tahun 2009/2010.
Pondok peantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren. Istilah
pondok, berasal dari kata funduk , dari bahasa arab yang berarti rumah
penginapan atau hotel. Akan tetapi didalam pesantren Indonesia ,
khususnya pulau jawa, lebih mirip dengan pemondokan. Sedangkan istilah
pesantren secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat
santri. Santri murid mempelajari agama dari seorang Kyai atau Syaikh di
pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang
memberikan pendidikan dan penajaran serta megembangkan dan
menyebarkan ilmu agama dan Islam (Nasir, 2005:80-81). 10

F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian kualitatif. Metode


kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif:
Ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang
(subyek) itu sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukan setting dan
individu-individu dalam setting itu secara keseluruhan; subyek
penyelidikan, baik berupa organisasi ataupun individu, tidak dipersempit
menjadi variabel yang terpisah atau menjadi hipotesis, melainkan
dipandang sebagai bagian dari keseluruhan (Robert dan Steven, 1992:21).
Terdapat banyak alasan yang shahih untuk melakukan penelitian kualitatif.
Salah satunya adalah kemantapan peneliti menggunakan metode
kualitatif yakni karena peneliti akan menggali sedikit banyak informasi
terkait dengan fokus permasalahan yang sudah ditetapkan. Dan dari data
yang dipeoleh peneliti akan menganalisis dan mengolahnya menjadi
sebuah laporan yang terperinci dan mendalam, sehingga dapat dipahami.
Setiap orang hendaknya mempunyai serangkaian prosedur yang telah
dikembangkan dengan baik untuk menganalisis data ilmu sosial dan
menyusun laporanya. Tiga prosedur penting mendapat perhatian lebih
lanjut; pertama, kebenaran dengan taktik umum untuk memulai suatu
laporan; kedua, mencakup persoalan apakah kasus tersebut untuk
mengidentifikasi persoalan yang berurutan; ketiga, mendeskripsikan
suatu prosedur tinjauan ulang guna meningkatkan validitas konstruk
suatu penelitian kualitatif (Suprayogo dan Tobroni. 2003:206).
2. Lokasi dan Subyek Penelitian
11

Obyek dalam penelitian ini adalah penerapan manajemen sekolah


berbasis pesantren di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Nurul
Amal Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang Nurul Amal
yang berada di lingkungan pesantren. MTs Pesantren Satu Atap Nurul
Amal terletak di Dusun Kenteng, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Dalam penelitian ini penulis melibatkan beberapa subyek penelitian untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Subyek-subyek penelitian
tersebut adalah:
a. Kepala Sekolah

Kepala sekolah merupakan sosok paling penting dalam penelitian ini,


karena kepala sekolah menjadi pimpinan teratas dalam lembaga
pendidikan yang mana menjadi sumber data wawancara pertama untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti.
b. Wakil Kepala Bagian Kurikulum
Wakil Kepala sekolah sangat penting perananya. Karena wakil kepala
sekolah yang menjadi sumber data untuk digali informasinya terkait
dengan manajemen kurikulum yang telah dilaksanakan.
c. Wakil Kepala Kesiswaan

Wakil kepala kesiswaan merupakan peran penting dalam


mengembangkan prestasi siswa di sekolah. Dalam hal ini peneliti akan
menggali informasi tentang data kesiswaannya.
d. Bendahara Sekolah.

Bendahara sekolah sebagai seorang pengurus adsminitrasi yang


mengatur tentang estimasi dana pemasukan dan pengeluaran. Dalam hal
12

ini bendahara akan dimintai keterangan terkait dengan pengelolaan


keuangan sekolah tersebut.
e. Kepala Bidang Sarana dan Prasarana

Bidang sarpras yang mengatur tentang semua fasilitas yang dibutuhkan


dalam pembelajaran di sekolah. Peneliti akan meminta keterangan terkait
dengan segala sesuatu yang dibutuhkan sarana dan prasarana.
f. Kepala Bidang Tenaga Kependidikan

Bidang personalia adalah bidang yang mengatur tentang sema tenaga


pendidik dalam pembelajaran di sekolah. Pada bidang ini peneliti akan
mencari informasi tentang syarat menjadi pendidik.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Dokumentasi

Studi dokumtasi adalah segala segala sesuatu materi dalam bentuk


tertulis yang dibuat oleh manusia. Dokumen yang dimaksud adalah segala
catatanbaik dalam bentuk cacatan dalam bentuk kertas maupun
elektronik. Dokumen dapat berupa buku, artikel media massa, catatan
harian, manifesto, undang-undang, notulen, blog, halaman web, foto, dan
lainnya (Sarosa, 2012: 61).
Pada penelitian ini, penelititi akan menggali informasi dari dokumen yang
sudah ada untuk dicari beberapa informasi mengenai data tentang
dinamika organisasi keagamaan atau organisasi sekolah termasuk 13

prestasi yang pernah di peroleh, semua itu dapat digali lewat arsip atau
dokumen yang ada.
b. Wawancara

Wawancara adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan peneliti


dengan cara menanyakan secara langsung pada sumber informasi. Dalam
hal ini, sumber informasi adalah penduduk yang dapat memberikan
keterangan melalui media oral. Hal ini dapat dilakukan secara langsung
dalam pengertian bahwa pewawancara dan yang diwawancara bertatap
muka secara langsung, namun dapat juga dilakukan secara tidak langsung
melalui media telekomunikasi (Yunuus, 2010:357).
Peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara
wawancara terfokus, yaitu wawancara yang mana menetapkan sediri
masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.
Dalam persiapan wawancara, terutama wawancara bebas dan wawancara
terstruktur dibutuhkan panduan bagi peneliti. Panduan tersebut disebut
Interview Protocol. Panduan wawancara memuat apa saja yang setidaknya
harus digali dari partisipan dalam proses wawancara. Saat panduan telah
dipersiapkan dengan baik, maka wawancarabdapat dilakukan. Berikut ini
beberapa langkah cara kerja dalam melaksanakan wawancara (Sarosa,
2012: 50-51):
1) Pilih lokasi wawancara dengan gangguan semaksimal mungkin.
Gangguan yang dimaksud dapat berupa bisingan, suhu, maupun lokasi
yang tidak familiar.
14
2) Peneliti kemudian memulai dengan menjelaskan maksud dan tujuan
wawancara. Peneliti dapat menjelaskan garis besar penelitian.
3) Peneliti kemudian menjelaskan mengenai kerahasiaan dan kerelaan
dalam partisipasi penelitian.
4) Peneliti selanjutnya menjelaskan format wawancara.
5) Wawancara dilaksanakan sesuai dengan beberapa hal yang ingin
diketahui.
6) Wawancara diakhiri dengan memberikan kesempatan bagi partisipan
untuk menyampaikan hal-halyang kiranya dipandang penting dan relevan.
7) Selama wawancara jangan lupa mencatat atau merekam jika diijinkan.
c. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan


menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya. Oleh
karena itu, observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan
pengamatannya melalui hasil pancaindra mata serta dibantu dengan
pancaindra lainnya. Dari pemahaman atau observasi tersebut,
sesungguhnya yang dimaksud dengan metode observasi adalah metode
pengumpulan data yang dipergunakan untuk menghimpun data
penelitian. Suatu kegiatan pengamatanbaru dikategorikan sebagai
kegiatan pengumpulan data penelitaian apabila memiliki langkah sebagai
berikut (Bungin, 2006: 134):
1) Pengamatan digunakan dalam penelitian dan telah direncanakan
secara sistematik.
15

2) Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah


ditetapkan.
3) Pengamatan tersebut dicatat secara sistematik dan dihubungkan
dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan suatu yang hanya menarik
perhatian.
4) Pengamatan dapat dicek dan dikontrol.

Dalam hal ini observasi nonpartisipan dirasa cocok untuk menggali atau
mengobservasi secara langsung kegiatan yang dilakukan di obyek
penelitian. Diantaranya yaitu kegiatan siswa di sekolah dan kegiatan
santri di pondok pesantren tersebut.
4. Teknik Analisis Data

Dalam sebagian besar pendekatan kualitatif, analisis data tidak dilakukan


satu tahap saja, setelah data terkumpul. Analisis data kualitatif
merupakan proses sistematis yang berlangsung terus-menerus,
bersamaan dengan pengumpulan data. Analisis data kualitatif berkaitan
dengan:
a. Pengumpulan data

Data yang diperoleh di lapangan penelitian baik berupa catatan, rekaman,


ataupu dari dokumen akan diolah menjadi catatan sebagai komentar
peneliti.
b. Reduksi data

Memilah-milah data yang tidak beraturan menjadi potongan-potongan


yang lebih teratur dengan mengoding menyusunnya menjadi kategori dan
merangkumnya menjadi pola dan susunan yang sederhana (Daymon,
2008:369).
c. Penyajian Data
16

Miles dan Hubermen mengemukakan bahwa yang dimaksud penyajian


data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang
memberi kemungkinan adaya penarikan kesimpulan dan pengambilan
tindakan.
d. Menarik Kesimpulan dan Verifikasi
Verifikasi merupakan penarikan kesimpulan melalui diskusi dengan teman
atau analisis dari peneliti. Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari
satu kegiatan dari konfigurasasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga
diverifikasi selama kegiatan berlangsung (Suprayogo dan Tobroni,
2003:95).
G. Sistematika Penulisan

Pembahasan dalam skripsi ini di bagi menjadi lima bab, setiap bab
terdiridari beberapa sub bab, dimana masing-masing bab berdiri sendiri
namun saling berkaitan. Sebagai rincian penulis dijelaskan sebagai
berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Pendahuluan memuat: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, Manfaat Penelitian, Penegasan Istilah, Metode Penelitian, dan
Sistematika Penulisan Skripsi.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan dipaparkan tentang meliputi: teori Pesantren Satu
Atap, beberapa kinerja pelaksanaan manajemen sekolah yang ditijau dari
manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen keuangan,
manajemen sarana dan prasarana, manajemen ketenaga kependidikan
atau personalia serta faktor 17

pendukung dan penghambat sekaligus upaya yang harus dilakukan.


BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN
Bab ini berisi tentang gambaran umum MTs. PSA Nurul Amal, pelaksanaan
manajemen kurikulum, dan manajemen kesiswaan sekolah, manajemen
keuangan, manajemen sarana dan prasarana, manajemen personalia,
serta faktor penghampat dan pendukungnya.
BAB IV : PEMBAHASAN
Dalam bab ini dipaparkan tentang pelaksanaan manajemen kurikulum,
manajemen kesiswaan, manajemen keuangan, manajemen sarana
prasarana, serta manajemen personalia, faktor pendukung dan
penghambat pelaksanaan manajemen sekolah berbasis pesantren di MTs.
PSA Nurul Amal, serta upaya dalam meningkatkan manajemen sekolah.
BAB V : KESIMPULAN dan SARAN
Dalam bab ini terdiri dari kesimpulan, Saran-saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN 18

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia
1. Lembaga Pendidikan di Indonesia
a. Pengertian Pondok Pesantren

Pondok berasal dari kata funduk yang berarti hotel atau asrama. Pondok
berfungsi sebagai asrama bagian santri. Pondok merupakan ciri khas
tradisi pesantren yang membedakan dengan sistem pendidikan tradisional
di masjid-masjid yng berkembang di kebanyakan wilayah Islam negara-
negara lain (Muliawan, 2005:156-157).
Pesantren menurut Prof. John berasal dari bahasa Tamil, santri yang
berarti guru mengaji. C.C. Berg juga berpendapat bahwa istilah santri
berasal dari kata shastri (bahasa India) yang berarti orang yang tahu
buku-buku suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra, yang
berarti buku-buku suci, buku-buku agama, buku-buku tentang ilmu
pengetahuan (Muliawan, 2005:155).
Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang memberikan
pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu
agama Islam. Pondok peantren adalah gabungan dari pondok dan
pesantren. Istilah pondok, berasal dari kata funduk, dari bahasa arab yang
berarti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi di dalam pesantren
Indonesia, khususnya pulau jawa, lebih mirip dengan pemondokan dalam
lingkungan padepokan, yaitu 19
perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar
yang merupakan asrama bagi santri.
Sedangkan istilah pesantren secara etimologis asalnya pe-santri-an yang
berarti tempat santri. Santri murid mempelajari agama dari seorang Kyai
atau Syaikh di pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga
keagamaan, yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta
megembangkan dan menyebarkan ilmu agama dan Islam (Nasir, 2005:80-
81).
Pondok pesantren merupakan komunitas tersendiri dimana kyai, ustadz,
santri dan pengurus pesantren hidup bersama dalam satu lingkungan
pendidikan, berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-
norma kebiasaan tersendiri yang secara eksklusif berbeda dengan
masyarakat umum yang mengitarinya. Komunitas pesantren merupakan
suatu keluarga besar di bawah asuhan seorang kyai atau ulama, dibantu
oleh beberapa ustad. Dengan demikian unsur-unsur pesantren adalah: (1)
pelaku terdiri dari kyai, ustad, santri dan pengurus. (2) sarana perangkat
keras: misalnya masjid, rumah kyai, rumah ustad, pondok, gedung
sekolah, gedung-gedung lain untuk pendidikan seperti perpustakaan, aula,
kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri, keamanan. (3)
sarana perangkat lunak: kurikulum, buku-buku, dan sumber belajar lainya
(Yayasan Katana Bangsa, 2005:3-4).
b. Pesantren Satu Atap

Pondok Pesantren Satu Atap (PSA), yaitu pondok pesantren yang di


dalamnya memiliki lembaga pendidikan formal MI dan 20

kemudian mendapat sumbangan bantuan gedung untuk MTs dari


pemerintah Australia pada tahun 2009/2010. Bangunan tersebut cukup
baik dan memenuhi standar nasional pendidikan, tinggal bagaimana
mengembangkan dan memeliharanya (matnursomad.wordpress.com
diakses pada 12 April 2015).
Kepala Bidang Mapenda Kanwil Depag Jateng Drs H Khaeruddin MA
menambahkan, program pengembangan MTs satu atap dengan pesantren
ini dalam rangka mendorong penuntasan wajib belajar pendidikan dasar
(wajar dikdas) sembilan tahun.
Dalam tahun anggaran 2007/2008, program tersebut merealisasikan
bantuan lokal pada 146 pesantren. Targetnya, program ini akan
membantu 500 pesantren di seluruh Indonesia
(http://www.suaramerdeka.com diakses pada 13 April 2013).
Program bantuan AusAID di sektor pendidikan ini bertujuan untuk
membantu Indonesia mencapai program wajib belajar 9 tahun pada 2015.
Untuk itu Australia memfokuskan bantuannya pada pembangunan
sekolah-sekolah lanjutan. Berdasarkan data yang ada 96% anak-anak
Indonesia saat ini bersekolah di SD, namun hanya 75% saja yang
melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjutan. Pembangunan sekolah-
sekolah islam ini menurutnya penting karena sekolah islam banyak
menyasar kelompok masyarakat miskin terutama anak-anak perempuan.
Selain membangun sekolah-sekolah islam, program ini juga menyasar
peningkatan kualitas pendidikan di sekolah islam lewat bantuan
peningkatan akreditasi sekolah dan pelatihan bagi manajemen dan kepala
sekolah di sekolah-sekolah 21

Islam. Cendekiawan muslim, Jamhari Maruf, yang juga Pembantu Rektor I


Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan
program bantuan pembangunan sekolah-sekolah Islam yang dilakukan
Australia sangat bermanfaat karena menjawab 5 permasalahan mendasar
yang dialami mayoritas sekolah islam di Indonesia: infrastruktur yang
buruk, SDM yang lemah, manajemen sekolah yang tradisional, wawasan
yang sempit dan keterbatasan finansial (http://www.radioaustralia.net.au/
di akses pada 14 April 2015).
c. Sejarah

Sejak zaman penjajahan, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah


merupakan lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang di tengah-
tengah masyarakat. Eksistensi kedua lembaga tersebut telah lama
mendapat pengakuan dari masyarakat. Keduanya ikut terlibat dalam
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi moral,
namun telah pula ikut serta memberikan sumbangsih yang cukup
signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan. Lembaga tersebut dapat
berbentuk jalur pendidikan sekolah.
Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai
kekhasan tersendiri dan berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan
Islam di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan
kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik
pada pesantren disebut santri yang umumnya menetap di pesantren.
Tempa dimana santri menetap, di 22

lingkungan pesantren, disebut dengan istilah Pondok. Dari sinilah timbut


istilah Pondok Pesantren.
Ditinjau dari segi hitorisnya, pondok pesantren adalah bentuk lembaga
pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Pondok pesantren sudah dikenal
jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sejak Islam masuk ke Indonesia
terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan dunia
pendidikan pada umumnya.
Menelusuri tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan
agama Islam di Indonesia, termasuk awal berdirinya pondok pesantren
dan madrasah diniyah tidak terlepas hubunganya dengan sejarah
masuknya Islam di Indonesia. Pendidikan Islam di Indonesia bermula
ketika orang-orang yang masuk Islam mengetahui lebih banyak isi ajaran
agama yang baru dipeluknya, baik mengenai tata cara beribadah,
membaca Al-Quran dan pengetahuan Islam yang lebih luas.
Sejarah pendidikan di Indonesia mencatat, bahwa pondok pesantren
adalah bentuk lembaga pendidikan pribumi tertua di Indonesia. Ada dua
pendapat mengenai awal berdirinya pondok pesantren di Indonesia.
Pendapat pertama menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada
tradisi Islam sendiri dan pendapat kedua mengatakan bahwa sistem
pendidikan model pondok pesantren adalah asli Indonesia. Dalam
pendapat pertama ada dua versi, ada yang berpendapat bahwa pondok
pesantren berawal sejak zaman Nabi masih hidup. Dalam awal-awal
dakwahnya, Nabi melakukan dengan sembunyi-sembunyi dengan peserta
sekelompok orang, dilakukan 23

dirumah-rumah. Versi kedua menyebutkan bahwa pondok pesantren


mempunyai kaitan yang erat dengan empat pendidikan yang khas bagi
kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di
Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan
tarekat yang melaksanakan amalan-amalan zikir tertentu (Departemen
Pendidikan Agma RI, 2003:7-8).
d. Tipologi Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbeda dalam


pengelolaan sistem pembelajaranya, selain itu juga berbeda dalam
pandangan hidup tata nilai yang dijadikan landasan. Pondok pesantren
masing-masing memiliki keistimewaan yang bereda-beda, meskipun
demikian pondok pesantren juga memiliki persamaan. Hal ini menjadikan
sebuah lembaga pondok pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang
menjadi ciri khas. Dari tingkat konsistensi, secara garis besar pondok
pesantren dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk yaitu:
1) Pondok Pesantren Salafiyah

Salaf artinya lama, dahulu, atau tradisional. Pondok pesantren


salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelajaran
dengan pendekatan tradisional, sebagimana yang berlangsung sejak awal
pertumbuhannya. Pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam dilakukan secara
individual atau kelompok dengan konsentrasi pada kitab-kitab klasik.
Penjenjangan tidak didasarkan pada satuan waktu, tetapi berdasarkan
pada tamatnya kitab yang telah dipelajari. Pada pesantren salafiyah tidak
dikenal dengan yang 24

namanya kurikulum dalam pengertian kurikulum pada lembaga


pendidikan formal. Kurikulum pada pesantren salafiyah disebut manhaj,
yang dapat diartikan sebagai arah pembelajaran tertentu. Manhaj pada
pondok pesantren ini tidak dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa
funun kitab-kitab yang akan diajarkan pada santri (Departemen
Pendidikan Agama RI, 2003:31).
Sebagaimana kurikulum, madrasah atau sekolah yang diselenggarakan
oleh pondok pesantren juga menggunakan metode pembelajaran yang
digunakan di pondok pesantren ini. Metode pembelajaran dapat diartikan
sebagai cara-cara yang dipergunakan untuk menyampaikan ajaran
sampai tujuan tercapai. Di dalam pondok pesantren salafiyah metode
pembelajaran yang sering di pergunakan adalah metode sorogan. Sorogan
berasal dari kata sorog (Bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab
setiap santri menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya
badal, (asisten kyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar secara
individual, dimana seoang santri berhadapan dengan seorang guru, dan
terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem ini
memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai, dan membimbing
secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi
pembelajaran. Selain metode sorogan, di pondok pesantren salafiyah juga
menggunakan metode wetonan bandongan. Istilah weton berasal dari
kata wektu (Bahasa Jawa) yang berarti waktu, sebab pengajian
tersebutdiberikanpada waktu-waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah
melaksanakan shalat fardhu. Metode weton ini merupakan metode kuliah,
dimana 25

para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiyai yang


menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-
masing dan membuat ringkasan sendiri (Nasir, 2005:110-113).
2) Pondok Pesantren Khalafiyah (Ashriyah)

Khalaf artinya kemudian atau belakang, sedangkan ashri artinya


sekrang atau modern. Pondok pesantren khalafiyah adalah pondok
pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan
pendekatan modern, melalui satuan pendidikan formal baik madrasah
atau sekolah umum. Pembelajaran pondok pesantren khalafiyah dilakukan
secara berjenjang dan berkesinambungan, dengan satuan program
didasarkan pada satuan waktu (Departemen Pendidikan Agama RI,
2003:30).
Pondok pesantren khalafiyah adalah pndopondok pesantren yang
mengadopsi sistem madrasah madrasah atau sekolah, dengan kurikulum
disesuaikan dengan kurikulum pemerintah, baik dari Departemen Agama
maupun Departemen Pendidikan Nasional. Pondok pesantren khalafiyah
biasanya menyelenggarakan kegiatan pendidikan dengan jalur sekolah,
baik itu dengan jalur sekolah umum (SD, SMP, SMA), maupun sekolah
berciri khas agama Islam (MI, MTs, MA). Biasanya kegiatan pembelajaran
pesantren memiliki kurikulum yan berjenjang . metode yang digunakan
sudah adaptif atau sudah mengadaptasi metode-metode baru, seperti
Tanya jawab, diskusi, karya wisata.
3) Pondok Pesantren Campuran/ Kombinasi
26

Pondok pesantren campuran ini adalah kombinasi antara pondok


pesantren salafiyah dan pondok pesantren khalafiyah. Pondok pesantren
ini menggunakan pendekatan pembelajaran dengan cara
mengombinasikan metode kedua pesantren tersebut.
Ciri khas pesantren modern berupaya memadukan tradisionalitas dan
modernitas pendidikan. Sistem pengajaran weton dan sorogan diganti
dengan sistem klasikal (pengajaran di dalam kelas) yang berjenjang dan
kurikulum terpadu diadopsi dengan penyesuaian tertentu. Dikotomi ilmu
agama dan umum juga dieleminasi. Kedua bidang ilmu ini sama-sama
diajarkan, namun dengan proporsi pendidikan agama lebih mendominasi.
Pembagian pondok pesantren tidak hanya didasarkan pada
penyelenggaraan pendidikan agama. Ada pembagian lain dibuat
berdasarkan penyelenggaraan fungsinya sebaga lembaga pengembangan
masyarakat melalui program pengembangan usaha (Departemen
Pendidikan Agama RI, 2003:30).
B. Sekolah berbasis Pesantren
Dalam pembukaan undang-undang dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945 mengamanatkan pemerintah Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan keerdekaan
Indonesia, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Bertujuan
berkembangnya potensi anak didik menjadi manusia beriman dan
bertaqwa kepada tuhan yang maha esa,berakhal mulia, 27

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri menjadi warga Negara yang


bertanggung jawab.
Semenjak dikeluarkanya Keppres No. 34 tahun 1972 dan Inpres No. 15
tahun 1974, pemerintah mengambil kebijakan yang lebih
operasionalterhadap madrasah. Dikeluarkannya SKB (Surat Keputusan
Bersama) Tiga Menteri, yaitu: Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri. Kedudukan Madrasah dalam
pendidikan nasional lebih dipertegas lagi dalam Keputusan Menteri Agama
RI No. 372 tahun 1993 tentang Kurikulum Pendidikan Dasar Berdiri
Khaskan Agama Islam. Dalam keputusan ini dinyatakan bahwa Madrsaah
Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah melaksanakan kurikulum nasional
sekolah dasar dan sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Posisi intregrasi
Sistem Pendidikan Nasional selain terlihat pada beberapa poin diatas juga
tercermin dalam beberapa aspek sebagai berikut (Zulkarnain, 2008:34).
a. Pendidikan nasional menjadikan pendidikan agama sebagai salah satu
muatan wajib dalam semua jalur dan jenis pendidikan. Kebijakan ini tentu
berarti dalamproses intregrasi pendidikan secara nasional.
b. Madrasah dalam sistem pendidikan nasional, dengan sendirinya
dimasukkan dalam kategori pendidikan jalur sekolah.
c. Meskipun Madrasah diberi status pendidikan jalur sekolah tetapi sesuai
jenis keagamaan dalam sistem pendidikan nasional, Madrasah memiliki
jalur khusus ilmu-ilmu syariah.
1. Manajemen
a. Pengertian Manajemen 28

Ditinjau secara terminologi kata manajemen memiliki banyak makna.


Beberapa pengertian manajemen dan perspektif para pakar, antara lain,
sebagai berikut:
1) Nanang Fattah dalam bukunya Landasan Teori Manajemen Pendidikan
memberikan batasan tentang istilah manajemen, yakni: Manajemen
merupakan proses merencana, mengorganisasi, memimpin dan
mengendalikan upaya organisasi dngan segala aspeknya agar tujuan
organisasi tercapai ecara efektifdan efisien (Fattah, 2004:1).
2) Oemar Hamalik dalam bukunya Manajemen Pengembangan Kurikulum
memberikan batasan kata manajemen sebagai berikut: Manajemen
adalah suatu proses social yang berkenaan dengan keseluruhan usaha
manusia dengan bantuan manusia lain serta sumber-sumbr lainya
menggunakan metode yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan
yang ditentukan sebelumnya (Hamalik, 2006:16).

b. Manajemen Modern
Manajemen sebenarnya sudah ada semenjak keberadaan manusia. Hal ini
dapat dilihat dari keberadaan bangunan-bangunan ataupun monumen-
monumen yang dibangun oleh peradaban kuno. Seperti dibangunnya
Piramid Cheops oleh arsitek Mesir kuno pada tahun 3000 SM. Di Indonesia,
manajemen sudah dipraktikkan semenjak masa prasejarah. Adanya Candi
Borobudur pada abad ke-8 dan Candi Prambanan pada abad ke-9
merupakan salah satu bukti bahwa manajemen sudah lama dipraktikkan
di Indonesia. (Husaini, 2013: 31). 29

Masa manajemen modern berkembang melalui dua jalur yang berbeda.


Jalur yang pertama merupakan pengembangan dari aliran hubungan
manusiawi yang dikenal dengan perilaku organisasi, dan yang lain
dibangun atas dasar manajemen ilmiah, dikenal sebagai aliran kuantitatif.
Ada tiga pendekatan yang sering dipakai dalam aliran manajemen modern
yaitu, pendekatan perilaku organisasi, pendekatan sistem, dan
pendekatan kontingensi.
1. Pendekatan Perilaku Organisasi.

Pendekatan ini memandang bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh


system sosialnya. Tokoh-tokoh pendekatan ini sebagai berikut:
1) Maslow yang terkenal dengan teori hierarki kebutuhan untuk
menjelaskan perilaku manusia dalam kaitannya dengan motivasi manusia.
2) Mc Gregor dengan teori X dan Y.
3) Herzberg dengan teori dua faktor.
4) Mc Clelland dengan teori need of power, need of affiliation dan need of
acievment.
5) Blake dan Mouton dengan teori Managerial Grid.
6) Likert dengan teori empat sistem.
7) Fiedler dengan pendekatan kontingensi dalam teori kepemimpinannya.
8) Schein dengan penelitian dinamika kelompoknya.
9) Vroom dengan teori ekspektasinya
30

10) Hersey dan Banchard dengan kepemimpinan situasionalnya, dan lain-


lain (Husaini, 2013: 49).

Beberapa prinsip dasar penting yang dapat disimpulkan dari pendapat


para tokoh manajemen modern adalah sebagai berikut:
1) Manajemen tidak dapt dipandang sebagai suatu proses teknik secara
ketat (peranan, prosedur, prinsip).
2) Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus
dengan pertimbangan secara hati-hati.
3) Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendeatan manjer individual
untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
4) Pendekatan motivasional yang menghasilkan komiten pekerja terhadap
tujuan organisasi yang sangat dibutuhkan (Handoko, 2009: 54).
2. Aliran Kuantitatif

Aliran kuatitatif atau yang disebut juga aliran management science


digunakan dalam banyak kegiatan seperti penganggaran modal,
manajemen aliran kas, scheduling produksi, dan lain-lain. Langkah-
langkah pendekatan management science biasanya adalah sebagai
berikut: 1) Perumusan Masalah, 2) Menyusun suatu model matematis.
3)Mendapatkan penyeselesaian dari model. 4) Pengujian model dan hasil
yang didapatkan dari model. 5) penetapan pengawasan atas hasil-hasil. 5)
Implementasi hasil dalam kegiatan (Handoko, 2009: 55)
c. Prinsip Manajemen
Pentingnya prinsip-prinsip dasar dalam praktik manajemen antara lain: 1)
menetukan cara/ metode kerja; 2) pemilihan pekerja dan 31

pengembangan keahlianya; 3) pemilihan prosedur kerja; 4) menentukan


batas-batas tugas; 5) mempersiapkan dan membuat spesifikasi tugas; 6)
melakukan pendidikan dan latihan; 7) menentukan sistem dan besarnya
imbalan. Semua itu dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas,
efisiensi, daan produktivitas kerja (Fattah, 2004:12).
d. Tujuan Manajemen
Apa yang menjadi tujuan manajemen? Menurut Shrode Dan Voich (1947)
tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan kepuasan. Mungkin
saja tujuan ini tidak tunggal bahkan jamakatau rangkap, seperti
peningkatan mutu pendidikan/ lulusanya, keuntungan/ profit yang tinggi,
pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan daerah/ nasional,
tanggungjawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan
dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan
dan kelemahan, peluang, dan ancaman (Fattah, 2004:15).
e. Manajemen Sebagai Sistem
Ilmu Manajemen yang menjadi prasarat berjalannya program pendidikan
secara sistematis dan kontinu harus menjadi sebuah system dalam
lembaga pendidikan. Jangan sampai manajemen terebut hanya Lips
Service, pemanis lidah, tetapi kosong dalam praktik. Dengan menjadikan
manajemen sebagai system, kontinuitas program dapat dijamin, dan
tujuan jangka panjang bias terealisasikan, tidak terputus dan terpotong di
tengah jalan karena kepentingan personal dan primordial. Inilah yang
terjadi dinegara-negara maju. Mereka mempunyai tujuan jangka panjang.
Sistem adalah suatu kesatuan yang 32

utuh dengan bagian-bagianya yang tersusun secara sistematis, yang


mempunyai relasi satu dengan yang lain, dan sesuai dengan konteknya.
Jadi ciri-ciri sistem antara lain, merupakan suatu kebulatan: mempnyai
bagian-bagian yang disebut sebagai sub sistem, sub-sub sistem dan
seterusnya sampai bagian terkecil yang disebut komponen. Bila sekolah
atau pendidikan dipandang sebagai sistem, maka ia termasuk sistem
terbuka begitu pula halnya dengan manajemen. Sistem terbuka
mempunyai arti sekolah, pendidikan, atau manajemen tidak mengisolasi
diri dari lingkunganya, melainkan selalu megadakan kontak hubungandan
kerja sama.
Dalam pembahasan manajemen kita perlu memakai pendekatan
sistem,karena gerakan sistem adalah sesuatu yang baru cocok diterapkan
dalam bidang pendidikan pada umumnya dan anajemen khususnya,
masih ada gerakan ang mutakhir dalam adsmnitrasi , yaitu cintigency
atau pendekatan situasional. Namun, pendekatan ni tidak dipilih
mengingat pendekatan sistemitu sendiri bias merangkul pendekatan
situasional berkat keterbukaanya terhadap lingkungan (Asmani, 2009:84).
2. Manajemen Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam

Agar dapat menjawab tantangan perubahan yang terjadi dalam lembaga


pendidikan Islam, manajemen pengembangan harus senantiasa dilakukan
dengan cara terus menerus. Manajemen pengembangan lembaga
pendidikan Islam dilaksanakan melalui kegiatan POAC (planning
organizing, actuating and controlling) (Baharuddin, 2010:98-33

99). Penjelasan masing masing kegiatan manajemen tersebut akan


diuraikan pada bagian berikut ini:
a. Perencanaan (Planning)

G.R Terry menyebutkan bahwa perencanaan adalah kegiatan memilih dan


menghubungkan fakta dan menggunakan sejumlah asumsi mengenai
masa datang dengan jalan menggambarkan dan meluruskan kegiatan-
kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan (Abbas,
2009: 97).
Roger A. Kauffman (1972) seperti yang dikutip oleh Fattah (2004:49)
menjelaskan bahwa perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau
sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang
diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin.
Sedangkan Burhanuddin mengatakan mengenai perencanaan sebagai
berikut, bahwa pada dasarnya perencanaan merupakan suatu kegiatan
yang sistematis mengenai apa yang akan dicapai, kegiatan yang harus
dilakukan, langkah-langkah, metode-metode, pelaksanaan (tenaga) yang
dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pencapaian
tujuan (Baharuddin, 2010:99).
Dari beberapa definisi diatas, dapat diambil sebuah pemahaman bahwa
perencanaan pada lembaga pendidikan Islam merupakan kegiatan
sistematis merancang sumber daya lembaga, meliputi mengenai apa
yang akan dicapai (diidealkan), kegiatan ang perlu dilakukan untuk
mencapai tujuan dan memilih pelaksana kegiatan yang tepat bagi usaha
pencapaian tujuan. 34

Dalam hal ini kaitannya dengan perencanaan pendidikan Islam dapat


dilakukan beberapa langkah antara lain (Baharuddin, 2010:100):
1) Mengkaji kebijakan yang relevan. Pengembangan lembaga pendidikan
agama Islam tidak bolehbertentangan dengan kebijakan yang berlaku
baik dari pemerintah pusat maupu daerah. Misalnya tentang penggunaan
krikulum.
2) Menganalisis kondisi lembaga. Langkah ini dilakukan untuk
menegetahui keadaan, kekuatan, kelemahan, kekurangan lembaga untuk
dicari jalan keluar yang tepat. Dalam hal ini dapat digunakan dengan
teknik analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat).
3) Merumuskan tujuan pengembangan, berdasarkan kebijakan yang
berlaku dan analisis kondisi lembaga, maka selanjutnya harus dirumuskan
tujuannya, baik dalamjangka panjang maupun jangka pendek.
4) Merumuskan dan memilih alternative program. Berdasarkan hasil
analisis kemudian perlu dikembangkan beberapa alternative program atau
kegiatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
5) Menetapkan langkah-langkah kegiatan pelaksanaan. Sebelum
dilaksanakan alternatif program yang dipilih, perlu dilakukan penjabaran
secara rinci, sampai pada tahap-tahap pelaksanaanya.
b. Pengorganisasian (Organizing)
35

Dalam pengertian yang lebih utuh pengorganisasian merupakan suatu


proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur
serta menbagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota
organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien (Daryanto,
2013: 86)
Dalam kontek pendidikan Islam pengorganisasian sebagai proses
membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan
tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya. Dalam
hal ini perlu dilakukan beberapa tahap dalam pengorganisasian
pendidikan. Tahap pertama,yang harus dilakukan dalam merinci pekerjaan
adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan organisasi. Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja
menjadi kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perorangan atau
perkelompok. Di sini perlu diperhatikan orang-orang yang diserahi tugas
harus didasarkan pada kualifikasi, tidak dibebani terlalu berat dan juga
terlalu ringan. Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota
dengan cara yang rasional, efisien, pengelompokan tugas saling
berkaitan, jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Penyatuan
kerja ini biasanya disebut departementalisasi. Tahap keempat,
menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam
satu kesatuan yang harmonis. Tahap kelima, melakukan monitoring dan
mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan
meningkatkan efektifitas. Karena pengorganisasian merupakan suatu
langkah yang bekelanjutan. 36

Dengan perumusan seperti di atas, dapat dipahami bahwa


pengorganisasian merupakan langkah ke arah pelaksanaan rencana yang
telah disusun sebelumnya. Jadi kegiatan pengorganisasian merupakan
fungsi organik yang kedua dalam manajemen. Dalam fungsi
pengorganisasian terdapat sekelompok orang yang mau bekerja sama,
ada tujuan yang hendak dicapai ada pekerjaan yang akan dikerjakan, ada
pembagian tugas yang jelas, pengelompokan kegiatan, menyediakan alat-
alat yang dibutuhkan untuk aktifitas organisasi, ada pendelegasian
wewenang antara atasan dan bawahan dan pembuatan struktur
organisasi yang efektif dan efisien.
c. Penggerakan (Actuating)

Menurut George R. Terry penggerakan adalah tindakan mengusahakan


hubungan-hubungan kelakuan ang efektif antara orang-orang, sehingga
mereka dapat bekerjasama secara efisien. Dengan demikian mereka
dapat memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakantugas-tugas
tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau
sasaran tertentu (Abbas, 2009: 101).
Dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan lembaga Islam perlu
dilakukan beberapa hal untuk menunjang semua kegiatan yang akan
dilaksanakan. Dalam proses actuating (penggerakan) ini hal yang perlu
dilakukan yaitu memilh seorang pemimpin yang akan bertanggung jawab
pada semua kegiatan yang akan dilaksanakan. Karena pada hakikatnya
pemimpin adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi perilaku orang lain didalam kerjanya dengan
menggunakan kekuasaan. Jadi dalam hal ini pimpinan dalam 37
lembaga pendidikan mempunyai kekuasaan untuk mengatur segala
aktifitas yang akan berlangsung dilaksanakan.
d. Pengawasan (Controlling)

Pengawasan adalah fungsi manajemen yang terakhir, namun bukan


berartiyang lain kurang penting. Pengawasan adalah pengamatan dan
pengukuran, apakah pelaksanaan dan hasil kerja sudah sesuai dengan
perencanaan atau tidak. Kalau tidak sesuai dengan rencana, apa
kendalanya dan bagaimana menghilangkan kendala tersebut agar hasil
kerja dapat sesuai dengan apa yang diharapkan (Abbas, 2009: 102)
Sedangkan Sarwoto memberikan batasan pengawasan sebagai kegiatan
manajer yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai
dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Ini berarti
betapa pun baiknya rencana, akan bisa gagal, apabila manajer tidak
melaksanakan pengawasan.
Tujuan pengawasan dalam lembaga pendidikan yakni untuk membantu
mempertahankan hasil atau out-put yang sesuai dengan syarat-syarat
sistem. Artinya dengan melakukan kerja pengawasan, diharapkan dapat
mencapai kualitas produk organisasi berdasarkan perencanaan yang telah
ditetapkan.
Dalam lembaga pendidikan, tahap pengawasan yang dilakukan
diantaranya adalah: 1) Menetapkan standar pelaksanaan pekarjaan.
Penentuan standar mencakup kriteria untuksemua lapisan pekerjaan yang
terdapat dalam suatu organisasi. Standar ialah kriteria-kriteria
untukmengukur pelaksanaan kegiatan. 2) Tahapan melakukan penilaian.
Untuk mengetahuai hasil yang diharapkan maksimal, dalam 38

penngawasan lembaga pendidikan dirasa perlu memberikan penilaian


terhadap segala sesuatu yang telah dilaksanakan. Apakah hasil yang
diharapkan sudah sesuai yang telah diharapkan. 3) setelah melakukan
penilaian terhadap segala hal yang telah dilaksanakan hal yang terakhir
untuk dilakukan dalam pengawasan adalah mengadakan tindakan
perbaikan, hal ini dalakukan untuk bisa menjadikan segala sesuatu yang
dikerjakan menjadi baik (Fattah, 1996:102).
Agar kegiatan pengawasan berjalan dengan baik, maka kemendiknas
(1989:19) mengemukakan beberapa poin penting melalui pelaksanaan
kegiatan pengawasan, yaitu:
1) Pengawasan bersifat membimbing dan membatu mengatasi kesulitan
dan bukan mencari kesalahan.
2) Bantuan dan bimbingan diberikan secara tidak langsung. Artinya
diupayakan agar yang bersangkutan merasa mampu mengatasi sendiri
masalahnya.
3) Balikan atu saran seharusnya segera diberikan dengan tujuan agar
yang bersangkutan segera memahami.
4) Pengawasan dilakukan secara periodic, artinya tidak menunggu sampai
terjadi hambatan.
5) Pengawasan dilakukan dalam suasana kemitraan.

3. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Madrasah dan Pesantren

Kurikulum sering dimaknai sebagai seperangkat mata pelajaran yang


harus ditempuh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Pandangan
demikian berimplikasi pada kegiatan pembelajaran di 39

sekolah/madrasah lebih mengacu pada ketuntasan materi. Hal ini


menyebabkan output yang dihasilkan lebih menitik beratkan kepada
kemampuan kognitif peserta didik. Kegiatan belajar mengajar yang
diusung hanya berpusat pada guru, sehingga aspek-aspek lain sering
terabaikan.
Setiap kegiatan ilmiah memerlukan suatu perencanaan dan organisasi
yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demkian pula
dengan pendidikan, diperlukan adanya program yang terencana dan
dapat menghantar proses pendidikan sampai pada tujuan yang
diinginkan. Proses, pelaksanaan, sampai pelaksanaan kurikulum.
Dalam merancang kurikulum, minimal ada tiga prinsip yang harus
dipegangi: pertama, pengembangan pendekatan religius kepada semua
cabang ilmu pengetahuan; kedua, isi pelajaran yang bersifat religious
seharusnya bebas dari ide dan materi yang jumud dan tak bermakna; dan
ketiga, perencanaan dan pembuatan kurikulum harus memperhitungkan
setiap komponen yang oleh Tylor sebagaimana dikutip Roqib disebut
sebagai tiga prinsip: kontinuitas/ kesinambungan, sekuensi dan intregasi
(Roqib, 2009:77).
Pengembangan kegiatan di pondok pesantren selalu bersifat konsisten,
yang mana selalu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Semua hal
yang teah diprogramkan di yayasan sekolah pesantren tidak lepas dari
kurikulum yang telah di terapkan. Hal ini tentu memerlukan manajemen
kurikulum yang baik, sarana-prasarana yang menunjang, dan seorang
kepala yang selalu berpean aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegatan.
Sebagaimana kurikulum yang 40

dilaksanakan di pondok pesantren juga mencakup kurikulum pembelajaan


di sekolah, karena tidak jauh berbeda.
4. Operasional Manajemen Pendidikan di Madrasah/ Sekolah Pesantren

Pengelolaan dalam bidang pendidikan sangatlah penting, hal ini dapat


menjadikan mutu pendidikan yang meningkat, pencapaian hasil
pembelajaran juga akan menjadi maksimal. Apabila banyak kekurangan
dalam mengelola pendidikan akan lebih baik lagi jika manajemen mutu
pendidikan harus dioptimalkan lagi.
a. Manajemen Kurikulum

Salah satu komponen operasional pendidikan Islam sebagai sistem adalah


kurikulum. Jika dikatakan kurikulum, maka ia mengandung pengertian
bahwa materi yang diajarkan atau didikan telah tersusun sistematik
dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dan sasaran pendidikan yang
tertuang pada kurikulum lembaga pendidikan terseleksi secara baik dan
tepat. Materi pendidikan harus megacu pada tujuan, karenanya
pendidikan tidak bisa berdiri sendiri terlepas dari kontrol tujuannya.
Antara materi dan tujuan pendidikan harus senantiasa relevan dalam
proses kependidikan, karena keduanya merupakan kerja sistem yang
saling terkait dan berkesinambungan (Rosyadi, 2004:239).
Dalam rangka antisipasi kecenderungan masa depan madrasah yang akan
berkompetisi dengan lembaga lain, maka manajemen madrasah harus
ditata ulang. Manajemen yang selama ini mengandalkan faktor intuisi dan
pengalaman, harus diganti dengan 41

manajemen modern, sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh


Balitbang Depag RI yaitu Manajemen Berbasis Madrasah (MBM). MBM
merupakan institusi sosial yang mengandung makna kewenangan
pengambilan keputusan dilihat dari perspektif peran madrasah yang
sesungguhnya. Oleh karena itu, MBM sering dikatakan sebagai upaya
memposisikan kembali peran madrasah yang sesungguhnya. MBM
memberikan peluang mengakomodasikan pihak-pihak berkepentingan
untuk berkontribusi secara positif terhadap peningkatan kinerja madrasah,
yang terefleksikan ke dalam perumusan visi, misi, tujuan serta program-
program prioritas madrasah yang disusun secara kolaboratif (Maimun,
2010:51).
Dalam sekolah pesantren kurikulum yang diberlakukan adalah kurikulum
nasional yang mana menekankan pada pola pendidikan formal
pemerintah telah memberikan kepercayaan kepada pesantren untuk
menyelenggarakan sistem sekolah melalui program belajar 9 tahun. Hal
ini juga menjelaskan bahwa pesantren juga harus melaksanakan fungsi-
fungsi sekolah, antara lain melaksanakan pendidikan dan pengajaran
pesantren secara terstruktur.
b. Manajemen Kesiswaan

Manajemen kesiswaan atau manajemen kemuridan (peserta didik)


merupakan salah satu bidang manajemen sekolah. Manajemen kesiswaan
adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan
dengan peserta didik mulai masuk sekolah hingga keluarnya peserta didik
dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk
pencatatan data peserta didik melainkan meliputi aspek yang 42

lebih luas secara operasional dapat membatu upaya pertumbuhan dan


perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan sekolah.
Manajemen kesiswaan bertujuan unuk mengatur berbagai kegiata dalam
bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan
lancer, tertib, dan teratur. serta mencapai tujuan pendidikan sekolah
(Mulyasa, 2009:46).
Manajemen Kesiswaan (peserta didik) menduduki tempat yang sangat
penting. Dikatakan demikian oleh karena sentral layanan pendidikan di
sekolah ada pada peserta didik. Semua kegiatan yang ada di sekolah, baik
yang berkenaan dengan manajemen pengajaran, tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, keuangan hubungan sekolah dengan masyarakat
maupun layanan kusus pendidikan, diarahkan agar kesiswaan (peserta
didik) mendapatkan pelayanan yang baik.
Kepala sekolah ialah orang yang diserai tanggung jawab tentang program
murid di sekolah. Pada umumnyabidang-bidang berikut termasuk di
dalamnya: (a) kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan; (b) peneriman, orientasi, klasifikasi, dan
penunjukan murid kepada kelas dan program studi; (c) evaluasi dan
pelaporan kemajuan murid; (d) supervisi program-program bagi bagi
murid yang mempunyai kelainan, seperti pengajaran, perbaikan dan
pengajaran luar biasa; (e) pengendalian disiplin murid; (f) program
bimbingan dan penyuluhan; (g) program kesehatan dan 43

keamanan; dan (h) penyesuaian pribadi, social dan emosional dari murid
(Mulyasa, 2002: 46).
Pada hakikatnya, tujuan dari pembinaan dan pengembangan peserta didik
itu sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional Indonesia yang tercantum
dalam GBHN. Peserta didik sebagai kader penerus perjuangan bangsa dan
pembangunan nasional, harus dipersiapkan sebaik-baiknya serta
dihindarkan dari segala kendala yang merusaknya, dengan memberikan
bekal secukupnya dalam kepemimpinan. Maksud pembinaan peserta didik
adalah mengusahakan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang
sebagai manusia seutuhnya sesuai tujuan pendidikan nasional
berdasarkan Pancasila. Tujuan inisiatifnya untuk menjaga membina
sekolah sebagai wiyatamandala, sehingga terhindar dari usaha pengaruh
yang bertentangan dengan kebudayaan nasional (Gunawan, 2011: 12)
c. Manajemen Keuangan Sekolah

Manajemen keuangan adalah segala aktivitas organisasi yang


berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana,
mengelola dana, dan mengelola aset sesuai tujuan organisasi secara
menyeluruh. Sedagkan manajemen keuangan sekolah adalah seluruh
proses kegiatanyang direncanakan dan dilaksanakan/ diusahakan secara
sengaja atau sungguh sungguh, serta pembinaan secara kontinu terhadap
biaya operasional sekolah sehingga kegiatan pendidikan lebih efektif dan
efisien serta membantu pencapaian tujuan pendidikan. Adapun prosedur
manajemen keuangan sekolah adalah a) Dana 44

masukan (input), b) Budgeting (perencanaan penganggaran), meliputi


kegiatan penentuan RAPBS, diajukan ke Kakanwil Provinsi disetujui oleh
BP3, disahkan Gubernur, APBS yang sah, c) Output (hasil usaha). Di setiap
organisasi biasanya terdapat bagian keuangan dan bagian ini merupakan
titik pusat dalam pengambilan keputusan ditingkat pemimpin puncak (top
management). Sehingga bagian keuangan bertanggung jawab atas
perumusan keijaksanaan keuangan suatu organisasi (Daryanto,
2013;141).
Demikian juga pada setiap sekolah yang pada setiap sekolah yang
memfungsikan organisasi pendidikan akan terdapat bagian keuangan.
Orang yang memimpin bagian keuangan disebut manajer/ bagian
keuangan. Manajer keuangan ini mempunyai dua tugas yaitu sumber
dana dan penggnaan dana.
Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar
dapat dikelompokan atas tiga sumber, yaitu (1) pemerintah, baik
pemerintah pusat, daerah maupun kedu-duanya, yang bersifat umum
atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan; (2) orang
tua atau peserta didik; (3) masyarakat baik mengikat atau tidak mengikat.
Berkaitan dengan penerimaan keuangan dari orang tua dan mayarakat
ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 1989
bahwa karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan
kebutuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara
pemerintah, masyarakat, dan orang tua (Mulyasa, 2002;41).
d. Manajemen Sarana Dan Prasarana
45

Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan secara langsung


dipergunakan untk menunjang proses pendidikan, khususnya proses
belajar-mengajar, seperti gedung, ruang kelas , meja, kursi, serta alat-alat
media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan sarana pendidikan
adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses
pendidikan atau pengajaran seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan
menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses
belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran bologi,
halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olah raga, tersebut
merupakan sarana pendidikan.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan
menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan
kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.
Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan,
pengawasan, penyimpanan inventarisasi, dan penghapusan serta
penataan
Manajemen sarana dan prasarana sekolah yang baik diharapkan dapat
menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehinga menciptakan
kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada
di sekolah. Disamping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau
fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif, dan relevan
dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk
kepentingan proses pendidikan dan pengajar maupun murid-murid
sebagai pelajar (Mulyasa, 2002;50).
e. Manajemen Tenaga Kependidikan
46

Kepegawaian adalah seluruh kegiatan yang berhubungan dengan


kepentingan pegawai dalam penjelasan umum Undang-undang No.8
tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian. Di dalamnya dijelaskan
bahwa yang dimaksud kepegawaian adalah segala hal yang berhubungan
kedudukan, kewajiban, hak dan pembinaan pegawai negeri (Daryanto,
2013;134).
Manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan
bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan
efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi
menyenangkan. Sehubungan dengan itu, fungsi pesonalia yang harus
dilaksanakan pimpinan adalah menarik, mengembangkan, menggaji, dan
memotivasi personil guna mencapai tujuan sistem, membantu anggota
mencapai posisi dan standar perilaku, memaksimalkan perkembangan
karier tenaga kependidikan, serta menyelaraskan tugas individu dan
organisasi.
Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup (1)
perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan
pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian
pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai. Semua itu perlu
dilakukan dengan baik dan benar agar apa yang harapan tercapai, yakni
tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan
kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan
baik dan berkualitas (Mulyasa, 2001:42).
f. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat.
47

Adsminitrasi hubungan sekolah dengan masyarakat merupakanseluruh


proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan
simpati dari masyarakat pada umumnya serta dari publiknya pada
khususnya, sehingga pada kegiatan operasional sekolah/pendidikan
semakin efektif dan efisien, demi membantu tercapainya tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya sekolah merupakan
bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, khususnya masyarakat
publiknya, seperti para orang tua murid/ anggota Badan Pembantu
Penyelenggaraan Pendidikan, dan sekolah akan menjadi harapanbahkan
dambaan masyarakatnya (Gunawan, 2011: 186).
Kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa
menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakatsecara
efektif karena harusmenaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada
peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orang tua tentang
sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan
meningkatkan hubungan kerjasama yang baik antara sekolah dan
masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan
yang harmonis ini akan membentuk: 1) saling pengertian antara sekolah,
orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain. 2) saling membantu
antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti
pentingnya peranan masing-masing. 3) kerjasama yang erat antara
sekolah dengan berbagai pihak yang ada dimasyarakat (Mulyasa, 2002:
51). 48

g. Manajemen Tata Laksana Pendidikan.

Adminitrasi tata laksana/ Tata Usaha Sekolah /Pendidikan merupakan


seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan/ diusahakan
secara sengaja dan bersungguh-sungguh, serta membina kegiatan-
kegiatan yang bersifat tulis-menulis (clericalwork) di sekolah, agar PBM
semakin efektif dan efisien untuk membantu tercapainya tujuan
pendidikanyang telah ditetapkan. Adsminitrasi tata laksaana merupakan
serangkaian kegiatan mencatat, menyimpan, menggandakan,
menghimpun, mengolah, dan mengirim benda-benda tertulis serta warkat
yang pada hakikatnya menunjang seluruh garapan adsminitrasi
pendidikan/sekolah (Gunawan, 2011: 170).
Secara singkat tunjangan adssminitrasi tata laksana terhadap garapan-
garapan Adsminitrasi sekolah adalah sebagai berikut (Gunawan, 2011:
170):
1) Terhadap peserta didik/Siswa. Sejak penerimaan siswa baru, mengisis
buku induk, penataan siswa daalam kelas, sampai siswa eksit daari
sekolah, semuanya banyak dilakukan kegiatan tulis menulis yang
melancarkan seluruh kegiatan adsminitrasi siswa.
2) Terhadap Adsminitrasi personel. Tidak banyak berbeda dengan
adsminitrasi siswa, maka sejak penerimaan pegaawai baru mulai
mencatat segala sesuaatu yang berkaitan dengan adsminitaari personaal.
49

3) Terhadap aadsminitrasi kurikulum. Seperti pembuatan satuan pelajaran


merupakan tugas guru sepenuhnya termasuk tata laksana juga evaluasi.
4) Terhadap adsminitrasi sarana dan prasarana. Tugas perencanaan
pengadaan, penyimpanan, dan seterusnya sampai penghapusan adalah
tugas adsminitrasi sarana dan prasaarana.
5) Terhadap adsminitrasi pembiyayaan. Pembuaatan rancana anggaran,
pembukuan, serta pengisisan buku kas, dan
mempertanggungjawabkannya.
6) Terhadap adsminitrasi tata laksana, sudaah jelas bahwa segaala
kegiatan adsminitrasi tata laksana merupakan tulis menulis.
7) Terhadap adsminitrasi hubungan sekolah. Pembuataan program,
pelaksanaan program sampai evaluasisertaa tindak lanjut merupakan
tugas adminitrasi humas.
8) Terhadap adsminitrasi organisasi. Kegiatan pengorgaanisassian
strukturaal dan tata jejangmemang erat hubungannya dengan tugas
pembuatan kebijakan, naamun semua itu tidak lepas dari kegiatan tulis
menulis.
9) Terhadap supervisi pendidikan. Tidak hanya terhadap delapan bidang
garapan saja, tetapi kepada keegiatan supervisi pun selalu mendapat
tunjangan yang tidak sedikit dari kegiatan tata laksana.
h. Manajemen organisasi sekolah.

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang didalamnya terdapat


kepala sekolah, guru-guru, pegawaai tata usaha, dan murid. Menurut
persekolahan di negeri kita, pada umumnya kepala sekolah 50

merupakan jabatan yang tertinggi di sekolaah itu sehingga dengaan


demikian kepala sekolah memegang peranan dan pimpinan segala
sesuatunya yang berhubungan dengan tugaas sekolaahke dalam
maaupun ke luar (Purwanto, 2012: 160).
i. Supervisi Pendidikan.

Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi-kondisi/ syarat yang


esensial, yang akan menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Jadi
ssupervisi mempunyai pengertian yang luas. Supervisi adalah segala
bantuan dari segala pemimpin sekolah, yang tertuju kepada
perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di
dalam mencapai tujuan pendidikan. Ia berupa dorongan, bimbingan, dan
berkesempatanbagi pertumbuhan keaahliandaan kecakapan guru-guru.
Dengan kata lain supervisi adalah suatu aaktivitas pembinaan yang
direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah laainnya
dalam melakukaan pekerjaan mereka secara efektif (Purwanto, 2012: 76).
Kepala sekolah merupakan atasan di dalam lingkungan sekolah. Dimana
seorang kepala sekolah memiliki peran strategis dalam memberi bantuan
kepada guru-guru dalam menstimulir guru-guru kearah usaha
mempertahankan suasana belajar mengajar yang lebih baik. E. Mulyasa
(2004:111), "Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala
sekolah yang berperan sebagai supervisor". Pelaksanaan proses
pembelajaran di kelas tidak, selamanya memberikan hasil yang sesuai
dengan yang diinginkan, ada saja kekurangan dan kelemahan yang
dijumpai dalam proses pembelajaran, maka untuk 51

memperbaiki kondisi demikian peran supervisi pendidikan menjadi sangat


penting untuk dilaksanakan. Pelaksanaan supervisi bukan untuk mencari
kesalahan guru tetapi pelaksanaan supervisi pada dasarnya adalah proses
pemberian layanan bantuan kepada guru untuk memperbaiki proses
belajar mengajar yang dilakukan guru dan meningkatkan kualitas hasil
belajar.
C. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Manajemen Sekolah
Berbasis Pesantren
Perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat
Indonesia khususnya sudah memasuki masyarakat informasi yang
merupakan kelanjutan dari masyarakat modern dengan ciri-cirinya yang
bersifat rasional, berorientasi kemasa depan terbuka, menghargai waktu,
kreatif, mandiri, dan inovatif. Sedangkan masyarakat informasi, mampu
bersaing, serba ingin tahu, imajinatif, mampu mengubah tantangan
menjadi peluang dan menguasai berbagai metode dalam memecahkan
masalah (Nata, 2007:77) .
Sebagai lembaga yang hidup di masyarakat, sekolah pesantren berkaitan
erat dengan dukungan warga, dukungan terentang sejak memahami,
mengakui, menerima kehadiran, ikut mengonfirmasikan, kesediaan
mengirimkan anak-anak untuk belajar, kehadiran dalam kegiatan-kegiatan
berkala sekolah.
Dewasa ini pendidikan Islam terus dihadapkan pada berbagai problema
yang kian kompleks. Karena itu upaya berbenah diri melalui penataan
SDM, peningkatan kompetensi dan penguatan institusi mutlak harus
dilakukan dan semua itu mustahil tanpa manajemen yang profesional. 52

Seperti diketahui bahwa sebagai sebuah sistem pendidikan Islam


mengandung berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain.
Komponen tersebut meliputi landasan tujuan kurikulum kompetensi dan
profesionalisme guru, pola hubungan guru dan murid, metodologi
pembelajaran sarana prasarana evaluasi pembiayaan dan lain
sebagainya. Berbagai komponen ini dilakukan tanpa perencanaan dan
konsep yang matang seringkali berjalan apa adanya, alami dan tradisional
akibat mutu pendidikan Islam acapkali menunjukkan keadaan yang
kurang membanggakan.
Problematika yang dihadapi pondok pesantren dikarenakan adanya
kendala pada perencanaan pondok pesantren yang kurang optimal.
sehingga dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya tidak berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Juga disebabkan minimnya personil yang
kompeten pada bidangnya dan sumber dana kurang memadai. Dalam
penyusunan perencanaan program kerja hendaknya diperhitungkan
secara terperinci tentang kondisi obyektif pondok pesantren,
pemasalahan, alternatif pemecahan, faktor pendukung dan penghambat
program, prioritas pengembangan program, indikator keberhasilan dan
langkah-langkah mencapai keberhasilan program, pengalokasian dan
waktu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika perencanaan
disusun dengan jelas dan bersifat terbuka serta rasional maka tujuan
dapat mudah dicapai.
Alat pendidikan merupakan faktor penting dalam melaksanakan kegiatan
pendidikan. Tanpa alat pendidikan (sarana dan prasarana pendidikan)
kegiatan pendidikan tidak bisa berlangsung. Alat pendidikan atau yang
disebut fasilitas pendidikan juga berfungsi memperjelas pemahaman dan
penguasaan siswa dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang
diajarkan para 53

pendidik. Tanpa fasilitas pendidikan dalam pembelajaran maka anak akan


memperoleh pengetahuan abstrak. Alat pendidikan dapat dibedakan
menjadi alat pendidikan dalam arti sarana dan prasarana, dan dapat
berarti metode pembelajaran (Supiana, 2008: 317).
Faktor pendukung dalam implementasi dan pengelolaan manajemen
sekolah berbasis pesantren dalam lembaga pendidikan Islam yang solid
diantaranya adalah; (1) Lembaga pendidikan memiliki otonomi terhadap
empat hal yang dimilikinya yaitu, kekuasaan dan wewenang,
pengembangan pengetahuan yang kesinambungan, akses informasi
kesegala pemberian dan pemberian penghargaan kepada setiap orang
yang berhasil. (2) Adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal
pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan instruksional serta non-
instruksional. (3) Adanya kepemimpinan pengelolaan lembaga pendidikan
Islam yang mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap
sumberdaya sekolah secara efektif. (4) Adaya proses pengambilan
keputusan yang demokratis serta keterlibatan secara aktif dari komite
sekolah atau madrasah lembaga pendidikan Islam sejenis. (5) semua
pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-
sungguh. (6) Adanya guidelines dari Departemen/ Lembaga terkait
sehingga mampu mendorong proses pendidikan disekolah secara efisien
dan efektif. Guidelines disini jangan sampai berupa peraturan-peraturan
yang mengekang dan membelenggu lembaga pendidikan Islam
(Baharuddin, 2011:101).
Dalam pelaksanaan manajemen sekolah berbasis pesantren juga banyak
di temui beberapa hambatan dalam melaksanaan pengelolaan
manajemen tersebut diantaranya, (1) pertumbuhan dan perkembangan
lembaga pendidikan Islam merupakan inisiatif atau gagasan personal
tanpa adanya 54

keterlibatan dari pihak pengelolaan lembaga pendidikan Islam. (2) Pola


hubungan interaksionalantar lembaga pendidikan agama Islam hanya
terbatas pada hubungan idiologis teologis, hubungan organisasional dan
hubungan kultural keagamaan saja. Tidak ditemukan hubungan kerja
secara profesional antara kedua lembaga. Sehingga kelihatan sekali
adanya jarak komunikasi baik secara struktural maupun kultural. (3)
Lembaga pendidikan Islam memiliki problem yang cukup signifikan dalam
pengelolaan pendidikan. Inio terlihat dari ketidak mampuan lembaga
pendidikan Islam dalam memiliki hak dan kewenangan untuk mengelola
pendidikan karena lembaga tersebut sudah merupakan hak tokoh
agama tertentu. Karena satuan pendidikan Islam juga tidak bisa
menentukan arah pengembangan lembaga karena sudah menjadi hak
otoritatif tokoh agama tertentu atau pendirinya (Baharuddin, 2011:93).
Selain beberapa faktor pendukung dan faktor penghambat yang telah di
kemukakan penulis diata, penulis menemulkan beberapa fator pendukung
dan penghambat lain dalam melaksanakan manajemen berbasis
pesantren. Dalam melaksanakan pengelolaan sekolah perlu di susun
beberapa kegiatan dalam melancarakan kegiatan manajemen sekolah,
diantaranya yaitu: a) Adanya komitmen yang kuat dari semua pemangku
kepentingan untuk memiliki sebuah panduan untuk dijadikan pedoman
dalam kinerjanya, b) Adanya potensi geografis dan sosiokultural yang
dimiliki sekolah dan lingkungan sekitarnya, c) Adanya sukap keterbukaan
dari kepala sekolah memungkinkan semua personil dapat
mengembangkan kreatifitas dan potensi secara optimal, d) keterlibatan
semua pemangku kepentingan dalam pengembangan program sekolah).
Sedangkan yang menjadi faktor penghambatnya adalah: a) Kurangnya
sarana prasarana dalam menunjang 55

kegiatan siswa, b) Kurangnya biaya dalam melaksanakan dann mengelola


kegiatan yang diadakan, c) Masih kurangnya personil atau tenaga yang
dimiliki keahlian di bidang tertentu untuk melaksanak program intra
maupun ekstra (Junaidi, 20011:99).
Namun demikian, faktor penghambat ini justru menjadi pemicu kepala
sekolah untuk berfikir kreatif dalam mensiasati dan memanfaatkan
sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
D. Upaya Dalam Meningkatkan Pelaksanaan Manajmen Sekolah
Berbagai macam upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia telah banyak dilakukan oleh pemerintah, seperti peningkatan
kemampuan tenaga pendidik, penyempurnaan kurikulum, sistem evaluasi,
atau mungkin juga melalui pembinaan manajemen. Namun upaya
tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan dalam peningkatan
SDM. Hal ini dikarenakan strategi pembangunan pendidikan lebih bersifat
input-output oriented yang kurang memperhatikan proses, pengelolaan
pendidikan yang sentralistik dan macro oriented, pendidikan dirancang
dan diatur secara ketat. Sehingga menyebabkan kurangnya keleluasaan
dan peluang kepala sekolah dan pemegang kepentingan untuk lebih
berdaya menuju sekolah mandiri. Agar sekolah lebih berdaya, maka perlu
memberikan kewenangan, kepercayaan dan kesempatan untuk mengelola
sendiri sesuai dengan kondisi obyektif dan mengacu pada pendidikan
secara nasional. Dengan demikian sekolah mempunyai otonomi yang luas
untuk merencanakan segala sesuatu yang akan dilakukan dan diputuskan
berdasarkan pada kebutuhan, tuntutan, dan cita-cita sekolah yang
dirancang bersama masyarakat. Karena itu sekarang ini sedang 56

digalakkan pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di


berbagai sekolah.
Ada empat teknik yang dapat dikembangkan dalam menetapkan
manajemen peningkatan mutu yaitu: school review, benchmarking,
quality assurance, dan quality control (Sallis, 2007:165).
1) School review adalah proses yang mengharuskan keterkaitan seluruh
komponen lembaga pendidikan bekerja sama dengan berbagai pihak yang
memiliki keterkaitan, misalnya orang tua, atau tenaga professional, untuk
mengevaluasi keefktifan kebijakan lembaga pendidikan, program dan
pelaksanaannya, serta mutu lulusannya. Dengan metode ini, kita dapat
membeberkan kelemahan, kekuatan, prestasi lembaga pendidikan dan
memberikan rekomendasi untuk penyusunan perencanaan strategis
pengembangan lembaga pendidikan di masa mendatang.
2) Benchmarking merupakan kegiatan untuk menetapkan standar, baik
proses, maupun hasil yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu,
untuk kepentingan praktis. Dengan demikian, standar tersebut
direfleksikan dalam realitas yang ada.

3) Quality assurance artinya bahwa konsep ini mengandung jaminan


bahwa proses yang berlangsung dilaksanakan sesuai dengan standard
dan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan demikian, dapat diharapkan
hasil (out put) yang memenuhi standar yang ditentukan pula.
57
4) Quality control merupakan suatu sistem yang untuk mendeteksi
terjadinya penyimpangan kualitas out put yang tidak sesuai dengan
standar. Konsep ini berorientasi pada out put untuk memastikan apakah
output sesuai dengan standar. Oleh karena itu, konsep ini menuntut
adanya indikator yang pasti dan jelas.
58

BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. GAMBARAN UMUM MADRASAH TSANAWIYAH PSA NURUL AMAL
1. Letak Geografis

Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Nurul Amal terletak di tepi


jalan raya Bandungan-Sumowono, yaitu di Desa Kenteng, Kecamatan
Bandungan, Kabupaten semarang. Madrasah ini terletak ditengah-tengah
obyek wisata Candi Gedong Songo, Water Park Bandungan, Umbul
Sidomukti, dan Pemancingan Blater. Dari kantor kecamatan Bandungan
kearah barat kurang lebih 1,5 km.
2. Sejarah

Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap Nurul Amal kemudian disingkat


menjadi MTs PSA Nurul Amal berdiri atau beroperasi sejak tanggal 01 Juli
2008 dengan tahun pelajaran 2008/2009, yang mana dalam proses
pembelajaara mengajarnya menggunakan asrama santri sebagai ruang
kelasnya dikarenakan madrasah belum mempunyai gedung sendiri
dengan sejumlah peserta didik atau santri sebanyak 12 orang. Ketika itu
sebagian santri tidak di asrama melainkan pulang pergi dari rumah ke
madrasah.
Seiring berjalannya waktu setelah sekolah mengadakan evaluasi terhadap
snatri-santri yang mukim ataupun yang tidak mukim ternyata kondisinya
sangat mengkhawatirkan mengingat kawasan atau lingkungan 59
Bandungan merupakan kawasan wisata dimana banyak sekali terdapat
tempat-tempat hiburan yang tidak pantas untuk dilihat oleh pelajar
sehingga di waktu bermusyawarah dengan pihak-pihak pesantren dan
ditetapkan bahwa tahun pelajaran berikutnya diwajibkan untuk semua
peserta didik mukim di asrama.
Pada tahun 2009 melalui program AIBEP (Australia Indonesia Basic
Education Program) yaitu kemitraan antara Australia dengan Indonesia
dalam hal ini Kementerian Agama berkesempatan mendapatkan bantuan
berupa paket pendirian Madrasah Tsanawiyah atau setingkat SLTP,
program ini diperuntukkan bagi lembaga pendidikan pesantren yang
menyelenggarakan wajardiknas dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN).
Dalam pembangunan ini lembaga ini mendapatkan paket dengan tipe M2
yaitu tiga ruang kelas, satu laboratorium, MCK, dan perpustakaan.
3. Visi, Misi, Tujuan dan Program Strategis
a. Visi

Terwujudnya generasi yang unggul dalam imtaq dan iptek


Dengan indikator-indikator sebagai berukut:
1) Memiliki keluhuran dalam iman dan taqwa yang meliputi cipta, rasa,
karsa, dan karya sesuai dengan syariat Islam.
2) Meningkatkan aktivitas keagamaan baik Ubudiyah maupun Ukhuwah
Islamiyah.
3) Memiliki keunggulan dalam bidang lifeskill dengan sarana prasarana
multimedia sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan
60

dunia di Kabupaten Semarang dan disesuaikan dengan potensi peserta


didik serta potensi madrasah.
4) Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik, karya ilmiah
remaja, serta meningkatkan perolehan kejuaraan pada lomba-lomba dan
pertandingan baik kreatifitas, kesenian, dan olahraga.
5) Meningkatkan kemampuan peseta didik dalam mengolah dan
mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) sebagai bekal
hidup mandiri.
b. Misi

Untuk mewujudkan visi tersebut maka MTs Nurul Amal Kenteng


Bandungan mempunyai misi sebagai beriku;
1) Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama Islam
2) Menyelenggarakan Tarbiyatul Islamiyah secara intensif dengan penuh
keteladanan
3) Menyediakan dan menyelenggarakan pendidikan teknologi dalam
bidang lifeskill
4) Menyelenggarakan pembelajaran dibidang akademik dan non akademik
5) Mencetak generasi yang mandiri memiliki jiwa kewirausahaan yang
tangguh serta berwawasan kebangsaan yang luas
c. Tujuan Madrasah
61

Pada tahun 2010 2014 MTs PSA Nurul Amal Kenteng Bandungan
berusaha mencapai tujuan;
1) Menghasilkan ghiroh atau semangat mencari ilmu atas dasar
kebutuhan bukan kewajiban.
2) Menghasilkan kader-kader yang berkualitas dalam menguasai dasar-
dasar islamiyah sebagai bekal amar maruf nahi mungkar.
3) Memenuhi standar pelayanan sarana dan prasarana pendidian
teknologi tepat guna (life skill) yang memadai.
4) Ikut serta dalam olimpiade matematika dan ipa serta lomba dibidang
kesenian dan olahraga sampai ke tingkat nasional.Menghasilkan karya-
karya yang dapat menunjang kemandirian siswa dalam berwirausaha.

d. Program Strategis Madrasah


1) Menyusun program pelaksanaan Masa Orientasi Siswa/santri.
2) Mengadakan pelatihan-pelatihan keagamaan secara intensif baik di
madrasah maupun di pesantren.
3) Meningkatkan program pengayaan dibidang ketrampilan (life skill)
4) Memberikan bimbingan yang maksimal terhadap santri atau peserta
didik yang memiliki bakat dan minat dibidang akademik dan non
akademik.
4. Prestasi Madrasah (Akademik dan Non Akademik)
62

Banyak prestasi yang telah diraih Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Nurul
Amal ini dari berbagai ajang perlombaan dan kategori, diantaranya adalah
sebagai berikut:
Tabel 3.1
Prestasi Akademik dan Prestasi Nonakademik
Nonakademik Prestasi
Akademik
Tahun Kejuara Prestasi Tahun Kejuara Prestasi
an an
2011 Olimpia Harapan 2010 MTQ Juara
de 1 Kec. Umum
Mapel
2010 MTQ Kab. Juara 1
2010 Pramuka Kab Juara 1
2011 Porseni Juara Umum
2011 Lomba lari Juara 1
2011 Pidato Juara 1