Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PEMBUATAN MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA DAN STERILISASI

A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengetahui cara membuat media pertumbuhan mikroorganisme
2. Mengetahui jenis dan kegunaan mikroorganisme
3. Mengetahui cara mensterilkan mikroorganisme

B. DASAR TEORI
1. Media Pertumbuhan Mikroba
Mikrobiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai organisme hidup
yang berukuran mikroskopis dikenal dengan mikroorganisme atau jasad
renik yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Mikroorganisme sangat
erat kaitanya dengan kehidupan manusia, beberapa diantaranya
merugikan karena menyebabkan penyakit dan beberapa juga bermanfaat
misalnya terlibat dalam pembuatan anggur, keju, yogurt, produksi insulin,
serta proses perlakuan yang berkaitan pembuangan limbah (Pelczar,
2007). Mikroorganisme juga bermanfaat bagi kehidupan, banyak
penelitian yang dilakukan melalui prosedur laboratorium. Penelitian
dilakukan dengan cara membiakan atau menumbuhkan mikroorganisme,
guna mempelajari sifat-sifat yang dimiliki oleh mikroorganisme dengan
menggunakan media pertumbuhan.
Dalam bidang mikrobiologi untuk menumbuhkan dan mempelajari
sifat-sifat mikroorganisme diperlukan suatu media sebagai tempat
pertumbuhan mikroorganisme. Media merupakan suatu bahan yang terdiri
atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme
baik dalam mengkultur bakteri, jamur, dan mikroorganisme lain (Benson,
2002). Media pertumbuhan harus memenuhi persyaratan nutrisi yang
dibutuhkan oleh suatu mikroorganisme (Atlas, 2004). Suatu media dapat
menumbuhkan mikroorganisme dengan baik diperlukan persyaratan
antara lain: Media diinkubasikan pada suhu tertentu, kelembapan harus
cukup, pH sesuai, dan kadar oksigen cukup baik, media pembenihan harus
steril, media tidak mengandung zat-zat penghambat, dan media harus
mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan mikroorganisme
(Jutono, 1980; Radji, 2010). Nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme
untuk pertumbuhannya meliputi karbon, nitrogen, unsur non logam
seperti sulfur dan fosfor, unsur logam seperti Ca, Zn, Na, K, Cu, Mn, Mg,
dan Fe, vitamin, air, dan energi (Cappucino, 2014).
Beberapa peneliti berhasil menemukan media alternatif untuk
pertumbuhan mikroorganisme dari bahan-bahan yang mudah ditemukan
dialam. Seperti dari sumber protein yaitu kacang tunggak, kacang hijau,
kacang kedelai hitam (Arulananthan, 2012; Ravimannan, 2014). Media
alternatif dari sayuran yaitu wortel, tomat, kubis, dan labu (Deivanayaki,
2012), dari buah yaitu buah avokad dan buah bit (Famurewa, 2008; Al-
Azzauy, 2011). Beberapa peneliti juga telah melakukan penelitian tentang
media pertumbuhan bakteri dari berbagai sumber karbohidrat seperti
seperti ubi rambat, singkong, Kentang dan umbi palmirah, bahkan Sagu
(Kwoseh, 2012; Martyniuk, 2011; Tharmila, 2011). Media pertumbuhan
dapat berupa media cair, media kental (padat), media yang diperkaya,
media yang kering dan media yang sintetik (Dwidjoseputro, 2005),
sedangkan menurut Benson (2002) media pertumbuhan mikrooorganisme
berupa media padat, media cair dan media semi padat. Media dapat
digolongkan berdasarkan bentuk, susunan kimia, dan fungsinya.
Berdasarkan bentuk atau konsistensinya media terdiri dari:
a. Media padat (solid medium) berbentuk padat, tidak mengandung agen
cair.
b. Media cair (liquid medium) berbentuk cair, media ini dapat berupa
bahan organik alamiah (yang dibuat dari kentang, wortel), atau dapat
juga berupa bahan anorganik (misal silica gel).
c. Media semi padat (semi solid medium), media padat yang dapat
dicairkan, apabila dalam keadaan panas berbentuk cair, sedangkan
dalam keadaan dingin berbentuk padat, misalnya media agar.
2. Sterilisasi
Sterilisasi adalah penghancuran atau pemusnahan terhadap semua
mikroorganisme (Schwartz, 2000). Sterilisasi dalam mikrobiologi
merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang terdapat
pada atau di dalam suatu benda. Hal-hal yang dilakukan ketika pertama
kalinya melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptik,
sesungguhnya hal itu telah menggunakan salah satu cara sterilisasi, yaitu
pembakaran. Di lain sisi, ada beberapa peralatan dan media yang umum
dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi yang menjadi rusak apabila
dibakar. Tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu
penggunaan panas, bahan kimia, dan penyaringan atau filtrasi
(Hadioetomo 1985). Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan
pemanasan yang terdiri dari :
a) Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara
langsung, contoh alat jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b) Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800
c) Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang
mengandung air lebih tepat menggunakan metode ini supaya tidak
terjadi dehidrasi. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat
dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi, dll.
d) Uap air panas bertekanan: menggunalkan autoklaf
Autoklaf merupakan alat sterilisasi yang sering digunakan. Alat ini
bekerja dengan sistem sterilisasi basah. Secara prinsip, cara kerja alat ini
adalah sterilsasi dengan menggunakan uap air pada suhu 121C selama 15
menit pada tekanan 1 atm. Atau lebih tergantung ketinggian tempat
terhadap permukaan air laut. Sterilisasi uap ini tergantung pada ; (1) sifat
bahan atau alat, harus dapat ditembus atau terkena uap secara merata tanpa
mengalami kerusakan agar proses sterilisasi berlangsung efektif, (2)
kondisi sterilisasi harus bebas udara (vacuum), (3) suhu yang terukur harus
mencapai 121C dan dipertahankan selama 15 menit. Autoclave
menggunakan uap air murni (lebih ringan dan lebih panas dari udara)
untuk sterilisasi sehingga udara yang terdapat dalam wadah harus
dikeluarkan. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoclave lama
kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang
mengisi autoclave. Setelah semua udara dalam autoclave diganti dengan
uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoclave
naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses
sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah
proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan
turun perlahan hingga sama dengan tekanan atmosfer. Autoclave tidak
boleh dibuka sebelum tekanan turun sampai nol. Hal yang sering keliru
adalah dengan menutup semua katup rapat-rapat sebelum udara dalam
wadah digantikan oleh uap air. Adanya udara dalam wadah saat sterilisasi
dapat mengakibatkan kurang efisiennya sterilisasi. Autoclave hanya dapat
mencapai suhu maksimal pada kondisi uap air murni. Grafik berikut
menggambarkan penurunan suhu jika terdapat campuran udara pada
wadah autoclave saat sterilisasi. (Hardy, S.P. 2002)

3. Inokulasi
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkanbakteri dari medium yang lama ke medium yang baru
dengan tingkat ketelitian yang sangattinggi. Untuk melakukan penanaman
bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agarsemua alat yang ada
dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini
agarmenghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998).

C. ALAT DAN BAHAN


1. ALAT
(a) Tabung reaksi (b) Autoklaf (c) Gelas kimia

(d) Piring (e) Sendok (f) Spatula

(g) Neraca digital (h) Kawat (i) Bunsen

(j) Gelas arloji (k) Kompor listrik (l) Pengaduk kaca

Gambar I.1 Alat Pembuatan Media Pertumbuhan Mikroba dan Sterilisasi

2. BAHAN

a. Air bersih 50 ml
b. Bubuk agar instan 3 gram
c. Vitamin B kompleks 1/2 butir
d. Gula pasir 5 gram
e. Yeast

A. SKEMA KERJA
a. Sterilisasi Alat

Tabung reaksi

Sterilisasi T = 120C , t = 20 menit


Gambar I.2 Skema kerja Sterilisasi Alat

b. Pembuatan Media Agar

Air mineral 50 mL

Pemanasan

Bubuk agar Gula pasir Vitamin B


Air mendidih
3 gram 5 gram butir

Pengadukan
Cairan agar

Penuangan agar pada

1/3 volume tabung reaksi

Peletakan tabung
reaksi dalm
kemiringan 10-20
Gambar I.3 Skema kerja pembuatan media agar

c. Inokulasi

Pembakaran kawat

Pemindahan yeast dari


medium asal ke medium
agar yang baru

Penyumbatan wadah
media inokulasi
Penyimpanan hasil
inokulasi

Gambar I.3 Skema kerja inokulasi

D. DATA PENGAMATAN
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Pembuatan Media Pertumbuhan Mikroba dan
Sterilisasi

No. Perlakuan Hasil Pengamatan

1. Sterilisasi tabung reaksi dengan Tabung reaksi yang akan


autoklaf pada suhu 120 C selama digunakan sebagai wadah
20 menit media setelah disterilisasi
didapat tabung reaksi yang
steril
2. Pendinginan tabung reaksi hingga Setelah selesai disterilisasi
mencapai suhu ruang tabung reaksi didinginkan
dengan cara membuka tutup
autoklaf sehingga tabung
dingin
3. Pembuatan media tumbuh (agar) Hasil campuran tersebut
Mencampurkan 3 gram bubuk agar, berwarna kuning kusam
dengan tekstur kental
30 gram gula, vitamin B butir ke

dalam air mineral 50 mL yang


sudah mendidih. Aduk sampai
semuanya tercampur
4. Penuangan ke tabung reaksi selagi Selagi masih panas larutan
panas hingga 1/3 bagian dari agar dituang kedalam tabung
tabung reaksi reaksi secara langsung.
Kemudian di miringkan
hingga media agar memadat.
5. Proses inokulasi bibit Pemindahan bibit jamur pada
Jamur dari media lama ke media media baru. Sehingga media
baru dengan menggunakan kawat baru ditempati
yang telah steril dengan dibakar
6. Pengamatan pertumbuhan jamur
Hari ke-1 Jamur sejunmlah yang
dipindahkan ke media.
Hari ke-2 Jamur belum menunjukan
Hari ke-3 pertumbuhan
Media dan pertumbuhan
jamurnya sama seperti hari
Hari ke-4
Hari ke-5 sebelumnya
Hari ke-6 Mikroba tidak tumbuh
Tidak ada mikroba yang tubuh
Mikroba tidak mengalami
perubahan. Masih sam seperti
inokulasi
G. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
a. Media pertumbuhan mikroorganisme dapat dibuat dari bubuk agar,
gula, vitamin B dan air.
b. Jenis media pertumbuhan mikroba yaitu, media padat digunakan
untuk bakteri, ragi, dan jamur. Media cair digunakan untuk bakteri
dan ragi. Media semi padat untuk pertumbuhan mikroba yang
banyak memerlukan kandungan air dan bersifat anaerobic.
c. Media dapat disterilisasi menggunakan autoklaf yang berfungsi
untuk mematikan bakteri kontaminan

2. Saran
a. Lebih cepat dan cermat dalam memindahkan yeast dari media lama
ke media baru
b. Alat yang digunakan harus dalam keadaan steril
c. Teliti dalam melakukan praktikum pembuatan media pertumbuhan
mikroba.
DAFTAR PUSTAKA

Al-azzauy, Ahmed A.M., & Salman, A.M.H. 2011. The Beetroot Juice As A
Bacterial Growth And Maintenance Medium For Many Pathogenic
Bacteria.
Arulanantham, R., Pathmanathan, S., Ravimannan , N., & Kularajany. 2012.
Alternative Culture Media for Bacterial Growth Using Different
Formulation of Protein Sources. Journal of Natural Product and Plant
Resourse, 2 (6):697-700.
Atlas, Ronald M. 2004. Handbook of Microbiological Media fourth Edition
Volume 1. United States Of America: CRC Press.
Benson, H.J. 2002. Microbiological Application. Eighth Edition. New York: Mc
GrawHill.

Cappuccino, J. G & Natalie, S. 2013. Manual Laboratorium biologi; alih


bahasa, Nur Miftahurrahmah. Jakarta: EGC.
Deivanayaki, M., & Iruthayaraj, P. A. 2012. Alternative vegetable nutrient
source for microbial growth. International Journal of Biosciences (IJB),
2 (5): 47-51.
Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Malang
Famurewa, O., & David, O.M. 2008. Formulation and Evaluation of Dehirated
Microbiological Media from Avocado Pear (Peasea Americana Cmill).
Research Journal of Microbiology, 3 (5): 326-330.
Hardy, S.P. 2002. Human Microbiology, Taylor and Francis dalam Hogg,
2005:341
Jutono.1980. Pedoman Praktikumn Mikrobiologi Umum. Yogjakarta:Fakultas
pertanian UGM.
Kwoseh, C.K., Darko. M. A., & Adubofour , K. 2012. Cassava Starch-Agar
Blend as Alternative Gelling Agent for Mycological culture media. Bots.
J. Agric Appl Sci, 8 (1): 8-15.
Pelczar., Michael J. dan E. C. S. Chan, 2008. Dasar-dasar
Mikroorganisme. Universitas
Indonesia Press. Jakarta
Radji, Maksum. 2010. Buku Ajar Mikrobiologi: Panduan Mahasiswa Farmasidan
Kedokteran. Jakarta: EGC.
Ravimannan, N., Revathie, A., Sevvel, P., & Kularajani, N. 2014. Alternative
Culture Media For Fungal Growth Using Different Formulation Of Protein
Sources. Annals of Biological Research, 5 (1):36-39.
Tharmila, S., Jeyaseelan, E.C., & Thavaranjit , A. C. 2011. Preliminary
Screening Of Alternative Culture Media For The Growth Of Some
Selected Fungi. Archives of Applied Science Research, 3 (3):389-393.