Anda di halaman 1dari 19

ETNONASIONALISME PAGUYUBAN PASUNDAN

PADA ERA PENERAPAN ASAS TUNGGAL


PANCASILA
1985 1998

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh
OOM KOMALA SANDY
NIM 13040284056

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
PRODI PENDIDIKAN SEJARAH
2017
PROPOSAL SKRIPSI
ETNONASIONALISME PAGUYUBAN PASUNDAN
PADA ERA PENERAPAN ASAS TUNGGAL PANCASILA
1985 1998
A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beragam perbedaan,


oleh karena itu sejak kemerdekaannya Indonesia memutuskan
membentuk negara kesatuan yang berbentuk republik. Penyatuan
dibawah naungan negara tidak cukup untuk mengatasi berbagai konflik
yang timbul akibat perbedaan. Kenyataan menunjukan bahwa
kemerdekaan tidak menghilangakan perbedaan sebagai salah satu
penyebab timbulnya konflik di Indonesia. Kondisi geografis Indonesia
sebagai negara kepulauan menyebabkan adanya kategorisasi dan
perkembangan secara heterogen sehingga bangsa Indonesia terus
dihadapkan pada kenyataan keberagaman, baik dalam hal suku, etnis,
adat, dan agama. Keberagaman sering kali menjadi ancaman terhadap
integritas negara, terutama keberagaman etnis yang terus menjadi
sorotan dalam kasus kasus perpecahan di Indonesia.

Keberadaan berbagai macam etnis di Indonesia menyebabkan


munculnya solidaritas dan semangat etnisitas dari masing masing etnis
tersebut. Etnis Sunda merupakan salah satu etnis yang memiliki penduduk
dalam jumlah yang banyak di Indonesia. Etnis Sunda terus menunjukan
semangat etnisitasnya di tengah semangat kebangsaan Indonesia.
Semangat etnisitas dari orang Sunda telah ditunjukkan sejak masa
pergerakan nasional. Pada era pergerakan nasional, perjuangan meraih
kemerdekaan ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi modern
yang dipelopori oleh kelompok priyayi Jawa dan pejabat pejabat yang
maju yang memandang pendidikan sebagai kunci menuju kemajuan. 1
Paguyuban Pasundan merupakan salah satu organisasi yang terbentuk
pada periode pergerakan nasional sebagai wujud semangat etnisitas
Sunda. Paguyuban Pasundan termasuk ke dalam organisasi yang bersifat
kedaerahan. Ciri kedaerahan Paguyuban Pasundan dapat terlihat dari
pergerakan yang menitikberatkan lingkup lokal (wilayah pasundan), tujuan

1 M.C. Ricklefs.1998. Sejarah Indonesia Modern.Yogyakarta: Gajah Mada


University Press. Hal: 248
organisasi yang berkaitan dengan pelestarian dan pemberdayaan budaya
Sunda dan keanggotaan yang mengutamakan etnis Sunda secara
khususnya atau siapa saya yang memiliki ketertarikan dan kepedulian
terhadap budaya Sunda.2

Unsur kedaerahan dalam sebuah organisasi sangat erat kaitannya


dengan semangat etnisitas dan etnonasionalisme yang terus mewarnai
pergerakannya. Alulo memiliki suatu pendekatan mengenai
etnonasionalisme. Menurutnya, etnonasionalisme merupakan sebuah
fenomena sosial yang kompleks. etnonasionalisme dapat diartikan sebagai
seperangkat kepercayaan mengenai superioritas dan perbedaan antara
sebuah kelompok etnis serta melahirkan keinginan membela
kepentingannya di atas hal-hal lainnya. Pada saat yang bersamaan, istilah
tersebut juga mengacu kepada identifikasi individu terhadap kelompok
etnis tertentu, kebudayaan, kepentingan, serta tujuannya. 3
Etnonasionalisme pada satu sisi hal ini menunjukkan adanya kesadaran
psikologis akan ikatan dan kesadaran akan identitas ke-dirian pada
masing-masing etnis, sedangkan disisi lain persoalan tersebut membaur
dengan nuansa politis, yang pada sebagian kasus di Indonesia
etnonasionalisme seringkali mengarah pada masalah disintegrasi bangsa.

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari


keberadaan keberagaman etnisnya, termasuk berbagai macam konflik
yang disebabkan oleh keberagaman tersebut. Adanya beragam etnis
dengan solidaritas dan semangat etnisitas masing masing menyebabkan
etnonasionalisme tidak dapat dihilangkan dari bangsa yang sudah bersatu
dalam naungan Indonesia. Semangat etnisitas mengisi peristiwa-peristiwa
penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Adanya
semangat kedaerahan dan etnisitas seringkali mengancam integritas dan
keutuhan negara. Peristiwa yang ditimbulkan oleh konflik dari adanya
semangat etnisitas diantaranya adalah Pelepasan Wilayah Timor timur,
Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan dan Gerakan Papua

2 Suharto. 2002. Pagoejoban Pasoendan 1927-1942. Bandung : Satya Historika.


Hal. 1

3 M.A.O. Alulo. 2003. Ethnic Nationalism and the Nigerian Democratic Experience
in the Fourth Republic. Anthropologist Journal - Kamla-Raj (online). Volume 3, No.
1. Hal. 254
Merdeka yang masih membekas dalam ingatan bangsa Indonesia hingga
saat ini, oleh karena itu permasalahan mengenai keberagaman yang ada
di Indonesia selalu menjadi perhatian setiap rezim yang berkuasa.

Orde Baru merupakan fase yang panjang sebagai pelaksana roda


pemerintahan paling lama dalam sejarah di Indonesia. Rezim orde baru
tidak terlepas dari masalah keberagaman yang mengancam intergritas
negara. Kebijakan merupakan salah satu media bagi pemerintah untuk
mengendalikan arus kehidupan bangsa, oleh karena itu adanya ancaman
yang timbul dari keberagaman yang ada di Indonesia menjadikan
pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan untuk mengokohkan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari adanya ancaman
terhadap integritas, baik integritas negara maupun pemerintah. Kebijakan
tersebut ditempuh dengan menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya
ideologi negara dan satu satunya asas bagi organisasi keagamaan dan
kemasyarakatan.

Kebijakan ini tentu mengundang pro dan kontra dari berbagai


kalangan masyarakat, tidak terkecuali organisasi masyarakat. Penetapan
Pancasila sebagai satu satunya asas bagi organisasi politik dan
masyarakat tentu akan mengakibatkan perubahan terhadap arah
pergerakan organisasi organisasi tersebut. Paguyuban Pasundan sebagai
organisasi masyarakat yang sudah mengalami perkembangan yang besar
pada masa Orde Baru tentu merasakan dampak tersendiri akibat
diterapkannya kebijakan Asas Tunggal Pancasila, pasalnya Paguyuban
Pasundan merupakan organisasi kedaerahan yang berdiri atas adanya
etnonasionalisme sedangkan kebijakan Asas Tunggal Pancasila merupakan
kehendak pemerintah untuk mewujudkan nasionalisme bangsa Indonesia
secara utuh. Hal tersebut menimbulkan kemenarikan khusus mengenai
Paguyuban Pasundan dengan etnonasionalisme-nya menyelaraskan diri
dengan kebijakan Asas Tunggal Pancasila dengan fakta bahwa Paguyuban
Pasundan merupakan organisasi etnis yang terus tumbuh dan
mengembangkan segala potensi yang berasal dari etnis Sunda hingga
tahun 2017 ini. Eksistensi organisasi etnis tersebut menunjukan bahwa
etnonasionalisme dapat dikembangkan untuk kepentingan yang
membangun bagi etnis dan tidak selalu mengancam dan membahayakan
integritas nasional.
Penelitian mengenai Organisasi Paguyuban Pasundan telah banyak
dilakukan contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Andre Bagus
Irshanto dengan Judul Kiprah Politik Paguyuban Pasundan Periode 1927-
1959. Penelitian tersebut terkonsentrasi pada kegiatan Paguyuban
Pasundan dalam bidang politik, sedangkan setelah Paguyuban Pasundan
berhenti berpartisipasi dalam bidang politik secara langsung pada tahun
1959, Paguyuban Pasundan belum banyak dijadikan kajian dalam
penelitian, khususnya perkembangan mengenai aktifitas organisasi ini
pada masa Orde Baru. Penelitian lain karya Adiyana Slamet berjudul
Komunikasi Politik Paguyuban Pasundan dalam Pemilihan Gubernur
Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 membahas pula mengenai aktifitas politik
organisasi ini, sangat terbatas sekali pembahasan mengenai pergerakan
dalam bidang pendidikan, sosial dan budaya.

Latar belakang di atas menimbulkan ketertarikan khusus bagi


peneliti untuk mengkaji bagaimana organisasi Paguyuban Pasundan
mengembangkan aktifitasnya dalam berbagai bidang kehidupan dan
menyesuaikan pergerakannya tersebut dengan kebijakan Asas Tunggal
Pancasila dalam sebuah penelitian yang berjudul Etnonasionalisme
Paguyuban Pasundan pada Era Penerapan Asas Tunggal Pancasila 1985-
1998.

B. Batasan Masalah

Batasan masalah diperlukan dalam suatu penelitian untuk


mencegah masalah yang dibahas menjadi terlalu luas, selain itu batasan
masalah dilakukan untuk memfokuskan penelitian. Batasan masalah
dalam penelitian ini terkonsentrasi pada Etnonasionalisme dalam aktifitas
Paguyuban Pasundan pada tahun 1985-1998 atau setelah diberlakukannya
kebijakan Asas Tunggal Pancasila. Pemilihan organisasi Paguyuban
Pasundan didasarkan pada fakta bahwa Paguyuban Pasundan merupakan
organisasi kedaerahan yang berlatarkan etnis Sunda yang merupakan
etnis dengan presentase jumlah penduduk terbesar kedua di Indonesia,
selain itu organisasi Paguyuban Pasundan juga merupakan organisasi yang
masih berkembang hingga saat ini. Batasan Temporal 1985-1998
merupakan tahun berlakunya Asas Tunggal Pancasila bagi organisasi
masyarakat dibawah kekuasaan Orde Baru.

C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas dirinci
dalam pertanyaan-pertanyaan berikut ini :

1. Bagaimana kesadaran etnisitas dalam organisasi Paguyuban


Pasundan?
2. Bagaimana pandangan dan reaksi Paguyuban Pasundan terhadap
kebijakan Asas Tunggal Pancasila?
3. Bagaimana etnonasionalisme Paguyuban Pasundan setelah
diterapkannya Asas Tunggal Pancasila?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan dalam penelitian ini dimaksud untuk menjawab


pertanyaan-pertanyaan yang telah dikemukakan di dalam rumusan
masalah yaitu:

1. Mendeskripsikan kesadaran etnisitas dalam organisasi Paguyuban


Pasundan.
2. Mendeskripsikan pandangan dan reaksi Paguyuban Pasundan terhadap
kebijakan Asas Tunggal Pancasila.
3. Menganalisis etnonasionalisme Paguyuban Pasundan setelah
diterapkannya Asas Tunggal Pancasila.
E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan oleh penulis dari hasil penelitian


ini adalah:

1. Dapat digunakan untuk menambah penulisan mengenai sejarah


Indonesia terutama mengenai sejarah organisasi kedaerahan yang ada
di Indonesia.
2. Dapat melangkapi khazanah dari penulisan sejarah yang telah ada
sebelumnya, khususnya tentang Paguyuban Pasundan yang dirasa
masih sangat terbatas.
3. Sebagai bahan rujukan untuk penelitian dalam lingkup yang lebih
mendalam mengenai organisasi Paguyuban Pasundan dan kebijakan
Asas Tunggal Pancasila.
4. Dapat memberikan pembelajaran bagi masyarakat bahwa semangat
etnisitas dapat dikembangkan secara positif untuk kepentingan
etnisnya.
F. Kajian Pustaka
1) Kerangka Konseptual
Nasionalisme adalah suatu paham atau ajaran untuk mencintai
bangsa dan negara atas kesadaran keanggotaan/warga negara yang
secara potensial bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan
mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan
bangsanya. Menurut Smith, nasionalisme adalah suatu gerakan
ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan,
dan identitas bagi suatu populasi, yang sejumlah anggotanya bertekad
untuk membentuk suatu bangsa yang actual atau bangsa yang
potensial.4 Nasionalisme merupakan sebuah paham yang muncul dan
berkembang menjadi landasan hidup bernegara, bermasyarakat dan
berbudaya yang dipengaruhi oleh kondisi historis dan dinamika sosio
kultural yang ada di masing-masing negara. Berdasarkan pemahaman
tersebut dapat dikatakan bahwa nasionalisme berhubungan dengan
pembentukan awal paham kebangsaan ini melalui adanya komunitas
komunitas yang lebih rendah yaitu etnis.

Individu individu dalam kelompok etnis sama-sama memiliki


perasaan identitas kelompok, seperangkat nilai, kepentingan politik
dan ekonomi, pola-pola perilaku dan elemen-elemen budaya lain yang
berbeda dari satu kelompok dengan kelompok lain dalam masyarakat. 5
Menurut the NCSS Task Force on Ethnic Studies Curriculum Guidelines
kemompok etnis memiliki semua ciri berikut:6

a) Asal usulnya mendahului lahirnya negara atau bagian


eksternal dari negara
b) Kelompok etnis adalah kelompok involuntary meskipun
identifikasi individu dengan kelompok merupakan pilihan
c) Kelompok etnis mempunyai tradisi nenek moyang dan
anggotanya saling membagi sense of peoplehood dan
rasa senasib sepenanggungan
d) Kelompok etnis mempunyai orientasi nilai yang berbeda,
pola-pola perilaku dan kepentingan (politik dan ekonomi)

4 Anthony D. Smith. 2003. Nasionalisme ; Teori, Ideologi Sejarah. Jakarta :


Erlangga. Hal. 11

5 Agus Salim. 2006. Stratifikasi Etnik (Kajian Mikrososiologi Interaksi Etnis Jawa
dan Cina). Yogyakarta: Tiara Wacana. Hal. 65

6 Agus Salim. Ibid


e) Keberadaan kelompok mempunyai pengaruh yang besar
bagi kehidupan anggotanya
f) Keanggotaan kelompok dipengaruhi oleh bagaimana
mereka mendefinisikan diri mereka dan bagaimana orang
lain mendefinisikan mereka

Tinjauan terhadap etnis mengenai kaitannya dengan


nasionalisme tidak dapat terlepas dari kesadaran terhadap etnisitas
yaitu kesadaran terhadap sejumlah sifat yang menjadi milik etnis
tertentu dan menjadi penanda sejumlah sifatnya. Kesadaran terhadap
etnisitas dapat melatarbelakangi timbulnya etnosentrisme dan
etnonasionalisme.

W.G. Summer (dalam Agus Salim) menyebutkan bahwa


etnosentrisme merupakan istilah teknis untuk kajian terhadap hal hal
di mana kelompok seseorang merupakan pusat segala-galanya, dan
hal lain dinilai dengan merujuk pada kelompok orang tersebut. 7
Meninjau dari pengertiannya sikap etnosentrisme harus dihilangkan
untuk menciptakan masyarakat yang saling menghargai keragaman
budaya manusia dalam kehidupan sosial. Berbeda dengan
etnosentrisme yang hanya memiliki kecenderungan berfikir yang
mengacu pada etnis tertentu sebagai pusatnya, etnonasionalisme
memilik pengertian yang lebih luas.

Nasionalisme etnis atau etnonasionalisme adalah dimana negara


memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah
masyarakat. Keanggotaan suatu bangsa bersifat turun-temurun. 8
Etnonasionalisme juga dapat diartikan sebagai nasionalisme yang
merupakan ikatan kebangsaan yang dibangun berdasarkan persamaan
bahasa, kebudayaan, dan darah keturunan kelompok etnis tertentu. 9
Dalam sebuah negara yang merdeka tumbuhnya sentimen
etnonasional merupakan fenomena positif bagi rasa keanggotaan
komunitas dan bagi perkembangan pribadi mereka, yang tidak dapat

7 Agus Salim. Op.Cit., Hal. 64

8 Retno Listyarti. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Esis. Hal. 28

9Michael Ignatieff, Civic Nationalism & Ethnic Nationalism,


https://www.msu.edu/user/hillrr/161lec16.htm, diakses : 15 Februari 2017
terjadi dalam konteks sosial. Hal-hal seperti ini mengakibatkan
etnonasionalisme dapat mengisi kebutuhan individu atas dimensi
kolektif yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan pribadi, di sisi lain
etnonasionalisme merupakan sebuah gerakan yang tidak positif, yaitu
saat etnonasionalisme berkembang menjadai gerakan politik di mana
sebuah kelompok menuntut berdirinya pemerintahan sendiri. 10 Inilah
yang terjadi di beberapa negara yang memiliki kelompok etnis yang
banyak jumlahnya.

Etnonasionalisme suatu kebudayaan yang meliputi pencapaian


artistik, alat dan gaya pernyataan diri, dan seluruh sistem nilai sosial
agama yang mendefinisikan suatu komunitas menjadi kontribusi pada
formasi sebuah masyarakat yang berbeda, hidup berdampingan
dengan yang lainnya dalam batas-batas suatu negara. 11
Etnonasionalisme merupakan bentuk solidaritas atau rasa komunitas
yang berdasarkan etnisitas merujuk pada perasaan subyektif yang
memisahkan satu kelompok tertentu dengan kelompok lain dalam
sebuah komunitas. Etnonasionalisme pada satu sisi hal ini
menunjukkan adanya kesadaran psikologis akan ikatan dan kesadaran
akan identitas ke-dirian pada masing-masing etnis, sedangkan disisi
lain persoalan tersebut membaur dengan nuansa politis, yang pada
sebagian kasus di Indonesia etnonasionalisme seringkali mengarah
pada masalah disintegrasi bangsa.

Dalam sebuah negara yang terdiri dari berbagai macam etnis,


semangat etnonasionalisme berada dalam interaksi antar etnis,
sebagaimana yang dikatakan oleh Suparlan bahwa ada tiga pola
interaksi atau hubungan antar suku bangsa yaitu: kerjasama,
persaingan, dan konflik.12 Konsep kerjasama dan konflik dapat dikaitkan
dengan kekuatan sentripetal dan kekuatan sentrifugal. Kekuatan
sentripetal merupakan kekuatan yang mendorong terjadinya integrasi,

10 Bungaran Antonius Simanjuntak. 2010. Otonomi Daerah, Etnonasionalisme,


dan Masa Depan Indonesia: Berapa Persen Lagi Tanah dan Air Nusantara Milik
Rakyat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal: 160

11 Bungaran Antonius Simanjuntak. Ibid.,

12 Parsudi Suparlan. 1984. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya. Jakarta:


Rajawali
integrasi yang dimaksud disini adalah integrasi sesame etnis maupun
dengan etnis lain dan dengan negara. Kekuatan sentrifugal merupakan
kebalikan dari sentripetal yaitu merupakan kekuatan yang mendorong
terjadinya disintegrasi atau perpecahan.

Mengkaji integrasi yang berkaitan dengan elemen etnis dapat


dilakukan dengan memposisikan etnisitas sebagai bagian subordinat
dan kesatuan negara sebagai superordinat. Suatu kekuatan bersifat
sentripetal biasanya cenderung terkait dengan hal-hal yang bersifat
kultural, misalnya dalam bentuk diterimanya sistem nilai dan gaya
hidup yang lazim berlaku di masyarakat. Selain itu dapat pula dalam
bentuk semakin meningkatnya partisipasi dalam berbagai kelompok
perkumpulan dan kelembagaan. Selanjutnya, suatu kekuatan yang
cenderung bersifat sentrifugal adalah apabila ada keinginan dikalangan
subordinat untuk memisahkan diri dari kelompok dominan atau dari
berbagai ikatan yang lazim terdapat dalam masyarakat. 13 Secara
kultural, biasanya hal itu terjadi karena kelompok subordinat masih
sering dan masih tetap ingij menjaga tradisi, sistem nilai, bahasa,
agama, dan pola-pola rekreasi mereka, dan sebagainya.

2) Penetian dan Karya Terdahulu

Penelitian mengenai Etnonasionalisme Paguyuban Pasundan


pada Era Penerapan Asas Tunggal Pancasila 1985-1998 merujuk pada
beberapa karya terdahulu mengenai penerapan Asas Tunggal Pancasila
yang membawa dampak perubahan bagi organisasi organisasi di
Indonesia. Skripsi Karya Grigis Tinular Harso yang berjudul
Penerimaan Asas Tunggal Pancasila oleh Nadlatul Ulama: Latar
Belakang dan Proses 1983-1985 merupakan salah satu rujukan yang
digunakan dalam penelitian ini. Skripsi tersebut membahas mengenai
latar belakang dikeluarkannya kebijakan Asas Tunggal Pancasila oleh
pemerintah Orde Baru dan proses dinamika internal, penerimaan serta
reaksi dari Individu dan organisasi massa terhadap kebijakan tersebut
yang merupakan bagian dari bahasan dalam penelitian yang akan
dilakukan. Pembahasan dalam penelitian tersebut menyebutkan bahwa

13 Hari Poerwanto. 1999. Asimilasi, Akulturasi dan Integrasi Nasional. Jurnal


Humaniora (online). Volume XI, No. 3. Diakses dari :
http://download.portalgaruda.org pada 18 Februari 2017. Hal: 35
penerimaan oleh organisasi NU terhadap Asas Tunggal Pancasila telah
melalui berbagai pertimbangan bahwa sepanjang suatu nilai tidak
bertentangan dengan arah gerak organisasi, ia dapat diarahkan dan
dikembangkan agar selaras dengan tujuan-tujuan di organisasi
tersebut. Pembahasan mengenai dampak diterapkannya kebijakan
Asas Tunggal Pancasila bagi organisasi massa menyebutkan bahwa
kebijakan tersebut membawa perubahan pada Anggaran Dasar, dalam
hal ini meliputi deklarasi Pancasila dan Islam. Sebagai implementasi
penerimaan NU atas Pancasila sebagai satu satunya asas dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Anggaran Dasar NU pun
sejak 1984 berubah sesuai dengan paradigma tersebut.

Penelitian oleh Vivi Yunita Aisyah yang berjudul Peran Himpunan


Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya dalam Penerimaan Asas
Tunggal Pancasila Berdasar Sumber Lisan Para Kader memaparkan
bahwasanya menjadikan Pancasila sebagai asas bukanlah suatu hal
yang salah. Asas merupakan prinsip, dan agama merupakan ajaran
yang di dalam ajaran itu mengandung prinsip, jadi antara Islam dengan
Pancasila itu sejalan dan tidak bertentangan. Pembahasan dalam
kedua penelitian diatas dapat dijadikan pertimbangan bagi peneliti
untuk menganalisis reaksi dan penerimaan organisasi Paguyuban
Pasundan terhadap penerapan Asas Tunggal Pancasila dan merujuk
bahwa penerapan asas tunggal tersebut membawa perubahan
terhadap arah pergerakan dan anggaran dasar dari berbagai organisasi
di Indonesia.

Penelitian lain adalah oleh Amsar S.Dulmanan dengan judul


Asas Tunggal Pancasila dan Upaya Memaknai Kembali Stabilitasi
Politik Indonesia dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa penetapan
Pancasila sebagai asas tunggal merupakan langkah penguatan
ideologis didasari dari kesejarahan kekuasaan Indonesia, yang dipenuhi
bermacam konflik-konflik dan pertentangan dalam kelompok
masyarakat, dalam partai politik atau pada elite di institusi
kenegaraan, terutama pada persaingan, polarisasi dari kepentingan
politik dan ideologis yang melatarinya. Prinsip konstitusionalisme ini
yang dijadikan landasan Orde Baru untuk memperoleh legitimasi
kekuasaannya sekaligus menghilangkan perbedaan-perbedaan di
dalam masyarakat yang dianggapnya membahayakan stabilitas
negara. Dalam hal ini rezim Orde Baru berkehendak menciptakan
tatanan sosial (social order) baru yang mampu menjaga stabilisasi
politik yang menjadi prasyarat bagi pembangunan ekonomi
nasionalnya. Penelitian tersebut dijadikan sebagai salah satu rujukan
karena memuat tujuan tujuan yang dicapai oleh pemerintah Orde Baru
dari penerapan kebijakan Asas Tunggal Pancasila.

Penelitian mengenai organisasi Paguyuban Pasundan yang


dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah sebuah buku karya
Suharto dengan judul Pagoejoeban Pasoendan 1927-1942, Profil
Pergerakan Etnonasionalis buku tersebut menyebutkan bahwa
organisasi Paguyuban Pasundan berdiri atas dasar keinginan etnis
untuk mendirikan perkumpulan sendiri yang akan memperhatikan
keadaan sosial budaya dan penduduknya. Periode tahun 1913-1927
merupakan periode yang ditandai dengan sifat organisasi Paguyuban
Pasundan sebagai organisasi lokal yang memperhatikan terbatas hanya
pada Pasundan atau Jawa Barat. Periode kedua yaitu setelah tahun
1927 yang ditandai dengan masuknya Paguyuban Pasundan ke dalam
PPPKI merubah sifat organisasi Paguyuban Pasundan menjadi
perkumpulan nasional. Paguyuban Pasundan bersama dengan
perkumpulan nasional lainnya bekerja sama untuk mewujudkan tujuan
perkumpulan tersebut, akan tetapi beriringan dengan perkumpulan
tersebut Paguyuban Pasundan tetap berusaha untuk memajukan
bidang sosial, ekonomi, budaya dan lainnya di daerah Pasundan (Jawa
Barat) sebagai bagian dari nusa bangsa Indonesia. Karya Suharto ini
dapat dijadikan rujukan untuk meninjau keberadaan Paguyuban
Pasundan sebagai organisasi etnonasionalis yang terus mengalami
perkembangan dari masa ke masa.

G. Metode Penelitian

Penilitian yang berjudul Etnonasionalisme Paguyuban Pasundan


Pada Era Penerapan Asas Tunggal Pancasila 1985-1998 menggunakan
pendekatan penelitian sejarah, dalam penelitian skripsi ini, penulis
melakukan tahapan penelitian sejarah yang dirinci sebagai berikut :

1. Heuristik
Tahap ini penulis memulai mencari dan mengumpulkan data
data yang berkaitan langsung maupun tidak langsung untuk
dijadikan sumber primer maupun sekunder yang relevan dengan
kajian penulis. Adapun rincian penjelasan mengenai sumber-
sumber yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1) Sumber Arsip/Dokumen
Lembaran Negara Republik Indonesia, UU No.3 Tahun
1985 mengenai ditetapkannya Pancasila sebagai asas
partai politik dan UU No.8 Tahun 1985 mengenai
ditetapkannya Pancasila sabagai asas organisasi
kemasyarakatan. Dokumen tersebut ditemukan di
Perpustakaan Universitas Negeri Surabaya bagian
Referensi.
Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia, UU No.3
Tahun 1985 mengenai ditetapkannya Pancasila sebagai
asas partai politik dan UU No.8 Tahun 1985 mengenai
ditetapkannya Pancasila sabagai asas organisasi
kemasyarakatan. Dokumen tersebut ditemukan di
Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika.
Anggaran Dasar Organisasi Paguyuban Pasundan tahun
1980-1995. Dokumen tersebut ditemukan di Kantor Pusat
Paguyuban Pasundan.
2) Sumber Pendukung
Sebuah buku yang berjudul Pagoejoeban Pasoendan
1927-1942 (Profil Pergerakan Etno Nasionalis) karya
Suharto yang diperoleh dari Laboratorium Jurusan
Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya
merupakan referensi pertama yang menjadi acuan
penulis untuk mengembangkan penelitian.
Sebuah buku yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang
Sunda karya Edi Ekadjati yang diperoleh dari
Perpustakaan Daerah Provinsi Jawa Barat.

Penelusuran sumber selanjutnya, peneliti merencanakan


uuntuk menelusuri beberapa sumber, dengan rincian sebagai
berikut:
1) Penulis akan mencari Tap MPR No.II/MPR/1983 mengenai
Pancasila sebagai satu satunya asas bagi organisasi politik dan
kemasyarakatan.
2) Surat Keputusan/Surat Edaran Pemerintah Daerah Provinsi Jawa
Barat tentang penetapan Pancasila sebagai asas tunggal bagi
organisasi masyarakat.
3) Surat Keputusan/Surat Edaran Pemerintah Kabupaten/Kota
Bandung tentang penetapan Pancasila sebagai asas tunggal
bagi organisasi masyarakat.
4) Dokumen dokumen lain mengenai organisasi Paguyuban
Pasundan masa Orde Baru.
5) Koran koran terbitan tahun 1985 1998 dengan topik
Paguyuban Pasundan.

Adapun beberapa lembaga yang akan dikunjungi dalam


penelusuran tersebut adalah

1) Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat


di Jl. Kawaluyaan Indah II No. 4 Bandung.
2) Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemerintah Kota
Bandung di Jl. Caringin No. 103 Babakan Ciparay Bandung.
3) Balai Arsip Pers Tjetje Senaputra atau PT. Balai Iklan di Jl. Kopo
No. 304 Bandung.

Rencana penelusuran sumber yang akan dilakukan oleh


peneliti lainnya adalah wawanca dengan seorang narasumber yang
telah direkomendasikan oleh organisasi Paguyuban Pasundan
kepada peneliti. Wawancara tersebut dilakukan dengan seorang
tokoh Paguyuban Pasundan masa Orde Baru yaitu Bapak Iip .D.
Yahya.

2. Kritik Sumber

Kritik Sumber adalah melakukan penelitian tentang keaslian


dan kredibilitas sumber, melalui kritik ekstern dan intern. Kritik
ekstren atau otentitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keaslian
sumber data. Hal ini dilakukan untuk menyeleksi segi-segi fisik dari
sumber data tersebut, sehingga diperoleh keyakinan bahwa
penelitian telah dilakukan dengan menggunakan data yang tepat.
Penelitian ini tidak menggunakan kritik ekstern, proses kritik sumber
hanya menggunakan kritik intern. Kritik intern atau pengujian
kredibilitas dilakukan untuk meneliti kebenaran isi sumber. 14

Kegiatan kritik intern dalam penelitian ini dilakukan dengan


langkah pertama, memisahkan sumber yang diperoleh secara
langsung dari organisasi Paguyuban Pasundan dengan sumber lain
yang diperoleh dari luar organisasi tersebut. Proses kritik dilakukan
dengan menguji kredibilitas dari masing masing sumber yang
diperoleh untuk dijadikan fakta. Selanjutnya peneliti akan
membandingkan fakta fakta tersebut untuk memperoleh
keterarahan pada satu fakta dan menarik benang merah dari fakta-
fakta yang tersebar dalam sumber-sumber tersebut.

3. Interpretasi

Interpretasi ialah yaitu penafsiran terhadap fakta yang telah


teruji kebenarannya. Tahap ini penulis menafsirkan fakta sejarah
dengan menghubungkan dan merangkai fakta satu dengan yang
lainnya sehingga muncul hubungan yang rasional antar fakta
tersebut.15 Dalam menginterpretasi fakta, hal pertama yang
dilakukan adalah, menyusun semua fakta yang diperoleh.
Selanjutnya penulis merangkai fakta fakta tersebut dengan
menyesuaikan dengan konsep multikulturalisme dan pluralisme
serta konsep integrasi sentripetal dan sentrifugal, selain iru penulis
juga meninjau fakta tersebut melalui berbagai buku referensi.

4. Historiografi

Historiografi adalah penulisan hasil penelitian menjadi


rekonstruksi sebuah cerita dengan mengorganisasikan materi,
peletakan dasar pandangan dari sudut masa lalu. Penulisan
dilakukan setelah merangkai fakta-fakta yang diperoleh dalam

14 Helius Syamsudin. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak. Hal: 130.

15 Helius Syamsudin. Op.cit., Hal : 134


tahapan sebelumnya. Penulisan dilakukan ke dalam bentuk tulisan
deskriptif analitis secara logis, kronologis dan sistematis sesuai
dengan kaidah ilmiah.

H. Sistematika Penulisan

Penulisan Penelitian Etnonasionalisme Paguyuban Pasundan Pada


Era Penerapan Asas Tunggal Pancasila terdiri dari lima bab. Bab I dalam
penelitian ini berisi Pendahuluan Bab ini bertujuan mengantarkan secara
sekilas, segala sesuatu yang berkaitan dengan penulisan, diantaranya
latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika
penulisan.

BAB II merupakan pemaparan mengenai organisasi Paguyuban


Pasundan, pada bab ini peneliti akan menjelaskan sejarah organisasi
Paguyuban Pasundan.

BAB III mambahas Asas Tunggal Pancasila, dalam bab ini peneliti
menguraikan mengenai sejarah pancasila sebagai Ideologi dan proses
pemberlakuan Asas Tunggal Pancasila.

BAB IV menjelaskan mengenai Etnonasionalisme Paguyuban


Pasundan Dibawah Asas Tunggal Pancasila 1985-1998. Bab ini berisi hasil
penelitian, berupa seluruh informasi dan fakta fakta yang telah diperoleh
dan dianalisis oleh peneliti. Dalam hal ini penulis memaparkan semua hasil
penelitian dalam bentuk uraian deskriptif yang ditujukan agar semua
keterangan yang diperoleh dari hasil penelitian dan pembahasan ini dapat
dijelaskan secara rinci. Bab ini juga berisi mengenai seluruh jawaban-
jawaban atas rumusan masalah-masalah yang telah dibuat. Pembahasan
dalam bab ini terdiri dari Kesadaran Etnisitas dalam organisasi Paguyuban
Pasundan, Pandangan dan Reaksi Organisasi Paguyuban Pasundan
terhadap kebijakan Asas Tunggal Pancasila, dan Etnonasionalisme
Paguyuban Pasundan dibawah Kebijakan Asas Tunggal Pancasila.

BAB V memuat Penutup. Pada bab terakhir ini penulis menuangkan


kesimpulan dari hasil pembahasan, penulisan kesimpulan ini mengacu
pada jawaban-jawaban atas rumusan masalah yang ada. Selain itu, dalam
bab ini juga terdapat saran atau rekomendasi dari penulis yang diajukan
kepada berbagai pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
A. Dokumen/Arsip
Lembaran Negara Republik Indonesia, UU No.3 Tahun 1985

Lembaran Negara Republik Indonesia, UU No.8 Tahun 1985

Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia, UU No.3 Tahun 1985


Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia UU No.8 Tahun 1985

Anggaran Dasar Organisasi Paguyuban Pasundan tahun 1980

Anggaran Dasar Organisasi Paguyuban Pasundan tahun 1985

Anggaran Dasar Organisasi Paguyuban Pasundan tahun 1990

Anggaran Dasar Organisasi Paguyuban Pasundan tahun 1995

B. Jurnal
Alulo. 2003. Ethnic Nationalism and the Nigerian Democratic Experience
in the Fourth Republic. Anthropologist Journal - Kamla-Raj,
(online), Volume 3, No. 1, (http://www.ajol.info/, diunduh 20
November 2016)
Aisyah, Vivi Yunita. 2014. Peran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang
Surabaya dalam Penerimaan Asas Tunggal Pancasila Berdasar
Sumber Lisan Para Kader. Jurnal Avatara, (online), Volume 2, No.1,
(http:// ejournal.unesa.ac.id, diunduh 20 November 2016)
Dulmanan, Amsar A. 2015. Asas Tunggal Pancasila dam Upaya Memaknai
Kembali Stabilitasi Politik Indonesia. Jurnal Konfrontasi, (online),
Volume 4, No.2, (http:// www.konfrontasi.co, diunduh 20 November
2016)
Ekadjati, E. S. (2003). Paguyuban Pasundan A Sundanese Revival (1913-
1918). Journal of Asian and African Studies, (online), Jilid 66, No.
35. (http://repository.tufs.ac.jp, diunduh 20 November 2016)
Hari Poerwanto. 1999. Asimilasi, Akulturasi dan Integrasi Nasional. Jurnal
Humaniora (online), Volume XI, No. 3.
(http://download.portalgaruda.org) diunduh pada 18 Februari 2017.
C. Buku
Effendy, Bahtiar. 1998. Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan
Praktik Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Paramadina.
Ekadjati, Edi S. 2004. Kebangkitan Kembali Orang Sunda: Kasus
Paguyuban Pasundan 1913-1918. Bandung: Kiblat Buku Utama
Ismail, Faisal. 1999. Ideologi Hegemoni Dan Otoritas Agama; Wacana
Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Listyarti, Retno. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Esis.
Pringgodigdo SH. A.K. 1980. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta:
Dian Rakyat.
Ricklefs, M.C.1998. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Salim, Agus. 2006. Stratifikasi Etnik (Kajian Mikrososiologi Interaksi Etnis
Jawa dan Cina). Yogyakarta: Tiara Wacana.
Simanjuntak, Bungaran Antonius. 2010. Otonomi Daerah,
Etnonasionalisme, dan Masa Depan Indonesia: Berapa Persen Lagi
Tanah dan Air Nusantara Milik Rakyat. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Smith, Anthony.D. 2003. Nasionalisme ; Teori, Ideologi Sejarah. Jakarta :
Erlangga.
Suharto. 2002. Pagoejoban Pasoendan 1927-1942. Bandung : Satya
Historika.
Suparlan, Parsudi. 1984. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya.
Jakarta: Rajawali
Syamsudin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.
D. Skripsi
Anof, Taufan. 2008. Asas tunggal Pancasila dalam Pandangan Syarikat
Islam (SI) Masa Orde Baru. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah : Fakultas Syariah dan Hukum
Irshanto, Andre Bagus. 2015. Kiprah Politik Paguyuban Pasundan Periode
1927-1959. Universitas Pendidikan Indonesia : Fakultas Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial.
Slamet, Adiyana. Komunikasi Politik Paguyuban Pasundan dalam Pemilihan
Gubernur Provinsi Jawa Barat Tahun 2008. Universitas Komputer
Indonesia. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik