Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

PROGNOSIS DALAM BIDANG PROSTODONSIA

Disusun Oleh:

Rhanifda Amvitasari 111611101009


Arum Risalah 121611101060
Annaasa Nur H. 121611101065
Astina Widyastuti 121611101069
Laura Willy W. 121611101080
Varina Zata N. 121611101089
Zulfa Fithri 121611101097
Yoan Ayung S. 131611101023
Vita Lukita 131611101024
Roni Handika 131611101068

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017

PROGNOSIS DALAM BIDANG PROSTODONSIA


PENDAHULUAN: Kata prognosis dikenalkan oleh Greek pada abad ke-17 yang
memiliki arti prediksi dari berbagai macam kemungkinan perkembangan dari pasien
didasarkan pada tanda dan gejala dari pasien. Pada saat ini kita sering dihadapkan
pada prognosticators atau faktor prognosis yang memiliki efek negatif seperti
malnutrisi, lanjut usia, dan keparahan penyakit yang bisa meningkatkan resiko
kematian pada pasien selama dilakukan perawatan.
Pada saat ini faktor prognosis digunakan untuk menjelaskan karakteristik dari
faktor intrinsik dan ekstrinsik yang dapat dihubungkan dengan hasil dari suatu
kondisi pada pasien. Perbedaannya dengan faktor resiko yaitu faktor resiko
menjelaskan karakteristik yang berhubungan dengan awal perkembangan dari suatu
kondisi atau penyakit. Baik faktor resiko maupun faktor prognosis memiliki kaitan
hubungan sebab-akibat yang dapat mnjelaskan kondisi pasien strong/significant
atau weak/unimportant.

A. Prognosis pada penggunaan gigi tiruan lengkap

1. Good Prognosis
Pasien dengan Klas I hubungan ridge antero-posterior, ukuran dan fungsi
lidah yang pas (tidak terlalu pendek), kualitas dan kuantitas saliva yang
normal, memiliki edentulous ridges yang berbentuk square atau oval, pernah
berhasil menggunakan gigi tiruan lengkap sebelumnya, dan merupakan tipe
pasien yang filosofis. Tipe pasien yang filosofis ini merupakan pasien yang
kooperatif, percaya pada dokter gigi dan menerima semua anjuran dan
rencana perawatan yang diberikan, percaya pada dokter gigi untuk
menentukan rencana perawatan.

2. Poor prognosis
Pasien dengan Klas II hubungan ridge antero-posterior , lidah yang pendek,
bilateral undercut pada posterior maksila yang membutuhkan bedah prostetik,
saliva yang kental, dan tipe pasien acuh tak acuh yang tak peduli dengan
penampilan dan kesehatannya serta biasanya mau menjalani perawatan karena
desakan orang-orang sekitar.

B. Prognosis pada penggunaan gigi tiruan mahkota, gigi tiruan jembatan, dan
gigi tiruan sebagian lepasan

Kelas A

Kondisi gigi yang termasuk dalam Klas A ini memiliki prognosa yang baik.
Kondisi gigi pada Klas ini memiliki resiko kehilangan gigi yang minimal.

1. Kesehatan Periodontal dan Dukungan Tulang Alveolar


Dukungan tulang alveolar sebanyak 80 100%. Kesehatan jaringan
periodontal (oral hygine) baik.
2. Sisa Struktur Jaringan Gigi Pendukung
Dukungan struktur gigi sebanyak 80 100%. Apabila terdapat karies dapat di
restorasi dengan mudah.
3. Kondisi Endodontik
Gigi yang dapat menerima perawatan endodontik primer secara langsung atau
sebelumnya sudah menjalani perawatan endodontik dengan hasil evaluasi
perawatan yang baik.
4. Bidang oklusal dan Posisi Gigi
Gigi yang memiliki bidang oklusal dan/atau posisi yang benar

Kelas B

Gigi dalam kategori ini tidak ikut masuk dalam kategori A tetapi memiliki
prognosis yang cukup baik seperti hasil perawatan yang keluar dianggap dapat
diprediksikan. Seperti contoh pada gigi yang memiliki resiko rendah untuk hilang
pada masa akan datang.

1. Kesehatan jaringan periodontal dan dukungan tulang alveolar


Sekitar 50%-80% dukungan tulang, dimana dapat dirawat dengan baik dengan
dukungan jaringan periodontal yang keras dan pemeliharaan perawatan.
Kerusakan vertikal atau furkasi yang dapat dirawat secara periodontal menjadi
lebih mudah untuk dibersihkan atau perawatan yang diprediksi dengan
perawatan regeneratif. Molar memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan
dengan gigi yang memiliki akar tunggal.
2. Struktur gigi yang tersisa
Sekitar 50%-80% struktur mahkota gigi bagian dalam yang masih tersisa.
Hasil prosedur restoratif yang terlibat bukan dalam pelanggaran atau
kesepakatan dari lebar aspek biologis, ferrule adekuat, atau mahkota yang
bagus-rasio akar dan akan secara minimal berefek pada struktur yang
berdekatan.

3. Kondisi endodontik
Sebuah perawatan endodontik yang gagal dengan penyebab kegagalan yang
terlihat dengan jelas dan dapat diprediksi untuk dilakukan perawatan kembali,
atau sebuah gigi yang membutuhkan perawatan endodontik primer yang sulit.
4. Bidang oklusal dan posisi gigi
Sebuah gigi yang keluar dari bidang oklusal dan dapat diatur sehingga dapat
berfungsi dengan bidang oklusal. Seperti gigi yang mungkin membutuhkan
perawatan tambahan untuk menutup dentin yang terbuka.

Kelas C

Sebuah gigi dalam kategori ini adalah salah satu yang memiliki satu atau lebih
masalah dan dapat diobati dan dipelihara, namun prognosis yang masih
dipertanyakan. gigi seperti memiliki risiko media yang hilang.

1. Kesehatan periodontal dan dukungan tulang alveolar


Sekitar 30% sampai 50% dukungan tulang yang tersisa. Tidak ada gejala akut
yang sedang berlangsung, tetapi paisen sulit untuk menjaga kebersihan. Terapi
periodontal dan program pemeliharaan menyeluruh akan memungkinkan gigi
untuk dipertahankan dalam jangka waktu tertentu
2. Struktur gigi yang tersisa
Sisa struktur gigi 30% sampai 50% sehingga akan menghasilkan rasio
mahkota-akar yang terbatas, dan dapat mempengaruhi struktur yang
berdekatan.
3. Kondisi endodontic
Terjadi gejala akut maupun kronis dari gagalnya perawatan endodontik
4. Garis oklusal dan posisi gigi
Gigi yang keluar dari bidang oklusal dan membutuhkan beberapa prosedur
untuk berfungsi dalam oklusal.

Kelas D

Kategori ini adalah untuk gigi yang memiliki risiko tinggi untuk hilang. Ini
termasuk gigi geligi yang tidak memiliki kondisi patologis yang aktif dan tidak
membutuhkan ekstraksi langsung, tapi mungkin tidak menjadi keinginan terbaik
pasien untuk mempertahankan gigi tersebut. Karena tidak ada indikasi yang jelas
untuk ekstraksi, faktor eksternal yang mempengaruhi keseluruhan kasus dan faktor
pasien akan memainkan peran utama dalam menentukan bagaimana pendekatan gigi
tersebut..

1. Kesehatan periodontal dan dukungan alveolar


Gigi dengan dukungan tulang <30%, dan atau salah satu yang tidak dapat
dibersihkan atau dipertahankan dengan baik dan memiliki tanda dari penyakit
peridontal yang aktif
2. Struktur gigi yang tersisa
Sebuah gigi dengan strukur <30%, atau satu di mana tingkat struktur gigi
yang hilang tidak memungkinkan menjadi penguatan yang baik tanpa benar-
benar mengorbankan dukungan dari struktur gigi yang berdekatan atau rasio
mahkota-akar.
3. Kondisi endodontik
Sebuah gigi dengan kegagalan perawatan endodontik yang tidak dapat
dipastikan untuk dirawat kembali
4. Bidang oklusal dan posisi gigi
Gigi yang mengalami ekstrusi parah atau sangat miring setelah perawatan
yang ekstensif akan menunjukkan pengurangan dari rasio mahkota-akar. Atau
gigi yang posisinya berdampak terhadap kesehatan dari struktur yang
berdekatan.

Kelas X

Gigi dengan kondisi ini adalah tidak terselamatkan dan i ndikasi


pencabutan. Gigi yang tidak bisa direstorasi atau menunjukkan keadaan patologis
dimana dokter gigi sudah tidak mempunyai jalan keluar lagi. Termasuk gigi yang
beresiko terhadap kesehatan pasien.

1. Kesehatan periodontal dan dukungan alveolar


Gigi dengan dukungan tulang <30% dan tidak bisa dibersihkan atau dirawat
tanpa infeksi periodontal akut

2. Struktur gigi yang tersisa


Tidak ada supragingiva pada struktur mahkota yang tersisa. Kehlangan
struktur gigi kedalam mencapai dentin/saluran akar.
3. Kondisi endodontic
Patah vertikal pada akar atau gigi yang telah dilakukan perawatan endodontik
dan/ pembedahan tanpa adanya perbaikan.
4. Garis oklusal dan posisi gigi
Ada gigi yang supraposisi dari bidang oklusal sehingga tidak dapat direstorasi
ke dalam fungsi yang benar, atau dapat mempengaruhi restorasi dari gigi di
rahang yang sama atau bahkan mempengaruhi restorasi dari gigi pada rahang
yang berlawanan
Faktor psikologis pasien secara garis besar juga dapat mempengaruhi
prognosis dari perawatan prostodonsia. Menurut M.M. House (1937) terdapat 4
kategori psikologis pasien:

1. Philosophical Mind
Sifat orang yang termasuk kelompok ini biasanya rasional, tenang, dan
seimbang. Ia berkeyakinan penuh akan kemampuan dokter giginya. Prognosis
untuk penderita semacam ini baik.
2. Excacting or Critical Mind
Pasien pada kelompok ini kehidupannya serba teratur, terlalu hati-hati, ingin
segala sesuatu secara tepat dan kadang-kadang kesehatannya jelek. Mereka
sukar menerima pendapat atau nasehat. Prognosis baik bila tendensi ingin
sempurna dam sikap kritisnya sepadan dengan pengertian dan kecerdasannya.
Dokter gigi harus mampu menunjukkan bahwa ia mempunyai kemampuan
merawat dengan cermat dan tepat.
3. Hysterical Mind
Sikap dan tingkah laku kelompok ini biasanya gugup dan tidak
memperdulikan kesehatan mulutnya sendiri. Pasien sering tidak kooperatif
dan mereka sulit menerima alasan. Keberhasilan perawatan hanyalah sesuatu
yang relatif karena pasien selalu cenderung mengeluh dan mencari kesalahan
orang yang merawatnya.
4. Indifferent Mind
Pasien tidak peduli dengan penampilan dirinya dan tidak merasakan
pentingnya masalah mastikasi. Mereka tidak ulet dan biasanya tidak mau
merepotkan dirinya sendiri dalam membiasakan memakai protesa. Upaya
dokter gigi yang merawat kurang dihargai dan dietnya biasanya buruk.
Prognosis biasanya tidak menguntungkan, kecuali penerangan dan instruksi
kepadanya berhasil baik.
DAFTAR PUSTAKA

Gunadi, Haryanto A., dkk. 1995. Buku Ajar Ilmu Gigi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid
I. Jakarta: Hipokrates

Rahn, Arthur O., Ivanhoe, John R., Plummer, Kevin D. 2009. Textbook of Complete
Dentures. Shelton: Peoples Medical Publishing House

Samet, Nachum & Jotkowitz, Anna. 2009. Classification and Prognosis Evaluation of
Individual Teeth-A Comprehensive Approach. Quintessence Jurnal. Vol 40