Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN VI

ANTI INFLAMASI

I. Tujuan

Mempelajari daya anti inflamasi obat paracetamol, metampiron,


meloxicam dan na diklofenak pada mencit dengan radang buatan.

II. Dasar Teori

Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan


yang disebabkan oleh terauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat
mikrobiologik. Inflamasi adalah usaha tubuh untuk mengaktivasi atau merusak
organisme yang menyerang, menghilangkan zat iritan dan mengatur derajat
perbaikan jaringan. Namun kadang-kadang inflamasi tidak bisa dicetuskan oleh
suatu respon imun, seperti asma atau artritis rematoid, atau suatu zat yang tidak
berbahaya seperti tepung sari. Inflamasi dicetuskan oleh pelepasan mediator
kimiawi dari jaringan yang rusak dan migrasi sel. Mediator kimiawi bervariasi
dengan tipe proses peradangan dan meliputi amin seperti histamin dan 5-
hidroksitriptamin, lipid seperti prostaglandin, peptida kecil seperti bradikinin dan
peptida besar seperti interleukin. Penemuan variasi yang luas diantara mediator
kimiawi telah menerangkan paradoks yang tampak bahwa obat-obat anti inflamasi
dapat mempengaruhi kerja mediator utama yang penting pada suatu tipe inflamasi,
tetapi tanpa efek pada proses inflamasi yang tidak melibatkan mediator tanpa
target (Mycek, 2001)
Prostaglandin dan senyawa yang berkaitan diproduksi dalam jumlah kecil
dan semua jaringan. Umumnya bekerja bekerja lokal pada tempat prostaglandin
tersebut disintesis, dan cepat dimetabolisme menjadi produk inaktif pada tempat
kerjanya. Karena itu, prostaglandin tidak bersirkulasi dengan konsentrasi
bermakna dalam darah. Tromboksan, leukotrin, dan asam hidroksi
perosieikosatetraenoat merupakan lipid yang berkaitan disintesis dari prekursor
yang sama sebagai prostaglandin memakai jalan yang berhubungan.
PG hanya berperan pada yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau
iflamasi. Penelitian tellah membuktikan bahwa PG menyebabkan snsti reseptor
nyeri terhadap stimulasi mekasik dan kimiawi ,jadi PG menimbulkan keadaan
hiperalgesia.Kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamin
merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata obat mirip aspirin tidak
mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh efek langsung PG.
Ini menunjukkan bahwa sintesis PG yang dihambat oleh golongan obat ini dan
bukannya blokade jantung (Wilmana,F.P., 1995)
Prostaglandin dan metabolismenya yang dihasilkan secara endogen dalam
jaringan bekerja sebagai tanda lokal menyesuaikan respon tipe sel spesifik. Fungsi
dalam tubuh bervariasi secara luas tergantung pada jaringan. Misalnya pelepasan
TXA2 dari trombosit mencetuskan penambahan trombosit baru untuk agregasi
( langkah pertama pada pembentukan gumpalan). Namun pada jaringan lain
peningkatan kadar TXA2 membawa tanda yang berbeda, misalnya otot polos
tertentu senyawa ini menginduksi kontraksi. Prostagladin merupakan salah satu
mediator kimiawi yang dilepasklan pada proses agresi alergi dan inflamasi.
(Mycek, M.J., 2001)
Radang merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera
atau kerusakan pada jaringan, yang berfungsi untuk menghancurkan, mengurangi
atau mengurung (sekuester) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera
itu. Tanda-tanda pokok peradangan akut mencakup pembengkakan atau edema,
kemerahan, panas, nyeri dan perubahan fungsi. Hal-hal yang terjadi pada proses
radang akut sebagian besar dimungkinkan oleh pelepasan berbagai macam
mediator kimia, antara lain amina vasoaktif, protease plasma, metabolit asma
arakhidonat, produk leukosit dan berbagai macam lainnya (Rustam, 2007).
Agen yang dapat menyebabkan cedera pada jaringan, yang kemudian diikuti
oleh radang adalah kuman (mikroorganisme), benda (pisau, peluru, dsb.), suhu
(panas atau dingin), berbagai jenis sinar (sinar X atau sinar ultraviolet), listrik,
zat-zat kimia, dan lain-lain. Cedera radang yang ditimbulkan oleh berbagai agen
ini menunjukkan proses yang mempunyai pokok-pokok yang sama, yaitu terjadi
cedera jaringan berupa degenerasi (kemunduran) atau nekrosis (kematian)
jaringan, pelebaran kapiler yang disertai oleh cedera dinding kapiler,
terkumpulnya cairan dan sel (cairan plasma, sel darah, dan sel jaringan) pada
tempat radang yang disertai oleh proliferasi sel jaringan makrofag dan fibroblas,
terjadinya proses fagositosis, dan terjadinya perubahan-perubahan imunologik
(Rukmono, 2000).
Secara garis besar, peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh
darah lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan,
kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran cairan dalam jumlah
besar ke dalam ruang interstisial, pembekuan cairan dalam ruang interstisial yang
disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam
jumlah berlebihan, migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam
jaringan, dan pembengkakan sel jaringan. Beberapa produk jaringan yang
menimbulkan reaksi ini adalah histamin, bradikinin, serotonin, prostaglandin,
beberapa macam produk reaksi sistem komplemen, produk reaksi sistem
pembekuan darah, dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin yang
dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi (Guyton, 1997).
Proses inflamasi ini juga dipengaruhi dengan adanya mediator-mediator yang
berperan, di antaranya adalah sebagai berikut (Abrams, 2005) :
1. amina vasoaktif: histamin & 5-hidroksi tritophan (5-HT/serotonin). Keduanya
terjadi melalui inaktivasi epinefrin dan norepinefrin secara bersama-sama
plasma protease: kinin, sistem komplemen & sistem koagulasi fibrinolitik,
plasmin, lisosomalesterase, kinin, dan fraksi komplemen
2. metabolik asam arakidonat: prostaglandin, leukotrien (LTB4 LTC4, LTD4,
LTE4 , 5-HETE (asam 5-hidroksi-eikosatetraenoat)
3. produk leukosit enzim lisosomal dan limfokin
4. activating factor dan radikal bebas
Gambaran makroskopik peradangan sudah diuraikan 2000 tahun yang lampau.
Tanda-tanda radang ini oleh Celsus, seorang sarjana Roma yang hidup pada abad
pertama sesudah Masehi, sudah dikenal dan disebut tanda-tanda radang utama.
Tanda-tanda radang ini masih digunakan hingga saat ini. Tanda-tanda radang
mencakup rubor (kemerahan), kalor (panas),dolor (rasa sakit),
dan tumor (pembengkakan). Tanda pokok yang kelima ditambahkan pada abad
terakhir yaitu functio laesa (perubahan fungsi) ( Mitchell, 2003).
Umumnya, rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di
daerah yang mengalami peradangan. Saat reaksi peradangan timbul, terjadi
pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan. Sehingga lebih
banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat
terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti,
menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (Abrams, 2005).
Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut. Kalor
disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang memiliki
suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang lebih banyak
daripada ke daerah normal (Rukmono,2000).
Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang
ujung-ujung saraf. Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat
merangsang saraf. Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat
pembengkakan jaringan yang meradang (Rukmono, 2000).
Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan
oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan
interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan
disebut eksudat meradang (Rukmono,2000).
Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland,
2002). Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi
belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang
meradang (Abrams, 2005).
Banyak obat obat antiinflamasi yang bekerja dengan jalan menghambat
sintesis salah satu mediator kimiawi yaitu prostaglandin. Sintesis prostaglandin
yaitu (Mycek, 2001 ) :
Asam arakidonat, suatu asam lemak 20 karbon adalah prekursor utama
prostaglandin dan senyawa yang berkaitan. Asam arakidonat terdapat dalam
komponen fosfolipid membran sel, terutama fosfotidil inositol dan kompleks lipid
lainnya. Asam arakidonat bebas dilepaskan dari jaringan fosfolipid oleh kerja
fosfolipase A2 dan asil hidrolase lainnya. Melalui suatu proses yang dikontrol oleh
hormon dan rangsangan lainnya. Ada 2 jalan utama sintesis eukosanoid dari asam
arakidonat
1. Jalan siklo-oksigenase
Semua eikosanoid berstruktur cincin sehingga prostaglandin, tromboksan, dan
prostasiklin disintesis melalui jalan siklo oksigenase. Telah diketahui dua siklo-
oksigenase : COX-1 dan COX-2 Yang pertama bersifat ada dimana mana dan
pembentuk, sedangkan yang kedua diinduksi dalam respon terhadap rangsangan
inflamasi.
2. Jalan lipoksigenase
Jalan lain, beberapa lipoksigenase dapat bekerja pada asam arakidonat untuk
membentuk HPETE, 12-HPETE dan 15-HPETE yang merupakan turunan
peroksidasi tidak stabil yang dikorvensi menjadi turunan hidroksilasi yang sesuai
(HETES) atau menjadi leukotrien atau lipoksin, tergantung pada jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Abrams. 2005. Respon Tubuh Terhadap Cedera. EGC : Jakarta.

Guyton, A.C. & Hall, J.E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta.

Hoan Tjay dan Kirana Rahardja. 2007. ObatObat Penting. Elex Media
Komputindo: Jakarta.

Mitchell, R.N. & Cotran, R.S. 2003. Inflamasi Akut dan Kronik.
Philadelphia: Elsevier Saunders.

Mycek,j mary. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya


Medika: Jakarta.

Rukmono. 2000. Kumpulan Kuliah Patologi. Bagian patologi anatomik FK


UI: