Anda di halaman 1dari 20

Blok Neurology and Behaviour II

Teknik Kedokteran dalam Menghadapi Kasus Stroke

D8

kelompok.ddelapan14@yahoo.co.id

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510 Telp: 021-5694 2061 Fax: 021-563 1731

Pendahuluan

Istilah stroke atau penyakit serebrovaskular mengacu kepada setiap gangguan


neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui
sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya digunakan secara spesifik untuk menjelaskan
infark serebrum. Istilah yang lebih lama dan masih sering digunakan adalah cerebrovascular
accident (CVA). Namun, istilah ini sulit dipertahankan secara ilmiah karena patologi yang
mendasari biasanya sudah ada sejak lama dan/atau mudah diidentifikasi. Karena itu, proses
bagaimana berbagai gangguan patologik (misalnya, hipertensi) menyebabkan stroke
merupakan hal yang dapat diduga, reproducible, dan bahkan dapat dimodifikasi. Dengan
demikian, timbulnya stroke sama sekali bukanlah suatu kecelakaan. Istilah lain yang
digunakan dalam usaha penerangan masyarakat adalah serangan otak. Tujuannya adalah
mendidik masyarakat bahwa morbiditas dan mortalitas pada stroke merupakan hal serius
sama seperti serangan jantung, intervensi segera apabila hal tersebut terjadi merupakan hal
penting.

Stroke merupakan defisit neurologis mendadak akibat gangguan suplai darah ke SSP.
Patologi yang mendasari stroke biasanya perdarahan atau tromboemboli. Insidensinya sebesar
0.2% populasi per tahun dan meningkat menjadi 1% pada orang berusia di atas 75 tahun.
Onset defisit biasanya mendadak dan seringkali berhubungan dengan area otak yang disuplai
oleh pembuluh darah spesifik. Jika defisit hilang sepenuhnya dalam 2 jam, maka disebut TIA.
Defisit bisa berkisar mulai dari yang ringan sampai koma dalam yang tidak responsif,
tergantung area SSP yang terkena.

Anamnesis
Anamnesis atau wawancara seputar stroke biasanya dilakukan antara dokter dengan
penderita dan/atau keluarga penderita. Jika penderita tetap sadar dan mampu berkomunikasi
dengan baik, dokter dapat menggali informasi seputar stroke kepada penderita secara
langsung. Sebaliknya, jika penderita stroke tidak sadarkan diri atau mengalami hambatan
dalam berkomunikasi, anamnesis dapat dilakukan dengan keluarga penderita.1,2
Anamnesis ditujukan untuk menentukan faktor risiko stroke yang dimiliki oleh
penderita. Selain itu, anamnesis juga diperlukan untuk mengetahui kondisi penderita sebelum
terjadinya stroke. Serangan stroke tipe perdarahan biasanya terjadi saat penderita beraktivitas.
Sedangkan, serangan stroke tipe aterotrombotik atau tromboemboli biasanya terjadi saat
penderita beristirahat atau setelah bangun tidur.2
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
a. Tanda kardinalnya adalah onset mendadak (biasanya dalam detik) dari
defisit neurologis (misalnya lemas, baal, disfasia, dan sebagainya).2
3. Keluhan tambahan
a. Adakah gejala penyerta berikut: nyeri kepala, mual, muntah, atau kejang?
b. Adakah masalah selanjutnya (misalnya aspirasi, kerusakan akibat jatuh)?
4. Riwayat penyakit sekarang
a. Kapan pertama kali memperhatikan adanya defisit neurologis? Apakah
timbul mendadak atau bertahap?
b. Lamanya serangan
c. Gejala yang teramati: lemas, baal, diplopia, disfasia, atau jatuh
d. Adakah pengabaian sensoris?
e. Adakah defek neurologis lain baru-baru ini (misalnya TIA atau amaurosis
fugax)?
f. Adakah saksi mata atas peristiwa tersebut?
g. Pernakah pasien jatuh atau mengalami trauma kepala sebelumnya
(pertimbangkan hematoma subdural/ekstradural)?
h. Sejauh mana disabilitas dan adakah efek gangguan fungsional?
5. Riwayat penyakit dahulu
a. Adakah riwayat stroke sebelumnya, TIA, amauroris fugax, kolaps, kejang,
atau perdarahan subarachnoid?
b. Adakah riwayat penyakit vascular yang diketahui (misalnya stenosis
karotis, aterosklerosis koroner, penyakit vascular perifer)?
c. Adakah riwayat perdarahan atau kecenderungan pembekuan?
d. Adakah kemungkinan sumber embolik (misalnya fibrilasi atrium, katup
buatan, stenosis karotis, diseksi karotis atau vertebra)?
e. Adakah riwayat hipertensi, hiperkolesterolemia, atau merokok?
6. Obat-obatan
a. Apakah pasien mengkosumsi antikoagulan (misalnya warfarin) atau obat
antiplatelet (misalnya aspirin)?
b. Apakah baru-baru ini pasien mengkonsumsi trombolitik?
7. Riwayat keluarga dan sosial
a. Adakah riwayat stroke dalam keluarga?
b. Dapatkan riwayat merokok dan alcohol pasien.

Pemeriksaan Fisik
Berbagai komponen yang perlu diperhatikan selama pemeriksaan fisik diantaranya:

1. Kesadaran penderita : Kompos mentis (sadar sepenuhnya), Apatis (pasien tampak


segan, acuh tak acuh terhadap lingkunganya), Somnolen (keadaan mengantuk
yang masih dapat pulih penuh bila dirangsang, tetapi bila rangsang berhenti,
pasien akan tertidur lagi), Sopor/stupor (keadaan mengantuk yang dalam, pasien
masih dapat dibangunkan tetapi dengan rangsangan yang kuat, rangsang nyeri,
tetapi pasien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban
verbal yang baik), koma.
2. Identifikasi awal yang penting adalah apakah kasus yang dihadapi adalah apakah
kasus bedah atau non bedah, jika kasus bedah maka tindakan operasi harus segera
dilakukan. Tanda vital seperti : tekanan darah , nadi, pernapasan, dan suhu pasien

3. Motorik:
a. Amati posisi tubuh pasien selama bergerak dan istirahat,
b. Amati gerakan involunter
c. Amati kontur otot, apakah ada atrofi atau tidak
d. Lakukan beberapa gerakan pasif maupun aktif pada ekstremitas atas.
e. Amati kekuatan otot

Tabel 1. Pemeriksaan Kekuatan otot.3

Pemeriksaan Score
Tidak ada kontraksi otot 0
1
Terjadi kontraksi otot tanpa gerakan nyata
2
Pasien hanya mampu menggeserkan tangan atau kaki 3
4
Mampu angkat tangan, tidak mampu menahan gravitasi
5
Tidak mampu menahan tangan pemeriksa
Kekuatan penuh
4. Sensorik: menilai sensibilitas dengan menggunakan jarum (nyeri), kapas (raba),
botol air panas & dingin (suhu), garpu tala (getar), jangka (2 point discrimination),
mengenali benda-benda (stereognosis), dan pensil (graphesthesia).
5. Refleks patologis: babinski (gores telapak kaki, (+)dorsofleksi ibu jari, disertai
mekarnya jari-jari yang lain---> lesi traktus piramidalis) dan klonus kaki.
6. Koordinasi:
a. Gerakan yang berubah dengan cepat
b. Gerakan dari titik ke titik
c. Gaya Berjalan
d. Cara Berdiri : Uji Romberg dan Perhatikan adanya penyimpangan pronator
(Pasien merentangkan tangan dengan mata terpejam selama 20-30 detik
dan pada mata terbuka tangan direntangkan, dan tepuk tangan tersebut)
7. Status mental/ kognitif: dengan atensi (mengulangi angka), orientasi (mengenali
tempat: pagi, siang, malam), bahasa (dengan menulis, membaca), daya ingat,
berhitung, peribahasa, persamaan, perbedaan, neglect, dan praxis

Pada pasien stroke juga perlu dilakukan pemeriksaan lain seperti tingkat kesadaran,
kekuatan otot dan tonus otot. Pada pemeriksaan tingkat kesadaran dilakukan pemeriksaan
yang dikenal sebagai Glascow Coma Scale untuk mengamati pembukaan kelopak mata,
kemampuan bicara, dan tanggap motorik (gerakan).4

Berikut tabel yang merupakan Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan pemeriksaan


yang dikenal sebagai Glascow Coma Scale (GCS) beserta Score :

Tabel 2. Glascow Coma Scale (GCS) beserta score.4,5

Pemeriksaan Score
a. Membuka mata
4
1) Membuka spontan
3
2) Membuka dengan perintah 2
1
3) Membuka mata karena rangsang nyeri
4) Tidak mampu membuka mata

b. Kemampuan bicara
5
1) Orientasi dan pengertian baik
4
2) Pembicaraan yang kacau 3
2
3) Pembicaraan tidak pantas dan kasar
1
4) Dapat bersuara, bunyi tanpa arti
5) Tidak ada suara

c. Tanggapan motorik
6
1) Menanggapi perintah
5
2) Reaksi gerakan lokal terhadap rangsang 4
3
3) Reaksi menghindar terhadap rangsang nyeri
2
4) Tanggapan fleksi abnormal 1
5) Tanggapan ekstensi abnormal
6) Tidak ada gerakan

Algoritma dan Penilaian Skor Stroke 5

Tabel 3. Skor Stroke Sirirraj dan Skor Stroke Gadjah Mada


Tabel 4. Pemeriksaan Aktivitas Mandiri Sehari-Hari.4

Pemeriksaan Score
Mandiri keseluruhan 0
1
Memerlukan alat bantu
2
Memerlukan bantuan minimal 3
Memerlukan bantuan dan/atau beberapa
4
pengawasan 5
Memerlukan pengawasan keseluruhan
Memerlukan bantuan total
Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium.4-5
a Pemeriksaan Punksi Lumbal (Sesuai indikasi)
Pemeriksaan punksi lumbal dilakukan dengan mengambil sampel dari CSF
dari tulang belakang. Punksi lumbal menentukan apakah pasien terkena
pendarahan subarachnoid (subarachnoid haemorrhagic). Apabila terjadi
pendarahan subarachnoid, maka akan terdapat eritrosit dalam CSF.
b Pemeriksaan Kadar Lemak Darah (Kolestrol Total, LDL, HDL, TG)
Nilai rujukan untuk Kolestrol Total tidak boleh lebih dari 200 mg / dL,
HDL > 45 mg / dL, LDL tidak boleh lebih dari 250 mg / dL, dan TG antara
0,7 1,4 mmol/L.
c Pemeriksaan Darah Rutin dan Darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan darah, kekentalan
darah, jumlah sel darah, penggumpalan trombosit yang abnormal dan
mekanisme pembekuan darah (Hemoglobin, hematokrit, eritrosit, leukosit,
hitung jenis trombosit, dan laju endap darah, PT, aPTT, agregasi trombosit,
fibrinogen). Juga digunakan sebagai pengontrol pada pasien dengan
komplikasi diabetes melitus (pemeriksaan gula darah puasa). Pemeriksaan
profil lipid dan kolesterol darah juga penting.
2. Pemeriksaan Radiologi.1,4,6,7
a Head CT Scan (Pilihan Utama/baku emas)
Pada stroke non haemorrhagic terlihat adanya infark sedangkan pada
stroke haemorrhagic terlihat adanya pendarahan. Berikut dapat kita lihat
dalam Tabel 1, Gambaran Perbedaan Stroke Hemoraggik dan Iskemik :

Stroke Hemoragik ( Lesi Stroke Iskemik (Lesi


Hiperdens) Hipodens)

Sumber : http://www.medscape.com/viewarticle/452843_2
Gambar 1 . Gambaran CT-scan
b MRI (Pilihan kedua setelah CT-scan)
Menunjukan bagian yang infark, pendarahan, Malforasi Anterior Vena.
Yang lebih spesifik dibandingkan CT-scan
c Angiografi Cerebral
Membantu melihat adanya pendarahan, obstruksi arteri, memperlihatkan
adanya oklusi atau bagian pembuluh darah yang ruptur.
3. Pemeriksaan EKG.6,7
Untuk mengetahui keadaan jantung dimana jantung berperan dalam suplai darah
ke otak yang dapat menegtahui pencetus stroke akibat penyakit jantung.

Working Diagnosis
Stroke adalah terminologi klinis untuk gangguan sirkulasi darah non traumatik yang
terjadi secara akut pada suatu fokal area di otak, yang berakibat terjadinya keadaan iskemia
dan gangguan fungsi neurologis fokal maupun global, yang berlangsung lebih dari 24 jam,
atau langsung menimmbulkan kematian. Dalam hitungan detik dan menit, sel otak yang tidak
mendapatkan aliran darah yang adekuat lagi akan mati melalui berbagai proses patologis.
Secara tipikal, stroke bermanifestasi sebagai munculnya defisit neurologis secara tiba-tiba,
seperti kelemahan gerakan atau kelumpuhan, defisit sensorik, atau bisa juga gangguan
berbahasa. Stroke secara medis merupakan gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak
yang menyebabkan terjadinya defisit neurologis. Secara klinis, stroke ditandai oleh hilangnya
fungsi otak secara lokal atau global yang terjadi mendadak dan disebabkan semata-mata oleh
gangguan peredaran darah otak. Defisit neurologis terjadi selama 24 jam atau lebih, dapat
mengalami perbaikan, menetap, memburuk atau penderita meninggal.5

Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Pada
stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol
pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh
darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang
menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri
vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Pada stroke
hemoragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah yang normal dan darah
merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir 70 persen kasus Stroke
hemoragik terjadi pada penderita hipertensi.

Strok iskemia mungkin disebabkan oleh:5

1. Trombosis serebrum, di mana darah beku (trombus) terbentuk di arteri utama yang
menghala ke otak, menghentikan bekalan darah.
2. Embolisme serebrum, di mana gumpalan darah terbentuk di saluran darah di
bahagian tubuh yang lain, contohnya di leher ataupun jantung, dan dibawa oleh
aliran darah ke otak.
3. Stroke lakunar, di mana sekatan berada di saluran-saluran darah kecil jauh di
dalam otak.

Strok berdarah mungkin disebabkan oleh:5

1. Pendarahan intraserebrum, apabila saluran darah pecah di dalam otak itu sendiri.
2. Pendarahan subaraknoid, iaitu apabila saluran darah di permukaan otak berdarah
dan darah mengalir ke bahagian di antara otak dan tempurung kepala, yang
dikenali sebagai ruang subaraknoid.

Stroke Iskemik

Stroke iskemik disebut juga stroke sumbatan atau stroke infark dikarenakan adanya
kejadian yang menyebabkan aliran darah menurun atau bahkan terhenti sama sekali pada
area tertentu di otak, misalnya terjadinya emboli atau trombosis. Penurunan aliran darah ini
menyebabkan neuron berhenti berfungsi.5 Aliran darah kurang dari 18 ml/100 mg/menit akan
mengakibatkan iskemia neuron yang sifatnya irreversibel. Hampir sebagian besar pasien
atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. Aliran darah ke otak pada stroke iskemik
terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah) atau
adanya bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak. Penyumbatan
dapat terjadi di sepanjang jalur arteri yang menuju ke otak. Misalnya suatu ateroma
(endapan lemak) bisa terbentuk di dalam arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya
aliran darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap arteri karotis dalam keadaan normal
memberikan darah ke sebagian besar otak. Terjadinya hambatan dalam aliran darah pada
otak akan mengakibatkan sel saraf dan sel lainnya mengalami gangguan dalam suplai
oksigen dan glukosa. Bila gangguan suplai tersebut berlangsung hingga melewati batas
toleransi sel, maka akan terjadi kematian sel. Sedangkan bila aliran darah dapat diperbaiki
segera, kerusakan dapat diminimalisir.5
Gambar 2; Gumpalan Darah Tersekat di Arteri dan Menghalang Perjalanan Darah.

Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik adalah stroke yang disebabkan oleh perdarahan intrakranial non
traumatik. Pada strok hemoragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah
yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir
70% kasus strok hemoragik terjadi pada penderita hipertensi. Stroke hemoragik meliputi
perdarahan di dalam otak (intracerebral hemorrhage) dan perdarahan di antara bagian dalam
dan luar lapisan pada jaringan yang melindungi otak (subarachnoid hemorrhage). Gangguan
lain yang meliputi perdarahan di dalam tengkorak termasuk epidural dan hematomas
subdural, yang biasanya disebabkan oleh luka kepala. Gangguan ini menyebabkan gejala
yang berbeda dan tidak dipertimbangkan sebagai stroke. Berikut ini adalah penjelasan lebih
rinci mengenai jenis-jenis stroke hemoragik:5

1. Intracerebral hemorrhage (perdarahan intraserebral)

Perdarahan intraserebral terjadi karena adanya ekstravasasi darah kedalam


jaringan parenkim yang disebabkan ruptur arteri perforantes dalam. Stroke jenis
ini berjumlah sekitar 10% dari seluruh stroke tetapi memiliki persentase kematian
lebih tinggi dari yang disebabkan stroke lainnya. Diantara orang yang berusia
lebih tua dari 60 tahun, perdarahan intraserebral lebih sering terjadi dibandingkan
perdarahan subarakhnoid.

2. Subarachnoid hemorrhage (perdarahan subarakhnoid)

Perdarahan subarakhnoid adalah perdarahan ke dalam ruang (ruang


subarachnoid) diantara lapisan dalam (piamater) dan lapisan tengah
(arachnoidmater) para jaringan yang melindungan otak (meninges). Penyebab
yang paling umum adalah pecahnya tonjolan pada pembuluh (aneurisma).
Biasanya, pecah pada pembuluh menyebabkan tiba-tiba, sakit kepala berat,
seringkali diikuti kehilangan singkat pada kesadaran. Perdarahan subarakhnoid
adalah gangguan yang mengancam nyawa yang bisa cepat menghasilkan cacat
permanen yang serius. Hal ini adalah satu-satunya jenis stroke yang lebih umum
terjadi pada wanita.
Gambar 3; Apabila arteri pecah, darah dipaksa masuk ke dalam tisu otak, merosakkan
sel-sel sehingga bahagian otak itu tidak dapat berfungsi.

Tabel 1; Perbedaan Stroke Iskemik dan Perdarahan

Gejala Stroke perdarahan Stroke iskemik


Onset/saat kejadian Mendadak, sedang beraktivitas Mendadak, sedang istirahat
TIA Tidak ada Ada
Nyeri kepala Hebat Ringan atau sangat ringan
Kejang Ada Tidak ada
Muntah Ada Tidak ada
sakit kepala Mulai dari pingsan sampai Tergantung luas daerah yang
koma terkena
Tanda
Nadi bardikardi Ada sejak awal Ada (pada hari ke-4)
Papil edema Ada Tidak ada
Kaku kuduk Ada Tidak ada
Reflek patologis Ada Tidak ada
Gambar 4. Stroke Iskemik,Stroke Hemoragik

Differential Diagnosis

Tabel 5. Stroke Hemorhagik dan Stroke Non-hemorhagik Berdasarkan Gejala Klinis8

Tabel 6. Stroke Hemorhagik dan Stroke Non-hemorhagik Berdasarkan Tanda


Rangsang8

Tabel 7. Stroke Hemorhagik dan Stroke Non-hemorhagik Berdasarkan Pemeriksaan


Penunjang8
Gambar 4. Cara Mendiagnosa Stroke berdasarkan Pemeriksaan Fisik9

Epidemiologi

Stroke merupakan penyebab kematian tersering ketiga pada orang dewas di AS.
Angka kematian tiap tahun lebih dari 200.000, keturunan afrika 60% lebih banyak dibanding
kaukasian, insiden ini kemungkinan di karenakan hipertensi pada orang amerika keturunan
afrika. Biasanya lebih sering terjadi pada usia lebih dari 65 tahun, stroke adalah penyebab
kematian tersering pertama dan kedua yang menempati urutan kelima dan keenam sebagai
penyebab kecacatan.10,11
Etiologi

Perdarahan dapat terjadi di bagian mana saja dari sistem saraf. Secara umum,
perdarahan di dalam tengkorak diklasifikasikan berdasarkan lokasi dalam kaitannya dengan
jaringan otak dan meningen dan oelh tipe vaskular yang ada. Perdarahan ke dalam lapisan
luar meningen misalnya perdarahan subdura atau epidura, paling sering berkaitan dengan
trauma. Tipe-tipe perdarahan yang mendasari stroke hemoragik adalah intraserebrum,
intravenrikel, PSA. Selain lesi vaskular anatomik, penyebab stroke hemoragik adalah
hipertensi, ganggan perdarahan, pemberian anti koagulan yang terlalu agresif (terutama
pasien usia lanjut) dan pemakaian amfetamin dan kokain intranasal.10-11

Patofisiologi

Penghentian total aliran darah ke otak menyebabkan hilangnya kesadaran dalam


waktu 15-20 detik dan kerusakan otah yang ireversibel terjadi setelah tujuh sampai sepuluh
menit. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di area otak yang terbatas.
Mekanisme dasar kerusakan ini adalah selalu definisi energi yang disebabkan oleh iskemia.
Perdarahan juga menyebabkan iskemia dengan menekan pembuluh darah di sekitarnya.
Dengan menghambat Na+/K+-ATPase, defisiensi energi menyebabkan penimbunan Na+ dan
Ca+2 di dalam sel, serta meningkatkan konsentrasi K + ekstrasel sehingga menimbulkan
depolarisasi. Depolarisasi menyebabkan penimbunan Cl- di dalam sel, pembengkakan sel, dan
kematian sel. Depolarisasi juga meningkatkan pelepasan glutamat, yang mempercepat
kematian sel melalui masuknya Na+ dan Ca+2. Pembengkakan sel, pelepasan mediator
vasokonstriktor dan penyumbatan lumen pembuluh darah oleh granulosit kadang-kadang
mencegah reperfusi, meskipun pada kenyataannya penyebab primernya telah dihilangkan.
Kematian sel menyebabkan inflamasi, yang juga merusak sel di tepi area iskemik
(penumbra).10

Gejala Klinis

Gejala stroke yang muncul sangat bergantung pada bagian otak yang terganggu.
Gangguan pembuluh darah otak yang memberikan pasokan darah ke lobus frontal dan
parietal akan memberikan gejala kelemahan anggota gerak dan gannguan rasa (misalnya
kebas di separuh anggota gerak). Stroke yang menyerang cerebellum memberikan gejala
pusing berputar (vertigo).12 Secara umumnya:
1. Kelumpuhan anggota gerak: Rasa semut-semut dan kebas secara tiba-tiba pada
sebahagian badan, rasa lemah, kebas atau lumpuh bahagian muka, kaki atau
tangan secara tiba-tiba, Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau
salah satu sisi tubuh.
2. Wajah perot
3. Gangguan bicara : pelo/afasia karena kelumpuhan saraf otak nomor 12 atau lobus
fronto-temporal di otak, celaru/keliru, susah bertutur atau memahami pertuturan
orang secara tiba-tiba
4. Pusing berputar/vertigo: Sukar berjalan, pusing atau hilang imbangan atau
koordinasi secara tiba-tiba
5. Nyeri kepala: Sakit kepala yang kuat tanpa sebab tertentu
6. Penurunan kesadaran
7. Perubahan tingkah laku
8. Penurunan tajam penglihatan: Penglihatan kabur tiba-tiba pada sebelah mata atau
kedua-dua mata, gangguan lapang pandang, penglihatan ganda
9. Gangguan menelan
10. Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh.
11. Pergerakan yang tidak biasa.
12. Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih

Faktor Risiko

Penyakit atau keadaan yang menyebabkan atau memperparah stroke disebut dengan
Faktor Risiko Faktor resiko medis penyakit tersebut di atas antara lain disebabkan oleh:

1 Hipertensi,

2 Penyakit Jantung,

3 Diabetes Mellitus,

4 Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah),

5 Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah),

6 Riwayat Stroke dalam keluarga,

7 Migrain.

Faktor resiko perilaku, antara lain:

1 Usia lanjut,
2 Obesitas,

3 Merokok (pasif/ aktif),

4 Alkohol,

5 Mendengkur,

6 Narkoba,

7 Kontrasepsi oral,

8 Suku bangsa (negro/spanyol),

9 Jenis kelamin (pria),

10 Makanan tidak sehat (junk food, fast food),

11 Kurang olah raga.

Penatalaksanaan

Perlu diperhatikan langkah-langkah dalam diagnosis dan pengobatan stroke dikenal


dengan 8 D dan ABC yaitu:

1. 8 D :5
a. Detection: kenali gejala stroke dengan cepat.
b. Dispatch: cepat dalam mengaktifkan fasilitas emergensi dengan menelepon
ambulans (panggilan darurat).
c. Delivery: antar pasien dengan cepat dan tepat.
d. Door: langsung dibawa ke stroke center.
e. Data: cepat dievaluasi oleh bagian di stroke center.
f. Decision: pengambilan keputusan yang cepat dan tepat oleh ahli neurologis.
g. Drug: pemberian obat stroke (fibrinolitic therapy).
h. Disposition: cepat dipindahkan ke ruangan yang lebih intensif

2. ABC :4-5
a. A : Airway, artinya mengusahakan agar jalan napas bebas dari segala hambatan, baik
akibat hambatan yang terjadi akibat benda asing maupun sebagai akibat benda asing
maupun sebagai akibat stroknya sendiri
b. B : Breathing atau fungsi bernapas yang mungkin terjadi akibat gangguan dipusat
napas (akibat stroke) atau oleh karena komplikasi infeksi di saluran napas.
c. C : Cardiovascular function, yaitu fungsi jantung dan pembuluh darah. Seringkali
terdapat gangguan irama, adanya trombus, atau gangguan tekanan darah yang harus
ditangani secara cepat.
Penatalaksanaan Medikamentosa5-6
Terapi spesifik stroke iskemik akut:

1. Membatasi atau memulihkan iskemia akut yang sedang berlangsung:


Trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen activator)
merupakan satu-satunya pengobatan yang sudah terbukti dan
direkomendasikan untuk memulihkan iskemia pada stroke akut dengan syarat-
syarat khusus yaitu tidak ada kelainan darah. 5 Obat rt-PA yaitu asetosal (asam
asetil salisilat) digunakan dengan dosis berkisar antara 80-320 mg/hari
sublingual. Trombolisis rt-PA intravena/intraarterial pada 3 jam setelah
awitan stroke dengan dosis 0,9 mg/kg (maksimal 90 mg). Sebanyak 10% dosis
awal diberi sebagai bentuk bolus, sisanya dilanjutkan melalui infus dalam
waktu 1 jam
2. Antiplatelet : asam salisilat (Aspirin) 160-320 mg/hari, diberikan 48 jam
setelah awitan stroke atau clopidogrel 75mg/hari
3. Berikan obat neuroprotektif: Mencegah perburukan neurologis yang
berhubungan dengan stroke yang masih berkembang dengan obat
neuroprotector yaitu citicoline dan methylcobalamine.
4. Kendalikan hipertensi yang umum dijumpai pada stroke iskemik: tekanan
darah sistolik > 180 mmHg harus diturunkan sampai 150-180 mmHg dengan
labetalol 20 mg iv dalam 2 menit, ulangi 40-80 mg iv dalam interval 10 menit
sampai tekanan yang diinginkan atau golongan ACE inhibitor (misalnya:
kaptopril 12,5-25 mg, 2-3 kali/hari) atau golongan antagonis kalsium
(misalnya: nifedipin oral 4 kali 10 mg atau nicardipin iv 5 mg/hr, dan titrasi
2,5 mg/jam tiap 5-15 menit).5
Penatalaksanaan Nonmedikamentosa.4,5
1. Nutrisi pasien diperhatikan : pengkajian gangguan menelan dan tata cara
pemberian nutrisi bila terdapat gangguan menelan. Seringkali pemberian
makanan peroral aktif atau dengan sonde diberikan pada pasien yang
berbaring
2. Hidrasi intravena : Koreksi dengan NaCl 0.9% jika hipovolemik
3. Hiperglikemi : koreksi dengan insulin skala luncur. Bila stabil, beri insulin
reguler subkutan
4. Neurorehabilitasi : Secepatnya setelah pasien melewati masa kritis, stimulasi
dini dan fisioterapi gerak anggota badan aktif dan pasif, terapi wicara untuk
pasien dengan gangguan bicara, terapi ocupasi (dilakukan untuk memperbaiki
fungsi kehidupan sehari-hari dalam beraktivitas).
5. Rehabilitas Mental : Sebagian besar penderita stroke mengalami masalah
emosional yang dapat mempengaruhi mental mereka, misalnya reaksi sedih,
mudah tersinggung, tidak bahagia, murung dan depresi. Oleh karena dapat
dirujuk untuk di tangani oleh dokter spesialis jiwa.
6. Perawatan kandung kemih : kateter menetap hanya pada keadaan khusus
(keasadaran menurun)

Komplikasi

Komplikasi akut .4
1. Kenaikan tekanan darah, keadaan ini biasanya merupakan mekanisme kompensasi
sebagai upaya mengejar kekurangan pasokan darah di tempat lesi. Oleh karena itu
kecuali bila menunjukkan nilai yang sangat tinggi (sistolik > 220/ diastolik > 130)
tekanan darah tidak perlu diturunkan, karena akan turun sendiri setelah 48 jam.
2. Kadar gula darah, Pasien strok sering kali merupakan pasien DM sehingga kadar
gula darah pasca strok tinggi.
3. Gangguan Jantung sering menyebabkan kematian
4. Infeksi kandung kemih, infeksi dan sepsis merupakan komplikasi strok yang
serius

Komplikasi kronis.4,8
1. Akibat tirah baring lama di tempat tidur bisa menjadi pneumonia, dekubitus,
inkontinensia serta berbagai akibat imobilisasi lainnya.
2. Gangguan sosial-ekonomi
3. Gangguan psikologis
4. Pasien memiliki resiko penurun kognitif dan dimensia yang semakin meningkat.
Prognosis

Prognosis tergantung dari tingkat keparahan stroke, lokasi, dan ukuran perdarahan.
Nilai GCS yang rendah menandakan prognosis yang buruk dengan tingkat kematian yang
tinggi. Bertambah besarnya volume hematoma menyebabkan penurunan tingkat fungsional
dan peningkatan tingkat mortalitas.Adanya darah pada ventrikel meningkatkan tingkat
mortalitas. Pada suatu penelitian, adanya perdarahan intraventrikular meningkatkan
kemungkinan kematian 2x lipat. Pasien perdarahan intraserebral karena penggunaan terapi
antikoagulan memiliki tingkat mortalitas yang lebih tinggi dan penurunan kemampuan
fungsionalnya. 5,6

Pencegahan
Banyak pendeita stroke yang meninggal, menjadi cacat atau invalid seumur hidup.
Stroke dapat dicegah, setidak-tidaknya dapat diundur waktu munculnya dengan berbagai
pencegahan, antara lain:

1. Pencegahan primer
Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas rokok :

a. Menghindari : rokok, stress mental, alcohol, kegemukan, konsumsi garam


berlebih,obat-obatan golongan amfetamin, kokain, dan sejenisnya.
b. Mengurangi : kolesterol dan lemak dalam makanan
c. Mengendalikan : hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung misalnya fibrilasi
atrium, infark miokard akut, penyakit jantung reumatik, penyakit vaskuler
arteriosklerotik lainnya.
2. Pencegahan sekunder
a. Modifikasi gaya hidup beresiko stroke dan faktor resiko, misalnya :
i. Hipertensi : diet, obat antihipertensi
ii. Diabetes melitus : diet, obat hipoglikemik oral
iii. Penyakit jantung aritmia nonvalvular (antikoagulan oral)
iv. Dislipidemia : diet rendah lemak dan obat anti dislipidemia
v. Hiperurisemia : diet dan antihiperurisemia
vi. Hindari alkohol, kegemukan, kurang olahraga
vii. Berhenti merokok
b. Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin.
Pencegahan stroke merupakan suatu tujuan utama dari program kesehatan.
Pengenalan faktor resiko dan tindakan untuk menghilangkan dan menurunkan
berbagai akibat yang ditimbulkannyamerupakan upaya utama guna mengurang tingkat
kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh stroke.4,8

Kesimpulan

Stroke adalah penyakit serebrovaskular mangacu pada setiap gangguan neurologic


mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system suplai
arteri otak. Stroke dibagi menjadi dua, yaitu stroke iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik
bisa trombotik atau embolik. Stroke hemoragik dapat intraserebral atau subarachnoid. Pasien
pada kasus di atas menderita stroke iskemik dengan sebab utamanya adalah arteriosklerosis.
Oleh karena itu pentingnya dalam melakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang dengan tepat sehingga dapat menentukan jenis dan dimana lokasi dari stroke
tersebut. Pemeriksaan penunjang yang sangat dianjurkan adalah CT-scan dan atau MRI
karena karena cepat dan efisien. Penatalaksanaan yang cepat pada pasien stroke akan sangat
menentukan kesembuhan pasien dengan serangan stroke.

Daftar Pustaka

1 Glealde J. At a glance : anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Erlangga, 2007.h.176-


77
2 G.G.Wahyu. Stroke Hanya Menyerang Orang Tua?. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2009.
Hlm 43-46
3 Bickley LS, Bates. Buku ajar pemeriksaan fisik dan kesehatan. Edisi ke-8. Jakarta: EGC;
2009. Hal 333-6, 350-1, 363
4 Sudoyo WA. Setiyohadi B, Alwi I,dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam.Jilid Ke-I. Jakarta:
Interna Publishing; 2009. Hal 30, 892-7.
5 Dewanto J, dkk. Panduan diagnosis dan tatalaksana penyakit saraf. Jakarta : EGC. 2009.
Hal 24-32
6 American Heart Association. Part 11: adult stroke : 2010 American heart association
guidelines for cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care.
Diunduh dari http://circ.ahajournals.org/ 18 desember 2011.
7 Kaplan NM. Kaplans clinical hypertension. 8 th edition. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins, 2002. Page: 137-168
8 Greenberg DA, Aminoff MJ, Simon RP. Clinal Neurology. Connecticut : Lange Medical
Book, 1997
9 Mcphee SJ, Papadakis MA. Current medical diagnosis and treatment. 49 ed. New York :
Mc Graw Hill, 2010
10 Wilson LM, Price SA. Patofisiologi. Volume 2. Jakarta: EGC; 2012.p.1105-32.
11 Corwin EJ. Handbook of Pathophysiology. 3rd Edition. Terjh. Subekti NB. Buku Saku
Patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009. p.251.
12 Rizaldy Pinzon, Laksmi Asanti. Awas stroke! Pengertian, Gejala, Tindakan, Perawatan,
dan Pencegahan. Edisi 1. Yogyarkata : Penerbit ANDI; 2010. Hlm 15-21