Anda di halaman 1dari 10

Laporan praktikum "respirasi"

UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN DASAR

LAPORAN PRAKTIKUM

NAMA : RANDRIANANTENAINA Aime


NIM : 121510501201
GOL/KELOMPOK : E/2
ANGGOT : 1. NUR DWI C. (091510601041)
2. DANNY I. S (121510501130)
3. FIRDAUSI A. (121510501180)
4. AHMAD S. (121510501195)
5. AINUL G. T. (121510501200)
6. RENI F. (121510501203)
7. M. AFIF H. (121510501206)
8. FEBERY H. S. (121510501211)
9. PRICILIA M.G. (121510501213)
JUDUL ACARA : RESPIRASI
TANGGAL PRAKTIKUM : 21 MARET 2013
TANGGAL PENYERAHAN : 23 MARET 2013

ASISTEN : 1. MOH. AMINNUDDIN


2. ASRI RINA H
3. FAJAR FIRMANSYAH
4. FAKHRUSY ZAKARIYYA
5. KHUSNUL KHOTIMAH
6. NORMA LAILATUN NIKMAH
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
Belajar mengenai kehidupan, tidak akan terlepas dari pengkajian mahkluk hitup itu
sendiri, tumbuhan, hewan dan terutama manusia. Fisiologi tumbuhan dapat dikatakan berbeda
dengan fisiologi sel atau fisiologi hewan dalam beberapa aspek. Pada dasarnya, hewan dan
tumbuhan mempunyai perbedaan baik secara berkembang maupun secara bertumbuh. Tumbuhan
dapat berkembang melalui kebiasaan yang berbeda. Tumbuhan sering kali dikatakan autotroph,
karena hampir seluruh tumbuhan tidak dapat berpindah, sehingga dirinya sendiri bergantung
pada kondisi lingkungan yang telah tersedia untuk memproduksikan makanannya. Sedangkan,
hewan disebut juga sebagai heterotrof, hal ini disebabkan oleh kemampuan hewan mencari atau
membuat makanannya sendiri. Kebanyakan dari hewan dapat bergerak.
Banyak ciri-ciri yang dapat mendefinisika satu mahkluk hidup, salah satunya adalah
respirasi. Respirasi adalah suatu proses dilakukan oleh satu mahkluk hidup dengan melakukan
penyerapan udara. Salah satu ciri yang dapat membedakan tumbuhan hijau dengan mahkluk
hidup lainnya adalah kemampuannya memakai zat karbon untuk dirubah menjadi bahan organik
serta dasimilasi dalam tubuh tumbuhan. Pada umumnya, tumbuhan tingkat tinggi masuk di
golongan organisme autotroph, yaitu kemampuan tumbuhannya mensintesis senyawa organik
yang diperlukan untuk bertahan hidup tanpa bantuan. Tumbuhan hijau dapat menyediakan
oksigen dalam proses fotosintesis. Secara umum. Fotosintesis dapat didefinisikan sebagai proses
pembuatan energi atau zat makanan yang diperjalankan oleh tumbuhan dengan menggunakan air,
CO2 atau karbon dioksida dan terutama cahaya matahari. Dalam proses ini, terjadi pengubahan
zat-zat anorganik H2O dan Co2 menjadi zat organic karbohidrat. Proses tersebut dapat berjalan
apabila ada cahaya dan klorofil yang berada di kloroplas pada daun.
Telah diketahui bahwa proses fotosintesis merupakan proses penyusunan, yaitu
anabolisme di mana energi yang terdapat dari cahaya matahari akan disimpan dalam bentuk zat
kimia, maka proses respirasi merupakan suatu proses pembongkaran yang sering disebut
katabolisme dimana energi yang telah disimpan akan dibongkar kembali untuk menyelengarakan
proses-proses kehidupan.
Respirasi dapat dibedakan menjadi dua, antaranya respirasi aerob dan anaerob. Dalam
respirasi aerob,oksigen dibutuhkan untuk menghasilkan energi serta karbon dioksida. Sedangkan
dalam respirasi anaerob, tidak membutuhkan oksigen untuk menghasilkan energi. Bahan baku
dalam respirasi, yaitu karbohidrat, protein. Hasil yang terdapat dari respirasi berupa air dan
energi dalam bentuk ATP dan CO2.

1.2.Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk:
Membuktikan bahwa suhu berpengaruh pada proses respirasi
Menghitung volume O2 dan CO2 yang dihasilkan dari proses respirasi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Agar suatu tumbuhan dapat bertahan hidup, tumbuhan ini harus melakukan suatu proses,
yaitu proses sintesis karbohidrat untuk memperoleh makanan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Proses ini berlangsung pada daun yang berklorofil, dengan bantuan dari cahaya matahari sebagai
sumber energi. Dalam proses ini, cahaya matahari sangat dibutuhkan sehingga tanpa adanya
cahaya ini tumbuhan tidak akan mampu melaksanakan proses fotosintesis. Hal ini dikarenakan
oleh klorofil yang terdapat pada daun, tepatnya di kloroplast, klorofil itu tidak akan bertindak
apabila tidak ada bantuan yang berupa energi dari cahaya matahari yang membuatnya tereksitasi
(Mulyani, 1986).
Karbohidrat adalah salah satu senyawa karbon yang berada di alam sebagai molekul yang
besar da kompleks. Karbohidrat sangat Bergama misalnya monosakaroda, polisakarida dan
sukrosa. Di antara ke tiga karbohidrat tersebut, yang monosakarida adalah yang paling
sederhana. Monosarida ini dapat diikat secara bersamaan sehingga dapat membentuk dimer,
trimer dan lain sebagainya. Dimer adalah gabungan di anatara dua monosakarida sedangkan
trimer, gabungan antara tiga monosakarida (Mulyani, 1986).).
Dengan bantuan dari energi cahaya matahari, fotosintesis dapat mensintesis senyawa
organic yaitu glukosa dari zat anorganik yaitu karbon dioksida dan air. Dalam proses
tersebut,energi radiasi diubah sehingga menghasilkan energi kimia dlam bentuk NADPH dan
ATP. Hasil yang terdapat ini nantinya yang digunakan dalam proses reduksi, yaitu CO 2 menjadi
glukosa. Maka dari itu, reaksiny bisa ditulis sebagai berikut: 6CO2 + 6H2O + 6O2 + C6H12O6 +
Energi(sinar matahari)
Dalam reaksi tersebut, kondisi bahan yang dipakai berpengaruh terhadap hasilnya, sehingga
jumlah mol O2 yang diperlukan dan jumlah CO2 yang dilepaskan tidak selalu sama. Jika dilihat,
persamaan reaksi ini merupakan kebalikan dari persamaan reaksi fotosintesis (William, 2001).
Dalam reaksi respirasi, perbedaan antara O2 yang digunakan dan CO2 yang dilepaskan
biasa dikenal sebagai respiratory Quotient atau respiratory ratio atau juga dengan singkatan RQ.
Untuk respirasi, nilai RQ tersebut sangat tergantung pada substrat atau bahan. (Lambers, 2005).
Dalam proses fotosintesis, juga berjalan proses metabolisme lain yang dikenal dengan
respirasi. Respirasi adalah proses katabolisme atau juga penguraian senyawa organik menjadi
senyawa anorganik. Respirasi berjalan di dalam sel dan berlangsung baik secara aerobik maupun
secara anaerobik. Mengenai repirasi aerob, yang dibutuhkan adalah oksigen yang nantinya dapat
menghasilkan energi serta karbon dioksida. Sedangkan untuk repirasi anaerob, oksigen tidak
dibutuhkan sehingga menghasilkan senyawa selain karbon dioksida, misalnya alkohol, asam
asetat serta sedikit energi (Lambers, 2005).
BAB 3 METODOLOGI

3.1. Tempat dan waktu


Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium fisiologi tumbuhan dasar pada hari kamis
tanggal 21 Maret 2013, dari jam 14:00 sampai selesai.

3.2. Alat dan bahan


3.2.1. Alat
Indicator pp
Erlenmeyer 250cc
Neraca
Respirometer
Beaker glass
Botol semprot
Biuret

3.2.2. Bahan
Kecambah kedelai dan benih kedelai imbibisi
Larutan CaCI2 0,2 N
Kertas saring
Larutan Naoh 0,2 N
Larutan HCl 0,05 N
Aquadest
3.3. Cara kerja
1. Memasukkan sedikit NaOH (1 atau 2 gram) ke dalam dasar respirometer dan memasukkan kassa
logam ke dalam tabung objek. Lalu menutup tabung objek dengan tabung pengumpul
2. Memasukkan kecambah kacang panjan ke dalam tabung objek
3. Mengisi alat suntik dengan sedikit air dengan menyedotnya
4. Menyuntik air satu tetes kecil ke ujung atas pipa ukur dan tabung pengumpul
5. Dalam waktu beberapa lama akan terlihat perubahan tetes air dalam pipa ukur. Mengetahui
volume oksigen yang terpakai oleh kecambah tersebut setelah selang waktu tertentu .
6. Menghitung volume oksigen yang terpakai dengan rumus sebagai berikut:
V = 3,14 0,75 0,75 (perubahan posisi tetes air) mm3
Diameter pipa ukur = 1,5 mm
Berdasarkan hasil ini, mengetahui hubungan antara berat sample, waktu dan oksigen yang
terpakai

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil pengamatan

Perlakuan Volume O2 Volume CO2

Imbibisi kedelai 0,47 290,4

Kecambah kedelai 1,16 935


4.2. Pembahasan
Proses respirasi merupakan suatu proses mengubah energi kimia yang tersimpa dalam
bentuk karbohidrat untuk digunakan menggerakkan proses-proses metabolism. Proses respirasi
terdapat pada jaringan baik yang tidak berwarna hijau maupun yang berwarna hijau, dan juga
pada hewan. Respirasi dapat dibadakan menjadi dua berdasarkan ketersedian udara, yaitu
respirasi aerob dan anaerob. Pada respirasi aerob, ketersedian oksigen sangat dibutuhkan untuk
menghasilkan energi. Sedangkan pada respirasi anaerobik, tidak membutuhkan oksigen namun
dapat menghasilkan senyawa lain seperti karbondioksida. Bahan baku dalam proses respirasi
adalah protein, asam lemak, dan juga karbohidrat. Proses respirasi dapat menghasilkan CO 2, dan
energi dalam bentuk ATP. Reaksi proses ini dapat ditulis sebagai berikut: C 6H12O6 + O2 6CO2
+ H2O + energi (Campbell, 2009)
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi laju repirasi, yaitu ketersediaan substrat,
ketersedian oksigen, suhu, tipe dan umur tumbuhan. Mengenai ketersediaan substrat, hal ini
sangat penting dalam pelaksanaan respirasi karena proses ini tergantung pada ketersidiaanya
substrat. Apabila pada tumbuhan yang persediaan substratn yang berupa karbohidrat rendah,
maka laju respirasinya juga akan rendah. Demikian pula, apabila persediaan karbohidrat agak
banyak, maka laju respirasi akan meningkat juga. (Mulyani, 2007)
Selanjutnya, ketersediaan oksigen juga dapat mempengaruhi proses repirasi. Hal ini
dikarenakan oleh fungsinya oksigen sebagai terminal penerimaan electron, jadi apabila
konsentrasinya oksigen rendah maka laju respirasi baik secara aerobic maupun anaerobic dapat
berjalan bersamaan. Sedangkan, jika kadarnya oksigen meningkat maka laju respirasi aerob akan
lebih cepat juga, namun laju respirasi anaerob tidak akan berjalan lagi sehingga berhenti. Di
antaranya, rupanya pengaruh tersebut tidak selalu sama untuk masing-masing sepsis. (Mulyani,
2007)
Adapun pengaruh yang terdapat dari suhu. Faktor ini sangat berkaitan dengan faktor Q10,
dimana suhu dan laju reaksi respirasi berubah secara bersamaan, yaitu setiap kali suhu naik
sebesar 10o C, maka laju respirasi juga meningkat. Demikian juga pada suhu 0 oC, laju repirasi
sangat rendah. Apabila suhu tersebut naik sampai 35-45 oC maka perlajuan respirasi sangat cepat,
akan tetapi temperature yang terlalu panas akan menurunkannya. Hal ini dikarenakan oleh
enzim-enzim yang mengalami denaturasi pada suhu di atas 45oC. (Mulyani, 2007)
Ada juga pengaruh yang terapat dari tipe dan umur tumbuhan. Karena proses
metabolisme antara semua spesies tumbuhan berbeda-beda, maka respirasi yang dibutuhkan oleh
tumbuhan juga berbeda-beda,tergantung pada spesiesnya. Laju respirasi yang terdapat pada
tumbuhan muda atau jaringan muda lebih tinggi dibandingkan dengan yang sudah tua. Begitu
pula pada jaringan yang masih dalam saat perkembangan, respirasinya lebih kuat daripada
jaringan yang sudah matang. (Mulyani, 2007)
Pada hakikatnya, respirasi adalah reaksi redoks dimana CO 2 adalah hasil dari oksidasi
substrat. Substrat respirasi ini merupakan senyawa-senyawa yang berada pada sel tumbuhan
yang direspirasikan menjadi H2O dan CO2 atau juga senyawa-senyawa organik yang mengalami
proses oksidasi. Salah satu substrat respirasi adalah karbohidrat. Macam substrat ini merupakan
substrat utama dalam respirasi yang berada pada sel tumbuhan tinggi. Selain karbohidrat, ada
juga substrat respirasi yang mempunyai kepentingan lain, yaitu jenis-jenis gula seperti sukrosa,
fruktosa, dan glukosa; asam organic; pati; dan protein. Macam-macam substrat tersebut
digunakan pada spesies dan keadaan tertentu. (Campbell, 2006)
Proses respirasi, untuk dapat menghasilkan energi, ATP harus melalui beberapa tahapan.
Yang pertama adalah glikolisis. Tahapan ini merupakan proses dimana glukosa berubah menjadi
dua molekul asam. Tahapan ini berjalan di sitosol. Dua molekul asam tersebut nantinya akan
digunakan dalam proses dekarboksilasi oksidatif. Juga glikosis dapat menghasilkan dua molekul
NADPH dan energi dalam bentuk molekul ATP. (Salisbury, 2009)
Tahapan yang kedua adalah dekarboksilasi oksidatif. Tahapan ini berlangsung di sitosol
juga. Dalam proses ini, asam piruvat yang beratom C3 berubah menjadi asetil yang beratom C2
dengan melepaskan CO2. Asetil tersebut yang nantinya akan dugunakan pula dalam siklus asam
sitrat. Dan hasil lain dalam bentuk NADPH digunakan dalam transport electron. (Salisbury,
2009)
Selanjutnya, tahapan yang ke tiga adalah siklus asam sitrat. Tahapan ini berlangsung pada
membran dan matriks dalam mitokondria. Pada tahapan ini, asetil diolah dengan senyawa asam
sitrat. Ada beberapa seyawa yang dapat dihawilkan pada proses ini, salah satunya adalah 1
molekul ATP, 2 molekul CO2, serta FADH dan NADPH yang akan diproses dala transfer
electron. (Salisbury, 2009)
Tahapan yang keempat dan juga yang terakhir adalah trannsfer elektron. Proses ini
berlangsung pada membran dalam mitkondria dimana electron akan ditransfer oleh enzim
quinon, sitokrom, flavoprotein dan piridoksin. Reaksi ini dapat menghasilkan H2O. (Salisbury,
2009)
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, percobaan menghasilkan data pada
imbibisi kedelai dan kecambah kedelai sebagai berikut, pada imbibisi kedelai jumlah volume O 2
sebesar 0,47 dan Jumlah CO2 sebesar 290,4 sedangkan pada kecambah kedelai jumlah O 2 sebesar
1,16 dan jumlah CO2 sebesar 935. Dari data tersebut, dapat diketahui keadaan respirasi. Reaksi
respirasi yang terdapat ini merupakan respirasi aerob karena adanya oksigen di dalamnya, dan
juga adanya CO2 merupakan indiasi kecepatannya laju respirasi. Dengan demikian, makn
banyaknya jumlah CO2 maka makin baik respirasi yang sedang berlangsung. Berdasarkan data
tersebut pula, dapat dikatakan bahwa respirasi yang terjadi pada imbibisi kedelai lebih baik
deibandingkan denga respirasi yang terjadi pada imbibisi kedelai. Hal ini disebabkan oleh
kebutuhan akan energi tanaman yang sudah berkecambah, yaitu energi yang dibutuhkan lebih
banyak untuk proses perkecambahan sehingga proses perombakan makanan lebih aktif dilakukan
oleh benih. Benih yang sudah berkecambah membutuhkan lebih banyak energi karena proses
perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan awal tumbuhan (Salisbury).

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan ini, dapat disimpulkan bahwa:
Tumbuhan sebagai salah satu mahkuk hidup, melakukan proses respirasi juga dengan bantuan
dari beberapa alat pernafasan.
Pada proses respirasi terjadi penyerapan oksigen dan menghasilkan karbon dioksida serta energi
dalam bentuk ATP
Sebelum menjadi sempurna, respirasi memiliki tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam sel
untuk dapat digunakan oleh tumbuhan.
Salah satu substrat yang dapat digunakan untuk respirasi adalah karbohidrat
Banyak faktor yang dapat menpengaruhi laju repirasi, salah satunya adalah suhu.
Pada percobaan ini, dapat diketahui bahwa jumlah CO 2 dan O2 yang terdapat pada imbibisi
kedelai lebih kecil dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh kecambah kedelai.

5.2. Saran
Praktikan harus bersungguh-sungguh agar tujuan pelaksanaan percobaan ini dapat dicapai tanpa
kesulitan
Saran dan kritis dari pembaca sangat saya butuhkan agar bisa memperbaiki penilitian di masa
mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
Andika Wijaya K. 2008. Penggunaan tumbuhan sebagai bioindikator dalam pemantauan pencemaran
udara. Bogor IPB. Jurnal Ilmu Pertanian. Hal.1-58
Campbell Reece, Mitchell. 2006Biologi Jl. 2 (lux) Ed. 5. Surabaya. Erlangga
Diana Septriana, Andry Indrawa, Endes Nurfilmarasa, dan Nengah Surati. 2010. Prediksi kebutuhan
hutan kota berbasis oksigen di kota Padang, Sumatera Barat. Bandung IPB. Jurnal manajemen
Hutan tropika vol X. hal 47-57
Frank B. Salisbury, Cleon W. Ross. 2009. Plant physiology. California. Wadsworth Pub.
Gangsar Bayu Setia Nugroho, Retno Hartati, Koen Praseno. 2012. Histokomparatif Organ Integumen,
Intestinum, Pohon Respirasi Pada Beberapa Jenis Teripang Dari Perairan Karimunjawa.
Semarang Universitas Diponegoro. Jurnal of Marine research. Hal 67-74
Giyatmi Wahyu Lestari, Solichatun, Sugiyarto. 2008. Pertumbuhan, Kandungan Klorofil, dan Laju
Respirasi Tanaman Garut (Maranta arundinaceaL.) setelah Pemberian Asam Giberelat (GA3).
Surakarta GMIPA UNS. Jurnal bioteknologi. Hal 1-9
Sri Mulyani, 2008. Anatomi Tumbuhan. Surabaya. Kanisius
Hans Lambers, Miquel Ribas-Carb. 2005. Plant Respiration: From Cell to Ecosystem Volume 18 dari
Advances in Photosynthesis and Respiration. Springfield. Springer
Mawar Puspitaningrum, Munifatul Izzati, Sri Haryanti. 2012. Produksi dan konsumsi oksigen terlarut
oleh beberapa tumbuhan air. Semarang UNDIP. Jurnal produksi dan konsumsi oksigen. Hal 47-
55
William G. Hopkins. 2009. Photosynthesis and Respiration, The Green World Series. Seattle. Infobase
Publishing