Anda di halaman 1dari 16

DASAR PENELITIAN KEBIJAKAN

REVIUW JURNAL

PERAN PENDAMPING DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN


MELALUI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)

Dosen Pengampu: Dr. Istiana Hermawati, M.Sos.

Oleh:

MULYADIN
NIM 16701251006

PROGRAM STUDI PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
Rancangan Judul Penelitian:
PERAN PENDAMPING DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
MISKIN MELALUI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)

Kajian Jurnal Penelitian yang Relevan:


1. IDENTITAS
JURNAL THE GIRLS' STIPEND PROGRAM IN BANGLADESH

Janet Raynor, University of London Institute of Education


Kate Wesson, Open University, Milton Keynes
Raynor, Janet, Wesson, Kate (2006). The Girls Stipend Program in
Bangladesh.
Journal of Education for International Development 2:2.
Sumber:http://www.equip123.net/JEID/articles/3/GirlsStipendProgrami
nBangladesh.pdf
Aspek Teori Sejak kemerdekaannya, Bangladesh telah ditangani pendidikan
terutamasebagaisaranamenyiapkangadisuntukibutercerahkan.Gadis
(Chanana,1994)atauuntukmemasukkanprofesidianggapcocokuntuk
wanita.1974QudrateKhudaKomisiPendidikanLaporanmenegaskan
bahwa pendidikan perempuan harus seperti untuk bisa membantu
merekadalamkehidupanrumahtanggamereka,danmenekankanbahwa
subyek seperti perawatan anak, menyusui orang sakit, pelestarian
kesehatan,pangandangiziharusdisertakan.Halinijugamenyarankan
menyalurkangadiske panggilankhususcocokuntukmereka seperti
mengajar primer, perawat, dan mengetik (Jalaluddin & Chowdhury,
1997:290).
Program Gaji Perempuan (FSP), sebaliknya, berusaha untuk
membantu menjaga gadisgadis remaja di sekolah menengah untuk
menundaperkawinandanibumereka.Strategiinimerupakantanggapan
terhadap pertumbuhan populasi, diperkirakan antara 123.300.000
(BANBEIS 2003, mengutip sensus 2001 penduduk) dan 144.300.000
(CIA, 2006) yang membuat Bangladesh negara yang paling padat
penduduk di dunia (Wikipedia, 2005 ). FSP dirancang dalam
menanggapi literatur populasi menunjukkan bahwa pendidikan
menengah akan menunda pernikahan, meningkatkan penggunaan
kontrasepsi dan mengurangi kesuburan (Herz, 1991; Shahidur R
Khandker&Samad,1996;Thein,Kabir,&Islam,1988;WorldBank,
1993).
Program FSP menghasilkan hasil yang positif: pendaftaran
sekunder perempuan meningkat dari ratarata 7,9% sampai 14% di
beberapa daerah proyek dan angka putus sekolah turun dari 14,7%
menjadi3,5%(Haq&Haq,1998:93).
AnalisislebihkritisdariFSPtelahmuncul.Abadzi(BankDunia,
2003)danMahmud(2003),misalnya,mengakuibergerakcukupbesar
terhadap kesetaraan gender pendaftaran di tingkat menengah dan
dukungan masyarakat yang kuat untuk program ini, tapi mengkritik
kualitaspendidikan,kesetaraandankeberlanjutan,danmelihatprogram
sebagaiterutama'keputusanpolitikuntukmengkonsolidasikandukungan
rakyat' yang dibenarkan dalam hal 'keadilan sosial' dan kesetaraan
gender(Mahmud,hal.12).Mahmudjugamencatatpenekananbergeser
darimenutupkesenjangangenderpadatahapawaluntukmeningkatkan
kualitasdankeberlanjutankeuangandi'proyekgenerasikedua'.Namun,
diasangatkritisdarisatuproyekyangialihatsebagaiterusmenekankan
akses:PertimbanganKualitastidakmunculuntukberadadigarisdepan
kekhawatiranpemerintahdisektorpendidikanmenengahpadatahapini
(hal.6).KomentarAbadzi(hal.15)bahwasalahsatuproyekmenerima
penghargaan Bank Dunia untuk keunggulan dalam pendidikan anak
perempuanpadatahun2000,danmencatatbahwabeberapaproyektelah
menerima pujian dan publisitas tersebut. FSP 'adalah sebuah proyek
yanginovatif,pertamadarijenisnyadalambanyakhal,yangmendapat
dukunganpenuhdaripemerintahdanmasyarakatpadaumumnya,tapiia
mencatatbahwatujuangandameningkatpendaftarandanbantuandalam
melewatiujianituhanyasebagiandicapai.
Pengaruhpenurunanjumlahpenerimamanfaatpadakeseluruhan
pendaftaranyangbelumterlihat,tetapisebuahpenelitianyangdilakukan
padaawaltahun2005menunjukkanpenurunanyangsignifikandalam
pendaftaran sekunder anak perempuan di daerah penelitian sebagai
akibat dari pengurangan pada tunjangan (Thornton, Haq, Huda, &
Munsura,2005).
ASPEK Sebuahjangkamenengahsurveiyangdilakukandalamsatusiklus
METODOLOGI proyek menunjukkan bahwa 9,3%dari gadisgadis gaji meninggalkan
sekolahuntukmenikah,penurunandari12,3%padatahun1994(Bank
Dunia, 1997). Barubaru ini, sebuah studi besar yang berfokus pada
pendidikan menengah umumnya memberikan angka 8,8% di daerah
pedesaan(ManzoorAhmed,Nath,Hossain,&Kalam,2006:62).
Tampaknyacukupaman,namun,untukpercayabahwaFSPtelah
membantu delay pernikahan anak untuk beberapa gadisgadis selama
beberapa tahun setidaknya. Set melawan ini, bagaimanapun, Pusat
InternasionaluntukPenelitianSurveiDemografiKesehatanPerempuan
19962001daftarBangladeshsebagaimemilikitingkattertinggikedua
pernikahan anak, dengan perkiraan 75% dari gadisgadis menikah
sebelumusia18(ICRW,2003).
TEMUAN Pada tahun 2003, Laporan Pembangunan Manusia UNDP
PENTING menunjukkan Bangladesh hanya meremas ke dalam 'pengembangan
media'kategoriuntukpertamakalinya,denganseorangjenderalIndeks
PembangunanManusia(IPM)Peringkatdari139dari175negara.Pada
tahun2005,Bangladeshperingkat139dari177negara.
Pada tahun 2005 Pemberdayaan Gender Ukur (GEM),
Bangladeshperingkat79dari80negara(UNDP2003,2005).
Keberlanjutan terkait sangat erat dengan masalah kemiskinan.
Sebuah program seperti FSP mahal dan hampir pasti datang dengan
mengorbankan tujuan pembangunan yang diinginkan lainnya seperti
pengentasankemiskinan.Initidakselalumengatakanbahwauangtelah
terbuang;tampaknyatelahsangatbergunadalamorangtuameyakinkan
bahwaituadalahhalyangbaikuntukmenjagaputrimerekadisekolah.
Tetapiadaindikasibahwakebutuhanuntukdukungankeuangandapat
berkurangsebagaiTemuanmenunjukkanbahwabanyakorangtuaakan
terusmengirimkansiswamereka[kesekolah]bahkanjikatidakadauang
saku'(SSAhmed,2004:40).Temuaninimenyebutprogramsemacam
uangsakuskalabesardipertanyakandanmenyarankanpenargetanlebih
dekatdarimerekayangmembutuhkankeuanganyangnyatayangdapat
menyebabkanbiayaefektif,programyanglebihberkelanjutan.

KONTRIBUSI 1) Penelitian ini memberikan deskripsi yang sangat jelas mengenai


BAGI PENYU- program keluarga harapan
SUNAN TESIS 2) Penelitian ini memberikan deskripsi yang jelas tentang pentingnya
program keluarga harapan yang menekankan pada proses ilmiah.
3) Diperoleh informasi bahwa terdapat manfaat yang cukup tentang
perbedaan tingkat ekonomi masyarakat sebelum diluncurkan program
PKH dan sesudah diluncurkan program PKH
4) Mendapatkan inspirasi untuk mengkaji lebih detail tentang Program
The Girls' Stipend Program in Bangladesh untuk mengentaskan
kemiskinan di Indonesia.

2. IDENTITAS The Impact of the Bolsa Escola/Familia Conditional Cash Transfer


JURNAL Program on Enrollment, Grade Promotion and Drop out Rates in
Brazil
Paul Glewwe* & Ana Lucia Kassouf **
* Department of Applied Economics, University of Minnesota, 1994 Buford
Ave. St Paul, MN, 55108 phone: 612-625-0225 : pglewwe@umn.edu
** Dep. De Economia, Universidade de Sao Paulo, Av. Padua Dias, 11,
Piracicaba, SP, 13418-900, phone: 19 3417-8709: alkassou@esalq.usp.br
Sumber: www.anpec.org.br/encontro2008/artigos/200807211140170-.pdf

Aspek Teori Sebagian besar ekonom sepakat bahwa peningkatan tingkat


pendidikan dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi meningkat dan
pendapatanyanglebihtinggi(Barro,1991;Mankiw,RomerdanWeil,
1992;HanushekdanKimko,2000;KruegerdanLindahl,2001;Salai
Martin, 2004; Hanushek dan Woessmann, 2008) dan, lebih umum,
kualitas hidup yang lebih tinggi. Dukungan ini untuk pendidikan di
kalanganekonomcocokdenganantusiasmeyanglebihbesardiantara,
dan dukungan keuangan dari, lembaga pembangunan internasional.
Memang, dua dari delapan Millennium Development Goals (MDGs)
yang diadopsi pada United Nations Millennium Summit pada bulan
September 2000 fokus pada pendidikan: pertama, semua anak harus
menyelesaikan sekolahdasarpada tahun2015,dan kedua,kesetaraan
genderharusberlakudisemuatingkatpendidikandengan2015.
Untuk mencapai Tujuan Milenium, orang tua pertama harus
mampu mengatasi hambatan ekonomi dan sosial untuk mendaftarkan
anak mereka di sekolah. Hambatan ini tidak hanya mencakup biaya
langsungdarisekolah,sepertibiayasekolah,bukudanseragam,tetapi
juga biaya kesempatan dari waktu di sekolah pengurangan jumlah
waktu anakanak habiskan bekerja atau melakukan kegiatan lain saat
mereka meningkatkan waktu mereka menghabiskan belajar, baik di
sekolahdandirumah.Beberapaprogramtelahmelampauimengurangi
atau menghilangkan biaya atau menyediakan buku teks gratis dan
seragam: mereka benarbenar membayar keluarga siswa yang
bersekolah. Program ini disebut program bantuan tunai bersyarat.
Merekamemilikiduatujuanutama:(1)mengurangikemiskinansaatini;
dan(2)meningkatkan investasidalammodalmanusiasehingga anak
anakdikeluargamiskinakanmemilikistandarhidupyanglebihbaik
ketika mereka menjadi dewasa. Tujuan pertama dilakukan ketika
keluargamiskinmenerimauangdariprogramini.Keduadicapaidengan
pengkondisiantransfertunaikepadarumahtanggapadaperilakutertentu
dari anggota rumah tangga, seperti mengunjungi fasilitas kesehatan,
imunisasianakanak,danmendaftarkananakanakdisekolah.Program
programtelahmenyebarluasdinegaranegaraberkembang,khususnya
diAmerikaLatin. Duaprogramterbesaradalah Progressa (kemudian
bergantinamamenjadi Oportunidades)ProgramdiMeksikodanBolsa
Escola(kemudianbergantinamaFamiliaBolsa)ProgramdiBrasil.
Negaranegara Amerika Latin telah membuat kemajuan yang
signifikan terhadap peningkatan pendaftaran sekolah dan pencapaian
pendidikandalam25tahunterakhir.Sebagaicontoh,primary(Sekolah
Dasar) angka partisipasi murni meningkat dari 70% pada tahun 1980
untuk 94% pada tahun 2004, dan angka partisipasi murni sekunder
meningkat dari 16% menjadi 61% dibandingkan periode yang sama
(Damon dan Glewwe, 2007). Tapi, ada ruang untuk kemajuan lebih
lanjut.Sebagaicontoh,meskipuntingkatpartisipasidiBrazilmeningkat
dari86%padatahun1990menjadi97%padatahun2001untukanak
anakmuda (berusia811tahun), padausia 14tingkat ini padatahun
2001adalah92%danpadausia15hanya87%.Dengandemikian,pada
tahun200140%(sembilanjuta)daripemudaBrasildari18sampai25
tahuntidakselesai8tahunpendidikan(PNAD,2001).Untukmendorong
semuaanakuntukmenyelesaikan8tahunsekolah,pemerintahfederal
BrazilmeluncurkanBolsaEscolaprogrambantuantunaibersyaratpada
tahun2001.
ProgramBolsaEscola,yangbergantinamaBolsaFamiliatahun
2003, memberikan manfaat untuk keluarga miskin dengan anakanak
berusiahingga15tahun,tergantungpadaanakanakyangterdaftardi
sekolah. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa programprogram
bantuan tunai bersyarat meningkatkan partisipasi siswa, menurunkan
pekerja anak, meningkatkan status gizi dan kesehatan anakanak, dan
bahkan menurunkan ketimpangan pendapatan. Misalnya, Gertler,
Patrinos dan Codina (2007)menemukandampakpositifdariprogram
ProgresspadahasilpendidikansiswadiMeksiko.Gertler(2004)juga
menunjukkanbahwaprogramProgressameningkatkankesehatananak
anakMeksiko.BeralihkeBrasil,Barrosetal.(2006)memperkirakan
bahwa program Bolsa Familia menurun kemiskinan dan pendapatan
ketimpangan di negara itu, dan Ferro, Kassouf dan Levison (2007)
menunjukkan bahwa program Bolsa Familia berkurang pekerja anak.
SementarabanyakpenelitiantelahmemperkirakandampakdariMexico
pada Program Progressa siswa hasil pendidikan di negara itu (lihat
reviewolehParker,RubalcavadanTeruel,2008),sangatsedikittelah
menganalisisdampakdariprogramBolsaEscola/Familiapadasiswa
hasilpendidikandiBrazil.
Artikel iniberfokuspadahasilpendidikansiswaSDdanlebih
rendahdiBrazil,negaraterpadatdiAmerikaLatin.Inimenggunakan
datayangluarbiasatuntukmengevaluasidampakdariprogram Bolsa
Escola /Familiakemajuananakanakdisekolah,yangdiukurdengan
pendaftaran, promosi kelas dan angka putus sekolah, dengan
menggunakandatasensussekolahdaritahun1998sampai2005.Halitu
dengan menggunakan data panel: sekolah yang sama dapat diikuti
selamadelapantahundenganmenggunakandatasensussekolahBrasil.
Perkiraandisajikanuntuksekolahdengannilai14danuntuksekolah
dengannilai58.
Bagian yang tersisa dari kertas memberikan tinjauan literatur
singkat, menggambarkan Escola / Program Familia Bolsa dan data,
menjelaskanmetodologiestimasi,danmenyajikanhasilestimasi.Bagian
terakhir merangkum temuan dan memberikan saran untuk penelitian
lebihlanjut.
Parker,RubalcavadanTeruel (2008)meninjau sejumlah besar
studi yang telah menganalisis dampak dari program transfer tunai
bersyaratpadasekolahdiAmerikaLatindannegaranegaraberkembang
lainnya.MalucciodanFlores(2004)digunakanperbedaaninperbedaan
pendekatan untuk mempelajari program Red de proteccion Sosial di
Nikaragua. Mereka memperkirakan bahwa program peningkatan
pendaftaran sebesar 17,7 persen, mengangkat kehadiran sebesar 11
persen,danditingkatkantingkatretensisebesar6,5%untukanakanakdi
kelas1sampai4dinegaraitu.DiHonduras,ProgramadeAsignacion
Familiar memiliki dampak positif pada kedua tingkat kehadiran dan
pendaftaransetiaphari,danefeknegatifpadaputus,untukanakanak
usia6hingga13(GlewwedanOlinto,2004).Attanasio,Fitzsimonsdan
Gomez (2005) menemukan bahwa program Familias en Accion di
Kolombiameningkatpendaftarandikalangananakanakusia12sampai
17,tetapitidakmemilikiefekuntukanakanakberusiaantara8dan11
tahun. Schady dan Araujo (2006) memperoleh dampak positif dari
program BonodeDesarrolloHumanopadasaatpendaftarananakanak
diEkuador.DuaprogramyangmenarikdiluarAmerikaLatinadalah
merekadiBangladeshdanKamboja,yangditargetkanpendidikananak
perempuan.Khandker,PittdanFuwa(2003)menemukandampakpositif
pada pendaftaran 11 sampai 18 tahun gadis berusia di Bangladesh,
sementara Filmer dan Schady (2006), memperkirakan bahwa Dana
JepanguntukprogramPenguranganKemiskinandiKambojameningkat
secarasignifikanpendaftarandankehadirananakperempuandisekolah
menengah.
Banyak,jikatidaksebagianbesar,penelitiantelahdifokuskan
padadampakdariprogramProgresapadahasilpendidikananakanakdi
Meksiko. Behrman, Sengupta dan Todd (2000) menemukan bahwa
Program Progresa meningkatkan angka partisipasi anak perempuan
berusia12sampai14tahun.Namun,merekatidakmenemukandampak
yangsignifikanterhadaptingkatpendaftaranindividulebihmudadari
12.Merekadikaitkan temuaniniuntuksudahtingkatpartisipasiyang
tinggibagiindividutersebutdalamdatapraprogramyang.Merekajuga
menemukan,untukanakanakberusiaantara11dan15tahun,penurunan
yang signifikan dalam kesenjangan pendidikan, yang didefinisikan
sebagai perbedaan antara kelas individu akan menyelesaikan jika ia
masuksekolahpadausiaenamdanberkembangsatukelassetiaptahun,
dankelasbenarbenartercapai.Schultz(2004)menemukanefekpositif
yang kuat dari program Progresa pada gadisgadis dan lakilaki
pendaftaran sekolah, dengan efek yang lebih kuat untuk anak
perempuan.Dubois,deJanvrydanSadoulet(2004)menemukanbahwa
ProgramProgresamemiliki dampak positif padakemungkinan bahwa
anakanak tetap bersekolah, dan pada perkembangan kelas dan
keberhasilanditingkatdasar.Namun,untuktingkatmenengahdampak
padaperkembangankelasnegatif.Terakhir,SkoufiasdanParker(2001)
jugamenemukanbahwaprogramProgresameningkatsecarasignifikan
pendaftaransekolahdanpartisipasidalamaktivitaskerjadarianaklaki
lakidanperempuandiMeksikoberkurang.
Bourguignon,FerreiradanLeite(2003)menganalisisdatasurvei
rumah tangga Brasil yang dikumpulkan pada tahun 1999 untuk
memperkirakanmodelperilakurumahtanggayangkemudiandigunakan
untukmensimulasikan(masadepan)dampakdariprogramBolsaEscola.
Merekamemperkirakanbahwaprograminiakanmendoronglebihdari
setengahdaripemudamemenuhisyaratyangsaatinitidakdisekolah
untukmendaftarkandiri.
ASPEK Penelitianinimenggunakandatacrosssectionaldantidaksedikit
METODOLOGI untuk mengontrol untuk seleksi ke dalam program dan, lebih umum,
dihilangkanvariabelBias.Selainitu,evaluasiinimenggunakandatadari
tahun 2000 (Demografi Sensus) dan 2001 (PNAD, Survei Sampel
Rumah Tangga Nasional). Sejak program ini menjadi luas secara
nasionalpadatahunyangsama,2001,adakebutuhanuntukpenelitian
baruuntukmenganalisisdampakprogramsetelahbeberapatahuntelah
berlalu.
Analisis yang disajikan di sini adalah berdasarkan data dari
seluruhwilayahBrazil,danmenggunakandatalebihdaridelapantahun,
termasuk lima tahun ketika Program beroperasi pada skala nasional.
Akhirnya, mengembangkan prosedur estimasi dirancang untuk
meminimalkanbiasseleksidanmasalahestimasilainnya
TEMUAN Sebuahstudijauhlebihbarudanmenyeluruhadalahbahwade
PENTING Janvry,FinandanSadoulet(2007).Merekamenemukanbahwaprogram
BolsaEscola/Familiamengurangitingkatputussekolahsekitar8persen
namun tak banyak berpengaruh pada tingkat pengulangan. Namun
analisisiniterbataspadawilayahTimurLautBrasildanmemilikisampel
jauh lebih kecil dari sekolah dibandingkan dengan data sensus yang
digunakan dalam makalah ini, yang mengurangi ketepatan efek
diperkirakan. Beberapa variabel kunci juga hilang dari data mereka,
seperti ras siswa; akan terlihat di bawah bahwa dampak program
bervariasiolehras.
Mengingat popularitas program dan hasil positif yang mulai
muncul dari studi mengevaluasi program serupa di negaranegara
Amerika Latin lainnya serta di Brazil, pemerintah federal, di bawah
Presiden Fernando Henrique Cardoso, memutuskan pada bulan April
2001 untuk menciptakan Bolsa Program Escola Federal. Menurut
KementerianSosialdanPembangunan,padaakhirtahun2001,hampir5
jutakeluargamenerimagajidilebihdari5.000municipio(dari5560).
Padatahun2003,dibawahPresidenLuisInacioLuladaSilva,Bolsa
Escola menjadi Bolsa Familia, dan manfaat program diperluas.
SementaraBolsaEscolatermasukhanyakeluargamiskindengananak
anak dari 6 hingga 15 tahun, 1 Bolsa Familia mencantumkan semua
keluargadenganpendapatanperkapitaperbulandibawah60,00Real
(30.00dolar)dankeluargadenganpendapatanperkapitabulananantara
60,00dan120,00Realsyangmemilikianakanakdariberusia0sampai
15tahunatauwanitahamilataumenyusui.Padatahun2007,lebihdari
11 juta keluarga, atau sekitar 46 juta orang (sekitar seperempat dari
penduduk Brasil) adalah penerima manfaat dari program tersebut.
AnggaranpemerintahuntukBolsaFamiliatelahmencapailebihdari7,5
miliarReal(sekitar4miliardolarAS)padatahun2006,yangmewakili
0,5%dariGNP.
Programtransfertunaibersyaratsangatdisukaiuntukprogram
transferpendapatanstandarkarenapersyaratanpersyaratanyang
diberlakukankepadakeluarga.Sebagaicontoh,programBolsaFamilia
mensyaratkanbahwasetiapanakantarausia6dan15akanterdaftardi
sekolahdanmenghadirisetidaknya85%darihariharisekolah,bahwa
wanitahamilmendapatkanpelayananprenataldankesehatanpascanatal
dantuaanakanakantara0dan7tahunmemilikisemuavaksinasiyang
dianjurkan.Peningkatanmodalmanusiayangharushasildaripendidikan
meningkatdanstatuskesehatanyanglebihbaikdimaksudkanuntuk
memungkinkankeluargauntukkeluardarisiklusmerekadari
kemiskinan,meningkatkankualitashidupmerekadanmengakhiri
ketergantunganmerekapadaprogramprogrambantuanpublik
KONTRIBUSI 1) Penelitian ini memerikan deskripsi yang sangat jelas mengenai
BAGI PENYU- kebijakan dalam manangani angka putus sekolah, penanganan ibu
SUNAN TESIS hamil, dan program-program bantuan untuk peningkatan taraf hidup
masyarakat.
2) Penelitian ini Penelitian ini menggunakan menggunakan metode
survei cross-sectional dalam pengolahan datanya.
3) Diperoleh informasi bahwa program-program serupa PKH talah ada
di negara-negara lain, dalam peningkatan partisipasi sekolah dan
menanggulangi kemiskinan.
4) Mendapatkan inspirasi untuk mengkaji lebih detail tentang The
Impact of the Bolsa Escola/Familia Conditional Cash Transfer
Program on Enrollment, Grade Promotion and Drop out Rates in
Brazil untuk mengentaskan kemiskinan peningkatan partisipasi
sekolah di Indonesia.
3. IDENTITAS Program Keluarga Harapan (PKH): Program Bantuan Dana
JURNAL Tunai Bersyarat di Indonesia
Oleh Suahasil Nazara and Sri Kusumastuti Rahayu.

TNP2K Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan


IPC-IG didukung bersama-sama oleh United Nations Development
Programme, dan Pemerintah Brazil.
International Policy centre for inclusive growth
Research brief no. 42 Oktober/2013
Sumber:

Aspek Teori Pada tahun 2007 Pemerintah Indonesia meluncurkan Program


Keluarga Harapan (PKH), program bantuan dana tunai bersyarat
pertama di Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas
manusia dengan memberikan bantuan dana tunai bersyarat bagi
keluarga miskin dalam mengakses layanan kesehatan dan
pendidikan tertentu. PKH membantu mengurangi beban
pengeluaran rumah tangga yang sangat miskin (dampak konsumsi
langsung), seraya berinvestasi bagi generasi masa depan melalui
peningkatan kesehatan dan pendidikan (dampak pengembangan
modal manusia). Kombinasi bantuan jangka pendek dan jangka
panjang ini merupakan strategi pemerintah dalam mengentaskan
kemiskinan bagi para penerima PKH ini selamanya.
PKH dikelola oleh Kementerian Sosial (Kemensos), dengan
pengawasan ketat Bada Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas). Program ini mulai beroperasi pada tahun 2007 sebagai
program rintisan (pilot) yang disertai unsur penelitian di dalamnya.
Ketika PKH diluncurkan pada tahun 2007, penerima manfaat
program yang dipilih merupakan rumah tangga yang sangat miskin
yaitu mereka yang berada di bawah 80 persen garis kemiskinan
resmi saat itu. Karena program ini merupakan program rintisan;
Hingga tahun 2012, program ini hanya menjangkau 1,5 juta
keluarga, dibanding total 60 juta keluarga miskin di Indonesia serta
sekitar 6,5 juta keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan.
PKH diharapkan mampu menjangkau 3,2 juta rumah tangga di
akhir tahun 2014. Pada tahun 2012 PKH akhirnya beroperasi di
seluruh rovinsi di Indonesia, meskipun masih belum menjangkau
seluruh kabupaten di tiap provinsi. Perluasan cakupan PKH
merupakan tantangan program jika ingin memberikan dampak besar
bagi penduduk miskin Indonesia.
Program-program bantuan dana tunai bersyarat seperti PKH.
Program-program ini terbukti meningkatkan capaian pendidikan
rumah tangga miskin (Schultz, 2004) dan berdampak luas pula pada
capaian pendidikan rumah tangga tidak miskin (Bobonis dan Finan,
2005); menciptakan dampak multiganda melalui investasi pada diri
sendiri (Gertler, Martinez dan Rubio,2005); meningkatkan status
kesehatan ibu dan anak (Gertler, 2004); menurunkan angka kurang
gizi (Hoddinott dan Skoufi as, 2003); meningkatkan perekonomian
setempat (Coady dan Harris, 2001); serta mengurangi kesenjangan
dan kemiskinan (Soares et al., 2006).
ASPEK Penetapan sasaran untuk PKH dilakukan oleh Badan Pusat
METODOLOGI Statistik (BPS). Untuk pertama kalinya, menggunakan data tahun
2005 yang dimiliki (berdasarkan nama dan alamat), BPS melakukan
Survei Pendidikan dan Survei Pelayanan Dasar Kesehatan dan
Pendidikan (SPDKP) guna mengidentifi kasi rumah tangga sangat
miskin serta fasilitas pendidikan dan kesehatan. Daftar tahun 2005
memuat sekitar 19,1 juta rumah tangga, seharusnya berada pada
sebaran penghasilan terendah, dan digunakan sebagai daftar untuk
program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2005. SPDKP
dilakukan tidak hanya pada rumah tangga namun juga pada
fasilitas, guna menguji kesiapan data tersebut untuk PKH. SPDKP
dilakukan setiap tahun. Pada tahun 2008 Badan Pusat Statistik
(BPS) menyelenggarakan pendaftaran kembali guna
memperbaharui data sebelumnya (PSE 2005). PendataanProgram
Perlindungan Sosial (PPLS) 2008 menggunakan 14 indikator yang
mengidentifi kasi apakah rumah tangga tertentu layak memperoleh
bantuan (Nazara, 2013). Daftar baru ini digunakan sebagai
penetapan sasaran PKH antara tahun 20092011. Sejak tahun 2012,
penetapan sasaran PKH mulai menggunakan Basis Data Terpadu
(BDT). Basis data ini, yang didasarkan pada data tahun 2011, berisi
nama dan alamat individu rumah tangga yang berada pada 40
persen sebaran kesejahteraan terendah. BDT, yang dikelola oleh
Sekretariat TNP2K, merupakan cara memadukan sistem penetapan
sasaran nasional. Informasi lebih lanjut tentang BDT dapat
ditemukan di TNP2K (2013).
TEMUAN Secara keseluruhan penelitan ini menunjukkan bahwa PKH
PENTING memiliki dampak positif. Hasil penelitian ini juga menunjukkan
adanya dampak PKH pada kenaikan rata-rata banyak indikator di
bidang kesehatan (misalnya kunjungan ke Posyandu naik 3 persen,
pemantauan pertumbuhan anak naik 5 persen, dan kegiatan
imunisasi naik 0,3 persen) dan indikator pendidikan (misalnya
kehadiran di kelas naik 0,2 persen). PKH juga berhasil
meningkatkan pengeluaran rumah tangga per bulan per kapita untuk
pendidikan dan kesehatan.
Dilihat dari sisi konsumsi, kajian ini menunjukkan antara
tahun 2007-2009 rumah tangga PKH mengalami kenaikan rata-rata
konsumsi bulanan sebesar 10 persen. Dana yang diterima oleh
rumah tangga PKH biasanya digunakan untuk konsumsi harian dan
pengeluaran pendidikan (untuk belanja seragam, transportasi).
Beberapa rumah tangga juga menggunakan bantuan ini untuk
memperbaiki kondisi rumah mereka dan membayar hutang.
Berhutang, selain menjual aset dan mengurangi konsumsi,
merupakan salah satu mekanisme bertahan hidup bagi rumah tangga
miskin. Program Keluarga Harapan tetap menjadi program yang
sangat penting bagi penanggulangan kemiskinan di Indonesia.
KONTRIBUSI 5) Penelitian ini memerikan deskripsi yang sangat jelas mengenai
BAGI PENYU- program keluarga harapan
SUNAN TESIS 6) Penelitian ini memberikan deskripsi yang jelas tentang
pentingnya program keluarga harapan yang menekankan pada
proses ilmiah.
7) Diperoleh informasi bahwa terdapat manfaat yang cukup tentang
perbedaan tingkat ekonomi masyarakat sebelum diluncurkan
program PKH dan sesudah diluncurkan program PKH
8) Mendapatkan inspirasi untuk mengkaji lebih detail tentang
Program Keluarga Harapan untuk mengentaskan kemiskinan di
Indonesia.

4. IDENTITAS PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN DALAM


JURNAL MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP RUMAH TANGGA
MISKIN
(Studi pada Unit Pelaksana Program Keluarga Harapan Kecamatan
Purwoasri, Kabupaten Kediri)
Dedy Utomo, Abdul Hakim, Heru Ribawanto. Jurusan Administrasi
Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya,
Malang. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 29-
34
Sumber: portalgaruda.org
ASPEK TEORI Kartasasmita (1996, h.241) menyebutkan bahwa kebijakan
penanggulangan kemiskinan dapat tertuang dalam tiga arah
kebijakan. Pertama, kebijakan tidak langsung yang diarah-kan pada
penciptaan kondisi yang menjamin kelangsungan setiap upaya
penanggulangan kemiskinan; kedua, kebijakan langsung yang
ditujukan kepada golongan masyarakat ber-penghasilan rendah; dan
ketiga, kebijakan khusus yang dimaksudkan untuk mempersiapkan
masyarakat miskin itu sendiri dan aparat yang bertanggung jawab
langsung terhadap kelancaran program, dan sekaligus memacu dan
memperluas upaya penanggulangan kemiskinan.
Program-program yang dilaksanakan dalam upaya
pengentasan kemiskinan selama ini belum mampu memberikan
dampak besar sehingga sampai saat ini tujuan dari pembanguanan
nasional terkait dengan masalah pemerataan dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat masih menjadi masalah yang
berkepanjangan. Oleh karena itu dalam rangka penanggulangan
kemiskinan berbasis rumah tangga, Pemerintah meluncurkan
program khusus yang diberi nama Program Keluarga Harapan
(PKH). Menurut Dirjen Bantuan dan Jaminan Sosial (Depsos, 2010)
PKH dirancang untuk membantu penduduk miskin kluster terbawah
berupa bantuan bersyarat.
Menurut Todaro terdapat 3 tujuan dari pelaksanaan sebuah
pembangunan, yaitu:
1. Meningkatkan ketersediaan serta memperluas distribusi
kebutuhan dasar rakyat banyak.
2. Meningkatkan taraf hidup, antara lain pendapatan meningkat,
kesempatan kerja yang cukup, pendidikan yang lebih baik,
perhatian yang lebih besar kepada nilai-nilai kebudayaan dan
kemanusiaan (dalam arti kesejahteraan sosial, jasmani, dan
rohani)
3. Memperluas pilihan-pilihan sosial ekonomi dari perseorangan
dan bangsa dengan memberikan kebebasan dari
ketergantungan (Todaro, 2004, h.34).
ASPEK Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian
METODOLOGI deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di
Kecamatan Purwoasri Kabupaten dan situs penelitian di UPPKH
Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. Data primer diperoleh
dengan wawancara. Data sekunder diperoleh dengan mencari
dokumen-dokumen yang sesuai tema penelitian. Adapun yang
menjadi fokus penelitian adalah: (1) Pelaksanaan PKH di
Kecamatan Purwoasri (2) Faktor pendukung dan faktor penghambat
pelaksanaan PKH di Kecamatan Purwoasri. Analisis data
mengguna-kan metode analisis model interaktif yang menurut
Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011, h.247) ada tahapan
yang harus dilalui yakni: reduksi data, penyajian data, dan menarik
kesimpulan.
TEMUAN Pelaksanaan Program Keluarga Harapan tidak terlepas dari
PENTING adaya faktor pendukung. Dalam penelitian ini faktor pendukung
program ini yaitu adanya koordinasi yang bagus dari aktor yang
terlibat. Aktor tersebut meliputi perangkat desa, di bidang
pendidikan yaitu guru/wali kelas yang harus melakukan absensi
rutin agar partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat
terpantau, sedangkan di bidang kesehatan yaitu bidan desa yang
berada didesa lokasi peserta PKH menetap. Perwakilan bidan desa
harus selalu memantau perkembangan kondisi kesehatan dan gizi
dari ibu hamil, ibu nifas, dan balita ketika melakukan posyandu.
Dengan adanya partisipasi dari pihak-pihak terkait maka program
ini akan berjalan dengan baik
KONTRIBUSI 1) Dari segi teoretis penelitian ini menjelaskan pentingnya
BAGI PENYU- pelaksanaan program keluarga harapan
SUNAN TESIS 2) Aspek metodologis menjadi rujukan penentuan sampel
penelitian, penelitian kualitatif
3) Temuan penelitian ini dapat menjadi dasar penguat bahwa
pentingnya pelaksanaan program keluarga harapan

5. IDENTITAS RESPON MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN


JURNAL PROGRAM KELUARGA HARAPAN DI KECAMATAN
MEDAN SELAYANG
GRACE LELIHARNI DAMANIK. (090902057). Jurnal
Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 1, Hal. 29-34
Sumber: http://jurnal.usu.ac.id/index.php/ws/article/view/2136
ASPEK TEORI Dalam kerangka percepatan penanggulangan kemiskinan dan
pengembangan sistem jaminan sosial, maka pemerintah
mengeluarkan kebijakan program yang merupakan pengembangan
sistem perlindungan sosial yang dapat meringankan dan membantu
rumah tangga sangat miskin dalam hal mendapatkan akses
pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar. Program tersebut adalah
Program Keluarga Harapan. Program Keluarga Harapan ini mulai
diberlakukan di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008 yang
meliputi tiga Kabupaten/Kota yakni Medan, Nias dan Tapanuli
Tengah sebagai daerah percontohan dengan total 33 kecamatan.3
Khusus untuk Kota Medan, ada 11 Kecamatan yang telah
memberlakukan Program Keluarga Harapan dan salah satunya
adalah Kecamatan Medan Selayang.
ASPEK Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang
METODOLOGI menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu keadaan subjek atau
objek. Penelitian deskriptif dalam pelaksanaannya lebih terstruktur,
sistematis, dan terkontrol, peneliti memulai dengan subjek yang
telah jelas dan mengadakan penelitian atas populasi dari subjek
tersebut untuk menggambarkan secara akurat dengan populasi
sebanyak 164 orang. Dalam hal ini seluruh populasi diambil
datanya
Untuk memperoleh data yang diperlukan, maka penelitian ini
menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah
dengan menggunakan studi kepustakaan dan dari penelitian
lapangan yang diperoleh berdasarkan observasi, wawancara, dan
pembagian kuesioner.
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah
analisis deskriptif kualitatif, dengan menjabarkan hasil penelitian.
Dalam penelitian ini untuk mengukur sikap, persepsi dan partisipasi
seseorang atau sekelompok orang juga digunakan skala likert. Data
yang diperoleh dari hasil penelitian dilapangan kemudian
dikumpulkan serta diolah dan dianalisis dengan menggambarkan,
menjelaskan dan memberikan komentar tentang apa yang
digambarkan dalam diagram batang
TEMUAN 1) Secara akademik, memberikan kontribusi keilmuwan tentang
PENTING respon masyarakat terhadap pelaksanaan Program Keluarga
Harapan
2) Secara praktis, diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam
pengembangan konsep-konsep, teori, dan model pemecahan
masalah kemiskinan bidang Program Keluarga Harapan khususnya
di Kecamatan Medan Selayang.
3) Persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Program Keluarga
Harapan. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang dialami oleh
setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungan baik
lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan
penerimaan.
4) Sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Program Keluarga Harapan
Dan dalam penelitian ini sikap masyarakat terhadap pelaksanaan
Program Keluarga Harapan dengan nilai 0,91 dikatakan positif,
dengan analisis data yang diperoleh yaitu :
- Penilaian masyarakat tentang pelaksanaan Program Keluarga
Harapan dikatakan baik, hal ini dikarenakan masyarakat di
Kecamatan Medan Selayang telah mengetahui dengan baik apa
itu Program Keluarga Harapan
- Masyarakat di Kecamatan Medan Selayang menerima
keberlangsungan Program Keluarga Harapan di Kecamatan
mereka. Masyarakat disini merasa senang dan mendukung
setiap kegiatan yang dilaksanakan dari Program Keluarga
Harapan
- Masyarakat Kecamatan Medan Selayang setuju dengan
pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan mereka
5) Partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan Program Keluarga
Harapan. Partisipasi masyarakat terhadap Program Keluarga
Harapan diukur melalui masyarakat yang menikmati,
melaksanakan, memelihara, menilai, dan kualitas program dari
tersebut.

KONTRIBUSI 1) Aspek teoretis memberikan penjelasan lebih detail mengenai


BAGI PENYU- program keluarga harapan.
SUNAN TESIS 2) Aspek metodologis menyajikan alternatif sumber dan teknik
analisis data penelitian.
3) Temuannya terdapat tiga hal yang mendasar terkait program
keluarga harapan, yaitu: persepsi, sikap, dan partisipasi.
5. IDENTITAS ANALISIS EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM
JURNAL KELUARGA HARAPAN 2011
Agunan P. Samosir. Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Badan Kebijakan Fiskal Jl. Dr. Wahidin No. 1,
Jakarta Pusat. Jurnal Borneo Administrator / Volume 9 / No. 2 /
2013
Sumber: https://scholar.google.co.id/scholar?
lookup=0&q=ANALISIS+EFEKTIVITAS+PELAKSANAAN+PRO
GRAM+KELUARGA+HARAPAN+2011&hl=en&as_sdt=0,5&as_v
is=1

ASPEK TEORI Stella Hutagalung (SPA, 2009),menyatakan bahwa PKH telah


meningkatkan peranan wanita (ibu) sebagai penerima bantuan.
Namun, dalam pelaksanaannya intervensi suami masih tinggi dalam
pengambilan keputusan rumah tangga. PKH cukup bermanfaat dan
perlu ditindaklanjuti dengan memperbaiki kendala-kendala yang
dihadapi dilapang. Kendala tersebut antara lain ketersediaan
fasilitas kesehatan dan pendidikan pada daerah penerima PKH.
Sirojuddin Arif (SMERU, 2010), dalam survei di Jawa
Barat dan NTT menyampaikan bahwa setelah dua tahun
pelaksanaan PKH tidak berpengaruh positif terhadap kesetaraan
gender dan peningkatan peranan wanita (ibu) dalam rumah tangga.
Peranan suami sebagai kepala keluarga masih tinggi terhadap
pendidikan anak, kelahiran bayi dan penggunaan dana yang berasal
dari bantuan program.
ASPEK Data kuantitatif yang digunakan dalam artikel ini adalah data
METODOLOGI primer hasil survei evaluasi ini dilaksanakan di kabupaten-
kabupaten lokasi Program Keluarga Harapan (PKH). PKH telah
dilaksanakan sejak tahun 2007 dan pada awalnya hanya
dilaksanakan di 7 provinsi. Mulai tahun 2008, PKH dilaksanakan di
13 provinsi. Kabupaten-kabupaten ini dikelompokkan menjadi 4
strata, yaitu Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Kalimantan, dan
Sulawesi.
Target sampel dalam survei ini adalah RTSM (rumah tangga
penerima PKH) dan RTM. Unit sampling tahap pertama (primary
sampling unit/PSU) adalah Satuan Lingkungan Setempat (SLS),
dan unit sampling tahap kedua (ultimate sampling unit/USU) adalah
RTSM/RTM yang diperoleh dari BPS, 2011. Kerangka sampel yang
digunakan adalah hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial 2008
(PPLS 2008) dan Daftar Penerima Program Keluarga Harapan (PKH).
Metode Penarikan Sampel : (a) Memilih sejumlah SLS per kabupaten
secara probability proportional to size (PPS), dengan size jumlah
RTSM/RTM hasil PPLS 2008, dari setiap kabupaten, (b) Memilih 10
rumah tangga secara systematic sampling pada SLS terpilih.
Metode penarikan sampel yang digunakan yaitu
penarikan sampel dua tahap (two-stage sampling), yaitu: tahap
pertama, memilih SLS secara probability proportional to size (pps)
TEMUAN 1. Penyaluran dana program keluarga harapan. Sesuai dengan
PENTING persyaratan dan ketentuan dalam Pedoman Umum PKH 2010,
bahwa pengambilan dana PKH diambil oleh pemilik kartu
setelah melalui proses verifikasi. Namun, hasil temuan lapang
menunjukkan bahwa sekitar 10,72 persen dana PKH
diambil oleh orang yang bukan peserta PKH.
2. Kepemilikan kartu JAMKESMAS selain kartu PKH
menunjukkan masih terdapat tidak adanya koordinasi antara
Dinas Sosial dengan Dinas Kesehatan masing-masing
kabupaten/kota. Lemahnya koordinasi paling besar terdapat di
Kota Gorontalo dan Kabupaten Gunung Kidul yaitu lebih dari
91 persen rumahtangga miskin sampel penerima PKH juga
memiliki kartu JAMKESMAS. Dan yang lainnya kepemilikan
kartu lebih dari satu, ratarata lebih dari 50 persen

KONTRIBUSI 1) Aspek teoretis memberikan penjelasan bagaimana teknik


BAGI PENYU- penyaluran program keluarga harapan
SUNAN TESIS 2) Memberikan penekanan bahwa penyaluran yang tepat sasaran
adalah hal yang sangat utama.
3) Aspek metodologis menyajikan alternatif referensi untuk
menganalisis sekaligus menjadi rujukan Program Keluarga
Harapan (PKH)
4) Dari hasil atau temuan penelitian ini diperoleh inspirasi untuk
menyelidiki dan perbaikan Program Keluarga Harapan (PKH)
lebih lanjut.