Anda di halaman 1dari 9

Home

Posts RSS

Comments RSS

Autumn in day
About Me

autumn`day
orang yang mengenaliku, banyak dari mereka yang menilai aq kuat, tegar, pemberani, dan
percaya diri... dan aku mencoba berusaha untuk menjadi seperti pa yang mereka nilai...
aku lahir hari senin, 10 Agustus 1992, atau 10 safar 1413 H di Tegal... Aku lahir dalam
kondisi Alhamdulillah normal, hidupku sangat menarik hingga membuatku seperti
sekarang,pesanku kenalilah aku bukan hanya dengar dari orang bagaimana aku, yang
mengenalku dialah yang selalu bersamaku saat aku memiliki permasalahan-permasalahan
disaat itulah kaubisa menilaiku......
Lihat profil lengkapku

Selasa, 21 Desember 2010


KROMATOGRAFI KERTAS

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I


PERCOBAAN III
KROMATOGRAFI KERTAS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK III
1. ALVAN CHORINDRA (K3310005)
2. AULIA HIKMAH D (K3310014)
3. DETI DWI UTAMI (K3310020)
4. ISTIQOMAH ADDIIN (K3310040)
ASISTEN : RINA RAHAYUNINGSIH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
SURAKARTA
2010

PERCOBAAN III
KROMATOGRAFI KERTAS
JUDUL
Kromatografi Kertas

TUJUAN PERCOBAAN
Mengenal salah satu pemisahan zat dengan kromatografi kertas
Mengidentifikasi klorofil, karoten dan xautin dalam hijau daun dengan kromatografi kertas
Mengidentifikasi komponen penyusun tinta dengan kromatografi kertas.

DASAR TEORI
Kromatografi kertas merupakan kromatografi partisi dimana fase geraknya adalah air yang
disokong oleh molekul-molekul selulosa dari kertas. Kertas yang digunakan adalah kertas
Whatman No.1 dan kertas yang lebih tebal Whatman No. 3 biasanya untuk pemisahan campuran
dalam jumlah yang lebih besar karena dapat menampung lebih banyak cuplikan
(Sastrohamidjojo, 1991).
Pada awalnya kromatografi dianggap semata-mata sebagai bentuk partisi cairancairan. Serat
selulosa yang hidrofilik dari kertas tersebut dapat mengikat air, setelah disingkapkan ke udara
yang lembab, kertas saring yang tampak kering itu sebenarnya dapat mengandung air dengan
persentase tinggi, katakan 20 % (bobot/bobot) akan lebih. Jadi kertas itu sebenarnya dapat
mengandung air dengan persentase tinggi dan kertas itu dipandang sebagai analog dengan
sebatang kolom yang berisi stasioner berair. Zat-zat terlarut itu padahal fase geraknya dapat
campur dengan air akan dalam beberapa kasus, malahan fase geraknya adalah larutan itu sendiri
(Day & Underwood, 1980).
Susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk
mengalirkannya fase bergerak. Berbagai macam tempat kertas secara komersil tersedia adalah
Whatman 1, 2, 31 dan 3 MM. Kertas asam asetil, kertas kieselguhr, kertas silikon dan kertas
penukar ion juga digunakan. Kertas asam asetil dapat digunakan untuk zatzat hidrofobik
(Khopkar, 1990).
Selain kertas Whatman dalam teknik kromatografi dapat pula digunakan kertas selulosa murni.
Kertas selulosa yang dimodifikasi dan kertas serat kaca. Untuk memilih kertas, yang menjadi
pertimbangan adalah tingkat dan kesempurnaan pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek
tailing, pembentukan komet serta laju pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending dan
juga kertas seharusnya penolak air. Seringkali nilai Rf berbeda dari satu kertas ke kertas lainnya.
Pengotor yang terdapat pada kertas saring adalah ion-ion Ca2+, Mg2+, Fe3+, Cu2+ (Basset,
1994).
Dalam kromatografi, komponen-komponen terdistribusi dalam dua fase yaitu fase gerak dan fase
diam. Transfer massa antara fase bergerak dan fase diam terjadi bila molekul-molekul campuran
serap pada permukaan partikel-partikel atau terserap. Pada kromatografi kertas naik, kertasnya
digantungkan dari ujung atas lemari sehingga tercelup di dalam solven di dasar dan solven
merangkak ke atas kertas oleh daya kapilaritas. Pada bentuk turun, kertas dipasang dengan erat
dalam sebuah baki solven di bagian atas lemari dan solven bergerak ke bawah oleh daya kapiler
dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah bagian muka solven selesai bergerak hampir sepanjang
kertas, maka pita diambil, dikeringkan dan diteliti. Dalam suatu hal yang berhasil, solut-solut
dari campuran semula akan berpindah tempat sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda,
untuk membentuk sederet noda-noda yang terpisah. Apabila senyawa berwarna, tentu saja noda-
nodanya dapat terlihat (Day & Underwood, 1990).
Harga Rf mengukur kecepatan bergeraknya zona realtif terhadap garis depan pengembang.
Kromatogram yang dihasilkan diuraikan dan zona-zona dicirikan oleh nilai-nilai Rf. Nilai Rf
didefinisikan oleh hubungan:
Rf = (Jarak (cm)dari garis awal ke pusat zona)/(Jarak (cm) dari garis awal ke garis depan
pelarut )
Pengukuran itu dilakukan dengan mengukur jarak dari titik pemberangkatan (pusat zona
campuran awal) ke garis depan pengembang dan pusat rapatan tiap zona. Nilai Rf harus sama
baik pada descending maupun ascending. Nilai Rf akan menunjukkan identitas suatu zat yang
dicari, contohnya asam amino dan intensitas zona itu dapat digunakan sebagai ukuran
konsentrasi dengan membandingkan dengan noda-noda standar (Khopkar, 1990).
Proses pengeluaran asam mineral dari kertas desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan
menggunakan mikropipet pada jarak 23 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan
garis horizontal. Setelah kertas dikeringkan, ia diletakan didalam ruangan yang sudah dijenuhkan
dengan air atau dengan pelarut yang sesuai. Terdapat tiga tehnik pelaksanaan analisis. Pada
tehnik ascending; pelarut bergerak keatas dengan gaya kapiler. Sedangkan ketiga dikenal dengan
cara radial atau kromatografi kertas sirkuler (Basset, 1994).
Kromatografi bergantung pada pembagian ulang molekul-molekul campuran antara dua fase atau
lebih. Tipe-tipe kromatografi absorpsi, kromatografi partisi cairan dan pertukaran ion. Sistem
utama yang digunakan dalam kromatografi partisi adalah partisi gas, partisi cairan yang
menggunakan alas tak bergerak (misalnya komatografi kolom), kromatografi kertas dan lapisan
tipis ( Svehla, 1979).
Distribusi dapat terjadi antara fase cair yang terserap secara stasioner dan zat alir bergerak yang
kontak secara karib dengan fase cair itu. Dalam kromatografi partisi cairan, fase cair yang
bergerak mengalir melewati fase cair stasioner yang diserapkan pada suatu pendukung,
sedangkan dalam kromatografi lapisan tipis adsorbennya disalutkan pada lempeng kaca atau
lembaran plastik (Basset, 1994).

DATA PENGAMATAN
Kromatografi Kertas I
No. Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
1. Menumbuk beberapa helai daun pepaya kemudian menambahkan 5 ml campuran petroleum
eter dan etanol. Didapatkan ekstrak daun pepaya yang cukup halus.
2. Memasukkan ekstrak daun pepaya ke dalam corong pemisah kemudian mengocoknya satu
arah. Didapatkan dua lapisan yaitu lapisan berwarna hijau muda(lapisan atas) dan hijau tua
(lapisan bawah).
3. Membuang lapisan bawah lalu memasukkan hasil ekstraksi (lapisan atas) ke dalam cawan
porselin dan menambahkan Na2SO4 anhidrid atau memanaskan hasil ekstraksi dengan pemanas.
Didapatkan ekstrak daun yang kering.
4. Mengambil ekstrak daun dan meneteskannya pada kertas saring dan mencelupkan kertas
saring ke dalam bejana (chamber) yang berisi campuran benzene aseton Campuran benzene
aseton akan naikke kertas saring dan menimbulkan warna-warna penyusun dr ekstrak hijau daun.

No. Jenis Tinta/ Spidol Warna Noda yang Terbentuk Jarak Pelarut (cm) Jarak Noda (cm)
1. Daun Pepaya Kuning 15 cm 2,7 cm
Hijau 5 cm
Kromatografi Kertas II

No. Langkah Percobaan Hasil Pengamatan


1. Membuat garis 1 cm sebagai tanda awal naiknya aquades, kemudian memberi titik di tengah
garis dengan warna yang akan diuji,

2. Mencelupkan pita ke dalam air, mengusahakan jangan sampai air mengenai langsung tinta
spidol. Akuades akan meresap naik dan menguraikan komponen penyusun warna yang diuji.
3. Memberi tanda batas akuades naik dan mengukur jarak warna-warna yang terurai dari batas
awal noda.

No. Jenis Tinta/ Spidol Warna Noda yang Terbentuk Jarak Pelarut (cm) Jarak Noda (cm)
1. Biru Ungu 17,5 cm 13,8 cm
Biru 16,8 cm
2. Hijau Hijau 16,5 cm 14,8 cm
Biru 16,3 cm
3. Merah Ungu 16,6 cm 6,2 cm
Pink 10,2 cm
Kuning 15,2 cm
ANALISA DATA

Analisa Data Kuantitatif


Menghitung Harga Rf
Rf = (Jarak (cm)dari garis awal ke pusat zona)/(Jarak (cm) dari garis awal ke garis depan
pelarut )
Percobaan I (Kromatografi Kertas I)
Warna Kuning
Rf =2,7/15 =0,18
Warna Hiijau
Rf =5/15 =0,33
Percobaan II
-Warna Biru
Warna Ungu
Rf =13,8/17,5 =0,79

Warna Biru
Rf =16,8/17,5 =0,96
-Warna Hijau
Warna Hijau
Rf =14,8/16,5 =0,896

Warna Biru
Rf =16,3/16,5 =0,988
-Warna Merah
Warna Ungu
Rf =6,2/16,6 =0,37

Warna Pink
Rf =10,2/16,6 =0,614

Warna Kuning
Rf =15,2/16,6 =0,92

Analisa Kualitatif

Kromatografi kertas merupakan salah satu cara pemisahan zat secara sederhana.Tujuan
percobaan ini adalah untuk mengenalkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan kromatografi
kertas, bagaimana proses pemisahan zat pada kromatografi kertas, dan bagaimana penerapan
kromatograf kertas dalam praktik dan kegunaan kromatografi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada percobaan kromatografi kertas I adalah dengan menggunakan ekstrak daun pepaya. Dalam
percobaan ini lebih bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan zat warna pada plastid yang
terdapat dalam hijau daun pepay. Dimana Plastida tumbuhan ada tiga yaitu, kloroplas,
Leukoplas, dan kromoplas.
Pada percobaan kromatografi kertas II digunakan untuk mengidentifikasi komponen - komponen
penyusun warna pada tinta spidol yang akan dibuktikan pada percobaan ke-dua yang lebih
menfokuskan pada pengidentifikasian komponen penyusun warna tersebut, karena sesungguhnya
warna yang terlihat oleh pandangan kita mempunyai penyusun warna yang tidak terlihat secara
langsung. Misalnya spidol warna merah tersusun dari warna ungu, pink, dan kuning.
Kromatografi merupakan metode untuk mengidentfikasi dan memisahkan campuran berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase stasionr dan fase gerak. Perbedaan terikatnya suatu
komponen pada fase stasioner pada perbedaan kelarutan pada fase gerak menyebabkan suatu
campuran dapat dipisahkan dari komponen-komponennya. Komponen yang kurang larut dalam
fase gerak atau lebih kuat (terjerat)pada fase stasioner akan tertinggal, sedangkan komponen
yang lebih larut atau kurang terjerat akan bergerak lebih cepat, karena molekul yang beriatan
kuat dengan kolom akan cenderng bergerak lebih lambat dibanding molekul yang berikatan
lemah.
Pada Kromatografi kertas jika setetes cuplikan diteteskan pada sepotong kertas saring, maka
cupikan tersebut akan meluas dan membentuk noda bulatan . Jika noda telah kering, kemudian
kertas dimasukan bejana yang berisi pelarut yang sesuai, maka pelarut akan bergerak melalui
serat-serat kertas saring oleh gaya kapiler lalu menggerakan komponen-komponen yang terdapat
dalam cupikan dengan jarak yang berbeda-beda, seringkali digunakan pelarut lebih dari satu. Jika
komponen komponennya berwarna akan terlihat sebagai noda-noda yang terpisah. Jika
komponennya tidak berwarna dapat dideteksi dengan menggunakan pereaksi yang dapat
memberikan warna yang berbeda.
Pada percobaan kromatografi kertas I, kita menggunakan ekstrak daun pepaya. Kita mengambl
beberapa helai daun pepaya kemudian menumbuk sampai lumat, dan memasukan petroleum eter
dan etanol, menumbuk lagi sampai benar-benar halus dan diperoleh ekstrak daun pepaya.
Kemudian memndahkan ekstrak yang diperoleh tadi ke dalam corong pemisah dengan
menambahkan akuades lalu mengocoknya satu arah.
Setelah beberapa menit, membuang lapisan bawah dengan memutar kran perlahan-lahan hingga
lapisan bawah hamper habissehingga diperoleh cairan berwarna hihau daun. Lapisan yang
tertinggal dalam corong pisah dipindahkan ke cawan porselin dan mengeringkan dengan
menambah Na2SO4 anhidrid. Lalu menyaring dan memekatkan larutan. Larutan yang diperoleh
diteteskan pada kertas saaring dan membiarkan bagian bawah kertas saring mongering.
Selanjutnya menggantungkan kertas saring tersebut pada lidi dan meletakan dalam bejana kaca /
chamber yang telah berisi bejana aseton (7:3) dan mengusahakan agar ekstrak daun pepaya tidak
terkena pelarut. Memberi tanda batas naiknya pelarut dan mengukur jarak noda yang terbentuk.
Pada percobaan kromatografi kertas II, memanfaatkan tinta warna spidol untuk diuji. Ada tiga
warna spidol yang digunakan yaitu, merah, biru, hijau. Kertas saring digaris kira-kira horizontal
kira-kira 2 cm dari bawah lalu membuat noda warna titik di garis tengahnya dengan warna yang
berbeda-beda pada tiap pita. Kertas saring tersebut kita celupkan ke dalam chamber, tetapi
jangan sampai bagian titik tercelup, kemudian membiarkan airnya naiksampai hamper mencapai
tepi atas pita saring atau sampai warna berhenti terurai dan memberi batas air naik dan
komponen-komponen warna yang terbentuk dengan pensil.Mengukur jarak noda dan pelarut dari
titik awal sampai tepi atas pelarut dan noda.
Pada percobaan ini kita melakukan penambahan zat. Penambahan zat ini digunakan pelarut
campuran benzene aseton bertindak sebagai pelarut organic (sesame polar, mengikat klorofil)
sehingga mudah terbawa oleh jalannya pelarut benzene aseton tersebut, dan membantu
penguraian ekstrak daun tersebut sedangkan aseton sendiri mudah menguap sehingga cepat
kering dan komponen warna menjadi mudah terlihat.
Fungsi Na2So4 anhidrid yaitu untuk menyerap air sehingga membantu pengeringan zat hijau.
Pada percobaan kromatografi kertas I, setelah ditumbuk dan dicampur dengan petroleum eter dan
etanol didapatkan ekstrak daun pepaya yang cukup halus. Pada saat dieksraksi didapatkan dua
lapisan yaitu lapisan berwarna hijau muda(lapisan atas) dan hijau tua (lapisan bawah). Ketika
lapisan atas diambil dan ditambahkan Na2SO4 anhidrid didapatkan ekstrak daun yang kering,
ketika di masukan sebagian kertas saring yang diberi noda ekstrak daun tersebut ke dalam
campuran benzene aseton, campuran tersebut naik ke kertas saring dan menimbulkan warna-
warna penyusun dr ekstrak hijau daun terurai.Setelah itu dihasilkan warna kuning menunjukan
xautin, dan hijau yang menunjukan adanya klorofil, seangkan warna orange yang menunjukan
adanya karoten tidak dapat terlihat/teridentifikasi.
Sedangkan pada warna spidol pada hasil akhirnya warna tinta juga akan terurai menjadi
komponen-komponennya.
Adapun Harga Rf yaitu jarak senyawa pada kromatogram didapatkan;
Harga yang berbeda-beda, yaitu;
Pada ekstrak Daun Pepaya terurai menjadi 2 warna, yaitu
Warna Kuning Rf = 0,18
Warna Hijau Rf = 0,33
Warna Spidol
Pada spidol berwarna Biru terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Ungu
Rf =13,8/17,5 =0,79

Warna Biru
Rf =16,8/17,5 =0,96
- Pada spidol berwarna Hijau terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Hijau
Rf =14,8/16,5 =0,896

Warna Biru
Rf =16,3/16,5 =0,988
- Pada spidol berwarna Merah terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Ungu
Rf =6,2/16,6 =0,37

Warna Pink
Rf =10,2/16,6 =0,614

Warna Kuning
Rf =15,2/16,6 =0,92

Harga Rf yang berbeda-beda dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu,


Struktur kimia senyawa yang dipisahkan
Sifat penyerap dalam hal ini kertas saring
Tebal dan kerapatan Penyerap
Pelarut dan derajat kemurniannya

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
Kromatografi kertas merupakan kromatografi dengan menggunakan kertas penyaring sebagai
penunjang fase diam dan fase bergerak, berupa cairan yang terserap di antara struktur pori kertas.
Metode Kromatografi dapat digunakan untuk mengetahui komponen-komponen zat warna yang
terkandung dalam suatu zat warna
Warna-warna penyusun zat dipengaruhi oleh berat jenis, Rf, Kelarutan dan Daya tahan fase tetap
tiap komponen
Rf = (Jarak (cm)dari garis awal ke pusat zona)/(Jarak (cm) dari garis awal ke garis depan
pelarut )
Komponen Penyusun zat hijau daun yaitu klorofil dengan Rf 0,657 dan karoten Rf 0,143
Komponen penyusun tinta spidol adalah
Pada spidol berwarna Biru terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Ungu, Rf =0,79

Warna Biru, Rf =0,96


- Pada spidol berwarna Hijau terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Hijau, Rf =0,896

Warna Biru, Rf =0,988


- Pada spidol berwarna Merah terurai menjadi dua warna, yaitu
Warna Ungu, Rf =0,37

Warna Pink, Rf =0,614

Warna Kuning, Rf =0,92


Kelarutan komponenterhadap pelarut dipengaruhi oleh
-gaya tahan fase terhadap pelarut
-kelarutan komponen terhadap pelarut.
DAFTAR PUSTAKA
Basset, J, et al. 1994. Buku Ajar Vogel; Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit buku
kedokteran EGC. Jakarta.
Day & Underwood. 1980. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Svehla, G. 1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Jilid 1
Edisi Kelima. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta.
Diposkan oleh autumn`day di 03:47
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

1 komentar:

autumn`day mengatakan...

Tambahan dari asisten dosen;


Pada saat penggojokan pada penambahan air pada fase 3 yaitu saat ekstraksi berfungsi
untuk menyempurnakan proses pelarutan namun bukan sebagai pelarut karena eksrak
pepaya ini bersifat non polar sedangkan air merupakan polar jadi pelarutdisini adalah
petroleum eter dan etanol, perlu diketahui air ini tidak berfungsi pada proses fase gerak
pada saat zat2 bergerak naik pada kertas saring, karena setelah proses ekstraksi selesai
ditambahkan Na2SO4 anhidrid yang bertujuan justru penyerapan air supaya kering,
apabila penambahan Na2SO4 ini diganti dengan pemanasan bisa saja, hanya akan
berbahaya bila pemanasan berlebih karena bisa merusak komponen pada ekstrak pepaya,

21 Desember 2010 04:00

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Blog Archive
2011 (4)

2010 (7)

o Desember (2)

KROMATOGRAFI KERTAS

seru seruan si bocah

o November (2)

o Oktober (3)

Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright Autumn in day. All rights reserved.


Blogger template created by Templates Block
Wordpress theme by Generic WP Themes