Anda di halaman 1dari 12

ENERGI BIOMASSA

TKT 335 - SISTEM ENERGI TERBARUKAN

Nama : Nicolas Suriana

NIM : 2014-041-100

Student ID : 12014001349

Seksi : A

Program Studi Teknik Mesin


Fakultas Teknik
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Jakarta
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Telah sejak lama, kita mendengar bahwa persediaan bahan bakar minyak di
bumi ini mulai menipis. Ada banyak perkiraan oleh pakar bahwa tahun sekian
pasokan bahan bakar minyak akan benar-benar habis. Sementara untuk memperbarui
minyak yang terkandung di bumi, juga bukan hal mudah dan instan. Sehingga, mau
tidak mau, manusia dipaksa untuk terus menemukan energi alternatif sebagai
pengganti dari bahan bakar minyak. Salah satu energi alternatif yang dapat
dikembangkan adalah energi biomassa.
Disadari atau tidak, sejak zaman dulu manusia telah menggunakan biomassa
sebagai sumber energi. Contohnya adalah penggunaan kayu bakar untuk menyalakan
api unggun. Kayu bakar merupakan bahan biologis yang terdapat di alam dan dapat
dimanfaatkan langsung sebagai sumber energi tanpa perlu diolah terlebih dahulu.
Namun sejak ditemukannya bahan bakar fosil, penggunaan biomassa mulai
terlupakan. Minyak bumi, gas bumi, dan batubara lebih dipilih sebagai sumber energi
dalam kehidupan di masyarakat.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang penulis ajukan, sebagai
berikut:
1. Apa itu biomassa?
2. Bagaimana pemanfaatan biomassa sebagai energi terbarukan?
3. Apaaplikasi daribiomassa?

1.3 TUJUAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian biomassa
2. Menjelaskan pemanfaatan biomassa sebagai energi terbarukan
3. Menjelaskan aplikasi dari biomassa

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Biomassa
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui pross
fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain
adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan
kotoran ternak.Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan
ternak, miyaknabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan
sebagai sumberenergi (bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar
adalah biomassayang nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah
diambil produk primernya.
Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara
lainmerupakan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) sehingga
dapatmenyediakan sumber energi secara berkesinambungan (suistainable). Di
Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam yang sangat penting dengan
berbagai produk primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan pangan dan lain-lain yang
selaindigunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor dan menjadi
tulang punggung penghasil devisa negara.
Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber
energi jumlahnya sangat melimpah. Limbah yang berasal dari hewan maupun
tumbuhansemuanya potensial untuk dikembangkan. Tanaman pangan dan
perkebunanmenghasilkan limbah yang cukup besar, yang dapat dipergunakan untuk
keperluanlain seperti bahan bakar nabati. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar
nabati memberi tiga keuntungan langsung. Pertama, peningkatan efisiensi energi
secarakeseluruhan karena kandungan energi yang terdapat pada limbah cukup besar
danakan terbuang percuma jika tidak dimanfaatkan. Kedua, penghematan biaya,
karenaseringkali membuang limbah bisa lebih mahal dari pada memanfaatkannya.
Ketiga, mengurangi keperluan akan tempat penimbunan sampah karena penyediaan
tempat penimbunan akan menjadi lebih sulit dan mahal, khususnya di daerah
perkotaan.Semua wilayah di Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi besar
bagi pembangkitan listrik atau energi terbarukan (renewable energy) dari
kekayaan biomassanya.
Fungsi biomassa adalah:
1. sebagai penyedia sumber karbon untuk energi,
2. dengan teknologi modern dalam pengkonversiannya dapat menjaga emisi pada tingkat
yang rendah.
3. mendorong percepatan rehabilitasi lahan terdegradasi dan perlindungan tata air.
4. digunakan untuk menyediakan berbagai vektor energi, baik panas, listrik atau bahan
bakar kendaraan.
Berbicara tentang sumber energi, biomassa merupakan salah satu alternatif.
Biomassa mengandung energi tersimpan dalam jumlah cukup banyak Kenyataannya,
pada saat kita makan, tubuh kita mampu mengubah energi yang tersimpan di dalam
makanan menjadi energi atau tenaga untuk tumbuh dan berkembang. Pada saat kita
bergerak, bahkan ketika kita berpikir pun, energi dalam makanan akan terbakar. Dari
latar belakang itulah kini mulai digali banyak kemungkinan pemanfaatan biomassa
sebagai sumber bahan bakar nabati (biofuel). Dari bahan bakar nabati dapat
dikembangkan biokerosene (minyak tanah), biodiesel, bioetanol bahkan biopower
(untuk listrik).
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan biofuel
mengingat begitu besarnya sumber daya hayati yang ada baik di darat maupun di
perairan. Menurut hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),
Indonesia memiliki banyak jenis tanaman yang berpotensi menjadi energi bahan bakar
alternatif, antara lain :
Kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, sirsak, srikaya, kapuk : sebagai sumber
bahan bakar alternatif pengganti solar (minyak diesel)
Tebu, jagung, sagu, jambu mete, singkong, ubi jalar, dan ubi-ubian yang
lain : sebagai sumber bahan bakar alternatif pengganti premium.
Nyamplung, algae, azolla: kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai
sumber pengganti kerosene, minyak bakar atau bensin penerbangan.
Contoh dari energi biomassa:
1. Biogas
Yang pertama adalah biogas. Biogas merupakan jenis energi alternatif yang
diproduksi melalui pemecahan bahan organik, seperti pupuk kandang, kotoran
manusia, material tanaman dan lainnya. Cara membuat biogas adalah semua bahan
organik tersebut diuraikan melalui proses fermentasi dengan menggunakan bantuan
mikroorganisme anaerobik untuk menghasilkan gas metana dan karbon dioksida. Gas
yang dihasilkan dari proses ini dapat dimanfaatkan untuk menyalakan kompor,
pembangkit listrik dan juga sebagai pemanas.
2. Kayu
Kayu juga merupakan contoh dari energi biomassa. Kayu yang dibakar dan
digunakan sebagai bahan bakar adalah bentuk sederhana dari biomassa dengan
menggunakan kayu. Energi panas yang dilepaskan oleh kayu tersebut digunakan
untuk menghasilkan panas, memask dan masih banyak lagi. Tak hanya itu saja, dalam
skala besar kayu juga digunakan untuk produksi listrik, seperti pembangkit listrik
tenaga uap.
Meskipun begitu, jenis energi alternatif ini memiliki sejumlah kekurangan,
seperti pembakaran kayu dengan emisi karbon dioksida dapat menyebabkan efek
rumah kaca. Namun jangan khawatir, karena hal ini juga dapat disiasati dengan cara
menanam lebih banyak pohon. Sehingga dapat menyerap karbon dioksida dari
atmosfer bumi.
3. Limbah pertanian
Limbah pertanian juga dapat digunakan untuk produksi energi biomassa.
Limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk energi ini adalah kotoran ternak,
ampas tebu dan juga jerami. Limbah-limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan
bakar untuk menghasilkan listrik dan juga panas.
4. Tanaman energi
Contoh dari energi biomassa selanjutnya adalah tanaman energi. Hingga saat
ini terdapat tanaman energi yang ditanam secara komersial sebagai sumber energi.
Tanaman tersebut diantaranya adalah rami, jagung, gandum dan juga kedelai.
Tanaman-tanaman tersebut memang sengaja di tanam dalam skala besar untuk
menghasilkan bahan bakar, seperti propanol, biodiesel, butanol dan juga etanol.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemanfaatan Biomassa


Biomassa adalah satu-satunya sumber energi terbarukan yang dapat diubah
menjadi bahan bakar cair (biofuel) untuk keperluan transportasi (mobil, truk, bus,
pesawat terbang dan kereta api). Di antara jenis biofuel yang banyak dikenal adalah
biogas, biodiesel dan bioethanol.
a. Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat
menyerupai minyak diesel atau solar. Bahan bakar ini ramah lingkungan karena
menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan diesel/solar,
yaitu bebas sulfur, bilangan asap (smoke number) yang rendah; memiliki cetane
number yang lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna (clear burning);
memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin; dan dapat terurai (biodegradabe)
sehingga tidak menghasilkan racun (non toxic). Menurut hasil penelitian BBPT,
biodiesel bisa langsung digunakan 100% sebagai bahan bakar pada mesin diesel tanpa
memodifikasi mesin dieselnya atau dalam bentuk campuran dengan solar pada
berbagai konsentrasi mulai dari 5%. Keuanggulan biodiesel diantaranya:
1. Angka Cetane tinggi (>50), yakni angka yang menunjukan ukuran baik
tidaknya kualitas Solar berdasarkan sifaf kecepatan bakar dalm ruang bakar
mesin. Semakin tinggi bilangan Cetane, semakin cepat pembakaran semakin
baik efisiensi termodinamisnya.
2. Titik kilat (flash point) tinggi, yakni temperatur terendah yang dapat
menyebabkan uap Biodiesel menyala, sehingga Biodiesel lebih aman dari
bahaya kebakaran pada saat disimpan maupun pada saat didistribusikan dari
pada solar.
3. Tidak mengandung sulfur dan benzene yang mempunyai sifat
karsinogen, serta dapat diuraikan secara alami
4. Menambah pelumasan mesin yang lebih baik daripada solar sehingga
akan memperpanjang umur pemakaian mesin
5. Dapat dengan mudah dicampur dengan solar biasa dalam berbagai
komposisi dan tidak memerlukan modifikasi mesin apapun
6. Mengurangi asap hitam dari gas asap buang mesin diesel secara
signifikan walaupun penambahan hanya 5% - 10% volume biodiesel kedalam
solar
Biodiesel membutuhkan bahan baku minyak nabati yang dapat dihasilkan dari
tanaman yang mengandung asam lemak seperti kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO),
jarak pagar (Crude Jatropha Oil/CJO), kelapa (Crude Coconut Oil/CCO), sirsak,
srikaya, kapuk, dll. Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Kelapa sawit merupakan salah satu
sumber bahan baku minyak nabati yang prospektif dikembangkan sebagai bahan baku
biodiesel di Indonesia, mengingat produksi CPO Indonesia cukup besar dan
meningkat tiap tahunnya. Tanaman jarak pagar juga prospektif sebagai bahan baku
biodiesel mengingat tanaman ini dapat tumbuh di lahan kritis dan karakteristik
minyaknya yang sesuai untuk biodiesel.
Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian, total
kebutuhan biodiesel saat ini mencapai 4,12 juta kiloliter per tahun. Sementara
kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 baru 110 ribu kiloliter per tahun.
Pada tahun 2007 kemampuan produksi diperkirakan mencapai 200 ribu kiloliter per
tahun. Produsen-produsen lain merencanakan juga akan beroperasi pada 2008
sehingga kapasitas produksi akan mencapai sekitar 400 ribu kiloliter per tahun. Cetak
biru (blueprint) Pengelolaan Energi Nasional mentargetkan produksi biodiesel sebesar
0,72 juta kiloliter pada tahun 2010 untuk menggantikan 2% konsumsi solar yang
membutuhkan 200 ribu hektar kebun sawit dan 25 unit pengolahan berkapasitas 30
ribu ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp. 1,32 triliun; hingga menjadi
sebesar 4,7 juta kiloliter pada tahun 2025 untuk mengganti 5% konsumsi solar yang
membutuhkan 1,34 juta hektar kebun sawit dan 45 unit pengolahan berkapasitas 100
ribu ton per tahun dengan investasi mencapai Rp. 9 triliun.

b. Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari
sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan
bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak
premium. Untuk pengganti premium, terdapat alternatif gasohol yang merupakan
campuran antara bensin dan bioetanol. Adapun manfaat pemakaian gasohol di
Indonesia yaitu : memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair, mengurangi
impor BBM, menguatkan security of supply bahan bakar, meningkatkan kesempatan
kerja, berpotensi mengurangi ketimpangan pendapatan antar individu dan antar
daerah, meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi pertanian dan industri,
mengurangi kecenderungan pemanasan global dan pencemaran udara (bahan bakar
ramah lingkungan) dan berpotensi mendorong ekspor komoditi baru. Untuk
pengembangan bioetanol diperlukan bahan baku diantaranya:
Nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa,
nira aren, nira siwalan, sari-buah mete
Bahan berpati: tepung-tepung sorgum biji, jagung, cantel, sagu, singkong/
gaplek, ubi jalar, ganyong, garut, suweg, umbi dahlia.
Bahan berselulosa (lignoselulosa):kayu, jerami, batang pisang, bagas, dll.
Adapun konversi biomasa sebagian tanaman tersebut menjadi bioethanol
adalah seperti pada tabel dibawah ini.
Biomasa (kg) Kandungan Jumlah hasil Biomasa:Bioethanol
gula (Kg) bioethanol
(Liter)
Ubi kayu 1.000 250-300 166,6 6,5 : 1
Ubi jalar 1.000 150-200 125 8:1
Jagung 1.000 600-700 400 2,5 : 1
Sagu 1.000 120-160 90 12 : 1
Tetes 1.000 500 250 4:1
Pemanfaatan Bioetanol :
Sebagai bahan bakar substitusi BBM pada motor berbahan bakar bensin;
digunakan dalam bentuk neat 100% (B100) atau diblending dengan premium
(EXX)
Gasohol s/d E10 bisa digunakan langsung pada mobil bensin biasa (tanpa
mengharuskan mesin dimodifikasi)
Pengujian pada kendaraan roda empat di laboratorium BPPT menunjukkan
bahwa tingkat emisi karbon dan hidrokarbon Gasohol E-10 yang merupakan
campuran bensin dan etanol 10% lebih rendah dibandingkan dengan premium dan
pertamax. Pengujian karakteristik unjuk kerja yaitu daya dan torsi menunjukkan
bahwa etanol 10% identik atau cenderung lebih baik daripada pertamax. Etanol
mengandung 35% oksigen sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran.

c. Biogas
Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan
bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas. Energi gas bio didominasi gas
metan (60% - 70%), karbondioksida (40% - 30%) dan beberapa gas lain dalam jumlah
lebih kecil. Gas metan termasuk gas rumah kaca (greenhouse gas), bersama dengan
gas karbon dioksida (CO2) memberikan efek rumah kaca yang menyebabkan
terjadinya fenomena pemanasan global. Pengurangan gas metan secara lokal ini dapat
berperan positif dalam upaya penyelesaian permasalahan global.
Pada prinsipnya, pembuatan gas bio sangat sederhana, hanya dengan
memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam waktu
tertentu gas bio akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber
energi, misalnya untuk kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat
membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak
untuk memproduksi gas bio dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk
organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas
metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari
sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi
secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.
Potensi kotoran sapi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan gas bio
sebenarnya cukup besar, namun belum banyak dimanfaatkan. Bahkan selama ini telah
menimbulkan masalah pencemaran dan kesehatan lingkungan. Umumnya para
peternak membuang kotoran sapi tersebut ke sungai atau langsung menjualnya ke
pengepul dengan harga sangat murah. Padahal dari kotoran sapi saja dapat diperoleh
produk-produk sampingan (by-product) yang cukup banyak. Sebagai contoh pupuk
organik cair yang diperoleh dari urine mengandung auksin cukup tinggi sehingga baik
untuk pupuk sumber zat tumbuh. Serum darah sapi dari tempat-tempat pemotongan
hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman, selain itu dari limbah
jeroan sapi dapat juga dihasilkan aktivator sebagai alternatif sumber dekomposer.(efek
rumah kaca), sehingga upaya ini dapat diusulkan sebagai bagian dari program untuk
menanggulanginya.
Untuk pengembangan biofuel, banyak hal harus dipertimbangkan antara lain :
1. Dibandingkan dengan minyak bumi dan gas yang ketersediaannya
terbatas dan pengelolaannya dikuasai oleh pihak-pihak yang sangat terbatas, biomassa
sebenarnya relatif melimpah di Indonesia dan masyarakat dapat memanfaatkannya
secara langsung. Permasalahan yang dihadapi adalah keterbatasan teknologi,
keterbatasan lahan dan keterbatasan pasar atau penggunanya. Selain itu, belum adanya
aturan
2. Hukum yang jelas dalam industri ini dan standar penggunaan bahan-
bahan untuk biodiesel dan bioetanol menyulitkan masyarakat dan produsen biodiesel
dan bioetanol untuk memperoleh pembiayaan dan menjalankan bisnisnya. Kurangnya
jaringan distribusi dan infrastruktur menyulitkan pemasaran biodiesel dan bioetanol di
pasar domestik. Sebagai konsekuensi, sebagian besar biodiesel dan bioetanol yang
diproduksi di Indonesia sekarang digunakan untuk pasar ekspor.
3. Dibutuhkan motor penggerak dan modal yang besar untuk membiayai
budi daya bahan baku baik dari segi pengadaan lahan, bibit, pupuk maupun obat-
obatan. Perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dibidang pertanian dan
perkebunan diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi usaha budi daya ini
karena besarnya biaya budidaya dan pengembangan.
4. Adanya hambatan sosial dalam pengembangan beberapa komoditas
tanaman sumber energi, misalnya tanaman jarak, harus segera ditangani untuk
membangun rasa saling percaya antara petani jarak dengan pengusaha sebagai
pengolah biji jarak. Meskipun tanaman jarak sangat potensial dikembangkan sebagai
energi terbarukan dengan harga murah, dapat ditanam di lahan kritis, dan dapat
meningkatkan pendapatan petani, tapi belum semua pihak menyadari potensi tersebut.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Biomassa


Kelebihan Biomassa
1. Sumber energi terbarukan
Biomassa berasal dari sumber-sumber seperti tanaman dan hewan, singkatnya,
merupakan sumber yang bisa diganti. Tanaman dapat tumbuh berulang-ulang
pada lahan yang sama tanpa harus mengeluarkan biaya signifikan. Bahan baku
yang selalu tersedia membuat biomassa merupakan sumber energi yang tidak
pernah habis.
2. Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil
Bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara dan lain-lain terdapat dalam
jumlah terbatas. Dibutuhkan jutaan tahun bagi pembentukan bahan bakar fosil
sehingga tidak bisa digantikan dalam waktu singkat. Bahan bakar biomassa
hadir sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada
bahan bakar fosil.
3. Mengurangi polusi
Energi biomassa bisa mengurangi polusi dalam berbagai cara. Pertama-tama,
biomassa menggunakan bahan limbah untuk kemudian mengubahnya menjadi
sumber energi. Hal ini akan mengurangi jumlah sampah yang menjadi sumber
berbagai pencemaran dan masalah lainnya. Pemanfaatan biomassa juga
membantu mengurangi kadar metana yang dilepas karena dekomposisi bahan
organik ke udara. Metana diketahui merupakan gas yang menyebabkan efek
rumah kaca dan dengan demikian sangat berbahaya bagi lingkungan. Dengan
menggunakan limbah organik sebagai sumber biomassa, maka masalah
tersebut menjadi terpecahkan. Begitu juga, menanam tanaman yang digunakan
sebagai bahan baku biomassa akan memperbanyak konsentrasi oksigen
sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida.

Kekurangan Biomassa
1. Mahal
Kelemahan listrik biomassa (misalnya) adalah bahwa energi tersebut sangat
mahal untuk diproduksi. Dibutuhkan banyak sumber daya untuk mengubah
bahan baku biomassa menjadi sumber energi yang bisa digunakan. Biaya
produksi energi biomassa masih lebih tinggi dibandingkan biaya produksi
bahan bakar fosil. Berbagai riset harus terus dilakukan untuk menekan biaya
sehingga menjadikan energi biomassa lebih ekonomis.
2. Sumber terbatas
Meskipun merupakan sumber energi terbarukan, mendapatkan bahan biomassa
bisa cukup sulit. Tanaman tertentu, misalnya, tidak tumbuh setiap tahun.
Proses pemanenan (harvesting) serta pengolahan juga membutuhkan lebih
banyak sumber daya dan energi.
3. Penyebab polusi
Poin ini bisa jadi merupakan ironi. Biomassa memang dikenal mampu
mengurangi efek rumah kaca dengan mengontrol produksi metana. Hanya
saja, jika tanaman dibakar langsung, maka aktivitas ini juga akan melepaskan
gas rumah kaca sama seperti yang diemisikan oleh bahan bakar fosil.
BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Energi berbasis biomassa berpotensi besar dalam mendukung pasokan energi
yang berkelanjutan di masa mendatang. Meskipun demikian, pengembangannya harus
dirancang sedemikian rupa sehingga berefek positif terhadap pembangunan sosial
ekonomi masyarakat dan di pihak lain juga tidak berdampak negatif terhadap
lingkungan. Semua teknologi konversi biomassa menjadi energi bisa diterapkan di
Indonesia, dengan pengembangan disesuaikan dengan besaran supply biomassa,
teknologi yang telah dikuasai, ketersediaan anggaran dan jenis produk yang
dibutuhkan pasar di masing-masing daerah. Alternatif teknologi konversi dalam
mengantisipasi kelangkaan BBM misalnya, akan lebih tepat bila teknologi gasifikasi
dan proses anaerobik yang diterapkan; selain lebih efisien, produknya pun berupa
bahan bakar gas yang dapat digunakan sebagai sumber panas, listrik dan bahan bakar
kendaraan. Peran serta masyarakat dan kebijakan pemerintah yang komprehensif dan
terintegrasi dengan sektor terkait juga perlu dirancang guna merangsang iklim
investasi yang kondusif dan kompetitif. Pengembangan energi berbasis biomassa
sebagai energi yang dapat diperbaharui pada akhirnya akan mampu mensubstitusi
bahan bakar fosil dengan kuantitas besar, yang pada gilirannya akan mereduksi
jumlah CO2 yang diemisikan ke atmosfir. Dalam konteks global, untuk mereduksi gas
rumah kaca dalam jangka panjang, pasokan biomassa yang stabil dan berkelanjutan
merupakan tuntutan mutlak bagi pengembangan energi biomassa. Dengan demikian
struktur insentif dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan perlu diciptakan secara
kompetitif.