Anda di halaman 1dari 1

BAB V

KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

Preeklampsia merupakan kelainan malfungsi endotel pembuluh darah atau


vaskular yang menyebar luas sehingga terjadi vasospasme setelah usia kehamilan
20 minggu, sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan perfusi organ dan
pengaktifan endotel yang menimbulkan hipertensi, edema nondependen, dan
dijumpai proteinuria 300mg per 24 jam atau 30mg/dl (+1 pada dipstick) dengan
nilai sangat fluktuatif saat pengambilan urin sewaktu. Pada dasarnya, bahaya dari
preeklampsia bagi ibu hamil antara lain terjadinya preeklampsia berat, timbulnya
serangan eclampsia, sedangkan bahaya pada janin yang dikandungnya berupa
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim ibu dan bayi lahir lebih kecil atau mati
dalam kandungan. Preeklampsia tidak hanya berisiko menjadi suatu eklampsia,
melainkan juga memicu berbagai komplikasi yang dapat mengganggu proses dari
kehamilan dan persalinan, seperti: berkurangnya aliran darah ke plasenta sehingga
pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat badan kurang. Komplikasi
berikutnya berupa lepasnya plasenta dari dinding uterus sebelum tiba waktunya,
sehingga terjadi perdarahan dan juga dapat mengancam keselamatan bayi maupun
ibunya. Komplikasi lainnya yaitu sindroma HELLP, diabetes, oligohidramnion
dan peningkatan angka kejadian bedah section caesarea (SC).
Prinsip penanganan pada penderita dengan preeklampsia
adalah dua, yaitu sikap terhadap penyakit yang dialaminya dan
juga sikap terhadap kehamilannya. Terhadap kehamilannya akan
terdapat dua jenis pilihan kembali, yaitu apakah akan
mempertahankannya atau menterminasi kehamilannya baik
dengan rencana persalinan pervaginam atau dengan seksio
sesarea. Pasien dengan preeklampsia tidak mutlak untuk
dilakukannya persalinan secara seksio sesarea kecuali apabila
ada indikasi lain selain preeklampsia yang dapat mempengaruhi
keputusan kita dalam menentukan jenis persalinan.

23