Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan suatu komponen utama dalam kehidupan. Air hampir selalu
dibutuhkan bagi semua kegiatan manusia baik di bidang industri, pertanian,
peternakan, perikanan, dll. Sedemikian besarnya peranan air bagi manusia, namun
jika keberadaan tidak dikelola dan dikendalikan secara tepat maka keberadaannya
akan menjadi bumerang bagi manusia. Tidak sedikit bencana terjadi disebabkan
karena kurang tepatnya pengelolaan air seperti bencana kekeringan, banjir atau tanah
longsor.

Dalam dunia pertanian, air mempunyai peranan yang penting bagi


pertumbuhan tanaman. Air bagi tanaman merupakan komponen penyusun tubuh
tanaman, air juga dimanfaatkan tanaman dalam proses fotosintesis. Senada dengan
poin di atas, bahwa keberadaan air bagi tanaman juga harus dikelola dan
dikendalikan. Kelebihan air akan direspon tanaman dengan terjadinya pembusukan,
sedangkan kekurangan air juga akan direspon tanaman dengan terjadinya layu
sampai kekeringan.

Bagi sebagian besar masyarakat pertanian sejak jaman dahulu, pemenuhan


kebutuhan air bagi tanaman mengandalkan curah hujan. Namun beberapa tahun
belakangan terjadi pergeseran bahkan kekacauan iklim yang berpengaruh terhadap
tingkat curah hujan. Hal ini tentu saja merugikan bagi masyarakat pertanian. Untuk
itulah diperlukan kegiatan irigasi dan drainase yang pada dasarnya bertujuan untuk
mencukupi kebutuhan air tanaman sesuai dengan fase pertumbuhannya. Sebenarnya
irigasi dan drainase sudah dikenal sejak jaman Mesir Kuno dengan memanfaatkan air
dari sungai Nil. Di Indonesia, irigasi dan drainase juga sudah dikenal sejak jaman
nenek moyang dengan membendung aliran sungai untuk dialirkan ke sawah-sawah
yang membutuhkannya. Bahkan beberapa waduk juga dibangun yang salah satu
fungsinya adalah penyediaan air untuk kegiatan irigasi dan drainase.

1
1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Ingin mengetahui fungsi dan pembuatan tabat.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Irigasi

Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pengembangan air irigasi


untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa,
irigasi air bawah tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak. Sistem irigasi meliputi
prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi,
dan sumber daya manusia. Penyediaan air irigasi adalah penentuan volume air per
satuan waktu yang dialokasikan dari suatu sumber air untuk suatu daerah irigasi yang
didasarkan waktu, jumlah, dan mutu sesuai dengan kebutuhan untuk menunjang
pertanian dan keperluan lainnya. (PP Irigasi No. 20/2006). Irigasi merupakan suatu
daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertumbuhan tanaman
sesuai dengan fase pertumbuhannya (tepat jumlah dan waktunya) sehingga akan
meningkatkan produktivitas dan hasil tanaman.

Fungsi utama kegiatan irigasi adalah memenuhi kebutuhan air bagi


pertumbuhan tanaman. Sedangkan beberapa fungsi lain dari kegiatan irigasi adalah :
menjamin ketersediaan air bagi tanaman apabila terjadi kekeringan, menurunkan
suhu dalam tanah, melunakkan lapisan keras tanah saat proses pengolahan tanah,
membawa garam-garam dari permukaan tanah ke lapisan bawah sehingga
konsentrasi garam di permukaan tanah menurun.

Fungsi dari sebuah jaringan irigasi adalah lebih kompleks. Fungsi tersebut
antara lain:

1. Mengambil air dari sumber air (diverting). Sumber air yang umumnya
digunakan antara sumur air, sungai, waduk, bendungan dan danau.

2. Membawa atau mengalirkan air dari sumber air ke lahan pertanian


(conveying). Dalam fungsi ini, air bisa dibawa melalui saluran terbuka
(kanal) dan saluran tertutup melalui pipa-pipa (mainline).

3. Mendistribusikan air ke tanaman (distributing). Dalam sebuah jaringan


irigasi, pendistribusian air dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :

3
ContinuosFlow, merupakan metode distribusi yang sederhana di mana
air dialirkan secara terus menerus ke lahan pertanian tanpa penyesuaian
dengan kebutuhan tanaman sesuai fase pertumbuhannya.

Rotationalflow, merupakan metode distribusi yang dilakukan secara


bergantian dari lahan satu ke lahan lainnya berdasarkan perencanaan
dan jadwal yang telah disepakati bersama antara sesama petani pemakai
air irigasi. Jadwal yang direncakanan tentunya telah disesuaikan dengan
fase pertumbuhan dan kebutuhan tanaman.

On demand, merupakan metode distribusi yang lebih modern dan


kompleks. Gambaran umum metode ini adalah seperti jaringan PDAM
di kompleks pemukiman. Dibutuhkan beberapa komponen otomatisasi
dalam jaringan, sehingga petani pemakai air dapat mendistribusikan air
sewaktu-waktu. Keuntungan dari metode adalah kebebasan petani
pemakai air irigasi dalam aplikasi air ke tanaman. Sedangkan
kelemahan dari metode ini adalah kebutuhan modal yang lebih banyak
untuk pembangunan jaringannya, serta potensi terjadinya kekurangan
air saat beberapa petani pemakai air menggunakan air secara
bersamaan.

Reservoir, merupakan metode gabungan antara continuosflow dan


ondemand. Bak-bak penampungan air dibangun di sepanjang lahan
pertanian. Bak tersebut akan diisi terus menerus seperti pada metode
continuosflow. Selanjutnya petani pemakai air mendistribusikan air dari
bak penampungan tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka sewaktu-
waktu seperti pada metode on-demand.

Sedangkan manfaat yang diperoleh dari kegiatan irigasi adalah :

1. Membasahi tanah, yaitu membantu pembasahan tanah pada daerah yang


curah hujannya kurang atau tidak menentu.

2. Mengatur pembasahan tanah, yang dimaksudkan agar daerah pertanian dapat


memperoleh air sepanjang waktu, baik pada musim kemarau maupun pada
musim penghujan.

4
3. Meningkatkan kesuburan tanah, yaitu dengan mengalirkan air dan lumpur
yang mengandung unsur hara terlarut yang dibutuhkan tanaman pada daerah
pertanian sehingga daerah tersebut tanahnya mendapat tambahan unsur-unsur
hara.

4. Kolmatase, yaitu meninggikan tanah yang di dataran rendah seperti rawa-


rawa dengan endapan lumpur yang terbawa oleh air irigasi.

5. Penggelontoran air di kota yaitu dengan menggunakan air irigasi, maka


kotoran atau sampah di kota digelontor ke tempat yang telah disediakan dan
selanjutnya dibasmi secara alamiah.

6. Pada daerah dingin, air irigasi dapat meningkatkan suhu tanah, karena air
irigasi memiliki suhu yang lebih tinggi dari pada tanah. Hal ini
memungkinkan petani di daerah beriklim dingin dapat melakukan kegiatan
mengadakan pertanian juga pada musim dingin.

2.1.1 Klasifikasi Irigasi

Sejalan dengan perkembangan irigasi di Indonesia dapat dilihat ada beberapa


sistem irigasi yang digunakan di Indonesia. Jika ditinjau dari proses penyediaan,
pemberian, pengelolaan dan pengaturan air, sistem irigasi dapat dikelompokkan
menjadi 4 adalah sebagai berikut :

1. Sistem Irigasi Permukaan (SurfaceIrrigation System). Irigasi permukaan


(surfaceirrigation) merupakan metode pemberian air yang paling awal
dikembangkan. Irigasi permukaan merupakan irigasi yang terluas cakupannya
di seluruh dunia, terutama di Asia. Pada sistem irigasi permukaan, air irigasi
disebarkan ke permukaan tanah dan dibiarkan meresap (infiltrasi) ke dalam
tanah. Air dibawa dari sumber ke lahan melalui saluran terbuka maupun
melalui pipa dengan tekanan rendah. Biaya yang diperlukan untuk
mengembangkan sistem irigasi permukaan relatif lebih kecil, bila
dibandingkan dengan sistem irigasi curah maupun tetes, kecuali bila
diperlukan pembentukan lahan, seperti untuk membuat teras. Sistem irigasi
permukaan, khususnya irigasi alur (furrowirrigation) banyak dipakai untuk
tanaman palawija, karena penggunaan air oleh tanaman lebih efektif. Sistem
irigasi alur adalah pemberian air di atas lahan melalui alur-alur kecil atau

5
melalui selang atau pipa kecil dan mengalirkannya sepanjang alur dalam
lahan.

2. Sistem Irigasi Bawah Permukaan (Sub SurfaceIrrigation System). Sistem


irigasi bawah permukaan (sub surfaceirrigation) adalah sistem irigasi yang
diaplikasikan dengan cara meresapkan air ke dalam tanah di bawah zona
perakaran melalui sistem saluran terbuka ataupun dengan menggunakan pipa
berlubang. Air tanah digerakkan oleh gaya kapiler menuju zona perakaran dan
selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman.

3. Sistem Irigasi Curah (sprinklerirrigation) Sistem Irigasi curah


(sprinklerirrigation) adalah sistem irigasi yang menggunakan tekanan untuk
membentuk curahan air yang mirip hujan ke permukaan lahan pertanian.
Disamping untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, sistem ini dapat pula
digunakan untuk mencegah pembekuan, mengurangi erosi lahan, memberikan
pupuk dan lain-lain. Pada irigasi curah, air dialirkan dari sumber melalui
jaringan pipa yang disebut pipa utama (mainline), pipa sub utama (sub-
mainline) ke beberapa pipa cabang (lateral) yang masing-masing mempunyai
beberapa alat pencurah.

4. Sistem irigasi tetes (Drip Irrigation). Irigasi tetes (drip irrigation) adalah suatu
sistem irigasi dimana pemberian air dilakukan melalui pipa/selang berlubang
dengan menggunakan tekanan yang kecil, dan air yang keluar berupa
tetesantetesan langsung pada daerah perakaran tanaman. Tujuan penggunaan
sistem irigasi tetes adalah untuk memenuhi kebutuhan air tanaman tanpa
harus membasahi keseluruhan lahan, sehingga mengurangi kehilangan air
akibat penguapan yang berlebihan, pemakaian air lebih efisien, mengurangi
limpasan (aliran permukaan), serta menekan atau mengurangi pertumbuhan
gulma. Ciri- ciri irigasi tetes adalah debit air kecil selama periode waktu
tertentu, interval (selang) yang sering, atau frekuensi pemberian air yang
tinggi, air diberikan pada daerah perakaran tanaman, aliran air bertekanan
rendah dan efisiensi serta keseragaman pemberian air lebih baik.

6
2.1.2 Konstruksi Jaringannya :

1 Irigasi sederhana, merupakan jenis irigasi dengan sistem jaringan


dibangun secara swadaya oleh petani pemakai air. Dalam irigasi jenis
ini jaringannya tidak dilengkapi dengan pintu air yang dapat mengukur
dan mengatur debit air, oleh karena itu efisiensinya sangat rendah.

2 Irigasi semi teknis, merupakan jenis irigasi yang telah mempunyai


beberapa bangunan permanen namun belum sepenuhnya dapat
mengukur dan mengatur debit air, sehingga efisiensinya masih
tergolong menengah.

3 Irigasi teknis, merupakan jenis irigasi yang keseluruhannya mempunyai


bangunan permanen bagi bangunan pengambil dan bangunan sadap.
Dalam jaringan irigasi ini telah mampu mengukur dan mengatur debit,
sehingga efisiensinya tergolong tinggi.

2.1.3 Metode Pengambilan Airnya :

1. Irigasi gravitasi, merupakan jenis irigasi di mana pengambilan airnya


memanfaatkan topografi lahan.

2. Irigasi pompa, merupakan jenis irigasi di mana proses pengambilan


airnya disedot dengan pompa.

2.1.4 Proses Pendistribusian Ke Tanaman :

1. Irigasi permukaan (surfaceirrigation), merupakan jenis irigasi dimana


air langsung dialirkan di atas permukaan lahan. Dalam irigasi
permukaan terdapat tiga sub metode yaitu irigasi petak (bassin), irigasi
alur (furrow), dan irigasi border.

2. Irigasi curah (sprinkler), merupakan jenis irigasi dengan cara


menyemprotkan air ke udara melalui sprinklerhead sehingga menjadi
butiran kecil seperti air hujan.

3. Irigasi tetes (drip/trickle), merupakan jenis irigasi dengan cara


meneteskan air di mintakat perakaran.

7
2.1.5 Kebutuhan Air Irigasi

Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan
memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air
tanah (Sosrodarsono dan Takeda, 2003).

Kebutuhan air sawah untuk padi ditentukan oleh faktor-faktor berikut :

1. Penyiapan lahan.

2. Penggunaan konsumtif.

3. Perkolasi dan rembesan.

4. Pergantian lapisan air.

5. Curah hujan efektif.

2.2 Drainase

Dalam praktek irigasi, kelebihan air harus dibuang ke luar areal irigasi agar
muka air tanah tidak naik sampai zone perakaran daan merendam akar tanaman. Bila
akar tanaman terendam air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan dapat
membusukkan akar. Sistem drainase yang umum dipakai pada usaha pertanian
khususnya untuk persawahan adalah sistem drainase permukaan, dengan pembuatan
parit-parit drainase serta mengalirkan kelebihan air dengan prinsip pengaliran pada
saluran terbuka. Drainase pada keadaan khusus kadang-kadang memerlukan
pemasangan pipa-pipa di bawah permukaan tanah, dan sistem ini disebut drainase
bawah tanah. Ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk
mengalirkan/mengeringkan air yang berlebih dalam suatu konteks pemanfaatan
tertentu. Drainase (drainage) berasal dari kata kerja todrain yang berarti
mengeringkan atau mengalirkan air.

8
Drainase lahan pertanian didefinisikan sebagai pembuatan dan pengoperasian
suatu sistem di mana aliran air dalam tanah diciptakan sedemikian rupa sehingga
baik genangan maupun kedalaman air-tanah dapat dikendalikan sehingga
bermanfaat bagi kegiatan usaha-tani. Definisi lainnya: drainase lahan pertanian
adalah suatu usaha membuang kelebihan air secara alamiah atau buatan dari
permukaan tanah atau dari dalam tanah untuk menghindari pengaruh yang
merugikan terhadap pertumbuhan tanaman. Pada lahan bergelombang drainase
lebih berkaitan dengan pengendalian erosi, sedangkan pada lahan rendah (datar)
lebih berkaitan dengan pengendalian banjir (floodcontrol). Drainase Pertanian adalah
pengeringan air dari lahan/tanah pertanian dengan jumlah dan waktu yang sesuai
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan tanaman.

Drainase adalah suatu proses pengeluaran air irigasi berlebih ke luar dari
lahan pertanaman. Aturan-aturan tentang drainase lahan pertanian adalah sebagai
berikut, yaitu:

1. Setiap pembangunan jaringan irigasi dilengkapi dengan pembangunan


jaringan drainase yang merupakan satu kesatuan dengan jaringan irigasi
yang bersangkutan.

2. Jaringan drainase sebagaimana berfungsi untuk mengalirkan kelebihan air


agar tidak mengganggu produktivitas lahan.

3. Kelebihan air irigasi yang dialirkan melalui jaringan drainase harus dijaga
mutunya dengan upaya pencegahan pencemaran agar memenuhi
persyaratan mutu berdasarkan peraturan perundang-undangan.

4. Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota,


perkumpulan petani pemakai air, dan masyarakat berkewajiban menjaga
kelangsungan fungsi drainase.

5. Setiap orang dilarang melakukan tindakan yang dapat mengganggu fungsi


drainase.

9
2.2.1 Tujuan Saluran Drainase Ini Antara Lain:

1. Mengeringkan daerah becek dan genangan air sehingga tidak ada


akumulasi air tanah.

2. Menurunkan permukaan air tanah pada tingkat yang ideal.

3. Mengendalikan erosi tanah, kerusakan jalan dan bangunan yang ada.

4. Mengendalikan air hujan yang berlebihan sehingga tidak terjadi bencana


banjir.

Tujuan Drainase pertanian adalah reklamasi (pembukaan) lahan dan


pengawetan tanah untuk pertanian, menaikkan produktivitas tanaman dan
produktivitas lahan (menaikkan intensitas tanam dan memungkinkan diversifikasi
tanaman) serta mengurangi ongkos produksi.

Tujuan tersebut di atas dicapai melalui dua macam pengaruh langsung


dan sejumlah besar pengaruh tidak langsung. Pengaruh langsung terutama
ditentukan oleh kondisi hidrologi, karakteristik hidrolik tanah, rancangan sistim
drainase yakni :

1. Penurunan muka air tanah di atas atau di dalam tanah,

2. Mengeluarkan sejumlah debit air dari sistim.

Pengaruh tak-langsung ditentukan oleh iklim, tanah, tanaman, kultur teknis dan
aspek sosial dan lingkungan. Pengaruh tak-langsung ini dibagi ke dalam
pengaruh berakibat positif dan yang berakibat negatif (berbahaya).

Pengaruh tak-langsung dari pembuangan air :

1. Pengaruh positif :

Pencucian garam atau bahan-bahan berbahaya dari profil tanah.

Pemanfaatan kembali air drainase.

2. Pengaruh negatif :

Kerusakan lingkungan di sebelah hilir karena tercemar oleh garam.

Gangguan terhadap infrastruktur karena adanya saluran-saluran.

10
Pengaruh Tak-Langsung Dari Penurunan Muka Air Tanah :

1. Pengaruh positif :

Mempertinggi aerasi tanah.

Memperbaiki struktur tanah.

Memperbaiki ketersediaan Nitrogen dalam tanah.

Menambah variasi tanaman yang dapat ditanam.

Menambah kemudahan kerja alat dan mesin pertanian (Workability).

Mempertinggi kapasitas tanah untuk menyimpan air.

2. Pengaruh negatif :

Dekomposisi tanah gambut (peatsoil)

Penurunan permukaan tanah (Land subsidence)

Oksidasi cat-clay

11
BAB III

PEMBAHASAN

Praktikum irigasi dan drainase merupakan jenis praktikum dengan metode


survei. Praktikum irigasi dan drainase ini dilakukan pada hari sabtu tanggal 7
Januari 2017. Lokasi praktikum berada di Desa Sungai Bulan, Kecamatan Rasau
Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Praktikum ini dilakukan dengan mewawancarai salah
satu petani yang ada di Rasau Jaya. Narasumber yang diwawancarai adalah Pak
Rustamadji yang merupakan petani sukses yang bertani secara sustainable atau
berkelanjutan.

Lahan gambut memiliki nilai yang sangat penting karena menyediakan hasil
hutan berupa kayu dan non kayu, menyimpan dan mensuplai air,menyimpan
karbon,dan merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati dengan berbagai jenis
flora dan fauna langka yang hanya ada dijumpai pada ekosistem gambut. Untuk
menjaga muka air tanah tetap terjaga maka harus dikelola air tersebut dengan pola
drainase dan irigasi yang baik dan benar di lokasi tersebut telah di bangun sungai
atau aliran drainase dan irigasi sekunder dan tersier. Dengan lebar sungai sekunder
12 m dengan kedalaman 4 m di awalnya sekarang menjadi 3 m karena proses
endapan dan untuk jarak saluran antara tersier 200 m, untuk lebarnya 6 m dengan
kedalaman 2 m. Di saluran tersier terdapat sistem tabat dengan sistem tabat tersebut
dapat membantu dalam menjaga permukaan air tanah.

Air irigasi yang terdapat di lokasi diadakannya praktikum ditujukan pada


beberapa lahan sawah yang ditanami padi dan ada sebagian yang ditanami jagung.
Menurut pak Rustamadji dengan adanya tabat pada saluran irigasi mempermudah
petani dalam mengairi tanaman mereka saat terjadi musim kemarau maupun musim
hujan. Karena tanah gambut terkenal dengan gaya porosnya yang kuat, adanya tabat
dilokasi tersebut sangat bermanfaat sekali dalam mengairi tanaman tersebut.

Sebagai salah satu jenis lahan gambut, keberadaan air dilahan gambut sangat
dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut atau luapan air sungai. Tingkah
laku dari keduanya akan berpengaruh terhadap tinggi dan lama genangan air di
lahan gambut dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat kesuburan lahan
serta pola budidaya tanaman yang akan diterapkan diatasnya. Pengelolaan air

12
dilahan gambut bertujuan untuk mengatur pemanfaatan sumber daya air secara
optimal sehingga didapatkan hasil atau produktivitas lahan secara maksimal.

Bahan tabat yang dibuat di salah satu parit di Rasau Jaya menggunakan
tanah atau pasir. Alasannya adalah agar mudah dalam pemeliharaannya, bahan yang
diperlukan juga mudah didapatkan salah satunya pohon cerucuk. Di dalam tabat
diberi terpal .kemudian ditumpuk pasir atau tanah. Kayu cerucuk sepanjang 4 meter
dengan jumlah 140 batang. Untuk tampungan 36 buah. Pada tabat terdapat
bendungan yang berfungsi untuk mengatur dan menjaga muka air tanah pada lahan
gambut di Rasau Jaya.

Paralon yang digunakan sepanjang 6 inci 2 buah, paralon kedua digunakan


untuk bagian bawah tabat. lebar tabat adalah 6 meter dengan panjang 1 meter dan
pada tengah tabat sepanjang 1 meter. Keluar masuknya air atau terjadinya aliran air
berada pada bagian tengah tabat. Pada daerah yang dibuatkan tabat masih mendapat
pengaruh pasang surut sehingga pembuatan tabat sangat di rekomendasikan di
daerah tersebut. Pembuatan tabat juga sangat di anjurkan pada lahan gambut dengan
kedalaman 2 meter. Tabat selain untuk mengalirkan atau mengatur masuk keluarnya
air, tabat juga berguna untuk mengalirkan lumpur.

Pintu air irigasi (bagian tengah tabat) dibuka tergantung pada kebutuhan air
irigasi yang dibutuhkan tanaman pada lokasi tersebut.apabila air untuk lokasi
tersebut sudah tercukupi maka pintu air irigasi akan ditutup. Karena apabila air tidak
ditutup pada saat musim penghujan atau kelebihan air maka akan menyebabkan
banjir. Lain halnya apabila musim kemarau maka jumlah air akan dibatasi karena
dan dialiri menurut waktu tentu yang telah ditetapkan , hal ini dilakukan untuk
menghindari kekeringan air dan tanaman akan selalu mendapat air walaupun saat
musim kemarau.

13
BAB IV

PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Polo drainase dan irigasi yang terdapat di Kabupaten Kubur Raya
Kecamatan Rasau Jaya II Desa Sungai Bulan sudah cukup baik karena telah di
bangun saluran sekunder dan saluran tersier dalam pengelolaan pertaniannya, serta
terdapatnya sistem tabat dalam menjaga permukaan air tanah tersebut, sehingga
pada saat musim kering air tidak terlalu kering dan pada saat musim hujan tidak
banjir.

4.2.Saran
Sebaiknya saluran yang ada di Desa Bulan dijaga dan dirawat dengan baik
kebersihannya sehingga saluran tidak tersumbat dengan enceng gondok dan
kedalaman tetap terjaga agar saluran juga dapat dimanfaatkan warga sebagai
kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, dan mandi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. PP no. 20 tahun 2006 tentang Irigasi, Jakarta.


Anonim, (2007). Irrigation Water Calculator - todeterminethe volume
ofirrigationwaterrequiredfor a specificlanduse. (Internet www.irrigation.org,
Juni 2008).
Asawa, G.L, (2008). Irrigationand Water Resources Engineering. New Age
International (P) Limited, Publisher. New Delhi, India.
Badan Pusat Statistik Kota Pontianak. 2012. KOTA PONTIANAK DALAM ANGGKA
2012. Pontianak: Badan Pusat Statistik Kota Pontianak.
Kaslim, D. Kusnadi, Budi Indra Setiawan, Asep Sapei, Prastowo dan Erizal, (2006).
Teknik Irigasi dan Drainase. Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku. 2003. Hidrologi untuk Pengairan..
Pradna Paramita, Jakarta.

15
LAMPIRAN

16