Anda di halaman 1dari 28

1

ANALISIS UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS

Upaya Kesehatan Pengembangan Lansia

Puskesmas Margaasih

Disusun oleh: Nabilla (12100114093)

1. Analisis Situasi Umum

1.1. Geografis

Puskesmas Margaasih berada di Kecamatan Margaasih, tepatnya di Jalan

Rancamalang Komplek Margaasih Indah RT 05 RW 16 Desa / Kecamatan

Margaasih Kab.Bandung, dengan luas wilayah kerja 1.843,49 Ha, terdiri dari 3

wilayah kerja / desa yaitu: Desa Margaasih, Desa Lagadar dan Desa Nanjung.

Secara keseluruhan wilayah binaan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua

maupun roda empat dengan kondisi jalan yang baik. Jarak tempuh dari Puskesmas

Margaasih ke desa terdekat 10 menit dan terjauh 40 menit. Untuk rumah sakit

rujukan terdekat kurang lebih 30-90 menit dengan kondisi jalan lancar dengan

kendaraan umum terutama ke RS Dustira, RS Cibabat dan RS Soreang.

Puskesmas Margaasih berada di wilayah kerja Kecamatan Margaasih

dengan batas-batas sebagai berikut:

- Sebelah Utara : Kota Bandung

- Sebelah Selatan : Kecamatan Batujajar

- Sebelah Barat : Kota Cimahi

- Sebelah Timur : Kecamatan Margahayu


2

Gambar 1.1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Margaasih

1.2. Demografi
1.2.1 Data penduduk

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Margaasih tahun 2014

adalah 126.230 jiwa. (sumber: Rekapitulasi Hasil Pendataan Keluarga Tingkat

Kecamatan Tahun 2014) dengan penyebaran penduduk 49.230 jiwa di Desa

Margaasih, 41.656 jiwa di Desa Lagadar, dan 35.344 jiwa di Nanjung.

TABEL 1.1
3

LUAS WILAYAH, JUMLAH PENDUDUK, JUMLAH KK, DAN


KEPADATAN PENDUDUK MENURUT
DESA PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014
Jumlah
Jumlah
Kepadatan Jumlah Jiwa
Desa/ Jumlah jiwa
No Penduduk/ Kepala Miskin
Kelurahan Penduduk Miskin
Km/Jiwa Keluarga Jamkes
jamkesda
mas
1 Margaasih 49.230 100 6.423 6.581 2.631
2 Lagadar 41.656 626 5.560 6.997 1.652
3 Nanjung 35.344 312 5961 3.853 944
Jumlah 126.230 189.55 14.878 17.431 5.227
Sumber : Rekapitulasi hasil pendataan keluarga tingkat kecamatan Margaasih 2014

Berdasarkan hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa kepadatan jumlah

penduduk cukup tinggi yaitu 189,55 orang/Ha dimana Desa Margaasih merupakan

desa terpadat jika dibandingkan dengan desa yang lain di wilayah Puskesmas

Margaasih. Jumlah KK miskin terbanyak di Lagadar dan jumlah jiwa miskin

terbanyak di Desa Margaasih.


4

TABEL 1.2
JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN
KELOMPOK UMUR,RASIO BEBAN TANGGUNGAN,
DAN RASIO JENIS KELAMIN, DI DESA
PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014
Desa Jumlah JUMLAH PENDUDUK Rasio Rasio
No Pendu Laki-Laki Perempuan Beban Jenis
duk Kelamin
<2 2-5 6-14 15-65 >65 <2 2-5 6-14 15-65 >65
1 Margaasih 23305 1121 1770 1213 5631 2663 930 1672 1228 4593 2484 13 114
2 Lagadar 20049 1345 1837 1555 4523 1217 1140 1633 1225 4423 1151 13 109
3 Nanjung 16444 752 1028 1259 3714 1907 651 1011 1155 3457 1510 13 111
Jumlah 59798 3218 4635 4027 13868 5787 2721 4316 3608 12473 5145 13 112
Sumber : Rekapitulasi hasil pendataan keluarga tingkat kecamatan Margaasih 2014

Berdasarkan hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa rasio beban tanggungan rumah tangga di wilayah Puskesmas Margaasih 1

orang penduduk memiliki beban tanggungan 13 orang, Berdasarkan kelompok usia penduduk yang mendominasi adalah penduduk usia

produktif sebesar 44%. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit terdapat pada anak usia kurang dari 2 tahun sebesar 10%.
5

TABEL 1.3
TINGKAT PENIDIDKAN YANG DITAMATKAN
PENDUDUK PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014
Tingkat Pendidikan
Tidak/Belum
Desa Tidak Tamat Tamat AK/Diploma
Pernah
Tamat SD SD-SLTP SLTA Universitas
Sekolah
Margaasih - 438 2679 2515 865
Lagadar 2351 - 609 163 155
Nanjung 432 388 3939 1020 1067
Jumlah 2783 826 7227 3728 2087
Sumber : laporan tahunan puskesmas Margaasih 2014

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat tingkat pendidikan penduduk yang ada di

wilayah kerja Puskesmas Margaasih tahun 2014 yang paling banyak adalah yang tamat SD-

SLTP yaitu sebanyak 7227 orang dan yang paling sedikit adalah yang tamat AK/Diploma

&Universitas yaitu sebanyak 2087 orang.

1.3. Visi dan Misi UPTD Pelayanan Kesehatan Margaasih


1.3.1 Visi

Mewujudkan UPTD Yankes kecamatan Margaasih sebagai sarana pelayanan

kesehatan dasar yang profesional dan terdepan dalam rangka mewujudkan kecamatan

Margaasih sehat secara Mandiri.

1.3.2 Misi

1. Memberikan pelayanan kesehatan dasar yang merata dan berkualitas kepada

masyarakat.

2. Memberdayakan keluarga untuk hidup sehat secara mandiri.

3. Menyelenggarakan lingkungan tempat tinggal dan tempat beraktivitas yang sehat.


6

4. Menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular serata

penyakit tidak menular.

5. Menyelenggarakan manajemen UPTD Yankes kecamatan Margaasih yang bermutu

dan berkesinambungan.

1.4. Sumber Daya Manusia


TABEL 1.4
DAFTAR TENAGA KESEHATAN
DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014

Jabatan Status Kepegawaian


No Nama Fungsional/
Struktural PNS PTT Honorer
1 Dr.Nita Emilia T Struktural
2 Imas Masidah.SE Struktural
3 drg.Rosalina Fungsional
4 Dr.Ira Hermina Fungsional
5 Hj.Mur Murniati Funsional
6 Linda Pujiwati Fungsional
7 Siti Maesaroh Fungsional
8 Nanan Fikransyah JFU
9 Siti Hafsah Fungsional
10 Tria Hanasari Fungsional
11 Atin Dwi Rukmini Fungsional
12 Tanti Dwiyanti Fungsional
13 NaningJuaningsih Fungsional
14 Elliyah Fungsional
15 Yuni Kartikawati Fungsional
16 Anisa Agustina Fungsional
17 Dicky Salman Fungsional
18 dr.Rika Cahya dr.Umum
19 Dr.Dewini dr.Umum
20 Nina Yulianawati Bides
21 Desri Aprillia Bides
22 Nurlaila Ruswinda Bides
23 Dewi Suryani Bidan Poned
24 Yuliana Ningrat Sukwan
25 Mimi Amanatilah Sukwan
7

Jumlah Tenaga Kesehatan 23


Jumlah Tenaga Non-Kesehatan 2
Jumlah Total 25

Sumber : Laporan tahunan puskesmas Margaasih 2014

Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Margaasih pada saat ini sebanyak

23 orang. Menurut Permenkes 75 tahun 2014 puskesmas biasa idealnya dilengkapi dengan 3

orang dokter, puskesmas poned 4 orang dokter, dan rawat inap 5 orang dokter. Jadi jika

dilihat dari indikator tersebut puskesmas Margaasih sudah memenuhi syarat, namun pada

pelaksanaannya masih banyak tenaga kesehatan di puskesmas Margaasih terutama perawat,

perawat gigi, petugas promkes, apoteker, rekam medis yang masih bekerja dan memiliki

jabatan rangkap.

1.5. Sarana Kesehatan


TABEL 1.5
SARANA PELAYANAN KESEHATAN
DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014

Kondisi Sarana
N
Jenis Sarana Lokasi
o Rusak
Rusak Berat Baik
Ringan
1. Pustu/BPP
Nanjung -
2. Pos Kes Des - - - -
3. Polindes Lagadar - -
4. Wahana Kes. - - - -

1.6. Sarana Transportasi


8

TABEL 1.6
SARANA TRANSPORTASI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014

No Jenis Kondisi
No. Kendaraan
. Kendaraan
RB RR Baik
1 Ambulance No.Polisi/D 1569/2009/G2297428.H - -
2 Motor D 4040 V -

1.7. Sarana Pelayanan Kesehatan Milik Swasta

TABEL 1.7
SARANA PELAYANAN KESEHATAN MILIK SWASTA
PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2014
N Keterangan
Jenis Sarana Jumlah
o (Berizin/Tdk Berizin)

1. Rumah Sakit - -

2. Balai Pengobatan 7 Berizin

3. Apotek 3 Berizin

4. Praktek Dokter 15 Berizin

5. Praktek Dokter Gigi 5 Berizin

6. Praktek Bidan 12 Berizin

7. Laboratorium 1 Berizin

8. Rontgen 1 Berizin

Berdasarkan data table di atas dapat dilihat bahwa jumlah sarana pelayanan kesehatan

di wilayah kerja Puskesmas Margaasih sejumlah 44 buah, yang tentunya dapat dijadikan

mitra kerja untuk menaikan cakupan-cakupan pada program-program tertentu, mengingat

betapa luas dan banyaknya jumlah penduduk di Margaasih.

1.8. Sumber Pembiayaan Kegiatan


9

Sumber pembiayaan untuk kegiatan puskesmas yang berasal dari pemerintah ada 3

yaitu, Operasional Puskesmas (OP), Biaya Operasional Puskesmas (BOK), dan DAU.

Sedangkan pembiayaan yang bersumber dari pasien (restribusi) ada yang langsung dari

pasien, ada juga yang melalui asuransi kesehatan seperti ASKES, Jamkesmas, dan Jamkesda.

2. Kegiatan Umum Upaya Kesehatan Puskesmas


Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama dan
upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama
meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial (wajib) dan upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. Upaya kesehatan wajib, terdiri dari :

1. Promosi Kesehatan
2. Kesehatan Lingkungan
3. Kesehatan Ibu dan Anak
4. Perbaikan Gizi Masyarakat
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Pelayanan Pengobatan

Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan


berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan
dengan kemampuan puskesmas.
Berdasarkan data dari profil Puskesmas Margaasih tahun 2014, kegiatan upaya
kesehatan pengembangan yang ada di Puskesmas Margaasih terdiri dari:
1. Upaya kesehatan usia lanjut
2. Upaya kesehatan mata
3. Upaya kesehatan telinga
4. Upaya kesehatan jiwa
5. Upaya kesehatan olahraga
6. Pencegahan dan penanggulanagan penyakit gigi
7. Perawatan kesehatan masyarakat
8. Bina kesehatan tradisional
9. Bina kesehatan kerja

2.1. Analisis Umum Upaya Kesehatan Lanjut Usia


10

Salah satu agenda prioritas pemerintah Indonesia (NAWACITA) dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, menyatakan dalam bidang

kesejahteraan sosial, sasaran yang ingin dicapai dalam periode 2015-2019 adalah

meningkatnya akses dan kualitas hidup lansia. Berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang

kesehatan, upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar

tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis. Selain itu, Pemerintah wajib

menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk

dapat tetap hidup mandiri dan produktif, salah satunya adalah upaya kesehatan

pengembangan lanjut usia yang diselenggarakan di puskesmas.

Berdasarkan pengamatan dan pengumpulan informasi dari pihak terkait, kegiatan

upaya kesehatan pengembangan di puskesmas Margaasih yang rutin berjalan adalah upaya

kesehatan usia lanjut dan upaya kesehatan sekolah.

Wilayah kerja puskesmas Margaasih tediri dari 57 RW dengan 12 posbindu yang

tersebar di 3 desa. Jumlah kader yang tercatat sepanjang Oktober 2015 berjumlah 24 kader,

dari jumlah tersebut 18 kader aktif dan 18 kader telah mendapat pelatihan. Pelayanan

posbindu rutin dilaksanakan di setiap desa sesuai jadwal yang ditetapkan. Kegiatan ini juga

didukung oleh ketua RT dan RW setempat yang memberikan tempat untuk pelaksanaan

posbindu. Pelayanan yang diberikan berupa tindakan promotif, preventif dan kuratif. Secara

teknis pelaksanaan, promotif dan preventif dilakukan secara interpersonal. Hal ini

dimaksudkan untuk mencapai keefektifan dari informasi yang diberikan.

Upaya kesehatan usia lanjut terdiri dari kegiatan yang berada di dalam dan di luar

puskesmas. Kegiatan di dalam puskesmas terdapat poli lansia yang rutin berjalan setiap hari

Senin hingga Sabtu sejak pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Kegiatan di luar

puskesmas terdapat pelayanan pos pembinaan terpadu (Posbindu) di setiap desa. Dalam

pelaksanaannya, kegiatan poli lansia sudah cukup baik. Kegiatan poli lansia di kerjakan oleh
11

satu orang perawat yang berperan memberikan pelayanan kesehatan dan administrasi. Jenis

kegiatan poli lansia berupa kegiatan kuratif dan skrining kesehatan. Tindakan kuratif sampai

laporan ini disusun masih berjalan tetapi untuk kegiatan skrining kesehatan tidak berjalan

dengan baik. Sedangkan kegiatan posbindu rutin dilakukan setiap 1 bulan sekali di posbindu

yang dimiliki masing-masing RW. Pelaksanaan posbindu sudah cukup dimana

pelaksanaannya dilakukan oleh seorang penanggung jawab program dan dibantu oleh seorang

bidan desa. Akan tetapi pelayanan yang diberikan belum memenuhi standar dimana

pelayanan posbindu menggunakan sistem 5 meja.

Untuk sasaran dan target kegiatan poli lansia khususnya mengenai pelayanan kuratif

sudah mencapai target yang diharapkan. Hal ini dilihat dari data yang diperoleh dari laporan

bulanan puskesmas bulan Januari hingga Oktober tahun 2015 yang tercantum di tabel di

bawah ini.

TABEL 2.1
PEMBINAAN LANSIA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARGAASIH
PERIODE JANUARI - OKTOBER 2015
Desa
Usia 45 59 Usia 60 69 Usia > 70
Yg Dibina Yg Dibina Yg Dibina
SASARAN DIBINA
12

ada/aktif ada/aktif ada/aktif

Margaasih 8197 2664 4081 1418 2410 899 1706 447

Lagadar 6639 2852 4420 1703 1498 676 721 370

Nanjung 5118 2218 3233 1314 1392 655 593 258

JUMLAH 19954 7734 11734 4435 5300 2230 3020 1075

Keberhasilan dari kegiatan pelayanan posbindu dicapai jika jumlah sasaran yang

mendapat pelayanan posbindu mencapai 70 % dari jumlah masyarakat dengan usia lanjut di

setiap RW dalam 1 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan bulanan tahun 2015

data yang tersedia hanya dari bulan Januari hingga Oktober, maka target harus mencapai 58

% dari jumlah sasaran di setiap RW.

Tabel 2.2
Cakupan Kegiatan Posbindu
Di Wilayah Kerja Puskesmas Margaasih
Periode Januari Oktober 2015
13

Bulan Jumlah Sasara Target Capaia Cakupa Kesenjanga

Posbind n n n n

u
Januari 9 6204 58% 249 4,0% -54,0%

Februari 10 6204 58% 79 1,3% -56,7%

Maret 10 6204 58% 81 1.3% -56,7%

April 11 6204 58% 93 1,5% -56,5%

Mei 11 6204 58% 176 2,8% -55,2%

Juni 12 6204 58% 120 1,9% -56,1%

Juli 12 6204 58% 109 1,7% -56,3%

Agustus 12 6204 58% 87 1,4% -56,6%

Septembe 8 6204 58% 102 1,6% -56,4%

r
Oktober 11 6204 58% 72 1.2% -56,8%

Berdasarkan dua upaya utama kesehatan lansia yang dijalankan di puskesmas

Margaasih, terdapat tiga masalah yaitu kegiatan skrining poli lansia yang belum berjalan,

penyuluhan posbindu yang belum sesuai standar dan cakupan dari kegiatan seluruh Posbindu

yang belum mencapai target (< 58 % jumlah sasaran)

Penetapan masalah prioritas menggunakan teori REINKE dengan skor satu sampai

lima, dengan kriteria yaitu : magnitude sebagai besarnya masalah, importancy sebagai

kegawatan masalah, vulnerability sebagai sensitifitas masalah, dan cost sebagai biaya yang

digunakan.

Identifikasi input penyebab prioritas masalah pada upaya kesehatan usia lanjut memakai

metode 7M dan 1I dan memakai metode P1 sampai P3.

2.2. Identifikasi dan Penentuan Prioritas Masalah


14

Dari dua upaya kesehatan usia lanjut, terdapat tiga permasalahan yang dianggap serius dan

mendapat perhatian, yaitu:

1. Kegiatan skrining poli lansia belum berjalan


2. Pelaksanaan Posbindu yang belum sesuai standar.
3. Cakupan dari kegiatan seluruh Posbindu belum mencapai target

TABEL 2.3 PENENTUAN PRIORITAS MASALAH

BERDASARKAN METODE REINKEE

No Kriteria Jumlah
Daftar Masalah M I V C M x I x V Peringkat
. C
1 Cakupan dari Kegiatan 4 5 4 2 40 1

Posbindu (< 58%

masyarakat lansia)
2 Pelaksanaan Posbindu 4 4 4 2 32 2

yang belum sesuai standar


3 Pelaksanaan Poli Lansia 3 5 2 3 10 3

Belum Sesuai Standar

Keterangan :

M (Magnitude) : Besarnya masalah yang dapat diselesaikan

I (Importancy) : Pentingnya dalam mengatasi masalah

V (Vulnerability) : Sensitivitas dalam mengatasi masalah

C (Cost) : Biaya yang diperlukan dalam mengatasi masalah, semakin mahal biaya yang

dikeluarkan semakin besar nilainya.


15

Berdasarkan teori REINKEE diatas, didapatkan prioritas masalah yaitu cakupan

kegiatan seluruh Posbindu yang belum mencapai target.


16

P1 : POHON MASALAH
Perencanaan
kurang
Cakupan kegiatan posbindu tidak
P2 : tercapai (<58%)
Pelaksanaan
kurang Masyarakat lansia kurang
mendapat pelayanan
P3 : Evaluasi posbindu
belum
maksimal

METHOD MAN INFORMATI MARKETI MINUTE


E ON NG

Metode Kurangnya Penyampaia Kerjasama Waktu


pelayanan Lansia
tenaga n informasi dengan pelayanan yang
monoton menganggap
kesehatan kegiatan institusi bersamaan
kegiatan
posbindu berbasis dengan waktu
Kader yang posbindu harus
Kurangnya masih minim kesehatan bekerja
tidak terlatih masih pengantar lansia
minat dari
masyarakat sangat
Kurang Pekerjaan
Tidak ada sebagai pekerja
pelatihan
peningatan pabrik
upah
Kurangnya
MONEY Tidak ada dukungan lintas
dana
sektoral

MATERIA MACHINE
L

tTidak tersedia Lansia kit di setiap Tidak menggunakan sound sistem saat
posbindu posbindu

Waktu dan fokus terbagi bagi


Jumlah antara kegiatan pelayanan Kurangya sosialisasi-advokasi dari
petugas kerja kesehatan, administratif, dan puskesmas dan lintas sektoral
merangkap komunikasi pihak terkait. terkait
17

2.3. Identifikasi Kemungkinan Penyebab Masalah Prioritas Pada Upaya

Kesehatan Lanjut Usia

Man :

Kurangnya staff dimana hanya terdapat 1 orang yang merangkap sebagai

kordinator dan pelaksana lapangan yang menaungi 12 Posbindu lansia baik

dalam hal administratif dan pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang

berasal dari puskesmas untuk kegiatan posbindu berjumlah satu orang,

sedangkan untuk jumlah kader berjumlah 24 kader.

Belum ada peran serta yang aktif baik dari mitra tenaga kesehatan (seperti

dokter dan bidan swasta) di lingkungan wilayah puskesmas Margaasih

maupun pihak lain lintas program yang ikut membantu pencapaian program

Posbindu.

Material :

Di masing masing posbindu hanya tersedia stetoskop dan sphygmo hasil

swadaya masyarakat, namun untuk lansia kit masih belum tersedia di setiap

posbindu. Dikarenakan kegiatan utama dari upaya kesehatan lansia adalah

upaya promotif dan preventif, jumlah sarana dan prasarana yang ada dirasakan

cukup.

Money :

Terdapat masalah keaungan dalam hal dana transport karena dana BOK hanya

diberikan 1 kali dalam sehari, walaupun kegiatan posbindu yang dilaksanakan

lebih dari sekali dalam satu hari.


18

Tidak adanya dana tunjangan khusus bagi para kader mempengaruhi

ketertarikan warga menjadi kader.

Method :

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan upaya kesehatan lansia berupa

skrining penyakit tidak menular, pendataan rentang usia lansia, konseling

kesehatan lansia wilayah cakupan puskesmas margaasih baik melewati

Posbindu lansia maupun Poli Lansia. Tetapi dikarenakan jumlah populasi

lansia yang tidak sebanding dengan jumlah petugas serta kader menyebabkan

kesulitan melaksanakan setiap kegiatannya secara efektif dan maksimal.

Belum berjalannya sistem 5 meja sesuai dengan ketetapan posbindu yang

sebenarnya.

Metode pelayanan posbindu dirasakan beberapa warga cenderung monoton

dan tidak ada variasi dalam kegiatan pelaksanaanya. Hal ini memberi

pengaruh terhadap minat masyarakat untuk datang dalam kegiatan posbindu.

Marketing :

Posisi posbindu dirasakan strategis dan akses transportasi pun mudah sehingga

tidak menimbulkan kendala dalam kegiatan upaya kesehatan lansia sehari-

hari.

Kurangnya penyampaian informasi untuk setiap jadwal kegiatan posbindu

menjadi faktor sedikitnya masyarakat yang ikut dalam kegiatan posbindu.

Informasi disampaikan melalui pengeras suara. Pihak pengelola posbindu

mengharapkan informasi disampaikan secara langsung ke rumah warga. Hal


19

ini memerlukan peran aktif dari setiap kader posbindu, yang sebagaimana

diketahui bahwa tidak semua kader yang ada dapat aktif menjemput bola.

Setelah ditelusuri lebih dalam, kurangnya dukungan dari lintas sektoral

disebabkan kurangnya sosialisasi dari pihak puskesmas yang dikarenakan

tidak ada waktu untuk mensosialisasikan tentang program posbindu.

Masih sangat jarangnya kerjasama yang dilakukan puskesmas dengan institusi

berbasis kesehatan yang bersifat skrinning dengan maksud untuk menarik

antusias warga lansia dalam mengikuti kegiatan posbindu.

Minute :

Sebagian besar warga lansia membutuhkan pengantar ketika akan mengikuti kegiatan

posbindu, sedangkan waktu pelayanan posbindu bersamaan dengan waktu bekerja

dari masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai buruh pabrik.

Machine :

Tidak adanya sound sistem pada saat kegiatan posbindu mengakibatkan kurang

fokusnya para lansia yang mendengarkan penyuluhan sehingga penyampaian materi

kurang efektif.

Information :

Mengenai informasi keberadaan posbindu sudah diketahui oleh semua masyakat yang

berada di wilayah kerja puskesmas Margaasih.

Proses
20

Identifikasi proses penyebab prioritas masalah pada program posbindu

memakai metode P1 sampai P3, yaitu :

P1 (Perencanan)

Pada perencanaan program pembinaan lansia di bidang promotif terdapat

beberapa kendala yaitu :

a. Tidak terdapatnya waktu yang cukup untuk melakukan skrining dan

pendataan yang adekuat mengenai penyakit, terutama penyakit tidak

menular yang dialami lansia. Hal ini menyebabkan belum ada metode

penyuluhan khusus dan terfokus pada penyakit yang dialami lansia di

daerah tertentu.
b. Dikarenakan jumlah petugas yang hanya satu orang dan kader kader yang

cenderung pasif dalam memberi masukan, perencanaan kegiatan selain

skrining penyakit tidak menular tidak berjalan.

Pada perencanaan program pembinaan lansia di bidang rehabilitatif terdapat

beberapa kendala yaitu :

Belum adanya pengalaman baik petugas puskesmas bagian upaya kesehatan

lansia dan para kader di bidang rehabilitatif pasien membuat belum adanya

perencanaan kegiatan yang berkaitan dengan aspek rehabilitatif pasien. Selain itu

dari data menunjukkan memang belum ada lansia di wilayah puskesmas

Margaasih yang butuh pelayanan rehabilitatif terkait penyakitnya.

2) P2 (pelaksanaan)

Jumlah kader serta waktu yang terbatas baik yang dimiliki kader dan

petugas puskesmas menyebabkan sistem 5 meja di kegiatan Posbindu

tidak berjalan.
21

Karena proses skrining berupa pendataan administratif, pelayanan

kesehatan, dan penyuluhan dilakukan dalam waktu bersamaan

membuat aspek promotif yang dikedepankan pada upaya kesehatan

lansia kurang maksimal.

Pola pikir sebagian masyarakat masih tidak selaras dengan visi dan

misi puskesmas santun lansia. Masyarakat masih cenderung berpikir ke

arah mengobati penyakit ketimbang mengubah pola hidup sebagai

proses pencegahan penyakit, berbeda dengan tujuan utama upaya

kesehatan lansia yang mengedepankan aspek promotif dan preventif.

Pelayanan kesehatan terutama bagi penyakit kronis dan menahun baik

pada poli lansia dan juga posbindu tidak sesuai standar. Hal ini

disebabkan seluruh kegiatan di lakukan oleh perawat, walaupun dalam

praktek sehari harinya di bawah advis dokter. Sehingga sulit

melakukan diagnose yang tepat dan pengobatan yang adekuat sesuai

standar keilmuan.

3) P3 (pengawasan/evaluasi)

Data evaluasi berupa kunjungan pasien, diagnose, serta pengobatan di

poli lansia dicatat langsung oleh petugas. Data yang sama dari

posbindu didapatkan dari kader. Akan tetapi sistem pendataan yang

belum sinergis dimana masih ada beberapa kader yang lupa atau tidak

melaporkan membuat tahap evaluasi tidak berjalan maksimal.

Belum adanya waktu untuk mengumpulkan seluruh kader yang secara

khusus membicarakan evaluasi pelaksanaan posbindu di daerah serta

masukan masukan kegiatan lansia di waktu-waktu mendatang.


22

2.4. Analisis SWOT Upaya kesehatan Lansia


TABEL 2.4 ANALISIS SWOT UPAYA KESEHATAN LANSIA DI PUSKESMAS
MARGAASIH
TAHUN 2015

Strength (S) Weakness (W)


Frekuensi kegiatan posbindu sudah rutin Jumlah Kader Posbindu lansia kurang memadai.
dilaksanakan setiap 1 bulan sekali dan Pemberi pelayanan balai pengobatan lansia
kegiatan BP lansia yang rutin pada hari Senin tidak sesuai kompetensi.
hingga Sabtu. Kurangnya pertemuan kader dengan puskesmas
Monitoring dan evaluasi dilakukan secara dengan menyisipkan pelatihan bagi kader
rutin. didalamnya. Belum adanya perencanaan jadwal
Program Posbindu di puskesmas Margaasih pelatihan khusus kader upaya kesehatan lansia
sudah berjalan dari beberapa tahun sebagai media edukasi dan feedback terhadap
sebelumnya sehingga seluruh kegiatan sudah puskesmas.
terkoordinir dengan baik dan hanya tinggal Karena keterbatasan sumber daya manusia,
meneruskan dan mengembangkan. pelaksanaan aspek administrasi serta pelayanan
kesehatan berupa upaya promotif, preventif,
dan kuratif dilaksanakan bersamaan. Hal ini
menyebabkan tujuan utama upaya kesehatan
lansia sebagai upaya promotif dan preventif
justru tidak berjalan.
Sumber dana puskesmas untuk upaya kesehatan
lansia yang berasal dari BOK dirasakan belum
dapat mencukupi kebutuhan kegiatan lansia.
Pemeriksaan fisik tidak optimal dilakukan di
balai pengobatan lansia akibat keterbatasan alat
pemeriksaan khusus lansia (lansia kit).
Karena pelayanan balai pengobatan lansia
dipegang oleh profesi yang tidak sesuai
menyebabkan kesulitan dalam hal diagnose dan
juga pemberian pengobatan yang adekuat.
Karena jumlah petugas yang terbatas kegiatan
kegiatan yang bersifat jemput bola seperti
home visite belum dilakukan.
Keterbatasan jumlah petugas dan waktu yang
dimiliki menyebabkan pengembangan program
baru dalam hal upaya kesehatan lansia tidak
berjalan.
Skrining penyakit tidak menular yang
membutuhkan pemeriksaan lab sederhana
sewaktu tidak dapat dilakukan karena jumlah
tenaga ahli lab hanya yang hanya satu orang
dengan peralatan yang kurang memadai.

Opportunity (O) Threat (T)


Jumlah kader lansia mencukupi. Pola pikir masyarakat masih belum sinergis
Sudah tersedianya fasilitas santun lansia dengan tujuan upaya kesehatan lansia, dimana
berupa ruang pemeriksaan, jalur pendaftaran masyarakat masih berorientasi pada
dan jalur penebusan obat yang terpisah dengan menyembuhkan penyakitnya dibandingkan
pasien umum dan khusus untuk lansia.
23

mencegah dengan perubahan pola hidup.


Antusias warga lansia di cakupan wilayah
puskesmas Margaasih kurang baik.
Belum adanya kerja lintas sektoral yang baik
sebagai media penjaringan input, proses, dan
output kegiatan upaya kesehatan lansia.
Jumlah penduduk lansia di wilayah puskesmas
Margaasih tidak sebanding dengan tenaga
kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan lansia.
Masih terdapat catatan catatan kunjungan
posbindu yang dibantu pengerjaannya oleh
kader yang tidak lengkap.
Jumlah kader yang banyak tidak selaras dengan
keaktifannya dalam hal memberi masukan,
pencarian masalah, mau pun evaluasi.

2.5. Identifikasi Penyebab Utama Prioritas Masalah Upaya Kesehatan Lansia

TABEL 2.5 IDENTIFIKASI PENYEBAB UTAMA PRIORITAS MASALAH


PADA UPAYA KESEHATAN LANJUT USIA
DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2015
No Permasalahan
A Man
B Money
C Method
D Marketing
E Information

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diketahui, maka dilakukan penetapan

penyebab utama prioritas masalah dengan menggunakan metode Reinkee.


24

TABEL 2.6 IDENTIFIKASI PENYEBAB UTAMA PRIORITAS MASALAH


UPAYA KESEHATAN LANJUT USIA BERDASARKAN METODE
REINKEE DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2015
Kriteria Jumlah Peringkat
No. Daftar Masalah M I V C MxIxV
C
1 A 4 3 3 2 18 2
2 B 3 3 2 3 6 5
3 C 3 3 3 2 13,5 3
4 D 4 4 3 2 24 1
5 E 3 2 3 2 9 4
Keterangan :

M (Magnitude) : Besarnya masalah yang dapat diselesaikan

I (Importancy) : Pentingnya dalam mengatasi masalah

V (Vulnerability) : Sensitivitas dalam mengatasi masalah

C (Cost) : Biaya yang diperlukan dalam mengatasi masalah, semakin mahal


biaya yang di keluarkan semakin kecil nilainya

Setelah dilakukan penentuan penyebab utama prioritas masalah dengan metode

Reinkee didapatkan nilai prioritas terbesar adalah D sehingga solusi yang akan dicari jalan

keluarnya menggunakan penyebab D.


25

2.6. Penyusunan Alternatif Solusi

TABEL 2.7 ALTERNATIF SOLUSI PRIORITAS MASALAH


UPAYA KESEHATAN LANSIA
DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2015

N Alternatif Solusi
o
.

Meningkatkan motivasi dan memberikan pemahaman mengenai fungsi dari


A
Posbindu terhadap instansi lintas sektoral melalui kegiatan penyuluhan tentang
pentingnya pengadaan kegiatan Posbindu dan pengadaan alat-alat skiring dengan
hasil cepat dan otomatis yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan skrining
di posbindu.

Mengalokasikan dana khusus kader yang berasal dari swadaya masyarakat dan
B
subsidi desa untuk menstimulasi keinginan warga berperan serta membantu
puskesmas dalam program Posbindu.

Kader puskesmas mengkombinasikan metode sosialisasi kegiatan antara


C
pengumuman melalui pengeras suara satu hari dan pada hari penyelenggaraan serta
sosialisasi dari pintu ke pintu khusus lansia yang jarang atau pun belum pernah
mengikuti Posbindu dibantu oleh perangkat desa setempat.

Mengadakan pertemuan rutin antara tiap-tiap kepala desa, tenaga kesehatan di


D
wilayah terkait, dan kader khusus untuk membahas masalah kerjasama untuk
program Posbindu, terutama dalam rangka mensosialisasi serta mempersuasi warga
untuk mengikuti kegiatan.
26

2.6.1 Prioritas Solusi

Tabel dibawah ini adalah tabel yang memperhitungkan dan menentukan solusi terbaik dari
penyebab utama dari prioritas masalah, yaitu :

TABEL 2.8 PENETAPAN SOLUSI PRIORITAS MASALAH BERDASARKAN


METODE REINKEE DI PUSKESMAS MARGAASIH
TAHUN 2015
Kriteria Jumlah Peringkat
No. Daftar Masalah M I V C MxIxV
C
1 A 4 4 4 3 21,3 1
2 B 4 4 3 3 16 2
3 C 3 4 3 3 12 3
4 D 3 3 3 3 9 4

Setelah dilakukan penentuan prioritas jalan keluar dengan metode Reinkee, didapatkan
nilai prioritas terbesar adalah A sehingga prioritas solusinya adalah Penyuluhan motivatif
lintas sektor mengenai pentingnya kesehatan lansia dan pengadaan alat-alat skrining dengan
hasil cepat dan otomatis di setiap kegiatan posbindu wilayah kerja Puskesmas Margaasih.

3.1. Simpulan dan Saran


3.1.1 Simpulan

Dari dua upaya kesehatan usia lanjut, terdapat tiga permasalahan yang dianggap serius

dan mendapat perhatian, yaitu:

1. Kegiatan skrining poli lansia belum berjalan


2. Pelaksanaan Posbindu yang belum sesuai standar.
27

3. Cakupan dari kegiatan seluruh Posbindu belum mencapai target.

Akan tetapi cakupan dari kegiatan Posbindu yang tidak mencapai sasaran ditetapkan

sebagai prioritas utama permasalahan yang membutuhkan perhatian dibandingkan dua

masalah lainnya. Hal tersebut dikarenakan Posbindu merupakan media yang paling

efektif dalam pelaksanaan upaya promotif dan preventif terutama penyakit tidak

menular bagi para lansia sehingga derajat kesehatan lansia pun akan semakin

meningkat.

3.1.2 Saran

1) Perlu dipertimbangkan pengadaan tenaga kesehatan baru dari profesi dokter

untuk mengisi poli lansia atau pun melakukan pelatihan khusus bagi tenaga

kesehatan lain yang berperan dalam pelaksanaan poli lansia dan tenaga

kesehatan laboratorium untuk membantu mengoptimalkan pelaksanaan

program skirining di poli ataupun di posbindu.


2) Pelaksanaan posbindu yang tidak sesuai standar dikarenakan sedikitnya kader

yang berpartisipasi. Hal ini harus diatasi dengan cara rekrutmen yang lebih

massif dengan stimulasi reward berupa insentif khusus yang berasal dari pihak

desa dan swadaya masyarakat.

3) Cakupan posbindu yang belum mencapai target dikarenakan berbagai hal,

salah satunya adalah kurangnya sosialisasi terhadap warga serta kegiatan

posbindu yang monoton. Hal ini dapat diantisipasi dengan beberapa cara

seperti, pengadaan alat-alat skiring dengan hasil cepat dan otomatis yang dapat

digunakan untuk melakukan kegiatan skrining di posbindu ataupun dengan

mengadakan kerjasama yang melibatkan institusi berbasis kesehatan lansia

yang bersifat skrining seperti perusahaan obat, perusahaan pemeriksaan lab,

perusahaan susu untuk lansia, perusahaan optik untuk lansia untuk


28

meningkatkan minat dan antusias warga lansia dalam mengikuti kegiatan

posbindu.