Anda di halaman 1dari 20

BAB 1.

PENDAHULUAN

Gangguan penglihatan pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan salah


satunya adalah glaukoma. Kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma menduduki
peringkat kedua di dunia setelah katarak (Quigley, et al., 2006).
Glaukoma adalah gangguan penglihatan mata yang ditandai dengan
peningkatan tekanan intraocular, kerusakan pupil saraf optic, dan gangguan
lapangan pandangan yang khas dengan penyebab yang bermacam-macam
(AAO,2011; Stamper, et al., 2009). Penyebab glaukoma dapat menyebabkan
kebutaan adalah melalui kerusakan papil saraf. Deteksi glaukoma harus dilakukan
lebih awal dengan mengenal gejala dan segera dilakukan tatalaksana. Terapi yang
dapat diberikan dapat berupa medikamentosa dan non medikamentosa (operasi).
Tindakan operasi filtrasi untuk glaucoma dilakukan apabila terapi medikamentosa
tidak dapat mempertahankan TIO sehingga terjadi kerusakan saraf optik atau
lapang pandang yang lebi lanjut (Gustianty, et al., 2016). Tindakan yang dapat
dilakukan salah satunya dengan laser dengan iridotomi, iridoplasti, dan
trabekuloplasti (Schacknow, et al., 2010).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Glaukoma


Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan,
yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma.
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik yang ditandai oleh pencekungan

1
(cupping) diskus optikus dan penyempitan lapang pandang dan diikuti
peningkatan tekanan intraokular (Vaughan, 2008). Di Amerika Serikat, glaukoma
ditemukan pada lebih 2 juta orang, yang akan beresiko mengalami kebutaan
(COS, 2008).

2.2. Epidemiologi Glaukoma


Berdasarkan hasil penelitian dr. Virana Dwi O, Sp.M di RSUP Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta pada Agustus 2005- Juli 2006. Didapatkan dari 64 pasien
yang baru terdiangnosis menderita glaucoma sudut terbuka, hanya 35,1% yang
datang dengan glaucoma ringan/sedang, 51,4% dengan kondisi lanjut, dan 13,5
dengan glaucoma absolut atau buta total (Kemenkes RI, 2015).
Akibat dari kebutaan itu akan mempengaruhi kualitas hidup penderita
terutama pada usia produktif, sehingga akan berpengaruh juga terhadap
sumberdaya manusia pada umumnya dan khususnya Indonesia (Dipiro, et al.,
2008).
Menurut data RAAB (Rapid Assessment for Avoidable Blindness) yang
dilakukan di Jawa Barat tahun 2014 menunjukkan bahwa 2,2% kebutaan yang
dialami pada masyarakat berusia di atas 50 tahun diakibatkan oleh glaucoma
(Soyani I, et al., 2014).

2.3 Faktor Resiko


Glaukoma lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun. Beberapa
faktor resiko lainnya untuk terjadi glaukoma, antara lain (Soeroso, 2008):

1. Faktor genetik, riwayat glaukoma dalam keluarga.


2. Penyakit hipertensi
3. Penyakit diabetes dan penyakit sistemik lainnya.
4. Kelainan refraksi berupa miopi dan hipermetropi
5. Ras tertentu

2.4 Patofisiologi Glaukoma

2
Cairan aqueus diproduksi dari korpus siliaris, kemudian mengalir
melalui pupil ke kamera okuli posterior (COP) sekitar lensa menuju kamera
okuli anterior (COA) melalui pupil. Cairan aqueus keluar dari COA melalui
jalinan trabekula menuju kanal Schlemms dan disalurkan ke dalam sistem
vena (Faradilla N, 2009).

Gambar 2.1 Aliran normal humor aqueus (Faradilla N, 2009).

Beberapa mekanisme peningkatan tekanan intraokuler (Kanski JJ, 2005).


a. Korpus siliaris memproduksi terlalu banyak cairan bilik mata, sedangkan
pengeluaran pada jalinan trabekular normal
b. Hambatan pengaliran pada pupil sewaktu pengaliran cairan bilik mata
belakang ke bilik mata depan
c. Pengeluaran di sudut bilik mata terganggu.

Mekanisme utama kehilangan penglihatan pada glaukoma adalah


apoptosis sel ganglion retina. Optik disk menjadi atropi, dengan pembesaran
cup optik. Efek dari peningkatan tekanan intraokuler dipengaruhi oleh waktu
dan besarnya peningkatan tekanan tersebut. Pada glaukoma akut sudut
tertutup, Tekanan Intra Okuler (TIO) mencapai 60-80 mmHg, mengakibatkan
iskemik iris, dan timbulnya edem kornea serta kerusakan saraf optik. Pada
glaukoma primer sudut terbuka, TIO biasanya tidak mencapai di atas 30
mmHg dan kerusakan sel ganglion retina berlangsung perlahan, biasanya
dalam beberapa tahun (Vaughan D, et al., 2000).

3
2.5 Klasifikasi Glaukoma
Klasifikasi Vaughen untuk glaukoma adalah sebagai berikut: (Ilyas, et
al.,2014)
1) Glaukoma Primer
a) Glaukoma sudut terbuka

Glaukoma sudut terbuka ditandai dengan sudut bilik mata


depan yang terbuka, dan kemampuan jalinan trabekula untuk
mengalirkan cairan aqueus menurun (Song J, 2009 dalam Faradilla N,
2009).

b) Glaukoma sudut sempit/tertutup

Glaukoma sudut tertutup ditandai dengan tertutupnya


trabekulum oleh iris perifer, sehingga aliran cairan melalui pupil
tertutup dan terperangkap di belakang iris dan mengakibatkan iris
mencembung ke depan. Hal ini menambah terganggunya aliran cairan
menuju trabekulum (Song J, 2009 dalam Faradilla N, 2009).

Gambar 2.2 (A) Aliran humor aqueus pada glaukoma sudut


terbuka, (B) Aliran humor aqueus pada glaukoma sudut tertutup (Song
J, 2009 dalam Faradilla N, 2009).
2) Glaukoma Sekunder
a) Perubahan lensa
b) Kelainan uvea
c) Trauma
d) Bedah
e) Rubeosis

4
f) Steroid dan lainnya
3) Glaukoma kongenital
a) Primer atau infantil
b) Menyertai kelainan kongenital lainnya
4) Glaukoma absolut

2.6 Penatalaksanaan Glaukoma

Tujuan utama pengobatan glaukoma adalah untuk menurunkan tekanan


intraokuler sehingga dapat mencegah terjadinya penurunan lapangan pandang dan
ketajaman penglihatan. Penatalaksanaan glaukoma terdiri dari tiga macam, yaitu
medikamentosa, pembedahan dan laser.

2.6.1 Medikamentosa

1. Supresi pembentukan aqueous humor, antara lain: (Vaughan, 2008 dan


Khaw T, et al., 2005).
a. adrenegik bloker topikal: timolol maleate 0,25 dan 0,50 %,
betaxolol 0.25% dan 0.5%, levobunolol 0.25% dan 0.5%,
metipranolol 0.3%, dan carteolol 1%
b. apraklonidin, brimonidine, dorzolamide hydrochloride
c. inhibitor karbonik anhidrase seperti asetazolamid (diamox) oral
250 mg 2 kali sehari, diklorofenamid, metazolamid
2. Meningkatkan aliran keluar humor aqueus seperti: prostaglandin analog,
golongan parasimpatomimetik (seperti pilokarpin 1-4%), golongan
epinefrin.
3. Penurunan volume korpus vitreus (ex: glycerin).
4. Obat-obat miotik, midriatikum, siklopegik.

2.6.2 Non medikamentosa


Terapi non medikamentosa dibagi menjadi pembedahan dan laser.
Tujuan operasi filtrasi adalah untuk membentuk jalur baru (fistula) yang
membuka jalan bagi cairan akuous untuk keluar dari bilik mata depan
melalui jalur baru di sklera menuju daerah subkonjungtiva dan subtenon.
Jadi pembedahan ditujukan untuk memperlancar aliran keluar aquous humor
di dalam sistem drainase atau sistem filtrasi sehingga prosedur ini disebut
teknik filtrasi. Pembedahan dapat menurunkan tekanan intraokuler jika
dengan medikamentosa tidak berhasil. Walaupun telah dilakukan tindakan

5
pembedahan, penglihatan yang sudah hilang tidak dapat kembali normal,
terapi medikamentosa juga tetap dibutuhkan, namun jumlah dan dosisnya
menjadi lebih sedikit (OAA, 2014).
Komplikasi setelah tindakan operasi masih dapat muncul, termasuk
diantaranya kehilangan endotel kornea dan bilik mata depan yang dangkal.
Pendangkalan bilik mata depan yang menetap akan menyebabkan
dekompensasi kornea, progresifitas katarak, pembentukan sinekia perifer
anterior, dan kegagalan bleb (Hosoda S dkk,2013).

1. Trabekulektomi

Gambar 2.3 Trabekulektomi (Schacknow, et al., 2010).

Merupakan teknik yang paling sering digunakan. Pada teknik ini,


bagian kecil trabekula yang terganggu diangkat kemudian dibentuk bleb
dari konjungtiva sehingga terbentuk jalur drainase yang baru. Lubang ini
akan meningkatkan aliran keluar cairan aquos sehingga dapat menurunkan
tekanan intraokuler (Schacknow, et al., 2010).
a. Indikasi
pasien dengan tatalaksana medikamentosa tidak dapat membaik
maka dilakukan pembedahan. Progresi kerusakan lapang pandang
salah satu indikasi klinis yang jauh lebih umum digunakan untuk
pembedahan (Ilyas, et al.,2014).
b. Kontraindikasi

6
kontraindikasi relative untuk operasi filtrasi glaukoma dapat
berupa okular atau sistemik. Pada pasien glaukoma yang telah
mengalami kebutaan tidak dianjurkan melakukan pembedahan untuk
mengontrol nyeri. Resiko pembedahan berupa opthalmia simpatika
harus dipikirkan. Kondisi yang memiliki kecenderungan memiliki
kegagalan trabekulektomi seperti neovaskularisasi segmen anterior
aktif atau iritis aktif merupakan kontraindikasi relative (Berisha F,et
al.,2005). Masalah yang mendasarinya harus diselesaikan terlebih
dahulu. Operasi filtrasi kurang berhasil jika dilakukan pada pasien
afakia atau pseudofakia yang lebih muda. Angka keberhasilan yang
lebih rendah juga ditemukan pada pasien dengan glaukoma uveitis atau
dengan prosedur filtrasi sebelumnya yang gagal (Ilyas, et al.,2014).
c. Evaluasi preoperative
pasien harus stabil secara medis untuk dilakukannya prosedur
okular invasif dibawah local anestesi.
1) kontrol inflamasi preoperative dengan kortikosteroid membantu
menurunkan iritis postoperative dan pembentukan jaringan parut
pada bleb filtrasi.
2) Pemberian antikolinesterase harus dihentikan jika mungkin dan
digantikan sementara dengan obat alternative sekurang-kurangnya
2-3 minggu sebelum operasi dilakukan untuk mengurangi
perdarahan dan iridosiklitis.
3) menurunkan TIO harus untuk meminimalkan resiko terjadinya
perdaraha koroid ekspulsif.
4) Obat antiplatelet harus dihentikan dan hipertensi sistemik harus
dikontrol (Ilyas, et al.,2014).
d. Resiko post operasi
penglihatan dapat hilang yang diakibatkan oleh edema makula,
peningkatan TIO pada awal postoperasi, iskemia nervus optikus dan
penyimpangan lamina. Ketika terjadi proses penyembuhan maka
lubang drainase akan menutup kembali sehingga dapat rekuren (Ilyas,
et al.,2014).

2. Iridektomi perifer

7
Gambar 2.4 Iridektomi perifer (Ilyas, et al.,2014).

Pada tindakan ini dibuat celah kecil pada kornea bagian perifer
dengan insisi di daerah limbus. Pada tempat insisi ini, iris dipegang
dengan pinset dan ditarik keluar. Iris yang keluar digunting sehingga akan
didapatkan celah untuk mengalirnya cairan aquos secara langsung tanpa
harus melalui pupil dari bilik mata belakang ke bilik mata depan. Teknik
ini biasanya dilakukan pada glaukoma sudut tertutup, sangat efektif dan
aman, namun waktu pulihnya lama (Ilyas, et al.,2014).

3. Sklerotomi dari Scheie

Pada Operasi Scheie diharapkan terjadi pengaliran cairan aquos di


bilik mata depan langsung ke bawah konjungtiva. Pada operasi ini
dilakukan pembuatan flep konjungtiva di limbus atas (arah jam 12) dan
dibuat insisi korneoskleral ke dalam bilik mata depan. Untuk
mempertahankan insisi ini tetap terbuka, dilakukan kauterisasi di tepi luka
insisi. Kemudian flep konjungtiva ini ditutup. Dengan operasi ini
diharapkan terjadinya filtrasi cairan aquos melalui luka korneoskleral ke
subkonjungtiva (Ilyas, et al.,2014).

4. Cryotherapy surgery

8
Pada glaukoma absolut badan siliar berfungsi normal memproduksi
cairan akuos, tapi arus keluar terhambat untuk satu alasan atau yang lain.
Sehingga tekanan intraokular yang tinggi menyebabkan rasa sakit kepada
pasien dan menyebabkan mata buta yang menyakitkan.

Karena itu, dilakukan dengan cara menghancurkan badan siliar


dengan cyclocryotherapy mengarah pada mengurangi pembentukan cairan
akuos, menurunkan tekanan intraokular dan memperbaiki rasa sakit..

Caranya terlebih dahulu menginjeksikan obat anestesi dibawah


permukaan retrobulbar dan injeksi 2% Xylocain, melingkar dan
mencembung dari retina (cryo-probe) dengan diameter 4 mm, dilakukan
langsung pada permukaan konjungtiva utuh, pusat ujung menjadi 4 mm dari
limbus, selama 1 menit pada suhu sekitar-60 sampai -65 , secara langsung
di atas tubuh ciliary. Dalam semua kasus, probe diaplikasikan sedemikian
rupa sehingga margin es-kawah menyentuh satu sama lain pada setiap
aplikasi, dan aplikasi yang diberikan di sekeliling limbus, kecuali dalam dua
belas pertama matanya di mana ia diterapkan di bagian atas saja.

Setelah cryosurgery mata yang empuk selama 24 jam, dengan


menggunakan salep mata chloromphenical yang kemudian dilanjutkan 4
kali sehari. Tidak ada obat anti-inflamasi digunakan baik secara lokal atau
sistemik. Hanya analgesik diberikan.

Pasca-operasi tekanan intraokular diperiksa setelah 24 jam, pada hari


ke 7, hari ke 14, 6 minggu dan 3 bulan setelah operasi. Keunggulan
melakukan cyclocryotherapy karena memiliki keunggulan cyclodiathermy
suhu subfreezing kurang merusak struktur lain mata, dapat dengan aman
diulang beberapa kali, dapat dilakukan sebagai prosedur rawat jalan (Ilyas,
et al.,2014).

5. Laser Iridektomi

Teknik ini biasa digunakan sebagai terapi pencegahan yang aman dan
efektif untuk glaukoma sudut tertutup. Pada kasus ini terkadang dengan

9
obat- obatan tekanan intraokuler tidak dapat diturunkan, sehingga tindakan
iridektomi perifer sebagai terapi definitif sulit dilakukan akibat epitel
kornea yang udema. Pada keadaan tersebut, salah satu alternatif menurunkan
tekanan intraokuler adalah dengan melakukan iridoplasti (peripheral
iridoplasy, gonioplasty) sebelum iridektomi laser dapat dilakukan (Edi S, et
al., 2006).

Serangan akut pada glaukoma primer sudut tertutup harus segera


diatasi agar kerusakan trabekulum, saraf optik, dan lensa dapat
diminimalkan serta pembentukan sinekhia posterior dan sinekhia perifer
anterior (PAS) dapat dicegah. Jika tekanan intraokuler sudah dapat
diturunkan, maka iridektomi perifer sebagai terapi definitif harus segera
dikerjakan untuk mencegah terjadinya serangan akut yang berulang (Edi S,
et al., 2006).

Laser iridektomi dilakukan dengan membuat celah kecil di iris perifer


dan mengangkat sebagian iris yang menyebabkan sempitnya sudut bilik
mata depan. Beberapa keadaan yang tidak memungkinkan dilakukannya
laser iridektomy, diantaranya kekeruhan kornea, sudut bilik mata depan
yang sangat sempit dengan jaringan iris yang sangat dekat dengan endotel
kornea, penderita yang pernah menjalani operasi ini sebelumnya namun
gagal dan pada penderita yang tidak bisa diajak bekerja sama (Ilyas, et
al.,2014).

Gambar 2.5 Laser iridektomi (Ilyas, et al.,2014).

a. Indikasi untuk iridektomi meliputi:

10
1) Adanya blok pupil dan kebutuhan untuk menentukan adanya blok
pupil.
2) Mencegah adanya blok pupil pada orang yang beresiko tinggi untuk
terkena glaucoma yang ditentukan dengan pemeriksaan gonioskopik
atau karena adanya serangan sudut tertutup pada mata yang lain.
3) Iridektomi laser juga dilakukan pada serangan glaukoma akut dan
pada mata kontra-lateral dengan potensial glaucoma akut (Amra,
2007).
b. Kontra Indikasi
1) Mata dengan rubeosis iridis aktif karena dapat berdarah setelah
dilakukan iridektomi laser
2) Resiko perdarahan juga meningkat pada pasien yang mengkonsumsi
antikoagulasi sistemik, termasuk aspirin
3) Argon laser lebih diutamakan pemakaiannya dari pada Nd:YAG laser
pada individu yang membutuhkan terapi laser iridektomi. Walaupun
laser iridektomi tidak membantu dalam kasus glaukoma sudut
tertutup yang bukan disebabkan oleh mekanisme blok pupil, tetapi
kadang-kadang laser iridektomiperlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya blok-pupil pada pasien dengan sudut bilik mata sempit.
4) Iridektomi tidak bermanfaat untuk penutupan sudut yang tidak
disebabkan oleh mekanisme blok pupil, kadang-kadang iridektomi
laser diperlukan untuk memastikan bahwa tidak terjadi blok pupil
(indikasi diagnostic) (Arma, 2007).
c. Pertimbangan sebelum operasi
Pada glaukoma sudut tertutup akut, sering mengalami kesulitan
saat melakukan iridektomi laser karena kornea keruh, sudut bilik mata
depan dangkal, pembengkakan iris. Dokter harus berusaha untuk
menghentikan serangan akut dengan tindakan medis sebelum melakukan
operasi. Sebelum dilakukan laser harus diberikan terapi inisial gliserin
topikal untuk memperbaiki edema kornea, agar mudah untuk
mempenetrasi kripta iris. Hati-hati pada saat melakukan iridektomi perifer
dan jangan terhalang oleh palpebra. Terapi-awal dengan pilokarpin dapat
membantu melebarkan dan menipiskan iris. Terapi-awal dengan
aproklonidin dapat membantu menurunkan tekanan intraocular (Arma,
2007).
d. Teknik-teknik Laser Iridektomi

11
1) Iridektomi laser Argon
Laser argon dapat dipergunakan untuk melakukan iridektomi pada
sebagian besar mata. Namun, iris yang sangat gelap atau sangat terang
menimbulkan kesalahan teknis. Dengan menggunakan lensa kontak yang
dipadatkan, pengaturan lser awal yang khas adalah berdurasi 0.02-0.1
detik. Ukuran bintik 50 m. dan kekuatan 800-1000 mW. Terdapat
berbagai variasi teknik dan warna iris menentukan teknik yang dipakai.
Komplikasi meliputi opasitas lensa terlokalisir, peningkatan TIO yang akut
(yang dapat merusak nervus optikus), iritis sementara atau menetap,
penutupan awal dari iridektomi dan terbakarnya kornea dan retina.
2) Laser Nd: YAG Q-switched

Laser ini umumnya membutuhkan pulsasi yang lebih kecil dan


energy yang lebih sedikit dibandeng laser argon untuk membuat iridektomi
menetap dan merupakan teknik yang disukai pada sebagian besar mata.
Efektivitas laser ini tidak mempengaruhi laser iris. Dengan lensa kontak
yang dipadatkan, pengaturan laser awal yang khas adalah 2-8 mJ.
Pada umumnya komplikasi yang terjadi pada laser iridektomi
meliputi kerusakan lokal pada lensa dan kornea, ablasio retina,
pendarahan, gangguan visus dan tekanan intra okular meningkat.
Kerusakan lensa dihindari dengan cara menghentikan prosedur dan segera
penetrasi iris untuk iridektomi lebih ke superior iris perifer

6. Laser Peripheral Iridotomy (LPI)

Dilakukan pada glaukoma sudut tertutup. Pada teknik ini dibuat lubang
kecil di iris perifer sehingga iris terdorong ke belakang lalu sudut bilik mata
depan akan terbuka.

12
Gambar 2.6 Laser Peripheral Iridotomy

Sumber : http://www.medrounds.org/glaucoma-guide/2006/12/section-9-d-
treatment-of-acute-angle.html

7. Laser Trabeculoplasty

Dilakukan pada glaukoma sudut terbuka. Sinar laser (biasanya


argon) ditembakkan ke anyaman trabekula sehingga sebagian anyaman
mengkerut. Kerutan ini dapat mempermudah aliran keluar cairan aquos.
Pada beberapa kasus, terapi medikamentosa tetap diperlukan. Tingkat
keberhasilan dengan Argon laser trabeculoplasty mencapai 75%. Karena
adanya proses penyembuhan luka maka kerutan ini hanya akan bertahan
selama 2 tahun.

Gambar 2.7 Laser Trabeculoplasty


Sumber: http://www.palopticlub.com/vb/showthread.php?t=2911

13
8. Neodymium: YAG laser cyclophotocoagulation (YAG CP)

Teknik ini digunakan pada glaukoma sudut tertutup. Caranya


dengan merusak sebagian corpus siliar sehingga produksi cairan aquos
berkurang.

Gambar 2.8 YAG CP


Sumber:http://biomed.brown.edu/Courses/2006108websites/group02glaucom
a.html

9. Pintasan Pipa Glaukoma


Beberapa tipe alat telah dicptakan untuk membantu filtrasi dengan
memintas aquous ke tempat di sebelah posterior limbus. Alat pintasan
atau drainase umumnya ditempatkan pada bilik anterior atau melewati pars
plana yang mengalir ke penampungan ekstraokular yang ditempatkan di
ekuator sclera.
1) Indikasi:
Keadaan klinis yang dapat dipertimbangakan untuk melakukan
pintasan pipa glaucoma adalah:
a. Kegagalan trabekulektomi
b. Kegagalan trabekulektomi dengan antifibrotik
c. Uveitis akut
d. Glaucoma neovaskuler
e. Konjungtiva yang tidak adekuat
f. Kebutuhan yang mengancam untuk dilakukannya keratoplasti
penetrasi (PK)
g. Kandidat pasien yang buruk untuk dilakukan trabekulektomi
h. Pontensial untuk memperbaiki tajam penglihatan

14
i. Kebutuhan TIO yang lebih rendah
2) Kontraindikasi
Operasi ini merupakan kontraindikasi relative pada mata dengan
potensi penglihatan yang sangat buruk atau pada pasien yang tidak dapat
menuruti petunjuk perawatan pribadi pada periode post operasi. . fungsi
endotel kornea yang terbatas merupakann kontraindikasi relative
dilakukannya penempatan pipa pada bilik anterior.
10. Ablasi Badan Siliar
Beberapa prosedur pembedahan menurunkan sekresi aquouos
dengan merusak sebagian badan siliar dapat terapi menggunakan
siklokryoterapi, diatermi iltrasound terapetik dan laser terminal seperti
laser Nd:YAG gelombang berlanjut (continous wave), argon dan diode.
Indikasi ablasio siliar diindikasikan untuk menurunkan TIO pada mata
dengan potensi penglihatan yang buruk atau calon buruk untuk
dilakukannya operasi insisional. Operasi pada mata buta harus
dihindari. Jika memungkinkan karena resiko kecil
terjadinya oftamia simpatika. Intervensi seperti injeksi alcohol
retrobulbar atau enukleasi dapat dipertimbangkan untuk
mata buta yang sangat nyeri. Ablasio badan siliar umumnya
dicadangkan untuk mata yang tidak responsive atau sangat
mungkin tidak responsive atau sangat mungkin tidak responsive
terhadap terapi jenis lain.
Kontraindikasi Ablasio siliar relative di kontraindikasikan untuk mata dengan
penglihatan baik karena terdapat resiko kehilangan penglihatan.

11. Siklodialisis

Siklodialisis merupakan prosedur membuat hubungan antara bilik


anterior dan ruang suprakoroid. Hal ini dapat terjadi secara traumatic dan
secara bedah.
Indikasi siklodialisis jarang dilakukan namun mungkin bermanfaat pada pasien
afakia yang tidak berespon terhadap operasi filtrasi.
Teknik insisi sclera kecil dibuat kira-kira 4 mm dari limbus dan spatula halus
dilewatkan di bawah sclera menuju bilik anterior. Spatual ini

15
menyelipkan bagian muskulus siliaris dari skleral pur dan membuat
celah pada sudut , menyediakan hubungan langsung antara bilik
anterior dan ruang suprakoroid.

2.7 Prognosis

Prognosa baik apabila glaukoma akut cepat terdeteksi dan mendapat


terapi yang sesegera mungkin. Sering diagnosa dibuat pada stadium lanjut,
dimana lapangan pandang telah hilang secara progresif, iris menjadi atrofi dan
midriasis pupil telah menetap. Penanganan episode akut yang terlambat akan
menyebabkan sinekia sudut tertutup permanen dan bahkan menyebabkan
kebutaan permanen dalam 2-3 hari.

16
BAB 3. PENUTUP

Glaukoma adalah salah satu gangguan mata yang dapat menyebabkan


kebutaan. Tatalaksana glaukoma bukan hanya dengan medikamentosa melainkan
pula dengan non medikamentosa berupa pembedahan dan laser. Dengan
mengenali gejala dari glaukoma maka pasien akan segera memeriksakan diri pada
petugas medis untuk mengurangi resiko kebutaan yang dapat diderita oleh pasien
glaukoma. Terapi non medikamentosa tersebut memiliki berbagai macam metode
dengan resiko masing-masing. Jika penglihatan telah menurun maka tindakan
pembedahan tidak dapat mengembalikan penglihatan kembali seperti semula.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Quigley, H. A. Dan A. T. Broman. 2006. The number of people with


glaucoma worldwide in 2010 and 2020. J Opthalmol: USA.
2. Gustianty E, Prahasta A, Rifada RM. 2016. Keberhasilan Operasi pada
Trabekulektomi dengan dan tanpa Hidroksipropil Metil Selulosa 2%. FK
Universitas Padjajaran : Bandung.
3. Schacknow, P. N. dan J. R. Samples. 2010. The Glaucoma Book. A
Practical, Evidence-Based Approach to Patient Care. Springer:
Philadelphia.
4. Vaughan DG, Eva RP, Asbury T. 2008. Oftalmologi Umum. Edisi 17.
Widya Medika: Jakarta.
5. Canadian Ophthalmological Society (COS). 2008. Glaucoma. CNIB:
Ottawa.
6. Sovani I, Syumarti, Ratnaningsih N, Rini M, Halim A . 2014. Rapid
Assessment of Avoidable Blindness (RAAB): Survey Kebutaan dan
Gangguan Penglihatan di Jawa Barat Tahun 2014. Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat : Bandung.
7. Dipiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, and L.
M. Posey. 2008. Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach, 7th
Edition, 1551-1564. McGraw Hill: New York.
8. Ilyas, Shidarta dan Sri R. Y. 2014. Ilmu Penyakit Mata. Ed 5. Cetakan ke
1. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.
9. Vegan. 2010. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Glaukoma. [Online]
Tersedia dari http://drvegan.wordpress.com/2010/07/31/diagnosis-dan-
pemeriksaan-penunjang-glaukoma/ Accesed 05 Mei 2017.
10. American academy of ophthalmology. 2014. Surgical therapy for
glaucoma. San Frasisco. hal. 179-212.
11. Hosoda S, Yuki K, Ono T, Tsubota K. 2013. Ophthalmic viscoelastic device
injection for the treatment of flat anterior chamber after trabeculectomy.
Clinical ophthalmology.

18
12. Arma. 2007. Penatalaksaan Glaukoma. USU : Medan.

13. Faradilla N. 2009. Glaukoma dan Katarak Senilis. FK Univ. Riau:


Pekanbaru.
14. Song J. Glaucoma: The Silent Killer of Eyesight.
http://www.residentandstaff.com [diakses 4 mei 2017].

15. Vaughan D, Riordan-Eva P. 2000 Glaukoma. Dalam: Oftalmologi


Umum Ed 14. Alih Bahasa: Tambajong J, Pendit BU. General
th
Ophthalmology 14 Ed. Widya Medika : Jakarta.

16. Khaw T, Shah P, Elkington AR. 2005. ABC of Eyes. 4th Edition. BMJ
Publishing Group : London.

17. Edi S, Affandi, Pudjiastuti I. 2006. Terapi Glaukoma Primer Sudut


Tertutup Akut dengan Iridoplasti dan Iridotomi Laser. FK UI: Jakarta.
18. Kansky. JJ. 2005. Acute Congestive Angle Closure Glaucoma in Clinical
Ophthalmology A Systemic Approach, Sixth Edition, Butterworth-
Heinemann Elsevier. Page 391-397.
19. Kementrian Kesehatan RI. 2015. Situasi dan Analisis Glaukoma. Jakarta
Selatan.
20. laser cyclophotocoagulation (online) tersedia pada
http://biomed.brown.edu/Courses/2006108websites/group02glaucoma.htm
l (diakses tanggal 4 Mei 2017).

21. Laser Trabeculoplasty (online) tersedia pada


http://www.palopticlub.com/vb/showthread.php?t=2911 (diakses tanggal 4
Mei 2017).
22. Berisha, F., Schmetterer, K., Vass, C., Dallinger, S., Rainer, G., Findl, O.,
Kiss, B., and Schmetterer, L. 2005. Effect of Trabeculectomy on Ocular
Blood Flow. Br J Ophthalmol;89: p.185188.
23. Soeroso A. 2008. Patogenesis Glaukoma Sudut Terbuka Dan
Pencegahannya. Unisemar: Surakarta.
24. AAO (American Academy of Ophthalmology). 2011. Glaucoma.
American Academy of Ophthalmology Basic and clinical science course.
American Academy of Ophthalmology: San Fransisco. p. 3-16.
25. Stamper, R. L., Lieberman, M. F., and Drake, M. V. 2009. Becker-Shaffers
Diagnosis and Therapy of The Glaucomas 8th edition. San Fransisco:
Mosby Elsevier. p.1-7, 462-542.

19
20