Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang proses mental
dan perilaku. Perilaku dari manusia, berikut pula perilaku dari peserta didik
atau siswa akan mudah difahami apabila kita memahami proses mentalnya.
Proses mental inilah yang sering disebut dengan gejala-gejala jiwa.

Mengingat pentingnya pemahaman tentang proses mental atau gejala


jiwa dalam belajar, kita sebagai pendidik sudah semestinya memahami dan
menerapkan pemahaman tentang proses mental terhadap perserta didik kita.
Kita juga perlu untuk memahami aktivitas dan proses mental atau gejala
jiwa manusia termasuk peserta didik khususnya dalam proses pembelajaran.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.


Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa
adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar
terjadi berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadan alam, benda-benda
atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar.

Tindakan belajar dari suatu hal tersebut nampak sebagai perilaku


belajar yang nampak dari luar. Pengertian dari belajar sangat beragam,
banyak dari para ahli yang mengartikan secara berbeda-beda definisi dari
belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar merupakan hal yang
penting dalam bidang pendidikan. Tentu saja dalam proses belajar terdapat
teori teori yang memunculkan adanya belajar.

Maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang sangat pesat.


Dengan bermunculnya teori teri yang baru akan menyempurnakan teori
teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil
manfaat dengan adanya teori tersebut. tentunya setiap teori belajar memiliki
keistimewaan tersendiri. Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga
1
Psikologi Pendidikan | 1
terdapat kritikan kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut. dalam hal
ini, penulis akan mengkaji salah teori belajar pengolahan informasi.

B. Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini, penulis merumuskan permasalahan sebagai


berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan gejala - gejala jiwa?


2. Apa saja macam dan karakteristik dari gejala jiwa tersebut?
3. Apa Pengertian dari Sistem memori manusia?
4. Bagaimana Proses Komponen belajar?
5. Apa saja macam Aplikasi teori pengolahan informasi dalam
belajar?

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka, tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui hakikat dari gejala-gejala jiwa


2. Mengatahui macam dan karakteristik dari proses mental atau gejala
jiwa tersebut.
3. Mengetahui Pengertian dari Sistem memori manusia?
4. Mengetahui Proses Komponen belajar?
5. Mengetahui saja macam Aplikasi teori pengolahan informasi dalam
belajar?

BAB II

Psikologi Pendidikan | 2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Gejala Jiwa

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, psikologi merupakan ilmu


yang mempelajari proses mental dan perilaku pada manusia. Perilaku
manusia akan lebih mudah dipahami jika kita juga memahami proses mental
yang mendasari perilaku tersebut. Demikian juga kita akan lebih mudah
memahami perilaku siswa jika kita memahami proses mental yang
mendasari perilaku siswa tersebut Mengingat pentingnya pemahaman
tentang proses mental tersebut, maka dalam bab ini akan dijelaskan
beberapa akfivitas atau proses mental yang umum terjadi pada manusia,
khususnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Proses mental
juga sering disebut dengan gejala jiwa.

B. Macam - Macam Gejala Jiwa dan Karakteristiknya

1. Gejala Jiwa Kognisi (Pengenalan)

Istilah cognitive beasal dari kata cognition yang mempunyai padanan kata
atau sinonim knowing yang mempunyai arti mengetahui. Dalam arti luas,
cognition (kognisi) merupakan pemerolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan. Dala perkembangannya istilah kognisi berkembang menjadi
suatu ranah psikologis manusia yang meliputi setiap peilaku mental yang
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.

Gejala kognisi meliputi:

a. Pengamatan

Pengamatan merupakan proses mengenal segala sesuatu yang ada disekitar


kita dengan menggunakan alat indera. Panca indera dimilik oleh baik

Psikologi Pendidikan | 3
manusia maupun hewan. Namun manusia dianugerahi akal yang menjadikan
manusia berbeda dengan makhluk Tuhan yang lainnya.

Proses dalam pengamatan adalah sebagai berikut:

1) Harus ada perhatian yang ditujukan kepada perangsang

2) Ada perangsang yang mengenai alat indera kita

3) Ada alat indera yang menangkap perangsang

4) Ada urat syaraf yang membawa perangsang ke otak

5) Ada otak yang menyadarinya.

b. Tanggapan

Tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang pokok, dapat


diartikan sebagai gambaran ingatan dari pengamatan, ketika objek yang
diamati tidak lagi berada dalam ruang dam waktu pengamatan. Jadi,
jika proses pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-
kesannya saja, peristiwa demikian ini disebut tanggapan.

Tanggapan disebut laten (tersembunyi, belum terungkap), apabila


tanggapan tersebut ada di bawah sadar, atau tidak kita sadari, dan suatu saat
bisa disadarkan kembali. Sedang tanggapan disebut aktual, apabila
tanggapan tersbut kita sadari.

Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan:

1) Pengamatan terikat pada tempat dan waktu, sedang pada


tanggapan tidak terikat waktu dan tempat.
2) Objek pengamatan sempurna dan mendetail, sedangkan objek
tanggapan tidak mendetail dan kabur.
3) Pengamatan memerlukan perangsang, sedang pada tanggapan
tidak perlu ada rangsangan.
4) Pengmatan bersifat sensoris, sedang pada tanggapan bersifat
imaginer.

c. Fantasi

Psikologi Pendidikan | 4
Fantasi adalah daya jiwa untuk membentuk atau mencipta
tanggapan - tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang sudah ada,

Jenis-jenis fantasi adalah sebagai berikut :

1) Fantasi Mencipta

Fantasi yang terjadi atas inisiatif atau kehendak sendiri, tanpa


bantuan orang lain atau jenis fantasi yang mampu menciptakan hal-hal
baru. Fantasi macam ini biasanya lebih banyak dimilki oleh para seniman,
anak-anak, dan para ilmuwan.[3]

2) Fantasi Tuntunan atau Terpimpin

Fantasi yang terjadi dengan bantuan pimpinan atau tuntunan orang


lain. Dalam hal ini misalnya kalau kita sedang membaca buku, kita
mengikuti pengarang buku itu dalam ceritanya.

Fungsi Pokok Fantasi adalah sebagai berikut :

a) Fantasi mengh-abstrahir (mengabstraksi)

Fantasi dengan menyaring atau memisahkan sifat-sifat tertentu dari


tanggapan yang sudah ada. Misalnya anak yang belum pernah melihat
gurun pasir, maka dalam berfantasi, dibayangkan dengan seperti
lapangan tanpa pohon-pohon disekitarnya dan tanahnya malulu pasir
semua bukan rumput.

b) Fantasi Mengkombinir

Fantasi dengan mengabungkan dua atau lebih tanggapan-tanggapan


yang sudah ada, disusun menjadi satu tanggapan baru. Misalnya:
Tanggapan badan singa + kepala manusia = Spinx di kota Mesir

c) Fantasi Mendeterninir

Fantasi dimana tanggapan lama dilengkapi, disempurnakan dan


mendapatkan ketentuan yang lebih jelas dan terbatas sehingga tercipta
tanggapan baru

Psikologi Pendidikan | 5
d. Daya Ingatan

Ingatan (memory) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan,


dan mereproduksi kesan-kesan.

Sifat Daya ingatan itu tidak sama pada tiap orang, oleh karena
itu, sifat daya ingatan dibedakan menjadi:

1) Ingatan yang mudah dan cepat: orang yang memiliki daya


ingatan inidnegan cepat dan mudah menyimpan dan mencamkan
kesan-kesan.
2) Ingatan yang luas dan teguh: sekaligus seseorang dapat menerima
banyak kesan dan dalam daerah yang luas
3) Ingatan yang setia: kesan yang telah diterimanya itu tetapi tidak
berubah, tetap sebagimana waktu menerimanya.
4) Ingatan yang patuh: kesan-kesan yang telah dicamkan dan
disimpan itu dengan cepat dapat direprodusir

e. Berfikir

Ialah hasil proses berfikir yang merangkum sebagian dari


kenyataan yang dinyatakan dengan satu perkataan. Dalam hal ini
misalnya pengertian sepeda merangkum segala jenissepeda yang kita
ketahui, dan kita menyatakannya dengan satu perkataan yaitu
sepeda.

Dalam berfikir, seseorang menghubungkan pengertian satu


dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan
persoalan yang dihadapi. Dalam pemecahan persoalan, individu
membeda-bedakan, mempersatukan dan berusaha menjawab pertanyaan,
mengapa, untuk apa, bagaimana, dimana dan lain sebagainya. Hal-hal yang
berhubungan dengan berfikir adalah:

a. Pengertian

b. Keputusan

c. Kesimpulan

f. Intelegensi

Psikologi Pendidikan | 6
Intelligensi ialah kesanggupan rohani untuk menyesuaikan diri
kepada situasi yang baru dengan menggunakan berfikir menurut tujuannya.
Seseorang dapat dikatakan berbuat intelligen kalau dalam situasi
tertentu, ia dapat berbuat dengan cara-cara yang tepat. Artinya, ia
dapat memecahkan kesulitan-kesulitan, soal-soal yang terdapat dalam
situasi itu. Dengan kata lain, ia dapat menyesuaikan diri dengan situasi
yang baru itu.

2. Gejala Jiwa Konasi (Kemauan)

Kemauan merupakan salah satu fungsi hidup kejiwaan manusia,


dapat diartikan sebagai aktifitas psikis yang mengandung usaha aktif dan
berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Tujuan adalah titik akhir
dari gerakan yang menuju pada sesuatu arah. Adapun tujuan kemampuan
adalah pelaksanaan suatu tujuan-tujuan yang harus diartikan dalam suatu
hubungan. Misalnya, seseorang yang memiliki suatu benda, maka tujuannya
bukan pada bendanya, akan tetapi pada mempunyai benda itu, yaitu berada
dalam relasi (hubungan), milik atas benda itu. Seseorang yang mempunyai
tujuan untuk menjadi sarjana, dengan dasar kemauan, ia belajar dengan
tekun, walaupun mungkin juga sambil bekerja. Dalam istilah sehari-hari,
kemauan dapat disamakan dengan kehendak dan hasrat. Kehendak ialah
suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu yang merupakan kekuatan
dari dalam dan tampak dari luar sebagai gerak-gerik.

Gejala Konasi terbagi atas:

a. Dorongan

b. Keinginan

c. Hasrat

d. Kecenderungan

Psikologi Pendidikan | 7
e. Hawa nafsu

f. Kemauan

Pribadi memberikan corak dan menentukan, sesudah memilih


dan mengambil keputusan. Perbuatan memilih dan mengambil
keputusan ini disebut dengan keputusan kata hati.

3. Gejala Jiwa Emosi (Perasaan)

Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh semua orang


dan tingkatannya tidak sama. Perasaan tidak termasuk gejala mengenal,
walaupun demikian, perasaan sering juga berhubungan dengan gejala
mengenal.[4]

Jenis-jenis Emosi (perasaan) adalah sebagai berikut :

1. Perasaan-perasaan jasmaniyah: jenis perasaan ini sering pula


disebut perasaan tingkat rendah yang terbagi sebagai berikut:

a) Perasaan sensoris: yaitu perasaan yang berhubungan dengan


stimulus terhadap indra, misalnya: dingin, hangat, pahit, asam dan
sebagainya.
b) Perasaan vital: yaitu perasaan yang berhubungan dengan kondisi
jasmani pada umumnya, misalnya lelah, lesu, lemah, segar,
sehat dan sebagainya.

2. Perasaan-perasaan rohaniah: sering pula disebut sebagai perasaan


luhur (tingkat tinggi), yang terdiri dari:

a) Perasaan intelektual: yaitu perasaan yang berhubungan dengan


kesanggupan intelektual dalam mengatasi suatu masalah, misalnya:
senang atau puas ketika berhasil (perasaan intelektual positif),
kecewa atau jengkel ketika gagal (perasaan intelektual negatif).
b) Perasaan kesusilaan (etis): yaitu perasaan yang berhubungan
dengan baik-buruk atau norma, misalnya: puas ketika mampu
melakukan hal yang baik, atau menyesal ketika melakukan hal
yang tidak baik.

Psikologi Pendidikan | 8
3) Perasaan estetis (keindahan); yaitu perasaan yang berhubungan
dengan penghayatan dan apresiasi tentang sesuatu yang indah tau tidak
indah. Perasaan ini timbul jika seseorang mengamati sesuatu yang indah
atau yang jelek. Yang indah menimbulkan perasaan positif, yang jelek
menimbulkan perasaan yang negatif.

4) Perasaan sosial (kemasyarakatan): yaitu perasaan yang cenderung


untuk mengikatkan diri dengan orang-orang lain, misalnya: perasaan
cinta sesama manusia, rasa ingin bergaul, ingin menolong, rasa simpati atau
setia kawan dan sebagainya.

5) Perasaan harga diri: yaitu perasaan yang berhubungan dengan


penghargaan diri seseorang, misalnya: rasa senang, puas, dan bangga
akibat adanya pengakuan dan penghargaan dari orang lain atau
sebaliknya.

6) Perasaan ketuhanan (religius): yaitu perasaan yang berkaitan


dengan kekuasaan dan eksistensi dari Tuhan. Manusia merupakan satu-
satunya yang dianugrahkan perasaan ini oleh Tuhan. Perasaan ini
digolongkan pada peristiwa psikis yang paling luhur dan mulia. Menurut
pandangan filsafat ketuhanan (theologi) menusia disebut homo
divinans yaitu manusia senantiasa memilki kepercayaan terhadap Tuhan
dan hal-hal yang bersifat ghaib.

4. Gejala Jiwa Campuran

Gejala campuran meliputi Perhatian, Sugesti, dan kelelahan.

a) Perhatian

Dalam istilah psikologi, perhatian diartikan sebagai suatu reaksi yang


dilakukan oleh organisme dan kesadaran seseorang.[5] Perhatian ialah
konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan
sebagainya dengan mengenyampingkan yang lain daripada itu.[6] Perhatian
adalah reaksi umum yang menyebabkan bertambahnya aktifitas daya

Psikologi Pendidikan | 9
konsentrasi dan fokus terhadap satu objek, baik didalam maupun di luar
dirinya.Perhatian juga adalah merupakan penyeleksian terhadap stimuli
yang ditermia oleh individu yang bersangkutan.[7]

Menurut Dr. Aryan Ardhana, perhatian adalah suatu kegiatan jiwa.


Perhatian dapat didefinisikan sebagai proses pemusatan phase-phase atau
unsur-unsur pengalaman dan mengabaikan yang lainnya. Sedang menurut
Drs. Dakir, perhatian adalah keaktifan peningkatan kesadaran dalam
pemusatannya kepada barang sesuatu baik di dalam maupun di luar diri kita.
[8]

Faktor yang mempengaruhi perhatian :

Pembawaan

Latihan dan kebiasaan

Kebutuhan

Kewajiban

Keadaan jasmani

Suasana jiwa

Suasana di sekitar

Kuat atau tidaknya perangsang dari obyek itu sendiri

b) Sugesti

Sugesti adalah pengaruh atas jiwa atau perbuatan seseorang, sehingga


pikiran, perasaan dan pikirannya terpengaruh, dan dengan begitu orang
mengakui apa yang di kehendaki dari padanya. Cara untuk menyugesti :

- Dengan membujuk

- Dengan memuji

- Dengan menakut nakuti

- Dengan menunjukan kekurangan atau kelebihan

Psikologi Pendidikan | 10
c) Kelelahan

Adalah gejala berkurangnya manusia untuk melakukan sesuatu.


Sebab-sebab terjadinya kelelahan:

1) Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jasmani. Misalnya, olahraga.

2) Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jiwa. Misalnya, memikirkan


masalah yang sulit/pelik.

Macam-macam kelelahan:

1) Kelelahan jasmani

2) Kelelahan Rohani

Hubungan kelelahan jasmani dan rohani yaitu pekerjaan jasmani


dapat menimbulkan kelelahan jasmani pun dapat menimbulkan kelelahan
rohani

d) Intuisi

Intuisi berasal dari Intueri yang artinya mengindra dengan jiwa,


memandang dengan batin. Kata lain dari Intuisi adalah ilham, bisikan kalbu.
Intuisi adalah pandangan batiniah yang sertamerta tembus mengenai satu
peristiwa atau kebenaran tanpa perurutan pikiran, mirip ilham. Intuisi
merupakan bentuk pikiran yang samar-samar, sering setengah disadari tanpa
diiringi prises berfikir yang cermat sebelumnya namun kenudian dapat
menuntun pada satu keyakinan.

Intuisi adalah kemampuan jiwa manusia dalam mendapatkan


kesimpulan suatu soal tanpa uraian, tanpa ketenangan, dan tanpa analisis
tertentu.

Berikut uraian tentang Intuisi yaitu :

1. Intuisi tidak berdasarkan pada proses berpilir yang berturut-turut,


tidak derdasarkan pertimbangan, dan perhitungan seksama.
2. Intuisi terjadi sama halnya dengan perbuatan instingsif tidak dengan
aktifitas piker tetapi tidak sama dengan insting.

Psikologi Pendidikan | 11
3. Intuisi banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang
mempunyai nilai yang baik tetapi kadang-kadang berakibat yang
tidak menyenangkan.
4. Biasanya wanita lebih intuitif dari pada pria.
5. berfikir adalah berbicara batin yang tidak terdengar.

C. Pengertian Sistem Memori Manusia

Konsepsi lama tentang memori manusia adalah bahwa memori itu


semata-mata hanya tempat penyimpanan informasi dalam waktu yang lama.
Jadi memori adalah koleksi potongan-potongan kecil informasi yang
terlepas-lepas dan tidak saling berkaitan.

Berdasar penjelasan-penjelasan tersebut kita dapat berpandangan bahwa


memori itu adalah sebuah wadah yang berisi data-data, dimana data-data
tersebut belum tentu saling berkaitan.

Di mulai tahun 1960-an memori manusia dipandang sebagai suatu


struktur yang rumit untuk mengolah dan mengorganisasi semua
pengetahuan, demikian menurut Naisser, 1967. Ada juga yang mengatakan
memori adalah merupan gudang yang pasif, tetapi merupakan suatu yang
aktif memilih data penginderaan mana yang akan di olahnya, mengubah
data data menjadi informasi yang bermakna dan menyimpan infotmasi itu
untuk digunakan di waktu kemudian. Hal ini berarti memori juga dapat
dikatankan sebagai suatu alat yang berfungsi untuk menangkap, mengolah
dan menggunakannya di lain waktu ketika di butuhkan. Memori merupakan
suatu sistem yang rumit dengan banyak tahapannya dan saling berinteraksi.
Ini berarti dalam memori terdapat interaksi-interaksi antara data-data dan
lapisan-lapisan atau tahapan-tahapan yang ada di dalamnya.

Sebagian besar model-model yang dikembangkan tahun 1960-an


mengajukan tiga struktur memori yaitu:

1. Pencatatan penginderaan (Sensoric Memori)

Psikologi Pendidikan | 12
Rangsangan yang diterima oleh indera yang kemudian akan diteruskan
sebagai informasi ke sistem memori selanjutnya. Informasi yang terdapat
pada stimulus atau rangsangan dari luar akan diterima manusia melalui
panca inderanya. Informasi tersebut akan tersimpan di dalam ingatan selama
tidak lebih dari satu detik saja. Ingatan tersebut akan hilang lagi tanpa
disadari dan akan diganti dengan informasi lainnya. Ingatan sekilas atau
sekelebat yang didapat melalui panca indera ini biasanya disebut sensory
memory atau ingatan inderawi. Berdasar pada apa yang dipaparkan di
atas, dapatlah disimpulkan bahwa, seperti yang telah sering dialami para
guru dan telah dinyatakan dua orang siswa di bagian awal tulisan ini, pesan
atau keterangan yang disampaikan seorang guru dapat hilang seluruhnya
dari ingatan para siswa jika pesan atau keterangan tersebut terkategori
sebagai pencatatan pengideraan. Alasanya, seperti sudah dipaparkan tadi,
pencatatan pengideraan hanya dapat bertahan di dalam pikiran manusia
selama tidak lebih dari satu detik saja.

2. Penyimpanan Jangka Pendek (working memory)

yaitu Suatu informasi baru yang mendapat perhatian siswa, tentunya


akan berbeda dari informasi yang tidak mendapatkan perhatian dari mereka.
Suatu informasi baru yang mendapat perhatian seorang siswa lalu
terkategori sebagai penyimpanan jangka pendek. Jelaslah bahwa
penyimpanan jangka pendek adalah setiap Ingatan Inderawi yang
stimulusnya mendapat perhatian dari seseorang.

Dengan kata lain, penyimpanan jangka pendek tidak akan terbentuk di


dalam otak siswa tanpa adanya perhatian dari siswa terhadap informasi
tersebut. Penyimpanan jangka pendek ini dapat bertahan relatif jauh lebih
lama lagi, yaitu sekitar 20 detik.

Sebagai akibatnya, pengetahuan tentang perbedaan antara kedua ingatan


ini lalu menjadi sangat penting untuk diketahui para guru dan diharapkan
akan dapat dimanfaatkan selama proses pembelajaran di kelasnya. Sekali
lagi, perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru
akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang

Psikologi Pendidikan | 13
disampaikan para guru tersebut. Karenanya, untuk menarik perhatian para
siswa terhadap bahan yang disajikan, di samping selalu memotivasi
siswanya, seorang guru pada saat yang tepat sudah seharusnya
mengucapkan kalimat seperti: Anak-anak, bagian ini sangat penting.
Tidak hanya itu, aksi diam seorang guru ketika siswanya ribut, mencatat hal
dan contoh penting di papan tulis, memberi kotak ataupun garis bawah
dengan kapur warna untuk materi essensial, menyesuaikan intonasi suara
dengan materi, memukul rotan ke meja, sampai menjewer telinga
merupakan usaha-usaha yang patut dihargai dari seorang guru selama proses
pembelajaran untuk menarik perhatian siswanya. Namun hal yang lebih
penting lagi adalah bagaimana menumbuhkan kemauan dan motivasi dari
dalam diri siswa sendiri, sehingga para siswa akan mau belajar dan
memperhatikan para gurunya selama proses pembelajaran sedang
berlangsung.

3. Penyimpanan Jangka Panjang (Long Term Memory)

Suatu proses penyimpanan informasi yang permanen. Memori jangka


panjang ini berasal dari memori jangka pendek yang selalu diulang-ulang
dan berkesan bagi individu sehingga informasi yang ia terima dapat bersifat
permanen dan bila suatu saat ia butuhkan maka akan teringat lagi. Informasi
yang sudah tersimpan di dalam penyipanan jangka panjang ini sulit untuk
hilang, sehingga dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa penyimpanan
jangka panjang adalah penyimpanan jangka pendek yang mendapat
pengulangan. Kata lainnya kata lainnya penyimpanan jangka panjang tidak
akan terbentuk tanpa adanya pengulangan.

Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata


kunci dalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di
rumah merupakan kata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan
atau ketidak berhasilan suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka waktu
yang lama. Itulah sebabnya, ada guru berpengalaman yang menyatakan
kepada siswanya bahwa akan jauh lebih baik untuk belajar 6 10 menit
daripada 1 60 menit.

Psikologi Pendidikan | 14
Selain pengulangan atau latihan, beberapa hal penting yang harus
diperhatikan Bapak dan Ibu Guru agar suatu pengetahuan dapat diingat
siswa dengan mudah adalah:

1. Sesuatu yang sudah dipahami akan lebih mudah diingat siswa

dari pada sesuatu yang tidak dipahaminya. Contohnya, proses untuk


mengingat bilangan 17.081.945 akan jauh lebih mudah daripada proses
mengingat bilangan 51.408.791 karena bilangan pertama sudah dikenal
para siswa, apalagi jika dikaitkan dengan hari kemerdekaan RI pada 17
Agustus 1945 yang dapat ditulis menjadi 17081945.

2. Hal-hal yang sudah terorganisir dengan baik akan jauh lebih mudah
diingat siswa daripada hal-hal yang belum terorganisir. Contohnya,
mengingat susunan bilangan 4, 49, 1, 16, 9, 36, dan 25 akan jauh lebih
sulit daripada mengingat bilangan berikut yang sudah terorganisir
dengan baik: 1, 4, 9, 16, 25, 36, dan 49.

3. Sesuatu yang menarik perhatian siswa akan lebih mudah diingat


daripada sesuatu yang tidak menarik hatinya. Acara televisi yang
menarik perhatian para siswa akan memungkinkan para siswa untuk
duduk berjam-jam di depan TV dan jalan ceriteranya akan mampu
mereka ingat dengan mudah. Namun hal yang sebaliknya akan terjadi
juga, yaitu suatu proses pembelajaran yang tidak menarik perhatian
mereka dapat menjadi beban bagi siswa dan tentunya juga bagi para
guru.

D. Komponen Belajar

Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar ada tiga tahapan


yaitu: 1) mengarahkan perhatian ke stimulus 2) mengkode stimulus 3)
penyimpanan dan pemanggilan informasi.

1. Perhatian ke stimulus

Psikologi Pendidikan | 15
Pengolahan sistem informasi dalam memori manusia diawali ketika
isyarat fisik diterima pencatat sensori melalui indera (visual, audio maupun
kenestik ). Isyarat fisik ini disimpan sebenta di sebut ikon dan memori audio
disebut peniru bunyi (echo). Jenis retensi isyarat yang ke tiga disebut taktil
atau haptik, untuk retensi ini belum banyak penelitian yang di lakukan.
Peranan perhatian ada dua peran perhatian dalam sistem pengolahan
informasi yaitu:

1) Pengolahan Informasi secara otomatik, peran perhatian terhadaap hal-hal


yang sudah sedemikian luasnya sehingga berlangsung tanpa kendali secara
sadar dan tidak memerlukan perhatian khusus. Misalnya pengenalan pola-
pola yang sudah diketahui seperti pola perkalian 1 x 10. B) pros deliberate,

2) Peranan perhatian untuk mengolah informasi yang memerlukan usaha


sadar yang dilakukan secara terkosentrasi, yaitu untuk mengenal informasi
yang diperlukan untuk pola-pola yang belum diketahui (baru).

2. Mengkode Stimulus

Apakah stimulus akan diolah sebagai informasi aktif atau akan lebih
lanjut atau tidak sampai memori jangka panjang sebagai memori inaktif,
maka di perlukan pengkodean yaitu mengubah stimulus sehingga dapat di
simpan sehingga pada waktu lain dapat dimunculkan kembali dengan
mudah. Ada dua cara pengkodean yaitu: gladi pelihara atau gladi primer dan
gladi elaboratif. Pengulangan terhadap informasi yang ingin diingat ini
adalah salah satu contoh gladi pelihara. Kebalikannya gladi elaboratif adalah
mengubah melalui berbagai cara yaitu:

a) diganti dengan lambang lain (subsitusi)

b) dilengkapi dengan informasi tambahan untuk memudahkan


mengingatnya.

Contoh : mengenai hal tersebut seperti pada hal di bawah ini:


Mengasosiasikan pohon korma (informasi baru) dengan pohon korma
sawit (informasi lama) ini adalah contoh gladi elaboratif.

Psikologi Pendidikan | 16
3. Penyimpanan Dan Retrival

Pengkodean dimaksud kan untuk menyimpan informasi guna


disimpan dalam memori jangka panjang untuk dapat di ingat kembali
sewaktu-waktu diperlukan. Untuk proses ini sangat bergantung bagai mana
informasi itu disimpan dan bagaimana hubungan informasi itu dengan
informasi sebelumnya dari memori jangka panjang. Gladi pelihara dan gladi
elaboratif ke duanya dapat membantu individu dalam mengingat informasi
dalam waktu yang akan datang. Sistem mnemonik adalah cara untuk
memudahkan kembali meliputi: akronim, catatan, kartu pengisyaratan, titian
ingatan, penggunaan kata-kata frase untuk mengingat not-not yang terletak
pada garis-garis paranada dan seterusnya.

E. Aplikasi Teori Pengolahan Informasi Dalam Belajar

Penerapan teori pengolahan informasi dalam belajar berasumsi bahwa


meemori manusia itu suatu sistem yang aktif, yang mampu menyeleksi,
mengorganisasi dan mengubah menjadi suatu sandi-sandi informasi dan
keterampilan bagi penyimpananya untuk di pelajari. Dalam hal ini individu
diartikan sebagai suatu objek yang memiliki kemampuan untuk
menghasilkan suatu penyleksian, pengorganisasian danpengubahan terhadap
informasi yang di dapat menjadi suatu sandi-sandi yang berguna untuk
memudahkan individu dalam proses belajar yang akan dijalani dirinya.

Mengenai hal di atas, para ahli kognitif juga berasumsi bahwa belajar
yang berhasil sangat bergantung pada tindakan belajar daripada hal-hal yang
ada di lingkungannya. Ini menunjukan bahwa dalam proses belajar ini
tindakan dari peserta didik adalah hal utama yang mempengaruhi terhadap
hasil belajar yang akan di capai dari peserta didik, dalam hal ini menyangkut
aspek perubahan perilaku seperti: aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Komponen belajar menurut teori pengolahan informasi seperti yang


telah dijelaskan pada pembahasan di atas, bahwakomponen belajar adalah

Psikologi Pendidikan | 17
perhatian yang ditujukan pada stimulus, pengkodean stimulus, dan
penyimpanan dan mendapatkan kembali (retrival).

Atas dasar komponen dasar tersebut, selanjutnya hal yang esensial dari
pembelajaran adalah :

a. Membimbing untuk menerima stimulus

b. Memperlancar pengkodean

c. Memperlancar penyimpanan dan retrival.

Melihat dari komponen tersebut sudah pasti ketiganya merupakan


suatu satu kesatuan yang harus dilakukan secara berutan dan akan selalu
mempengaruhi hasil yang akan di dapat atau hasil belajar dari peserta didik
itu sendiri.

1. Membimbing Peserta Didik Dalam Penerimaan Stimulus

Sistem memori dapat melakukan proses seleksi atas stimulus-


stimulus yang akan diperhatikannya, ini juga dapat dikatakan bahwa sistem
memori manusia memiliki suatu aplikasi filterasi terhadap stimulus-stimulus
yang di perhatikannya. Kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan
berkaitan dengan memberikan bimbingan perhatian peserta didik terhadap
penerimaan stimulus antara lain:

a. Memusatkan perhatian ke stimulus-stimulus tertentu yang di


pilih. Dalam hal ini pendidik akan memberikan perhatian khusus
terhadap siswa mengenai stimulus-stimulus yang akan dipilih.
Jadi dengan demikian siswa/peserta didik akan lebih
terkosentrasi pada stimulus yang telah ditentukan.

b. Mengenali secara awal stimulus dengan kode-kode tertentu.


Dalam pengenalan awal stimulus melalui pengkodean yaitu
bagaimana individu mengubah stimulus yang ada sehingga dapat
di simpan dan pada waktu yang lain dapat dimunculkan kembali
dengan mudah. Dalam pengkodean ini akan terjadi proses

Psikologi Pendidikan | 18
pengulangan dan menghubungkan dengan informasi lama yang
sudah tertanam dalam memori manusia.

Hal penting agar kegiatan menyajikan fokus adalah dengan


memudahkan peserta didik dalam menerima informasi yang cermat dan
lengkap. Atau dengan ungkapan lain apakah informasi yang diberikan itu
diterima di dalam memori kinirja peserta didik. Untuk memudahkan
penerimaan informasi untuk tujuan behavioral dapat dilakukan dengan
organise muka (advance organize), yaitu merupakan konsep-konsep paying
bagi bahan baru.

Tujuan dengan pemberian kerangka ini atau advance organize yaitu


untuk membantupeserta didik untuk mengetahui dan memperhatikan hal-hal
penting dari material atau bahan pelajaran yang baru. Adapun yang
mengatakan bahwa advance organizer juga berguna untuk memberikan
kerangka konseptual untuk belajar. Selain itu melalui advance organizer
akan menjadi suatu penghubung antara simpanan informasi peserta didik
pada waktu sekarang dengan dengan belajar yang baru. Melalui hal ini juga
dapat di gunakan sebagai jembatan antara kognitif lama dan struktur
kognitif yang akan diperoleh, sehingga melalui advance organizer dapat
memperlancar proses mengkode pada peserta didik.

Membahas mengenai advance organizer, ada dua jenis organizer


yang disampaikan (mayer: 19979) yaitu:

a. Organizer Ekspositorik yaitu memberikan mekanisme untuk

membuat hubungan logis dalam materi baru. Dalam hal ini yang
menjadi titik pusatnya adalah bagaimana membuat hubungan
yang singkron/ masuk akal antara informasi yang di miliki
peserta didik dengan informasi yang akan di peroleh saat proses
belajar.

b. Organizer komparatif yaitu memberikan mekanisme untuk


menghunbungkan informasi yang baru dan tidak di kenal dengan
pengetahuan yang sudah ada. Dalam hal ini dapat diartikan juga

Psikologi Pendidikan | 19
bahwa melalui organizer ini, peserta didik akan dibantu untuk
memahami informasi yang sama sekali belum dikenal dan belum
ada pada informasi yang sudah dimilikinya. Hal ini akan di
lakukan oleh pendidik melalui pengenalan sederhana mengenai
informasi baru tersebut dan setelah itu akan diperinci. Selain dari
pada itu pendidik juga akan memberikan motivasi pada peserta
didik agar mampu untuk memahami informasi baru tersebut,
motivasi yang di berikan dapat berupa data-data pendukung dan
penanaman rasa percaya diri kepada siswa bahwa ia mampu
untuk mengkode dan memunculkan kembali pada waktu yang
berbeda (masa datang).

2. memperlancar pengkodean

Pengkodean berfungsi untuk menyiapkan informasi baru untuk di


simpan kedalam memori jangka panjang.proses ini menghendaki adanya
tranformasi informasi menjadi kode ringkasan guna memudahkan dan
mengingat kembali di waktu kemudian mengenai informasi tersebut. Ada
dua rancangan yang berbeda yang dapat memudahkan pengkodean yaitu
dengan memberikan pengisyaratan, elaborasi, dan cara titian ingatan sebagai
pembantu untuk menyusun sandi atau kode-kode guna memudahkan dalam
proses penyimpanan pada memori kerja peserta didik. Rancangan ini
disebut bantuan berbasis pembelajaran, contohnya: penggunaan sinonim
untuk kata-kata yang sulit pertanyaan ulangan, akronim untuk belajar
asosiasi yang sifatnya sembarang. Teknik yang kurang dikenal juga akan di
lakukan pengkodean melalui pemberian petunjuk yang dapat berupa judul
paragraf atau kata-kata yang berhubungan.

Rancangan yang lain adalah berfungsi untuk memberikan


kesempatan bagi terjadinya elaborasi(pengubahan) yang dihasilkan peserta
didik, rancangan ini disebut bantuan berbasis peserta didik. Dalam hal ini
peserta didik diberikan suatu kesempatan untuk mengubah atau melakukan
peengubahan dengan caranya sendiri terhadap informasi agar bagaimana
mudah untuk di ingat dan melakukan retrival (memunculkan kembali).

Psikologi Pendidikan | 20
Memperoleh Pada bantuan yang berbasis peserta didik yaitu berupa
pengisyaratan baik visual maupun verbal yang berasal dari peserta didik itu
sendiri, yang dapat membantunya belajar memperoleh asosiasi yang
sembarangsaja sifatnya misalnya; sebuah daftar, methode dan sebagainya.

3. memperlancar penyimpanan dan retrival

Suatu taktik atau siasat pengkodean sangat penting karena hal ini
dapat meningkatkan kemampuan mengingat kembali pada waktu yang akan
datang. Ini dapat ditujukan berupa: irama bunyi,sajak, kata-kata pokok, citra
visual dan sebagainya, yang semuanya memberikan pengisyaratan untuk
maksud retrival bagi peserta didik dalam proses belajar. Elaborasi berbasis
pembelajaran dan peserta didik keduanya juga memberikan sumbangan
yang besardalam proses mengingat kembali terhadap informasi yang sudah
tersimpan dalam memori menusia.

Proses pemunculan kembali apa yang telah tersimpan atau dsimpan


dalam memori manusia dianalogikan dengan mekanisme penelusuran.
Maksud dari hal itu juga dapat dikatakan bahwa retrival dikatakan sebagai
suatu proses pemunculan informasi yang tersimpan dalam long term memori
( ingatan jangka panjang) melalui suatu penelusuran dan penyeleksian
terhadap informasi yang akan dimunculkan

Menanggapi penjelasan di atas Norman dan Bobrow,


mengemukakan dua tahapan dalam melaksanakan penelusuran, yaitu:

a. Tahap pertama : menetapkan informasi yang diinginkan atau


yang ingin dimunculkan dari dalam ingatan (retrival). Berarti
dalam tahap ini individu melakukan suatu peenyeleksian
terhadap informasi-informasi yang ada pada memorinya dan
memilih sesuai apa yang akan di munculkan.

b. Tahap kedua : penelusuran yang sebenarnya yaitu dapat


dikatakan hal yang mencakup tindakan peninjauan kembali
struktur ingatan dan informasi-informasi yang terkait di
dalamnya, sampai informai yang diinginkan didapatkan atau di

Psikologi Pendidikan | 21
munculkan kembali.asumsi yang di pakai dalam hal ini adalah
bahwa ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi
dan dan proses penelusurannya bergerak secara herarkis, dari
informasi yang paling umum dan eksklusif ke informasi yang
umum dan rinci, sampai pada informasi yang ingin diinginkan
atau di munculkan kembali dapat didapatkan oleh individu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, psikologi merupakan


ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku pada manusia. Perilaku
manusia akan lebih mudah dipahami jika kita juga memahami proses mental
yang mendasari perilaku tersebut. Demikian juga kita akan lebih mudah

Psikologi Pendidikan | 22
memahami perilaku siswa jika kita memahami proses mental yang
mendasari perilaku siswa tersebut Mengingat pentingnya pemahaman
tentang proses mental tersebut, maka dalam bab ini akan dijelaskan
beberapa akfivitas atau proses mental yang umum terjadi pada manusia,
khususnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Proses mental
juga sering disebut dengan gejala jiwa.

Macam-macam gejala jiwa adalah sebagai berikut:

1. Gejala kognisi (pengenalan), yang meliputi pengamatan, tanggapan,


fantas, daya ingat, berfikir dan fantasi

2. Gejala Konasi (kemauan), terbagi atas dorongan, keinginan, hasrat,


kecenderungan, hawa nafsu, dan kemauan

3. Gejala Emosi (perasaan), meliputi perasaan-perasaan jasamaniah dan


perasaan-perasaan rohaniah

4. Gejala campuran, meliputi Perhatian, Sugesti, dan kelelahan

Berdasarkan pada penjelasan-penjelasan di atas kami dapat menarik


beberapa kesimpulan antaranya:

1. Pengolahan informasi mengandung pengertian tentang bagaimana


seorang individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah
besar informasi yang diterima individu dari lingkungan.

2. Terdapat tiga unsur struktur memori


23 yaitu: Pencatatan penginderaan
(Sensoric Memori), Penyimpanan Jangka Pendek (working memory), dan
Penyimpanan Jangka Panjang (Long Term Memory)

3. Terdapat tiga tahapan belajar dalam teoti pengolahan informasi yaitu;


Perhatian ke stimulus, Mengkode stimulus, dan memperlancar penyimpanan
dan retrival.

B. Saran

Psikologi Pendidikan | 23
Sebagai pendidik, hendaknya kita dapat memahami tentang
peranan psikologi pendidikan dalam proses pembelajaran. Terlebih juga
memahai tentang gejala-gejala jiwa yang terjadi pada manusia.

Gejala-jiwa atau proses mental sangat perlu difahami oleh pendidik,


hal ini dimaksudkan agar lebih dapat memahami proses mental yang dialami
oleh peserta didik, agar kita dapat menerapkan tindakan apa yang akan kita
lakukan apabila dihadapkan dalam suatu masalah dalam proses
pembelajaran.

Kami menyadari dalam penyusunan dan penjelasan yang ada di


dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami
menyarankan untuk dilakukan suatu pengkajian yang lebih mendalam
mengenai materi ini. Dan demi perbaikan makalah kami selanjutnya kami
mohon saran dan ktitik pembaca yang tentunya membangun. Demikianlah
hasil karya tulis kami yang terangkim dalam suatu makalah semoga
bermanfaat dan akhirnya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Agus sujanto, psikologi umum, Jakarta, Bumi aksara, 1993.

Drs. Abu Ahmadi dan Drs. M. Umar M.A., Psikologi Umum, Edisi Revisi,

Surabaya : PT Bina Ilmu, 1992 .

Drs. Dakir, Pengantar Psychologi Umum.

M. Noor HS, Himpunan Istilah Psikologi,

Psikologi Pendidikan | 24
Mardianto. Psikologi Pendidikan. (Online) http://mardianto-

iainsu.blogspot.com/. Diakses 26 Nopember 2014.

Perdana, Andrean. 2013. Gejala Kognisi, Konasi, Emosi Dan

CampuranManusia. (Online)http://www.yuwonoputra.com/2013/07/
gejala-kognisi-konasi-emosi- campuran.html. diakses: 26 Nopember
2014.

Utomo, Bagus. 2013. Gejala Jiwa Kognisi, Emosi, Konasi, dan Campuran.

(Online) http://embesgang.blogspot.com/2013/05/gejala-jiwa-
kognisi-emosi-konasi-dan.html. Diakses: 26 Nopember 2014.

Wanny. 2011. Gejala-Gejala Jiwa yang dapat Memepengaruhi Kehidupan

Manusia. (Online) http://wannypoenya.blogspot.com/2011/06/

makalah-psikologi- gejala-gejala-jiwa.html. Diakses:

2 Desember 2014.

[1] Perdana, Andrean. 2013. Gejala Kognisi, Konasi, Emosi Dan

CampuranManusia. (Online) http://www.yuwonoputra.com/2013/07/

gejala-kognisi-konasi-emosi-campuran.html. diakses:

26 Nopember 2014.

[2] Utomo, Bagus. 2013. Gejala Jiwa Kognisi, Emosi, Konasi, dan

Campuran. (Online) http://embesgang.blogspot.com/2013/05/gejala-

jiwa-kognisi-emosi-konasi-dan.html. Diakses: 26 Nopember 2014.

[3] Wanny. 2011. Gejala-Gejala Jiwa yang dapat Memepengaruhi

Kehidupan Manusia. (Online) http://wannypoenya.blogspot.com /


2011/06/makalah-psikologi-gejala-gejala-jiwa.html. Diakses: 2
Desember 2014.

Psikologi Pendidikan | 25
[4] Mardianto.. Psikologi Pendidikan. (Online) http://mardianto-

iainsu.blogspot.com/. Diakses 26 Nopember 2014.

[5]M. Noor HS, Himpunan Istilah Psikologi, hal.134

[6]Agus sujanto, psikologi umum (Jakarta, Bumi aksara, 1993) hal : 89

[7]Drs. Abu Ahmadi dan Drs. M. Umar M.A., Psikologi Umum, Edisi

Revisi ( Surabaya : PT Bina Ilmu, 1992 ) Hal : 93

[8]Drs. Dakir, Pengantar Psychologi Umum, hal.181

Karwono dan Heni Mularsih.2010.Belajar dan Pembelajaran Serta


Pemanfaatan Sumber

Belajar.Ciputat:Penerbit Cerdas Jaya

Muhibbin Syah.2001. Psikologi belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu

Rasyad, A. 2003. Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press

Psikologi Pendidikan | 26