Anda di halaman 1dari 8

CINTA BERAKHIR TRAGIS

Hufft! Cape banget! keluhku. Langsung ku hamparkan tasku ke meja belajarku. Ku aktifkan
kipas angin dan aku langsung hadapkan kipas ke wajahku. Aku langsung buka sosial media Facebook,
ya sosmed ini sedang merajalela dikalangan remaja.

Namaku Riri, duduk di bangku SMP kelas 3. Aku sangat suka bermain sosmed faceboo. Ku
lihat status-status teman facebook Wahhh, enaknyaaa tiduran sambil main sosmed ini, aku mau
update status aahh batinku Tak lama kemudian ada pesan fb masuk, langsung cepat-cepat kubuka.
Chat dari seseorang yang tak ku kenal, nama facebooknya Samuel Siregar. Dia mengirimiku pesan
bertuliskan Hai, boleh kenalan?. Ku liat foto profilnya, wah lumayan ganteng, hahahahaha ucapku.
Langsung ku balas chatnya, boleh balas cuek dariku. 5 menit berjalan tidak ada balasan darinya, ku
berfikiran mungkin dia lagi off

ah ntar mungkin dibales, gausah ngarep, sok jual mahal aja deh, wkwk ucapku sambil tertawa kecil.

Ketukan pintu kamarku terdengar nyaring, langsung ku buka pintuku, ehh ternyata Ibu.

Keluar, makan dulu ucap Ibuku.

Sontak aku langsung keluar dari kamarku dan ku ambil makanan. Aku makan dengan lahapnya, dan
menghabiskan makanan dalam waktu kurang dari 5 menit. Setelah itu, langsung ku cuci piringku dan
ku letakkan kembali ke rak piring. Ku ambil buku matematika, dan ku bolak-balik lembar halamannya
sembari ku pahami materinya, karena besok ada ulangan harian matematika. 60 menit berlalu, aku
menuju ke kamar mandi untuk mandi. Ku ambil air wudhu untuk wudhu, lalu aku sholat. Setelah itu,
langsung ku ambil handphone ku dari laci, ku buka facebook lagi, memang aku sudah kecanduan
dengan sosmed ini.

Wah, ada pesan masuk ucapku dengan senangnya.

Ternyata, pesan masuk dari teman sekelasku menanyakan bab apa saja yang dijadikan bahan ulhar
matematika besok.

Yaelah, ku kira dari si cowok ganteng itu, huffft!.

Tak lama kemudian langsung ku balas chat dari temanku itu, ku ketik pesan Pokoknya bab 1 sampai 3
dibuat ulhar jawabku. Aku menunggu chat dari cowok ganteng itu, entah orang aslinya ganteng apa
tidak, tapi aku begitu yakin kalau foto profilnya memang ganteng buanget. Sembari menunggu chat
masuk, aku buka-buka lagi buku matematikaku dan kucoba soal soal latihan ulhar. Tak lama kemudian,
ada pesan masuk dari seseorang.

Wah, dari cowo ganteng nih, buka aah

dan ternyata benar, memang ada chat dari dia. Dia chat.

Namamu siapa? Anak mana? Sekolah dimana? tanyanya dengan runtut.

Riri, anak Nganjuk, di SMPN 1 Mulyajaya, kamu?.

Terlihat di beranda facebookku terlihat 99+ langsung ku klik beranda dan ku lihat status status anak
labil seumuranku. Tak lama kemudian ada balasan pesan dari Samuel,

Aku samuel, anak Tanjung Anom, sekolah di SMPN 2 Tanjung Anom. Aku langsung berfikir itu daerah
mana, lalu ku kirim pesan kepadanya

Daerah mana itu? tanyaku.

Daerah Nganjuk juga, kalo kamu Nganjuk daerah mananya?

Nganjuk bagian Tanjungtani

Oh, lumayan deket juga ya jawabnya.

Setelah itu, aku tidak balas chatnya lagi. Setelah ngobrol lumayan lama lewat chat, dia nanya.

Eh boleh minta nomormu ga?

Nomor apa? Sepatu? Absen? Atau nomor lainnya? candaku.

10 menit berlalu, 15 menit berlalu, tidak ada balasan darinya. Lalu kuputuskan off dari facebook,
mengingat besok ulangan harian matematika. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, aku mulai
belajar matematika lagi. Ya, memang aku terkenal anak rajin dikelasku. Setelah belajar selama 1 jam,
aku mengambil air wudhu untuk sholat. Setelah sholat aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku,
sembari membayangkan cowok ganteng itu.

Ahh sudahlah, mungkin dia juga udah punya cewe, eh berharap jangan aja deh hahahaha candaku
sebelum ku tertidur lelap.

***

Matahari muncul dari balik pepohonan, sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamarku. Langsung ku
bergegas ke kamar mandi dan wudhu setelah itu sholat. Ya memang kebiasaanku bangun telat dan
sholat subuh kesiangan. Aku langsung ganti baju, sarapan dan pamit kepada Ibu untuk berangkat ke
sekolah. Aku menghampiri Irin ke rumahnya, dia adalah sahabatku sejak kecil, dia juga sudah bersiap-
siap dan mengeluarkan sepedanya dari garasinya. Setelah itu, kami berangkat sekolah bersama,
mengayuh sepeda hingga jarak 8 kilometer. Seperti biasa aku selalu ngobrol dengannya. Ku ceritakan
kejadian semalam dengan jelasnya. Lalu dia menanggapi

wah aku kepo nih, kalo ganteng bisa jadi pacar tuhh hehehe candanya.

ih apaan sih Rin, ngga lah. Orang aku gakenal sama dia, fotonya aja gatau nyata atau tidak, tapi
kalau bener sih ya hmmm hahahaha tawaku terbahak-bahak.

30 menit berjalan, kami sudah sampai disekolah. Lalu, kami parkir di tempat sepeda.

Aku masuk duluan yaaa Rin! teriakku.

Iyaaaa jawabnya.

Setelah itu, pelajaran pertama dimulai, ya waktunya ulangan harian matematika. Ku kerjakan dengan
semangat, aku berdoa semoga dapat nilai yang memuaskan. Setelah ulangan matematika selesai,
pelajaran selanjutnya dimulai. 6 jam berjalan, bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya.
Ku bergegas mengemasi barang-barangku dan ku bawa tasku keluar kelas. Di depan kelas rupanya
aku sudah di tunggu oleh Irin. Seperti biasanya, ku ambil sepeda dari tempat parkir dan ku ayuh
sepedaku bersamanya. Kami ngobrol hingga sampai dirumah masing-masing.

Setelah sampai di rumah, ku lemparkan tasku ke kamar, tubuhku langsung berbaring di kasur sembari
membuka HP dan mengaktifkan data internet untuk membuka facebook.

Waaah, ada pesan masuk banyak, yeayyy wkwkwk.

Langsung ku buka satu persatu chat fb. Pertama dari cowo ganteng, yuhuuuuy. Dia balas chat aku
kemarin,

Ya nomor handphone lah, masa nomor apa? Lucu ya kamu gombalnya.

Setelah kupikir pikir kemarin, ah kuberikan aja deh, lumayan ada temen sms an daripada nih hp sepi
gaada yang ngechat ucapku.

Lalu, kubalas chatnya, ku beri nomor Hpku, tak lama kemudian dia balas chatku dengan ngucapkan
terimakasih. Lalu, dia mulai ngechat aku di nomor yang aku kasih itu. Lalu, aku penasaran dengan
namanya yang tak asing kalau dia berbeda agama denganku. Sontak langsung kutatanyakan padanya
apa benar dia berbeda agama denganku, ternyata jawabannya IYA. Sontak aku langsung kaget
dengan semua itu. Aku sempat berfikir, bagaimana jika nanti aku dekat lalu dia suka sama aku dan
ingin pacaran denganku, apakah aku akan menerimanya dan akan mempunyai kekasih berbeda
agama.

Ahh, fikirku terlalu jauh, ga mungkin ah sampai kek gitu, udah ah udah gerutuku.

***

Setelah beberapa hari kami sms-an, kami dekat, dan akhirnyaaaaa ... Dia nembak aku, dia
ngungkapin cintanya ke aku. Bergetarnya hatiku, deg-deg annya hatiku. Aku belum bisa menerimanya,
wajar saja aku dari dulu belum pernah pacaran. Selain itu, dia juga berbeda agama denganku. Setelah
kufikir-fikir hingga matang, aku memutuskan sesuatu yang besar sekali. Setelah 24 jam berjalan, aku
menjawabnya. Dengan berat hati aku harus menjawab,

Maaf ya aku gabisa..

Yahhh, yaudah deh gapapa .

Maaf ya aku gabisa, gabisa nolak maksudnya, hehe.

Beneran ini?

Iyaa beneran.

Sontak dia langsung update statusnya berpacaran. Betapa bahagianya dia. Tapi aku memberi syarat
kepadanya, hubungan ini harus kita rahasiakan agar hubungan kita ini langgeng. Samuel setuju
dengan syaratku.

***

Waktu berjalan dengan cepatnya, 2 bulan telah kami lalui bersama. Saat suka, duka, aku ditemaninya.
Dia sangat perhatian kepadaku. Tetapi, selama 2 bulan ini kami menjalin hubungan, belum pernah kami
bertemu bertatap muka. Kita hanya menjalin hubungan lewat handphone saja. Aku mempunyai ambisi
yang sangat besar, tetapi aku belum bisa mengatakannya dan menyatakannya. Aku ingin dia seagama
denganku. Tetapi selama 2 bulan ini, aku masih belum bisa merealisasikan. Aku menunggu waktu yang
tepat. Selain itu, setelah kami menjalin hubungan selama 2 bulan dengan sembunyi-sembunyi, rahasia
kami terbongkar. Hubunganku dengan Samuel sudah tersebar di sekolahku. Aku pun di perbincangkan
banyak orang, banyak anak-anak disekolahku yang iri karena aku mempunyai seorang pacar yang
ganteng, kaya dan perhatian. Ujian hubungan kami mulai bertebaran. Banyak anak-anak sekolah yang
membuat isu buruk tentangku dan dia. Tak lama kemudian, ada yang meneror aku dengan ancaman
kalau aku tidak segera mengakhiri hubunganku dengan Samuel maka bahaya akan menghampiriku.
Awalnya aku mulai bertahan akan ujian ini, tetapi lama-lama tidak hanya satu orang yang menerorku,
tetapi sudah beberapa kali ada nomor nyasar yang menerorku. Aku mulai resah dengan semua ini,
rasanya aku ingin lepas dari semua ini. aku meyakinkan diriku sendiri, aku harus kuat, aku harus
bertahan dengan semua ini. Samuel juga menyadari akan hal ini, ku kira dia juga akan bertahan
dengan ujian ini. Tapi! Ternyata dia justru meremehkan hal ini, Samuel menjadi kurang peduli padaku
lagi.

***

Satu bulan berlalu, Samuel jadi jarang chat denganku. Paling paling sehari hanya sms-an setengah
jam. Itupun seminggu hanya beberapa kali. Aku berfikir mungkin dia lagi stress. Okelah aku
memakluminya. Aku kira masalah ini akan segera berakhir, ternyata justru banyak masalah
menimpaku. Dan kali ini makin parah, ada yang menerorku dengan mengaku pacar baru Samuel. Aku
pun mulai emosi, aku langsung chat Samuel,

Apa kamu menjalin hubungan selain aku? Jahat ya

Ngga kok. Jawabnya.

Kamu kenapa sih? Ada masalah? Cerita dong! Jangan diem ajaaa ucapku.

Dan lagi-lagi dia hanya membalas dengan singkat, Ngga ada apa-apa kok, kamu tenang aja aku ga
apa apajawabnya.

***

Selama seminggu dia tidak memberiku kabar sama sekali, aku mencoba memberinya kabar setiap
hari, alhasil tidak ada jawaban apa-apa dari dia. Aku sangat rindu dia. Biasanya, dia yang
menyemangatiku sekolah, membangunkanku untuk sholat, dan mengingatkan untuk segera makan,
tapi sekarang? Dia seperti hilang ditelan bumi. Aku juga sudah menghubungi teman-temannya tetapi
tidak ada hasil sama sekali. Hpku sepi sekali, biasanya hpku sering bergetar dapat chat darinya. Aku
mulai bosan dengan semua ini. Aku mencoba merebahkan tubuhku di kasur. Tak lama kemudian, hpku
bergetar. Aku langsung bergegas membukanya.

Arrrgghhh, dapet SMS Indosat lagii, kenapa gak dari Samuel cobaaak! ucapan kesalku.

Aku benar-benar capek dengan semua ini, aku berniat untuk tidur sejenak. Lalu aku terbangun pada
pukul 22.00, tanpa basa-basi aku langsung menunaikan ibadah sholat karena aku tertidur hingga
belum menunaikan ibadah sholat. Setelah sholat, aku mencoba mengecek Hpku, ternyata ada 4 pesan
tak terbaca. Lalu aku membuka kotak perpesanan, ternyata ada pesan masuk dari Samuel. Aku
langsung membacanya, tetapi belum sampai selesai membaca pesannya, Hpku mati sendiri karena
lowbat. Segera aku charger Hpku, sembari mengisi baterai HP aku tiduran di kasur, aku sangat
penasaran dengan pesan Samuel.

Aku tadi hanya membaca sampai Hai. Selamat malam. Gimana kabarnya? Lama ga komunikasian?
aku begitu penasaran dengan pesannya. Aku menunggu bateraiku terisi penuh tetapi lamaaaaaa, lalu
aku ketiduran sampai terbangun pada pukul 04.30. Lalu aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk
wudhu lalu sholat. Setelah sholat aku langsung buka pesan Samuel, aku membaca pesannya, kata
demi kata telah aku baca, kalimat demi kalimat udah aku baca, dan tak terasa air mata jatuh dari
mataku. Jadi intinya pesan si Samuel itu, dia minta mengakhiri hubungan kita, dia bilang ini demi
kebaikan kita berdua, dia nggak ingin kalau aku dan dia dalam bahaya. Kali ini aku tidak bisa menahan
air mataku, air mata langsung jatuh tanpa aba-aba. Ini begitu sulit bagiku, bagaimana tidak kita berdua
sudah menjalani hubungan bersama-sama sampai 4 bulan terakhir. Tidak ada angin tidak ada badai,
dia langsung mengakhiri hubungan ini tanpa alasan yang jelas. Aku begitu terpukul dengan semua ini.

Seminggu kemudian, aku merasakan kesepian. Hp yang biasanya berdering, bergetar,


sekarang sudah tak lagi ada. Aku menjalani hari-hariku seperti biasanya sebelum mengenal dia. Aku
berusaha menghilangkan rasa dari padanya. Aku berusaha melupakan segala kenangan yang telah
kami ukir 4 bulan yang lalu. Hari demi hari berlalu, 2 minggu kemudian aku dapat pesan dari nomor
yang tak ku kenal. Dia mengirimkanku pesan singkat,

Hai, gimana kabarnya?

Iya baik, siapa ya?

Ini aku Samuel.

Aku langsung diam tak menjawab pesannya, lalu dia tetap mengirimiku sms hingga beberapa kali.
Tetapi tetap aku abaikan saja. Hingga suatu hari dia mengirimiku pesan,

Hai? Kamu gamau denger cerita dari aku? Beneran? tetap aku abaikan saja chatnya.

Tak lama kemudian dia mengirimiku pesan lagi, dia berkata bahwa dia itu bukan Samuel, melainkan
temannya. Tapi aku tetap mengabaikan semua pesan yang masuk di Hpku, tapi dia itu tetap ngeyel
mau bercerita sesuatu kepadaku. Dia mengirimiku pesan yang amat panjang, tapi intinya dia bercerita
kalau sebenarnya Samuel itu sudah meninggal 2 minggu yang lalu, dia telah bunuh diri. Aku tak
percaya dengan apa yang dia bicarakan. Aku tetap ngeyel nggak percaya kalau Samuel meninggal.
Nggak! Ini nggak mungkin! Aaaaaaaaaaaaaaa..... teriakku sambil meneteskan air mata.

Aku menangis dengan sekeras-kerasnya. Aku tidak percaya semua ini. Selama 4 bulan ini, kita
menjalin hubungan belum pernah satu kalipun kita bertemu bertatap muka.

Jangankan bertemu, mendengar suaranya aja nggak pernah, gimana dia sekarang sudah nggak
ada!! teriakku.

Aku terus bertanya kepada temannya yang bernama Ilham. Aku meminta bukti kalau memang Samuel
sudah nggak ada. Ilham mengirimi foto bunuh dirinya lewat mesengger dan ia juga mengirimi tempat
pemakamannya. Seakan mataku telah lelah mengeluarkan air mata, bagaimana tidak menyesalinya,
Samuel tidak memberiku kabar hingga Ia meninggal. Ilham bercerita bahwa Samuel meninggal karena
dia frustasi. Dia sengaja mengiris nadi ditangannya dengan pisau. Dia mempunyai masalah keluarga
yang amat rumit. Ayahnya yang menjadi Nahkoda di suatu pelabuhan ternama di Indonesia yang
jarang pulang ke rumah, sedangkan Ibunya melakukan perselingkuhan dengan pria lain.

Itulah mengapa Samuel jarang menghubungimu, waktu itu Samuel sangat depresi, dia ingin
memberimu kabar tapi dia takut kalau dia nanti malah membuatmu khawatir, dia menitipkan surat
kepadaku untuk diberikan padamu. Suratnya sudah ku kirim lewat kantor pos, tunggu saja sampai
ceritanya.

Aku menunggu kiriman surat darinya, sembari ku mengingat-ingat kenangan bersamanya. Aku tetap
nggak percaya kalau dia sudah tidak ada, mataku rasanya sudah letih 2 hari 2 malam mengeluarkan
air mata, sudah lelah diri ini menghadapi ujianmu ya Allah. Dia yang sangat perhatian padaku, dia yang
sangat baik padaku, dia yang nggak pernah marah menghadapiku. Aku merasa sangat gagal
menjalankan ambisiku, ku kira ambisiku akan berjalan dengan lancar.

Meskipun dia nanti tidak lagi menjadi pacarku, setidaknya aku telah bisa mengubah keyakinan dan
seagama denganku ucapku lirih.

Aku merasa benar-benar gagal dalam ini. Aku sangat menyesalinya. Tak lama kemudian, surat darinya
telah datang. Aku mendapatkan amplop yang depannya bertuliskan Dari Samuel aku meneteskan air
mata lagi. Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku perlahan membuka amplopnya.
Lalu aku tutup lagi amplopnya. Aku tidak berani membukanya. Kusimpan amplop itu di laci.

Waktu terus berjalan, minggu demi minggu telah berlalu, bulan demi bulan telah berlalu, aku perlahan
melupakan semua kenangan bersamanya, aku mulai berusaha move on darinya, aku ingin semua
apapun tentangnya bisa terhapuskan dari otak dan hatiku ini. Sampai sekarang pun aku masih
menyimpan suratnya dan belum membukanya. Irin terus menghiburku, dia terus menasehatiku,

Udahlah Ri, ikhlaskan saja dia, jangan nangis lagi, nanti kalau kamu menangisinya terus dia gak
tenang lo di sanaa, mungkin ini adalah jalan yang terbaik buatmu, buat hatimu sekuat baja, sabar
dalam menhadapi ujianNya, kelak kamu akan tau kenapa Allah memilihkan jalan ini kepadamu, terus
beribadah meminta doa kepada Allah, uluuh-uluuh jangan nangis lagi, cup-cupp hiburnya.

Aku terus mendoakan Samuel, dan aku berdoa kepada Allah agar aku bisa melupakan semuanya
tentangnya.

***

Setahun telah berlalu, aku baru membuka surat dari Samuel. Isinya begitu singkat, namun ini sangat
menusuk hati. Suratnya bertuliskan,

Maaf. Aku pergi dulu. Maaf! Aku mengecewakanmu, aku tak mengabarimu sama sekali. Mungkin ini
yang terbaik buatmu, jaga diri baik-baik. Semoga kamu dapat yang lebih dari aku. Jangan pernah
menangisiku, tangismu hanya buatku sedih disini.

Setelah itu, aku yakin, aku bisa menjalani hidup tanpanya. Aku yakin ini jalan yang terbaik bagiku. Aku
akan menjadi pribadi yang baik. Sejak kejadian itu, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan
spesial dengan siapapun, karena dampak yang ditimbulkan begitu besar. Berpacaran dapat
menurunkan prestasi belajar, dapat melalaikan kewajiban, mendapat dosa, dan yang lainnya. Maka
dari itu aku trauma berpacaran, hingga sampai saat ini pun aku telah 3 tahun tanpa pacaran.