Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH GELOMBANG DAN OPTIK

DIFRAKSI

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK IV

1. DESSY RENIKA LUMBANGAOL


2. ELYANA
3. M.FADHIL ADHAN
4. SERTINA LUMBANTOBING

KELAS : FISIKA EKSTENSI A 2015

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME karena atas rahmat
dan penyertaan-Nya, makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Makalah
ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas matakuliah gelombang dan
optik. Kami mengucapkan terimakasih kepada bapak Winsyah putra Ritonga s.pd,
M.si selaku dosen pengampu mata kuliah gelombang dan optik dan kepada
kelompok III yang ikut serta ambil bagian dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka kami mengharapkan


kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah yang akan datang.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 08 Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Difraksi

B. Difraksi oleh Celah Tunggal

C. Difraksi oleh Celah Ganda

D. Aplikasi Difraksi

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

DIFRAKSI CELAH TUNGGAL DAN CELAH GANDA (KISI)

A. Pengertian Difraksi
Difraksi merupakan gejala pembelokan cahaya bila mengenai suatu celah
sempit. Semakin sempit celah yang dilalui cahaya, semakin dapat menghasilkan
perubahan arah penjalaran cahaya yang semakin lebar.
Penghalang ini hanya meneruskan sebagian kecil dari gelombang yang
dapat melalui lubang celah dapat terus, yang lainnya berhenti atau kembali.

Cahaya masuk melalui celah yang cukup lebar akan membentuk bayangan
geometris pada layar. Bagian yang terang persis sama lebar dengan panjang celah.
Di luar bagian yang terang adalah bayangan geometris. Sekarang bila celah
dipersempit, maka bagian yang terang pada layar akan melebar ke daerah
bayangan geometmetrisnya.
Difraksi pertama kali ditemukan oleh Francesco M. Grimaldi (1618-1663)
dan gejala ini juga diketahui oleh Huygens (1620-1695) dan Newton (1642-1727).
Akan tetapi Newton tidak melihat kebenaran tentang teori gelombang disisni,
sedangkan, Huygens yang percaya pada teori gelombang tidak percaya pntuk
menerangkan difraksiada difraksi.
Oleh karena itu, ia tetap menyatakan bahwa cahaya berjalan lurus. Frensel
(1788-1827) secara tepat menggunakan teori Huygens yang disebut prinsip
Huygens frensel, Berunyi :
Setiap titik muka gelombang di celah merupakan sumber cahaya titik dari
gelombang bola, sehingga muka gelombang neto pada titik-titik diluar celah
adalah hasil superposisi gelombang bola yang bersumber dari titik muka
gelombang muka dicelah.
Difraksi terbagi menjadi dua jenis yaitu difraksi frounhofer dan fresnel.

1. Difraksi frounhofer
Difraksi Fraunhofer terjadi jika gelombang medan melalui celah atau kisi,
menyebabkan perubahan hanya pada ukuran pola yang teramati pada daerah yang
jauh. Gelombang-gelombang cahaya yang keluar dari celah atau kisi pada difraksi
Fraunhofer hampir sejajar. Difraksi fraunhofer juga disebut difraksi medan jauh.
Sementara itu, topic yang meliputi difraksi franhoufer sebagai berikut:
1.1 Celah tunggal (single slit )
1.2 Lubang bulat (circular aperture )
1.3 Dua celah sempit
1.4 Kisi (celah banyak )

2. Difraksi Fresnel
Difraksi Fresnel terjadi jika gelombang cahaya melalui celah dan
terdifraksi pada daerah yang relatif dekat, menyebabkan setiap pola difraksi yang
teramati berbeda-beda bentuk dan ukurannnya, relatif terhadap jarak. Difraksi
Fresnel juga disebut difraksi medan dekat.

Topik yang meliputi difraksi frensel sebagai berikut :


2.1 Luang bulat
2.2 Celah persegi
2.3 Penghalang berbentuk Piringan
2.4 Penghalang berbentuk lancip (tajam)
B. Difraksi pada Celah Tunggal

Pola difraksi yang disebabkan oleh celah tunggal dijelaskan oleh Christian
Huygens. Menurut Huygens, tiap bagian celah berfungsi sebagai sumber
gelombang sehingga cahaya dari satu bagian celah dapat berinterferensi dengan
cahaya dari bagian celah lainnya.

Interferensi minimum yang menghasilkan garis gelap pada layar akan terjadi, jika
gelombang 1 dan 3 atau 2 dan 4 berbeda fase , atau lintasannya sebesar setengah
panjang gelombang.

Perhatikan Gambar 2.1


Gambar 2.1 difraksi celah tunggal

Berdasarkan Gambar 2.1 tersebut, diperoleh beda lintasan kedua gelombang (d sin
)/2.

d sin 1
S = 2 dan S = 2 ,

d sin 1
=
Dengan demikian didapatkan, 2 2 , atau d sin =

Jika celah tunggal itu dibagi menjadi empat bagian, pola interferensi minimumnya
menjadi

d sin
S=
4 dan S = , jadi d sin = 2 .

Berdasarkan penurunan persamaan interferensi minimum tersebut, diperoleh


persama an sebagai berikut.

d sin = m 2.1.1

dengan:

d = lebar celah

m = 1, 2, 3, . . .

Untuk mendapatkan pola difraksi maksimum, maka setiap cahaya yang


melewati celah harus sefase. Beda lintasan dari interferensi minimum tadi harus

1

dikurangi dengan 2 sehingga beda fase keduanya mejadi 360. Persamaan

interferensi maksimum dari pola difraksinya akan menjadi :


1
d sin=m
2 2.1.2

1
d sin= (m )
2

1
d sin=(2m1)
2 2.1.3

Dengan (2m 1) adalah bilangan ganjil, m = 1, 2, 3,

Persamaan pola difraksi umum celah tunggal juga dapat dituliskan


menjadi :

1
d sin=(m )
2

Difraksi/lenturan cahaya pada celah tunggal akan menghasilkan garis


terang/interferensi maksimum pada layar yang berjarak L dari celah apabila selisih

1
(2 n+1)
lintasan antara cahaya yang datang dari A dan B adalah 2 , kemudian

akan terjadi garis gelap atau interferensi minimum jika selisih lintasannya adalah

1
(2 n)
2 .
Difraksi Cahaya Pada Celah Tunggal

Gambar diatas, menggambarkan sebuah celah sempit yang mempunyai


lebar d, disinari dengan cahaya sejajar monokromatik secara tegak lurus pada
celah. Apabila di belakang celah ditaruh layar pada jarak L dari celah maka akan
tampak pada layar berupa garis terang dan gelap yang berada di sekitar terang
pusat.

Celah sempit tersebut kita bagi menjadi 2 bagian yang masing-masing

1
d
lebarnya 2 . Kelompok cahaya dari bagian atas dan bawah akan

berinterferensi di titik P yang terletak pada layar tergantung pada selisih


lintasannya. Di titik O yang berada pada layar yang juga merupakan titik tengah-
tengah celah, maka semua cahaya yang berasal dari celah bagian atas dan bagian
bawah sampai ke titik O mempunyai jarak lintasan yang sama, sehingga di titik O
terjadi interferensi maksimum atau sering juga disebut dengan terang pusat.
Sedangkan hasil interferensi di titik P tergantung pada selisih lintasan yang
ditempuh oleh cahaya tersebut.
Apabila celah kita bagi dua maka cahaya dari tepi celah cahaya 1 dan 5
akan berinterferensi di titik P akan menghasilkan garis gelap jika selisih

1
lintasannya 2 .

Persamaannya dapat dituliskan :

1 1 1
2 d sin = 2 atau d sin = 2 .

1
Apabila celah dibagi empat, maka garis gelap akan terjadi bila 4 d

1
sin = 2 atau d sin = 2.

1
Apabila celah dibagi 6, maka garis gelap akan terjadi bila 6 d sin

1
= 2 atau d sin = 3.

Jadi untuk garis gelap ke-n pada layar akan terbentuk jika d sin = n ; n = 1, 2,
3, dan seterusnya.

Untuk sudut kecil berlaku bahwa sin , maka

dp
=n
L

dengan :

d = lebar celah (m)


p = jarak garis gelap ke terang pusat (m)

L = jarak layar ke celah (m)

= panjang gelombang cahaya yang digunakan (m)

n = orde interferensi/ menyatakan garis gelap dari terang pusat

Dengan cara yang sama di titik P akan terjadi garis terang jika :

dp
=( 2 n+1 )
L

C. Difraksi Kisi

Sistem kisi untuk difraksi dinamakan kisi difraksi transmisi yang dapat
digunakan untuk keperluan menganalisis sinar-sinar inframerah dekat, cahaya
tampak ataupun sinar ultraviolet. kisi difraksi cahaya ini terdiri dari beribu-ribu
celah tiap sentimeternya. Kisi dapat dibuat dengan menggoreskan sederetan garis-
garis sejajar pada filem trasparan. Garis-garis ini kemudian berfungsi sebgai ruang
diantara celah-celah, kisi difraksi disebut kisi refleksi, yaitukisi yang dibentuk
oleh sederetan garis-garis yang dibuat pada permukaan metal. Daerah antara dua
garis yang akan memantulkan cahaya membuat suatu pola difraksi.

Jika cahaya polikromatik jatuh pada kisi, tiap-tiap akan membentuk garis
maksimum pada sudut-sudut yang berbeda-beda kecuali pada orde m=0, sudut ini
sama untuk semua panjang gelombang. Maksima dari berkas tersebut pada suatu
orde akan merupakan spectrum. jadi ada spectrum orde ke 1,2,3dan seterusnya.
Makin besar nilai makin besar deviasi untuk suatu orde. berarti warna
merah di deviasi (perubahan arah dari jalan sinar) lebih besar dari pada
warnaviolet, hal ini kebalikan dari apa yang terjadi pada dispersi (peristiwa
penguraian warna dari suatu berkas campuran panjang gelombang) oleh prisma.
Dispersi kisi ditentukan oleh:
d
D= = dispersi sudut atau daya disperse
d
m
d sin=m atau sin = maka jika dideferensialkan diperoleh
d

m
cos = d
d

d m
=
Jadi d d cos

Sehingga
d m
=
D= d d cos

Semakin tinggi orde, daya disperse semakin tinggi artinya cahaya terus
semakin sempurna.
Kegunaan kisi adalah untuk spektroskopi.
Dampak penambahan celah yaitu :
Pada pola difraksi terlihat maksimum interperensi menyempit dan lebih tajam
(intensitas lebih besar). Jika jumlah celah banyak sekali. Pita-pita terang ini akan
berbentuk garis-garis saja.

Maksimum daerah yang lemah akan terjadi diantara maksimum utama


interferensi, jumlah sekunder maksimum bertambah.
D. Pembentukan Spektrum oleh kisi
Kisi difraksi penting untuk menganalisis spektum gelombang
elektromagnetik yang memiliki daerah yang luas dan lebih menguntungkan dari
pada menggunakan prisma. salah satu hal yang menguntungkan adalah kisi
difraksi yang tidak bergantung pada sifat-sifat disfersi ari bahan hanya bergantung
pada geometri ( bentuk kuran) dan kisi. dibawah ini gambar spectrometer kisi.
E. Aplikasi dari Difraksi
a. X-Ray powder diffraction (XRD) : teknik analisa dalam
mengidentifikasi phase dan struktur dimensi cell materi kristal
Kemajuan sebuah teknologi selalu perubahan yang dapat dilakukan.
Dalam bidang fisika, teknologi khususnya dalam hal optika, berkembang sangat
pesat. Dari sekian panjang rentatetan teori yang telah dikembangkan, telah
menghasilkan berbagai teknik analisa ataupun teknologi muktakhir. Salah satu
teknik yang diterapkan dalam analisa mikroskopik adalah XRD yaitu x-ray
powder diffraction. Setiap berkas sinar yang menuju materi Kristal akan
terdifraksi menurut pola struktur cellnya. Pada bidang diffraksi, akan muncul dan
terbentuk pola yang mewakili bidang Kristal pada sumbu 3-D. Efek inilah yang
kemudian digunakan dalam analisa struktur.

b. Lensa Difraksi pada Kamera Photography : Terapan Konsepsi Difraksi


Dalam Mempengaruhi Resolusi Dan Pencahayaan Hasil Photograpy
Pada Sebuah Kamera
Dalam dunia photography, resolusi yang semakin baik dari sebuah alat
optis, terutama kamera itu sendiri akan mampu menghasilkan gambar yang
semakin tajam. Ada banyak jenis alat optis yang disusun sedemikian rupa untuk
memperoleh sebuah bayangan nyata. Jejak-jejak optis direkam dan divisualisasi
untuk ditampilkan menjadi photo yang kita kenal dalam keseharian. Bagian optis
seperti lensa pada kamera memgang peranan yang dukup penting. Ukuran
aperture yang bersesuaian akan mengahasilkan ketajaman gambar yang tepat.
Karena pada dasarnya, menurut Rayleigh criterion mengenai daya pemisah pada
efek diffraksi munculnya efek yang lebih baik akan berkontribusi pada ketajaman
gamabr yang diperoleh. Dengan luminasi yang mantap, aperture yang sesuai
dengan keadaan efek difraksi dapat diciptakan untuk membuat gambar yang
senyata mungkin.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Difraksi cahaya atau lenturan cahaya dapat terjadi karena pembelokkan arah
rambat cahaya oleh suatu penghalang. Penghalang yang dipergunakan biasanya
berupa kisi, yaitu celah sempit. Ada 2 macam difraksi, yaitu difraksi pada celah
tunggal dan difraksi pada celah ganda.

2. Difraksi celah tunggal merupakan sebuah celah tunggal disinari akan


menghasilkan polaa difraksi pada layar yang diletakkan dibelakangnya. Bentuk
pola akan sama dengan celahnya (segi empat panjang), yaitu daerah-daerah terang
dan gelap berbentuk segi empat panjang

3. Kisi difraksi (Difraksi celah ganda) adalah alat optis yang terdiri dari banyak
celah yang identik, yang disusun sejajar, berjarak sama
DAFTAR PUSTAKA

Cinda, 2011, Difraksi Cahaya,


http://fisikon.com/kelas3/index.php?
option=com_content&view=article&id=49:difraksi-pada-
kisi&catid=6:gelombang-cahaya&Itemid=98 : dikunjungi pada hari Sabtu tanggal
6 Mei 2017 pukul 20:45 WIB.
Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid 2 Edisi Kelima, Jakarta : Erlangga.

My Green Blog, 2010, Interferensi dan Difraksi Cahaya,


http://katupatkarau.blogspot.com/difraksi : dikunjungi pada hari Sabtu tanggal 6
Mei 2017 pukul 20:36 WIB.