Anda di halaman 1dari 4

KATA PENGANTAR

Rasa syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kemurahan-
Nya makalah ini dapat kami selesaikan dengan sebaik baiknya. Tidak lupa kami ucapkan
terima kasih kepada dosen dosen, kakak angkatan, serta teman teman yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini akan membahas mengenai Co-Evolution
(Koevolusi) yang meliputi pengertian koevolusi, mekanisme koevolusi, contoh contoh
koevolusi, dan perbedaan koevolusi dan koadaptasi
Pembuatan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah E volusi. Semoga
dengan adanya makalah ini dapat menambah wawasan pemakalah serta pembaca mengenai Co-
Evolution (Koevolusi). Di samping makalah ini telah kami susun dengan sebaik baiknya
namun tidak dapat dipungkiri masih terdapat kesalahan kesalahan. Maka kami menerima saran
dan kritik supaya makalah ini dapat lebih sempurna.

Jember, 27 Februari 2017

Penyusun

Koevolusi tumbuhan dan serangga memiliki siklus, sebagai kelompok tumbuhan.


Koevolusi antara racun tumbuhan dan mekanisme detoksifikasi serangga merupakan cara di
mana serangga dan bunga mungkin terpengaruh pada setiap evolusi masing masing. Contoh
lainnya yaitu polinator. Beberapa gymnospermae diserbuki oleh serangga tetapi serangga
penyerbuk tidak ada hubungannya dengan evolusi bunga pada angiospermae. Tumbuhan tanpa
bunga akan diserbuki oleh mekanisme abiotik seperti angin. Pada spesies bunga yang lain,
seleksi alam membuat serbuk sari bunga tersebut hanya dapat diberikan pada bunga lain namun
asih dalam 1 spesies. Jika serangga terbang pada bunga spesies lain, serbuk sari menjadi sia
sia. Bunga mungkin akan meletakkan nektar pada tempat yang hanya dapat dijangkau oleh
serangga yang memiliki organ terspesialisasi seperti lidah yang panjang. Proses ini akan terus
berlanjut, tumbuhan akan meletakkan nektar semakin dalam dan semakin dalam lagi dan
serangga akan memperpanjang lidahnya terus menerus. Hasilnya akan seperti pada Anggrek
Maagascan (Angraecum sesquipedale) yang meletakkan nektarnya pada spurs yang panjang
mencapai 45 cm. Hal ini akan menambah keanekaragaman baik pada tumbuhan maupun
serangga. Bagi tumbuhan tersebut akan menerima manfaat bahwa akan mengurangi terbuangnya
serbuk sari. Sedangkan bagi serangga akan lebih efisien dengan adanya adaptasi mencari makan
yang terspesialisasi ini (Ridley, 2004). Contoh koevolusi di atas dapat terlihat pada bunga dan
penyerbuknya, di mana dalam hal ini penyerbuknya yaitu Hummingbird yang memiliki bagian
tubuh yang sangat panjang setelah berevolusi bersaama dengan tubular bunga.
Langkah langkah koevolusi dapat saja terjadi antara parasit dan inangnya. Mereka
memiliki hubungan yang spesifik dan dekat, sehingga sangat mudah membayangkan bagaimana
perubahan yang terjadi pada parasit, di mana memiliki kemampuan untuk memenetrasi
inangnya, yang akan mengatur perubahan pada inang. Jika rentang variasi genetik pada parasit
dan inang terbatas, koevolusi akan kembali kepada siklusnya, tetapi jika muncul mutan baru,
parasit dan inang mungkin mengalami perubahan yang tidak berujung atau tidak terarah
tergantung pada tipe mutan yang muncul. Koevolusi pada parasit dan inang adalah antagonis,
tidak seperi koevolusi muatualis pada semut dan katerpilar dari bunga dan polinator. Virus
Myxoma (yang menyebabkan Myxomatosis) pada kelinci Australia menggambarkan bahwa
virulensi dari parasit dapat mengubah evolusi. Oryctolagus cuniculus) merupakan kelinci asli
Eropa namun diperkenalkan di Australia di mana berkembang menjadi hama. Inang alami dari
virus myxoma yaitu jenis kelinci lain (Sylvialagus brasiliensis) dari Amerika Selatan di mana
virus memiliki kemungkinan virulensi yang rendah. Virulensi adalah kapasitas relatif patogen
untuk mengatasi pertahanan tubuh. Dengan kata lain, derajat atau kemampuan dari organisme
patogen untuk menyebabkan penyakit. Pada tahun 1950 virus ini diperkenalkan di Australia
untuk mengontrol kelinci hama. Hal ini berjalan sukses dengan penyebaran melalui nyamuk.
Pada pertama kali, virulensi virus myxoma di Australia meningkat dan dapat menginfeksi inang.
Lama kelamaan rata rata kematiannya menurun hal ini karena adanya resistensi pada inang dan
penurunan virulensi virus (Ridley, 2004).
Koevolusi juga dapat terjadi a antara semut Lasius fuliginosus dengan
tanaman Dischidia major. Koevolusi yang terjadi antara semut Lasius
fuliginosus dengan tanaman Dischidia major adalah dapat dilihat dari struktur
yang berevolusi antara kedua spesies yang sama-sama bersimbiosis dalam hal ini
simbiosis mutualisme antara semut Lasius fuliginosus dan tanaman Dischidia
major.
Pada Lasius fuliginosus :
a) Ukuran dari semut Lasius fuliginosus yang berukuran maksimal hanya 4 mm
pada semut pekerjanya, merupakan struktur yang terevolusi dalam hal
memungkinkannya untuk dapat masuk ke dalam Daun semut pada tanaman
Dischidia major.
b) Memiliki racun yang cukup untuk dapat melukai predator yang menggangu
tanaman Dischidia major, sehingga tidak ada spesies serangga lain yang
dapat memangsa tanaman inang dari semut ini.
c) Memiliki perilaku bersarang yang terevolusi, yaitu membuat sarangnya di
belakang lapisan periderm pada tanaman Cengkeh ( Syzygium aromaticum ).
Sehingga memudahkannya memasuki lubang-lubang pada tanaman
Dischidia major.
d) Memiliki ratu koloni yang lebih dari satu, hal ini juga dapat dikatakan
terevolusi karena memudahkan pemindahan telur-telur dari banyak sarang
semut ini.
e) Mencari makanan langsung dari nektar yang dihasilkan oleh tanaman
Dischidia major yang berada di dalam Daun semut

Pada Dischidia major :

a) Terevolusi dalam bentuk morfologi daunnya, membentuk ruang kosong di


dalam. Yang memungkinkan agar semut Lasius fuliginosus dapat keluar
masuk dengan mudah Daun semut.
b) Terevolusi dalam bentuk akar yang serabut yang tipis, membantu dalam
mencengkram tanaman Cengkeh ( Syzygium aromaticum ) sebagai inang. Dan
dapat membantu dalam menyerap nitrogen dan zat lain yang dibutuhkan
yang berasal dari sarang semut Lasius fuliginosus yang ada dibawah lapisan
periderm pada tanaman Cengkeh ( Syzygium aromaticum ).
c) Terevolusi dalam struktur daun-daun yang berukuran kecil, sehingga
membantunya mengurangi penguapan.
d) Terevolusi dalam menghasilkan bau yang dapat menarik semut Lasius
fuliginosus, sehingga dapat membantu dalam penyebaran dan penyerbukan
(Fauuzan et al., 2007).

KESIMPULAN
Contoh koevolusi dapat terjadi pada tumbuhan berbunga (contohnya Anggrek Magascan) dengan
serangga penyerbuknya (Hummingbird) dan parasit (contohnya Virus Myxoma) dengan
inangnya (contohnya Kelinci asli Eropa). Semut Lasius fuliginosus dan tanaman
Dischidia major juga menunjukkan adanya koevolusi.

DAFTAR PUSTAKA
Fauzan, M.F., Sulistyaningrum, Gita, Hermadianti, Dea, Hndayani, Rizkia. 2007. KOEVOLUSI
ANTARA TUMBUHAN Dischidia major DENGAN JENIS SEMUT Lasius fuliginosussp.
DI KAWASAN HUTAN DESA JATINEGARA, TEGAL, JAWA TENGAH. 1-10.
Ridley, Mark. 2004. Evolution Third Edition. UK: Blackwell.