Anda di halaman 1dari 4

Rangkuman Pertemuan 1

PERBEDAAN AHA 2010 & 2015

AIRWAY MANAGEMENT

Dosen : H.Asep Solihat, S.Kep.,Ners


Tanggal : 14 Februari 2017

Isi Rangkuman

A. AHA 2010

American Heart Association (AHA) pada tahun 2010 telah


mempublikasikan pedoman RJP dan perawatan darurat kardiovaskular.
Perubahan pedoman ini menurut AHA adalah dengan melakukan terlebih
dahulu kompresi dada dari pada membuka jalan napas dan memberikan napas
buatan untuk korban henti jantung. Pertimbangannya adalah kompresi dada
lebih penting untuk segera mensirkulasikan oksigen keseluruh jaringan tubuh
terutama ke otak, paru dan jantung.

Rekomendasi dari AHA untuk tahun 2010 berupa suatu pedoman yang
lebih aman dan lebih efektif dari banyaknya pendekatan yang ada dan
memperkenalkan suatu bentuk perawatan terbaru dengan berbasis pada
evaluasi yang terbukti lebih intensif dan atas dasar konsensus dari para ahli.

Setelah mengevaluasi dari berbagai penelitian selama lima tahun


terakhir,AHA mengeluarkan suatu 'Panduan Resusitasi Jantung Paru (RJP)
2010'. Hal utama pada RJP 2010 ini adalah pada kualitas kompresi dada,
sebagai berikut :

1. ABC berubah menjadi CAB


2. Tidak ada lagi Look,Listen dan Feel
3. Melakukan Kompresi Dada lebih dalam
4. Melakukan Kompresi Dada lebih cepat
5. Hands only CPR
6. Henti jantung mendadak
7. Jangan berhenti menekan

B. AHA 2015
Perubahan besar dalam rekomendasi Pembaruan Pedoman 2015 untuk
CPR orang dewasa oleh penolong tidak terlatih:
1. Hubungan penting dalam Rantai Kelangsungan Hidup pasien dewasa
di luar rumah sakit tidak berubah sejak 2010, dengan tetap
menekankan pada Algoritma BLS (Bantuan Hidup Dasar) dewasa
universal yang disederhanakan.
2. Algoritma BLS Dewasa telah diubah untuk menunjukkan fakta bahwa
penolong dapat mengaktifkan sistem tanggapan darurat (misalnya,
melalui penggunaan ponsel) tanpa meninggalkan korban.
3. Masyarakat yang anggotanya berisiko terkena serangan jantung
disarankan menerapkan program PAD.
4. Rekomendasi telah diperkuat untuk mendorong pengenalan langsung
terhadap kondisi korban yang tidak menunjukkan reaksi, pengaktifan
sistem tanggapan darurat, dan inisiasi CPR jika penolong tidak terlatih
menemukan korban yang tidak menunjukkan reaksi juga tidak
bernapas atau tidak bernapas dengan normal (misalnya, tersengal).
5. Penekanan perihal identifikasi cepat terhadap kemungkinan serangan
jantung oleh operator telah ditingkatkan melalui penyediaan instruksi
CPR secepatnya kepada pemanggil (misalnya, CPR yang dipandu oleh
operator).
6. Urutan yang disarankan untuk satu-satunya penolong telah
dikonfirmasi: penolong diminta untuk memulai kompresi dada
sebelum memberikan napas buatan (C-A-B, bukan A-B-C) agar dapat
mengurangi penundaan kompresi pertama. Satu-satunya penolong
harus memulai CPR dengan 30 kompresi dada yang diikuti dengan 2
napas buatan.
7. Terdapat penekanan lanjutan pada karakteristik CPR berkualitas tinggi:
mengkompresi dada pada kecepatan dan kedalaman yang memadai,
membolehkan rekoil dada sepenuhnya setelah setiap kompresi,
meminimalkan gangguan dalam kompresi, dan mencegah ventilasi
yang berlebihan.
8. Kecepatan kompresi dada yang disarankan adalah 100 hingga 120/min
(diperbarui dari minimum 100/min).
9. Rekomendasi yang diklarifikasi untuk kedalaman kompresi dada pada
orang dewasa adalah minimum 2 inci (5 cm), namun tidak lebih besar
dari 2,4 inci (6 cm)
C. AIRWAY MANAGEMENT
a. Pengertian
Airway management adalah memastikan jalan napas tetap terbuka.
Airway merupakan komponen yang penting dari sistem pernapasan
adalah hidung dan mulut, faring, epiglotis, trakea, laring, bronkus dan
paru

Otak dan jantung tidak ada O2 hipoksia mati .

1. 0-4 menit : Mati klinis ( henti jantung & henti nafas),


kerusakan sel-sel otak tidak diharapkan.
2. 4-6 menit : Mungkin sudah terjadi kerusakan sel otak.
3. 6-10 menit : Mati biologis ( sudah mulai terjadi kerusakan otak)
4. 10 menit : Hampir di pastikan terjadi kerusakan sel-sel otak.
b. Gangguan jalan nafas :
1. Sesak / mengeluh sesak jika sadar.
2. Tachipnea / nafas cepat.
3. Retraksi otot bantu nafas.
4. Parsial Snoring : Lidah jatuh ke belakang
Gurgling : Cairan
Stridor : Sumbatan anatomis
c. Kaji tanda-tanda obstruksi :
1. Look
2. Listen
3. Feel
d. Alat alat yang digunakan pada airway management :
1. Orofaringeal Airway
2. Nasofaringeal Airway
3. Intubasi Naso-trachea
4. Endotrakeal tube (ETT)
5. Kriko-tirotomi
e. Jika Airway sulit :
1. Gelisah, tidak sadar, sulit membuka mulut
2. Perlu sedasi atau pelumpuh otot
3. Ulangi tindakan intubasi
4. Jika tidak berhasil intubasi, naso atau orotrakea, segera
krikotiroidotomi dengan jarum
5. Segera surgical krikotiroidotomi surgikal
6. Jika mulut banyak darah suction
f. Ciri trauma servikal :
1. Riwayat trauma
2. Ada jejas di leher : lakukan jaw trust
g. Indikasi basis krani :
1. Ada merah ( hematum pada daerah mata )
2. Perdarahan di hidung dan telinga