Anda di halaman 1dari 30

Case Report Session

MIOPIA RINGAN

Case Report Session MIOPIA RINGAN Oleh : Satrya Edo Permana (1210070100188) Preseptor: dr. Romi Yusardi. Sp.M

Oleh :

Satrya Edo Permana

(1210070100188)

Preseptor:

dr. Romi Yusardi. Sp.M

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA RUMAH SAKITACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNBRAH

2017

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam karena atas izin-Nyalah penulis dapat menyelesaikan Makalah Presentasi kasus yang berjudul “Miopia” ini dengan sebagaimana mestinya. Makalah Presentasi kasus ini merupakan salah satu tugas kepaniteraan klinik di Bagian Mata Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2017. Makalah Presentasi kasus ini disusun berdasarkan tinjauan pustaka dari berbagai sumber dan referensi yang terpercaya. Makalah Presentasi kasus ini menyajikan tinjauan pustaka analisis laporan kasus mengenai miopia. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing dr. Romi Yusardi, Sp. M yang telah memberikan pengarahan dalam menyelesaikan Makalah Presentasi kasus ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.

Bukittinggi,

Maret 2017

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR........................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................ii DAFTAR GAMBAR.........................................................................................iii DAFTAR TABEL..............................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang..............................................................................................1

  • 1.2 Tujuan Penulisan...........................................................................................2

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

  • 2.1 Anatomi Bola Mata.......................................................................................3

  • 2.2 Tajam Penglihatan.........................................................................................10

    • 2.2.1 Perkembangan tajam penglihatan...........................................................10

    • 2.2.2 Pemeriksaan Visus Mata.........................................................................11

      • 2.3 Kelainan Refraksi..........................................................................................14

        • 2.3.1 Miopia.....................................................................................................15

          • 2.3.1.1 Defenisi...................................................................................................15

          • 2.3.1.2 Klasifikasi...............................................................................................15

          • 2.3.1.3 Manifestasi Klinis...................................................................................17

          • 2.3.1.4 Pemeriksaan Refraksi..............................................................................17

          • 2.3.1.5 Penatalaksanaan......................................................................................18

          • 2.3.1.6 Komplikasi..............................................................................................18

BAB III LAPORAN KASUS

  • 3.1 Identitas.........................................................................................................19

  • 3.2 Anamnesa......................................................................................................19

  • 3.3 Pemeriksaan Fisik.........................................................................................20

  • 3.4 Diagnosa kerja...............................................................................................24

  • 3.5 Penatalaksanaan............................................................................................24

  • 3.6 Prognosis.......................................................................................................24

BAB IV ANALISIS KASUS.............................................................................25 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................27 DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata.........................................................................9

Gambar 2.2 Otot Penggerak Mata.......................................................................10 Gambar 2.3 Emetropia........................................................................................15 Gambar 2.4 Myopia............................................................................................15 Gambar 2.5 Koreksi Pada Pasien Myopia...........................................................18

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai Tajam Penglihatan dalam Meter dan Kaki...............................14

  • 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Manusia memiliki mata disebelah kiri dan kanan. Kehilangan atau kerusakan salah satu bola mata dapat mengganggu penglihatan. Berdasarkan data WHO terdapat 285 juta orang di dunia yang mengalami gangguan penglihatan, dimana 39 juta orang mengalami kebutaan dan 246 juta orang mengalami berpenglihatan kurang (low vision). Tajam penglihatan sudah dikatakan low vision dengan visus 6/18. Secara global gangguan penglihatan tersebut disebabkan oleh kelainan refraksi 43%, katarak 33% dan glaukoma 2%. Meskipun demikian, bila dikoreksi dini sekitar 80% gangguan penglihatan dapat dicegah maupun diobati. Kelainan refraksi merupakan kelainan kondisi mata yang paling sering terjadi. Miopia adalah salah satu kelainan refraksi pada mata yang memiliki prevalensi tinggi di dunia. Dalam pengamatan selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa rata- rata prevalensi myopia telah mengalami peningkatan dan ada epidemi miopia di Asia. Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasaan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina (bintik kuning). Berbagai faktor yang berperan dalam perkembangan miopia telah diidentifikasi melalui beberapa penelitian. Prevalensi miopia 33-60% pada anak dengan kedua orang tua miopia. Pada anak yang memiliki salah satu orang tua miopia prevalensinya 23-40%, dan hanya 6-15% anak mengalami miopia yang

tidak memiliki orang tua miopia. Disamping faktor keturunan, faktor lingkungan

juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan miopia pada anak. Faktor lingkungan yang paling banyak berperan pada miopia adalah kerja jarak dekat seperti membaca. Lama membaca dapat mempengaruhi pertumbuhan aksial bola mata akibat insufisiensi akomodasi pada mata. Tingkat pendidikan dihubungkan juga dengan lamanya kerja jarak dekat sehingga meningkatkan risiko miopia. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka

akan semakin tinggi prevalensi terjadinya miopia karena kecenderungan lebih banyak melakukan aktivitas melihat jarak dekat. 1

  • 1.2. Tujuan Penulisan

    • 1.2.1 Tujuan Umum

Untuk menyelesaikan tugas Kepaniteraan Klinik Senior bagian Mata di RSAM Bukittinggi.

  • 1.2.2 Tujuan Khusus

    • 1. Mengetahui Defenisi Myopia

    • 2. Mengetahui Klasifikasi Myopia

    • 3. Mengetahui Manifestasi Klinis Myopia

    • 4. Mengetahui Pemeriksaan Refraksi Pada Pasien Myopia

    • 5. Mengetahui Penatalaksanaan Myopia

    • 6. Mengetahui Komplikasi Myopia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Bola Mata Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda. 2 Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu: 2

  • 1. Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata, merupakan bagian terluar yang melindungi bola mata. Bagian terdepan sklera disebeut kornea yang bersifat transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan kornea lebih besar dibanding sklera.

  • 2. Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot dilator terdiri atas jaringan ikat jarang yang tersusun dalam bentuk yang dapat berkontraksi yang disebut sebagai sel mioepitel. Sel ini dirangsang oleh system saraf simpatis yang mengakibat sel berkontraksi yang akan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya masuk. Otot dilator pupil berlawan dengan otot kontriktor yang mengecilkan pupil dan mengakibatkan cahaya kurang masuk kedalam mata. Sedang sfingter iris dan otot siliar di persarafi oleh parasimpatis. Otot siliar yang terletakdi badan siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata (akuous humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera.

  • 3. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis

membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak.

Badan kaca mengisi rongga di dalam bola mata dan bersifat gelatin dan hanya menempel papil saraf optik, makula dan pars plana. Bila terdapat jaringan ikat didalam badan kaca disertai dengan tarikan pada retina, maka akan robek dan terjadi ablasi retina. Lensa terletak dibelakang pupil yang dipegang di daerah ekuatornya pada badan siliar melalui Zonula Zinn. Lensa mata mempunyai peran dan akomodasi atau melihat dekat sehingga sinar dapat difokuskan di daerah makula lutea. Terdapat 6 otot pergerakkan bola mata, dan terdapat kelenjar lakrimal yang terletak di daerah temporal atas di dalam rongga orbita.

Kornea Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari atas lapis : 2

  • 1. Epitel

    • - Tebalnya 50 µm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.

    • - Pada sel basal sering terlihat mitosis sel.

    • - Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

    • - Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

  • 2. Membran Bowman

    • - Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

    • - Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

  • 3. Stroma

  • Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang.

    • 4. Membran descement

      • - Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya.

      • - Bersifat sangat elastik dan berkembang seumur hidup, mempunyai tebal 40 µm.

  • 5. Endotel

    • - Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20- 40 µm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. 2

  • Uvea

    Lapis vaskular di dalam bola mata yang terdiri atas iris, badan siliar dan koroid. Persarafan uvea didapatkan dari ganglion siliar yang terletak antara bola mata dengan otot rektus lateral, 1 cm di depan foramen optik, yang menerima 3 akar saraf di bagian posterior yaitu : 2

    • 1. Saraf sensoris, yang berasal dari saraf nasosiliar yang mengandung serabut sensoris untuk kornea, iris dan badan siliar.

    • 2. Saraf simpatis yang membuat pupil berdilatasi, yang berasal dari saraf simpatis yang melingkari arteri karotis; mempersarafi pembuluh darah uvea dan untuk dilatasi pupil.

    • 3. Akar saraf motor yang akan memberikan saraf parasimpatis untuk

    mengecilkan pupil. Pada ganglion siliar hanya saraf parasimpatis yang melakukan sinaps. Iris terdiri dari atas bagian pupil dan bagian tepi siliar, badan siliar terletak antara iris dan koroid. Batas antara korneosklera dengan badan siliar belakang

    adalah 8 mm temporal dan 7 mm nasal. Di dalam badan siliar terdapat 3 otot

    akomodasi

    yaitu longitudinal,

    radiar dan sirkular. 2

    Iris mempunyai kemampuan mengatur secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola mata. Reaksi pupil ini merupakan juga indikator untuk fungsi simpatis (midriasis) dan parasimpatis (miosis) pupil. Badan siliar merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem ekskresi di belakang limbus. Radang badan siliar akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus, yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran karakteristik peradangan intraocular. 2 Otot longitudinal badan siliar yang berinsersi di daerah baji sklera bila berkonstraksi akan membuka anyaman trabekula dan mempercepat pengaliran cairan mata melalui sudut bilik mata. 2 Otot melingkar badan siliar bila berkontraksi pada akomodasi akan mengakibatkan mengendornya zonula Zinn sehingga terjadi pencembungan lensa.

    Kedua

    otot

    ini

    dipersarafi

    oleh

    saraf

    parasimpatik

    baik terhadap obat parasimpatomimetik. 2

    Pupil

    dan

    bereaksi

    Pupil anak-anak berukuran kecil akibat belum berkembangnya saraf simpatis. Orang dewasa ukuran pupil adalah sedang, dan pada orang tua, pupil mengecil akibat rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sclerosis. 2

    Pupil waktu tidur kecil, hal ini dipakai sebagai

    ukuran tidur,

    simulasi, koma dan tidur sesungguhnya. Pupil kecil waktu tidur akibat dari : 2

    • 1. Berkurangnya rangsangan simpatis

    • 2. Kurangnya rangsangan hambatan miosis

    Bila subkorteks bekerja sempurna maka terjadi miosis. Di waktu bangun korteks menghambat pusat subkorteks sehingga terjadi midriasis. Waktu tidur hambatan subkorteks hilang sehingga terjadi kerja subkorteks yang sempurna yang akan meningkatakan miosis. Fungsi mengecilnya pupil untuk mencegah aberasi kromatis pada akomodasi dan untuk memperdalam fokus seperti pada kamera foto yang diafragmanya di kecilkan. 2 Sudut Bilik Mata Depan

    Sudut bilik mata yang dibentuk jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Bila terdapat hambatan pengaliran keluar cairan mata akan terjadi penimbunan cairan bilik mata di dalam bola mata sehingga tekanan bola mata meninggi atau glaukoma. Berdekatan dengan sudut ini di dapatkan jaringan trabekulum, kanal Schlemm, baji sklera, garis Schwalbe dan jonjot iris. 2 Lensa Mata

    Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak dibelakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi. 2 Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu : 2

    • 1. Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung.

    • 2. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan. c. Terletak di tempatnya.

    Keadaan patologik lensa ini dapat berupa : 2

    • 1. Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia,

    • 2. Keruh atau apa yang disebut katarak,

    • 3. Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi.

    Badan Kaca Badan kaca merupakan suatu jaringan seperti kaca bening yang terletak antara lensa dan retina. Badan kaca bersifat semi cair di dalam bola mata. Mengandung air sebanyak 90% sehingga tidak dapat lagi menyerap air. 2 Retina

    Retina atau selaput jala, merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya 2 . Retina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina, dan terdiri atas lapisan : 2

    • 1. Lapis fotoreseptor, merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk ramping dan sel kerucut.

    2.

    Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi.

    • 3. Lapis nukleus luar, merupakan susunan lapisan nukleus sel kerucut dan batang. Ketiga lapis diatas avaskular dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid.

    • 4. Lapis fleksiform luar, merupakan lapis aselular dan merupakan tempat asinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.

    • 5. Lapis nukleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel muller lapis ini mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.

    • 6. Lapis fleksiform dalam, merupakan lapis aselular merupakan tempat sinaps bipolar, sel amakrin dengan sel ganglion.

    • 7. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua.

    • 8. Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju saraf optik. Di dalam lapisan-lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina.

    • 9. Membran limitan interna, merupakan membran hialin antara retina

    dan badan kaca. Pembuluh darah di dalam retina merupakan cabang arteri oftalmika, arteri retina sentral masuk retina melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam. 2 Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dan koroid. Untuk melihat fungsi retina maka dilakukan pemeriksaan subyektif retina seperti : tajam penglihatan, penglihatan warna, dan lapangan pandang. Pemeriksaan obyektif adalah elektroretinografi (ERG), elektrookulografi (EOG), dan visual evoked respons (VER). 2

    Saraf Optik Saraf optik yang keluar dari polus posterior bola mata membawa 2 jenis serabut saraf, yaitu : saraf penglihat dan serabut pupilomotor. Kelainan saraf optik menggambarkan gangguan yang diakibatkan tekanan langsung atau tidak langsung terhadap saraf optik ataupun perbuatan toksik dan anoksik yang mempengaruhi penyaluran aliran listrik. 2 Sklera

    Bagian

    putih

    bola

    mata

    yang

    bersama-sama

    dengan kornea

    merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sklera berjalan dari papil

    saraf optik sampai kornea. 2

    Bagian putih bola mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sklera

    Gambar 2.1.Anatomi Bola Mata

    Rongga Orbita

    Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang yang membentuk dinding orbita yaitu : lakrimal, etmoid, sfenoid, frontal, dan dasar orbita yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama- sama tulang palatinum dan zigomatikus. 2 Rongga orbita yang berbentuk pyramid ini terletak pada kedua sisi rongga hidung. Dinding lateral orbita membentuki sudut 45 derajat dengan dinding medialnya. 2 Dinding orbita terdiri atas tulang : 2

    • 1. Atap atau superior

    : os.frontal

    • 2. : os.frontal, os. zigomatik, ala magna os

    Lateral sfenoid

    • 3. : os. zigomatik, os. maksila, os. Palatin

    Inferior

    • 4. Nasal

    : os. maksila, os. lakrimal, os. Etmoid

    Foramen optik terletak pada apeks rongga orbita, dilalui oleh saraf optik, arteri, vena, dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus karotid. 2 Fisura orbita superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal (V), saraf frontal (V), saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI), dan arteri vena oftalmik. 2

    Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infra-orbita, zigomatik dan arteri infra orbita. 2 Fosa lakrimal terletak di sebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal. 2

    Otot Penggerak Mata

    Otot

    ini

    menggerakkan

    mata

    dengan

    fungsi

    ganda

    dan

    untuk

    pergerakan mata tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi

    otot. 2 Otot penggerak mata terdiri atas 6 otot yaitu : 2

    • 1. Oblik Inferior, dipersarafi saraf ke III

    • 2. Oblik Superior, dipersarafi saraf ke IV

    • 3. Rektus Inferior, dipersarafi saraf k eke III

    • 4. Rektus Lateral, dipersarafi saraf ke VI, untuk menggerakkan otot kea rah lateral.

    • 5. Rektus Medius, dipersarafi saraf ke III

    • 6. Rektus Superior, dipersarafi saraf ke III

    Fisura orbita inferior terletak di dasar tengah temporal orbita dilalui oleh saraf infra-orbita, zigomatik dan arteri

    Gambar 2.2. Otot Penggerak Mata

    2.2. Tajam Penglihatan

    • 2.2.1. Perkembangan Tajam Penglihatan

    Perkembangan kemampuan melihat sangat bergantung pada perkembangan sampai pada kemampuan menilai pengertian melihat. Walaupun

    perkembangan bola mata sudah lengkap waktu lahir, mielinisasi berjalan terus sesudah lahir. Tajam penglihatan bayi sangat kurang dibandingkan dengan penglihatan anak. Perkembangan penglihatan berkembang cepat sampai usia dua tahun dan secara kuantitatif pada usia lima tahun.

    Tajam penglihatan bayi berkembang sebagai berikut : 2

    • 1. Baru Lahir : Menggerakkan kepala ke sumber cahaya besar

    • 2. : Mulai melakukan fiksasi; Gerakan mata tidak teratur ke

    6 minggu

    arah sinar

    • 3. 3 bulan : Dapat menggerakkan mata kearah benda yang bergerak

    • 4. 4-6 bulan : Koordinasi penglihatan dengan gerakan mata; dapat melihat dan mengambil objek

    • 5. : Tajam Penglihatan 20/200

    9 bulan

    • 6. 1 tahun : Tajam Penglihatan 20/100

    • 7. : Tajam Penglihatan 20/40

    2 tahun

    • 8. : Tajam Penglihatan 20/30

    3 tahun

    • 9. : Tajam Penglihatan 20/20

    5 tahun

    • 2.2.2. Pemeriksaan Visus Mata

    Pemeriksaan tajam penglihatan merupakan pemeriksaan fungsi mata. Gangguan penglihatan memerlukan pemeriksaan untuk mengetahui sebab kelainan mata yang mengakibatkan turunannya tajam penglihatan. Tajam penglihatan perlu dicatat pada setiap mata yang memberikan keluhan mata. Untuk mengetahui tajam penglihatan seseorang dapat dilakukan dengan kartu Snellen dan bila penglihatan kurang maka tajam penglihatan diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari), ataupun proyeksi sinar. Untuk besarnya kemampuan mata membedakan bentuk dan rincian benda ditentukan dengan kemampuan melihat benda terkecil yang masih dapat dilihat pada jarak tertentu. 2 Biasanya pemeriksaan tajam penglihatan ditentukan dengan melihat kemampuan membaca huruf-huruf berbagai ukuran pada jarak baku untuk kartu. Pasiennya dinyatakan dengan angka pecahan seperti 20/20 untuk penglihatan

    normal. Pada keadaan ini, mata dapat melihat huruf pada jarak 20 kaki yang seharusnya dapat dilihat pada jarak tersebut. Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6 atau 20/15 (atau 20/20 kaki). Tajam penglihatan maksimum berada di daerah fovea, sedangkan beberapa faktor seperti penerangan umum, kontras, waktu papar, dan kelainan refraksi mata dapat merubah tajam penglihatan mata. 2 Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kacamata. Setiap mata diperiksa terpisah. Biasakan memeriksa tajam penglihatan kanan terlebih dahulu kemudian kiri lalu mencatatnya. Dengan gambar kartu Snellen ditentukan tajam penglihatan dimana mata hanya dapat membedakan dua titik tersebut membentuk sudut satu menit. Satu huruf hanya dapat dilihat bila seluruh huruf membentuk sudut lima menit dan setiap bagian dipisahkan dengan sudut satu menit. Makin jauh huruf harus terlihat, maka makin besar huruf tersebut harus dibuat karena sudut yang dibentuk harus tetap lima menit. 2 Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak lima atau enam meter. Pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi. Pada pemeriksaan tajam penglihatan dipakai kartu baku atau standar, misalnya kartu baca Snellen yang setiap hurufnya membentuk sudut lima menit pada jarak tertentu sehingga huruf pada baris tanda 60, berarti huruf tersebut membentuk sudut lima menit pada jarak 60 meter; dan pada baris tanda 30, berarti huruf tersebut membentuk sudut lima menit pada jarak 30 meter. Huruf pada baris tanda 6 adalah huruf yang membentuk sudut lima menit pada jarak enak meter, sehingga huruf ini pada orang normal akan dapat dilihat dengan jelas. 2 Dengan kartu Snellen standar ini dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan melihat seseorang, seperti : 2 1. Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak enak meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak enam meter. 2. Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka 30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30.

    3.

    Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka 50, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50.

    • 4. Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak enam meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter.

    • 5. Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen maka dilakukan uji hitung jari. Jari dapat terlihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter.

    • 6. Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak tiga meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan pengujian ini tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter.

    • 7. Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak satu meter berarti tajam penglihatannya adalah 1/300.

    • 8. Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut sebagai tajam penglihatan 1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.

    • 9. Bila penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar maka

    dikatakan penglihatannya adalah 0 (nol) atau buta nol. Hal diatas dapat dilakukan pada orang yang telah dewasa atau dapat berkomunikasi. Pada bayi adalah tidak mungkin melakukan pemeriksaan tersebut. Pada bayi yang belum mempunyai penglihatan seperti orang dewasa secara fungsional dapat dinilai apakah penglihatannya akan berkembang normal dengan melihat refleks fiksasi. Bayi normal akan dapat berfiksasi pada usia 6 minggu, sedang mempunyai kemampuan untuk dapat mengikuti sinar pada usia 2 bulan. Refleks pupil sudah mulai terbentuk sehingga dengan cara ini dapat diketahui keadaan fungsi penglihatan bayi pada masa perkembangannya. Pada anak yang lebih besar dapat dipakai benda-

    benda yang lebih besar dan berwarna untuk digunakan dalam pengujian penglihatannya. 2 Untuk mengetahui sama tidaknya ketajaman penglihatan kedua mata dapat dilakukan dengan uji menutup salah satu mata. Bila satu mata ditutup akan menimbulkan reaksi yang berbeda pada sikap anak, yang berarti ia sedang memakai mata yang tidak disenangi atau kurang baik dibanding dengan mata lainnya. 2 Bila seseorang diragukan apakah penglihatannya berkurang akibat kelainan refraksi, maka dilakukan uji pinhole. Bila dengan pinhole penglihatan lebih baik, maka berarti ada kelainan refraksi yang masih dapat dikoreksi dengan kacamata. Bila penglihatan berkurang dengan diletakkannya pinhole di depan mata berarti ada kelainan organic atau kekeruhan media penglihatan yang mengakibatkan penglihatan menurun. 2 Pada table dibawah ini terlihat tajam penglihatan yang dinyatakan dalam sistem desimal, Snellen dalam meter dan kaki. 2

    Tabel 2.1 Nilai Tajam Penglihatan dalam Meter dan Kaki

    Snellen (6 meter)

    20 kaki

    6/6

    20/20

    5/6

    20/25

    6/9

    20/30

    5/9

    15/25

    6/12

    20/40

    5/12

    20/50

    6/18

    20/70

    6/60

    20/200

    2.3. Kelainan Refraksi

    Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas korne, cairan mata, lensa, badan kaca, dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata

    demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah setalah melalui media penglihatandibiaskan tepat di daerah macula lutea. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh. 2

    demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah setalah melalui media penglihatandibiaskan tepat di daerah macula lutea. Mata

    Gambar 2.3. Emetropia

    2.3.1.

    Miopia

    2.3.1.1.Definisi

    Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar sejajar yang datang dibiaskan di depan retina (bintik kuning). 3

    demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah setalah melalui media penglihatandibiaskan tepat di daerah macula lutea. Mata

    Gambar 2.4. Miopia

    2.3.1.2.Klasifikasi

    Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. 2 Dikenal beberapa bentuk miopia seperti : 2

    • 1. Miopia refraktif, bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.

    • 2. Miopia aksial, miopia akibat panjang nya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal

    Menurut American Optometric Association (2006), miopia secara klinis dapat terbagi lima yaitu: 4

    • 1. Miopia Simpleks : Miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi.

    • 2. Miopia Nokturnal : Miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.

    • 3. Pseudomiopia : Diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot – otot siliar yang memegang lensa kristalina. Di Indonesia, disebut dengan miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru – buru memberikan lensa koreksi

    • 4. Miopia Degeneretif : Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah

    mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu.

    • 5. Miopia Induksi : Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat – obatan, naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya.

    Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam : 2

    • 1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 dioptri

    • 2. Miopia sedang, dimana miopia lebih antara 3-6 dioptri

    • 3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri

    Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk : 2

    • 1. Miopia stasioner, miopia yang menetap setelah dewasa

    • 2. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjangnya bola mata

    • 3. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan Miopia pernisiosa = miopia maligna = miopia degenerative.

    2.3.1.3. Manifestasi Klinis Pasien dengan miopia akan melihat jelas bila melihat dekat dan kabur jika melihat jauh. Pasien miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit. Selain itu, pasien miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah abrasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil). Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam keadaan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau esoptropia. 2

    • 2.3.1.4. Pemeriksaan Refraksi

      • 1. Pemeriksaandikerjakan sama dengan pemeriksaan tajam penglihatan sampai dengan tahap terakhir. Setelah itu, pada gagang lensa uji pasien dipasangkan lensa sferis +0,50 D. Apabila dengan lensa sferis positif

    pasien mersa penglihatannya semakin kabur maka dilanjutkan dengan sferis negative terkecil pada gagang lensa lensa uji.

    • 2. Tambahkan minus lensa sferis negativ hingga pasien dapat membaca huruf pada baris 6/6

    • 3. Pada pasien dengan myopia, maka derajat myopia yang dicatat adalah lensa sferis negative terkecil yang dapat memperbaiki tajam penglihatan pasien.

    • 2.3.1.5. Penatalaksanan

    Orang

    yang

    mengalami

    miopia

    diberi

    kacamata

    sferis

    negatif

    terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal.

    pasien mersa penglihatannya semakin kabur maka dilanjutkan dengan sferis negative terkecil pada gagang lensa lensa uji.

    Gambar 2.5. Koreksi Pada Pasien Miopia

    • 2.3.1.6. Komplikasi

    Penyulit yang dapat timbul pada pasien myopia adalah terjadinya ablasi retina dan juling. Juling biasanya esotropia atau juling kedalam akibat mata berkorvergensi terus-menerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah berkurang atau terdapat amblyopia.

    Pada myopia aksial tinggi, kemungkinan timbulnya ablation retina lebih besar. 2

    BAB III LAPORAN KASUS

    3.1 Identitas

    Nama

    : Tn.A

    Jenis Kelamin

    : Laki – laki

    Umur

    : 22 Th

    Agama

    : Islam

    Pekerjaan

    : Mahasiswa

    Status

    : Belum menikah

    Alamat

    : Bukitinggi

    Tanggal masuk

    : 25 Maret 2017

    3.2 Anamnesa

    Keluhan utama

    Seorang pasien datang dengan keluhan kedua mata penglihatan kabur

    sejak 3 minggu yang lalu.

    Riwayat Penyakit Sekarang

    • - Seorang pasien datang dengan keluhan kedua mata penglihatan kabur sejak 3 minggu yang lalu. Pasien merasa penglihatan kedua mata kurang jelas melihat benda jauh, sehingga pasien harus memicingkan matanya supaya dapat melihat jelas. Pasien mengaku lebih nyaman melihat sesuatu dengan jarak dekat. Pasien mengaku sudah pakai kacamata sejak kelas 1 SD. Pertama kali memakai kacamata dengan kekuatan lensa sferis -0,5 D tapi jarang

    digunakan. Pasien sudah mengganti kacama 3 kali, yaitu saat kelas 1 SMP dengan kekuatan lensa sferis -1.00 D, saat kelas 2 SMA dengan kekuatan lensa sferis -1.50 D dan terakhir sejak masuk kuliah dengan kekuatan lensa sferis -1.75 D. Keluhan disertai dengan mata menjadi cepat lelah dan cepat berair, terutama setelah pasien memakai computer.

    • - Keluhan seperti penglihatan berkabut, melihat pelangi disekitar cahaya lampu, nyeri disekitar mata disangkal

    • - Pasien menyangkal penglihatan ganda

    Riwayat Penyakit Dahulu

    • - Pasien sudah memakai kaca mata sebelumnya selama 15 tahun

    • - Riwayat DM disangkal

    • - Riwayat hipertensi disangkal

    • - Riwayat alergi obat di sangkal

    Riwayat Penyakit Keluarga

    • - Ada riwayat keluarga memakai kacama (Ayah, dan Ibu)

    • - Riwayat DM disangkal

    • - Riwayat hipertensi disangkal

    Riwayat Kebiasaan

    Pasien mengaku sering bermain game di komputer

    3.3. Pemeriksaan Fisik Status Generalisata:

    Keadaan umum

    :

    sedang

    Keadaan sakit

    :

    sakit ringan

    Kesadaran

    :

    compos mentis cooperatif

    Tekanan Darah

    :

    110/70 mmHg

    Nadi

    : 80 x/menit, reguler

    Pernafasan

    :

    20 x/menit

    Suhu

    : 36,7 o C

    Status Opthamology:

     

    OD

    OS

    20

    Visus

       

    -

    Non Corrected

    20/80

    20/80

    -

    Cum Corrected

    20/20 (S – 2 D)

    20/20 (S – 2 D)

    Pin Hole

    Refleks Fundus

    (+)

    (+)

    Silia/supersilia

    TAK

    TAK

    Madarosis

    Trikhiasis

    Krusta/suama

    Distihkiasis

    Palpebra Superior Ptosis/pseudoptosis

    TAK

    TAK

    Epikanthus

    Hordeolum

    Kalazion

    Abses

    Tumor

    Xanthelasma

    Nevus

    Edema

    Blefarokalasis

    Enteropion

    Ekteropion

    Palpebra inferior Hordeolum

    TAK

    TAK

    Kalazion

    Abses

    Tumor

    Edema

    Blefaritis

    Enteropion

    Ekteropion

    Nevus

    Meibomitis

    Apparatus lakrimalis Hiperlakrimasi

    TAK

    TAK

    Obstruksi

    Epifora

    Dakristenosis

    Konjungtiva tarsalis

    TAK

    TAK

    21

    Folikel

       

    Papil

    Lithiasis

    Hiperemis

    Sikatrik

    Membran

    Pseudomembran

     

    Konjungtiva bulbi

     

    TAK

    TAK

    Injeksi konjungtiva

    Injeksi silia

    Kemosis

    Perdarahan subkonjungtiva

    Sklera

       

    Warna

    Putih

    Putih

    Kornea

    TAK

    TAK

    Infiltrat

     

    Sikatrik

    Ulkus

    Edema

    Neovaskularisasi Arkus kornea

    Kamera okuli anterior

     

    TAK

    TAK

    Kedalaman

    Flare

    Hipopion

    Hifema

    Pigmen

    Iris

    TAK

    TAK

    Warna

    Rugae

    Atrofi iris

    Coloboma

    Sinekia

    Pupil

    TAK

    TAK

    Bentuk

    Refleks pupil langung

     

    Refleks

    pupil

    tidak

    langsung

    Lensa

       

    Bening/keruh

    Bening

    Bening

    22

    Kelainan letak

    (-)

    (-)

    Korpus vitreus

     

    TAK

    TAK

    Funduskopi

     

    TAK

    TAK

    -

    Media

    -

    Papil N. Optikus Warna Batas Cup/Disk

    -

    Pembuluh darah Aa : Vv

    -

    Retina Perifer Perdarahan Eksudat Pigmentasi Sikatrik

    -

    Makula Reflek

    Tekanan bulbus okuli

     

    Normal

    Normal

    Gerakan bulbus okuli

     

    Bebas kesegala arah

    Bebas kesegala arah

    Posisi bulbus okuli

     

    Normal

    Normal

    3.4.

    Diagnosa Kerja

    Miopia Ringan ODS

     

    3.5.

    Penatalaksanaan

    Koreksi dengan mengguanakan lensa negative sferis -2,00 ODS

     

    3.6.

    Prognosis

    ODS:

    -

    Quo Ad Vitam

    : Bonam

    -

    Quo Ad Sanationam

    : Bonam

    -

    Quo Ad Fungsionam

    : Bonam

    23

    BAB IV ANALISA KASUS

    Anamnesa

    Penglihatan kedua mata kabur sejak 3 minggu yang lalu. Pasien merasa penglihatan kedua mata kurang jelas melihat benda jauh.

    Merupakan gejala utama pasien dengan myopia. Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga

    sinar

    sejajar

    yang

    datang

    dibiaskan

    di

    depan retina (bintik kuning). Ini

    karena diameter bola mata anteroposterior yang terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang berlebihan. Pasien harus memicingkan matanya supaya dapat melihat jelas. Pada pasien myopia, memicingkan mata adalah untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole Pasien mengaku sudah pakai kacamata sejak kelas 1 SD. Pertama kali memakai kacamata dengan kekuatan lensa sferis -0,5 D tapi jarang digunakan. Pasien sudah mengganti kacama 3 kali, yaitu saat kelas 1 SMP dengan kekuatan lensa sferis -1.00 D, saat kelas 2 SMA dengan kekuatan lensa sferis -1.50 D dan terakhir sejak masuk kuliah dengan kekuatan lensa sferis -1.75 D. Menunjukkan pasien menderita myopia progresif. Keluhan disertai dengan mata menjadi cepat lelah dan cepat berair, terutama setelah pasien memakai computer. Merupakan gejala Astenopia. Astenopia adalah gejala-gejala yang diakibatkan adanya upaya berlebihan untuk memperoleh ketajaman binokuler yang sebaik- baiknya dari system penglihatan yang berada dalam keadaan kurang sempurna. Astenopia terjadi akibat kelelahan otot siliaris, contohnya pada penggunaan kacamata yang tidak sesuai ukurannya yang melemahkan akomodasi dan konvergensi Keluhan seperti penglihatan berkabut, melihat pelangi disekitar cahaya lampu, nyeri disekitar mata disangkal Untuk menyingkirkan diagnosis banding karak dan glaucoma. Pada katarak dan glaucoma, penglihatan menurun secara perlahan karena proses yang progresif.

    Pasien dengan katarak sering mengeluh penglihatan berkabut akibat terjadinya kekeruhan lensa. Pada pasien glaucoma sering mengeluh nyeri kepala dan nyeri disekitar mata, ini disebabkan peningkatan tekanan bola mata. Selain itu, pasien glaucoma melihat pelangidisekitar cahaya lampu. Pasien sudah memakai kaca mata sebelumnya selama 15 tahun Menunjukkan miopia pada pasien ini miopia yang progresif Riwayat DM dan hipertensi disangkal Diagnosis banding retinopati hipertensi dan retinopati diabetikum disingkirkan. Pada retinopati hipertensi dan retinopati diabetikum penglihatan menurun secara perlahan kerana proses yang progresif.

    Status Opthamology

    Pemeriksaan Visus:

    Didapatkan visus ODS 20/80 dan dikoreksi dengan lensa sferis -2.00 D memberi perbaikan visus mencapai 6/6. Pada penderita dengan miopia, bisa dikoreksi dengan lensa sferis negatif terlemah yang menhasilkan tajam penglihatan terbaik Lensa:

    Didapatkan lensa pada kedua mata jernih. Ini dapat menyingkirkan katarak dimana pada katarak didapatkan lensa keruh.

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Maulud Fauzia , Mutia. Hidayat, M. Julizar. 2014. Hubungan Lama Aktivitas Membaca dengan Derajat Miopia pada Mahasiswa Pendidikan Dokter FK Unand Angkatan 2010. Padang: Jurnal Kesehatan Andalas. Vol. 3,No. 3:429-430

    • 2. Ilyas, Sidarta. Yulianti, Sri Rahayu. 2014. Ilmu Penyakit Mata Edisi kelima. Jakarta:Badan Penerbit FKUI.

    • 3. 2005.

    __________.

    Ilmu

    Penyakit

    Mata

    Edisi

    kelima.

    Jakarta:Badan

    Penerbit FKUI.

    • 4. American Optometric Association. 2006. Care of the Patient with Myopia. USA. American Optometric Association

    • 5. Chris

    Tanto,

    dkk.

    2014.

    Kapita

    Selekta

    Kedokteran.

    Jakarta:Media

    Aesculapius.