Anda di halaman 1dari 3

Irigasi Tetes

Irigasi tetes adalah suatu metode irigasi baru yang menjadi semakin disukai dan popular
di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air. Irigasi tetes merupakan metode
pemberian air tanaman secara kontiniu dan penggunaan air yang sesuai dengan kebutuhan
tanaman. Dengan demikian kehilangan air seperti perkolasi, run off, dan evapotranspirasi bisa
diminimalkan. Sehingga efisiensinya tinggi. Sistem irigasi tetes mengalirkan air secara lambat
untuk menjaga kelembaban tanah dalam rentang waktu yang diinginkan bagi tanaman (Michael,
1978).

Irigasi tetes dapat dibedakan atas dua yaitu irigasi tetes dengan pompa dan irigasi tetes
dengan gaya gravitasi. Irigasi tetes dengan pompa yaitu irigasi tetes yang sistem penyaluran air
diatur dengan pompa. Irigasi tetes pompa ini umumnya memiliki alat dan perlengkapan yang
lebih mahal daripada sistem irigasi gravitasi. Irigasi tetes dengan sistem gravitasi yaitu irigasi
tetes dengan menggunakan gaya gravitasi dalam penyaluran air dari sumber. Irigasi ini biasanya
terdiri dari unit pompa air untuk penyediaan air, tangki penampungan untuk menampung air dari
pompa, jaringan pipa dengan diameter yang kecil dan pengeluaran air yang disebut pemancar
emiter yang mengeluarkan air hanya beberapa liter per jam (Hansen, dkk, 1986)

irigasi tetes merupakan cara pemberian air dengan jalan meneteskan air melalui pipa-pipa
secara setempat di sekitar tanaman atau sepanjang larikan tanaman. Hanya sebagian dari daerah
perakaran yang terbasahi, tetapi seluruh air yang ditambahkan dapat diserap dengan cepat pada
keadaan kelembaban tanah yang rendah. Jadi keuntungan cara ini adalah penggunaan air irigasi
yang efisien (Hakim, dkk, 1986).
Irigasi tetes mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:
a. Meningkatkan nilai guna air
Secara umum, air yang digunakan pada irigasi tetes lebih sedikit dibandingkan dengan metode
lain.
b. Meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil
Dengan irigasi tetes, kelembaban tanah dapat dipertahankan pada tingkat yang optimal bagi
pertumbuhan tanaman.
c. Meningkatkan efisiensi dan pemberian
Pemberian pupuk dan bahan kimia pada metode ini dicampur denagn air irigasi, sehingga pupuk
atau bahan kimia yang digunakan menjadi lebih sedikit, fekuensi pemberian dan distribusinya
hanya di sekitar daerah perakaran.
d. Menekan resiko penumpukan garam
Pemberian air secara terus-menerus akan melarutkan dan menjauhkan garam dari daerah
perakaran.
e. Menekan pertumbuhan gulma
Pemberian air pada irigasi tetes hanya terbatas di daerah sekitar tanaman, sehingga pertumbuhan
gulma dapat ditekan.
f. Menghemat tenaga kerja
Sistem irigasi tetes dapat dengan mudah dioperasikan secara otomatis, sehingga tenaga kerja
hanya diperlukan lebih sedikit (James, 1982).
Irigasi tetes (Sumarna, 1998) merupakan metode pemberian air dengan debit yang
rendah. Sistemirigasi tetes dapatmenghemat pemakaian air, karena dapat meminimumkan
kehilangan kehilangan air yang mungkin terjadi, seperti perkolasi, evaporasi dan aliran
permukaan, sehingga cocok untuk diterapkan pada daerah dengan sumber air terbatas. Penelitian
tentang irigasi tetes juga telah dilakukan oleh Afriyana, Tusi, dan Oktafri (2012), yaitu dengan
menggunakan emitter jenis line sources, berupa kain polyester, yang menunjukkan tingkat
keseragaman yang cukup tinggi dengan nilai keseragaman penyebaran sebesar 74,6%. Sistem
irigasi tetes secara konvensional telah banyak dilakukan sebelumnya, namun tidak dilengkapi
dengansistemkendali otomatis untuk mengatur jadwal pemberian irigasinya. Cara ini masih
kurang efektif apabila dibandingkan dengansistemirigasi tetes yangdilengkapi system kendali
otomatis dengan menggunakan mikrokontroler, karena sistemtersebutmampu mengatur
pemberian air sesuai dengan kebutuhan air tanaman. Berkembangnya teknologi mikrokontroler
saat ini tentunya akan mempermudah pekerjaan manusia. Mikrokontroler dapat deprogram
menggunakan komputer sehingga rangkaian elektroniknya dapat membaca input data lalu
Memproses dan mengeluarkan outputnya sesuai perintah program yang diberikan. Salah satu
Jenis mikrokontroler yang terbaru saat ini adalah mikrokontroler Arduino (Arduino.cc, 2014).
Aplikasi mikrokontroler untuk penjadwalan pemberian irigasi tentumenjadi halyang sangat
bermanfaat untuk dilakukan. Menurut Arriska, Setiawan, dan Saptomo (2013) penjadwalan
irigasi secaraotomatis sangatmendukungdisaat cuaca yang susah diprediksi akibat adanya
perubahan iklim global dan perubahan pola hujan, sehingga meningkatkan ketidakpastian
ketersediaan air. Mikrokontroler juga dapat mengurangi rutinitas kerja dalam mengairi tanaman
yang selalu dilakukan operator pada umumnya. Hasil dari pengembangan teknologi
mikrokontroler sangat tepat jika diterapkan dalam otomatisasi irigasi yang saat ini belum populer
dilakukan petani. Selain untuk menunjang kegiatan irigasi tanaman yang lebih terkontrol dan
akurat, otomatisasi irigasi juga dapat dijadikan sebagai sarana menuju irigasi teknis yang
lebihmodern. Salahsatusistemirigasi yang baik untuk dikembangkan ke arah otomatisasi tersebut
adalah irigasi tetes, yaitu irigasi bertekanan rendah dengan efisiensi penggunaan air irigasi paling
tinggi dibandingkandengansistemirigasi yang lainnya. Mikrokontroler beserta komponen
sensorsensor pendukungnya tentu mampu untuk diaplikasikan dalam otomatisasi sistem irigasi
tetes tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan sistemkendali otomatis
yangmampumengatur penjadwalan irigasi tetes dengan menggunakan mikrokontroler yang
bekerja berdasarkan perubahan kadar air tanah, serta menguji kinerja sistem ttersebut pada 3
media tanam yang berbeda.

Referensi
Sumarna, A. 1998. Irigasi Tetes pada Budidaya Tomat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
Bandung. 31 hlm.