Anda di halaman 1dari 13

PILKADA DKI JAKARTA DALAM PERSPEKTIF

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Makalah UAS Komunikasi Antar Budaya

Dosen : Dr. Puspitasari, M.Si

Disusun oleh :

YUDI ZULFAHRI

1606860836

I. KRONOLOGI MASALAH

Berawal dari terpilihnya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, sebagai presiden
Republik Indonesia, eskalasi politik di Jakarta terus mengalami peningkatan, bahkan pada
hari ini telah meluas menjadi skala nasional. Hal ini disebabkan karena terpilihnya Joko
Widodo sebagai presiden secara otomatis membuat wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama
(Ahok), yang merupakan seorang non-muslim naik menggantikan dirinya sebagai Gubernur
DKI Jakarta.

Masalahnya adalah ada sebagian kelompok umat Islam yang menolak DKI Jakarta
dipimpin oleh seorang gubernur yang bukan berasal dari agama Islam. Dengan dimotori oleh
Front Pembela Islam (FPI), puluhan tokoh dan pimpinan ormas Islam se-Jakarta menyatukan
sikap menolak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Gubernur DKI Jakarta. Para tokoh
dan ormas Islam tersebut membentuk sebuah gerakan yang diberi nama Gerakan Masyarakat
Jakarta (GMJ) untuk menolak Ahok. Mereka bersepakat akan berusaha melengserkan Ahok
melalui jalur konstitusi.

Pimpinan GMJ, KH. Fachrurrozi Ishak, mengatakan akan berkoordinasi dengan


seluruh elemen umat Islam yang ada di Jakarta untuk menolak Ahok menjadi Gubernur DKI
Jakarta. GMJ pada saat itu juga berencana akan membuka posko-posko tolak Ahok di setiap
mesjid dan musholla yang ada di Jakarta. Rencananya, mereka akan mengumpulkan petisi
menolak Ahok sebagai Gubernur, yang mana nantinya petisi tersebut akan dibawa ke DPRD

1
DKI Jakarta sebagai bahan untuk memakzulkan Ahok. GMJ melakukan hal ini karena
berkaca pada kasus yang menimpa mantan Bupati Garut, Aceng Fikri, yang lengser karena
mendapatkan penolakan dari warganya.

Yang paling fenomenal dari kejadian penolakan Ahok ini adalah FPI berinisiatif
mengangkat seorang Gubernur tandingan bagi warga Jakarta. Sosok yang terpilih dan dilantik
menjadi Gubernur tandingan tersebut adalah ketua GMJ itu sendiri, yaitu KH. Fachrurrozi
Ishak. Keputusan ini diambil setelah FPI menggelar Musyawarah Masyarakat Jakarta yang
dihadiri oleh puluhan ormas Islam se-Jakarta.

Keadaan semakin memanas karena Ahok justru bereaksi keras dengan penolakan FPI
terhadap dirinya ini. Ahok mengajukan surat rekomendasi kepada Kapolri dan Kemendagri
untuk membubarkan FPI. Surat ke Kapolri dan Kemendagri sudah jelas untuk meminta
dibubarkan supaya Jakarta tidak ada lagilah ormas anarkis untuk menakut-nakuti orang dan
buat macet, ujar Ahok di Istana Negara setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Dalam sebuah pertemuan dengan MUI, Ahok juga pernah mengkritik keras FPI.
Menurut Ahok, apa yang dilakukan oleh FPI selama ini justru mempermalukan Islam. Ahok
menilai ormas seperti FPI ini tidak pantas disebut sebagai pembela Islam. Ini bukan Front
Pembela Islam tapi Front Perusak Islam, karena mempermalukan orang Islam, ujar Ahok
usai bertemu dengan MUI di Balai Kota Jakarta1.

Sikap Ahok yang konfrontatif dengan FPI ini disayangkan oleh beberapa orang
politisi di Jakarta. Misalnya saja anggota DPR RI dari Komisi III, Aboe Bakar Al Habsy, ia
lebih beraharap Ahok selaku pimpinan dapat menyikapi penolakan yang dilakukan oleh FPI
tersebut dengan sabar. Al Habsy berpendapat surat rekomendasi pembubaran FPI yang dibuat
oleh Ahok tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, dan menyarankan sebaiknya Ahok dan
FPI dapat duduk bersama untuk mencari solusi2.

Dalam perjalanannya, langkah yang diambil oleh FPI untuk menggagalkan jalan
Ahok menuju kursi DKI 1 tidak berhasil. Ahok tetap dilantik menjadi Gubernur DKI
menggantikan Presiden Joko Widodo dan memiliki waktu 3 tahun untuk membuktikan

1 https://www.merdeka.com/peristiwa/perseteruan-panjang-ahok-vs-
fpi.html

2 http://www.siagaindonesia.com/86595/kronologi-perlawanan-fpi-indonesia-dan-
islamophobia-ahok-basuki-tjahaja-purnama.html

2
kapasitasnya sebagai Gubernur bagi warga Jakarta, sebelum kembali mengikuti kontestasi
Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 nantinya.

Kinerja yang ditunjukkan oleh Ahok ternyata cukup memuaskan sebagian besar warga
Jakarta. Bahkan Ahok berhasil membuat beberapa perubahan yang bisa dikatakan cukup
revolusioner, seperti transformasi dan transparansi birokrasi, serta normalisasi sungai yang
berdampak pada berkurangnya titik-titik banjir di Jakarta dalam jumlah yang cukup
signifikan. Akan tetapi, berbagai prestasi yang dilakukan oleh Ahok selama masa
kepemimpinannya sebagai Gubernur Jakarta ini tetap tidak mampu meluluhkan hati ormas-
ormas Islam, terutama FPI.

Seiring dengan semakin dekatnya kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017, situasi politik
di Jakarta kembali memanas, dan opini mengenai pemimpin muslim dan non-muslim pun
kembali mengemuka. FPI menyusun strategi untuk menjegal Ahok dengan mengadakan
konvensi pemilihan calon gubernur muslim untuk Jakarta. GMJ yang awalnya merupakan
akronim dari Gerakan Masyarakat Jakarta berubah menjadi Gubernur Muslim Jakarta.
Namun Ahok yang berposisi sebagai calon petahana, dengan berbagai prestasi kerjanya
memiliki elektabilitas yang sangat tinggi. Dari berbagai hasil survei yang dilakukan oleh
beberapa lembaga survei pada saat itu terlihat sepertinya jalan Ahok untuk kembali
menduduki kursi DKI 1 tidak akan menemui hambatan yang berarti.

Keadaan mulai mengalami perubahan ketika pada tanggal 27 September 2016 Ahok
melakukan kunjungan kerja di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Ahok datang untuk
meninjau program pemberdayaan budi daya ikan kerapu. Saat itu, Ahok sebetulnya sedang
bicara soal program untuk Kepulauan Seribu, namun dia mengaitkannya dengan Pilkada DKI
Jakarta yang pada intinya, program akan berjalan meski dia tidak lagi menjabat sebagai
gubernur. Dalam pidato itu, Ahok menyebut mereka yang tidak memilihnya mungkin karena
dibohongi pakai Surat Al Maidah ayat 51. Kalimat Ahok dimaksud adalah: "Jadi enggak
usah pikirkan 'Ah nanti kalau Ahok enggak kepilih pasti programnya bubar'. Enggak, saya
(memimpin Jakarta) sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja
dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat Al
Maidah 51 macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa-red). Itu hak bapak ibu, ya. Jadi
kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, saya takut masuk neraka dibodohin gitu ya,
enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja".3
3 https://news.detik.com/berita/d-3315674/kontroversi-ahok-soal-al-maidah-ayat-
51

3
Ucapan Ahok ini dikecam oleh banyak orang, terutama umat Islam karena surat Al
Maidah ayat 51 dalam kitab suci Al-Quran dianggap Ahok dipakai untuk kebohongan.
Masalah inipun dalam sekejap menjadi viral di media sosial. Gelombang protes oleh umat
Islam terhadap Ahok terus meluas dalam skala Nasional. Ahok dianggap telah melakukan
penistaan terhadap salah satu ayat suci Al-Quran. MUI yang menjadi lembaga tertinggi bagi
umat Islam pun akhirnya mengeluarkan Pernyataan Sikap Keagamaan yang membenarkan
bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama.

Pernyataan Sikap Keagamaan MUI ini menjadi sebuah legitimasi bagi umat Islam
untuk menuntut proses hukum bagi Ahok yang dianggap telah melakukan penistaan agama.
FPI yang sejak awal telah berseteru dengan Ahok berinisiatif melakukan konsolidasi dengan
berbagai tokoh dan ormas Islam se Indonesia untuk membuat sebuah gerakan yang diberi
nama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI).

Sebelum Pilkada DKI Jakarta dilangsungkan, GNPF-MUI setidaknya mengadakan 4


kali aksi demonstrasi untuk menuntut proses hukum terhadap Ahok yang dianggap telah
melakukan penistaan agama. Aksi demonstrasi ini diberi nama Aksi Bela Islam, sehingga
menjadi daya tarik bagi umat Islam di seluruh nusantara yang merasa tersakiti oleh ucapan
Ahok untuk ikut ambil bagian didalamnya. Tidak tanggung-tanggung, aksi ini bahkan sampai
diikuti oleh jutaan umat Islam yang datang ke Jakarta dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejak adanya gelombang protes dari umat Islam mengenai dugaan kasus penistaan
agama ini, elektabilitas Ahok menurun dengan sangat tajam. Pilkada DKI Jakarta sendiri
akhirnya diikuti oleh 3 pasangan calon, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono Sylviana Murni,
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan Sandiaga
Uno, dan yang terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 adalah pasangan
Anies Basweda- Sandiaga Uno. Sedangkan Ahok bukan hanya kalah dalam kontestasi
Pilkada, namun ia kini juga harus mendekam didalam penjara karena diputuskan bersalah
dalam kasus penistaan agama. Vonis 2 tahun terhadap Ahok ini ternyata berbuntut panjang
karena para pendukung Ahok tidak menerima dan berbalik melakukan gelombang protes
yang sampai hari ini terus meluas dalam skala nasional.

B. ANALISA MASALAH

Kasus penolakan kepala daerah non muslim oleh sekelompok muslim sebelumnya
pernah juga terjadi di Solo, dimana kronologisnya sama persis dengan yang terjadi di DKI

4
Jakarta. Jokowi yang pada saat itu menjabat sebagai Walikota Solo terpilih menjadi Gubernur
DKI Jakarta, dimana hal ini secara otomatis membuat wakilnya di Solo yang beragama
Katholik, FX Hadi Rudyatmo, naik menggantikan posisinya sebagai Walikota Solo.

Pada saat itu FPI Solo juga berinisiatif melakukan konsolidasi dengan berbagai
elemen umat Islam untuk melakukan penolakan terhadap FX Rudy sebagai Walikota Solo
karena beragama non Islam. Ketua FPI Solo, Khoirul, mengeluarkan pernyataan kepada
media, "Dengan kemenangan Jokowi di Jakarta, maka wakil walikota FX Rudi akan naik
menjadi Walikota Solo. Kami tidak mau dipimpin oleh orang kafir. Umat Islam akan
membentuk Dewan Syariah di kota Solo agar Solo menjadi Solo Bersyariah.4

Pada akhirnya, penolakan terhadap Walikota Solo yang diinisiasi oleh FPI ini tidak
berubah menjadi kisruh politik sebagaimana yang terjadi di Jakarta. Padahal pada tahun 2012
yang lalu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuat pernyataan bahwa
Solo merupakan basis gerakan teroris5, dan BNPT menempatkan Solo sebagai agenda utama
program deradikalisasi, selain Poso6. Hal ini senada dengan pendapat pengamat terorisme
sekaligus pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, yang mengatakan Solo
dan area sekitarnya memiliki faktor-faktor kuat yang membuat gerakan ekstrimis tetap
tumbuh subur yaitu sejarah, aktor, dan lingkungan7.

Yang lebih mengherankan lagi, pada Pilkada Solo tahun 2015 yang lalu, FX Rudy
kembali terpilih menjadi walikota Solo dalam kontestasi Pilkada. Padahal pada waktu itu
sebagian umat Islam juga sangat gencar menyebakan opini haram hukumnya memilih
pemimpin non-muslim. Hal ini tentu saja sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi
di Jakarta, dimana Ahok bukan saja kalah dan masuk penjara, tapi Pilkada DKI Jakarta juga
telah menyebabkan terpecah belahnya bangsa Indonesia.

4 http://www.voa-
islam.com/lintasberita/muslimdaily/2012/09/20/20734/jokowi-menang-
pilgub-jakarta-umat-islam-siapkan-dewan-syariah-di-
solo/#sthash.DN01WJfm.dpbs

5 http://news.detik.com/berita/2051166/bnpt-solo-jadi-basis-teroris-
karena-masih-banyak-mentor-spiritual

6 http://www.rappler.com/indonesia/berita/156845-solo-hotspot-dalam-
kasus-terorisme-2016

7 Ibid.

5
Penolakan yang dilakukan oleh FPI dan sebagian umat Islam terhadap Ahok yang
merupakan seorang non-muslim merupakan bentuk dari dimensi High-Power Distance vs
Low-Power Distance yang dikemukakan oleh Geert Hofstede dalam menjelaskan dimensi
sosial budaya. Menurut Hofstede, Power Distance dapat didefinisikan sejauh mana anggota
institusi dan organisasi yang kurang kuat di dalam suatu negara mengharapkan dan menerima
itu8. Masyarakat yang masuk kedalam budaya High-Power Distance cenderung
menggunakan hubungan kekuasaan yang lebih otokratis, dimana kekuasaan orang lain harus
diakui hanya berdasarkan dimana mereka berada dalam struktur formal atau posisi hirarki
tertentu. Sedangkan masyarakat yang masuk ke dalam budaya Low-Power Distance
menginginkan persamaan kekuasaan dan menuntut justifikasi atas perbedaan kekuasaan.

Ahok masuk ke dalam dimensi High-Power Distance, dimana ia merasa berhak


memimpin Jakarta karena secara konstitusi dirinyalah yang berhak untuk menggantikan
Presiden Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan ia juga berhak untuk kembali mengikuti
kontestasi Pilkada DKI Jakarta selanjutnya. Ahok merasa bukanlah sebuah masalah jika ia
menjadi pemimpin di suatu daerah dimana mayoritas penduduknya berbeda agama
dengannya selama hal itu masih sesuai dengan konstitusi.

Sedangkan FPI dan sebagian umat Islam lainnya masuk ke dalam dimensi Low-Power
Distance. Mereka merasa yang berhak memegang kekuasaan tidak hanya dilihat dari aspek
formalitas semata, namun juga harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya
masyarakatnya. Daerah yang masyarakatnya mayoritas muslim, maka harus dipimpin oleh
seorang muslim juga.

Disamping pemahaman bahwa umat Islam haram dipimpin oleh pemimpin non-
muslim, kelompok umat Islam yang menolak Ahok juga diliputi rasa kekhawatiran akan
ketidakpastian terakomodirnya kepentingan umat Islam jika dipimpin oleh orang yang berasal
dari luar Islam. Apalagi hal itu mulai terlihat dari kebijakan yang pernah diambil oleh Ahok
ketika ia melarang takbir keliling dan pelaksanaan kurban di sekolah. Dalam dimensi budaya
oleh Hofstede, hal ini disebut dengan Uncertainty Avoidance (penghindaran ketidakpastian),
yaitu sejauh mana anggota budaya merasa terancam oleh situasi yang tidak jelas atau tidak
diketahui9.

8 Cultures and Organizations: Software of the Mind, Geert Hofstede.

9 Ibid.

6
Gaya komunikasi Ahok yang suka berbicara blak-blakan juga menjadi masalah
tersendiri. Menurut Edward T. Hall, komunikasi dengan budaya memiliki hubungan yang
sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is communication
(komunikasi adalah budaya, dan budaya adalah komunikasi). Hall terlebih dahulu
membedakan budaya konteks tinggi (high context culture) dengan budaya konteks
rendah (low context culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi
konteks rendah seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus
terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan (the say
what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean what they say)10.

Secara umum, pola komunikasi low-context memiliki pola pendekatan logika linear,
gaya interaksi verbal yang lugas, menyampaikan maksud dengan terang-terangan, dan
sender-oriented. Sender-oriented berarti bahwa si pembawa pesan (sender) harus secara
gamblang menyatakan maksud dan tujuannya kepada si penerima pesan (receiver), sehingga
gaya bahasa karakter low-context cenderung terlihat vulgar11.

Dalam hal ini Ahok masuk kedalam kategori individu yang memiliki karakter low-
context. Ketika Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 di kepulauan seribu, sebenarnya
hal itu ia lakukan karena adanya trauma historis. Trauma historis adalah luka batin atau rasa
tersakiti yang terbentuk lewat perjalanan sejarah 12. Ahok sebelumnya pernah kalah dalam
Pemilihan Gubernur Bangka Belitung karena lawan politiknya menggunakan surat Al-
Maidah ayat 51 untuk menjegalnya.

Hal ini terungkap dalam sidang Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama ketika
saksi dari PNS Pemprov Bangka Belitung, Juhri, mengungkapkan bahwa Ahok kalah di
Pilkada Bangka Belitung karena saat Pilkada Bangka Belitung marak selebaran yang
mengajak pemilih muslim untuk memilih pemimpin muslim13.

10 Understanding Cultural Differences, Edward T. Hall.

11 Managing Intercultural Conflicts Effectively, Stella Ting-Toomey.

12 Materi kuliah Komunikasi Antar Budaya, tanggal 13 Februari 2017,


Dosen : Dr. Puspitasari, M.Si

13 https://metro.sindonews.com/read/1188151/170/saksi-ungkap-
kekalahan-ahok-di-bangka-belitung-bukan-karena-al-maidah-
1489466064

7
Saksi Psikolog yang dihadirkan oleh penasehat hukum Ahok, Dr. Risa Permana Deli,
mengatakan Ahok menyinggung Al-Maidah 51 karena peristiwa masa lalu, yaitu saat kalah
dalam Pilkada Bangka Belitung tahun 2007. Menurut Risa, tindakan merupakan sebuah
proses mental yang komplek. Tindakan tersebut terhubung dengan pengalaman sebelumnya.
Ahok, lanjut Risa, saat menyinggung Al-Maidah 51 sedang mengeluarkan kembali sesuatu
yang tidak mengenakkan saat gagal di Pilgub Bangka Belitung14.

Ahok sendiri sebenarnya sudah pernah menjelaskan masalah ini didalam bukunya
yang berjudul Merubah Indonesia. Didalam bukunya tersebut Ahok menjelaskan bahwa
selama karir politiknya ada sebuah ayat didalam Al-Quran yang begitu dia kenal digunakan
dengan tujuan untuk memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan. Ayat tersebut adalah surat
Al Maidah ayat 51. Menurut Ahok, ayat tersebut telah digunakan oleh oknum elit politik
tertentu untuk menyebarkan isu SARA, dan menurut Ahok hal ini merupakan perwujudan
dari sikap pengecut karena elit-elit politik tersebut dianggap Ahok telah melakukan
kebohongan kepada rakyat demi kepentingan politik.

Hal inilah sebenarnya yang dimaksudkan oleh Ahok ketika ia menyinggung masalah
surat Al-Maidah 51 dalam kunjungan kerjanya di Kepulauan Seribu. Namun karena karakter
Ahok yang low-context, bahasa yang ia keluarkan menjadi sangat vulgar dan menyakiti hati
sebagian umat Islam di Indonesia.

Menurut Stella Ting-Toomey, kultur masyarakat Indonesia adalah kultur kolektivistik,


dan kecenderungan masyarakat yang kolektivis lebih banyak menggunakan gaya bahasa
dengan ciri high-context. Pola komunikasi high-context cenderung memiliki pola pendekatan
spiral, tidak langsung menyampaikan maksud, kerap menggunakan interaksi-interaksi non-
verbal untuk memperkuat maksudnya, dan receiver-oriented. Receiver-oriented cenderung
berasumsi bahwa lawan bicara atau receiver sudah memahami maksud pembicaraan tanpa
harus diungkapkan secara gamblang oleh pihak sender15.

Walaupun Ahok juga merupakan warga negara Indonesia, namun ia adalah tipikal
individualis dengan gaya komunikasi low-context. Kultur individulistik dapat ditemukan
dalam masyarakat Amerika Serikat, Australia, Inggris dan sebagian besar negara-negara

14 https://www.kiblat.net/2017/03/29/kata-psikolog-ahok-singgung-al-
maidah-karena-pengalaman-kalah-di-pilkada-babel/

15 Managing Intercultural Conflicts Effectively, Stella Ting-Toomey.

8
Barat16. Maka tidak mengherankan ketika Ahok diputuskan oleh pengadilan bersalah atas
kasus penistaan agama dan mendapatkan vonis 2 tahun penjara, negara-negara besar seperti
New York, Belanda, dan Jerman menunjukkan keprihatinannya. Mereka menginginkan sosok
pemimpin seperti Ahok dan berharap agar Ahok segera dibebaskan. Dan jika rakyat Indonesia
mengijinkan, mereka menyatakan siap membawa Ahok untuk bergabung di pemerintahan
negara-negara itu17.

Walaupun Ahok memiliki kinerja yang sangat baik, namun gaya komunikasinya yang
low-context berpotensi menimbulkan konflik dalam kultur masyarakat Indonesia yang
mayoritas memiliki kultur high-context. Kita bisa melihat contoh lainnya dalam persidangan
kasus dugaan penistaan agama, ketika Jaksa menghadirkan saksi Ketua MUI, KH. Maruf
Amin, yang juga berposisi sebagai Rais Am NU, Ahok berbicara dengan gaya bahasa yang
menurut msayarakat Indonesia tidak sopan kepada seorang tokoh seperti KH. Maruf Amin.
Warga NU yang sejak awal bersikap netral, bahkan bisa dikatakan cenderung membela Ahok
pun akhirnya bereaksi keras kepada Ahok. Mereka merasa tersakiti karena Ahok dianggap
sudah bersikap tidak sopan kepada pemimpin tertinggi organisasi mereka.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sendiri kerap menegur Ahok karena
gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, dan Ahok pun mengakui kalau memang gaya bicaranya
yang apa adanya. "Kalau kata Bu Mega, saya disuruh pakai selotip ajaib. Beli di pasar deket
Glodok. Kalau ngomong ngaco, ibu pasti telepon. Lalu ngomong seperti orang tua, 'selotip
ajaibnya lepas ya?'," cerita Ahok kepada awak media18.

Ketika Megawati meminta Ahok untuk menjaga mulutnya tentu karena ia memahami
bahwa gaya komunikasi Ahok yang low-context sangat berbahaya dalam kultur masyarakat
Indonesia. Kita sendiri bisa melihat bagaimana Walikota Solo yang notabene orang Jawa dan
mendapatkan perlakuan yang sama dengan Ahok pada akhirnya bisa menyelesaikan masalah
tersebut tanpa menimbulkan konflik yang berarti. Bahkan pada akhirnya ia bisa kembali
terpilih dalam kontestasi Pilkada, padahal bisa dikatakan kinerja walikota Solo tersebut tidak

16 Ibid.

17 https://jurnalsumut.com/internasional/2017/05/11/new-york-belanda-singapura-
dan-jerman-siap-terima-ahok/

18 https://news.detik.com/berita/d-3356050/ditegur-megawati-via-telepon-
ahok-disuruh-pasang-selotip-di-mulut

9
sefenomenal Ahok. Kejadian ini menunjukkan kepada kita bagaimana pentingnya memahami
komunikasi dalam sebuah budaya.

Disamping gaya komunikasinya yang tidak cocok dengan kultur mayoritas


masyarakat Indonesia, kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta juga dipengaruhi oleh
adanya politik identitas. Politik identitas adalah politik yang fokus utama kajian dan
permasalahannya menyangkut perbedaan-perbedaan yang didasarkan atas asumsi-asumsi
fisik tubuh seperti persoalan politik yang dimunculkan akibat problematika jender, feminisme
dan maskulinisme, persoalan politik etnis yang secara dasariah berbeda fisik dan karakter
fisiologis, dan pertentangan-pertentangan yang dimunculkannya, atau persoalan-persoalan
politik karena perbedaan agama dan kepercayaan dan bahasa19.

Kelompok GNPF-MUI berusaha membangun identitas bahwa mereka adalah


kelompok pro-Islam, sedangkan Kelompok Ahok adalah kelompok anti Islam. Mereka juga
membangun opini bahwa pemerintah dan pihak asing (terutama Tiongkok) ada di belakang
Ahok. Lambatnya proses hukum dalam kasus ini dianggap sebagai bentuk perlindungan
pemerintah terhadap Ahok, dimana pada akhirnya opini ini menimbulkan persepsi bahwa
rezim Jokowi adalah rezim yang anti Islam.

Sementara itu kelompok Ahok tidak mau ketinggalan, mereka juga membangun
identitas bahwa kelompok mereka adalah kelompok nasionalis yang toleran dan penjaga
kebhinekaan, sedangkan kelompok GNPF-MUI adalah kelompok intoleran dan anti
kebhinekaan. Mereka juga membangun opini bahwa kelompok GNPF-MUI disokong oleh
komunitas Islam radikal yang berpotensi merusak keutuhan NKRI dan falsafah Pancasila.

Menurut Anxiety-Uncertainty Management (AUM) Theory, kedua kelompok ini


dikatakan diliputi oleh rasa kecemasan dan ketidakpastian akan nasib mereka kedepan. Teori
ini dikemukakan oleh William Gudykunst, seorang profesor Speech Communication di
California State University. Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian
adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok20.

Kecemasan dan ketidakpastian yang meliputi dua kelompok ini bukan saja
berpengaruh pada kontestasi Pilkada DKI Jakarta, namun juga menyisakan konflik yang
berkepanjangan dan telah membelah masyarakat Indonesia kedalam 2 identitas besar yang

19 Poltik Identitas Etnis : PergulatanTanda Tanpa Identitas, Ubed Abdillah


S.

20 Anxiety-Uncertainty Management (AUM) Theory, William Gudykunst.

10
saling bermusuhan, yaitu kelompok Islamis yang pro GNPF-MUI dan kelompok Nasionalis
yang pro Ahok.

Kelompok GNPF-MUI diliputi kecemasan bahwa pemerintah sudah memihak Ahok


dan anti Islam. Sedangkan kelompok pro Ahok diliputi kecemasan mereka akan ditindas oleh
umat Islam yang mayoritas. Perasaan-perasaan cemas ini membuat kedua kelompok merasa
telah termarjinalkan dan akhirnya melakukan perlawanan. Kita bisa melihat dengan jelas
berbagai konflik yang terjadi akibat efek dari kontestasi Pilkada DKI Jakarta selama ini.

Pada tanggal 12 Januari 2017, kedatangan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama
Indonesia, Tengku Zulkarnain, ke Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, ditolak
masyarakat dari Dewan Adat Dayak. Penolakan terjadi saat Tengku tiba di Bandar Udara
Susilo Sintang, dan atas penolakan ini Wasekjen MUI berserta rombongan akhirnya tidak jadi
turun dari pesawat dan langsung meninggalkan Sintang menggunakan pesawat Garuda
Indonesia menuju Pontianak.

Kemudian pada tanggal 27 April 2017, dalam pembukaan acara naik dango atau
gawai dayak di Kabupaten Landak Kalimantan Barat, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelius,
menyampaikan pidato yang mengecam Wasekjen MUI dan Habib Rizieq yang dianggap telah
melanggar ideologi Pancasila. Dan didalam pidato tersebut, Cornelius mengungkapkan akan
mengusir Habib Rizieq jika sampai berani datang ke Kalimantan Barat 21. Dampak dari
pidatonya tersebut, pada saat Cornelis berkunjung ke Aceh dalam rangka pembukaan acara
PENAS di Kota Banda Aceh, sejumlah masyarakat aceh menggelar aksi di Hotel Hermes
Palace tempat dimana Cornelis menginap. Masyarakat Aceh meminta kepada pihak Hotel
Hermes untuk segera mengeluarkan Cornelis dari hotel tersebut karena Masyarakat Aceh
tidak bersedia Cornelis datang ke Aceh. "Bumi Aceh haram diinjak oleh siapapun yang benci
kepada Ulama dan Islam termasuk Cornelis, kami minta kepada gubernur kafir harbi itu
untuk segera angkat kaki dari Aceh sebelum kami akan mengusir paksa", pungkas salah satu
peserta aksi dalam orasinya22.

Yang paling hangat tentu saja kejadian di Manado pada tanggal 13 Mei 2017, dimana
kedatangan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ke Manado, Sulawesi Utara, ditolak oleh

21 https://www.youtube.com/watch?v=cZnKxZzwYJs

22 http://bangka.tribunnews.com/2017/05/09/gubernur-kalbar-diusir-dari-
hotel-di-aceh-ini-penyebabnya?page=2

11
masyarakat setempat23. Polisi menyatakan tidak ada tuntutan dari massa selain menolak
kehadiran Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah di Manado karena massa menilai Fahri
Hamzah tidak toleran24.

Demikianlah, Pilkada DKI Jakarta telah menyebabkan Indonesia terbelah menjadi 2


kelompok identitas besar yang saling bermusuhan.

C. SOLUSI MASALAH

Konflik berbasis politik identitas yang saat ini tercipta akibat efek dari Pilkada DKI
Jakarta jika tidak segera diatasi berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa yang
berkepanjangan. Pemerintah harus bisa merangkul kedua kelompok ini, terutama meyakinkan
kelompok Islamis bahwa pemerintah bersikap netral dalam hal ini. Perlu diadakannya
konsensus diantara kedua kelompok untuk mendapatkan kesepakatan bersama agar kejadian
Pilkada DKI Jakarta tidak terulang kembali kedepannya. Karena dua tahun lagi Indonesia
akan menghadapi pemilihan umum dan pemilihan presiden yang melibatkan kepentingan
seluruh rakyat Indonesia. Jika Pilkada DKI Jakarta saja sudah berdampak sebesar ini, kita
tidak bisa membayangkan dampak dari pemilu dan pilpres jika keadaan ini tidak segera
diatasi.

23 https://news.detik.com/berita/d-3500024/ditolak-massa-fahri-hamzah-
tinggalkan-manado

24 https://news.detik.com/berita/d-3500026/polda-sulut-massa-tak-terima-
fahri-karena-dinilai-tidak-toleran

12
DAFTAR PUSTAKA

Hofstede, Geert. Cultures and Organizations: Software of the Mind. ISBN 0-07-143959-5.
Gudykunst, William B. Anxiety Uncertainty Management Theory.
http://www.afirstlook.com/docs/anxietyuncertainty.pdf

Hall, Edward T. Understanding Cultural Differences. Intercultural Press, Inc : New York.
Ting-Toomey, Stella. 1994. Managing Intercultural Conflicts Effectively.
https://www.ohrd.wisc.edu/home/Portals/0/ManagingInterculturalConflicts.pdf
Abdillah S, Ubed. 2002. Poltik Identitas Etnis : PergulatanTanda Tanpa Identitas.
Indonesiatera : Magelang.

13