Anda di halaman 1dari 20

TUGAS

Metode Perancangan Arsitektur 2

ARSITEK
DAN
KARYANYA

Kelompok 1 :
Chika Chairunnisa 201645500229
Sundana 201645570001
RIDWAN KAMIL BIO DATA
Nama Lengkap : Mochamad Ridwan Kamil S.T. MUD
Tempat Tanggal
: Bandung, 4 Oktober 1971
Lahir
Pendidikan : Institut Teknologi Bandung (S1) 1990~1995
(Almamater) University Of California (S2) 1999~2001
Pekerjaan : - Walikota Bandung
- Sebagai Prinsipal PT. Urbane Indonesia
- Dosen Jurusan Teknik Arsitektur ITB
- Sebagai Senior Urban DesignConsultant
SOM, EDAW (Hong Kong & SanFrancisco)
SAA (Singapura)

Keluarga Istri : Atalia Praratya Kamil


Anak : Camillia Laetitia Azzahra
Emmiril Khan Mumtadz
RIDWAN KAMIL KARIER
Setelah lulus S1 Memulai karier di Amerika, hanya bekerja empat bulan karena terkena dampak krisis moneter
yang melanda Indonesia saat itu.
Tidak langsung pulang ke Indonesia, bertahan di Amerika akhirnya mendapat beasiswa di University of
California, Berkeley, program S2 Master Urban Design sambil bekerja paruh waktu di Departemen
Perencanaan Kota Berkeley.
Setelah lulus S2 dari University of California, Berkeley, melanjutkan pekerjaan profesional sebagai arsitek di
berbagai firma di Amerika Serikat.
Tahun 2002 pulang ke tanah Air, sebagai Arsitek Profesional.
Tahun 2004 bersama temannya : Achmad D. Tardiyana, Reza Nurtjahja dan Irvan W. Darwis mendirikan
URBANE, yaitu perusahaan yang bergerak dibidang jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain.
URBANE meraih Penghargaan dari media internasional seperti :
* BCI Asia Awards tiga tahun berturut-turut pada tahun 2008, 2009 dan 2010
* BCI Green Award pada tahun 2009 atas projek desain Rumah Botol (dari botol bekas).
URBANE meraih Menjuarai kompetisi di bidang desian arsitektur tingkat nasional seperti :
* Juara 1 kompetisi desain Museum Tsunami di Nangro Aceh Darrussalam tahun 2007
* Juara 1 kompetisi desain kampus 1 Universitas Tarumanegara tahun 2007
* Juara 1 kompetisi desain Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia tahun 2009
* Juara 1 kompetisi desain Sanggar Nagari di Kota Baru Parahyangan di Kabupaten Bandung Barat
* Juara 1 kompetisi desain Pusat Seni dan Sekolah Seni di Universitas Indonesia tahun 2009.

Kini aktif menjabat sebagai :


- Walikota Bandung 2013 - 2018
- Prinsipal PT. Urbane Indonesia.
- Dosen Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung
- Senior Urban Design Consultant SOM, EDAW (Hong Kong & San Francisco), dan SAA (Singapura).
RIDWAN KAMIL PT. Urbane Indonesia
RIDWAN KAMIL PT. Urbane Indonesia

PROSES DESAIN
RIDWAN KAMIL PT. Urbane Indonesia
KARYA-KARYA ARSITEKTUR
2005 - 2013

2
2
0
0
0
0
1
7
6
5
8
9
1
2
3
RIDWAN KAMIL PT. Urbane Indonesia
16 KARYA ARSITEKTUR
2005 - 2013
Profil Bangunan
Masjid Al-Irsyad merupakan sebuah masjid yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung
Barat, Jawa Barat, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 2009 dan selesai pada tahun 2010.
Masjid Al-Irsyad diresmikan pada 17 Ramadan 1431 Hijriah tepatnya 27 Agustus 2010
Bangunannya unik, megah, dan kokoh.
Bentuk masjid sekilas hanya seperti kubus besar, dengan konsep ini, dari luar terlihat garis-garis
hitam di sekujur dinding masjid. Desain masjid dirancang mirip Kabah. Warna dasarnya abu-abu.
Penataan roster pada keseluruhan dinding terlihat sangat mengagumkan. Roster disusun berbentuk
lubang atau celah di antara bata solid.
Dilihat dari kejauhan, akan menghadirkan lafaz Arab yang terbaca sebagai dua kalimat tauhid,
Laailaha Ilallah Muhammad Rasulullah, yang artinya Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah. Kekuatan desain Masjid Al-Irsyad tampak pada embedding teks kaligrafi Arab dengan
jenis tulisan khat kufi. yang melekat pada tiga sisi bangunan dalam bentuk susunan roster batako,
yang dirancang sebagai kaligrafi tiga dimensi raksasa.
Desain arah kiblat dibuat terbuka dengan pemandangan alam. Saat senja, semburat matahari
akan masuk dari bagian depan masjid yang tak berdinding itu. Menciptakan desain unik sebuah masjid
yang memanfaatkan sinar matahari.
Masjid ini mempunyai luas 1.871 meter persegi hanya memiliki tiga warna yaitu putih, hitam, dan
abu-abu. Susunan tiga warna tersebut menjadikan tampil lebih cantik, modern, simpel namun tetap
elegan dan enak dipandang mata.
Ruang salat di masjid mampu menampung sekitar 1.500 jamaah ini. Masjid ini tidak memiliki tiang
atau pilar di tengah untuk menopang atap, sehingga terasa begitu luas.Hanya empat sisi dinding yang
menjadi pembatas sekaligus penopang atapnya.
Alasan :
Mendapatkan 2 Penghargaan Internasional :
* The Best 5 World Building of The Year 2010
dari National Frame Building Association
menjadi satu-satunya bangunan tempat peribadatan di Asia yang masuk 5
besar dalam penghargaan ini.
* FuturArc Green Leadership Award 2011
oleh Building Contruction Information (BCI).
karena memiliki konsep bangunan yang ramah lingkungan

Desain yang Unik


* Kaligrafi Syahadat
Terbentuk Kalimat Laa Ilaha Illaallah Muhammad Rasulullah di dinding mesjid.
* Mihrab terbuka
Terdapat bola besi yang cukup besar di tengah area mihrab dengan ukiran lafazd allah di
tengahnya, di berikan pencahayaan dari sisi dalamnya menghasilkan efek yang sangat menarik.
* 99 buah lampu
99 buah lampu di dalam masjid ini bertuliskan Asmaul Husna..
ANALISA LANDASAN TEORI
1.Sustainable 2. Arsitektur 3. Tampilan 4. Ekspresi 5. Ekspresi
Design Bioklimatik Arsitektur Ruang Luar Ruang Dalam
Sustainable Design Arsitektur Bioklimatik
Menurut Amoros Rappoport dalam Tampilan Arsitektur Ekspresi Ruang Dalam
Arsitektur Bioklimatik adalah konsep Menurut Bani Noor pada bahasan Ekspresi Ruang Luar Menurut Y. B. Mangunwijaya dalam
bukunya History and Precedent in arsitektur dengan pendekatan
Environmental Design. metode ekspresi arsitektur. 1. Site Bangunan, menurut Primi bukunya Romo Mangun, Ruang dalam
desain yang menekankan konteks Tampilan arsitektural terdiri dari Artiningrum, Site adalah lahan dimana terbentuk dari elemen elemen
Diharapkan dari sustainable design terhadap kondisi iklim dan cuaca
adalah menghilangkan sepenuhnya ekspresi bangunan yang mencakup bangunan yang direncanakan akan pembentuk ruang yaitu lantai, dinding
setempat (relation to climate of the 3 komponen, yaitu: didirikan untuk meletakkan bangunan dan plafond/atap yang menjadi satu
dampak negatif terhadap lingkungan place).
melalui pendekatan desain, 1. Pesan, dapat dilihat sebagai pada tapak atau lahan yang ditentukan kesatuan struktur berupa wadah / ruang
diwujudkan antara lain : pembahasan mengenai praktek dengan tepat terhadap kondisi existing untuk beraktifitas dan melaksanakan
Prinsip Arsitektur Bioklimatik Secara dan pengetahuan arsitektur, yaitu tapak. Setelah melakukan analisis kegiatan di dalam ruangan secara
* Tidak menggunakan sumberdaya
Ekologi Menurut Ken Yeang: desain. terhadap tapak, maka dapat aman dan nyaman.
tak terbarukan (non-renewable
1. Opening, adalah komponen pada 2. Media, dipahami sebagai hasil diidentifikasi respons ataupun
resource)
fasad bangunan berupa bukaan karya desin arsitektur, yaitu tanggapan perancang untuk dapat Dalam merencanakan ruangan ada
Meminimkan dampak terhadap
udara untuk penghawaan alami bangunan. meletakkan bangunan dengan tepat. beberapa faktor yang harus dipikirkan
lingkungan
dan bukaan cahaya untuk 3. Penerima, adalah bagaimana 2. Tatanan Bentuk, menurut Fancis D. K. dengan baik agar diperoleh ruang yang
Berupaya menyatukan kembali
penerangan alami. respon penerima terhadap karya Ching, didapat dari kaitan antara fungsi aman dan nyaman, yaitu :
manusia dengan lingkungan
2. Orientation & Zone Orientasi desain arsitektur yang diukur dari yang merupakan gabungan antara Faktor cahaya
alaminya.
adalah mengarahkan kualitas desain dan kinerja teknik dengan eindahan. Objek-objek Faktor udara, suhu
mengorientasikan bangunan dan bangunan serta affordance (hasil dalam persepsi kita tentu memiliki Faktor kelembapan ruang yang
bukaan cahaya (building karya desain tersebut. wujud yang merupakan hasil dipengaruhi oleh dua faktor penting
Prinsip dasar sustainable Design yang
orientation, opening orientation), konfigurasi tertentu dari permukaan- yaitu faktor eksternal (faktor dari luar
umum diterima, meliputi aspek-aspek:
agar dapat memperoleh Ekspresi Bangunan dapat terwujud permukaan dan sisi-sisi bentuk ciri-ciri bangunan) dan faktor internal.
1. Low-impact material,
penerangan alami seoptimal dari suatu desain ruang sebagai pokok yang menunjukan bentuk,
memanfaatkan bahan non-toxic
mungkin sekaligus menghindari perwujudan arsitektur. dimana ciri-ciri tersebut pada
dan diproduksi secara ramah
penerimaan radiasi panas Ruang yang di maksud adalah kenyataanya dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan .
matahari (solar-heat gain). ruang yang ada disekitar kita (ruang bagaimana cara kita memandangnya.
2. Efisiensi energi: menggunakan
3. Shade & Filter Shade adalah dalam) maupun disekitar obyek atau 3. Fasade Bangunan, menurut Josef
atau membuat produk yang hanya
pembayangan pada fasad benda (ruang luar) yang terbentuk Prijotomo, bagian bangunan dan
membutuhkan sedikit energi.
bangunan, terutama pada bukaan. dari elemenelemen fisik dan arsitektur yang paling mudah untuk
3. Kualitas dan daya tahan: produk
Filter adalah penyaringan radiasi elemenelemen pembentuk ruang . dilihat adalah fasade bangunan atau
yang berfungsi baik (memiliki umur
panas matahari pada fasade dapat disebut tampak, kulit luar, kulit
pakai) secara lama berarti
bangunan. dapat dilakukan dengan bangunan ataupun tampang bangunan
mengurangi perawatan atau
secondary skin dan kaca khusus yang tersusun dari elemen elemen
penggantian.
yang dapat memantulkan atau estetis yang biasanya mencirikan
4. Reuse and recycle: rancangan
menyerap sebagian radiasi panas identitas bangunan itu sendiri.
produk harus mempertimbangkan
matahari. 4. Material Fasade, menurut Leon Krier,
pemanfaatan secara
berkelanjutan hingga setelah masa 4. Insulate, adalah menahan Fasade bangunan tersusun oleh
pakai berakhir (afterlife). penerimaan radiasi panas material - material dan struktur yang
5. Renewability : bahan berasal dari matahari (solar- heat gain) menutup bangunan dan berfungsi
wilayah terdekat, diproduksi dari melalui dinding insulasi (insulative sama seperti kulit pada manusia yang
sumberdaya terbarukan, serta (bila wall) dan atap insulasi (insulative diartikan sebagai wajah bangunan.
memungkinkan) bisa diolah roof). Reka Karsa 3 Pawitro, et al Beberapa kriteria harus dipenuhi oleh
menjadi kompos. 5. Green, adalah pengadaan vegetasi suatu sistem selubung bangunan yang
6. Sehat: produk tidak berbahaya yang dapat membantu efek baik yang meliputi kriteria lingkungan,
bagi pengguna/penghuni dan pendinginan udara pada bangunan struktural, biaya, regulasi bangunan,
lingkungan sekitarnya, bahkan bisa dan lingkungannya. estetika, konstruksi dan pemeliharaan.
menunjang aspek kesehatan 6. Cooling Effect, adalah teknik pasif
secara luas. pendinginan udara menggunakan
elemen air pada bangunan dan
lingkungannya.
ANALISA

I. Analisa II. Analisa


Ruang Luar Ruang Dalam
Bangunan Bangunan III. Pengaruh
Terhadap
1. Perencanaan Tapak 1. Elemen Pembentuk Ruang Ekologi, Sosial,
(Site Planning) a. Pengolahan Lantai
dan Ekonomi
2. Tatanan Bentuk b. Pengolahan Dinding
3. Fasad Bangunan c. Pengolahan Atap
4. Material Fasad 2. Kenyamanan Ruang
a. Aliran udara dalam
bangunan
b. Pengukuran intensitas
cahaya
c. Pengukuran kenyamanan
termal
ANALISA I. Analisa Ruang Luar Bangunan
1. Perencanaan Tapak (Site planning)

Masjid Al Irsyad sebagai bangunan


peribadatan yang ikonik pada kawasannya,
yaitu dengan pemilihan site yang tepat (site
choosing), memanfaatkan keadaan
topografi lahan sebagai hirarki bangunan
masjid yang terletak lebih tinggi
dibandingkan dengan bangunan
sekitarnya.
Tujuannya untuk kedudukan bangunan
Konfigurasi Masjid Al-Irsyad terdiri atas:
peribadatan yang memiliki fungsi dan
Bangunan diapit oleh Gedung Islamic School Al - Irsyad.
peranan penting.
Bangunan Masjid Al-Irsyad paling kontras dengan bangunan
Ruang luarnya menerapkan gaya atau
sekitarnya.
langgam dari kontemporer dengan
Lembah hijau yang indah tepat berada di depan bangunan di
perpaduan dari unsur tradisional dan
manfaatkan secara maksimal untuk view pada bangunan, juga
modern sebagai bangunan peribadatan
berfungsi sebagai orientasi bangunan masjid yang mengarah ke barat.
yang ikonik pada kawasannya.
ANALISA I. Analisa Ruang Luar Bangunan
2. Tatanan Bentuk
a. Arah Orientasi Bangunan
Pada Masjid Al-Irsyad Orientasi pada bangunan
dimensi bangunan sangat Masjid Al-Irsyad ini yaitu :
mempengaruhi penataan pada Mengarah ke Barat didasari
bangunan sekitarnya, adanya kiblat yang menjadikan
dikarenakan fungsi utama muka masjid Al-Irsyad.
sebagai bangungan Menghadap ke Timur yang
peribadatan yang memiliki memiliki potensi yaitu main
hierarki lebih tinggi entrance yang mengarah
dibandingkan fungsi lainnya. langsung ke site entrance. Pada sisi bangunan arah
Sehingga bangunan Masjid timur dan utara terdapat
Al-irsyad yang memiliki olahan fasad berupa ruang
orientasi ke arah barat menjadi transisi bangunan yang
pusat orientasi kawasan berfungsi sebagai wind scoop
sekitarnya. dan juga sebagai entrance
bangunan.
Wind scoop berbentuk
portal berfungsi untuk
mengendalikan arah aliran
angin yang masuk ke dalam
bangunan.
ANALISA I. Analisa Ruang Luar Bangunan
3. Fasad Bangunan

Konsep yang digunakan pada


fasade bangunan adalah
penerapan supergrafik.
Fasad bangunan Masjid Al-Irsyad,
terlihat dengan penerapan prinsip
desain yang simetris berupa
penempatan kolom-kolom secara
modular dan bukaan bangunan
dengan ritme yang berulang dengan
pola la ilaha illallah.
Pola-pola supergrafik yang berfungsi sebagai insulasi untuk
mengalirkan udara panas pada ruang dalam bangunan dan
menahan radiasi panas yang mengarah secara langsung pada
bangunan.
Ventilasi pada bangian bawah bangunan berfungsi sebagai cross
ventilation untuk mengalirkan udara panas pada bangunan yang
dialirkan melalui bukaan pada pola supergrafik.
ANALISA I. Analisa Ruang Luar Bangunan
4. Material Fasad

Unsur sustainable pada


fasad bangunan terlihat
dengan penggunaan bahan
material lokal setempat
yaitu penggunaan bahan
material roster/batu
Cisangkan dari Karawang
yang tidak jauh dari lokasi
Masjid Al -Irsyad.
Fasad bangunan ini
didesain dengan maksud
tersendiri pada tampilan
fasade nya yang disebut
super grafik, yang memiliki
pola-pola khusus, sehingga
material batu Cisangkan ini
harus produksi per modul
secara khusus yang dapat
digunakan untuk pola-pola
super grafik tersebut.

Warna pada fasad Masjid Al-Irsyad memiliki daya serap kalor yang besar, sehingga panas yang
diterusakan kedalam ruang akan besar, namun adanya insulasi pada kulit bangunan dan cross ventilation
akan menghantarkan angin yang optimal kedalam ruangan dan radiasi panas akan mudah keluar.
ANALISA II. Analisa Ruang Dalam Bangunan
1. Elemen Pembentuk Ruang
a.Pengolahan Lantai
Ekspresi ruang dalam dari bentukan lantai,
dinding, dan atap menjadikan suasana ruangan
menjadi lebih dramatis yang dapat
menambahkesan meruang dalam beribadah.
Pengolahan lantai pada Masjid AlIrsyad terbagi
menjadi 2 bagian yaitu :
1. Lantai utama berfungsi sebagai tempat
beraktifitas dalam masjid. menggunakan
material granite tile yang di lapisi karpet
sesuai dengan saf untuk solat.
2. Lantai sekunder sebagai ornamen dalam
ruang. menggunakan material batu batu
koral sebagai ornamentasi pengolahan lantai
sekaligus sebagai area resapan cipratan air
hujan yang berasal dari bukaan udara di area
bawa fasad bangunan.
b. Pengolahan Dinding c. Pengolahan Atap
Pada bagian mihrab terdapat teknik pasif berupa patio yang Olahan pada plafon memberikan tambahan estetis pada ruangan
berfungsi sebagai cooling effect yaitu mereduksi radiasi matahari masjid. Meski siang hari lampu tidak dinyalakan namun
yang masuk ke dalam bangunan. Dinding terbuka menjadi sumber pembayangan dari sinar yang datang dari arah mihrab yang
cahaya dan udara untuk operasional bangunan setiap harinya, oleh mengenai box box lampu tersebut menjadi lebih dramatis, dan
karena itu bangunan masjid ini tidak menggunakan AC dan mampu mencapai IEQ (indoor environment quality) untuk
pencahayaan buatan pada pagi hingga sore hari. kenyamanan pengguna dan kenyamanan visual, hal tersebut
menjadikan para pengguna masjid menjadi lebih khusu dalam
melaksanakan ibadah.
ANALISA II. Analisa Ruang Dalam Bangunan
2. Kenyamanan Ruang
a. Aliran Udara
Olahan air pada bukaan utama mesjid Al-
Irsyad ini berfungsi sebagai pendingin udara
yang berasal dari luar (passive cooling
effect).
Udara panas yang melewati kolam akan
didinginkan oleh uap air yang berasal dari
kolam sehingga udara yang masuk kedalam
bangunan telah menjadi dingin dan
membuat nyaman ruang.

Intensitas cahaya pada titik B (mihrab) lebih


b. Intensitas Cahaya
terang dari pengukuran lainnya, sehingga menjadi
vocal point.
Cahaya yang kontras jika dibandingkan dengan titik
lainnya yang juga terletak pada orientasi utama masjid
yaitu kiblat, menjadi penggambaran bahwa kita yang
beribadah adalah sedang menghadap kepada Yang
Maha Kuasa.
Jika dibandingkan data yang terdapat pada tabel 1
tingkat Pencahayaan minimum yang direkomendasikan,
hanya ada satu titik pengukuran yang memenuhi tigkat
pencahayaan minimum yaitu titk B.
c. Kenyamanan Termal (Suhu)
Pengukuran dilakukan di dalam ruang Masjid Al-Irsyad pada tanggal 24
Desember 2013,diamati pada setiap jam, 13:00 17:00.
Secara umum ruang dalam Masjid Al-Irsyad terasa nyaman , suhu berada
pada range 24C ~ 26C .
Selain itu hembusan angin yang berasal dari bukaan pada mihrab membuat
ruang menjadi sejuk, dan ventilasi yang dibuat silang (cross ventilation)
membuat aliran pergantian udara menjadi baik .
Kelembapan udara yang tinggi dapat diatasi dengan aliran udara yang
lancar.
ANALISA III. Pengaruh Terhadap Ekologi,
Sosial, dan Ekonomi
DESAIN :
Masjid Al - Irsyad didesain untuk tanggap terhadap ekologi/lingkungan sekitar, hal tersebut
terlihat dalam pemilihan site yang tepat berada lebih atas dari jalan tanpa merubah kontur
pada lingkungan tersebut dengan begitu keanekaragaman organisme hidup dapat
dipertahankan.
KONSEP & MATERIAL:
Konsep bangunan Masjid Al - Irsyad yang hemat energi teraplikasi pada penggunaan
material lokal yaitu batu cisangkan dari karawang.
Dengan menggunakan material tersebut pada pengolahan fasade bangunan Masjid Al -
Irsyad mampu mencapai kenyamanan thermal tanpa menggunakan teknologi bantuan seperti
AC dan lampu pada siang hari.
Material tersebut sangat dekat lokasi pembuatannya dari bangunan yang memudahkan
dalam proses pendistribusian material.

Masjid Al - Irsyad semakin popular di kalangan masyarakat sehingga kawasan tersebut


menjadi destinasi utama bagi para promotor untuk menggelar acara acara besar yang
berkaitan dengan religi pada khususnya maupun kegiatan sosial pada umumnya.
ANALISA Kesimpulan

Dapat disimpulkan dalam penerapan unsur-unsur dari sustainable design pada bangunan Masjid Al-
Irsyad sebagai berikut :

1. Dari hasil analisa pada ekspresi ruang luar bangunan Masjid Al-Irsyad dapat disimpulkan bahwa elemen-
elemen ruang luar bangunan seperti site bangunan, tatanan bentuk, fasade bangunan, dan material
fasade bangunan pada Masjid Al-Irsyad memiliki unsur sustainable design dengan pendekatan teknik
pasif seperti insulate wall, transitional space, local material & simple processing matrial. Reka Karsa 11
Pawitro, et al

2. Dari hasil analisa pada ekspresi ruang dalam bangunan dapat disimpulkan bahwa elemen pembentuk
ruang dari pengolahan lantai, pengolahan dinding, dan pengolahan atap pada Masjid Al Irsyad terdapat
unsur sustainable design dengan pendekatan teknik pasif seperti Shade & Filter, Cooling Effect dan
Indoor Environment Quality.

3. Ditinjau dari pengaruh ekspresi ruang luar dan ruang dalam bangunan Masjid Al-Irsyad terhadap faktor
ekologi, ekonomi, dan sosial, Masjid Al-Irsyad yang menerapkan konsep bangunan yang hemat energi
teraplikasi pada penggunaan material lokal batu cisangkan yang mampu mencapai kenyamanan thermal
tanpa menggunakan teknologi bantuan seperti AC dan lampu pada siang hari. Material tersebut sangat
dekat lokasi pembuatannya dari bangunan yang memudahkan dalam proses pendistribusian material.
Karena desain yang unik, Masjid Al - Irsyad semakin popular di kalangan masyarakat sehingga kawasan
tersebut menjadi destinasi utama bagi para promotor untuk menggelar acara-acara besar yang berkaitan
dengan religi pada khususnya maupun kegiatan sosial pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. artidefinisi.com- Bioklimatologi
2. Artiningrum, Primi. Site Planning (Pengembangan Bahan Ajar). Diperoleh 18 Oktober 2013, dari <
http://id.scribd.com/doc/182310818/Studi-Banding>
3. Barliana, Shaom . Perkembangan Arsitektur Masjid. Diperoleh 18 Oktober 2013, dari
<http://www.academia.edu/1028021/PERKEMBANGAN_ARSITEKTUR_MASJID_TRANSFORMASI_B
ENTUK_DAN_RUANG>
4. Fanani, Achmad.2009.Arsitektur Masjid. Yogyakarta : Bentang.
5. Honggo, Widjaja . Pengaruh Signifikan Tata Cahaya Pada Desain Interior. Diperoleh 23 Oktober 2013,
dari <puslit.petra.ac.id/search_engine/cache/INT/INT030101/INT03010101>
6. Muchamad, Bani Noor. Ekspresi Arsitektural (Metode Ekspresi Arsitektur). Diperoleh 23 Oktober 2013,
dari <http://blogbnm.files.wordpress.com/2011/08/membangun-citybranding.pdf>
7. Priatman, Jimmy.2004. Tradisi Dan Inovasi Material Fasade Bangunan Tinggi. Diperoleh 18 Oktober
2013, dari http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ars/article/view/15719
8. Rappoport, A.(1990).History and Precedent in Environmental Design.New York: Plenum.
9. Steele, James (1997) Sustainable Architecture: Principles, Paradigms, and Case Studies, McGraw-Hill,
New York.
10. Surasetja, Irawan. 2007. Fungsi, Ruang, Bentuk dan Ekspresi Dalam Arsitektur, Diperoleh 18 Oktober
2013, dari <http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/12036-14119280493442.pdf>
11. sustainabilityworkshp.autodesk.com/buildings/aircooling
12. Yeang, Ken (1995) Designing With Nature: The Ecological Basis for Architectural Design, McGraw-Hill,
New York.
13. Jurnal Reka Karsa Jurnal Online Institut Teknologi Nasional, Kajian Ekspresi Ruang Luar dan Ruang
Dalam pada Bangunan Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan Ditinjau Dari Sustainable Design.