Anda di halaman 1dari 13

Pem

Konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar, yang
merupakan indikator derajat manifestasi kekuatan dan corak gaya fisik (kohesi dan adhesi) yang
bekerja pada tanah selaras dengan tingkat kejenuhan airnya. Penurunan kadar air akan
menyebabkan tanah kehilangan sifat kelekatan (stickness) dan keliatan (plasticity), menjadi
gembur (friable) dan lunak (soft) serta menjadi keras dan kaku (coherent) pada saat kering.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah meliputi tekstur tanah, sifat dan jumlah
koloid organik maupun anorganik, struktur tanah (porositas) berat isi dan kadar air tanah.
Apabila tekstur tanah didominasi pasir maka konsistensi tanah rendah (tidak plastis, tidak lekat,
dan lunak) dan bila dominan lempung maka konsitensi tanah tinggi(plastis, lekat, dan keras).
Kadar bahan organik yang tinggi mengakibatkan tanah gembur dan plastis. Sifat atau jenis koloid
tanah apabila dominan koloid silikat maka tanah plastis dan bila dominan sesquioksida maka
tanah tidak plastis. Porositas rendah maka tanah berkonsistensi tinggi, dan kadar air yang tinggi
maka tanah akan plastis dan lekat dan sebaliknya.
Penentuan konsistensi secara kualitatif dilakukan pada kondisi kering dan kondisi basah.
Dalam keadaan kering, tanah tidak mengandung air, sehingga kekerasan tanah dapat diukur. Dari
hasil praktikum diperoleh konsistensi kering tanah Entisol agak keras, Alfisol keras,Ultisol
sangat keras, Rendzina sangat keras, dan Vertisol sangat keras. Tanah Entisol berkonsistensi agak
keras, karena ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan jari telunjuk tanahnya hancur. Tanah Alfisol
berkonsistensi keras, karena tanahnya hancur ketika ditekan kuat antara ibu jari dengan pangkal
telapak tangan, Tanah Ultisol berkonsistensi sangat keras, karena tanahnya tidak hancur ketika
ditekan kuat dengan ibu jari dan pangkal telapak tangan, Tanah Rendzina berkonsistensi
berkonsistensi sangat keras, karena tanahnya tidak hancur ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan
pangkal telapak tangan,Tanah Vertisol berkonsistensi berkonsistensi sangat keras, karena ketika
ditekan antara pangkal telapak tangan kiri dengan ibu jari kanan, meskipun ditekan kuat tetapi
bongkah tanah-tanah tersebut tidak hancur. Jenis tanah yang konsistensi keringnya sangat keras
adalah ultisol,vertisol dan rendzina. Ketiga jenis tanah tersebut memiliki konsistensi sangat keras
karena dipengaruhi oleh terkstur tanahnya yaitu didominasi oleh lempung, struktur tanahnya
yang mampat (gumpal kuat), kondisi kelengasan yang tanahnya yang kering, serta kandungan air
tanahnya yang bisa dikatakan tidak ada. Sedangkan konsistensi kering keras adalah jenis tanah
alfisol dan agak keras adalah entisol. Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kekerasan
tertinggi hingga terendah adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol.
Pada keadaan basah, indikator konsistensi tanah dilihat pada tingkat kelekatan dan
plastisitas tanah. Dari hasil praktikum diperoleh hasil kelekatan tanah Entisol agak lekat, tanah
Alfisol lekat, tanah Ultisol sangat lekat, tanah Rendzina lekat, dan tanah Vertisol sangat lekat.
Plastisitas tanah Entisol agak plastis, tanah Alfisol plastis, tanah Ultisol plastis, tanah Rendzina
plastis, dan tanah Vertisol sangat plastis. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah sangat
lekat adalah ultisol, rendzina, dan vertisol. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah lekat
adalah alfisol. Sedangkan tanah yang yang berkonsistensi basah agak lekat adalah entisol.
Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kelekatan tertinggi hingga terendah adalah vertisol,
rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol.
Plastisitas adalah kemampuan bahan tanah secara mudah dapat diubah bentuknya karena
pengaruh dan tetap pada bentuk semula meskipun tekanan dilepaskan. Dari hasil praktikum
diperoleh hasil bahwa jenis tanah yang berkonsistensi basah sangat plastis adalah vertisol. Jenis
tanah yang memiliki konsistensi basah plastis adalah alfisol, ultisol dan rendzina. Sedang jenis
tanah yang berkonsistensi basah agak plastis adalah entisol sehingga urutan tanah mulai dari
tingkat keplastisan paling tinggi hingga paling rendah adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol,
dan entisol.
Pada entisol, ketika pasta tanah dipijit, pasta yang menempel sedikit. Pada Alfisol, ketika
pasta tanah dipijit, pasta yang menempel di salah satu jari banyak, jari lain sedikit. Pada Ultisol,
Rendzina, dan Vertisol, ketika pasta tanah dipijit, pasta yang menempel banyak di kedua jari.
Untuk plastisitas, tanah vertisol sangat plastis karena ketika dibentuk tidak retak. Tanah rendzina,
ultisol, dan alfisol plastis karena dapat dibentuk tetapi retak, dan tanah entisol agak plastis karena
tidak dapat dibentuk tetapi dapat dibuat pipa. Hal tersebut terjadi karena tanah yang kandungan
lempungnya tinggi mempunyai gaya adhesi terhadap benda lain (misal air) yang tinggi, sangat
mudah untuk dibentuk, ikatan massa tanah dalam kondisi kering yang sangat keras, sehingga
pengolahan tanah dalam keadaan basah ataupun kering adalah sulit. Sedangkan tanah yang
kandungan pasirnya tinggi sulit diubah bentuknya (lepas-lepas), ikatan massa tanahnya sangat
lemah sehingga dapat dihancurkan dengan mudah, maka pengolahannya pun mudah, namun
boros air atau cepat kering
Menurut Tan (1986), Tanah Entisol memiliki konsistensi lepas-lepas, namun pada
percobaan didapat hasil agak keras. Menurut Soepraptohardjo (1997), Tanah alfisol memiliki
konsistensi teguh atau dapat dikatakan keras, lekat dan plastis, hasil percobaan menunjukkan
kesamaan. Menurut Sarief (1985), Ultisol memiliki konsistensi gembur (lunak), sedangkan pada
percobaan didapat hasil sangat keras. Menurut Darmawidjaya (1992), Ciri - ciri tanah Vertisol
adalah- (1) tekstur lempungan,(ii) tanpa horison elluvial dan struktur lapisan atas granuler
dengan lapisan bagian bawah gumpal atau pejal. (iv) mengandung kapur, (v) Koefisien pemuaian
dan pengkerutan tinggi dengan berubahnya kadar air (vi) konsistensi luar biasa liat (extremely
plastic). Dengan melihat ciri-ciri tersebut maka sesuai dengan hasil percobaan. Tanah rendzina
memiliki kemiripan dengan vertisol pada hasil percobaan sehingga dapat dikatakan memiliki
konsistensi yang sama dengan vertisol karena keduanya memiliki kadar lempung yang cukup
tinggi. Adanya perbedaan pada hasil percobaan dapat diakibatkan karena standar keras-lunak
yang berbeda pada setiap praktikan (penetapan konsistensi tanah secara kualitatif ini bersifat
subjektif sehingga memungkinkan adanya kesalahan penilaian).
Konsistensi tanah merupakan ketahanan tanah terhadap perubahan bentuk atau
perpecahan. Keadaan ini ditentukan oleh sifat adhesi dan kohesi. Meskipun struktur menentukan
bentuk, ukuran dan agregasi alami tanah tertentu, konsistensi tetap menentukan kekuatan dan
keadaan alami gaya-gaya di antara partikel. Konsistensi itu penting untuk dipertimbangkan
dalam pengolahan tanah. Tanah liat dapat menjadi begitu lekat bila basah seperti membuat tajak
atau sangat sukar dibajak. Konsistensi sangatlah penting dalam menentukan daya guna tanah
secara praktis. Konsistensi dipakai untuk menggambarkan sifat tanah yang sangat penting yaitu
hubungannya dengan pengolahan tanah dan pemadatan mesin pertanian. Dengan mengetahui
konsistensi tanah, akanmempermudah pengolahan tanah karena tiap tanah mempunyai
konsistensi yang berbeda-beda. Perilaku tersebut diharapkan mampu membuat konsistensi tanah
sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian.
Metode yang digunakan untuk menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah dan kering
yaitu menggunakan metode kualitatif. Metode ini biasanya dilakukan di lapangan atau bisa juga di
laboratorium. Penetapan konsistensi secara kualitatif dilakukan dengan menekan bongkah tanah diantara
ujung telunjuk dengan ibu jari atau ujung ibu jari dengan pangkal tangan untuk kondisi kering dan
membuat pasta tanah lalu diamati untuk kondisi basah. Penetapan secara kualitatif dapat digunakan
untuk melihat tingkat kelekatan, keliatan, pada konsistensi basah dan tingkat kekerasan pada konsistensi
kering. Metode ini dipilih karena mudah, cepat dan membutuhkan alat dan bahan yang sederhana.
Konsistensi berhubungan erat dengan derajat struktur dan juga kelas tekstur tanah.
Contohnya apabila suatu tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur butir tunggal
dan sifat konsistensi lepas-lepas. Sebaliknya tanah yang bertekstur lempung akan mempunyai
struktur gumpal, pejal atau baji dan mempunyai konsistensi agak teguh-teguh pada kondisi
kering dan plastis bila basah. Hal tersebut dikarenakan sifat partikel penyusun tanah (pasir, debu,
dan lempung) yang terdapat pada suatu tanah akan mempengaruhi gaya yang bekerja pada
partikel-partikel tanah sehingga menghasilkan sifat fisik yang saling berkaitan.

Darmawijaya, M. L. 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Euroconsult. 1989. Agriculture Compendium. Third Revised Edition. Elsevier , Amsterdam.
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey.
1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung Press, Lampung.
Lal, R., Shukla, M. K. 2004. Principles of Soil Physics. Marcel Dekker Inc., New York.
Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pittenger, D. R. 2004. California Master Gardener Handbook. University of California Agriculture and
Natural Resources, California.
Sarief, S. 1985. Ilmu Tanah Umum. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung.
Soepraptohardjo, M. 1977. Jenis Tanah dan Potensinya. Pusat Pendidikan Interpretasi Citra
Penginderaan Jauh dan Survey Terpadu, Yogyakarta.
Tan, K. H. 1986. Dasar Dasar Kimia Tanah. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

Pem

Konsistensi menyatakan daya tanah melawan kakas tusuk , deformasi atas kakas
pematahan. Konsistensi tanah merupakan ungkapan mekanik daya ikat antar zarah tanah
yang berkaitan dengan tingkat dan macam kohesi dan adhesi ini berarti konsistensi
dipengaruhi oleh kadar air tanah (Notohadiprawiro, 1999). Istilah konsistensi tanah
menunjukkan pada tarik menarik antar jarak tanah dalam suatu massa tanah atau
menunjuk pada ketahanannya terhadap pemisahan atau perubahan bentuk (Poerwowidodo,
1991).
Konsistensi dipengaruhi oleh kadar air tanah. Faktor-faktor lain yang menyumbang pada
konsistensi ialah bahan penyemen agregat tanah bentuk dan ukuran agregat serta tingkat
agregasi. Jadi konsistensi berkaitan erat dengan lempung dan kadar bahan organik juga
menentukan konsistensi tanah.

Istilah konsistensi in dicoba dengan melalui berbagai kriteria, Hodgson (1997) melalui
konsistensi tanah berdasarkan enam kriteria yaitu : pembentukan bola-bola tanah, keuatan
tanah, ciri keruntuhan tanah, penyemenan, kelekatan dan plastisitas. Apabila kandungan
kadar air tanah berkurang maka tanah akan kehilangan sifat plastisnya dan sifat
kelekatannya, dan juga dapat menjadi gembur atau lunak dan pada akhirnya tanah akan
mengeras dan koheren.

Hasil dari percobaan pada konsistensi kering adalah bahwa tanah jenis vertisol, rendzina
dan ultisol menunjukkan konsistensinya sangat keras karena ketika dilakukan
penekanannya oleh ibu jari dan jari telunjuk maupun oleh pangkal telapak tangan kiri
dengan ibu jari kanan, bongkahan tanah tersebut tidak hancur. Tanah vertisol, rendzina dan
ultisol merupakan tanah lempung debuan sehingga kondisi tanah banyak lempung dan
struktur berupa gumpalan dan konsistensinya sangat keras ketika mengering. Ketiga tanah
ini seluruhnya terdiri dari bahan bahan yang sangat keras. Sifat licin dari debu sampai
tingkat tertentu hingga dapat menutupi sifat lekat lempung. Dan ketiga tanah ini dikatakan
konsistensinya sangt keras karena tekstur tanahnya yang didominasi lempung, sturktur
tanah yang gumpal uat, kondisi kelengasan tanahnya yang kering serta kandungan air yang
tidak ada. Untuk jenis tanah Alfisol dan entisol hasil percobaaan menunjukkan bahwa
konsistensi agak keras karena etika dilakukan penekanan oleh ibu jari dengan jari telunjuk
bongkahan tanah tersebut hancur. Kedua jenis tanah ini alfisol dan entisol termasuk tanah
yang memiliki fraksi lempung, debu, pasir namun fraksi pasir ini lebih banyak atau
mendominasi daripada lempung dan debu sehingga ketika ditekan akan mudah hancur
karena bongkahan tanah didominasi pasir yang membuat pori-pori tanah semakin
berenggangan.

Menurut Sarief (1985) ultisol memiliki konsistensi gembur atau lunak sedngkan pada
percobaan didapat hasil sangat keras. Menurut Darmawidjaja (1992) tnah vertisol memiliki
konsistensi sangat keras dan ini sesuai dengn hasil percobaan karena vertisol dan rendzina
memiliki kadar lempung yang cukup tinggi. Menurut Tan (1986) tanah entisol memiliki
konsistensi lepas lepas namun pada hasil percobaan menunujukkan agak keras. Dan
menurut Soepraptohadjo (1997) tanah alfisol memilii konsistensi teguh atau dapat dikatakan
keras, hasil percobaan menunjukkan alfisol konsistensinya keras.

Pada konsistensi basah atau lembab indikator konsistensi tanah dapat dilihat dari tingkat
kelekatan dan plastisitas tanahnya. Dari hasil percobaan diperoleh hasil kelekatan dan
plastisistas pada tanah vertisol sangat lekat dan plastis, tanh rendzina lekat dan plastis,
tanah ultisol sangat lekat dan agak plastis, tanah alfisol lekat dan plastis, dan tanah entisol
agak lekat dan agak plastis. Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa tanah yang
mengandung lempung dapat memiliki konsistensi yang lekat dan plastis saat dalam
keadaan basah. Namun pada tanah yang memilii kandungan pasir yang lebih dominan
daripad debu dan lempung memiliki onsistensi yang kurang lekat dan tidak plastis karena
pasir dapat membuat rongga pori-pori yang besr dan tidak akan tercampur dan kasar ketika
dibasahi.

Tanah vertisol mudah digulung artinya plastis dan melekat, hasil percobaan tanah vertisol
memiliki kelekatan sangat lekat dan plastis (Foth, 1988). Dan tanah rendzina memiliki
kesamaan dengan tanah vertisol. Tanah ultisol bertekstur liat berpasir dan memiliki ciri ciri
licin agak kasar, membetuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung serta
melekat sekali. Pada tanah alfisol memiliki memiliki konsistensi kondisi basah lekat dan
plastis dan ini sesuai hasil percobaan pada saat praktikum (Darmawijaya, 1990). Tanah
entisol cukup mengandung debu dan lempung untuk membuat tanah bersift kohesi dan
dapat dibentuk bola yang mudah retak, sebagian besar terdiri dari pasir tetapi ada cukup
lempung untuk menimblkan konistensi agak liat (Foth, 1988). Hasil dari percobaan
menunjukkan tanah entisol konsistensi agak lekat dan agak plastis.

Manfaat yang dapat dilkukan setelah mengetahui konsistensi tanah dibidang pertanian
adalah dapat memperoleh atau mempermudah dalam pengolahan tanah yang dimana
tanah ditempay yang berbeda memilii onsistensi berbeda-beda. Dengan mengetahui hal
tersebut dapat membuat konsistensi tanah yang sesuai tanaman yang ditanam sehingga
dapat membantu meningkatkan produksi pertanian. Dan juga dapat mengurangi dampa
erosi yang terjadi di lahan pertanian yang berlereng.

Penentuan konsistensi tanah terdapat dua metosde yaitu metode secara kualitatif dan
secara kualitatif. Pada praktikum konsistensi tanah ini penentuan konsistensi tanah
menggunakan metose secara kualitatif. Prinsip dari metode secara kualitatif ini adalah
penentuan ketahanan masa tanah terhadap tekana diantara ujung telunjuk dengan ibu jari
atau ujung ibu jari dengan pangkal telapak tangan. Penetapan secara kualitatif ini dengna
melihat tingkat kekerasan pada kondisi kering dan tingkat kelekatan dan keliatan pada
kondisi basah. Penentuan konsisteni tanah secara kualitatif diunakan pada praktikum ini
karena cara penentuan yang sderhana dan tidak susah, tidak tergantung terhadap alat dan
alat yang digunakan sangat sederhana.

Tekstur, struktur dan konsistensi memilii hubungan erat untuk mengetahui konsistensi tanah
maka terlebih dahulu untuk mengetahui tekstur dan struktur tanah tersebut. Contoh
hubungan ketiga sifat itu adalh tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur
butir tunggal dan sifat konsistensi lepas lepas. Dan tanah bertekstur lempung akan
mempunyai struktur gumpal patau pejal dan mempunyai konsistensi agak teguh dan plastis.

Darmawijaya. 1997. Klasifikasi tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Donahue, Roy.L, Raymond. W, and John.C. 1977. Soils an introduction to soils and planth
growth. Prentice Hall, Inc. United States of America.

Foth, H. D, L.M.Turk. 1958. Fundamentals of soil sciences. John Wiley and soncs, Inc.
United States of America.
Hardjowigeno, Sawono. 1992. Ilmu tanah. PT.Mediyatama sarana perkasa. Jakarta.

Hodgson, J.M. 1978. Soil sampling and soil description. Clarendan Press. Oxford.

Mawardi, M. 2011. Tanah air tanamn : asa irigasi dan konservasi air. Bursa ilmu.
Yogyakarta.

Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan lingkungan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Poerwowidodo. 1991. Ganesha tanah. CV Rajawali. Jakarta.


Sarief, S.E. 1985. Konservasi tanah dan air. Pustaka buana. Bandung.

Soepraptohardjo, M. 1997. Jeni tanah dan potensinya. Pusat penelitian interpretasi citra
pengindraan jauh dan survey terpadu. Yogyakarta.

Sutanto, Rachman. 2005. Dasar-dasr ilmu tanah knsep dan kenyataan. Kanisisus.
Yogyakarta

Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya tahan atau daya adhesi butir tanah dengan
benda lain dan ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya akan mengubah bentuk atau gaya-
gaya tersebut, misalnya pencangkulan dan pembajakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
konsistensi tanah ialah kadar tanah, Bahan-bahan penyemen agregat tanah, tingkat agregat,
bahan dan ukuran agregat tanah, Faktor-faktor penentu struktur tanah, yaitu: tekstur, macam
lempung, dan kadar bahan organik.
Pada hasil praktikum menunjukkan bahwa pada tanah vertisol memiliki konsistensi basah
yang sangat lekat, memiliki plastisitas yang plastis dan memiliki konsistensi yang sangat keras
pada kondisi kering karena kandungan lempungnya tinggi. Perbandingan antara hasil penelitian
Hikmatullah et al.(2002) dan hasil praktikum menunjukkan kesesuaian yaitu vertisol konsistensi
basah yang sangat lekat, memiliki plastisitas yang plastis dan memiliki konsistensi yang sangat
keras. Apabila tanah ini kering pengerukan dan peretakan memecahkan tanah itu menjadi
gumpalan-gumpalan besar yang padat dan sedemikian kuat sehingga sebagian besar cara
untuk pengolahan tanah tidak mudah untuk dapat dilaksanakan. Tetapi apabila basah tanah itu
lunak dan lengket. Tanah vertisol biasanya mengkerut, retak, sehingga pada umumnya tidak
mantap dan menimbukan masalah jika dipakai untuk pondasi gedung, jalan raya, dan digunakan
sebagai lahan untuk pertanian. Dengan mengetahui konsistensi kita juga dapat menyesuaikan
jenis tanaman yang tumbuh dengan jenis tanah yang akan digunakan untuk melakukan proses
pertanian.
Hikmatullah, B. H., Prasetya, dan M. Hendrisman. 2002. Vertisol dari daerah guruntalo: sifat-sifat fisik
kimia dan komposisi mineralnya. Jurnal Tanah dan Air 3: 21-23.
Prasetya, B. H. 2007. Perbedaan sifat-sifat tanah vertisol dari berbagai bahan induk. Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia. Volume 9: 20 31.

Penentuan nilai konsistensi tanah pada percobaan ini dilakukan secara kualitatif yang terbagi
menjadi dua yakni secara basah dan kering.Pada kualitatif kering,tanah diuji konsistensinya
dengan menekan tanah dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk bila tidak hancur
menggunakan ibu jari dan dan pangkal telapak tangan.Pada metode kualitatif secara basah,tanah
dibasahi dan kelekatan serta plastisitasnya diuji dengan tangan.Kelebihan dari metode ini adalah
mudah dilakukan,sederhana,dan tidak membutuhkan banyak biaya.Kekurangan metode ini
adalah pada pengujian tingkat kelekatan karena pada metode tersebut agak sulit menentukan
tingkat kelekatan tanah pada tanah.
Tekstur,struktur,dan konsistensi sangat erat hubungannya karena ketiga hal tersebut saling
mempengaruhi satu dengan yang lain sebagai contoh tanah bertekstur pasir akan memiliki
struktur butir tunggal dan memiliki konsistensi lepas lepas.Konsistensi tanah merupakan
kerapatan suatu tanah dimana kerapatan tersebut dipengaruhi struktur penyusun tanah dan
struktur penyusun tanah tersebut juga mempengaruhi kasar-halus(tekstur tanah) tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah suhu,kelembaban,dan kadar air
pada tanah.Suhu dapat mempengaruhi kerasnya konsistensi tanah.Semakin tinggi suhu tanah
makakonsistensi tanah tersebut semakin keras.Kadar air juga mempengruhi konsistensi pada
tanah karena air pada kadar yang banyak jika terdapat di atas tanah akan merusak konsistensi
yang dapat mengikis lapisan atas bagian tanah jika konsistensi tanah tersebut renggang atau
lepas-lepas.

Pada tanah Entisol,konsistensi pada keadaan basah berdasarkan pengujian berkonsistensi tidak
lekat dan tidak plastis.Pada saat kering konsistensinya agak keras.Pada penelitian menunjukkan
bahwa tanah tersebut memiliki konsistensi agak lekat hingga lekat dan memiliki plastisitas agak
plastis(Suswati dkk.,2011).Dari perbandingan tersebut hasil dari pengujian sudah sesuai.
Pada tanah Alfisol,konsistensi pada keadaan basah berdasarkan pengujian berkonsistensi agak
lekat dan plastis. Pada saat kering konsistensinya sangat keras.Menurut penelitian,tanah tersebut
memiliki konsistensi liat pada saat basah dan teguh saat keadaan lembab(Yasin dan
Mashum,2006).
Pada tanah Ultisol,pada keadaan basah berdasarkan pengujiannya memiliki konsistensi sangat
lekat dan plastis. Pada saat kering konsistensinya sangat keras.Pada penelitian menunjukkan
bahwa konsistensi tanah tersebut memiliki konsistensi teguh(Sanches,1976 cit.).Berdasarkan
perbandingan tersebut,hasil dari pengujian hampir sesuai.

Pada tanah Renzina pada keadaan basah berdasarkan pengujian bersifat lekat dan plastis. Pada
saat kering konsistensinya sangat keras.

Pada tanah Vertisol pada keadaan basah berdasrakan pengujian memiliki konsistensi sangat
lekat dan plastis. Pada saat kering konsistensinya sangat keras.
Anonim.2010.Konsistensi Tanah.<http://hmit.ik.ipb.ac.id/2010/07/17/konsistensi/>.Diakses
pada tanggal 9 Mei 2013.
Ardana,M.D.W.2008.Korelasi kekuatan geser undrained tanah lempung dari uji unconfined
compression dan uji laboratory vane shear(studi pada remolded clay).Jurnal ilmiah Teknik Sipil
12 : 128.
Enita,Suardi.2011.Studi penurunan plastisitas tanah-kapur.Rekayasa Sipil 7 : 23-32.
Foth,Henry.D.1990.Fundamentals of Soil Science.John Wiley and Sains,New York.

Mc Cullagh,P. and J.A.Nelder.1989.Generalised Linier Models:Interaching Proccess in Soil


Science.Lewis Publication,Florida.
Rajamuddin,Ulfah A.2009.Kajian tingkat perkembangan tanah pada lahan persawahan di desa
Kaluku Tinggu Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah.Jurnal Agroland 1 : 45-52.
Suswati,D.,Bambang Hendro S.,Djafar Shiddieq,dan Didik Indradewa.2011.Identifikasi sifat
fisik lahan gambut Rasau Jaya III Kabupaten Kubu Raya untuk pengembangan
jagung.J.Tek.Perkebunan & PDSL 1 : 31-40.
Refliaty,Gindo Tampubolon,dan Hendriansyah.Pengaruh pemberian kompos sisa biogas kotoran
sapi terhadap perbaikan beberapa sifat fisik ultisol dan hasil kedelai (Glycine max(L.) Merill).
J. Hidrolitan 2 : 103-114.

Yasin,I. Dan M.Mashum.2006.Dampak variabilitas iklim musiman pada produksi padi sawah tadah hujan
di pulau lombok.Jurnal Agromet Indonesia 20 : 38-47

Tanah Rendzina dan Vertisol memiliki konsistensi sangat keras pada saat kondisi kering. Hal ini
dapat dibuktikan pada saat penentuan konsistensi secara kualitatif, jenis tanah tersebut tidak hancur
saat ditekan dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari maupun ditekan dengan menggunakan
pangkal telapak tangan kiri dan ibu jari tangan kanan. Sedangkan dalam keadaan basah tanah Vertisol
sangat lekat, sementara tanah Rendzina daya stickness hanya lekat saja. Kelekatan tanah Vertisol
terbukti saat tanah kering udara diameter 0,5 mm dibuat adonan homogen bisa menempel banyak
diantara jari telunjuk dan ibu jari namun pada tanah rendzina hanya menempel banyak disalah satu
jari saja sehingga tingkat kelekatannya hanya lekat saja. Tetapi kedua jenis tanah tersebut memiliki
tingkat keliatan atau plastisitas yang sama yaitu agak plastis karena adonan tanah yang telah dibuat
pada saat praktikum baik tanah rendzina maupun Vertisol hanya dapat dibuat pipa dan tidak dapat
dibuat bentuk tertentu.
Konsistensi tanah Rendzina yang sangat keras pada kondisi kering serta memiliki daya lekat serta
agak plastis pada kondisi basah juga sesuai dengan hasil penelitian Anda (2008). Dalam penelitian
tersebut konsistentesi tanah renzina dalam keadaan kering sangat keras dan konsistensi dalam keadaan
basah memiliki kondisi yang lekat dan agak plastis. Hal ini karena tanah rendzina didominasi oleh fraksi
lempung sehingga pada keadaan kering, lempung sangat keras dan sulit dihancurkan karena ikatan kuat
antar partikel tanah sehingga keteguhan tanah Rendzina tergolong tinggi. Sedangkan jika dalam kondisi
basah maka lempung akan bersifat lekat dan memiliki tingkat keliatan atau plastisitas yang agak tinggi.
Vertisol yang memiliki konsistensi sangat keras pada kondisi kering dan tingkat kelekatan yang
sangat tinggi serta agak plastis sesuai dengan penelitian Tobing (2009). Dalam penelitiannya Vertisol
tergolong tanah yang kuran
Vertisol yang memiliki konsistensi sangat keras pada kondisi kering dan tingkat kelekatan yang
sangat tinggi serta agak plastis sesuai dengan penelitian Tobing (2009). Dalam penelitiannya Vertisol
tergolong tanah yang kurang subur karena konsistensi tanah sangat keras pada musim kemarau dan
konsistensi tanah sangat lekat pada saat musim hujan, serta fiksasi kalium yang tinggi merupakan
kendala-kendala yang cukup serius bila tanah tersebut dimanfaatkan untuk keperluan pertanian.
Vertisol adalah tanah mineral yang mempunyai warna abu kehitaman, bertekstur liat dengan kandungan
liat 30% pada horizon permukaan sampai kedalaman 50 cm. Tanah bersifat vertik ini merupakan
tanah-tanah yang dicirikan oleh adanya retakan-retakan yang lebar disertai dengan konsistensi tanah
yang sangat keras pada saat musim kemarau. Pada saat musim hujan, tanah ini akan mengembang.
Ikatan antar lapisan montmorillonit relatif lemah dan mempunyai ruang antar lapisan yang dapat
mengembang jika kandungan air pada ruang antar lapisan ini meningkat dan akan mengerut jika
kandungan air pada ruang antar lapisan ini menurun. Tingginya daya mengembang dan mengerut dari
montmorillonit menyebabkan mineral ini dapat menjerap dan memfiksasi ion-ion logam dan
persenyawaan organik Retakan-retakan tanahnya segera menghilang dan konsistensi tanah berubah
menjadi sangat lekat dan sangat plastis. Bahan induk vertisol umumnya batu kapur, napal, tuff,
endapan alluvial dan abu vulkanik.
Konsistensi tanah Ultisol dan Alfisol berdasarkan praktikum yang telah dilakukan secara kualitatif
dalam kondisi kering maupun saat kondisi basah adalah sama yaitu memiliki konsistensi keras pada
kondisi kering dan lekat serta plastis pada kondisi basah. Pada kondisi kering tanah hancur saat ditekan
dengan menggunakan telapak tangan kiri dan ibu jari tangan kanan sehingga memiliki konsistensi keras.
Sementara pada kondisi basah, tingkat kelekatan dapat ditentukan setelah contoh tanah kering udara
baik dari jenis Ultisol maupun Alfisol dibuat adonan hingga homogen lalu adonan tersebut dipijit dan
hasilnya hanya menempel disalah satu jari saja sehingga tingkat kelekatan (stickness) adalah lekat.
Lalu tingkat plastisitas atau keliatan dari kedua jenis tanah tersebut yaitu plastis karena adonan tanah
dapat dibuat pipa dan dibuat bentuk tertentu seperti O, S, dan 8.
Menurut Ismail dan Gasmelsheed (1988), tanah Ultisol memiliki konsistensi dimana semakin ke
bawah semakin teguh atau keras dan agregat berselaput liat sehingga memiliki tingkat keliatan yang
plastis dan pada kondisi basah konsitensinya lekat. Ultisol merupakan jenis tanah yang mengalami
pelapukan terbanyak, kandungan basa rendah (kurang dari 35%), bahan organik rendah, dan memiliki
kandungan lempung yang cukup. Ultisol memiliki tekstur lempung, struktur remah sampai gumpal
lemah dan konsistensi gembur. Hal ini karena Ultisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai horizon
Argilik atau Kandik dengan nilai kejenuhan basa yang rendah. Pada umumnya tanah ini berkembang
dari bahan induk tua, seperti batu pasir dan batu liat. Sementara Ultisol pada umumnya terbentuk dari
bahan induk yang mengandung kuarsa seperti tufa liparit, dasitik, atau riolit dan dijumpai di daerah
pegunungan dengan ketinggian diatas 1,000 m dari permukaan laut.
Ismail dan Gasmelsheed (1988), juga menyebutkan bahwa tanah alfisol memiliki tekstur geluh
lempungan sehingga memiliki konsistensi dalam keadaan kering yang keras dan lekat serta plastis pada
konsistensi basah. Hal ini karena tanah alfisol pada umumnya mempunyai sifat struktur yang kurang
diinginkan karena memiliki kandungan lempung yang lebih rendah dalam horizon A dan ketidakadaan
kedudukan lempung dalam tanah aslinya. Dimana apabila semakin tinggi kandungan lempung suatu
tanah maka kelekatan dan plastisitasnya semakin tinggi pula.
Hasil praktikum pada tanah Entisol memiliki konsistensi agak keras dibandingkan dengan tanah
lainnya seperti Rendzina, Vertisol, Ultisol dan Alfisol yang rata-rata keras dan sangat keras. Hal ini
karena saat bongkah tanah Entisol ditekan dengan jari telunjuk dan ibu jari setelah ditekan kuat sudah
bisa pecah sehingga konsistensinya agak keras. Sementara pada kondisi basah tanah Entisol memiliki
tingkat kelekatan dan plastisitas seperti tanah Alfisol dan Ultisol yaitu lekat dan plastis karena
ketika adonan tanah dipijit hanya menempel disalah satu jari saja sehingga tingkat kelekatan
(stickness) adalah lekat dan plastis karena adonan tanah dapat dibuat pipa dan dibuat bentuk tertentu
seperti O, S, dan 8.
Namun menurut penelitian Utami dan Handayani (2003), bahwa tanah Entisol memiliki
konsistensi lepas-lepas, tingkat agregasi rendah, peka terhadap erosi dan kandungan hara tersediakan
rendah. Hal ini karena tanah Entisol didominasi oleh pasir (bertekstur pasir) dan sedikit mengandung
lempung. Oleh sebab itu, pada konsistensi kering keteguhannya mudah dihancurkan seperti sifat pasir
pada umumnya. Dan pada konsistensi basah partikel Entisol kurang dapat menyimpan air dengan baik
(kadar lengas rendah) sehingga kelekatan dan keliatannya rendah pula. Entisol memiliki tekstur geluh
debuan, tanah biasa kasar, struktur remah dan konsistensi lepas sampai gembur.
Dalam bidang pertanian, konsitensi tanah penting untuk menentukan cara pengolahan tanah
yang baik, penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan
lengas sehingga dapat dikontrol serapan hara dan pernapasan akar-akar pada tanaman tersebut serta
untuk desain alat-alat pertanian. Konsistensi tanah juga penting untuk menentukan cara penggarapan
tanah yang efisien. Beberapa jenis tanah yang memiliki daya lekat dan tingkat plastisitas yang tinggi
juga dapat digunakan untuk industri gerabah dan kerajinan cinderamata lain yang bahan dasarnya
tanah. Contoh tanah yang dapat digunakan adalah vertisol dan alfisol, karena kedua tanah ini memiliki
konsistensi basah yang jauh lebih baik dibanding jenis tanah yang lain.
Pada praktikum konsistensi tanah kualitatif digunakan metode pilinan dan dengan cara
merasakan tekstur dari jenis-jenis tanah yang diuji sehingga dapat diketahui konsistensi basah dan
konsistensi keringnya. Setiap manusia memiliki tingkat sensitifitas yang berbeda, hal inilah yang
menjadi kendala dalam praktikum ini. Karena perbedaan tingkat sensitifitas, praktikan sulit
menyatukan pendapat untuk menentukan konsistensi kering maupun konsistensi basah dari tanah-tanah
yang diuji. Terlebih lagi saat penentuan konsistensi kering, praktikan pria biasanya memiliki tingkat
kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan praktikan wanita. Karena pada konsistensi kering
digunakan cara penekanan antara ibu jari dan telunjuk, biasanya tanah yang diuji lebih mudah hancur
jika yang melakukan pengujian adalah praktikan pria. Namun keuntungan menggunakan metode secara
kualitatif ini yaitu mudah, cepat, dan dapat dilakukan dilaboratorim dan di lapangan.
Konsistensi tanah berhubungan erat dengan struktur dan tekstur tanah. Struktur tanah
menyangkut bentuk, ukuran dan fendfinisia agregat alamiah yang merupakan hasil dari keragaman gaya
tarikan dari dalam massa tanah. Sebaliknya konsistensi meliputi kekuatan dan corak dari gaya-gaya
tersebut. Dan Tekstur tanah berpengaruh terhadap penentuaan tata air dalam tanah, berupa kecepatan
inflitrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air oleh tanah. Sehingga dari hubungan ketiga
komponen tersebut dapat digambarkan seperti berikut:

Tanah
Konsistensi

Struktur Tekstur Sebagai contoh


hubungan 3 sifat fisik tersebut adalah suatu tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur
butir tunggal dan sifat konsistensi lepas-lepas. Sebaliknya tanah yang bertekstur lempung akan
mempunyai struktur gumpal, pejal atau baji dan mempunyai konsistensi agak teguh-teguh (kering) dan
plastis bila basah.
Anda, M. 2008. Association of soil minerals and organic matter and their impact on pH value. Jurnal Sumber
Daya Lahan (2) : 13-30.

Anonim. 2004. Tanah dan Kehidupan. <http://www.kompas.com>. Diakses pada tanggal 17 Maret 2013.

Bouma,J. 1992. Effect of soil structure tillage and agregation upon soil hydraulic properties. Soil Science
Journal (56): 1-5.

Brady, N. C. 1974. The Nature and Properties of Soil 8th Edition. MacMilliand Dub. Co, Inc. New York

Darmadi, K. 2004. Aplikasi dan metodologi penelitian di daerah humus. Jurnal Survey Tanah. (11): 171-176.

Hakim, N. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Hardjowigeno, S. 1992. Ilmu Tanah Edisi Revisi. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Ismail, H. A. E dan K. M. Gasmelseed. 1998. Soil consistency and swell potential using static cane penetration
machines. Journal of Ismlamic Academy of Sciens (1): 74-78.

McCullagh, P dan S. A. Nelder. 1989. Generalized Linier Midels Interaching Prosses in Soil Science. Lewis
Publication. Florida.

Tobing, R. 2009. Pengaruh Aplikasi Senyawa Humus Terhadap Sifat Kimia Tanah Vertisol dan Pertumbuhan
Tanaman Jagung (Zea mays). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Utami, S. N. H dan S. Handayani. 2003. Sifat kimia entisol pada sistem pertanian organik. Jurnal Ilmu Pertanian
(10): 63-69.

Wiyono, A. Syamsul dan E. Hanudin. 2006. Aplikasi soil taxonomy pada tanah-tanah yang berkembang dari
bentukan karst gunung kidul. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (6): 13-26.