Anda di halaman 1dari 12

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL DAN

DAERAH
(Tugas Mata Kuliah Pembangunan Petanian)

Oleh

Baihaqi
1414131028

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

1
2

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatkan produksi pertanian suatu negara adalah suatu tugas yang kompleks,
kerena banyaknya kondisi yang berbeda yang harus dibina atau diubah oleh orang
ataupun kelompok yang berbeda pula. Seperti halnya permasalahan pertumbuhan
penduduk yang tinggi yang mengimbangi permintaan atas kebutuhan pangan
meningkat pesat, namun hal tersebut tidak diimbangi dengan produksi hasil
pertanian yang mampu untuk memenuhi permintaan kebutuhan akan bahan
pangan.

Namun hal itu juga mendorong para petani untuk mencoba menanam jenis-jenis
tanman baru, dan dengan bantuan para insinyur dan para peniliti untuk
mengembangkan varietas tanaman tersebut dengan menemukan teknik
penggunaan pupuk, mengatur kelembapan tanah yang lebih maju serta
meggunakan teknologi pertanian yang lebih maju untuk mengembangkan
pembangunan pertanian ke arah yang lebih baik sehingga mampu untuk
memenuhi kebutuhan pangan dari jumlah masyrakat yang terus meningkat.

Pada dasarnya pembangunan pertanian di Indonesia sudah berjalan sejak


masyarakat Indonesia mengenal cara bercocok tanam, namun perkembangan
tersebut berjalan secara lambat. Pertanian awalnya hanya bersifat primitif dengan
cara kerja yang lebih sederhana. Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan
pertanian berkembang menjadi lebih modern untuk mempermudah para petani
mengolah hasil pertanian dan mendapatkan hasil terbaik dan banyak.

Dengan demikian pembangunan pertanian mulai berkembang dari masa ke masa.


Dalam proses pembangunan pertanian tersebut, bantuan para ahli di bidang
pertanian dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendukung dan memberi
fasilitas maupun pegetahuan kepada para petani untuk memberi metode baru
kepada para petani dan mengubah cara berpikir mereka menjadi lebih kompleks
sehingga mampu untuk meningkatkan produksi pertanian dalam negri ini.

Menurut Kamus Webster, kebijakan sebagai prinsip atau cara bertindak yang
dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan. Kebijakan Pembangunan
Pertanian adalah usaha terencana yang berkaitan dengan pemberian penjelasan
(explanation) dan preskripsi atau rekomendasi (prescription or recommendation)
terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan pembangunan pertanian yang telah
diterapkan (Sutejo, 2006).

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:

1. Mengetahui kebijakan pembangunan pertanian

2. Mengetahui strategi kebijakan pertanian

3. Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan


pembangunan pertanian
II. PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan Pembangunan Pertanian

Kebijakan pertanian adalah serangkaian tindakan yang telah, sedang, dan


akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu. Adapun
tujuan umum kebijakan pertanian kita adalah memajukan pertanian,
mengusahakan agar pertanian menjadi lebih produktif, produksi dan efisiensi
produksi naik, dan akibatnya tingkat penghidupan serta kesejahteraan petani
meningkat.

Menurut Kamus Webster, kebijakan sebagai prinsip atau cara bertindak


yang dipilih untuk mengarahkan pengambilan keputusan. Kebijakan
Pembangunan Pertanian adalah usaha terencana yang berkaitan dengan
pemberian penjelasan (explanation) dan preskripsi atau rekomendasi
(prescription or recommendation) terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan
pembangunan pertanian yang telah diterapkan (Sutejo, 2006).

Kebijakan pertanian bukanlah terletak pada banyak sedikitnya campur


tangan pemerintah, namun pada berhasil tidaknya kebijakan itu mencapai
sasarannya dengan sekaligus mencari keadilan bagi pihak-pihak yang
bersangkutan. Oleh karena itu, kebijakan pertanian yang lebih baik adalah yang
dapat mencapai tujuan nasional untuk menaikkan produksi secara optimal
dengan perlakuan yang adil pada pihak-pihak yang bersangkutan itu.

a. Kebijakan Harga
Kebijakan ini merupakan salah satu kebijakan yang terpenting di banyak
negara dan biasanya digabung dengan kebijakan pendapatan sehingga
disebut kebijakan harga dan pendapatan (price and economic policy). Segi
harga dari kebijakan itu bertujuan untuk mengadakan stabilitas harga,
sedangkan segi pendapatannya bertujuan agar pendapatan petani tidak
terlalu berfluktuasi dari musim ke musim dan dari tahun ke tahun.

Indonesia baru mulai mempraktekkan kebijakan harga untuk beberapa


hasil pertanian sejak tahun 1969. Secara teoritis kebijakan harga yang dapat
dipakai untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
1. stabilitas harga hasil-hasil pertanian terutama pada tingkat petani
2. meningkatkan pendapatan petani melalui term of trade
3. memberikan arah dan petunjuk pada jumlah produksi.

Kebijakan harga di Indonesia terutama ditekankan pada tujuan pertama


yaitu Stabilitas harga hasil-hasil pertanian dalam keadaan harga-harga umum
yang stabil berarti pula terjadi kestabilan pendapatan. Tujuan yang kedua
banyak sekali dilaksanakan pada hasil-hasil pertanian di negara-negara yang
sudah maju dengan alasan pokok pendapatan rata-rata sektor pertanian terlau
rendah dibandingkan dengan penghasilan di luar sektor pertanian.

Tujuan kebijakan yang ketiga dalam praktek sering dilaksanakan oleh


negara-negara yang sudah maju bersamaan dengan tujuan kedua yaitu dalam
bentuk pembatasan jumlah produksi dengan pembayaran kompensasi. Di
negara kita, dimana hasil-hasil pertanian pada umumnya belum mencukupi
kebutuhan, maka kebijakan yang demikian tidak relevan. Selain kebijakan
harga yang menyangkut hasil-hasil pertanian, peningkatan pendapatan petani
dapat dicapai dengan pemberian subsidi pada harga sarana-sarana produksi
seperti pupuk/insektisida. Subsidi ini mempunyai pengaruh untuk
menurunkan biaya produksi yang dalam teori ekonomi berarti menggeser
kurva penawaran ke atas.

b. Kebijakan Pemasaran
Masalah yang dihadapi di Indoensia adalah kurangnya kegairahan
berproduksi pada tingkat petani, tidak ada keinginan untuk mengadakan
penanaman baru dan usaha-usaha lain untuk menaikkan produksi karena
persentase harga yang diterima oleh petani relatif kecil dibandingkan dengan
bagian yang diterima golongan-golongan lain.

Selain kebijakan pemasaran hasil-hasil tanaman perdagangan untuk


ekspor, kebijakan ini meliputi pula pengaturan distribusi sarana-sarana
produksi bagi petani. Pemerintah berusaha menciptakan persaingan yang
sehat di antara para pedagang dengan melayani kebutuhan petani seperti
pupuk, insektisida, pestisida dan lain-lain sehingga petani akan dapat
membeli sarana-sarana produksi tersebut dengan harga yang relatif tidak
terlalu tinggi. Jadi disini jelas bahwa kebijakan pemasaran merupakan usaha
campur tangan pemerintah dalam bekerjanya kekuatan-kekuatan pasar. Di
satu pihak pemerintah dapat mengurangi pengaruh kekuatan-kekuatan pasar
supaya tidak terlalu merugikan pedagang dan petani, tetapi di pihak lain
persaingan dapat didorong untuk mencapai efisiensi ekonomi yang tinggi.
Dalam praktek kebijakan pemasaran dilaksanakan secara bersamaan dengan
kebijakan harga.

c. Kebijakan Struktural

Kebijakan struktural dalam pertanian dimaksudkan untuk memperbaiki


strukutur produksi misalnya luas pemilikan tanah, pengenalan dan
pengusahaan alat-alat pertanian yang baru dan perbaikan prasarana pertanian
pada umumnya baik prasarana fisik maupun sosial ekonomi. Kebijakan
struktural ini hanya dapat terlaksana dengan kerjasama yang erat dari
beberapa lembaga pemerintah. Perubahan struktur yang dimaksud di sini
tidak mudah untuk mencapainya dan biasanya memakan waktu lama. Hal ini
disebabkan sifat usahatani yang tidak saja merupakan unit usaha ekonomi
tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan petani dengan segala aspeknya.
Oleh karena itu tindakan ekonomi saja tidak akan mampu mendorong
perubahan struktural dalam sektor pertanian sebagaimana dapat
dilaksanakan dengan lebih mudah pada sektor industri.

Pengenalan baru dengan penyuluhan-penyuluhan yang intensif


merupakan satu contoh dari kebijakan ini. Kebijakan pemasaran yang telah
disebutkan di atas sebenarnya dimaksudkan pula untuk mempercepat proses
perubahan struktural di sektor pertanian dalam komoditi-komoditi pertanian.
Pada bidang produksi dan tataniaga kopra, lada, karet, cengkeh dan lain-lain.
Dalam kenyataannya pelaksanaan kebijakan harga, pemasaran dan struktural
tidak dapat dipisahkan, dan ketiganya saling melengkapi.

d. Kebijakan Perdagangan

Tujuan dari kebijakan perdagangan adalah untuk memperlancar atau


menghambat pemasaran komoditi dari suatu wilayah ke wilayah yang lain.
Kebijakan perdagangan merupakan suatu pembatasan yang diberlakukan
pada impor dan ekspor suatu komoditas. Untuk impor, dengan pemberlakuan
tarif impor dan kuota impor untuk membatasi jumlah yang diimpor dan
meningkatkan harga domestik di atas harga dunia. Untuk ekspor, dengan
pajak ekspor dan kuota ekspor untuk membatasi barang yang di ekspor dan
mengkonsdisikan harga domestik yang lebih rendah dari harga dunia.

e. Kebijakan Subsidi
Kebijakan subsidi berpengaruh dalam menurunkan biaya produksi &
meningkatkan penawaran. Pemberian subsidi kepada petani merupakan
salah satu kebijakan utama pembangunan pertanian yang telah lama
dilaksanakan pemerintah dengan cangkupan dan besaran yang berubah dari
waktu ke waktu. Pemberian insentif tidak saja didasarkan oleh pertimbangan
ekonomi, tetapi juga karena desakan dan dorongan politik dan sosial. Bisa
terjadi, pemberian subsidi dan dukungan harga bagi petani lebih didominasi
oleh pertimbangan politik dan sosial.

Sebagai contoh, berbagai penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa


penggunaan pupuk pada usahatani sawah telah berlebihan sehingga
pemberian subsidi harga pupuk yang terus meningkat merupakan kebijakan
yang tidak tepat dipandang dari pertimbangan ekonomi. Namun demikian,
pemberian subsidi pupuk yang terus meningkat mendapatkan dukungan
politik dari parlemen maupun masyarakat luas karena dipandang bijaksana
menolong petani yang sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan.

Ada dua argumentasi yang melandasi pentingnya pemerintah


memberikan bantuan kepada petani:
1. Pertama, suatu kewajiban pemerintah membantu petani yang sebagian
besar merupakan masyarakat miskin yang tidak mempunyai kapasitas
yang memadai untuk mengembangkan kapasitas produksi pertanian
sementara eksistensi produksi pertanian ke depan masih sangat
diperlukan;
2. Kedua, melindungi petani miskin dari ancaman eksternal akibat
ketidakadilan perdagangan dalam rangka memberdayakan mereka
menjadi masyarakat yang mandiri mampu menghidupi dirinya dan juga
menjaga eksistensi sektor pertanian ke depan.

f. Kebijakan Pengaturan

Pelaksanaan kekuatan kebijaksanaan pemerintah dengan menggunakan


UU, peraturan, ketetapan yang berkenaan dengan perekonomian & niaga,
maksudnya adalah:
1. Menjaga keselamatan industri dalam negeri/dalam persaingan
2. Perlindungan kepentingan dan kesehatan konsumen
3. Menciptakan kondisi perdagangan efektif dan lancer
4. Meningkatkan pendapatan pemerintah
5. Pencegahan praktek persaingan tidak wajar dan monopoli yang tidak
wajar
6. Pengaturan kelancaran perdagangan dan jasa yang diperlukan
7. Perlindungan konsumen
8. Pengaturan barang
9. Bantuan kemajuan perekonomian dan sosial

g. Kebijakan Fasilitas

Fasilitas dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mempermudah


kegiatan-kegiatan dalam mencapai tujuan tertentu, sedangkan makna
kemudahan dalam kaitannya dengan kualitas pelayanan publik yaitu
mencakup seluruh upaya yang dilakukan untuk memudahkan masyarakat
dalam memperoleh layanan publik. Dimensi kemudahan dalam pelayanan
kepada masyarakat biasanya seperti akses informasi yang memadai, sikap
aparat dalam berkomunikasi dengan masyarakat dan prosedur pelayanan
sederhana. Adapun program kebijakan fasilitas adalah sebagai berikut :
1. Investasi & kredit
2. Pengadaan fasilitas penyimpanan
3. Layanan informasi & berita pasar
4. Penelitian tataniaga
5. Pendidikan & penyuluhan tataniaga

h. Kebijakan Intervensi

Kebijakan intervensi merupakan kebijakan di mana pemerintah ikut


secara langsung dalam masalah pemasaran barang-barang yang dianggap
penting bagi kesejahteraan penduduk. Tujuan dari kebijakan ini adalah
melindungi produsen & konsumen.
2.2 Strategi Kebijakan Pertanian

Adapun beberapa strategi dalam kebijakan pertanian, yaitu:


1. Menjadikan basis produksi komoditas pangan, komoditas ekspor, penyedia
bahan baku industri dan bio energi dengan pendekatan kawasan
2. Meningkatkan kualitas dan daya saing produk pertanian
3. Menyediakan prasarana dasar bidang pertanian
4. Memberikan perlindungan dan pemberdayaan petani
5. Meningkatkan tata kelola kepemerintahan yang baik

2.3 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Perumusan Kebijakan


Pembangunan Pertanian

Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan


pembangunan pertanian:
1. Usaha pengembangan ekonomi lebih fokus ke sektor yg menghidupi
mayoritas penduduk yaitu penduduk di pedesaan yg bekerja sebagai
petani
2. Program industrialisasi untuk kepentingan Mayoritas
3. Pendidikan sebagai syarat utama harus dapat dijangkau oleh Golongan
mayoritas.
4. Dalam pembangunan pertanian prioritas bukanlah menghasilkan
komoditi tetapi menciptakan nilai tambah (value added)
5. Indutrialisasi harus terkait dengan kepentingan petani
6. Perlu keseimbangan antara kepentingan pasar dan campur tangan serta
peran pemerintah.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:


1. Kebijakan pertanian bukanlah terletak pada banyak sedikitnya campur tangan
pemerintah, namun pada berhasil tidaknya kebijakan itu mencapai sasarannya
dengan sekaligus mencari keadilan bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Oleh
karena itu, kebijakan pertanian yang lebih baik adalah yang dapat mencapai tujuan
nasional untuk menaikkan produksi secara optimal dengan perlakuan yang adil
pada pihak-pihak yang bersangkutan itu

2. Strategi kebijakan pembangunan pertanian adalah menjadikan basis produksi


komoditas pangan, komoditas ekspor, penyedia bahan baku industri dan bio energi
dengan pendekatan kawasan,meningkatkan kualitas dan daya saing produk
pertanian,menyediakan prasarana dasar bidang pertanian,memberikan
perlindungan dan pemberdayaan petani,meningkatkan tata kelola kepemerintahan
yang baik.

3. Hal yang harus di perhatikan dalam kebijakan pembangunan pertanian adalah


usaha pengembangan ekonomi,program industrialisasi untuk kepentingan
mayoritas,pendidikan sebagai syarat utama harus dapat dijangkau oleh Golongan
mayoritas,dalam pembangunan pertanian prioritas bukanlah menghasilkan
komoditi tetapi menciptakan nilai tambah (value added),indutrialisasi harus
terkait dengan kepentingan petani.

DAFTAR PUSTAKA
AnonimB. Kebijakan Pertanian. http://organichcs.com/2014/01/15/pertanian-
berkelanjutan/. Diakses pada Minggu tanggal 25 Desember 2016 pkul 21.08
WIB.

Outerbridge, P. B . 1991. Limbah Padat di Indonesia. Jakarta. Yayasan Obor


Indonesia.

Sutejo. 2006. EM Technology Serving The World. Bandung. Seminar Nasional


Pertanian Organik.

Trubus No. 363. 2000. Pertanian Organik. Jakarta. Yayasan Tani Membangun.