Anda di halaman 1dari 22

Minggu, 29 Maret 2015

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK TUMBUHAN


MACERASI

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN II
MACERASI

NAMA : NURUL MAGFIRAH SUKRI


NIM : H41113328
KELOMPOK : V (LIMA) C
HARI/TANGGAL : RABU/11 MARET 2015
ASISTEN : YULIANI

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Suatu organisme baik tumbuhan maupun hewan adalah suatu unit kehidupan yang
lengkap. Jika terorganisasi benar maka organisme mempunyai susunan yang memiliki organ,
jaringan dan sel yang fungsi dan hubungannya merupakan ciri khas suatu individu maupun
spesies. Dalam bentuk kehidupan yang paling sederhana suatu organisme dapat terdiri dari
satu sel (Syahrir, 2013).
Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber
yang penting sebagai bahan mikoteknik. Bakteri serta berbagai jenis organisme uniseluler
lainnya dapat termasuk di dalamnya, karena mereka sangat sering dijumpai erat hubungannya
baik dengan jenis jaringan yang masih hidup maupun yang telah mati (Luqman, 2012).
Untuk klasifikasi praktis, bahan yang berasal dari hewan atau tumbuh-tumbuhan
dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras, normal atau yang bersifat patologis.
Suau spesimen mungkin saja berisi campuran jaringan lunak dan keras, sedang bagian
darinpadanya dapat normal dan bagian lain justru patologis sifatnya seperti halnya tumor
pada tulang. Pada umumnya suatu jaringan lunak dapat diproses untuk pembuatan sayatan
tanpa perlakuan khusus guna mengeluarkan atau melunakkan bagian-bagian yang keras. Dari
sekian banyak jaringan hewan, maka kelanjar, tulang rawan yang tidak berkalsium, kulit,
otot, saraf dan saluran darah adalah contoh-contoh jaringan lunak. Sedangkan tulang gigi,
tulang rawan berkalsium, kitin dan berbagai struktur pada kulit seperti sisik, tangkai bulu dan
lempengan kapur termasuk jaringan keras (Luqman, 2012).
Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk
melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan
cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan
memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh.
Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi
suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Wahyu, 2010).
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukanlah percobaan ini, yang bertujuan untuk
mengetahui pembuatan preparat dengan metode maserasi.

I.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah membuat preparat yang dapat memberi gambaran
yang jelas mengenai bentuk-bentuk sel.

I.3 Waktu dan Tempat


Percobaan ini dilakukan pada hari Rabu, tanggal 11 Maret 2015, bertempat di
Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk
melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan
cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan
memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh.
Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi
suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Fathiyawati, 2008).
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara
teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada
keseimbangan. Maserasi merupakan proses dimana simplisia yang sudah halus
memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan
sel, sehingga zat-zat mudah larut akan melarut. Maserasi merupakan cara penyarian yang
sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyarian. Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel
yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat akan
didesak keluar (Luqman, 2012).
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian. Cairan penyarian akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut
dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di
luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi
digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan
penyarian, tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak
mengandung benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi
adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.
Kerugian cara Maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang
sempurna (Wahyu, 2010).
Preparat Maserasi merupakan suatu preparat yang proses pembuatannya dengan cara
pembusukan buatan (melunakkan jaringan tertentu) dengan menggunakan cairan maserator.
Proses membusuknya jaringan yang mudah hancur akan terbuang, sementara jaringan yang
tidak rusak akibat cairan maserator akan tetap bertahan dan utuh (Syahrir, 2013).
Preparat maserasi digunakan untuk pengamatan dimensi dan kualitas serat. Serpihan
contoh kayu sebesar batang korek pi, mula-mula dipanaskan hingga setengah melunak dan
diberi perlakuan dengan berbagai larutan. Contohnya Alkohol, KOH, Xylol maupun aquades
(Azmil, 2002).
Pengadukan pada proses maserasi dapat menjamin keseimbangan konsentrasi bahan
yang diekstraksi lebih cepat didalam cairan penyari. Hasil penyarian dengan cara maserasi
perlu dibiarkan selama waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk mengendapkan zat-zat yang
tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari, seperti: malam dan lain-
lain. Modifikasi maserasi antara lain remaserasi, maserasi kinetik, dan digesti (Azmil, 2002).
Preparat maserasi selalu digunakan pada batang-batang tumbuhan karena batang
tumbuhan lebih variatif dalam bentuk sel. Selain itu, pada batang tumbuhan mudah diamati
serta memiliki bentuk yang khas dalam gambaran jaringannya. Beberapa contoh ekstraksi
dengan menggunakan teknik maserasi adalah mengekstrak artermisin yang terdapat pada
tumbuhan Artemisia annua L. Ekstraksi secara maserasi dengan pelarut n-heksana, dengan
alat soxhlet menggunakan pelarut n-heksana, dan maserasi-perkolasi dengan pelarut metanol.
Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan metanol 60%, fraksi metanol difraksinasi dengan n-
heksana-etil asetat (9:1). Ekstrak metanol ditambahkan air suling, dan disentrifuga.
Supernatan yang diperoleh difraksinasi dengan n-heksana. Pemekatan fraksi n-heksana atau
n-heksana-etil asetat menghasilkan kristal yang direkristalisasi dengan metanol. Artemisinin
0,22 % b/b dari ekstrak n-heksana secara maserasi pengadukan, 0,29% b/b dari ekstrak n-
heksana menggunakan soxhlet, dan 0,4% b/b dari ekstrak metanol secara maserasi (Wahyu,
2010).
Maserasi dilakukan dengan metode Schultze, yaitu ke dalam tabung reaksi yang berisi
potongan kayu dimasukkan asam nitrat (HNO3) konsentrasi 65% hingga kayu terendam dan
potasium klorat (KClO3). Tabung beserta isinya dipanaskan hingga terjadi gelembung-
gelembung udara berwarna putih kekuningan, sebagai tanda proses maserasi sedang
berlangsung dan serat mulai terpisah. Kemudian tabung segera didinginkan dan serat dicuci
dengan aquades lalu serat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi alkohol 50%. Selanjutnya
serat diambil dan diletakkan di kaca objek dan diberi kaca penutup lalu diukur dimensi
seratnya (Syahrir, 2013).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat Percobaan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pisau, panci, kompor, wadah,
jarum preparat, object glass, dan stopwatch.
III.2 Bahan Percobaan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah batang Kembang
Sepatu Hibiscus rosa-sinensis, KOH 10%, asam nitrat 10%, asam kromat 10%, safranin 1%,
alkohol 96%, xylol, air, dan gliserin.

III.3 Cara Kerja


Cara kerja dalam percobaan ini adalah:
1. Merebus bahan dalam air sampai tenggelam. Kemudian dipotong-potong menjadi potongan
kecil-kecil (0,5 mm).
2. Merebus potongan tersebut dalam KOH 10% mendidih selama 3 menit. Cuci dalam air
mengalir.
3. Memasukkan dalam campuran yang terdiri dari asam nitrat 10% dengan asam kromat 10%
dengan perbandingan yang sama, sampai bahan menjadi lunak. Kalau sudah lunak, cuci
dalam air mengalir.
4. Mewarnai dengan safranin 1% dalam air selama 3 jam, kemudian cuci di air.
5. Dehidrasi dengan alkohol bertingkat sampai alkohol absolut. Dealkoholisasi dengan xylol.
6. Memisah bagian-bagiannya dengan menggunakan jarum preparat.
7. Mounting dengan gliserin sebagai pengganti Canada balsem.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
Hasil preparat batang kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis
Gambar 1. Penampang melintang batang kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis

IV.2 Pembahasan
Maserasi adalah pembusukan yang disengaja dengan bahan tertentu, bertujuan untuk
memperoleh sel secara individu dengan cara pembusukan secara buatan sehingga jaringan
yang lunak busuk terlebih dahulu. Tampak pada preparat batang Hibiscus yang telah
dimaserasi, tampak satu sel xilem beserta dinding xilem. Xilem atau pembuluh kayu adalah
komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Xilem bertugas
menyalurkan air dan mineral dari akar ke bagian atas tumbuhan yaitu daun. Sel xilem banyak
mengandung lignin dan merupakan pembentuk bagian utama yang sering disebut sebagai
kayu.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap preparat maserasi terlihat bahwa masing-
masing sel penyusun kayu memiliki bentuk berbeda-beda. Komponennya yang teramati dapat
dibedakan menjadi sel trakea, trakeid dan serat. Trakea merupakan sel panjang dengan lubang
perforasi di kedua ujungnya. Trakeid memiliki sel dengan bentuk memanjang tanpa perforasi
tetapi memiliki beberapa bagian dinding sel yang tidak menebal (noktah) berfungsi untuk
pengangkutan air. Sedangkan komponen serat dalam xilem merupakan sel panjang dengan
dinding berlignin dan tebal dinding biasanya lebih tebal daripada trakeid. Ada dua macam
serat, yakni serat trakeid dan serat libriform.
Dalam prosedur kerja pembuatan preparat, langkah awal setelah batang dipotong

adalah perendaman kayu dengan KOH 10 % selama 3 menit. Hal ini bertujuan untuk

mengeluarkan udara yang terdapat di dalam sel atau jaringan, agar pada tahap selanjutnya

kayu dapat tenggelam.

Campuran asam kromat 10% dan asam nitrat 10% digunakan untuk melunakkan

kayu. Perendaman kayu dalam asam kromat dan asam nitrat pada selama 3 menit

dimaksudkan untuk mempercepat hidrolisa dan pelarutan lamela tengah agar sel-sel

penyusun kayu dapat terurai dan dipisah-dipisahkan. Sel-sel penyusun kayu tersebut

diwarnai dengan safranin 1% dalam air agar lebih mudah diamati.

Pemilihan batang yang akan digunakan menjadi penentu apakah jaringan penyusun

batang tumbuhan dapat terlihat dengan jelas. Batang yang kelompok kami gunakan adalah

batang yang tidak terlalu tua maupun terlalu muda atau merupakan batang yang masih
mengalami pertumbuhan primer. Batang yang muda dan tua tentunya akan memberikan

gambaran yang berbeda dalam jaringan penyusunnya.

Keterampilan dari praktikan juga menjadi faktor keberhasilan pembuatan preparat

maserasi tumbuhan ini. Apabila praktikan tidak memperhatikan cara kerja secara baik maka

preparat maserasi yang dihasilkan tidak akan sempurna. Waktu lamanya pemberian larutan

safranin juga sangat mempengaruhi penampakan jaringan pada pada preparat.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan yaitu Preparat Maserasi merupakan
salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara
utuh. Dan aringan yang terlihat adalah jaringan pengangkut xylem yang terdiri dari sel trakea,
serabut trakeid, dan trakeida.

V.2 Saran
Sebaiknya bahan larutan dapat disediakan lebih lengkap lagi dan mikroskop sebaiknya
diperbanyak agar praktikan dapat melihat hasil objek dengan tenang tanpa keributan.
DAFTAR PUSTAKA

Azmil, 2002. Penelitian Struktur Anatomi Kayu Untuk Memperkaya Kualitas Kayu Di Indonesia. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta

Fathiyawati, M., 2008. Preparat Mikroteknik. http://mila.blogspot.com, diakses pada 16 Maret 2015
pukul 21.00 WITA, Makassar.

Luqman, W.S., 2012. Laporan Praktikum Mikroteknik Tumbuhan.http://wahyullahluq.wordpredd.com,


diakses pada 16 Maret 2015, pukul 20.00 WITA.

Santoso, H. B., 2002. Bahan Kuliah Tehnik Laboratorium.http://maya.scribd.com/390192, diakses pada


16 Maret 2015, pukul 22.00 WITA, Makassar.

Syahrir, 2013. Preparat Maserasi Mikroteknik. http://id.wikipedia.org, diakses pada 16 Maret 2015,
pukul 24.00 WITA, Makassar.

Wahyu, K., 2010. Laporan Praktikum Tehnik Laboratorium.http://biologika.blogspot.com, diakses pada


16 Maret 2015 pukul 21.00 WITA, Makassar
....................

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROTEKNIK TUMBUHAN

PERCOBAAN II

MACERASI

NAMA : ASTRID SAFIRA IDHAM


NIM : H411 13 341
KELOMPOK : VII (TUJUH) A
HARI/TANGGAL : SELASA/10 MARET 2015
ASISTEN : NURUL QALBY

LABORATORIUM BOTANI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pemanfaatan metabolit sekunder yang terdapat dalam tanaman dapat dilakukan

dengan mengonsumsi langsung dari tanaman penghasil metabolit sekunder atau melakukan

isolasi terhadap metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis.

Metabolit sekunder yang diproduksi oleh berbagai organisme memang tidak memiliki peran

yang cukup signifikan terhadap keberlangsungan hidup dari organisme penghasilnya. Namun,

metabolit sekunder tersebut diketahui memiliki berbagai jenis


aktivitas biologi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Berbagai aktivitas biologis

dari metabolit sekunder antara lain anti kanker, anti bakteri, anti oksidan dan anti fungi

(Hidayat, 1995).

Maserasi merupakan salah satu proses pemisahan zat yang diinginkan dari suatu

material tanaman. Teknik mengisolasi senyawa metabolit sekunder dari suatu bahan alam

dikenal sebagai maserasi. Metode maserasi mengandalkan sifat kelarutan dari senyawa yang

akan diekstrasi terhadap pelarut yang digunakan. Keberhasilan ekstraksi juga dipengaruhi

oleh beberapa faktor sehingga perlu adanya ketelitian dalam memilih metode ekstraksi yang

digunakan untuk mengekstrak senyawa metabolit sekunder yang diinginkan. Preparat

Maserasi adalah suatu preparat yang proses pembuatannya dengan cara pembusukan buatan

(melunakkan jaringan tertentu) dengan menggunakan cairan maserator. Proses membusuknya

jaringan yang mudah hancur akan terbuang, sementara jaringan yang tidak rusak akibat

cairan maserator akan tetap bertahan dan utuh. Maserasi dapat dilakukan tanpa pemanasan

atau dikenal dengan istilah ekstraksi dingin sehingga maserasi tidak tahan panas ataupun

tahan panas (Fathiyawati, 2008).

Berdasarkan teori diatas maka dilakukanlah percobaan tentang pembuatan preparat

dengan Hibiscus rosa-sinensis menggunakan metode maserasi.

I.2 Tujuan Percobaan

Tujuan pada praktikum preparat maserasi yaitu untuk mengetahui cara

menghancurkan lamella tengah yang menghubungkan antara satu sel dengan sel yang lainnya

sehingga diperoleh gambaran bentuk utuh dari sel-sel tersebut.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan tentang pembuatan preparat dengan metode maserasi, dilaksanakan pada

hari Selasa, 11 Maret 2015, pukul 14.00 17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi

Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Hasanuddin, Makassar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan preparat dan sediaan mikroskopis pada

umumnya disebut sebagai mikroteknik. Teknik teknik pada pembelajarannya mengacu pada

cara preparat itu sendiri dibuat. Pada pembuatan preparat dengan maserasi, terdapat banyak

metode atau teknik yang dapat digunakan seperti metode Schultze dan metode Jeffrey

(Fathiyawati, 2008).

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk

melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan

cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan

memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh.

Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi

suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Kertasaputra, 1998).

Batang merupakan sumbu pada suatu tanaman dengan daun yang melekat padanya.

Jaringan pada batang dapat dibagi menjadi jaringan dermal, jaringan dasar,dan jaringan

pembuluh. Perbedaan struktur primer batang pada spesies yang berlainan didasari oleh
perbedaan dalam jumlah jaringan dasar dan jaringan pembuluh. Pada Coniferae dan dikotil,

jaringan pembuluh pada ruas batang umumnya tampak seperti silinder berongga yang

dibatasi di sebelah luar oleh korteks dan di sebelah dalam oleh empulur (Gembong, 2005).

Adapun susunan jaringan pada batang (Hidayat, 1995) yaitu :

a.Epidermis

Epidermis biasanya terdiri atas satu lapisan sel yang memiliki mulut daun

(stomata) dan rambut (trikomata). Sel epidermis adalah sel hidup dan mampu bermitosis. Hal

ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjaditekanan dari dalam akibat

pertumbuhan sekunder. Respon sel epidermis terhadap tekanan itu adalah dengan melebar

tangensial dan membelah antiklinal.

b. Korteks

Korteks adalah kawasan di antara epidermis dan sel silinder pembuluh palingluar.

Korteks biasanya terdiri dari parenkim yang dapat berisi kloroplas. Di tepi luar sering

terdapat kolenkim atau sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah jaringan pembuluh sering

tidak jelas karena tidak ada endodermis

c. Empulur

Empulur biasanya terdiri atas parenkim yang dapat mengandung kloroplas.Bagian

tengah empulur dapat rusak di waktu pertumbuhan. Sering hal itu terjadihanya di daerah ruas,

sementara di daerah buku, empulur utuh, disebut diafragma buku. Dalam empulur terdapat

ruang antarsel yang mencolok besarnya. Sel-sel di bagian tepi empulur berukuran lebih kecil,

tersusun kompak, dan berdaya hidup lebih lama. Oleh karena empulur juga disebut medulla,

maka daerah tepi dengan sel berukuran kecil dan kompak dinamakan seludang

primedula.Sistem jaringan pembuluh pada batang primer berupa sejumlah berkas yang jelas

terpisah satu dari yang lain dan dinamakan ikatan pembuluh. Ikatan pembuluh juga

dinamakan fasikel dan terletak dalam lingkaran. Parenkim di antara dua ikatan pembuluh

yang berdampingan disebut parenkim interfasikel atau jari-jari empulur.Pada Gymnospermae

dan dikotil, letak ikatan pembuluh berada dalam lingkaran,sedangkan pada monokotil
letaknya dalam dua lingkaran dan biasanya terdiri dari berkas yang tersebar seoleh tidak

beraturan dan hal itu jelas terlihat pada penampang melintangnya.

Preparat maserasi selalu digunakan pada batang-batang tumbuhan karena batang

tumbuhan lebih variatif dalam bentuk sel. Selain itu, pada batang tumbuhan mudah diamati

serta memiliki bentuk yang khas dalam gambaran jaringannya. Metode maserasi yaitu dengan

penyarian dengan menggunakan pelarut beberapa hari (5 hari) dengan pengaduk (tidak

kontinu). Sesuai untuk bahan aktif yang mudah larut dalam cairan penyari. Simplisia yang

mengandung musilago dan bahan lain yang mudah mengambang (Kertasaputra, 1998).

Pembuluh kayu atau xilem merupakan salah satu dari dua kelompok utama jaringan

pembuluh yang dimiliki oleh tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Pembuluh kayu

berfungsi menyalurkan zat bahan fotosintesis dari akar ke daun. Pembuluh kayu merupakan

saluran utama bagi transportasi air beserta semua substansi yang terlarut di dalamnya dari

akar (dan juga bagian tubuh tumbuhan lain yang menyerap air) menuju bagian lain tumbuhan,

terutama daun. Kayu dibentuk terutama dari kumpulan pembuluh kayu (Campbell, dkk.,

2004).

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk

melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan

cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan

memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh.

Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi

suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Fathiyawati, 2008).

Maserasi istilah aslinya adalah macerare (bahasa Latin, artinya merendam). Cara ini

merupakan salah satu cara ekstraksi, dimana sediaan cair yang dibuat dengan cara

mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut

nonpolar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai

dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Hidayat, 1995).


Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara

merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian. Cairan penyarian akan menembus

dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut

dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di

luar sel, maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga

terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Maserasi

digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan

penyarian, tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak

mengandung benzoin, stirak dan lain-lain (Fathiyawati, 2008).

Pada maserasi juga dilakukan dehidrasi, dehidrasi adalah suatu cara atau proses

(metode) pengurangan atau penghilangan air dari dalam sel. Penjernihan adalah suatu cara

atau proses (metode) yang digunakan untuk menghilangkan warna asli suatu preparat supaya

ketika pemberian warna yang baru menjadi lebih sempurna daripada warna aslinya (Hidayat,

1995).

Beberapa contoh ekstraksi dengan menggunakan teknik maserasi adalah mengekstrak

artermisin yang terdapat pada tumbuhan Artemisia annua L. Ekstraksi secara maserasi dengan

pelarut n-heksana, dengan alat soxhlet menggunakan pelarut n-heksana, dan maserasi-

perkolasi dengan pelarut metanol. Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan metanol 60%, fraksi

metanol difraksinasi dengan n-heksana-etil asetat (9:1). Ekstrak metanol ditambahkan air

suling, dan disentrifuga. Supernatan yang diperoleh difraksinasi dengan n-heksana.

Pemekatan fraksi n-heksana atau n-heksana-etil asetat menghasilkan kristal yang

direkristalisasi dengan metanol. Artemisinin 0,22 % b/b dari ekstrak n-heksana secara

maserasi pengadukan, 0,29% b/b dari ekstrak n-heksana menggunakan soxhlet, dan 0,4% b/b

dari ekstrak metanol secara maserasi (Kertasaputra, 1998).

Maserasi dilakukan dengan metode Schultze, yaitu ke dalam tabung reaksi yang berisi

potongan kayu dimasukkan asam nitrat (HNO3) konsentrasi 65% hingga kayu terendam dan

potasium klorat (KClO3). Tabung beserta isinya dipanaskan hingga terjadi gelembung -
gelembung udara berwarna putih kekuningan, sebagai tanda proses maserasi sedang

berlangsung dan serat mulai terpisah. Kemudian tabung segera didinginkan dan serat dicuci

dengan aquades lalu serat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi alkohol 50%. Selanjutnya

serat diambil dan diletakkan di kaca objek dan diberi kaca penutup lalu diukur dimensi

seratnya (Hidayat, 1995).

Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk

melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian

konsentrasi pada keseimbangan. Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan

teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan. Maserasi

digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan

penyarian, tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak

mengandung benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi

adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.

Kerugian cara Maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang

sempurna (Fathiyawati, 2008).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah beker gelas, batang pengaduk,

pinset, pipet tetes, jarum preparat, preparat, kaca penutup, kertas label, mikroskop dan

kamera.

III.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah batang tanaman Kembang

sepatu Hibiscus rosa-sinensis, Aquades, KOH 10%, Asam nitrat 10%, Asam kromat 10%,

Safranin 1% dan Gliserin 30%.

III.3 Cara Kerja

Cara kerja dari percobaan ini adalah:


1. Memotong kayu menjadi bagian-bagian kecil dengan diameter seperti batang korek api.
2. Merebus potongan bahan dalam air sampai tenggelam.
3. Memotong bahan menjadi potongan kecil 5 mm.
4. Merebus potongan-potongan tersebut dalam KOH 10% mendidih selama 3 menit.
5. Mencuci dalam air mengalir.
6. Memasukkan dalam larutan campuran yang terdiri dari asam nitrat 10% dengan asam kromat
10% dengan perbandingan yang sama sampai bahan menjadi lunak.
7. Mencuci preparat dalam air mengalir kalau sudah lunak.
8. Mewarnai preparat dengan safranin 1% (aquosa) selama 3 jam.
9. Mengambil sedikit bahan kemudian meletakkannya di atas kaca objek.
10. Memisah - misahkan dengan menggunakan jarum preparat.
11. Meneteskan larutan gliserin 30% diatas bahan lalu menutupnya dengan kaca penutup.
12. Mengamati di bawah mikroskop.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, dkk., 2004, Biologi Jilid 2 Edisi Kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Fathiyawati, 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus racemosa terhadap Artemia salina Leach dan
Profil Kromatografi Lapis Tipis. Universitas Muhammadiyah press, Surakarta.

Gembong, T. 2005. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.

Hidayat, Estiti B., 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.

Kertasaputra, A. G., 1998. Pengantar Anatomi Tumbuhan tentang Sel dan Jaringan. Bina Aksara, Jakarta.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
a. Preparat batang kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis
GAMBAR KETERANGAN GAMBAR

1. Serabut trakeid pada jaringan


pembuluh xylem di batang
kembang sepatu Hibiscus rosa-
sinensis

b. Gambar tahapan kerja pada pembuatan preparat dengan metode maserasi

IV.2 Pembahasan

Maserasi adalah pembusukan yang disengaja dengan bahan tertentu, bertujuan untuk

memperoleh sel secara individu dengan cara pembusukan secara buatan sehingga jaringan

yang lunak busuk terlebih dahulu. Tampak pada preparat batang hibiscus yang telah

dimaserasi, tampak satu sel xilem beserta dinding xilem. Xilem atau pembuluh kayu adalah

komponen utama pada jaringan pengangkut yang ada pada tumbuhan. Xilem bertugas

menyalurkan air dan mineral dari akar ke bagian atas tumbuhan yaitu daun. Sel xilem banyak

mengandung lignin dan merupakan pembentuk bagian utama yang sering disebut sebagai

kayu.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap preparat maserasi terlihat bahwa masing-

masing sel penyusun kayu memiliki bentuk berbeda-beda. Komponennya yang teramati dapat

dibedakan menjadi sel trakea, trakeid dan serat. Karakteristik komponen kayu menurut

Hidayat (1995) dalam bukunya yang berjudul Anatomi Tumbuhan Berbiji, dijabarkan bahwa,

trakea merupakan sel panjang dengan lubang perforasi di kedua ujungnya. Trakeid memiliki

sel dengan bentuk memanjang tanpa perforasi tetapi memiliki beberapa bagian dinding sel

yang tidak menebal (noktah) berfungsi untuk pengangkutan air. Sedangkan komponen serat

dalam xylem merupakan sel panjang dengan dinding berlignin dan tebal dinding biasanya

lebih tebal daripada trakeid. Ada dua macam serat, yakni serat trakeid dan serat libriform.

Dalam prosedur kerja pembuatan preparat, langkah awal setelah batang

dipotong adalah perendaman kayu dengan KOH 10 % selama 3 menit. Hal ini

bertujuan untuk mengeluarkan udara yang terdapat di dalam sel atau jaringan,

agar pada tahap selanjutnya kayu dapat tenggelam.

Campuran asam kromat 10% dan asam nitrat 10% digunakan untuk

melunakkan kayu. Perendaman kayu dalam asam kromat dan asam nitrat pada

selama 3 menit dimaksudkan untuk mempercepat hidrolisa dan pelarutan lamela

tengah agar sel-sel penyusun kayu dapat terurai dan dipisah-dipisahkan. Sel-sel

penyusun kayu tersebut diwarnai dengan safranin 1% dalam air agar lebih

mudah diamati.

Pemilihan batang tumbuhan yang akan digunakan menjadi penentu

apakah jaringan penyusun batang tumbuhan dapat terlihat dengan jelas atau

tidak. Batang yang digunakan oleh kelompok kami adalah batang yang tidak

terlalu tua maupun tidak terlalu muda atau merupakan batang yang masih

mengalami pertumbuhan primer. Batang yang terlalu muda atau tua,

tentunya akan memberikan gambaran

yang cukup berbeda dalam jaringan penyusunnya.


Keterampilan dari praktikan juga menjadi faktor keberhasilan pembuatan

preparat maserasi tumbuhan ini. Apabila praktikan tidak memperhatikan cara

kerja secara baik maka preparat maserasi yang dihasilkan tidak akan sempurna.

Waktu lamanya pemberian larutan safranin juga sangat mempengaruhi

penampakan jaringan pada pada preparat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan yaitu Preparat Maserasi

merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan

sel secara utuh. Dan jaringan yang terlihat adalah jaringan pengangkut xylem yang terdiri dari

sel trakea, serabut trakeid, dan trakeida.

V.2 Saran

Sebaiknya laboratorium menyediakan alat dan bahan kimia yang lengkap, agar

praktikum dapat berjalan dengan lancar, serta diharapkan agar praktikum dapat dilakukan

perkelompok dan tidak digabung lagi sehingga praktikan dapat lebih memahami praktikum

yang dilakukan.
..........................