Anda di halaman 1dari 13

STATUS PASIEN AFEKTIF

ILMU KESEHATAN JIWA


RSJD AMINO GONDOHUTOMO

Disusun oleh:
Henderina W. Doko Rehi
112013013

Pembimbing: dr. Endang S. Sp KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
SEMARANG
2013

I. DATA PRIBADI
Nama : Tn. T
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 55 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku / Warga negara : Jawa/ Indonesia
Alamat : Wonotribaru 1 no. 28
Status pernikahan : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal pemeriksaan : 28 November 2013
No.RM : 087652

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Alloanamnesis diperoleh dari :
Nama : Tn. S
Alamat : Wonotribaru 1 no. 28
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : D3
Umur : 30 thn
Agama : Islam
Hubungan : Anak Kandung
Lama kenal : 30 tahun
Sifat perkenalan : akrab
A. Sebab dibawah ke Rumah sakit
Keluhan pasien :
Pasien merasa ketakutan, binggung yang berlebihan, sulit tidur, cemas dan ingin
mati.
Keluhan keluarga/pengantar :
Pasien sering gelisah, ketakutan dan mencoba untuk bunuh diri.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
4 tahun yang lalu sebelum pasien masuk ke rumah sakit, pasien mengeluhkan
sering cemas dan khawatir yang berlebihan. Kecemasan dan kekhawatiran ini menurut
pasien berhubungan dengan siapa dirinya, dan tujuannya berada di dunia ini. Tetapi
pasien masih bisa mengatasi kecemasan dan kekhawatirannya dengan ibadah dan
bekerja pada warung miliknya. Pasien mengaku tidak mengetahui penyebab
kecemasan dan kekhawatiran pada pasien. Pasien mengaku masih bisa tidur dengan
nyenyak pada malam hari. Waktu luang digunakan oleh pasien dengan menjaga
warung, menonton tv, dan bermain dengan cucunya. Kegiatan sehari-hari seperti
makan, mandi masih dilakukan oleh pasien dengan inisiatif sendiri. Hubungan pasien
dengan keluarga dan tetangga cukup baik. (GAF 90)
3 tahun yang lalu sebelum pasien masuk ke rumah sakit, kecemasan dan
kekhawatiran pasien masih terus berlangsung dan tak kunjung hilang. Anak pasien
menyarankan pasien untuk di bawah ke Rumah Sakit dan diperiksa. Tetapi pasien
menolaknya. Pasien merasakan bahwa pasien tidak sakit dan tidak perlu di bawah ke
Rumah Sakit. Pasien menyatakan bahwan kecemasan yang di rasakan olehnya masih
bisa diatasi dengan melakukan diskusi-diskusi keagamaan dengan keluarga dan
tetangga sekitar. Pasien mengaku masih bisa melakukan aktivitas seperti mandi,
makan, dan sholat atas inisiatif sendiri. Waktu luang di gunakan untuk diskusi
keagamaan, menonton tv dan menjaga warung. (GAF 80)
2 tahun yang lalu sebelum pasien masuk rumah sakit, pasien merasakan
kecemasannya makin berat sehingga membuat pasien tidak nyaman. Pasien mengaku
tidak mengetahui penyebab kecemasan dan kekhawatiran pada pasien. Hal ini
menyebabkan terjadinya penurunan aktivitas pada pasien. Dimana pasien mulai
merasakan tidak bisa tidur pada malam hari, merasakan gelisah yang luar biasa perihal
siapa pasien, tujuan dan manfaat hidupnya buat orang lain. Pasien juga merasa tidak
berguna. Hal ini menyebabkan pasien mau berobat. Pasien mengaku pernah menjalani
pengobatan di berbagai Rumah Sakit di Semarang. (GAF 60)
1,5 tahun yang lalu sebelum pasien masuk ke rumah sakit, pasien sering berobat
ke Rumah Sakit dan mendapatkan obat. Status pasien saat itu adalah pasien rawat
jalan. Pasien pernah diminta untuk masuk ke RSJD Amino GondoHutomo untuk
dilakukan obeservasi lebih lanjut, namun pasien monolaknya dengan alasan
kecemasan, ketakutan dan kekhawatirannya masih bisa di obati menggunakan obat-
obatan. Melalui pengobatan, pasien merasakan bahwa aktivitasnya menjadi normal
kembali dimana pasien bisa melakukan sholat, bisa tidur dengan nyeyak pada malam
hari, bisa kembali menjaga warung. Waktu luang pasien masih bisa digunakan untuk
menonton tv, tidur siang dan bermain dengan cucu pasien. (GAF 70)
6 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan bahwa
pasien kadang mengalami kesulitan tidur tapi kesulitan tidurnya hanya 2 kali dalam
seminggu. Kegiatan sehari-hari seperti makan dan minum masih berdasarkan inisiatif
sendiri. Hubungan dengan keluarga dan tetangga sekitar juga masih baik. Pasien
masih bisa melakukan sholat. (GAF 50)
2 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien merasakan gelisah, ketakutan yang
berlebihan, sulit tidur, cemas, merasa putus asa dan tidak berguna. Pasien merasa takut
ketika melihat atau mendengarkan berita tentang mutilasi. Pasien takut kalau akan
mati dengan cara seperti di mutilasi. Selain itu pasien juga merasakan iba yang
mendalam ketika melihat orang gila atau orang yang jelek. Menurut anak pasien,
pasien mulai menarik diri dari lingkungan sekitar, aktivitas menurun karena pasien
merasakan bahwa pasien sakit, pasien mudah lelah, kurangnya nafsu makan dan
hubungan pasien dengan keluarga dan tetangga mulai menurun. (GAF 40)
1 minggu sebelum pasien masuk rumah sakit, pasien merasa makin gelisah,
tidak bisa tidur saat malam hari, merasa ketakutan yang berlebihan perihal kematian,
putus asa, dan merasa kasian yang berlebihan pada orang yang kurang mampu.
Menurut pasien dan dibenarkan oleh anaknya, pasien mencoba bunuh diri dengan
munggunakan obat yang diberikan pada pasien. Selain itu pasien mencoba bunuh diri
dengan menghantam kepalanya ke tembok. Pasien mengaku tidak mendengar suara-
suara bisikan tanpa diketahui sumbernya, tidak melihat-lihat bayangan aneh yang
orang lain tidak melihatnya. Penggunaan waktu luang oleh pasien digunakan dengan
berjalan-jalan di dalam rumah tanpa arah yang jelas, pasien tidak lagi menjaga warung
miliknya, pasien kurang bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga sekitar namun
demikian mandi dan makan masih atas inisiatif pasien. Selain itu pasien mudah lelah,
dan merasa kurangnya nafsu makan. (GAF 20)
Saat datang ke rumah sakit, menurut informasi dari anak kandung pasien, pasien
dibawa karena sering merasakan gelisah, putus asa, ketakutan berlebihan perihal
kematian, dan terutama karena pasien mencoba untuk bunuh diri menggunakan obat-
obatan miliknya.Tindakan itu dilakukan pasien karena ia merasa pikirannya semakin
kacau. (GAF 20)
Saat dilakukan pemeriksaan, pasien tampak tenang, dan kooperatif. Penampilan
pasien rapi dan sesuai dengan umur. Menurut pasien saat diwawancara, pasien merasa
gelisa, putus asa, merasa dunia tidak adil, dan ingin bunuh diri. (GAF 20)

C. Riwayat Sebelumnya
1. Psikiatri
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya ataupun
mengalami keluhan yang berkaitan dengan keluhan yang pasien alami saat ini.
2. Medis Umum
Riwayat kejang : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat Asma : disangkal
Riwayat trauma kepala : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat nyeri dada/jantung : disangkal

Riwayat agresifitas dan bunuh diri : agresifitas disangkal, keinginan bunuh diri
(+)
3. Penggunaan Obat-obatan dan NAPZA
Penggunaan obat-obatan dan NAPZA disangkal oleh pasien
D. Riwayat Pramorbid
1. Prenatal dan Perinatal
Tidak terdapat kelainan yang ditemukan selama masa kehamilan dan
persalinan. Kelahirannya direncanakan dan merupakan kebahagian untuk
keluarganya. Pasien lahir cukup bulan, dilahirkan secara normal pervaginam
dengan ditolong oleh bidan di rumah. Berat badan saat lahir tidak diketahui.
kelainan fisik, maupun cacat bawaan tidak ada. Pasien merupakan anak
pertama dan terakhir.
2. Masa Kanak Awal (sampai 3 tahun)
Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pertumbuhan dan perkembangan
pasien sesuai dengan usianya. Data lengkap tidak didapatkan.
3. Masa Kanak Pertengahan (3-7 tahun)
Pasien bersekolah taman kanak-kanak pada umur 5 tahun dan masuk ke
sekolah dasar pada umur 7 tahun.
4. Masa Kanak Akhir dan Remaja (7-11 tahun)
Pasien bersekolah SD di dekat rumahnya, pasien memiliki teman yang cukup
banyak di sekolahnya, tidak pernah memiliki masalah dengan teman ataupun
gurunya. Saat kelas 2 SD, pasien pernah tinggal kelas. Pasien menyatakan
bahwa pasien tidak dapat mengikuti pelajaran disekolah saat itu dengan baik
karena merasa tidak bisa fokus. Tetapi pasien dapat menyelasaikan pendidikan
SD dengan baik. Selain itu saat usia pasien 10 tahun, pasien mengaku suka
melamun dan menyendiri. Pada kondisi itu, pasien sering memikirkan sendiri
siapa namanya? Atau tentang siapa dirinya?
5. Masa Remaja (12-18 tahun)
Saat masuk SMP usia pasien 13 tahun. Saat bersekolah di SMP, pasien
memiliki banyak teman dan hubungan dengan teman-temannya cukup baik.
Pasien dapat mengikuti proses pembelajaran di sekolah dengan baik sehingga
pasien dapat menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMP. Tetapi sepanjang
perjalanan hingga ke SMP, pasien juga sering melamun dan menyendiri dan
terus memikirkan tentang dirinya perihal siapa dirinya?
6. Masa Dewasa
a. Riwayat pendidikan
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, pasien melanjutkannya ke tingkat
STM. Hubungan pasien dengan teman dan guru di sekolah baik. Pasien
tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolahnya, sehingga pada saat kelas 2
STM, pasien pernah tinggal kelas. Hal ini disebabkan karena pasien tidak
bisa memikirkan pelajarannya akibatnya pasien tidak masuk ke sekolah.
Akan tetapi pasien dapat menyelesaikan pendidikan STMnya.
b. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah menjadi penjual es keliling dan sales. Selain itu pasien
memiliki usaha warung.
c. Riwayat keagaman
Pasien adalah orang yang taat beragama hal ini dengan seringnya pasien
sholat. Tetapi dalam 2 bulan terakhir ini pasien jarang melakukan sholat.
Bahkan pasien mengaku pernah ke gereja beberapa kali karena gelisah dan
pikirannya tidak tenang.
d. Riwayat perkawinan
Pasien telah menikah dan memiliki satu anak laki-laki dan dua anak
perempuan.
e. Riwayat militer
Pasien tidak pernah mengikuti kegiatan militer.
f. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat masalah
hukum.
g. Riwayat sosial
Pasien daat bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan sekitar pasien.
Tetapi saat 2 bulan terakhir ini, pasien kurang bersosialisasi dengan baik di
karenakan pasien merasa dirinya sakit, dan sakitnya membuat pasien
enggan untuk melakukan sesuatu kegiatan bersama tetangga.
h. Situasi hidup sekarang
Saat ini pasien tinggal bersama anak pertama dan anak keduanya.
7. Riwayat Psikososial
Pasien tidak ada riwayat penyimpangan atau penyiksaan atau pelecehan
seksual dari masa kanak-kanak sampai dengan dewasa.
8. Riwayat Keluarga

: Pasien : Laki-laki : Perempuan

: Tinggal serumah
9. Mimpi, Fantasi dan Nilai-nilai
Pasien ingin sembuh dari penyakitnya.

10. Kurva Perjalanan Penyakit


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan umum
Seorang pria berusia 55 tahun, tampak sesuai dengan usia. Kerapihan dan
kebersihan cukup.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Hiperaktif :(-) perseverasi :(-)
Normoaktif : ( ) verbigenasi :(-)
Hipoaktif : (- ) echolalia :(-)
Stupor :(-) echopraxia :(-)
Gelisah :(-) negativisme aktif :(-)
Berkoordinasi :(-) gerakan otomatif :(-)
Stereotipik :(-) gerakan autochlon :(-)
Maniseren :(-) kleptomania :(-)
Grimaseren :(-) pyromania :(-)
Ambivalensi :(-) gerakan impulsive :(-)
Giggling :(-) portomania :(-)
Tak berkoordinasi :(-) mutisme :(-)

3. Sikat terhadap pemeriksa


Indifferent :(- ) curiga :(- )
Apatis :(- ) berubah-ubah :(- )
Kooperatif :() tegang :(- )
Negativisme pasif :(- ) pasif :(- )
Dependent :(- ) aktif :(- )
Infantil :(- ) katalepsi :(- )
Rigid :(- ) permusuhan :(- )
4. Mood dan afek

Mood
Disforik :(-) paratimi :(- )
Eutimi :(-) tension :(- )
Hipertimi :(-) parkilotimia : ( - )
Hipotimi : ( ) depersonalisasi: ( - )

Afek
Serasi :(-) tumpul : ( - )
Tidak serasi :(-) labil : ( - )
Terbatas :(-) datar : ( - )
Depresif : ( )
B. Pembicaraan
Kualitas : cukup
Kuantitas : cukup

C. Gangguan Presepsi
Halusinasi Ilusi
Visual :(-) visual :(-)
Auditorik : ( - ) auditorik :(-)
Olfaktorik : ( - ) olfaktorik :(-)
Gustatorik : ( - ) gustatorik :(-)
Taktil :(-) taktil :(-)

D. Pikiran
1. Proses Pikir (Bentuk Pikir)
Bentuk pikir : Realistik
2. Arus Pikir
Flight of idea :(-) perseverasi :(-)
Asosiasi longgar :(-) verbigenasi :(-)
Inkoherensi :(-) blocking :(-)
Sirkumstansial :(-) retardasi :(-)
Tangensial :(-) irrelevant :(-)
Neologisme :(-) lancar :()

3. Isi Pikir
a. Thought of echo :(-)
Thought of insertion :(-)
Thought of withdrawal :(-)
Thought of broadcasting :(-)

b. Delusion of control :(-)


Delusion of influence :(-)
Delusion of passivity :(-)
Delusion of perception :(-)
c. Waham kebesaran :(-)
Waham berdosa :(-)
Waham kejar :(-)
Waham curiga :(-)
Waham cemburu :(-)
Waham magik mistik :(-)
Waham rendah diri :(-)
Waham hipokondrik :(-)
d. Preokupasi :(-)
e. Obsesif kompulsif :(-)
f. Phobia :(-)

E. Sensorium dan Kognitif


1. Kesadaran : Jernih
2. Orientasi :
a. Waktu : baik
b. Tempat: baik
c. Personal : baik
d. Situasional : baik
3. Daya Ingat :
a. Segera : baik
b. Jangka pendek: baik
c. Jangka panjang: baik
4. Konsentrasi dan Perhatian : baik, tidak mudah teralihkan
5. Kapasitas Membaca dan Menulis : cukup
6. Kemampuan Visouspasial : baik
7. Pikiran Abstrak : baik

F. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls : Baik

G. Tilikan
Derajat tilikan yang dimiliki pasien :
1. Menyangkal sepenuhnya bahwa ia mengalami penyakit/gangguan.
2. Sedikit memahami adanya penyakit pada dirinya dan membutuhkan
pertolongan dan pada saat yang bersamaan pasien sekaligus menyangkal
penyakitnya.
3. Pasien menyadaridirinya sakit namun menyalahkan orang lain atau penyebab
eksternal atau faktor organik sebagai penyebabnya.
4. Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namun tidak memahami
penyebab sakitnya.
5. Intellectual insight : pasien menerima kondisi dan gejala-gejala sebagai bagian
dari penyakitnya dan hal ini disebabkan oleh gangguan yang ada dalam diri
pasien , namun tidak menerapkan pemahamannya ini untuk melakukan sesuatu
selanjutnya (misalnya perubahan gaya hidup)
6. Emotional insight : pasien memahami kondisi yang ada dalam dirinya seperti
tilikan derajat 5 namun pasien juga memahami perasaan dan tujuan yang ada
dalam pasien sendiri dan orang yang penting dalam kehidupan pasien. Hal ini
menyebabkan adanya perubahan perilaku.

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus
1. Keadaan Umum : Baik
2. Berat / Tinggi badan : 50,5 kg
3. Kesadaran : Jernih
4. Tanda vital : TD : 110/80 Nadi : 80x/mnt RR : 20x/mnt
5. Kepala : Normocephali
6. Leher : Dalam batas normal
7. Toraks : Cor dan Pulmo tidak ditemukan kelainan
8. Abdomen : Tidak ditemuan kelainan
9. Ekstermitas : Tidak ditemukan kelainan
10. Status Neurologis
GCS : E4 V5 M6
Kelemahan/kelumpuhan alat gerak motorik : Tidak ditemukan kelainan
B. Laboratorium
Kesan :
C. Pemeriksaan Penunjang Lain (EKG/Foto toraks/EEG/CT Scan)

V. FORMULA DIAGNOSTIK
Dihadapkan pada seorang pria berusia 55 tahun, beragama islam, suku Jawa,
beralamat di Wonotribaru dengan pendidikan terakhir SMA dan pekerjaan wiraswasta
diantar oleh keluarga dengan keluhan utama pasien merasa ketakutan, binggung yang
berlebihan, sulit tidur, cemas dan ingin mati. Berdasarkan hasil pemeriksaan riwayat pasien,
pasien mengalami penurunan fungsi hendaya yaitu peran dan fungsi sosial.
4 tahun sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan sering cemas dan
khawatir yang berlebihan. Kecemasan dan kekhawatiran ini menurut pasien berhubungan
dengan siapa dirinya, dan tujuannya berada di dunia ini. 3 tahun sebelum masuk rumah
sakit, kecemasan dan kekhawatiran pasien masih terus berlangsung dan tak kunjung hilang
tetapi pasien masih bisa mengatasinya dengan diskusi-diskusi keagamaan. 2 tahun
sebelum masuk rumah sakit, kecemasannya dan kegelisahan makin berat sehingga membuat
pasien tidak nyaman. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan aktivitas pada pasien.
Dimana pasien mulai merasakan tidak bisa tidur pada malam hari, merasakan gelisah yang
luar biasa perihal siapa pasien, tujuan dan manfaat hidupnya buat orang lain. Pasien juga
merasa tidak berguna. Hal ini menyebabkan pasien mau berobat. 1,5 tahun sebelum
masuk rumah sakit, pasien pernah diminta untuk dirawat inap agar bisa di observasi tetapi
pasien merasa kalau penyakitnya masih bisa diatasi dengan menggunakan obat. 6 bulan
sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan bahwa pasien kadang mengalami
kesulitan tidur tapi kesulitan tidurnya hanya 2 kali dalam seminggu. 2 bulan sebelum
masuk rumah sakit, pasien merasakan gelisah, ketakutan yang berlebihan, sulit tidur, cemas,
merasa putus asa dan tidak berguna. Pasien merasa takut ketika melihat atau mendengarkan
berita tentang mutilasi. Pasien takut kalau akan mati dengan cara seperti di mutilasi. Selain
itu pasien juga merasakan iba yang mendalam ketika melihat orang gila atau orang yang
jelek. pasien mulai menarik diri dari lingkungan sekitar, aktivitas menurun karena pasien
merasakan bahwa pasien sakit, pasien mudah lelah, kurangnya nafsu makan dan hubungan
pasien dengan keluarga dan tetangga mulai menurun. 1 minggu sebelum pasien masuk
rumah sakit, pasien merasa makin gelisa, tidak bisa tidur saat malam hari, merasa ketakutan
yang berlebihan perihal kematian, putus asa, dan merasa kasian yang berlebihan pada orang
yang kurang mampu. Menurut pasien dan dibenarkan oleh anaknya, pasien mencoba bunuh
diri dengan munggunakan obat yang diberikan pada pasien.
Dari riwayat pramorbid ditemukan sejak usia 10 tahun pasien sering bertanya-tanya
tentang siapa dirinya, dan tujuan hidupnya. Pasien juga pernah tinggal kelas saat kelas 2 SD
dan kelas 2 STM.
Diagnosis Aksis I:

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan, pasien tidak memilik riwayat trauma dan
kondisi medis lain yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi fungsi otak,
oleh karena riwayat penggunaan ataupun penyalahgunaan zat sehingga diagnosis
gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat (F10-19) dapat disingkirkan.

Diagnosis lebih diberatkan pada F32.2 Episode Depresi Berat tanpa Gejala Psikotik
karena pasien seringkali mengeluhkan sering merasa ketakutan yang berlebihan, putus
asa, cepat lelah, penurunan nafsu makan, mempunyai keinginan untuk bunuh diri, dan
kehilangan minat dan kegembiraan. Selain itu juga pasien merasa tidak berguna dan tidak
tau akan tujuan hidupnya. Tampak afek depresif pada wajah pasien saat dilakukan
pemeriksaan. Dimana pasien tampak tidak tenang dalam hal ini tidak bisa duduk dalam
waktu yang agak lama namun pasien masih dapat kooperatif.

Diagnosis aksis II:

Berdasarkan anamnsis riwayat promorbid, ditemukan bahwah sejak umur 10 tahun


pasien memiliki ciri kepribadian cemas. Hal ini juga nampak saat pasien kelas 2 SD dan
kelas 2 STM pernah tidak naik kelas.

Diagnosis aksis III:


Pada pemeriksaaan fisik tidak ditemukan kelainan ataupun kondisi medis yang
bermakna sehingga diagnosis aksis III tidak dapat ditegakkan

Diagnosis aksis IV:

Pada saat anamnesis tidak dapat ditarik kesimpulan faktor pencetus atau stressor apa
yang mencetuskan penyakit pasien.

Diagnosis aksis V:

Pada empat tahun terakhir pasien masih dapat melakukan fungsi kehidupannya
dengan baik, dan tidak ada masalah yang berarti bagi diri pasien sehingga nilai GAF 100.

Pada saat di wawancara, pasien merasa gelisah, putus asa, merasa dunia tidak
adil, dan ingin bunuh diri. (GAF 20)

VI. DIAGNOSTIK MULTIAKSIAL


Menurut PPDGJ-III
Aksis I : F32.2 episode depresi berat tanpa gangguan psikotik
DD : F41.1 gangguan cemas menyeluruh
F.41.2 gangguan campuran anxitas dan depresi
Aksis II : Z03.2 Tidak ada diagnosis
Aksis III : tidak ada diagnosis
Aksis IV : tidak ada (none)
Aksis V : GAF mutakhir : 20
GAF saat masuk : 20
GAF saat diperiksa : 50
VII. PROGNOSIS

Baik:

1. Faktor pencetus jelas (-)


2. Onset akut (-)
3. Usia 15-25 tahun (-)
4. Gejala positif menonjol (-)
5. Riwayat sosial ekonomi dan pramobid baik (-)
6. Menikah ()
7. Sistem pendukung yang baik ()
8. Status ekonomi baik ()
9. Tidak ada kekambuhan (-)
10. Tidak ada keluarga sakit jiwa ()
Buruk

1. Faktor pencetus tidak jelas ()


2. Onset kronis ()
3. Usia dibawah 15 tahun dan diatas 75 tahun (-)
4. Gejala negatif menonjol ()
5. Riwayat sosial ekonomi dan premorbid buruk ()
6. Tidak menikah (-)
7. Sistem pendukung sosial yang buruk (-)
8. Status ekonomi buruk (-)
9. Kekambuhan ()
10. Ada keluarga yang sakit jiwa (-)

Prognosis: dubia at malam

VIII. RENCANA KERJA


a. Farmakotherapi
b. Rawat inap

IX. PENATALAKSANAAN
A. Farmakoterapi:
Fluoxetine 1x20mg
B. Non farmakologi
1. Terapi keluarga: memberi pemahaman kepada keluarga pasien penyakit yang
diderita pasien dan
2. Terapi suportif: memberi dukungan kepada pasien agar merasa nyaman dan
mengajarkan pasien untuk mengubah pola pikirnya yang selama ini salah perlahan-
lahan melalui pendekatan khususnya melalui keluarganya serta memnerikan
pengertian kepada pasien agar ia rajin meminum obat yang diberikan secra teratur.