Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (IKM) MODUL

Pendahuluan Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah

penyakit, memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dan

efisiensi dengan menggerakkan potensi seluruh masyarakat. Konsep

kesehatan masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku sehat akan

lebih terbentuk dan bertahan lama bila dilandasi kesadaran sendiri

(internalisasi) sehingga konsep upaya sehat dari, oleh dan untuk

masyarakat sangat tepat diterapkan.

dr. Nengah Adnyana Oka M., M.Kes. - Pemerintah Indonesia

sudah mengembangkan konsep Desa Siaga yang menggunakan

pendekatan pengenalan dan pemecahan masalah kesehatan dari, oleh dan

untuk masyarakat sendiri. Peranan petugas kesehatan sebagai stimulator

melalui promosi kesehatan dilakukan dengan memberikan pelatihan

penerapan Desa Siaga. Kegiatan diwujudkan melalui rangkaian pelatihan

mengidentifikasi masalah kesehatan dengan mengenalkan masalah

kesehatan dan penyakit yang banyak terjadi dalam lingkungan mereka

dilanjutkan survey mawas diri (SMD) dan aplikasi upaya mengatasi yang

disepakati masyarakat berupa musyawarah masyarakat desa (MMD).

Harapan pemerintah agar upaya meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat dapat lebih cepat dan lebih awet karena masyarakat mampu
1 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
mandiri untuk sehat. Tanpa pemahaman terhadap penyakit dan masalaah

kesehatan masyarakat oleh petugas kesehatan maka tidak akan memiliki

dasar pemahaman yang kuat. Implikasinya akan terjadi semakin jauh

kesenjangan pemahaman konsep penyakit dan masalah kesehatan antara

petugas kesehatan dan masyarakat sehingga gagal dalam meningkatkan

derajat kesehatan masyarakat.

(wordpress.com,2012)

Tujuan Memahami Konsep Dasar Kesehatan Masyarakat

pembelajaran

Umum
Tujuan Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa diharapkan dapat Memahami:

pembelajaran 1. Sejarah kesehatan masyarakat

Khusus 2. Periode-periode perkembangan kesehatan masyarakat

3. Perkembangan kesehatan masyarakat Indonesia

4. Definisi kesehatan masyarakat

5. Ruang lingkup kesehatan masyarakat

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan

masyarakat

7. Sasaran kesehatan masyarakat

1.
Strategi a. Kuliah

pembelajaran
Waktu Semester IV: 2 SKS
Pengajar Tutor
2 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Evaluasi 1. Memperhatikan

pembelajaran 2. Mencatat

3. Diskusi

4. Menanggapi/bertanya
Referensi Buku Wajib (BW)

1. Sukidjo Notoatmodjo, 2001, Ilmu Kesehatan

Masyarakat

2. Azrul Azwar, 2001, Ilmu Kesehatan Masyarakat

3. Bambang, 1990, Dasar-dasar Epidemiologi, FKM

UI, Jakarta

Buku Anjuran (BA)

1. Depkes RI, Team work

2. FK UI, 2003, Managemen Pelayanan Kesehatan, UI

3. Effendi Nasrul, Drs, 1994, Primary Health Care,

EGC, Jakarta

4. Louise Silverton, The Art and Science Midwifery,

Frentice Hall, New York, 1993

5. Sasongko Adi, Dr, MPH, 1996, Pengorganisasian

dan Pengembangan Masyarakat, FKM-UI

6. Damayanti Rita, Dra, MSPH, 1996, Dinamika

Kelompok, FKM-UI

3 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
BAB I

KONSEP DASAR KESEHATAN MASYARAKAT

1. Sejarah kesehatan masyarakat

Perkembangan Kesehatan Masyarakat tidak terlepas dari sejarah Kesehatan Masyarakat

(Public Health), yaitu tidak terlepas dari dua tokoh mitologi Yunani Asclepius atau Aesculapius

dan Higea. Aesculapius adalah seorang dokter pertama, yang tampan dan pandai telah

melakukanpengobatan bahkan bedah dengan prosedur yang baik. Sedangkan Higea adalah

asistennya yang cantik dan melakukan pencegahan penyakit dan mengajarkan kepada

masyarakat untuk hidup bersi, melaksanakan hidup seimbang, kebersihan diri menghindari dari

makanan dan minuman yang kotor dan beracun, makan makanan yang bergizi dan cukup

istirahat.

Pada akhirnya kedua orang ini akhirnya menjadi suami istri. Mengabungkan dua aliran

kesehatan yang berbeda tapi tidak saling bertentangan, saling behubungan satu sama lain. Aliran

Aesculapius cenderung menunggu terjadinya penyakit atau setelah sakit yaitu melalui

Pengobatan atau Kuratif. Sedangkan aliran Higea cenderung melakukan pencegahan penyakit

(preventif) serta upaya-upaya peningkatan (promosi) kesehatan. Mitologi tersebut menjadi

inspirasi bagi embrio Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.

4 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
2. Periode periode perkembangan masyarakat

Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat dikelompokkan dalam 2 periode, yaitu

a. Periode sebelum ilmu pengetahuan

Pada periode ini masyarakat belum terlalu memahami arti pentingnya kesehatan dalam

kehidupannya dalam sehari-hari, ini ditandai dengan adanya peraturan tertulis yang mengatur

pembuangan limbah kotoran yang tujuan awalnya tidak untuk kesehatan tetapi karena limbah

menimbulkan bau tidak sedap. Namun lama-lama mereka makin menyadari pentingnya

kesehatan masyarakat setelah timbulnya berbagai macam penyakit menular menyerang sebagian

penduduk dan menjadi epidemi bahkan telah menjadi endemi. Contohnya kolera namun upaya

pemecahan masalah secara menyeluruh belum dilakukan.

b. Periode ilmu pengetahuan

Periode ini masalah penyakit merupakan masalah yang komplek, sehingga jika pada periode

sebelum ilmu pengetahuan belum ditemukan pemecahan masalah, pada periode ini mulai

ditemukann penyebab-penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah, ini dibuktikan Lous

Pasteur menemukan vaksin pencegah cacar. Josep Lister menemukan asam karbol untuk

sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktu

operasi. Penyelidikan dan upaya-upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah pun mulai

digalakkan. Ini dibukatikan dengan telah dikembangkannya pendidikan tenaga kesehatan

profesional oleh seorang pedagang wiski dari baltimor Amerika dengan berdirinya universitas

serta pemerintah Amerika membentuk departemen kesehatan untuk menyelenggarakan

pelayanan kesehatan bagi penduduk, juga perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.

5 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
3. Perkembangan kesehatan masyarakat Indonesia
a. Masa Pra Kemerdekaan.

Pada tahun 1807 Gubernur Jendral Daendels melakukan pelatihan praktik persalinan pada

para dukun bayi. Pada tahun 1851 didirikan sekolah dokter Jawa di Batavia yaitu STOVIA.

Tahun 1888 di Bandung didirikan Pusat Laboratorium Kedokteran yang selanjutnya menjadi

Lembaga Eykman sekarang. Pada Tahun 1913 didirikan Sekolah Dokter Belanda yaitu NIAS di

Surabaya. Tahun 1922 terjadi wabah Pes, sehingga tahun 1933-1935 diadakan pemberantasan

Pes dengan DDT dan vaksinasi massal.

Hasil penyelidikan Hydric, petugas kesehatan pemerintah waktu itu, penyebab kesakitan dan

kematian yang terjadi di Banyumas adalah kondisi sanitasi, lingkungan dan perilaku penduduk

yang sangat buruk. Hydric kemudian mengembangankan percontohan dan propaganda

kesehatan.

b. Masa Era Kemerdekaan.


a) Pra Reformasi.

1). Masa Orde Lama.

Pada tahun 1951 konsep bandung Plan diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah,

yaitu konsep pelayanan yang menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif. Tahun

1956 didirikanlah proyek Bekasi oleh dr. Y. Sulianti di Lemah Abang, yaitu model pelayanan

kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga. Kemudian didirikan Health Centre (HC) di 8

lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut), Bojong Loa (Jabar), Salaman (Jateng), Mojosari (Jatim),

Kesiman (Bali), Metro (Lampung), DIY dan Kalimatan Selatan. Pada tanggal 12 November 1962

Presiden Soekarno mencanangkan program pemberantasan malaria dan pada tanggal tersebut

menjadi Hari Kesehatan Nasional (HKN).

2). Masa Orde Baru.

6 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Konsep Bandung Plan terus dikembangkan, tahun 1967 diadakan seminar konsep

Puskesmas. Pada tahun 1968 konsep Puskesmas ditetapkan dalam Rapat Kerja Kesehatan

Nasional dengan disepakatinya bentuk Puskesmas yaitu Tipe A, B & C. Kegiatan Puskesmas saat

itu dikenal dengan istilah Basic. Ada Basic 7, Basic 13 Health Service yaitu : KIA, KB, Gizi

Mas., Kesling, P3M, PKM, BP, PHN, UKS, UHG, UKJ, Lab, Pencatatan dan Pelaporan. Pada

tahun 1969, Tipe Puskesmas menjadi A & B. Pada tahun 1977 Indonesia ikut menandatangi

kesepakatan Visi : Health For All By The Year 2000, di Alma Ata, negara bekas Federasi Uni

Soviet, pengembangan dari konsep Primary Health Care. Tahun 1979 Puskesmas tidak ada

penTipean, dan dikembangkan piranti manajerial Perencanaan dan penilaian Puskesmas yaitu

Micro Planning dan Stratifikasi Puskesmas. Pada tahun 1984 dikembangkan Posyandu, yaitu

pemngembangan dari pos penimbangan dan karang gizi. Posyandu dengan 5 programnya yaitu,

KIA, KB, Gizi, Penangulangan Diare dan Imunisasi dengan 5 Mejanya.

(Notoadmodjo, 2005)

Pada waktu-waktu selanjutnya Posyandu bukan saja untuk pelayanan Balita tetpai juga

untuk pelayanan ibu hamil. Bahkanpada waktu-waktu tertentu untuk promosi dan distribusi

Vit.A, Fe, Garam Yodium, dan suplemen gizi lainnya. Bahkan Posyandun saat ini juga menjadi

andalah kegiatan penggerakan masyarakat (mobilisasi sosial) seperti PIN, Campak, Vit A, dsb.

b) Pra Reformasi.

Waktu terus bergulir, tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi. Kemiskinan

meningkat, kemampuan daya beli masyarakat rendah, menyebabkan akses ke pelayanan

kesehatan renda, kemudian dikembangkan program kesehatan untuk masyarakat miskin yaitu,

JPS-BK. Tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi berbagai bidang termasuk pemerintahan

dan menjadi negara dermokrasi. Tahun 2001 otonomi daerah mulai dilaksanakan, sehingga

7 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
dilapangan program-prorgam kesehatan bernunasa desentralisasi dan sebagai konsekuensi negara

demokrasi, program-program kesehatan juga banyak yang bernuasa politis. Tahun 2003 JPS-

BK kemudian penjadi PKPS-BBM Bidang Kesehatan, tahun 2005 berubah lagi menjadi

Askeskin. Pada saat itu juga dikembangkan Visi Indonesia Sehat Tahun 2010 dengan Paradigma

Sehat. Puskesmas dan Posyandu masih tetap eksis, bahkan Posyandu menjadi andalan ujung

tombak mobilisasai sosial bidang kesehatan. Dalam era otonomi dan demokrasi menuntut

akutanbilitas dan kemitraan, sehingga berkembang LSM-LSM baik bidang kesehatan, maupun

bukan untuk menuntut akutanbilitas tersebut dalam berbagai bentuk partisipasi. Sebagai

partnersship LSM-LSM tersebut program kesehatan yang bertanggung jawab adalah Promosi

Kesehatan. Promosi Kesehatan harus menjadi ujung tombak mewakili program kesehatan secara

keseluruhan, baik sebagai pemasaran-sosial Visi Indonesia Sehat 2010 untuk merubah

paradigma (Paradigma Sehat)petugas kesehatan dan masyarakat. Tugas lain promosi kesehatan

melakukan advokasi, komunikasi kesehatan dan mobilisasi sosial, baik kepada pihak legislatif,

eksekutif maupun masyarakat itu sendiri. Terutama melalui kemitraan dengan LSM-LSM

tersebut. Dengan kata lain pada era otonomi/desentralisasi saat ini sektor kesehatan harus

diperjuangkan juga secara politik karena sebenarnya saat ini bidang kesehatan disebut juga

sebagai era Political Health, maka peranan promosi kesehatan sangat menonjol dalam ikut

mengakomodasi upaya tersebut dengan berbagai strategi.

Seca universal perkembangan Kesehatan Masyarakat dibagi menjadi 5 era, dengan dasar

pembagian 5 unsur, yaitu unsur jangkuan dengan filosofi yang dianut dengan titik berat

pelayanan, unsur penyelnggaraan pendidikan dan penelitian pengembangan.

1. Definisi kesehatan masyarakat

8 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Kesehatan Masyarakat adalah upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah sanitasi

yang mengganggu kesehatan.

2. Ruang lingkup kesehatan masyarakat

Ruang lingkup kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 2 (dua) disiplin keilmuan, yakni

bio-medis dan social sciences. Tetapi dalam perkembangannya Ilmu Kesehatan Masyarakatpun

berkembang, sehingga sampai saat ini disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat

antara lain :

a. Ilmu biologi

b. Ilmu kedokteran

c. Ilmu kimia

d. Fisika

e. Ilmu Lingkungan

f. Sosiologi

g. Antropologi

h. Psikologi

i. Ilmu pendidikan

Keberagaman ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat menjadikan Ilmu

Kesehatan Masyarakat itu menjadi ilmu yang multidisiplin.

Secara luas, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut

sebagai pilar utama Ilmu Kesehatan Masyarakat ini antara lain :

1. Epidemiologi.

9 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
2. Biostatistik/Statistik Kesehatan.

3. Kesehatan Lingkungan.

4. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

5. Administrasi Kesehatan Masyarakat.

6. Gizi Masyarakat.

7. Kesehatan Kerja.

Mengingat masalah kesehatan masyarakat adalah multikausal, maka pemecahanya harus

secara multidisiplin, dengan pengembangan dan pendekatan beberapa aspek. Dengan beberapa

aspek yang luas tadi, maka cakupan kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah

penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental, dan sosial)

atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik, mental, sosial) adalah bentuk-

bentuk upaya kesehatan masyarakat.

Secara garis besar, upaya kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai penerapan ilmu

kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut :

a. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.

b. Perbaikan sanitasi lingkungan

c. Perbaikan lingkungan pemukiman

d. Pemberantasan Vektor

e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat

f. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

g. Pembinaan gizi masyarakat

h. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum

10 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
i. Pengawasan Obat dan Minuman

j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat soepri

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

1) Lingkungan

Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik (baik natural ataubuatan manusia), dan

sosiokultur (ekonomi, pendidikan,pekerjaan dll). Pada lingkungan fisik, kesehatan

akandipengaruhi oleh kualitas sanitasi lingkungan dimana manusiaitu berada.

Hal ini dikarenakan banyak penyakit yang bersumberdari buruknya kualitas sanitasi

lingkungan, misalnya ;ketersediaan air bersih pada suatu daerah akan mempengaruhiderajat

kesehatan karena air merupakan kebutuhan pokokmanusia dan manusia selalu berinteraksi

dengan air dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan lingkungan sosial berkaitandengan kondisi perekonomian suatu masyarakat.

Semakin miskin individu/ masyarakat maka akses untuk mendapatkanderajat kesehatan yang

baik maka akan semakin sulit.

2) Perilaku/Gaya hidup

Gaya hidup individu/masyarakat sangat mempengaruhiderajat kesehatan. Contohnya :

dalam masyarakat yang mengalami transisi dari masyarakat tradisionalmenuju masyarakat

modern, akan terjadi perubahangaya hidup pada masyarakat tersebut yang akanmempengaruhi

derajat kesehatan.

4. Sasaran Kesehatan Masyarakat

11 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
1) Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan keluarga.

2) Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan komunitas.

3) Terpelihara dan meningkatnya status gizi masyarakat.

4) Terpelihara dan meningkatnya status kesehatan jiwa masyarakat.

5) Meningkatnya jumlah dan cakupan pemeliharaan kesehatan dengan pembiayaan pra upaya.

2. Pokok-pokok pembangunan kesehatan MDGs tahun 2015


Dasar, visi dan misi pembangunan kesehatan

Dasar-dasar pembangunan kesehatan

Pada hakekatnya adalah nilai kebenaran dan aturan pokok sebagai landasan untuk berfikir

atau bertindak dalam pembangunan kesehatan. Dasar ini merupakan landasan dalam penyusunan

visi, misi, dan strategi kesehatan secara nasional yang meliputi:

1. Perikemanusiaan

2. Pemberdayaan dan Kemandirian

3. Adil dan Merata

4. Pengutamaan dan Manfaat

VISI

Indonesia sehat 2015

MISI

1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.

2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat

3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta

lingkungannya.
12 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Arah, tujuan dan sasaran serta kebijakan

Arah Pembangunan Kesehatan

1. Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan nasional

2. Pelayanan kesehatan baik oleh pemerintah maupun masyarakat harus diselengarakan secara

bermutu, adil dan merata dengan memberikan pelayanan khusus kepada penduduk miskin,

anak-anak, dan para lanjut usia yang terlantar, baik di perkotaan mapun di pedesaan

3. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan strategi pembangunan profesionalisme,

desentralisasi dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat dengan memperhatikan

berbagai tantangan yang ada saat ini.

4. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat dilaksanakan melalui program

peningkatan perilaku hidup sehat, pemeliharaan lingkungan sehat, pelayanan kesehatan dan

didukung oleh sistem pengamatan, Informasi dan manajemen yang handal.

5. Pengadaan dan peningkatan prasarana dan sarana kesehatan terus dilanjutkan

6. Tenaga yang mempunyai sikap nasional, etis dan profesional, juga memiliki semangat

pengabdian yang tinggi kepada bangsa dan negara, berdisiplin, kreatif, berilmu dan terampil,

berbudi luhur dan dapat memegang teguh etika profesi.

7. Meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan

pendekatan paradigma sehat, yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan

pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan

sampai lanjut usia.

8. Meningkatkan dan memelihara mutu lembaga dan pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan

sumber daya manusia secara berkelanjutan dan sarana prasarana dalam bidang medis,

termasuk ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat.

13 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
9. Mengembangkan sistem jaminan sosial tenaga kerja bagi seluruh tenaga kerja bagi seluruh

tenaga kerja untuk mendapatkan perlindungan, keamanan, dan keselamatan kerja yang

memadai, yang pengelolaannya melibatkan pemerintah, perusahaan dan pekerja.

10. Membangun ketahanan sosial yang mampu memberi bantuan penyelamatan dan

pemberdayaann terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan korban bencana serta

mencegah timbulnya gizi buruk dan turunnya kualitas generasi muda.

11. Membangun apresiasi terhadap penduduk lanjut usia dan veteran untuk menjaga harkat

martabatnya serta memanfaatkan pengalamannya.

12. Meningkatkan kepedulian terhadap penyandang cacat, fakir miskin dan anak-anak terlantar,

serta kelompok rentan sosial melalui penyediaan lapangan kerja yang seluas-luasnya dalam

rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

13. Meningkatkan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran, memperkecil angka

kematian, peningkatan kualitas program keluarga berencana.

14. Memberantas secara sistematis perdagangan dan penyalahgunaan narkotik dan obat-obatan

terlarang dengan memberikan sanksi yang seberat-beratnya kepada produsen, pengedar dan

pemakai

Tujuan Pembangunan Kesehatan

Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang

optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai penduduk

yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk

menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat

14 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia. Adapun tujuan utama dari

pembangunan kesehatan yaitu :

o Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalambidang kesehatan.

o Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.

o Peningkatan status gizi masyarakat.

o Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).

o Pengembangan keluarga sehat sejahtera

Kebijakan pembangunan kesehatan

Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan dan melandaskan pada memperhatikan

kebijakan umum yang dikelompokkan sebagai berikut:

1. Peningkatan Kerjasama Lintas Sektor.

Untuk optimalisasi hasil pembangunan berwawasan kesehatan, kerjasama lintas sektor

merupakan hal yang utama dan karena itu perlu digalang serta dimantapkan secara seksama.

Sosialisasi masalah-masalah kesehatan pada sektor lain perlu dilakukan secara intensif dan

berkala. Kerjasama lintas sektor harus mencakup pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan

penilaian serta melandaskan dengan seksama pada dasar-dasar pembangunan kesehatan.

2. Penigkatan perilaku, Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Swasta.

Masyarakat dan swata perlu berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Dalam kaitan ini perilaku hidup masyarakat sejak usia dini perlu ditingkatkan melalui berbagai

kegiatan penyuluhan dan pendidikan kesehatan, sehingga menjadi bagian dari norma hidup dan

budaya masyarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat untuk

hidup sehat. Peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan terutama melalui penerapan

15 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
konsep pembangunan kesehatan masyarakat tetap didorong bahkan dikembangkan untuk

menjamin terpenuhinya kebutuhan serta keseimbangan upaya kesehatan.

3. Peningkatan Kesehatan Lingkungan.

Kesehatan lingkungan perlu diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan

yang sehat, yaitu keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan dan

keselamatan hidup manusia. Upaya ini perlu untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup dan

meningkatkan kemauan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam merencanakan dan

melaksanakan pembangunan berwawasan kesehatan.

Kesehatan lingkungan pemukiman, tempat kerja dan tempat-tempat umum serta tempat

periwisata ditingkatkan melalui penyediaan serta pengawasan mutu air yang memenuhi

persyaratan terutama perpipaan, penerbitan tempat pembuangan sampah, penyediaan sarana

pembangunan limbah serta berbagai sarana sanitasi lingkungan lainnya. Kualitas air, udara dan

tanah ditingkatkan untuk menjamin hidup sehat dan produktif sehingga masyarakat terhindar dari

keadaan yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan. Untuk itu diprlukan peningkatan dan

perbaikan berbagai peraturan perundang-undangan, pendidikan lingkungan sehat sejak dini usia

muda serta pembakuan standar lingkungan.

4. Peningkatan Upaya Kesehatanya.

Penyelenggaraan upaya kesehatan dilakuakan secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan, melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pennyembuhan

penyakit dan pemuluhan kesehatan serta upaya khusus melalui pelayanan kemanusiaan dan

darurat atau kritis. Selanjutnya, pemerataan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan perlu

terus menerus diupayakan.

16 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat selama kritis ekonomi,

upaya kesehatan diproriataskan untuk mengatasi dampak kritis disamping tetap mempertahankan

peningkatan pembangunan kesehatan. Perhatikan khusus dalam mengatasi dapak kritis diberikan

kepada kelompok berisiko dari keluarga-keluarga miskin agar derajat kesehatan tidak memburuk

dan tetap hidup produktif. Pemerintah berttanggung jawab terhadap biaya pelayanan kesehatan

untuk penduduk miskin.

Setelah melewati krisis ekonomi, status kesehatan masyarakat diusahakan ditigkatkan

melalui pencegahan dan panganguran mordibitas, mortalitas, dan kecacatan dalam masyarakat

terutama pada bayi, anak balita, dan wanita hamil, melahirkan dan masa nifas, melalui upaya

peningkatan (promosi) hidup sehat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta

pengobatan penyakit dan rehabilitas. Prioritas utama diberikan kepada penaggulangan penyakit

menular dan wabah yang cenderung meningkat.

Perhatian yang lebih besar diberikan untuk mewujudkan produktifitas kerja yang tinggi,

melalui berbagai upaya pelayanan kesehatan kerja termasuk perbaikan gizi dan kebugaran

jasmani tenaga kerja serta upaya kesehatan lain yang menyangkut kesehatan lingkungan kerja

dan lingkungan pemukiman terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah yang kumuh.

5. Peningkatan Sumber Daya Kesehatan

Pengenbangan tenaga kesehatan harus menunjang seluruh upaya pembangunan kesehatan

dan diarahkan untuk menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dan terampil sesuai pengembangan

ilmu dan teknologi, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berpegang teguh

pada pengabdian bangsa dan negara dari etika profesi. Pengembangan tenaga kesehatan

bertujuan untuk meningkatkan pemberdayaan atau daya guna tenaga dan penyediaan jumlah

serta mutu tenaga kesehatan dari masyarakat dan pemerintah yang mampu melaksanakan

17 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
pembangunan kesehatan. Dalam parencanaan tenaga kesehatan perlu diutamakan penentu

kebutuhan tenaga di kabupaten dan kota juga keperluan tenaga berbagai negara di luar negeri

dalam rangka globalisasi. Pengembangan karier tenaga kesehatan mesyarakat dan pemerintah

perlu ditingkatkan dengan terarah dan seksama serta diserasikan secara bertahap.

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JK PM) yakni cara pelayanan kesehatan

melelui penyebaran secara praupaya dikembangkan terus untuk menjamin tersekenggaranya

pemeliharaan kesehatan yang lebih merata dan bermutu dengan harga yang terkendali. JKPM

diselenggarakan sebagai upaya bersama antar masyarakat, swasta dan pemerintah untuk

memenuhi kebutuhan biaya pelayanan kesehatan yang terus meningkat. Tarif pelayanan

kesehatan perlu disesuaikan atas dasar nilai jasa dan barang yang diterima oleh anggota

masyarakat yang memperoleh pelayanan. Masyarakat yang tidak mampu akan dibantu melalui

system JKPM yang disubsidi oleh pemerintah. Bersamaan dengan itu dikembangkan pula

asuransi kesehatan sebagai pelengkap/pendamping JKPM. Pengembangan asuransi kesehatan

berada dibawah pembinaan pemerintah dan asosialisasi perasuransian. Secara bertahap

puskesmas dan rumahsakit milik pemewrintah akan dikelolah secara swadana.

6. Peningkatan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan.

Kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan perlu makin ditingkatkan terutama

melalui peningkatan secara strategis dalam kerjasama antara sektor kesehatan dan sektor lain

yang yang terkait, dan antara berbagai program kesehatan serta antara para pelaku dalam

pembangunan kesehatan sendiri. Manajemen upaya kesehatan yang terdiri dari perencanaan,

pengerakan pelaksanaan, pengendalian, dan penilaian diselenggarakan secara sistematik untuk

menjamin upaya kesehatan yang terpaduh dan menyeluruh. Manajemen tersebut didukung oleh

sistem informasi ynag handal guna menghasilkan pengambilan kepetusan dan dan cara kerja

18 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
yang efisien. Sistem informasi tersebut dikembangkan secara komprehensif diberbagai tingkat

administrasi kesehatan sebagai bagian dari pengembangan administrasi mder. Organisasi

Departemen Kesehatan perlu disesuaikan kembali dengan fungsi-fungsi : regulasi, perencanaan

nasional, pembinaan dan pengawasan.

Desentralisasi atas dasr prinsip otonomi ynag nyata, dinamis, serasi dan bertanggung

jawab dipercepat melalui pelimpahan tanggung jawab pengelolaaan upaya kesehatan kepada

daerah Dinas Kesehatan ditingkatkan terus kemampuan manajemennya sehingga dapat

melaksanakan secara lebih bertanggung jawab dalam perencanaan, pembiayaan dan pelalsaan

upaya kesehatan. Peningkatan kemampuan manajemen tersebut dilakukan melalui rangkaian

pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan pembangunan kesehatan yang ada. Upaya tersebut

pula didukung oleh tersedianya pembiayaan kesehatan yang memadai. Untuk itu perlu

diupayakan peningkatan pendanaan kesehatan yang baik berasal dari anggaran Pendapatan dan

Belanja Nasional maupun dari anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah.

7. Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan teknologi Kesehatan.

Penelitian dan pengembangan dibidang kesehatan akan terus dikembangkan secara

terarah dan bertahap dalam rangka menunjang upaya kesehatan, utamanya untuk mendukung

perumusan kebijaksanaan, membantu memecahkan masalah kesehatan dan mengatasi kendala

dalam pelaksanaan program kesehatan. Penelitian dan pengembangan kesehatan akan terus

dikembangkan melalui jaringan kemitraan dan didesentralisasikan sehingga menjadi bagian

pentig dari pembangunan kesehatan daerah.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi didorong untuk meningkatkan pelayanan

kesehatan, gizi, pendayagunaan obat dan pengembangan obat asli Indonesia, pemberatasan

penyakit dan perbaikan lingkungan. Penelitian yang berkaitan dengan ekonomi kesehatan

19 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
dikembangkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan

swasta. Setra meningkatkan kontribusi pemerintah dalam pembiayaan kesehatan yang terbatas.

Penelitian bidang sosial budaya dan perilaku sehat dilakukan untuk mengembangkan gaya hidup

sehat dan mengurangi masalah kesehatan masyarakat yang ada.

8. Peningkatan Lingkungan Sosial Budaya.

Selain berpengaruh positif, globalisasi juga menimbulkan perubahan lingkungan sosial

dan budaya masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap pembangunan kesehatan.

Untuk itu sangat diperlukan peningkatan ketahanan sosial dan budaya masyarakat melalui

peningkatan sosioekonomi masyarakat, sehingga dapat mengambil manfaat yang sebesar-

besarnya dan sekaligus meminimalkan dampak negatif dari globalisasi.

Strategi

1. Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan.

Faktor factor yang mempengaruhi :

Wawasan kesehatan sebagai azas pembangunan Nasional


Paradigma sehat sebagai komitmen gerakan Nasional
Sistem yang mendorong aspek promotif dan preventif dalam pemeliharaan kesehatan

komprehensif.
Dukungan sumber daya yang berkesinambungan
Sosialisasi internal dan eksternal
Restrukturisasi dan revitalisasi infrastruktur terutama yang terkait dengan rencana

desentralisasi.

2. Profesionalisme

Faktor penentu keberhasilan mencakup :

20 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
1. Pemantapan manajemen sumber daya manusia

2. Pemantapan aspek ilmu dan tekhnologi, iman dan takwa serta etika profesi.

3. Penajaman konsep profesionalisme kedokteran dan kesehatan.

4. Penciptaan aliansi strategis dengan pihak-pihak yang turut memainkan peranan penting

dalam mewujudkan visi Indonesia sehat 2015.

Pogram pembangunan kesehatan

1. Pokok program prilaku, pemberdayaan dan kemandirian Masyarakat


2. Pokok program Lingkungan sehat
3. Pokok program upaya kesehatan
4. Pokok program pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya
5. Pokok program pengembangan Sumber Daya Kesehatan
6. Pokok program Kebijakan dan manajemen Pembangunan Kesehatan
7. Pokok program Ilmu pengetahuan dan teknologi Kesehatan
Rencana pembangunan kesehatan masyarakat MDGs tahun 2015

Jaminan Pemeliharaan kesehatan Masyarakat ( JPKM )

Faktor Penentu keberhasilan Mencakup :

Komitmen dan pencanangan JPKM bersama gerakan Paradigma sehat.


Dukungan peraturan perundang undangan
Sosialisasi Internal dan eksternal
Intervensi pemerintah terutama dalam inisiasi penghimpunan dana awal.
Kebijakan yang memberi keleluasaan pengelolaan secara bertanggung jawab.

DESENTRALISASI

Faktor penentu keberhasilan mencakup :

Keseimbangan dan sinergis azas-azas desentralisasi, dekonsentralisasi dantugas

pembantuan.
Penegasan jenis dan peringkat kewenangan.
Kejelasan pedoman pengelolaan disertai dengan indicator / parameter kinerja kota sehat

dan kabupaten sehat.


Evidence Based analisis digunakan sebagai landasan penetapan program.
Pemberdayaan : Kemampuan/Kapasitas untuk menerapkan desntralisasi.
Sistem dan kebijakan SDM yang mendukung.
21 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Infrastruktur lintas sektoral yang menunjang
Mekanisme pengendalian yang andal

Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan / KIA

INDIKATOR INPUT : Dapat dilihat dari kebijaksanaan manajemen ( Man, Money, Material,

Method, dsb ).Struktur organisasi serta kondisi keadaan masyarakat pada saat ini :

Komitmen politik mengenai kesehatan bagi semua.

Alokasi sumber daya, pembiayaan Kesehatan 5 % dari total pembayaan nasional dan

pembiayaan pembangunan daerah.

Penyebaran Pendapatan
Angka melek huruf orang dewasa.
Ketersediaan sarana kesehatan, Penyebaran dan penggunaannya.
Tingkat pertumbuhan penduduk
Penduduk yang ikut JPKM
Kerangka Organisasi dan proses manajerial.

INDIKATOR PROSES : Adanya kemajuan dalam proses manajemen baik dalam perencanaan,

organisasi, staffing, koordinasi, pelaporan dan pembiayaan, misalnya :

Keterlibatan masyarakat dalam mencapai kesehatan bagi semua. Tingkat desentralisasi

pengambilan keputusan, pengembangan dan penetapan suatu proses manajerial bagi

pembangunan kesehatan nasional atau pembangunan daerah.Wanita hamil yang memeriksakan

kehamilan Penduduk yang tidak merokok dan tidak minum minuman keras.

INDIKATOR OUTPUT :

Misalnya :

Cakupan :

Cakupan pelayanan kesehatan dasar.

Cakupan pelayanan rujukan.

Status kesehatan ;
22 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Status gizi dan perkembangan Psikososial anak

Angka kematian bayi, angka kematian anak, umur harapan hidup waktu lahir dan angka

kematian ibu.

3. Konsep PHC (Primary Health Care)

Latar belakang phc

World Health Essembly tahun 1977 telah menghasilkan kesepakatan global untuk

mencapai Kesehatan Bagi Semua atau Health For All Pada Tahun 2000 ( KBS 2000 / HFA by

The Year 2000 ), yaitu Tercapainya suatu derajat kesehatan yang optimal yang memungkinkan

setiap orang hidup produktif baik secara social maupun ekonomi.

Selanjutnya pada tahun 1978, Konferensi di Alma Ata, menetapkan Primary Health Care

(PHC) sebagai Pendekatan atau Strategi Global untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS)

atau Health For All by The Year 2000 ( HFA 2000 ). Dalam konferensi tersebut Indonesia juga

ikut menandatangani dan telah mengambil kesepakatan global pula dengan menyatakan bahwa

untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua Tahun 2000 ( HFA200 ) kuncinya adalah PHC ( Primary

Health Care ) dan Bentuk Opersional dari PHC tersebut di Indonesia adalah PKMD

( Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa ).

Pengertian

Primary Health Care ( PHC ) adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada

metode dan teknologi praktis, ilmiah dan sosial yang dapat diterima secara umum baik oleh

individu maupun keluarga dalam masyarakat melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta

dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat

23 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri ( self reliance ) dan menentukan

nasib sendiri ( self determination ).

Unsur, prinsip dan program

a. Tiga ( 3 ) Unsur Utama yang terkandung dalam PHC adalah

1. Mencakup Upaya upaya Dasar Kesehatan

2. Melibatkan Peran Serta Masyarakat

3. Melibatkan Kerja Sama Lintas Sektoralur

b. Lima ( 5 ) Prinsip Dasar PHC adalah

1. Pemerataan Upaya Kesehatan

2. Penekanan Pada Upaya Preventif

3. Menggunakan Teknologi Tepat Guna

4. Melibatkan Peran Serta Masyarakat

c. Dalam pelaksanaan PHC harus memiliki 8 elemen essensial yaitu :

1. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan panyakit serta

pengendaliannya.

2. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi

3. Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi Dasar

4. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB

5. Imunisasi terhadap Penyakit penyakit Infeksi Utama

6. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Endemik Setempat

Perkembangan PHC di Indonesia

24 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Pada awal tahun 1970-an, organisasi kesehatan dunia (WHO) mendesak negara

anggotanya untuk melakukan penilaian terhadap sistem pelayanan kesehatan masing-masing

dengan mengacu kepada hasil studi WHO mengenai pelayanan kesehatan desa. Departemen

kesehatan Indoensia menanggapinya dengan menyusun rencana Program Pembangunan

Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) yang mulai dilaksanakan pada tahun 1975. Suatu

kelompok kerja dibentuk untuk merencanakan danmengembangkan program PKMD secara

resmi dinyatakan sebagai suatu strategi untuk meningkatkan kesehatan rakyat Indonesia.

PKMD adalah bentuk operasional dari Primary Health Care (PHC) di Indonesia. PKMD

mencakup serangkaian kegiatan swadaya masyarakat berazaskan gotong royong yang didukung

oleh pemerintah melalui koordinasi lintas sektoral dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan

kesehatan atau yang terkait dengan kesehatan, agar masyarakat dapat hidup sehat guna mencapai

kualitas hidup dan kesejahteraan yang lebih baik.

4. PKMD

Pengertian

PKMD adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaksanakan atas dasar gotong

royong dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri dalam memecahkan masalah untuk

memenuhi kebutuhannya dibidang kesehatan dan dibidang lain yang berkaitan agar mampu

mencapai kehidupan yang sehat sejahtera ( Nasrul Effendi, 1998:263).

Tujuan

a. Tujuan Umum.

25 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya swadaya masyarakat dalam

meningkatkan swadaya masyarakat dalam meningkatakn kesejahteraan dan mutu hidup

masyarakat.

b. Tujuan Khusus.

1). Menumbuhkan kegiatan masyarakat

2). Membentuk kader-kader kesehatan yang berasal dari masyarakat yang mampu dan aktif

dalam program pembangunan kegiatan desa.

3). Terjalinnya kerja sama kegiatan dari berbagai sektor masyarakat denganpemerintah secara

terpadu.

4). Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan turunnya angka kematian, kesakitan,

perbaikan status gizi masyarakat, dll.

Ruang lingkup

1. Rangkaian kegiatan masyarakat yang dilaskanakan atas dasar gotong royong dan swadaya

dalam rangka menolong diri sendir (masayarakat) untukmenegnal, meemcahkan

masalah/kebutuhan yang dirasakan olehmasyarakat baik dalam bidang kesehatan maupun bidang

lain agar mampu memelihara dan meningkatkan kehidupan (sehat sejahtera)

2. Upaya untuk menggerakkan masyarakat pedesaan/perkotaan dan meningkatkan

kemampuannya dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal dengan berorientasi pada

kebutuhan khusus masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah tanpa mengabaikan

masayarakat lain dan mendayagunakan potensi dan peran masyarakat, sektor kesehatan dan

sektor lain secara terpadu.

Langkah-langkah pemetaan PKMD

26 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
a. Persiapan masyarakat, yaitu upaya yang bertujuan agar masyarakat memahami PKMD,

dan mampu berperan aktifdalam setiap kegiatan PKMD.

1). Pengenalan terhadap masyarakat.

2). Pengenalam masalah melalui:

a) Pengumpulan data (SDM)

b) Penyajian yang dapat dimengerti masyarakat.

c) Menyelesaikan masalah yang ada dengan prioritas yang perlu ditanggulangi.

3). Pembentukan kader dan pengorganisasian kader.

4). Pelatihan kader kesehatan desa yang disebut promoter kesehatan desa

b. Perencanaan Kegiatan PKMD

1). Memilih prioritas masalah

2). Menetapkan jenis kegiatan

3). Menyusun rencana kerja yang meliputi:

a) Tujuan yang ingin dicapai.

b) Strategi yang ingin ditempuh pengorganisasian.

c) Pengorganisasian.

d) Pembiayaan.

e) Waktu pelaksanaan.

f) Tindakan.

c. Pelaksanaan kegiatan.

1). Kader dan mahasiswa melaksanakan masing-masing tugas sesuai yang telah disepakati.

2). Kader dan pengurus desa serta petugas kesehatan memantau kegiatan.

3). Dalam proses kegiatan selalu diadakan pertemuan-pertemuan (POKJA-POKJA)

27 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
4). Dimonitori adalah rencana kerja yang disepakati.

a) Ketepatan pelaksanaan

b) Ketepatan waktu.

c) Penerimaan dan penggunaan biaya.

d) Penyediaan dan penggunaan biaya.

e) Hasil-hasil yang ingin dicapai.

f) Jumlah dan kualitas partisipasi masyarakat.

d. Penilaian (Evaluasi) PKMD

1). Penilaian hasil kegiatan.

2). Penilaian hasil sementara

3). Penilaian hasil akhir.

e. Pembinaan PKMD

Pembinaan berarti upaya-upaya untuk memelihara dan meningkatkan kegiatan yang telah

dimulai dalam menjamin kelangsungan program.

f. Perluasan program PKMD.

Dilakukan secara bertahap.

5. Poned

Poned merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. Poned

dilakukan di Puskesmas induk dengan pengawasan dokter. Petugas kesehatan yang boleh

memberikan poned yaitu dokter, bidan, perawat dan tim poned puskesmas beserta penanggung

jawab terlatih.

28 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Pelayanan Obstetri Neonatal Esensial Dasar dapat dilayani oleh puskesmas yang

mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penangan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal

dasar. Puskesmas poned merupakan puskesmas yang siap 24 jam, sebagai rujukan antara kasus-

kasus rujukan dari polindes dan puskesmas. Polindes dan puskesmas non perawatan disipakan

untuk mealkukuan pertolongan pertama gawat darurat obstetri dan neonatal (PPGDON) dan

tidak disiapkan untuk melakukan poned.

6. Ponek

Ponek adalah Pelayan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif di Rumah Sakit,

meliputi kemampuan untuk melakukan tindakan :

a) seksia sesaria,

b) Histerektomi,

c) Reparasi Ruptura Uteri, cedera kandung/saluran kemih,

d) Perawatan Intensif ibu dan Neonatal,

e) Tranfusi darah.

7. Pendekatan Epidemiologi

Dasar

Epidemilogi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (Epi=pada, Demos=penduduk, logos = ilmu),

dengan demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan

masyarakat.

Definisi

29 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Banyak definisi tentang Epidemiologi, beberapa diantaranya :

a. W.H. Welch

Suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan penyakit, terutama

penyakit infeksi menular. Dalam perkembangannya, masalah yang dihadapi penduduk tidak

hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif,

kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena batasan epidemiologi

menjadi lebih berkembang.

b. Mausner dan Kramer

Studi tentang distribusi dan determinan dari penyakit dan kecelakaan pada populasi manusia.

c. Last

Studi tentang distribusi dan determinan tentang keadaan atau kejadian yang berkaitan dengan

kesehatan pada populasi tertentu dan aplikasi studi untuk menanggulangi masalah kesehatan.

d. Mac Mahon dan Pugh

Epidemiologi adalah sebagai cabang ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit dan faktor-

faktor yang menentukan terjadinya penyakit pada manusia.

e. Omran

Epidemiologi adalah suatu studi mengenai terjadinya distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan

perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya dan akibat-akibat yang terjadi pada

kelompok penduduk.

f. W.H. Frost

Epidemiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, distribusi, dan jenis penyakit pada

manusia menurut waktu dan tempat.

g. Azrul Azwar

30 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah

kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan.

Ruang lingkup

a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi

Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja,

tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya

masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan,

pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek epidemiologi

berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.

b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia

Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data

dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit,

keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya

dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.

c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan

penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.

Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan

penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan penyebaran

masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat. Dengan

memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat dirumuskan

penyebab timbulnya.

Macam epidemiologi
Kegunaan

31 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah

kesehatan dalam masyarakat.

b. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan mengambil keputusan.

c. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.

d. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk

mengatasi atau menanggulanginya.

e. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu

dipecahkan.

Prinsip-prinsip

Epidemiologi merupakan "the mother science of public health", induk dari ilmu

kesehatan masyarakat. Epidemiologi diambil dari kata epi=antara, demos=penduduk dan

logos=ilmu. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit yang ada di

masyarakat. Cakupan epidemiologi yaitu distribusi penyakit, frekwensi penyakit dan determinan

penyakit. Yang dipelajari dalam mata kuliah epidemiologi adalah penyebaran penyakit, jumlah

kasus penyakit yang terjadi dan penyebab timbulnya penyakit.

Mata kuliah ini membahas tentang prinsip dan konsep epidemiologi di dalam pelayanan

kesehatan, konsep tentang sakit dan sehat dan juga membahas penerapan hasil riset epidemiologi

untuk tujuan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan.

Kompetensi dasar:

1. Menjelaskan prinsip epidemiologi

2. Mengidentifikasi masalah kesehatan dengan pendekatan disain dan analisis epidemiologi

3. Menjelaskan konsep dan prinsip epidemiologi dalam masalah kesehatan

4. Menggunakan statistika untuk riset kesehatan

32 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Frekuensi

a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemiologi

Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit-penyakit saja, tetapi

juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya

masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan,

pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek epidemiologi

berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.

b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia

Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari

hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit,

keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya

dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.

c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan dalam merumuskan

penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.


Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan

penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan

penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat.

Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat

dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.


Prosedur kerja

1) Frekuensi masalah kesehatan

2) Penyebaran masalah kesehatan

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehata

Ukuran-ukuran

33 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
1. Peningkatan kesehatan (health promotion)

a. Penyediaan makanan sehat dan cukup (kualitas maupun kuantitas)

b. Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih, pembuangan

sampah, pembuangan tinja dan limbah.

c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Misal untuk kalangan menengah ke atas di negara

berkembang terhadap resiko jantung koroner.

d. Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu.

e. Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan sosial.

f. Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.

2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu

(general and specific protection)

a. Memberikan immunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah penyakit

b. Isolasi terhadap penderita penyakit menular, misal yang terkena flu burung.

c. Pencegahan terjadinya kecelakaan baik di tempat umum maupun tempat kerja.

d. Perlindungan terhadap bahan-bahan yang bersifat karsinogenik, bahan-bahan racun maupun

alergi.

e. Pengendalian sumber-sumber pencemaran.

3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat

(early diagnosis and prompt treatment)

a. Mencari kasus sedini mungkin.

b. Mencari penderita dalam masyarakat dengan jalan pemeriksaan . Misalnya pemeriksaan darah,

34 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
rontgent paru.

c. Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita penyakit menular (contact

person) untuk diawasi agar bila penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.

d. Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.

e. Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus.

4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)

a. Pengobatan dan perawatan yang sempurna agar penderita sembuh dan tak terjadi komplikasi.

b. Pencegahan terhadap komplikasi dan kecacatan.

c. Perbaikan fasilitas kesehatan sebagai penunjang untuk dimungkinkan pengobatan dan

perawatan yang lebih intensif.

5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)

a. Mengembangkan lembaga-lembaga rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat.

b. Menyadarkan masyarakat untuk menerima mereka kembali dengan memberikan dukungan

moral setidaknya bagi yang bersangkutan untuk bertahan.

c. Mengusahakan perkampungan rehabilitasi sosial sehingga setiap penderita yang telah cacat

mampu mempertahankan diri.

d. Penyuluhan dan usaha-usaha kelanjutan yang harus tetap dilakukan seseorang setelah ia

sembuh dari suatu penyakit.

Istilah

1. Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong lintang/studi prevalensi atau

survei.

2. Epidemiologi analitik : terdiri dari :

a. Non eksperimental :

35 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort diartiakan sebagai

sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat (penyakitnya).

2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari faktor penyebab

penyakit.

3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk penyelidikan secara

empiris faktor resiko atau karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di masyarakat.

Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi di kota-kota besar.

2.8 Pusat Kesehatan Masyarakat

Definisi

Menurut Depkes 1991,Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat

pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping

memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah

kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

Fungsi

1) Pusat pengerak pembangunan berwawasan kesehatan Pusat pemberdayaan

2) masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan

3) Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama

Sejarah Perkembangan

36 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Sebagai lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat diwilayah terkecil dalam hal

pengorganisasian masyarakat serta peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan kesehatan

secara mandiri.

Wilayah kerja

1) KIA

2) KB

3) Usaha Kesehatan Gizi

4) Kesehatan Lingkungan

5) Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular

6) Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan

7) Penyuluhan kesehatan masyarakat

8) Kesehatan sekolah

9) Kesehatan olah raga

10) Perawatan Kesehatan

11) Masyarakat

12) Kesehatan kerja

13) Kesehatan Gigi dan Mulut

14) Kesehatan jiwa

15) Kesehatan mata

16) Laboratorium sederhana

17) Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK

18) Pembinaan pemgobatan tradisional

37 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
19) Kesehatan remaja

20) Dana sehat

Struktur organisasi dan tata kerja

I. Struktur organisasi

1) Kepala puskesmas

2) Unit tata usaha yang bertanggungjawab membantu kepala puskesmas dalam pengolaan:

a) Data dan informasi

b) Perencanaan dan penilaian

c) Keuangan

d) Umum dan kepegawaian

3) Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:

a) Upaya kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan terhadap UKBM

b) Upaya kesehatan perorangan

4) Jaringan pelayanan puskesmas:

a) Unit Puskesmas Pembantu

b) Unit Puskesmas Keliling

c) Unit Bidan di Desa/Komunitas

II. Tata Kerja

a. Dengan kantor kecamatan

Dalam melaksanakan fungsinya, puskesmas berkoordinasi dengan kantor kecamatan

melalui pertemuan berkala yang deselenggarakan di tingkat kecamatan. Koordinasi tersebut

mencekup perencanaan, penggerakan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta

38 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
penilaian. Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumberdaya masyarakat oleh puskesmas,

koordinasi dengan kantor kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitas.

b. Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dengan

demikian secara teknis dan administratif, puskesmas bertanggungjawab kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota. Sebaliknya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bertanggung jawab membina

serta memberikan bantuan administratif dan teknis kepada puskesmas.

c. Dengan jaringan pelayanan kesehatan strata pertama

Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat

dan swasta, puskesmas menjalin kerjasama termasuk penyelanggaraan rujukan dan memantau

kegiatan yang diselenggarakan. Sedangkan sebagai pembina upaya kesehatan bersumberdaya

masyarakat, puskesmas melaksanakan bimbingan teknis, pemberdayaan dan rujukan sesuai

kebutuhan.

d. Dengan jaringan pelayanan kesehatan rujukan

Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat,

puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehatan rujukan. Untuk

upaya kesehatan perorangan, jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan berbagai sarana

pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah sakit (kabupaten/kota), dan berbagai balai

kesehatan masyarakat seperti BP4 (balai pengobatan penyakit paru paru), BKMM (balai

pengobatan mata masyarakat), BKKM (balai kesehtan kerja masyarakat), BKOM (balai

kesehatan olahraga masyarakat), BKJM (balai kesehatan jiwa masyarakat), BKIM (balai

kesehatan indra masyarakat). Sedangkan untuk upaya kesehatan masyarakat, jalinan kerjasama

39 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat rujukan, seperti Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota, BTKL (balai teknik kesehatan lingkungan), BLK (balai

laboratorium kesehatan) serta berbagai balai kesehatan masyarakat. Kerjasama tersebut

diselenggarak`n melalui penerapan konsep rujukan yang menyeluruh dalam koordinasi Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota.

e. Dengan lintas sektor

Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan

sebagai tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Untuk hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat

dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan. Diharapkan

di satu pihak, penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kecamatan tersebut mendapat

dukungan dari berbagai sektor terkait, sedangkan di pihak lain pembangunan yang

diselenggarakan oleh sektor lain di pihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sektor

lain di tingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan.

f. Dengan masyarakat

Sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya,

puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan.

Dukungan aktif tersebut diwujudkan melalui pembentukan konsil kesehatan kecamatan, yang

menghimpun berbagai potensi masyarakat, seperti: tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM,

organisasi masyarakat, serta dunia usaha. Konsil kesehatan tersebut berperan sebagai mitra

puskesmas dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan.

Sistem rujukan

1) Rujukan upaya kesehatan perorangan

40 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu

puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut

wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik horizontal maupun

vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana,

bias dirujuk kembali ke puskesmas.

Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:

a) Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindak medik (misal operasi) dan

lain-lain.

b) Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.

c) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten untuk

melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan atau menyelenggarakan pelayanan medik spesialis

di puskesmas.

2) Rujukan upaya kesehatan masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat,

misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan dan bencana.

Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya

kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas

tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak mampu

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib merujuknya ke dinas

kesehatan kabupaten/kota.

41 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam:

a) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman alat

laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-bahan habis

pakai, dan bahan makanan.

b) Rujukan tenaga, anatara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar biasa,

bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan kesehatan karena

bencana alam.

c) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan tanggungjawab

penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau penyelenggaraan upaya kesehatan

masyarakat (anatara lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha kesehatan kerja,

usaha kesehatan jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.

Rujukan operasiaonal diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

Stratifikasi puskesmas
Perencanaan mikro

a. Upaya promosi kesehatan

b. Upaya kesehatan lingkungan

c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana

d. Upaya perbaikan gizi masyarakat

e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

f. Upaya pengobatan

Lokakarya mini puskesmas


Supervisi

Kepala puskesmas `dalah penanggungjawab pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan.

Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan besarnya peran kepala puskesmas dalam

42 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
penyelenggaraan pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan maka jabatan kepala puskesmas

setingkat dengan eselon III-B.

Sistem pencatatan dan pelayanan


Terpadu puskesmas

1) Upaya kesehatan sekolah,

2) Upaya kesehatan olahraga,

3) Upaya perawatan kesehatan masyarakat,

4) Upaya kesehatan kerja,

5) Upaya kesehatan gigi dan mulut,

6) Upaya kesehatan jiwa,

7) Upaya kesehatan mata,

8) Upaya kesehatan usia lanjut,

9) Upaya pembinaan pengobatan tradisional.

9. Posyandu

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga

berencana.(Effendi, Nasrul. 1998: 267).

Tujuan posyandu antara lain:

a. Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (ibu hamil), melahirkan

dan nifas.
b. Membudayakan NKBS
c. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB

serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
d. Berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan

keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

Kegiatan Pokok Posyandu

43 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
a. KIA

b. KB

c. Imunisasi

d. Gizi

e. Penanggulangan diare

Pelaksanaan Layanan Posyandu

Pada hari buka posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan sistem 5 meja yaitu:

Meja I : Pendaftaran

Meja II : Penimbangan

Meja III : Pengisian KMS

Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS

Meja V : Pelayanan kesehatan berupa:

Imunisasi

Pemberian vitamin A dosis tinggi.

Pembagian pil KB atau kondom.

Pengobatan ringan.

Konsultasi KB.

Petugas pada meja I dan IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan meja V merupakan meja

pelayanan medis.

Keberhasilan Posyandu

Keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN.

S : Semua balita di wilayah kerja posyandu.

K : Semua balita yang memiliki KMS.

44 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
D : Balita yang ditimbang.

N : Balita yang Berat Badannya naik

Keberhasilan Posyandu berdasarkan:

1. D Baik/ kurangnya peran serta masyarakat.

2. N Berhasil tidaknya program posyandu.

Kegiatan Posyandu

1. Jenis Pelayanan Minimal Kepada Anak

Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus terhadap

anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya tidak cukup baik

sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS.

Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A.

Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/ bulan)

dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS.

Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu.

Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.

Pelayanan Tambahan yang Diberikan

1. Pelayanan bumil dan menyusui.

2. Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan program Bina

Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.

3. Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan sebagainya.

4. Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.

5. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.

6. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).

45 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
7. Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.

8. Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan lingkungan

pemukiman.

9. pemanfaatan pekarangan.

10. Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.

11. Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain.

Manfaat Posyandu

Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak, KB, imunisasi, gizi, penanggulangan

diare.

1. Kesehatan ibu dan anak

Ibu: Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, Pemeriksaan kehamilandan nifas, Pelayanan

peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, Imunisasi TT untuk ibu

hamil.

Pemberian Vitamin A: Pemberian vitanin A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus

(Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007). Akibat dari kurangnya vitamin A

adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas Kesehatan RI. 2006:

95)

Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di posyandu (Dinas Kesehatan

RI. 2006: 95). Penimbangan secara rutin di posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan

mendeteksi sedini mungkin penyimpangan pertumbuhan balita. Dari penimbangan yang

kemudian dicatat di KMS, dari data tersebut dapat diketahui status pertumbuhan balita (Dinas

46 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Kesehatan RI. 2006: 54), apabila penyelenggaraan posyandu baik maka upaya untuk pemenuhan

dasar pertumbuhan anak akan baik pula.

KMS adalah kartu untuk mencatat dan memantau pekembangan balita dengan melihat garis

pertumbuhan berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS dapat diketahui status

pertumbuhan anaknya.

Kriteria Berat Badan balita di KMS:

Berat badan naik :

Berat badan bertambah mengikuti salah satu pita warna, berat badan bertamabah ke pita warna

diatasnya.

Berat badan tidak naik :

Berat badanya berkurang atau turun, berat badan tetap, berat badan bertambah atau naik tapi

pindah ke pita warna di bawahnya.

Berat badan dibawah garis merah

Merupakan awal tanda balita gizi buruk Pemberian makanan tambahan atau PMT, PMT

diberikan kepada semua balita yang menimbang ke posyandu. (Departemen Kesehatan RI. 2006:

104)

2 Keluarga Berencana

Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom, pil KB, dan suntik KB.

3 Imunisasi

Di posyandu balita akan mendapatkan layanan imunisasi.

47 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Macam imunisasi yang diberikan di posyandu adalah

BCG untuk mencegah penyakit TBC.

DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.

Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.

Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning).

4 Peningkatan Gizi

Dengan adanya posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk

meningkatkan gizi balita (Notoadmodjo, Soekidjo. 2003: 205). Peningkatan gizi balita di

posyandu yang dilakukan oleh kader berupa memberikan penyuluhan tentang ASI, status gizi

balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita.

5 Penanggulangan diare

Penyediaan oralit di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 127). Melakukan rujukan pada

penderita diare yang menunjukan tanda bahaya di Puskesmas. (Departemen Kesehatan RI. 2006:

129). Memberikan penyuluhan penggulangan diare oleh kader posyandu. (Departemen

Kesehatan RI. 2006: 132)

FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kedatangan Ibu di Posyandu:

Pengetahuan ibu tentang manfaat posyandu.

Motivasi ibu untuk membawa anaknya ke posyandu

Pekerjaan iu

Dukungan dan motivasi dari kader posyandu dan tokoh masyarakat

48 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Sarana dan prasarana di posyandu

Jarak dari posyandu tersebut

10.Polindes

Definisi

Pondok bersalin Desa (POLINDES) adalah salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam

menyediakan tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak

termasuk KB didesa (Depkes RI, 1999) polindes dirintis dan dikelola oleh pamong desa

setempat.

Tujuan Polindes

1. terwujudnya masyarakat sehat yang diaga terhadap permasalahan kesehatan diwilayah

desanya

2. terselenggaranya promosi kesehatan dalam rangka menuingkatkan pengetahuan masyarakat

tentang kesehatan

3. terselenggarakannya pengamatan, pencatatan dan pelaporan dalam rangka meningkatkan

keawspadaan dan kesigapan masyarakat terhadap resiko dan bahaya yang dapat

menimbulkan gangguan kesehatan, terutama penyakit menular yang berpotensi

menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) serta faktor-faktor resikonya

4. tersedianya upaya pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kemampuan

masyarakat untuk menolong dirinya dibidang kesehatan

5. terselenggaranya pelayanan kesehatan dasr yang dilaksanakan oleh masyarakat dan tenaga

professional kesehatan

6. terkoordinasinya penyelenggaraan UKBM lainnya yang ada didesa

49 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Persyaratan Polindes

Secara umum persyaratan untuk mendirikan polindes adalah tersedianya tempat yang bersih,

namun serasi dengan lingkungan perumahan di desa serta tersedianya tenaga bidan didesa.

Secara lebih rinci, persyaratan yang perlu diusahakan adalah:

1. Tersedianya bidan di desa yang bekerja penuh untuk mengelola polindes.

2. Tersedianya sarana untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi bidan, antara lain:

a. Bidan kit

b. IUD kit

c. Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil

d. Timbangan berat badan ibu dan pengukur tinggi badan

e. Infus set dan cairan dextrose 5%, nacl 0,9%

f. Obat-obatan sederhana dan uterotonika

g. Buku-buku pedoman kia, kb, dan pedoman kesehatan lainnya

h. Inkubator sederhana

3. Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain:

a. Penyediaan air bersih

b. Ventilasi cukup

c. Penerangan cukup

d. Tersedia sarana pembuangan air limbah

e. Lingkungan pekarangan bersih

f. Ukuran minimal 3x4 meter persegi

4. Lokasi dapat dicapai dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan mudahdijangkau oleh

kendaraan roda empat.

50 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
5. Ada tempat untuk melakukan pertolongan persalinan dan perawatan post partum(minimal

satu tempat tidur)

Kegiatan Utama Polindes

1. Pengamatan dan kewaspadaan dini (survey penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku

beresiko, sueveylans lingkungan dan masalah kesehatan lainnya), penanganan

kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan

kesehatan dasar

2. Promosi kesehatan, penyehatan lingkungan dan lain-lain

Kegiatan dilakukan berdasarkan pendekatan edukatif atau kemasyarakatan yang dilakukan

melalui musyawarah mufakat yang disesuaikan kondisi dan potensi masyarakat setempat

Fungsi Pondok bersalin desa

1. Sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak (termasuk KB)

2. Sebagai tempat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan

3. Sebagai tempat untuk konsultasi, penyuluhan dan pendidikan kesehatan masyarakat dan

dukun bayi maupun kader

Manfaat Polindes

1. Bagi masyarakat

a. Permasalahan didesa dapat terdekteksi dini, sehingga bisa ditangani cepat dan

diselekaikan, sesauai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada

b. Memperoleh pelayanan kesehatan dasar yang dekat

2. Bagi kader

a. Mendapat informasi awal di bidang kesehatan

b. Mendapat kebanggaan, dirinya lebih berkarya bagi masyarakat

51 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
3. Bagi puskesmas

a. Memperluas jangkauan pelayanan puskesmas dengan mengoptimalkan sumber data

secara efisien dan efektif

b. Mengoptimalkan fungsi puskesmas sebagai penggerak pembangunan berwawasan

kesehatan, pusat pemberdayaan ,asyarakat dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama

4. Bagi sektor lain

a. dapat memadukan kegiatan sektornya dengan bidang kesehatan

b. kegiatan pemberdayaan mesyarakat dapat dilakukan lebih efektif dan efisien

Stratifikasi Polindes

Dalam menganalisa pertumbuhan Polindes harus mengacu kepada indikator tingkat

perkembangan Polindes yang mencakup beberapa hal :

1. Fisik

Tempat yang disediakan oleh masyarakat untuk polindes perlu memenuhi persyaratan antara

lain :

Bangunan polindes tampak bersih, salah satunya ditandai tidak adanya sampah berserakan

Lingkungan yang sehat, bila polindes jauh dari kandang ternak

Mempunyai jumlah ruangan yang cukup untuk : pemeriksaan kehamilan dan pelayanan KIA,

mempunyai ruang untuk pertolongan persalinan.

Tempat pelayanan bersih dengan aliran udara/ventilasi yang baik terjamin.

Mempunyai perabotan dan alat-alat yang memadai untuk pelaksanaan pelayanan.

Mempunyai sarana air bersih dan jamban yang memenuhi persyaratan kesehatan.

52 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Idealnya suatu polindes mempunyai bangunan sendiri dan memenuhi persyaratan di atas, namun

dalam kenyataannya mungkin saja polindes masih menumpang di salah satu rumah warga atau

bersatu dengan kediaman bidan di desa.

2. Tempat tinggal bidan desa

Keberadaan bidan di desa secara terus menerus (menetap) menentukan efektifivitas

pelayanannya, termasuk efektivitas polindes. Selain itu, jarak tempat tinggal bidan yang

menetap di desa dengan polindes. Bidan yang tidak tinggal di desa dianggap tidak mungkin

melaksanakan pelayanan pertolonganpersalinan di polindes. Untuk mempercepat tumbuh

kembang Polindes bidanharus selalu berada/tinggal di desa dan lebih banyak melayani

masalah kesehatan masyarakat desa setempat.

3. Pengelolaan polindes

Pengelolaan Polindes yang baik akan menentukan kualitas pelayanan, sekaligus

pemanfaatan pelayanan oleh masyarakat. Kriteria pengelolaan polindes yang baik antara

keterlibatan masyarakat melalui wadah LPM dalam menentukan tarif pelayanan. Tarif yang

ditetapkan secara bersama, diharapkan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk

memanfaatkan polindes, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan sekaligus dapat

memuaskan semua pihak.

4.Cakupan persalinan

Tinggi rendahnya cakupan persalinan dipengaruhi banyak faktor, diantaranya ketersediaan

sumberdaya kesehatan termasuk didalamnya keberadaan polindes beserta tenaga

profesionalnya, yaitu bidan desa.

Tersedianya polindes dan bidan di suatu desa memberikan kemudahan untuk mendapatkan

pelayanan KIA, khususnya dalam pertolongan persalinan, baik ditinjau dari segi jarak

53 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
maupun dari segi pembiayaan. Meningkatnya cakupanpersalinan yang ditolong di polindes,

selain berpengaruh terhadap kualitas pelayanan ibu hamil, sekaligus mencerminkan

kemampuan bidan itu sendiri baik di dalam kemampuan teknis medis maupun di dalam

menjalin hubungan dengan masyarakat. Cakupan persalinan dihitung secara kumulatif

selama setahun.

5. Sarana air bersih


Tersedianya air bersih merupakan salah satu persyaratan untuk hidup sehat. Demikian

juga halnya di dalam operasional pelayanan polindes. Polindes dianggap baik apabila

telah tersedia air bersih yang dilengkapi dengan : MCK, tersedia sumber air (sumur,

pompa, PAM, dll), dan dilengkapi pula dengan saluran pembuangan air limbah.
6. Kemitraan bidan dan dukun bayi
Kader masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun

bayi. Karena itu, polindes dimanfaatkan pula sebagai sarana meningkatkan

kemitraan bidan dan dukun bayi dalam pertolongan persalinan. Kemitraan bidan dan

dukun bayi merupakan hal yang dianjurkan dalam pelayanan pertolongan persalinan di

Polindes. Penghitungan cakupan kemitraanbidan dan dukun dihitung secara kumulatif

selama setahun.
7. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran
KIE merupakan salah satu teknologi peningkatan peran sertaa masyarakat yang

bertujuan untuk mendorong masyarakat agar mau dan mampu memelihara dan

melaksanakan hidup sehat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, melalui jalinan

komunikasi, informasi dan edukasi yang bersifat praktis.


Dengan keberadaan polindes beserta bidan ditengah-tengah masyarakat

diharapkan akan terjalin interaksi antara antara bidan dengan masyarakat. Semakin

sering bidan di desa menjalankan KIE, akan semakin mendorong masyarakat untuk

meningkatkan kualitas hidup sehatnya, termasuk di dalamnya meningkatkan kemampuan

54 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
dukun bayi sebagai mitra kerja di dalam memberikan penyuluhan kesehatan ibu hamil.

Seharusnya suatu polindes di dalam pelaksanaan kegiatannya telah melakukan KIE untuk

kelompok sasaran minimal sekali dalam setiap bulannya. Kegiatan KIE ini dihitung

secara kumulatif selama setahun.

8. Dana Sehat/JPKM
Dana sehat sebagai wahana memandirikan masyarakat untuk hidup sehat, pada gilirannya

diharapkan akan mampu melestarikan berbagai jenis upaya kesehatan bersumberdaya

masyarakat setempat.
Suatu polindes dianggap baik bila masyarakat di desa binaannya telah terliput dana sehat,

sehingga diharapkan kelestarian polindes dapat terjamin, kepastian untuk mendapatkan

pelayanan yang berkualitas tak perlu dikhawatirkan lagi. Cakupan dana sehat dianggap

baik bila telah mencapai 50 %.

Pengorganisasian

Prinsip pengorganisasian poskesdes adalah dikelola masyarakat dalam hal ini bimbingan tenaga

ksehatan.

1. Tenaga Poskesdes

a. Tenaga dan masyarakat

1) Kader

2) Tenaga sukarela lainnya

Tenaga masyarakat minimal 2 orang yang telah mendapatkan pelatihan khusus

b. Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan di poskesdes minimal seorang bidan

1. Kepengurusan

55 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
Kepengurusan poskesdes dipilih melaui musyawarah mufakat musyarakat desa, srta

ditetap[kan oleh kepala desa. Struktur pengurus minimal terdiri dari Pembina, ketua, sekretaris,

bendahara dan anggota. Susunan pengurus bersifat fleksibel, sehingga dapat dikembangkan

sesuai dengan kondisi, kebutuhan, kondisi dan permasalahan setempat

2. Kedudukan dan Hubungan kerja

Kedudukan hubungan kerja antara poskesdes dengan unit-unit peran serta masyarakat

digambarkan pada bagan :

56 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)
DAFTAR PUSTAKA

Soekidjo Notoatmojo, Prof, Dr. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni. Rineka

Cipta:Jakarta.

Soekidjo Notoatmodjo.2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.Prinsip-Prinsip Dasar. Cetakan

Kedua, Rineka Cipta:Jakarta.

medicine.uii.ac.id/.../IlmuKesehatanMasyarakat.html.

http://veteriner-island.blogspot.com/2009/12/sejarah-kesehatan-masyarakat.html. Posting : 1

Des 2009.

http://swarajalanan.blogspot.com/2011/10/sejarah-perkembangan-kesehatan.html

http://syamsiyah-syamsiyah.blogspot.com/p/dasar-visi-dan-misi-pembangunan.html.

http://sehat-aja-yuk.blogspot.com/2011/05/arah-tujuan-dan-kebijakan-pembangunan.html.

Posting : 25 Mei 2011.

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/868-strategi-utama-pembangunan-

kesehatan.html.

http://aaknasional.wordpress.com/2012/03/12/masalah-kesehatan-masyarakat-di-indonesia.

Posting : 12 Maret 2012.

57 MODUL ILMU
KESEHATAN MASYARAKAT (IKM)