Anda di halaman 1dari 22

PRESENTASE KASUS

ILMU PENYAKIT THT

Otitis Eksterna Sirkumkripta Akut dan Otitis Media Oklusi et.causa Rhinitis Akut

Dokter Pembimbing :

Dr. Andriana Sp. THT, Msi Med.

Disusun Oleh :

Henderina W. Doko Rehi

(11.2013.013)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT-KL

PERIODE 14 Oktober 2013 16 November 2013

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

1
JAKARTA

LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN THT
RUMAH SAKIT PANTI WILASA, SEMARANG

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S.E
Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Panjangan Asrin 14 RT/RW 04/08
Agama : Islam

2. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013, pukul 02.45 WIB

Keluhan utama : nyeri pada telinga kanan karena di bersihkan sejak 3 hari yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang :


OS datang ke Rumah Sakit Panti Wilasa dengan keluhan telinga bagian kanan sakit
sejak 3 hari yang lalu. Keluhan ini di rasakan oleh OS setelah OS membersihkan
telinga kanannya menggunakan cotton bud. OS mengaku setelah membersihkan
telinganya tidak ada darah yang keluar dari telinga kanannya. OS menyatakan bahwa
sakit yang dirasakannya tidak menjalar hingga ke kepala dan leher. Sakit pada telinga
kanannya hanya di rasakan saat mengunyah atau menelan makanan. Nyeri pada
daerah tragus di sangkal oleh OS. OS menyatakan bahwa selain adanya sakit, juga OS
merasakan gatal pada telinga bagian kanan. OS mengaku tidak meminum obat anti
nyeri atau antibiotik.
Ketika ditanyakan lebih lanjut, OS menyatakan saat menyapu atau membersihkan
rumah OS sering mengalami bersin-bersin. Bersin-bersin ini bisa mencapai lebih dari
10 kali dan hidung terasa gatal. Bersin-bersin ini akan berkurang setelah pasien
selesai menyapu dan membersihkan rumah. OS juga mengaku keluarnya ingus yang
kental dan encer. Selain bersin-bersin dan keluar ingus OS juga menyatakan kalau
saat cuaca dingin OS merasakan kedua hidungnya tersumbat. OS mengaku bahwa
setiap kali OS bersin, keluar ingus atau hidung tersumbat, OS memakan obat flu

2
(demacolin) dan setelah itu OS merasa lebih baik. OS mengaku bahwa adanya
sariawan pada bagian belakang mulut yang sering hilang timbul.
Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat sakit gigi : disangkal


- Riwayat ISPA (commond cold, faringitis, laringitis) : diakui sering flu
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

- Riwayat ISPA (commond cold, faringitis, laringitis : disangkal.


- Riwayat asma : disangkal.
- Riwayat allergi : disangkal
- Riwayat penyakit yang sama : disangkal.

3. PEMERIKSAAN OBYEKTIF
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi : Cukup
Nadi : Tidak di lakukan pemeriksaan
Tensi : Tidak di lakukan pemeriksaan
RR : Tidak di lakukan pemeriksaan
Suhu : Tidak di lakukan pemeriksaan
Paru : Tidak di lakukan pemeriksaan
Jantung : Tidak di lakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak di lakukan pemeriksaan
Ekstremitas : Tidak di lakukan pemeriksaan

Kepala dan Leher


Kepala : Normocephali
Wajah : Simetris
Leher anterior : Tidak di lakukan pemeriksaan
Leher posterior : Tidak di lakukan pemeriksaan

Status Lokalis
1. Telinga
Dextra Sinistra
Auricula Bentuk (N), Nyeri tekan (-) Bentuk (N), Nyeri tekan (-)
Fistel (-), Abses (-),
Fistel (-), Abses (-),
Preauricula Hiperemis (-), Nyeri tekan
Hiperemis (-), Nyeri tekan (-)
(-)
Retroauricula Hiperemis (-), udema (-), Hiperemis (-), udema (-),

3
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hiperemis (-), udema (-), Hiperemis (-), udema (-),
Mastoid
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hiperemis (-), udema (-), Hiperemis (-), udema (-),
CAE Corpus alineum (-) Corpus alineum (-)
Discharge (+), laserasi (+) Discharge (+)

Membran tympani :
Dextra Sinistra
Perforasi (-), MT Intak (-), MT Intak
Reflex cahaya (-) (+)
Warna Suram Putih mutiara
Bentuk Normal, bulging(-) Normal, bulging(-)

2. Hidung dan sinus paranasal


a. Hidung
Dextra Sinistra

Bentuk Normal Normal

Sekret Mukoserousa Mukoserousa

Septum nasi Deviasi (+) Deviasi (-)

Konka media Eutrofi Eutrofi

Konka inferior Hiperemis (+) hipertrofi (+) Hiperemis (+) hipertrofi (+)

b. Sinus Paranasal
Dextra Sinistra
Infraorbita :
Supraorbita :
Glabella : Tidak dilakukan pemeriksaan
Diafanoskopi :
Lain-lain :

3. Tenggorok
Orofaring
Mukosa bucal : Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Ginggiva : Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Lidah 2/3 anterior : Dalam batas normal
Palatum : Warna merah muda
Tonsil :
Dextra Sinistra
Ukuran T1 T1

4
Kripta Tidak melebar Tidak melebar

Permukaan Rata Rata

Warna Merah muda Merah muda

Detritus (-) (-)

Peritonsil Abses (-) Abses (-)

Pilar anterior Merah muda Merah muda

Nasofaring
Discharge :
Mukosa : Tidak dilakukan pemeriksaan
Adenoid :
Massa :
Laringofaring
Mukosa :
Massa : Tidak dilakukan pemeriksaan
Lain-lain :
Laring
Epiglotis :
Plica vocalis :
- Gerakan :
- Posisi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Tumor :
Massa :
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Endoscopy
Pada pemeriksaan endoskopy di temukan :
a. Telinga
- Sekret : +/+
- Membran timpani : suram/+
- Laserasi : +/-
b. Hidung
- Sekret : +/+
- Septum devisiasi : +/+
- Hipertrofi konka : +/+
- Konka hiperemis : +/+
c. Tenggorok

5
Semuanya dalam batas normal.

5. RESUME
Perempuan usia 34 tahun datang ke Poli THT RS Panti Wilasa dengan keluhan telinga
kanannya terasa nyeri dan gatal sejak 3 hari yang lalu setelah pasien membersihkan
telinga dengan catton bud. Nyeri juga di rasakan saat mengunyah dan menelan
makanan. Selain itu pasien mengaku sering bersin-bersin saat menyapu dan
membersihkan rumah. Bersin-bersin ini biasanya lebih dari 10 kali. Bersin-bersin
akan berkurang ketika pasien selesai menyapu dan membersihkan rumah. Pada cuaca
dingin pasien mengaku kedua hidungnya sering tersumbat. Pada pemeriksaan
endoskopi, bagian telinga ditemukan laserasi (+) pada AD, sekret +/+ ADAS,
membran timpani suram pada AD. Bagian hidung di temukan Sekret : +/+, septum
devisiasi : +/+, hipertrofi konka : +/+, konka hiperemis : +/+
6. DIAGNOSA KERJA
Otitis Eksterna Sirkumkripta Akut AD
Dasar diagnosis yaitu : pada anamnesis pasien mengaku ada nyeri pada bagian telinga
sebelah kanan di sertai dengan gatal. Nyeri ini juga di rasakan saat mengunyah dan
menelan. Pada pemeriksaan endoskopi di temukan adanya laserasi pada telinga kanan
di bagian CAE.
Otitis Media Efusi AD
Dasar diagnosis yaitu : salah satu faktor penyebab OME selain karena obstruksi tuba
eustacii yaitu karena alergi. Pada pasien ini di temukan adanya rinitis alergi yang
menjadi penyebab terjadinya OME pada telinga kanan. Pada pemeriksaan
menggunakan endoskopi di temukan : bagian telinga pada membran timpani yaitu
warna membran timpani kanan berwarna suram,
Rhinitis akut bakterialis
Dasar diagnosis adalah : pasien mengalami flu dengan sekret yang mukoserous. Hal
ini biasanya terjadi sebagai second infection dari rinitis virus akut.
Rhinitis alergi (sebagai diagnosis banding)
Dasar diagnosisi adalah : dari anamnesis pasien menyatakan bahwa pasien sering
bersin-bersin pada saat membersihkan rumah dan menyapu. Bersin-bersin ini
berkurang setelah selesai membersihkan rumah. Bersin bisa mencapai lebih dari 10
kali. Gejala lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung
tersumbat dan gatal. Pada pemeriksaan endoskopi bagian hidung terdapat sekret

6
mokoserousa, konka inferior membesar dan mukosa hiperemis, septum deviasi ke
kanan.
7. PENATALAKSANAAN
Medika Mentosa
Basitrasin-Polymiksin B
Asam mefenamat 500mg 2x1 PO
Aldisa (loratadin 5mg, Pseudoefedrin sulfate 120mg) 2x1 capsul
Kenalog
Non Medika Mentosa
Menghindari agar air tidak masuk ke dalam telinga
Telinga jangan di bersihkan dulu kurang lebih 1 minggu
Menghindari pajanan debu
Banyak minum air putih
Operatif (konkotomi)
8. PROGNOSIS
Ad Sanationam : Dubia ad bonam
Ad Functionam : Dubia ad bonam
Ad Vitam : Dubia ad bonam

OTITIS EKSTERNA DAN KOMPLIKASI RHINITIS BAKTERIAL AKUT


TERHADAP TELINGA TENGAH (OM stadium Oklusi)

PENDAHULUAN

Yang dimaksud dengan otitis eksterna adalah peradangan pada telinga bagian
luar yang dapat disebabkan oleh karena infeksi bakteri, virus atau jamur bisa juga karena
alergi (eczema). Otitis eksterna dapat terjadi pada bagian tulang rawan atau pars kartilago
(sirkumkripta) dan bisa mengenai seluruh liang telinga (difusa). Radang non infeksi
termasuk pula dermatosis, beberapa diantaranya merupakan kondisi primer yang
langsung menyerang liang telinga.

Prinsip penatalaksanaan otitis eksterna yang dapat di berikan pada semua tipe baik
yang infeksi maupun yang non infeksi antara lain adalah membersihkan liang telinga

7
dengan pengisapan atau kapas dengan berhati-hati, penilaian terhadap sekret, edema
dinding kanalis, dan membrana timpani bilamana mungkin dapat menggunakan sumbu
untuk mengoleskan obat dan pemilihan pengobatan lokal.

Gejala dari otitis eksterna tergantung dari letaknya peradangan. Pada bagian
kartilago bisa dijumpai rasa sakit spontan atau pada saat di sentuh (bagian tragus, saat
megunyah, menelan). Sakit ini dapat menjalar hingga ke kepala, mandibulam leher dan
bahu. Selain itu telinga terasa tertutup (kurang dengar) sedangkan pada peradangan yang
lebih luas mencapai seluruh liang telinga, rasa sakit yang dirasakan melebihi rasa sakit
pada bagian pars kartilago. Dinding liang telinga bisa edema dan kemerahan, dan bisa di
jumpai kerak atau krusta dan cairan.

Rinitis akut biasannya di sebut sebagai common cold atau flu. Penyebabnya adalah
virus, bakteri dan jamur. Kebannyakan penyebabnya adalah virus rhinovirus. Rinitis
bakterial akut pada dasarnya hanya merupakan infeksi sekunder dari rinitis viral akut.
Penyebab rinitis bakterial akut biasanya Strotococcus, Staphylococcus, dan Pseudomonas

PEMBAHASAN

ANATOMI TELINGA

Telinga terdiri dari bagian luar,tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari aurikula,
meatus acusticus externus, dan membran tympani bagian luar. Telinga tengah terdiri dari
membran tympani bagian dalam, cavitas tympani yang berisi ossicula auditiva, muskulus,
cellulae mastoid, aditus ad antrum dan tuba auditiva. Telinga dalam terdiri dari labirintus
osseus dan labirintus membranaceus. Labirintus osseus yaitu koklea dan labirintus
membranacea terbagi menjadi labirintus vestibularis (sakulus, utrikulus, canalis
semisirkularis), duktus koklearis (skala vestibule,skala media,skala timpani), sakus duktus
endolimpatikus.

8
Gambar 1. Anatomi telinga
Diunduh dari : http://www.virtualmedicalcentre.com/uploads/VMC/TreatmentImages/2191_ear_anatomy_450.jpg

ANATOMI DAN FISIOLOGI TUBA


Tuba eustakius adalah saluran penghubung antara kavum timpani dengan nasofaring.
Melalui saluran ini memungkinkan kavum timpani berhubungan dengan udara luar
(atmosfer) melalui nasofaring dan kavum nasi.Tuba eustakius pada anak lebih pendek
dibanding pada dewasa, dan mencapai ukuran yang menetap pada usia 6 tahun. Tuba
pada dewasa memiliki panjang antara 31 sampai 38 mm, sepertiga posterolateral adalah
pars osseus dan duapertiga anteromedial adalah pars cartilagineus. Tuba pada dewasa
menyudut 45 terhadap bidang horizontal, sedang pada bayi hanya 10. Tuba pars
osseus selalu terbuka.Sementara itu pars cartilaginous selalu tertutup kecuali saat
tertentu seperti menguap, menelan. Lapisan mukosa tuba eustakius merupakan lanjutan
mukosa nasofaring dan mukosa kavum timpani. Kelenjar mukosa dominan di orifisium
faringeum, sedangkan mukosa dekat kavum timpani terdapat campuran antara sel
goblet, kolumner, silindris, serta submukosa yang berisi jaringan limfoid.
Ada empat otot yang berhubungan dengan tuba, yaitu: Tensor veli palatini, levator
veli palatini, salfingofaring, dan tensor timpani. Keempat otot ini berfungsi dalam
pembukaan tuba. Diantara keempat otot ini yang paling besar peranannya adalah tensor
veli palatini. Penutupan tuba terjadi secara pasif, yaitu karena reproksimasi dinding
tuba akibat penekanan ekstrinsik jaringan sekitar tuba, efek recoil jaringan elastik pada
dinding tuba, atau kombinasi kedua mekanisme tersebut.
Tuba eustakius memiliki tiga fungsi, yaitu ; ventilasi, proteksi dan drainase kavum
timpani. Ketiga fungsi ini sangat vital guna menunjang agar telinga tengah tidak
mengalami patologi dan dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Ventilasi
memungkinkan terjadinya aerasi dan penyeimbangan tekanan kavum timpani dengan
atmosfer. Aerasi atau pengudaraan adalah pemberian udara segar (kaya oksigen) dari
nasofaring yang selalu sama dengan atmosfer, ke kavum timpani, melalui tuba.
Mengingat tuba hanya membuka waktu tertentu saja (menguap, menelan), yaitu sekitar
3 menit sekali waktu terjaga dan 5 menit sekali waktu tidur, maka aerasipun hanya
terjadi pada waktu tertentu saja. Bersamaan dengan aerasi terjadi pula penyeimbangan
tekanan udara di kavum timpani dengan di nasofaring. Kedua proses ini (aerasi dan
penyeimbangan tekanan) pada dasarnya adalah upaya mengkoreksi penurunan oksigen
dan tekanan udara di kavum timpani akibat resorbsi oleh mukosa. Proteksi bertujuan
agar proses infeksi di saluran nafas atas tidak mudah meluas ke kavum timpani.

9
Sementara itu drainase berfungsi untuk membuang sekret/discarhe yang ada di kavum
timpani ke nasofaring. Drainase ini terjadi melalui mekanisme transpor mukosiliar yang
dimiliki tuba.

Gambar 2 tuba eustacii


Diambil dari dhingra Disease of Ear Nose and Thorat, 5th editon p.3

PENYEBAB DAN DAMPAK DISFUNGSI TUBA


Seperti sudah disebutkan di atas bahwa tuba (pars cartilagos nya) tertutup, dan
terbuka pada waktu tertentu saja. Apabila selalu terbuka (tuba paten) akan
menimbulkan gejala autofoni (mendengar suara sendiri); sementara itu bila selalu
tertutup akan menimbulkan gangguan yang lebih serius mengingat semua fungsi yang
dimiliki tuba menjadi terganggu. Tuba yang selalu tertutup inilah yang disebut
obstruksi atau oklusio tuba. Obstruksi/oklusi atau lebih tepatnya kegagalan untuk
membuka tuba ini dapat diakibatkan oleh beragam sebab, mulai dari sebab-sebab
anatomis, fisiologis hingga patologis. Sebab anatomis jarang, contohnya adalah pada
palatoskisis. Sebab fisiologis, meskipun tidak jarang, tetapi diagnosis dan terapinya
pada umumnya tidak sulit. Peningkatan tekanan udara luar yang besar dan cepat tidak
dapat dikoreksi oleh otot-otot pembuka tuba. Sementara itu untuk sebab patologis
merupakan penyebab tersering dan dapat berakibat pada kondisi yang terapinya tidak
selalu mudah. Sebab patologis obstruksi tuba bisa dibagi menjadi instrinsik
(intraluminal) dan ekstrinsik (ekstraluminal).

10
Penyebab instrinsik obstruksi tuba tersering adalah radang pada mukosa tuba, baik
karena infeksi atau alergi. Sementara itu penyebab ekstrinsik obstruksi tuba adalah
tekanan jaringan perituba, termasuk kelenjar perilimfe perituba yang mengalami
pembesaran baik akibat radang atau neoplasma. Sesuai dengan uraian diatas, maka
apabila terjadi kegagalan pembukaan tuba akan berakibat gangguan pada telinga tengah
(kavum timpani). Gangguan pertama adalah tidak terkoreksinya penurunan oksigen dan
tekanan udara di kavum timpani. Bila ini berlanjut akan terjadi gangguan yang lebih
berat berupa otitis media dengan efusi. Bila obstruksinya karena penyakit infeksi
(seperti, akibat infeksi saluran nafas, terutama pada anak) akan menyebabkan otitis
media akut. Kelainan pada telinga tengah diawali dengan adanya disfungsi tuba.
Disfungsi tuba awal dapat terlihat dari nilai middle ear pressure (MEP) dan untuk
melihat kelainan pada telinga tengah lebih lanjut dapat dilihat dari gambaran
timpanogram.

GEJALA DAN TANDA DISFUNGSI TUBA NON INFEKSI


Gejala dan tanda disfungsi tuba non infeksi tergantung pada jenis/ beratnya
gangguan yang terjadi. Pada gangguan yang ringan atau masih tahap-tahap awal, gejala
dan tanda yang terjadi adalah akibat penurunan tekanan telinga tengah relatif
(dibanding tekanan udara luar). Tekanan negatif ini berakibat pada perasaan tidak
nyaman pada telinga, telinga rasa penuh, pendengaran sedikit menurun. Pada otoskopi
terlihat adanya retraksi pada membran timpani.
Pada gangguan yang lebih berat atau tahap lanjut, akan terjadi otitis media dengan
efusi, dengan keluhan seperti kondisi sebelumnya, tetapi lebih berat dan sering disertai
tinitus. Pada otoskop terlihat membran timpani keruh, reflek cahaya tdak terlihat dan
membran timpani mencembung.

HUBUNGAN DISFUNGSI TUBA DAN RINITIS ALERGI


Telah banyak penelitian yang melaporkan bahwa rinitis alergi dapat menyebabkan
disfungsi tuba. Patogenesis rinitis alergi berupa keluarnya mediator inflamasi seperti
histamin, prostaglandin, leukotrien, kinin dan lain-lain yang mengakibatkan
peningkatan permeabilitas vaskuler dengan segala akibatnya tidak saja terjadi pada
kavum timpani. Oleh beberapa peneliti dinyatakan bahwa hal ini bisa terjadi karena
secara embriologis dan histologis ada kesamaan antara hidung, nasofaring dan celah
telinga tengah. Atas dasar inilah banyak peneliti menyatakan bahwa mukosa celah

11
telinga tengah, seperti mukosa hidung dapat menjadi organ sasaran alergi. Menarik dari
kajian terhadap banyak laporan penelitian, kejadian otitis media dengan efusi pada
rinitis alergi dapat merupakan akibat langsung atau tidak langsung disfungsi tuba. Hal
ini lebih jelas dengan uraian berikut:
1 Beberapa penelitian melaporkan bahwa pada sejumlah kasus otitis media dengan
efusi pada penderita rinitis alergi, ditemukan sel mast dan triptase pada kavum
timpaninya. Ini memberi kesan bahwa otitis media dengan efusi sebagai respon
alergi.
2 Studi lain mengungkapkan peran disfungsi tuba eustakius pada patogenesis otitis
media. Rinitis kronik alergi dapat menyebabkan obstruksi tuba eustakius. Pada
obstruksi tuba yang kronis pertukaran gas di kavum timpani tetap terjadi, O2
diresorbsi dan CO2 dikeluarkan, terjadi dalam ruangan tertutup. Dikavum timpani
berlangsung proses dimana O2 semakin berkurang dan CO2 bertambah yang
menyebabkan PO2 turun dalam kapiler dan PCO2 tetap.Terjadi perubahan rasio PO2
dan PCO2 kapiler yang menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat, keluar serum
dan terjadi edema interseluler yang berakibat lanjut terjadinya efusi di kavum
timpani.

ANATOMI HIDUNG DAN FISIOLOGI HIDUNG

Hidung di bagi menjadi 2 bagian yaitu hidung bagian luar dan bagian dalam. Hidung
menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas ; struktur hidung luar dibedakan
atas tiga bagian : yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan; di
bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan ; dan yang paling
bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti
piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge), 2)
batang hidung (dorsum nasi), 3) puncak hidung (hip),4) ala nasi,5) kolumela, dan 6)
lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang
rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi
untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari : 1)
tulang hidung (os nasal) , 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os
frontal ; sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan
yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis
superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai

12
kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum. (Soetjipto D & Wardani
RS,2007)
Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os.internum di
sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari
nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai ala nasi, tepat dibelakang nares
anterior, disebut dengan vestibulum.Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang banyak
kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut dengan vibrise. Kavum nasi
dibagi oleh septum, dinding lateral terdapat konka superior, konka media, dan konka
inferior. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,
berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas
konka media disebut meatus superior.( Dhingra PL, 2007)
Meatus medius merupakan salah satu celah yang penting dan merupakan celah yang
lebih luas dibandingkan dengan meatus superior. Disini terdapat muara dari sinus
maksilla, sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Dibalik bagian anterior konka
media yang letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk
bulat sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau fisura yang
berbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang
dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk
tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. ( Dhingra
PL, 2007)
Di bahagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus
maksilla, etmoid, frontalis dan sphenoid. Dan sinus maksilla merupakan sinus paranasal
terbesar diantara lainnya, yang berbentuk pyramid iregular dengan dasarnya menghadap
ke fossa nasalis dan puncaknya kearah apek prosesus zigomatikus os maksilla.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang arteri
sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor,
yang disebut pleksus kieesselbach (littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya
superfisialis dan mudah cedera oleh truma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis.2

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis
anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V-
1). Rongga hidung lannya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila
melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan
persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa
hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensorisdari n.maksila (N.V-2), serabut

13
parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari
n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas
ujung posterior konka media. (Soetjipto D & Wardani RS,2007)

Nervus olfaktorius. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. (Dhingra PL, 2007 ; Soetjipto D & Wardani
RS,2007)

Transportasi mukosiliar hidung adalah suatu mekanisme mukosa hidung untuk


membersihkan dirinya dengan mengangkut partikel-partikel asing yang terperangkap
pada palut lendir ke arah nasofaring. Merupakan fungsi pertahanan lokal pada mukosa
hidung. Transportasi mukosiliar disebut juga clearance mukosiliar. Transportasi
mukosiliar terdiri dari dua sistem yang merupakan gabungan dari lapisan mukosa dan
epitel yang bekerja secara simultan.

Sistem ini tergantung dari gerakan aktif silia yang mendorong gumpalan mukus.
Lapisan mukosa mengandung enzim lisozim (muramidase), dimana enzim ini dapat
merusak beberapa bakteri. Enzim tersebut sangat mirip dengan imunoglobulin A (Ig A),
dengan ditambah beberapa zat imunologik yang berasal dari sekresi sel. Imunoglobulin
G (Ig G) dan interferon dapat juga ditemukan pada sekret hidung sewaktu serangan akut
infeksi virus. Ujung silia tersebut dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan
mukus kemudian menggerakkannya ke arah posterior bersama materi asing yang
terperangkap didalamnya ke arah faring. Cairan perisilia dibawahnya akan dialirkan ke
arah posterior oleh aktivitas silia, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti.
Transportasi mukosilia yang bergerak secara aktif ini sangat penting untuk kesehatan
tubuh. Bila sistem ini tidak bekerja secara sempurna maka materi yang terperangkap oleh
palut lendir akan menembus mukosa dan menimbulkan penyakit.

Pada dinding lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabung dengan
sekret yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior di dekat infundibulum etmoid,
kemudian melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan dialirkan ke arah
nasofaring. Sekret yang berasal dari sinus etmoid posterior dan sfenoid akan bergabung
di resesus sfenoetmoid, kemudian melalui posteroinferior orifisium tuba eustachius
menuju nasofaring. Dari rongga nasofaring mukus turun kebawah oleh gerakan menelan.

14
Gambar 3. Anatomi hidung

Diunduh dari ; http://www.netterimages.com/images/vpv/000/000/011/11729-0550x0475.jpg

FISIOLOGI HIDUNG

Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah : 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi
udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran
tekanan dan mekanisme imunologik lokal ; 2) fungsi penghidu, karena terdapanya
mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus
penghidu ; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses
berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang ; 4) fungsi
statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan
pelindung panas; 5) refleks nasal. (Soetjipto D & Wardani RS,2007)

DIAGNOSIS

15
a) Working diagnosis
1. Otitis eksterna sirkumkripta akut
Otitis eksterna adalah peradangan yang terjadi pada bagian luar telinga. Peradangan
ini bisa mengenai bagian kartilago (sirkumkripta) atau bisa mencapai seluruh liang
telinga( difusa). Perdangan ini dapat di bagi menjadi 2 yang infeksi yang di sebabkan
oleh bakteri, virus jamur serta yang non infeksi misal dermatosis.
Pada kasus pasien datang dengan keluhan nyeri pada telinga kanan sejak 3 hari yang
lalu. Dan setelah di lakukan pemeriksaan endoskopi tampak adanya laserasi pada
bagian kartilago dan terdapat membran timpani yang suram. Laserasi ini harus di obat
agar tidak terjadi infeksi pada telinga bagian luar. Pengobatan bisa di lakukan dengan
menggunakan salep antibiotik topikal dan anti nyeri.
2. Otitis media stadium oklusi et causa Rhinitis bakterial akut

Otitis media stadium oklusi di tandai dengan adanya membran timpani yang suram
pada telinga kanan. Hal ini dapat terjadi karena 2 faktor yaitu obstruksi tuba timpani
karena neoplasma, peningkatan jaringan perituba atau karen infeksi atau alergi.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa pada sejumlah kasus otitis media dengan efusi
pada penderita rinitis alergi, ditemukan sel mast dan triptase pada kavum timpaninya.
Ini memberi kesan bahwa otitis media dengan efusi sebagai respon alergi.
Studi lain mengungkapkan peran disfungsi tuba eustakius pada patogenesis otitis
media. Rinitis kronik, dapat menyebabkan obstruksi tuba eustakius. Pada obstruksi
tuba yang kronis pertukaran gas di kavum timpani tetap terjadi, O2 diresorbsi dan
CO2 dikeluarkan, terjadi dalam ruangan tertutup. Dikavum timpani berlangsung
proses dimana O2 semakin berkurang dan CO2 bertambah yang menyebabkan PO2
turun dalam kapiler dan PCO2 tetap.Terjadi perubahan rasio PO2 dan PCO2 kapiler
yang menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat, keluar serum dan terjadi edema
interseluler yang berakibat lanjut terjadinya efusi di kavum timpani.
3. Rinitis bakterial akut
Merupakan infeksi sekunder dari rinitis virus akut. Penyebabnya bisa karea
Staphylococcu, Streptococcs, Pseudomonas. Hal ini bisa di lihat berdasarkan
pemeriksaan fisik dimana, sekret yang di hasilkan berupa mukoserus, konka
hiperemis. Gejala klinis dari penyakit ini adalah demam, rinorehoea, hidung
tersumbat, sakit kepala.
4. Rinitis alergi
Klasifikasi rhinitis alergi

16
Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya,
yaitu:
a. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis)

Di Indonesia tidak dikenal rhinitis alergi musiman, hanya ada di negara yang
mempunyai 4 musim. Allergen penyebabnya sepsifik, yaitu tepungsari (pollen)
dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah polinosis atau rino
konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada hidung dan
mata (mata merah, gatal disertai lakrimasi).4

b. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)


Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya. Gejala
pada penyakit ini timbul intermiten atau terus menerus, tanpa variasi musim, jadi
dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering ialah allergen
inhalan, terutama pada orang dewasa, dan allergen ingestan. Allergen inhalan
utama adalah allergen dalam rumah (indoor) dan allergen diluar rumah (outdoor).
Allergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak anak dan biasanya
disertai dengan gejala alergi yang lain, seperti urtikaria, gangguan pencernaan.
Gangguan fisiologik pada golongan perennial lebih ringan dibandingkan dengan
golongan musiman tetapi karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering
ditemukan.3
Pada pemeriksaan fisik dijumpai :
Selaput lender hidung bengkak, basah (sereous, mengkilat), mukosa konka
pucat atau keunguan karena pelebaran pembuluh balik (vena).

Dijumpai pembengkakan kelopak mata, kemerahan mata, dan daerah di bawah


kelopak mata bawah tampak lebih gelap karena bendungan darah vena serta
lipatan kelopak mata bawah berlebih
Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO
Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu
berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi :
a. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang
dari 4 minggu.

b. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4
minggu.

17
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:
a. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian,
bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.

b. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.

c. Differential diagnosis
Telinga

Otitis eksterna sirkumkripta Otitis eksterna difusa


Lokasi Pars kartilago Seluruh liang telinga
Gejala Nyeri pada saat mengunyah, Nyeri yang hebat
menelan dan dapat menjalar
Sekret Dalam batas normal Dapat di jumpai krusta
pemeriksaan Pembengkakan di liang telinga Dinding liang telinga merah
dan tragus dan udem

Rintis alergi Rinitis akut


Wakti gejala Lama, berminggu-minggu, 1-2 hari
berulang-ulang, pagi sakit
kemudian siang sembuh
Sifat sekret Encer Mengental sesudah 3-4 hari
Gejala umum Tidak ada Ada panas, malaise
Alergen Ada (dari anamnesis dan skin Tidak ada
test)

PATOFISIOLOGI

18
ETIOLOGI

Eriologi otitis eksterna secara keseluruhan di bagi menjadi grup infektif dan reaktif
grup. Dimana grup infektif di sebabkann oleh bakteri, jamur dan virus. Bakteri dapat
menyebabkan otitis eksternya yang terlokalisasi (furunkel), otitis eksterna difusa, dan
otitis eksterna malignant. Sedangkan jamur dapat menyebabkan otomikosis. Virus dapat
menyebabkan herpes zoster oticus dan otitis eksterna haemorrhagica. Reaktif grup terdiri
dari eczematous otitis eksterna, seboroik otitis eksterna dan neurodermatitis.
Penyebab terjadinya otitis media oklusi yaitu karena obstruksi dari tuba eustacii dan
disebabkan oleh alergi atau infeksi.

PENATALAKSANAAN

a. Medikamentosa

19
Pada otitis eksterna dapat di berikan salep antibiotik atau antibiotik oral, anti
piretik. Antibiotika topikal yang bisa dipakai adalah Bacitrin Polumixin B atau bisa
di gunakan antiseptik. Anti piretik yang dapat digunakan adala paracetamol 500mg
3x1 PO. Antibiotika oral biasanya jarang dipakai.
Otitis media oklusi adalah manifestasi lain dari rhinitis bakterial akut sehingga
terapi pada otitis media oklusi yang penting adalah mengeliminasi penyakit rinitis
bakterialnya . Pengobatan otitis media oklusi dapat menggunakan antihistamin,
obat vasokonstriktor likal (tetes hidung). Miringotomi dilakukan apabila gejala
masih menetap.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa dipakai
dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau
tropikal. Namun pemakaian secara tropikal hanya boleh untuk beberapa hari saja
untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. Preparat kortikosteroid
dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung akibat respons fase lambat berhasil
diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal
(beklometosa, budesonid, flusolid, flutikason, mometasonfuroat dan triamsinolon).
Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida, bermanfaat untuk
mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan sel
efektor.4
Selain itu juga dapat dilakuka tindakan operatif dan imunoterapi. Operatif
yaitu tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka
inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi
memakai AgNO3 25 % atau troklor asetat sedangkan Imunoterapi, jenisnya
desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk
blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat,
berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan.5

Analgetik Cetirizine (*Zyrtec)


Asam mafenamat 500mg 2x1 PO
Dws : 5-10mg 1x/hari
Antipiretik
Paracetamol 500mg 3x1 Anak >6 thn 5 10mg 1X/hari
Antibiotik
2-5thn : 2,5 atau 5 mg 1kali/hari
Topikal : bacitrin polymiksin B
Dekongestan
Amoxilin 500mg 3x1 PO
Anti histamin Pseudoefedrin
Generasi pertama Dws : 30 60 mg 4 6 jam sekali
CTM Anak : 6 11thn = 30mg 4 6jam

20
Dws :2-4mg sekali
Anak : 1-2 yo 1 mg, 2x1 2 5 thn = 15mg 4 6 jam sekali
2-5 yo 1 mg, 3x1 max 6 mg/hari Nasal dekongestan
6-12 yo 2 mg, 3x1 max 12 mg/hari Mometasone (*Nasonex)
Generasi kedua Dws: 4 semprot sebagai dosis single
loratadine Anak 3 11 thn = 2 semprot single
Dewasa, usia lanjut, anak 12 tahun dose
tahun atau lebih : 10 mg sehari
Anak-anak usia 2 12 tahun : BB >
30 kg : 10 mg/hari BB 30 kg : 5
mg/hari

b. Non medikamentosa

Menghindari agar air tidak masuk ke dalam telinga, telinga jangan di


bersihkan dulu kurang lebih 1 minggu, menghindari pajanan debu ,banyak
minum air putih, operatif (konkotomi).
PROGNOSIS

Kebanyakan gejala rintis bakterial akut dapat diobati.. Jika rinitis bakterial akut
menjadi kronis dapat menyebabkan obstruksi tuba eustacii sehingga dapat
menimbulka Otitis Media Stadium Oklusi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Irawati Nina, dkk. Rinitis Alergi. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher Edisi keenam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2007: hlm.
128

2. Wardani, S.Retno, dkk. Infeksi Hidung. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher Edisi keenam. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2007: hlm.
140

3. Peter A. Hilger, M.D. Penyakit Hidung. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta, 1997
4. Agency for Healthcare Research and Quality. Evidence report/technology assessment
No.54. Management of allergic and nonallergic rhinitis. May 2002.
5. Dhingra PI, Dhingra S. Disease of Ear, Nose And Thorat 5th edition.

21
6. Skoner DP. Complication of allergic rhinitis. Journal of Allergy and clinical
Immunology; 2000: Vol 6. P 307-318
7. Rinitis alergi ; diunduh dari : http://eprints.undip.ac.id/29135/2/Bab_1.pdf , tanggal 7
November 2013.

22