Anda di halaman 1dari 8

Ujian Tengah Semester Pendidikan Kewarganegaraan

Nama : Maswira Prana Wijaya


NIM : 1571511268

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI


UNIVERSITAS BUDI LUHUR
JAKARTA
2016
Soal.

1. Sebutkan apa yang dimaksud dengan ideologi menurut para ahli. Serta jelaskan
menurut anda identitas apa yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia
untuk menciptakan masyarakat terbaik sesuai dengan nilai-nilai dan filsafah
hidup bangsa yang terkandung di dalam Pancasila?

2. Jelaskan menurut anda apabila sikap individualisme semakin menonjol dan sikap
materialisme juga semakin menguat dalam cara berpikir rakyat Indonesia maka
konsekuensi apa yang harus ditanggung oleh Negara?

3. Jelaskan dan berikan saran kritis menurut pendapat anda paradigma


pembangunan nasional seperti apa yang ideal untuk menjawab tantangan atau
kondisi globalisasi yang semakin menguat serta eksitensi indeologi Pancasila
yang semakin melemah saat ini?

Jawab.

1. Pengertian Ideologi Menurut Definisi Para Ahli, berikut beberapa pengertian


ideologi yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh kenegaraan.

o Alfian :
Menurut definisi Alfian, pengertian ideologi adalah suatu
pandangan atau sistemnilai yang menyeluruh dan mendalam
tentang bagaimana cara yang sebaiknya, yaitusecara moral
dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku bersama
dalam berbagai segi kehidupan.

Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa dari masyarakat


internasional, memiliki sejarah serta prinsip dalam hidupnya yang berbeda
dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tatkala bangsa Indonesia berkembang
menuju fase nasionalisme modern, diletakkanlah prinsip-prinsip dasar filsafat
sebagai suatu asas dalam hidup berbangsa dan bernegara. Para pensiri Negara
menyadari akan pentingnya dasar filsafat ini, kemudian melakukan suatu
penyelidikan yang dilakukan oleh badan yang akan meletakkan dasar filsafat
bangsa dan Negara yaitu BPUPKI. Prinsip-prinsip dasar itu ditemukan olehpara
pendiri bangsatersebut yang diangkat dari filsafat hidup atau pandangan
umumbangsa Indonesia yang kemudian diabstraksikan menjadi suatu prinsip
dasar filsafat Negara yaitu Pancasila. Jadi, dasar filsafat suatu bangsa dan
Negara berakar pada pandangan hidup yang bersumber kepada kepribadiannya
sendiri. Menurut Titus, hal ini merupakan salah satu fungsi filsafat adalah
kedudukannya sebagai suatu pandangan hidup masyarakat.

Dapat pula dikatakan bahwa Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa dan
Negara Indonesia pada hakikatnya bersumber kepada nilai-nilai budaya dan
keagamaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai kepribadian bangsa.
Jadi, filsafat Pancasila itu bukan muncul secara tiba-tiba dan dipaksakan oleh
suatu rezim atau penguasa, melainkan melalui suatu fase historis yang cukup
panjang. Pancasila sebelum dirumuskan secara formal yuridis dalam
Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar filsafat Negara Indonesia, nilai-nilainya
telah ada pada bangsa Indonesia, dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu
pandangan hidup, sehingga materi Pancasila yang berupa nilai-nilai tersebut
tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri. Dalam pengertian seperti ini,
menurut Notonegoro, bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materialis
Pancasila. Nilai-nilai tersebut kemudian diangkat dan dirumuskan secara formal
oleh para pendiri Negara untuk dijadikan sebagai dasar Negara Republik
Indonesia. Proses perumusan materi Pancasila secara formal tersebut dilakukan
dalam sidang-sidang BPUPKI pertama, sidang Panitia 9, sidang BPUPKI
kedua, serta akhirnya disahkan secara formal yuridis sebagai dasar filsafat
Negara Republik Indonesia.

Pencarian identitas nasional bangsa Indonesia pada dasarnya melekat


erat dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk membangun bangsa dan
Negara dengan konsep nama Indonesia. Bangsa dan Negara Indonesia ini
dibangun dari unsur-unsur masyarakat lama dan dibangun menjadi suatu
kesatuan bangsa dan Negara dengan prinsip nasionalisme modern. Oleh karena
itu, pembentukan identitas nasional Indonesiamelekat erat dengan unsur-unsur
lainnya, seperti sosial, ekonomi, budaya, etnis, agama serta geografis, yang
saling berkaitan dan terbentuk melalui suatu proses yang cukup panjang.

2. Pragtisme, Materialisme, Hedonisme adalah dampak-dampak yang disebabkan


oleh globalisasi. Ketiga dampak ini adalah dampak negatif, dampak tersebutlah
yang ada di Negara kita sekarang ini yang dikarenakan terkontaminasi dengan
westernisasi atau budaya yang kebarat baratan. Maka dari itu mari kita
mengenal definisi dari dampak negatif tersebut.

Pragmatisme adalah sebuah konsep yang mementingkan sisi praktis


dibandingkan sisi manfaat, dengan kata lain pragmatisme lebih mementingkan
hasil akhir daripada nilai nilai moral yang dianut masyarakat atau bisa dibilang
bahwa pragmatime menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Contoh:
tawuran pelajar juga merupakan hidup yang pragmatisme karena
mengutamakan kepraktisan dalam mencapai tujuan untuk menyelesaikan
masalah. Dalam contoh ini pun sudah menyimpang jauh dari ideologi kita
Pancasila yang terdapat pada sila ke-4 yang dimana kita harus mengutamakan
budaya bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama.

Materialisme adalah pandangan hidup yang semata mata hanya mencari,


kesenangan, dan kekayaan/kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau
nilai tertinggi. Materialisme juga mengesampingkan nilai nilai rohani, bahkan
materialisme tidak mengakui adanya budaya immaterial atau adanya Tuhan.
Contoh: seseorang dengan pekerjaan, jabatan yang bagus ia percaya hanya
dengan itulah yang bisa menghidupinya. Dalam contoh ini orang tersebut hanya
semata mata mencari dan mementingkan materi tanpa mengingat Tuhan, dia
lupa bahwa pekerjaan, jabatan, rezeki Tuhanlah yang mengatur.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan
dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Pengertian hedonisme
hampir serupa dengan materialisme tetapi hedonisme lebih menuju kepada
penghamburan materi, berpesta pora, menjalani hidup sebebas-bebasnya demi
memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Contoh seorang remaja mempunyai
orang tua yang kaya dan selalu menghambur hamburkan uangnya demi
mendapatkan kepuasan duniawi, dan senang-senang. Dari contoh ini kita bisa
melihat bahwa remaja tersebut dengan instannya mendapatkan apa yang ia
inginkan, akan tetapi ia tidak akan tahu kepuasan yang diperjuangkan dari nol,
dari yang tidak mempunyai apa-apa menjadi ada dan besar.

3. Tidak semua pengaruh globalisasi itu buruk, tetapi semua yang buruk itu abu
abu, dan tersamarkan maka dari itu kita harus berhati-hati dalam memilah-milah
atau menyaring yang baik dan yang buruk.

Pembangunan sangat dipengaruhi oleh para pelaksana pembangunan, yaitu


pemerintah dan warga masyarakat (berupa dukungan kepada kebijakan
pemerintah). Komunikasi juga menentukan berhasil tidaknya pembangunan, baik
komunikasi melalui media massa maupun secara langsung oleh para pemimpin
setempat. Adanya kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat harus
diciptakan agar pembangunan dapat berjalan dengan lancar dan mencapai hasil
yang maksimal.

Saran, untuk menagatasi kegagalan pembangunan yang dialami oleh bangsa


Indonesia diperlukan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan yang telah
ditetapkan, dengan tujuan kedepannya agar lebih baik dan membawa manfaat
bagi masyarakat luas. Kemudian memajukan pendidikan nasional sedini
mungkin agar muncul generasi-generasi muda yang berkualitas baik secara
moral dan pola pikir yang maju.
Kondisi Pancasila di era globalisasi sangatlah terkontaminasi dari adanya
berbagai macam aspek yang membuat Pancasila tersebut menjadi tidak seperti
yang seharusnya. Dilihat dari melencengnya nilai-nilai Pancasila yang selama ini
telah ditanamkan oleh para pendiri bangsa ini, sebagai contoh ialah terjadinya
dis-integrasi bangsa yang telah jelas-jelas melanggar sila ke-3 yaitu persatuan
Indonesia, atau masih banyak yang lainnya.

Dan jika dilihat lagi dari berbagai aspek masalah yang sedang dihadapi bangsa
indonesia, kita seharusnya kembali menerapkan nilai-nilai yang terkandung
dalam pancasila tersebut. karena pancasilalah yang merupakan pondasi bangsa
indonesia untuk menghadapi bebagai masalah khususnya di era global seperti
saat ini, yang membuat rentan sekali nilai-nilai pancasila tersebut memudar
dikarenakan perubahan zaman oleh adanya globalisasi.

Seharusnya Pancasila sanggup menjawab berbagai tantangan di era globalisasi,


karena dari implikasi dari dijadikannya Pancasila sebagai pandangan hidup
maka bangsa yang besar ini haruslah mempunyai sense of belonging dan sense
of pride atas Pancasila. Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan suatu
ideologi tetap eksis. Pertama adalah jumlah penganut atau pengikut. Semakin
banyak pengikut dari suatu ideologi, maka ideologi tersebut akan semakin kuat.
Pancasila merupakan ideologi yang diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia. Secara
konseptual, Pancasila adalah ideologi yang kokoh. Pancasila tidak akan musnah
sepanjang masih ada pengikut yang memperjuangkannya. Kedua adalah
seberapa besar pengikut tersebut mempercayai dan menjadikan ideologi
sebagai bagian dari kehidupannya. Semakin kuat kepercayaan seseorang, maka
semakin kuat posisi ideologi tersebut. Sebaliknya, walaupun banyak pengikut,
tetapi apabila pengikut tersebut sudah tidak menjadikan ideologi sebagai bagian
dari kehidupannya, maka ideologi dikatakan lemah.

Posisi pancasila di era globalisasi sangat rawan terhadap gangguan. Secara


formal, Pancasila tetap diakui oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai ideologi
mereka. Namun di tataran aplikatif, prilaku masyarakat banyak yang mengalami
pergeseran nilai. Secara tidak langsung pergeseran nilai tersebut membuat
masyarakat perlahan-lahan melupakan Pancasila. Salah satu alasan pancasila
masih tetap eksis adalah karena pancasila digali dari nilai-nilai yang ada di
masyarakat seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan
keadilan. Ada atau tidak adanya Pancasila, nilai-nilai tersebut memang sudah
ada di masyarakat sehingga tetap berlaku di masyarakat.

Jika masyarakat melaksanakan nilai dan norma yang berkembang, secara


otomatis masyarakat juga mengamalkan Pancasila. Sebagai contoh ketika umat
islam beribadah. Dasar mereka melakukan ibadah adalah ketaatan terhadap
ajaran agama, bukan karena Pancasila. Namun melaksanakan ibadah secara
tidak langsung mengamalkan sila pertama Pancasila. Demikian pula dengan sila-
sila yang lain, masyarakat pada dasarnya tidak mengamalkan pancasila secara
langsung. Mereka hanya mengikuti tata nilai dan hukum adat masing-masing.
Tetapi karena nilai-nilai itu terangkum dalam Pancasila, maka secara tidak
langsung masyarakat juga menjalankan pancasila.

Dengan demikian eksis dan tidaknya Pancasila di era global sangat tergantung
dari nilai-nilai masyarakat. Jika nilai-nilai tersebut tetap tumbuh dan berkembang,
maka Pancasila juga akan terus eksis. Sebaliknya jika nilai tersebut mengalami
pergeseran, besar kemungkinan Pancasila juga akan mengalami pergeseran.
Jika globalisasi mampu menggeser nilai-nilai di masyarakat dan mengganti
dengan tatanan nilai yang baru, maka besar kemungkinan Eksistensi pancasila
akan runtuh. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman nilai-nilai Pancasila
sebagai dasar, pandangan hidup, dan ideologi sekaligus sebagai benteng diri
dan filterisasi terhadap nilai-nilai yang masuk sebagai dampak dari globalisasi.

DAFTAR PUSKATA

Zubaidi,M.Si,Achmad.2007.Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan


Tinggi.Yogjakarta:Paradigma
Harmoko. Penyuluhan Pembangunan di Indonesia. Jakarta: PT Pustaka Pembangunan
Swadaya Nusantara. 1994.

warsono, Posisi Pancasila Dalam Mapel PKn. Makalah disampaikan dalam seminar
nasional Nation and CharacterBuilding