Anda di halaman 1dari 6

Syariahkah Leasing Syariah? | Panjimas.

com
amanasharia.com /2016/02/20/syariahkah-leasing-syariah-panjimas-com/

amanasharia 2/21/2016
SYARIAHKAH LEASING SYARIAH? | PANJIMAS.COM
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Berikut ini akan kami bahas mengenai skema Leasing Syariah yang tidak sesuai Syariah dan sesuai Syariah.
Tanggapan kami akan ada di bagian yang diawali dengan IFHAM dan tulisan yang ditanggapi akan diawali
dengan ARTIKEL

Mari kita mulai:

ARTIKEL:

PANJIMAS.COM Pertanyaan, bagaimana hukum membeli barang secara kredit dari perusahaan leasing dan
bagaimana hukum menjadi karyawan di sana? (Indra_Tasikmalaya)

Jawaban, Bismillahirrahmanirrahim, kredit yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan
pembeli merupakan transaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syariat.

Bahkan meskipun harga beli kredit lebih tinggi dibandingkan harga harga beli tunai. Inilah pendapat yang paling
kuat, yang dipilih oleh mayoritas ulama.

IFHAM:

Mari terlebih dulu kita definisikan makna KREDIT. Ada banyak jenis jual beli. Di antaranya adalah (1) Jual Beli
naqdan, yakni cash; (2) Jual Beli muajjal, yakni jual beli dengan pembayaran tunda/tempo tapi dibayarkan
semuanya nantinya; (3) Jual Beli taqsith, yakni jual beli dengan pembayaran tunda dan diangsur; (4) dan masih
banyak yang lain.

Rasulullah pernah bersabda bahwa ketika ada berbagai alternatif harga (dalam Jual Beli), maka pilihlah (salah
satu) harga (yang termurah) ATAU termasuk kategori Riba. Hadits shahih. Ini mempertegas kebolehan adanya
Jual Beli dengan ada banyak alternatif harga, namun HARUS MILIH SALAH SATU HARGA, baru deh Jual
Belinya SAH.

Misalnya ada alternatif harga (1) cash: 100 juta, (2) angsuran 5 tahun: 150 juta, (3) angsuran 10 tahun: 200 juta;
(4) dan lain lain. Nah ketika Nasabah milih angsuran (HUTANG) selama 10 tahun, maka harganya 200 juta
padahal harga cash-nya 100 juta. Ini boleh dilakukan.

Yang tidak logis kan penggunaan istilah KREDIT di Lembaga Keuangan atau Bank Murni Riba atau yang
dilakukan para rentenir. PINJAM (Qardh, atau Kredit) sebesar 100 juta tapi minta dibalikin 150 juta. Ini gak logis.
Gak ada transaksi Jual Beli.

Ingat wa ahallaLlaahul baya wa harramarribaa. Allah menghalalkan Jual Beli dan mengharamkan Riba. |
Dalam pengambilan profit, di mana ada Jual Beli (yang sah), di situ tidak ada Riba. Di mana ada Riba, maka di
situ tidak ada Jual Beli yang sah.

ARTIKEL:

Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Pertama, firman Allah,

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. (QS. Al-Baqarah: 282)

1/6
Akad kredit termasuk salah satu bentuk jual beli utang. Dengan demikian, keumuman ayat ini menjadi dasar
bolehnya akad kredit.

IFHAM:

Oke. Landasan ini logis. Namun perhatikan ya penggunaan istilah KREDIT yang BOLEH adalah ketika kredit
dilakukan untuk transaksi Jual Beli. Bukan pinjam meminjam. Dalam kaidah fikih, kredit ini disebut dengan istilah
Qardh, Kredit, Pinjaman yang bermakna juga: HUTANG. Pun jelas sah saja jika Kredit ini dimaknai sebagai
Kredit TANPA BUNGA. Kredit tanpa bunga ini beda dengan Kredit dengan bunga 0%. Esensinya sudah beda.
Kalau kredit di Lembaga Keuangan Syariah biasanya didefinisikan pada istilah tamwil (pembiayaan).

Mari selanjutnya kita gunakan saja istilah KREDIT untuk skema Kredit BERBUNGA. Dan kita gunakan istilah
PEMBIAYAAN untuk kredit yang tidak berbunga. Dan pembiayaan ini bisa banyak jenisnya. Hati-hati dan pelan-
pelan mencermati.

ARTIKEL:

Kedua, Hadits riwayat Aisyah radhiyalahu anha.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan
pembayaran dihutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya. (Muttafaqun alaih)

Pada hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan dengan pembayaran dihutang, dan
sebagai jaminannya, beliau menggadaikan perisainya. Dengan demikian hadits ini menjadi dasar dibolehkannya
jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan perkreditan adalah salah satu bentuk jual-beli dengan pembayaran
dihutang.

IFHAM:

Oke ini definisinya adalah jual beli dengan pembayaran hutang ya. Klo di Lembaga Keuangan Syariah disebut
Pembiayaan. Di lembaga Murni riba disebut Kredit Berbunga.

Ketiga, Hadits Abdullah bin Amer bin Al Ash radhiallahu anhu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita
tidak memiliki tunggangan, Maka Nabi memerintahkan Abdullah bin Amer bin Al Ash untuk membeli tunggangan
dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka Abdullah bin Amer bin Al Ashpun
seperintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta
yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat. (HR. Ahmad).

IFHAM:

Ini juga cocok.

ARTIKEL:

Hukum Kredit dengan Leasing

IFHAM:

Pelan-pelan ya. Akad berbasis dagang ini banyak jenisnya. Beda akad ya akan beda skema dan beda risiko.

ARTIKEL:

Istilah leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa-menyewa. Dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia, leasing diistilahkan sewa guna usaha.

Leasing dengan hak opsi (finance lease) banyak dilakukan dalam kredit motor, mobil, barang elektronik, furnitur,
dan lain-lain yang diberikan oleh berbagai bank atau lembaga pembiayaan.
2/6
Praktik yang biasa terjadi sebagai berikut (misal leasing motor): seorang (misal fulan) datang ke lembaga
pembiayaan dan ingin membeli motor secara kredit karena tak punya uang tunai. Lembaga pembiayaan
membeli motor dari suplier/dealer motor, lalu dilakukan akad leasing antara lembaga pembiayaan dengan Fulan
misalnya dalam jangka waktu tiga tahun. Dalam akad leasing itu terdapat fakta transaksi sebagai berikut:

Pertama, lessor (lembaga pembiayaan) sepakat setelah motor itu dia beli dari dealer/suplier, dia sewakan
kepada lessee selama jangka waktu tiga tahun.

IFHAM:

Skema tersebut terjadi pada skema leasing murni riba, terjadi 2 jual beli dalam 1 jual beli. Nahaa Rasuulullaahi
SAW an bayatayni fii bayatin. Rasulullah mencegah/melarang terjadinya 2 jual beli dalam 1 jual beli. Hadits
lain menyebut Nahaa Rasuulullaahi SAW an shafqatayni fii shafqah, yang oleh jumhur ulama, ini dimaknai 2
jual beli dalam 1 jual beli. Ada 2 transaksi jual beli yang dilakukan dalam 1 jual beli, baik jual beli barang
maupun jual beli jasa maupun jual beli manfaat dll. Dan kondisi ini juga tersyarat hanya dilakukan 2 pelaku yang
sama, objek sama dan waktu yang juga sama. | Pelan-pelan memaknai dan menafsirkan hal ini.

Dalam skema leasing syariah maka skemanya tidak demikian. Tidak ada sewa beli. Yang ada adalah Sewa
Berakhir Lanjut Milik. Dalam bahasa Arab, sewa milik adalah Ijarah maal bay, ini yang dilarang. Ini yang masuk
kategori 2 jual beli dalam 1 jual beli. Sedangkan dalam skema leasing syariah menggunakan skema Ijarah
Muntahiya bit Tamlik (IMBT), yakni sewa berakhir lanjut milik yang terdiri dari Ijarah Muntahiya bil hibah (sewa
berakhir lanjut hibah) ATAU Ijarah Muntahiya bil bay (sewa berakhir lanjut jual beli). Susunan akadnya sudah
tidak ada lagi 2 jual beli dalam 1 jual beli. Mungkin saja skemanya mirip, namun praktik operasional dan
risikonya beda. Jika di lapangan ada yang melenceng ya benerin dan ingetin aja.

Skemanya adalah Leasing Syariah menyewakan motor kepada Nasabah dengan terlebih dulu Leasing Syariah
JANJI (waad) bahwa jika sewa selesai maka motor dihibahkan oleh Leasing Syariah kepada Nasabah, atau jika
sewa selesai maka motor dijual oleh Leasing Syariah kepada Nasabah. | Sesederhana itu. Tidak ada akad Jual
Beli (barang/jasa/manfaat) yang TERJADI BERSAMAAN. Tidak ada. Akad sewa harus selesai dulu. Baru terjadi
hibah atau jual beli.

Ingat bahwa judul akadnya beda maka skema beda, risiko juga beda, hukumnya pun beda. | Perhatikan lagi
bahwa tidak ada jual beli bersamaan dengan sewa pada Leasing Syariah.

ARTIKEL:

Kedua, lessor sepakat setelah seluruh angsuran lunas dibayar dalam jangka waktu tiga tahun, lessee (Fulan)
langsung memiliki motor tersebut.

IFHAM:

Sampai di sini kelihatan skemanya sesuai Syariah. Asal ditaati runutannya. Sewa berakhir dulu, baru deh lanjut
hibah atau jual beli. Gak pake jual beli SEJAK AWAL. | Perhatikan rincian beda-nya.

ARTIKEL:

Ketiga, menurut fakta leasing yang ada, selama angsuran belum lunas dalam jangka tiga tahun itu motor tetap
milik lessor.

IFHAM:

Ini leasing murni riba. Ada angsuran jual beli yang belum lunas. Angsuran di Leasing Syariah adalah HANYA
ANGSURAN SEWA. Kalaupun nih KALAUPUN terpaksa mau pake skema ada angsuran Jual Beli, ya bukan
angsuran Jual Beli, namun angsuran untuk saving jika nanti akad jual beli sudah bisa dilakukan maka tinggal
ambil dana savingnya. Ini kalaupun saja mau diterapkan skema saving ya. Tetapi akad jual belinya tidak aka
nada dan tidak akan muncul sampai setelah sewa selesai. | Sekali lagi perhatikan rincian bedanya dan beda
rinciannya.

3/6
ARTIKEL

Keempat, motor itu dijadikan jaminan secara fidusia untuk leasing tersebut. Karena itu BPKB motor itu tetap
berada di tangan lessor hingga seluruh angsuran lunas. Konsekuensinya jika lessee (Fulan) tidak sanggup
membayar angsuran sampai lunas, motor akan ditarik oleh lessor dan dijual.

IFHAM

Ketika akad sewa sudah dilakukan, perhatikan lagi kata kata saya, ketika akad sewa sudah dilakukan, maka
barang MASIH menjadi MILIK PEMBERI SEWA, milik lembaga leasing syariah SAMPAI sewa selesai. Ketika
sewa sudah lunas, baru deh SECARA SAH bisa terjadi pemindahan kepemilikan. Pindah jadi milik nasabah baik
dengan cara HIBAH atau milih dengan cara jual beli.

ARTIKEL

Kelima, barang yang dijual belum selesai diserahterimakan. Maksudnya, ketika pihak lessor membeli motor dari
dealer, barang itu belum diserahkan/berpindah tempat dari dealer ke lessor, tetapi langsung dijual kembali
kepada lessee (fulan).

IFHAM

Dalam skema leasing, jual beli terjadi adalah SETELAH sewa lunas, setelah angsuran lunas. Ya
diserahterimakan aja. Simpel.

ARTIKEL

Leasing ini (finance lease) hukumnya haram, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama, dalam leasing terdapat penggabungan dua akad, yaitu sewa menyewa dan jual beli, menjadi satu
akad (akad leasing). Padahal hukum syara telah melarang penggabungan akad menjadi satu akad.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (HR. Ahmad, Al Musnad,
I/398).

IFHAM:

Setuju. Dalam skema Sewa Beli dalam definisi Sewa SEKALIGUS Beli, maka ini haram, karena ada 2 jual beli
dalam 1 jual beli.

Dalam skema Syariah tidak ada 2 jual beli dalam 1 jual beli. Yang ada adalah sewa dulu sampai angsuran lunas,
baru ada jual beli ATAU hibah.

ARTIKEL

Kedua, dalam akad leasing biasanya terdapat bunga. Maka harga sewa yang dibayar per bulan oleh lesse bisa
jadi dengan jumlah tetap (tanpa bunga), namun bisa jadi harga sewanya berubah-ubah sesuai dengan suku
bunga pinjaman. Atau apabila lesse telat membayar cicilan maka dikenakan denda yang pada hakikatnya
bunga. Maka leasing dengan bunga seperti ini hukumnya haram, karena bunga termasuk riba:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan
mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah [2] : 275)

IFHAM

4/6
Setuju. Skema sewa beli di leasing NONSYARIAH ini ada skema demikian.

Dalam skema Leasing Syariah tidak ada skema ini. Dalam Leasing Syariah yang ada adalah skema SEWA
SELESAI PINDAH MILIK (hibah ATAU jual beli). | Cermati bedanya.

ARTIKEL

Ketiga, dalam akad leasing terjadi akad jaminan yang tidak sah, yaitu menjaminkan barang yang sedang
menjadi obyek jual beli. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, Tidak boleh jual beli dengan syarat menjaminkan
barang yang dibeli.: (Al Fatawa al Fiqhiyah al Kubra, 2/287). Imam Ibnu Hazm berkata, Tidak boleh menjual
suatu barang dengan syarat menjadikan barang itu sebagai jaminan atas harganya. Kalau jual beli sudah
terlanjur terjadi, harus dibatalkan. (Al Muhalla, 3/437).

IFHAM

Tidak ada skema jual beli sampai SETELAH angsuran sewa lunas. Sehingga tidak perlu komentar lebih jauh lagi
terkait hal ini.

ARTIKEL

Keempat, terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan. Larangan menjual barang yang
belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya. Oleh sebab itu, barang
yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.

Ibnu Umar juga mengatakan,

Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus
pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi
ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali (HR. Muslim).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai
menerimanya.

Ibnu Abbas mengatakan,

Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan. (HR. Bukhari dan
Muslim).

IFHAM

Dalam skema Leasing Syariah TIDAK ADA SKEMA DEMIKIAN. Oleh karena itu, tidak perlu komentar lebih
lanjut, meskipun hadits ini ada banyak tafsiran dan pemaknaan yang seringkali dimaknai beda ketika digunakan
untuk mengkritik skema Jual Beli di Bank Syariah, terutama Murabahah. Ini nanti dibahas di bab Jual Beli aja,
bukan bab SEWA.

SIMPULAN:

Ayo ke Leasing Syariah!

Jika ada skema leasing syariah yang skemanya MASIH tidak sesuai Syariah ya ingetin aja, benerin aja
skemanya.

Mari tidak untuk mengutuk gelap. Mari nyalakan cahaya walau sekedar lilin. Dan walaupun sekedar menjadi
pemantul Cahaya-NYA, walau menjadi pemantul Sang Maha Cahaya.

Ayo ke Leasing Syariah!

5/6
Jakarta, 7 November 2015 pk.14.06

Facebook Comments

Amana Sharia Consulting

Zerif Lite powered by WordPress

6/6