Anda di halaman 1dari 13

BAHAN KULIAH PROGRAM KKT

MATA KULIAH
MENULIS JAWA

Bahan ini berusaha memberikan alternatif pelatihan menulis ilmiah bagi para guru
yang sangat berguna untuk mengembangkan daya nalarnya sebagai insan akademik.
Selain itu, sebagai guru Bahasa Jawa juga perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang
sistem (teknik) penulisan bahasa Jawa baik dengan tulisan Latin maupun tulisan Jawa untuk
menunjang profesinya.
Secara umum, inti yang ditawarkan dalam modul ini adalah mengarahkan pada
model pemberian pengetahuan dan pengalaman langsung kepada pembelajar tentang
pokok-pokok materi tersebut. Oleh karena itu pembelajar diharapkan secara aktif
memahami materi yang ada dalam modul ini dan sekaligus menempa diri untuk melatihnya
menjadi suatu kebiasaan guna menunjang pengembangan diri dan juga pengembangan
profesi.

4.1 Konsep, Fungsi, dan Tujuan


Menulis adalah suatu proses pengolahan dan penuangan gagasan secara runtut,
logis, dan bermakna sehingga dapat memberikan pemahaman imajinatif para pembacanya
secara maksimal. Gagasan yang berupa abstraksi ide dan pikiran tersebut yang dielaborasi
dan diakumulasikan sedemikian rupa berdasarkan tatagrafis dan tatagramatika dalam media
bahasa tulis, sehingga menarik, bernilai, dan komunikatif. Menulis bukanlah sekedar
mengkopi dan menyalin bahasa, sebagaimana penjiplak dan pelukis, tetapi di dalamnya
terkandung unsur pemahaman, penguasaan (terampil) bahasa sasaran beserta aspek
representasinya. (Lado, 1979:143).
Kemampuan menulis sering diidentikan dengan ciri kecendekiaan seseorang. Hal itu
berangkat dari suatu analogi sedikitnya penulis dibandingkan dengan jumlah pembaca.
Menulis bukanlah pekerjaan mudah. Di dalamnya terkandung makna kecerdasan,
pengalaman, bakat, wawasan dan pengetahuan, serta alur penalaran seseorang. Menulis
adalah proses menuangkan gagasan melalui bahasa dengan gaya dan cara tertentu
(DAngelo, 1980:20). Untuk mencapai tataran yang demikian diperlukan latihan, kerja keras,
dan pengalaman panjang yang bernilai akademik formal dan konsultatif. Kegiatan
kepenulisan banyak memberikan nilai dan manfaat baik bagi dirinya atau pihak lain yang
berkepentingan, misalnya:
1 Dapat mengenali pengetahuan, kemampuan, dan potensi diri tentang suatu topik
tertentu.
2 Berlatih mengembangkan gagasan, dengan cara mengorganisasikan penalaran dalam
bahasa yang logis, faktual, dan argumentatif.
3 Memperluas wawasan dan pengalaman, sebab menulis selalu terkait dengan kegiatan
mencari, mengumpulkan, memferifikasi, memahami informasi (data) dari berbagai
sumber referensi yang berhubungan dengan topik yang ditulis.
4 Dapat melatih mengekspresikan suatu gagasan dengan bahasa secara tersurat dan
runtut, sehingga suatu informasi menjadi lebih mudah untuk difahami.
5 Dengan melalui tulisan seseorang dapat meninjau dan menilai gagasan sendiri secara
lebih objektif dan bertanggung jawab.
6 Dengan menuangkan gagasan melaui tulisan seseorang akan lebih mudah
memecahkan masalah, yaitu dengan membaca secara berulang-ulang dan
menganalisisnya secara lebih intensif, objektif, dan konkrit.

Dalam suatu tulisan tentu terkandung maksud dan tujuan tertentu dari penulisnya.
Paling tidak terjadinya kesan dan tanggapan sebagai suatu respon balik (umpan balik) dari
pembaca terkait dengan isi tulisan. Berdasarkan sifat tulisan, maka ada beberapa klasifikasi
yang membedakan satu sama lainnya, yaitu tulisan: (1) informative discourse, bersifat
memberitahukan; (2) persuasive discourse, bersifat himbauan, atau meyakinkan; (3) literary
discourse, bersifat menghibur atau menyenangkan; dan (4) expressive discourse, bersifat
ungkapan perasaan atau ekspresi jiwa (DAngelo, 1980:25).
Hugo Hartig (Hipple, 1973) menjelaskan bahwa tujuan penulisan itu amatlah
beragam. Berdasarkan isinya, maka tulisan mempunyai 7 (tujuh) tujuan. Ketujuh tujuan
dimaksud, yaitu:
1 Assignment purpose, yaitu bentuk tulisan yang dibuat karena tugas. Dari sisi penulis,
melaksanakan tugas menulis itu karena perintah (tugas), bukan atas kemauan sendiri
sehingga ia menulis tidak mempunyai tujuan, kecuali perintah tugas. Hal itu seperti
tugas mahasiswa merangkum buku, tugas sekertaris, notulis, kasir, dan lain
sebagainya.

2 Altruistice purpose, bentuk tulisan yang bertujuan menyenangkan pembaca, ingin


menolong dan menghibur pembaca agar memiliki mental yang kuat, atau bahkan untuk
kepentingan menaklukannya. Misalnya tentang kisah Ajisaka yang demikian memikat
dan heroik di mata masyarakat Jawa yang sebenarnya merupakan bentuk bentuk
efimisme dari gambaran berkuasanya bangsa barat atas pulau Jawa (Indonesia).

3 Persuasive purpose, bentuk tulisan yang bertujuan untuk meyakinkan kepada pembaca
akan gagasan (tulisan) yang disampaikannya. Untuk itu cirri tulisan ini biasanya
menghadirkan fakta, data, atau argumentasi yang kuat.

4 Informational purpose, bentuk tulisan yang bertujuan memberi informasi, berita, atau
keterangan tertentu pada para pembaca.

5 Self-expressive purpose, yaitu bentuk tulisan yang bertujuan memperkenalkan diri


(penulis) kepada pera pembaca. Hal itu seperti sering kita jumpai di sampul belakang
sebuah buku teks, atau ilmiah. Isinya semacam otobiografi yang menceritrakan tentang
identitas penulis, jumlah karya, pendidikan, dan penghargaan.

6 Kreative purpose, yaitu jenis tulisan yang isinya berkaitan dengan tujuan pernyataan
diri. Hal yang menjadi sasaran dalam tulisan ini yaitu ketertarikan pembaca sehingga
mengagumi, memuji, menghargai, atau menyetujui seperti apa yang diharapkan penulis.
Bentuk tulisan tersebut, misalnya novel, puisi, surat permohonan (lamaran kerja), tulisan
proposal, dan lain sebagainya.

7 Problem-solving purpose, yaitu jenis tulisan yang bertujuan memberikan pemecahan


masalah. Jenis tulisan semacam ini, misalnya artikel ilmiah, penelitian, laporan
observasi yang memberikan data-data secara akurat dan nyata sehingga menjawab
permasalah yang dihadapi pembaca.

4.2 Jenis Tulisan


Jika diamati, tulisan itu banyak sekali ragamnya. Sekalipun demikian
pengelompokkan antar satu ahli dengan ahli lainnya tidaklah sama. Hal itu disebabkan
karena mereka memandang dari sudut dan kepentingan yang berbeda-beda. Salisbury
(1955) membagi jenis tulisan menjadi 2 klasifikasi, yaitu (1) jenis tulisan objektif, dan (2)
jenis tulisan subjektif. Tulisan obyektif mencakup beberapa model, misalnya (a) penjelasan,
(b) batasan, (c) laporan, dan (d) dokumen. Sedangkan tulisan subjektif, bentuknya
mencakup tulisan (a) otobiografi, (b) surat-menyurat, (c) penilaian, (d) esai, (e) potret atau
gambaran, dan (f) satire.
Ahli lain membagi jenis tulisan secara berbeda. Weaver (1957) membagi jenis tulisan
berdasarkan tujuan apa yang hendak dicapai penulisnya. Berdasarkan hal tersebut, maka
tulisan dibaginya menjadi 4 jenis, yaitu (1) tulisan eksposisi: model defisi dan analisis; (2)
tulisan deskripsi: model ekspositori, literer; (3) tulisan narasi: model urutan waktu, motif,
konflok, titik pandangan, dan pusat minat; dan (4) tulisan argumentasi: model induksi, dan
model deduksi. Hal yang hampir sama dikemukakan oleh Morris dkk. (1964) menurutnya
tulisan dapat dibagi menjadi 4 jenis dengan cakupan yang agak berbeda, yaitu tulisan
bentuk: (1) eksposisi: bentuk klasifikasi, definisi, eksemplifikasi, sebab akibat, komparasi
dan kontras, proses; (2) argumen: argument formal (deduksi dan induksi), persuasi
informal; (3) deskripsi: deskripsi ekspositori, deskripsi artistic/ literer; dan (4) narasi: narasi
informatif, narasi artistic/literer.
Chenfeld dan Brook membagi jenis tulisan secara berbeda. Hal itu dapat dilihat dari
pola pengklasifikasiannya yang lebih berorientasi pada aspek penulisnya. Chenfeld
membagi tulisan menjadi 2 jenis, yaitu: (1) tulisan kreatif: tulisan yang memberikan pada
penekanan ekspresi diri; (2) tulisan ekspositori: penulisan laporan, surat, timbangan buku
atau resensi, dan rewncana penelitian (Chenveld, 1978). Dan Brooks dan Waren membagi
jenis tulisan berdasarkan bentuknya, yaitu (1) tulisan eksposisi yang mencakup: kompsarasi,
ilustrasi, klasiikasi, definisi dan analisis; (2) persuasi; (3) argumentasi, dan (4) deskripsi.
Namun dalam konteks yang lebih khusus, pengembangan penulisan di perguruan
tinggi diarahkan pada penulisan ilmiah. Tulisan ilmiah sendiri dimaksudkan sebagai bentuk
karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis berdasarkan metode
penelitian yang baik dan benar. Karangan ilmiah memi- liki ciri khusus, diantaranya yaitu
bersifat objektif, jujur, dan akurat (Arifin, 1987; Keraf, 1984; Safii, 1988). Berdasarkan isinya,
karangan ilmiah dibedakan atas 6 jenis, yaitu: makalah, artikel, kertas kerja, skripsi, tesis,
dan disertasi.
Makalah adalah karya tulis ilmiah yang menyajikan suatu masalah yang
pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Makalah
menyajikan permasalahan dan pemecahannya melalui proses berfikir deduktif atau induktif.
Makalah disusun, biasanya untuk melengkapi tugas-tugas perkuliahan tertentu atau untuk
memberikan saran pemecahan tentang suatu masalah tertentu secara ilmiah. Makalah
disusun menggunakan bahasa yang lugas dan tegas. Dan jika dilihat bobot dan bentuknya,
makalah merupakan bentuk karya ilmiah yang paling sederhana dibandingkan dengan karya
ilmiah lainnya.
Artikel merupakan bentuk karya ilmiah yang disusun berdasarkan tata aturan khusus
baik menyangkut isi maupun formatnya. Sebagaimana makalah, artikel juga dikembangkan
pembahasannya berdasarkan data dan fakta yang objektif dan empiris sifatnya. Yang
membedakannya dengan makalah atau karya ilmiah lainnya, artikel disusun berdasarkan
pesanan atau dikompetisikan untuk dimuat dalam suatu penerbitan tertentu, misalnya
majalah, koran, atau jurnal ilmiah. Dengan demikian format dan isinya menyesuaikan
dengan gaya selingkung penerbitan yang dituju. Gaya selingkung adalah tata aturan yang
diterapkan suatu penerbitan yang berkaitan dengan visi, misi, gaya, dan tata tulis yang
menjadi persyaratkan dimuatnya suatu tulisan ilmiah untuk rubrik yang disediakan.
Kertas kerja juga merupakan satu bentuk tulisan ilmiah seperti halnya makalah yang
penyajiannya berdasarkan fakta dan data empiric secara objektif dan bertanggung jawab.
Hanya saja tingkat analisisnya lebih dalam dan serius dibandingkan makalah karena akan
disajikan dalam suatu seminar atau lokakarya yang memungkan akan menjadi bahan
rujukan atau perbandingan.
Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengembangkan pendapat penulis
berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh fakta dan
data empiris-objektif, baik berdasarkan hasil penelitian langsung (observasi lapangan), atau
penelitian tidak langsung (studi kepustakaan). Skripsi ditulis, biasanya sebagai bagian dari
syarat guna memperoleh gelar sarjana muda atau sarjana. Proses penyusunannya
dilakukan dengan melalui bimbingan seorang dosen atau suatu tim yang ditunjuk oleh
lembaga pendidikan tertentu.
Tesis seperti halnya skripsi, yaitu karya ilmiah yang disusun mahasiswa yang hendak
menyelesaikan studinya di perguruan tinggi tertentu. Orientasi kajiannya, tesis lebih
mendalam dibandingkan dengan skripsi. Tesis akan mengungkapkan penemuan baru
berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh di lapangan. Karya tulis ini akan melakukan
uji hipotesis untuk mendapatkan suatu tesis baru sebagai suatu temuan dan ditulis oleh
mahasiswa pascasarjana.
Disertasi merupakan karya ilmiah tingkat tinggi. Dalam penulisannya, karya ilmiah ini
menggunakan dalil-dalil untuk membuktikan hasil temuannya berdasarkan data dan fakta
yang sahih dengan analisis yang luas dan rinci. Dalil-dalil yang dikemukakan biasanya akan
dipertahankan penulis dari sanggahan-sangahan senat guru besar saat ujian berlangsung
baik ujian tertutup atau ujian terbuka. Karya ilmiah setingkat disertasi ini berupa temuan
orisinil dan merupakan bagian tugas mahasiswa pascasarjana untuk memperoleh gelar
doktor.

4.3. Menetapkan Topik dan Judul


Hal yang sering dialami oleh kebanyakan mahasiswa atau bahkan kita semua adalah
sulitnya membedakan secara spesifik kewilayahan antara topik, judul, dan tema. Hal itu
dapat dimaklumi sebab ketiganya memiliki hubungan yang saling terkait sehingga
kadangkala pemahamannya tumpang tindih.
Anton Moeliono, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa topik
adalah: (1) pokok pembicaraan, (2) hal yang menarik perhatian umum, atau (3) bahan
pembicaraan. Sedangkan tema dijelaskannya sebagai pokok pikiran, atau sebagai dasar
ceritra. Sedangkan judul diberikan penjelasan yang relatif spesifik, yaitu sebagai nama yang
dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku
atau bab itu (Moeliono, 1990). Dari penjelasan itu jelaslah bahwa topik itu lebih bersifat
umum dan lebih luas dibandingkan dengan tema, dan tema lebih luas dibandingan
dengan judul.
Penentuan topik apa yang harus kita jadikan bahan tulisan banyak hal yang harus
dipertimbangkan. Sebagaimana diuraikan di atas, suatu pokok masalah atau topik harus
berasal dari bidang yang menarik perhatian kita dan sekaligus kita mempunyai kemampuan
dan menguasainya dengan baik. Jika ini semua dipenuhi akan memberikan kontribusi dalam
tahapan penggarapan bahan dan pembahasan dalam tulisannya. Dalam rangka
mengidentifikasi pokok masalah atau topik yang akan dijadikan bahan tulisan dapat
dilakukan beberapa cara, yaitu:
1 Brainstorming,
yaitu berupa kegiatan berfikir berdasarkan asosiasi yang bebas dalam hal
menemukan apa saja yang berkaitan dengan perihal pokok karangan. Apa yang
terpikirkan berkaitan dengan pokok tulisan (topik) kita daftar begitu saja secara acak,
dan dirumuskan dalam bentuk frasa atau kalimat. Dari sekian butir yang terdaftar
tadi, kemungkinan ada yang paling cocok untuk dijadikan topik tulisan.

2 Perenungan,
sebenarnya hampir sama dengan brainstorming, yaitu berasal dari intuisi individual.
Hanya bedanya apabila langkah brainstorming dilakukan secara selintas dan acak
tanpa terlalu lama berhenti pada medan pemikiran yang dalam, namun perenungan
dilakukan lebih sungguh-sungguh dan intensif. Model perenungan ini di dunia barat
dikenal dengan istilah mediatasi dan di dunia timur, khususnya Jawa dinamakan
bertapa atau bersamadi.

3 Formula jurnalistik,
Juga dapat dilakukan oleh seseorang ingin menulis tentang suatu topik. Pemakaian
teknik 5W dan 1H , yaitu: Who (siapa), What (apa), When (kapan), Where (di
mana), Whay (mengapa), dan How (bagaimana) biasa digunakan seorang wartawan
dalam mengumpulkan data dan menulis berita. Pertama-tama seorang wartawan
akan menginfestigasi siapa terlibat dalam peristiwa (who), apa peristiwanya (what),
kapan peritiwa itu terjadi (when), di mana peristiwa itu terjadi (where), mengapa
peristiwa itu terjadi (whay), dan bagaimana kejadian peristiwa itu (how). Tentang
darimana tulisan itu akan dimulai, sangat bergantung pada kepentingan penulis.

4 Empat pertanyaan klasik,


Ini hampir sama dengan pola kerja wartawan yang bersifat infestigatif. Keempat
pertanyaan tersebut, yaitu:
a. Apakah ini? Pertanyaan ini menanyakan hakekat sesuatu. Oleh karena itu
jawaban yang hendak dicari bersifat konseptual (definition).
b. Apakah ini sama atau tidak sama? Pertanyaan ini menanyakan apakah sesuatu
sama atau berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu jawaban pertanyaan ini
menyarankan adanya perbandingan (comparation).
c. Apakah yang menyebabkan peristiwa ini? Pertanyaan ini menanyakan apa yang
menyebabkan terjadinya sesuatu hal. Oleh karena itu jawaban pertanyaan ini
menyarankan adanya hubungan antara peristiwa terkait (relationship).
d. Apa yang dikatakan mengenai hal ini? Pertanyaan ini menanyakan apa yang telah
dikatakan oleh seseorang mengenai sesuatu hal tersebut. Oleh karena itu
jawaban dari pertanyaan ini menyarankan adanya kesaksian (testimony). Ini
berarti seseorang telah melihat atau mengetahui sesuatu hal dan
mengatakannya.

5 Problem solving
merupakan cara yang banyak digunakan penulis dalam menyajikan karangannya.
Proses problem solving adalah salah satu cara penemuan sesuatu, dan sesuatu
tersebut digunakan sebagai materi penulisan. Problem solving sendiri sebenarnya
merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan manusia untuk tetap eksis
senantiasa bergulat dengan masalah dan pemecahan masalah. Model problem
solving ini merupakan hal yang biasa dalam penulisan karya tulis ilmiah di perguruan
tinggi dan kegiatan penelitian-penelitian pada umumnya. Ada 4 (empat) langkah
yang dilakukan dilakukan dalam konteks problem solving ini, yaitu:
a. Identifikasi dan spesifikasi masalah. Kita mengenali masalah-masalah apa saja
yang timbul berkaitan dengan topik yang yang akan digarap. Masing-masing
masalah kita lihat nilai spesifikasinya (kekhususannya).
b. Menganalisis dan merumuskan masalah. Dalam kegiatan ini ada 3 hal yang harus
dilakukan, yaitu: (1) menuliskan hal-hal yang telah kita ketahui tentang masalah;
(2) menuliskan tentang hal-hal yang belum kita ketahui, (3) membuat prioritas
dari masalah dan merumuskannya secara spesifik.
c. Merumuskan hipotesis. Berdasarkan tujuan pembahasan dan analisis masalah
kita dapat merumuskan satu hiptesis atau lebih. Hipotesis ini pada hakekatnya
merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang akan ditulis. Akan
tetapi diakui bahwa tidak semua tulisan (karangan) memerlukan hipotesis. Untuk
karangan deskripsi dan narasi tidak dibutuhkan hipotesis, sedangkan untuk
karangan ekspositoris dan argumentasi dibutuhkan hipotesis.
d. Menguji hipotesis. Menguji hipotesis dilakukan dengan mengemukakan arumen-
argumen yang relevan. Argumen-argumen tersebut diperoleh dari hasil analisis
data. Sedangkan data diambil dari berbagai sumber baik dari buku dan
perpustakaan ataupun dari lapangan dengan menggunakan alat bantu
instrument seperti lembar tes, angket, dan lain sebagainya.

Sebagaimana batasan di atas bahwa judul merupakan gambaran singkat dari isi
tulisan. Judul hendaknya mencerminkan masalah yang dibahas. Sebagai hal yang strategis,
judul harus dikemas secara menarik. Oleh karena itu penggunaan pilihan katanya harus
tepat dan struktur judul disusun sedemikian rupa sehingga jelas, singkat, tegas, dan menarik
bagi pembaca (Keraf, 1986; Muslich, 1990; Moeliono dalam KBBI, 1990). Judul dapat ditulis
dalam tiga model, yaitu: (1) bentuk kalimat berita, (2) bentuk kalimat tanya, dan (3) bentuk
kalimat berstrata, yaitu model induk kalimat dan anak kalimat. Berikut ini contoh beberapa
judul artikel dan buku yang pernah dipublikasikan beberapa penerbitan.
1) Komoditas Perempuan dalam Iklan. (Padma, Jurnal Seni dan Budaya. Vol.2, No.1,
Januari 2003).
2) Fenomena Inulmaniak, Siapa Salah? (Radar, Februari 2003).
3) Misteri Manusia Jawa dan Sejarahnya: Analisis Naskah Babad Tanah Jawa. (Padma,
Jurnal Seni dan Budaya. Vol.2, No.1, Januari 2003).
4) Sosiolinguistik, Suatu Pengantar Kajian Tindak Berbahasa. (Udjang Pr. M. Basir. Buku,
2002).

4.4. Pengumpulan Bahan (data)


Cara pengumpulan data sangat beragam jenisnya, hal itu bergantung topik
permasalahan yang dibahas dan jenis data yang hendak digali. Namun secara garis besar
teknik pengumpulan data dibedakan menjadi beberapa cara, yaitu: (1) observasi, (2)
interview atau wawancara, (3) questionere atau angket, (4) membaca, dan (5) inferensi.
Observasi adalah cara pengumpulan data yang paling umum dalam rangka
memperoleh bahan penulisan. Sarana utama untuk melakukan observasi adalah panca
indra, misalnya: penglihatan, pendengfaran, penciuman, perasa, dan peraba. Masing-
masing indra digunakan untuk mengidentifikasi data melalui kepekaan stimulus
(rangsangan) tertentu. Misalnya, rangsangan cahaya dikenali dengan mata, rangsanagn
suara dikenali melalui pendengaran, rangsangan bau dikenali oleh penciuman, rangsangan
rasa dikenali oleh indra perasa, dan rangsangan bentuk dikenali melalui indra peraba. Untuk
menunjang kegiatan observasi diperlukan perencanaan yang matang, yaitu: (1) menetapkan
tujuan observasi, (2) menetukan jenis dan jumlah data yang diinginkan, (3) menentukan
sumber data, (4) menyiapkan instrument, dan (5) menetapkan waktu pelaksanaan.
Interview atau wawancara merupakan teknik pelaksanaan pengumpulan data yang
pada hakekatnya sama dengan teknik observasi. Tetapi karena sifatnya yang khusus maka
sebaiknya dibahas tersendiri. Kekhususan interview dibandingkan dengan observasi terletak
pada teknik pelaksanaannya, yaitu dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada
sumber data (informan). Interview digunakan untuk mengumpulkan data berupa informasi
dan pendapat. Nara sumber (informan) adalah orang-orang yang kita anggap punya
kewenangan dan layak memberikan informasi atau pendapat yang kita butuhkan. Artinya,
informan itu benar-benar orang (sumber informasi) yang memenuhi syarat sebagai sumber
data yang kita inginkan, yaitu: (1) bersedia sebagai narasumber, (2) memiliki pengetahuan
dan kemampuan sesuai dengan data yang dibutuhkan, (3) bersedia memberikan jawaban
jujur dan objektif, dan (4) sehat secara jasmani maupun rohani.
Questionere atau sering disebut angket merupakan cara mengumpulkan data serupa
dengan interview, yaitu dengan mengajukan seperangkat pertanyaan.yang diajukan pada
sumber informasi. Bedanya terletak pada pelaksanaannya, jika interview disampaikan
secara langsung (lisan) secara bersemuka, sedangkan questionere disampaikan secara
tertulis dan jawabannya juga tertulis. Jadi daftar pertanyaan yang disiapkan pada interview
hanya dijadikan panduan dalam menjaring data, tapi tidak demikian dengan daftar
pertanyaan pada questionere. Pada questionere harus ditulis lengkap, tersetruktur, dan
bahasanya harus mudah difahami. Selain itu harus disertakan petunjuk pertanyaan yang
dapat digunakan pembaca (narasumber) sebagai panduan menjawab pertanyaan angket
(questionere). Agar angket angket berfungsi maksimal sesuai dengan fungsinya sebagai alat
pengumpul data yang representative, maka harus dipersiapkan dan disusun secara baik dan
cermat. Langkah-langkah penyusunan angket (questionere) adalah sebagai berikut: (1)
mengidentifikasi permasalahan yang akan ditanyakan, (2) menyusun kisi-kisi pertanyaan, (3)
penyusunan petunjuk mengerjakan angket, (4) penyusunan pertanyaan, dan (5) penyebaran
dan pengumpulan angket.
Memperoleh bahan tulisan (data) dapat juga dilakukan dengan cara membaca.
Bacaan merupakan sumber dari banyak informasi, pendapat, gagasan, penilaian,
pandangan, maupun teori yang cukup luas. Hal itu disebabkan karena selama berabad-
abad setelah manusia mengenal dan menguasai budaya baca tulis, mereka merekam dan
menyimpan semua ide, gagasan, temuan, serta segala kekayaan pengalaman batinnya
dalam bentuk buku bacaan. Oleh karena itu seseorang yang bermaksud menulis sebuah
karangan, apalagi karangan ilmiah, maka keharusan membaca buku referensi tidak dapat
ditinggalkan. Untuk itu kita harus pergi ke perpustakaan, baik perpustakaan pribadi atau
perpustakaan umum, sebab di sanalah buku sebagai sumber informasi mudah diperoleh.
Cara lain mengumpulkan data, selain cara-cara di atas, yaitu dengan cara inferensi.
Jika model pemerolehan informasi dengan 4 cara terdahulu sifatnya mengambil dari luar,
maka inferensi mengambilnya dari dalam diri penulis sendiri. Inferensi adalah salah satu
cara mendapatkan bahan tulisan dengan cara perenungan dan penalaran atas segala
pengetahuan dan pengalaman yang ada dalam diri sendiri. Dalam proses penalaran
semacam ini, penulis menggali pemikiran dengan menggunakan informasi-informasi yang
diperolehnya dari pengalaman panjang hidupnya, baik selaku pribadi atau anggota
masyarakat. Inferensi adalah kesimpulan yang dibuat berdasarkan beberapa informasi yang
dihubung-hubungkan secara kausalitas, dan hasilnya (inferensi) dapat menjadi bahan
tulisan. Misalnya:
A Non Tiwi jam 07.30 budhal ngantor lan mulihe kepara wengi watara jam 22.00 nganggo
mobil jemputan.
B Suarane akrab banget, mligine kanggo para sutresna Acara Dangdut Hit ing Radio
Wijaya.

Jika proposisi kalimat A dibaca dengan cermat, dan dihubungkan dengan proposisi
kalimat B, maka kita akan dapat membuat inferensi (simpulan) yang secara korelasional
dapat diterima akal sehat dan rasional, sebagaimana pada proposisi kalimat C berikut ini.
C Non Tiwi iku penyiar radio Wijaya.

Walaupun pada mulanya kita hanya memiliki 2 buah informasi, yaitu proposisi A dan
B, maka dengan proses penalaran inferensi ini, maka diperoleh informasi C sebagai hasil
inferensinya. Contoh lain ilustrasi berikut dapat lebih memperluas daya inferensi.

D Esuk-esuk Bu Ratna tindak menyang sekolahan.


E Photo pagelaran lomba nari arep didumake marang murid-muride. (Inferensinya: Bu
Ratna adalah guru TK).
F Pak Parto nggunakake pendekatan demonstrasi lan tugas sajroning mucal.
G Siswa senang piwulangan basa Jawa lan trampil nulis Jawa. (Inferensinya: Pak Parto
adalah guru bahasa Jawa yang disenangi dan mengajarnya dengan pendekatan
demonstrasi dan tugas), dsb.

4.5. Menyusun Karangan


Dalam penyusunan karangan perlu diketahui adanya 3 segmen utama yang secara
hirarkis kait mengkait, yaitu bagian awal karangan (a beginning), bagian tengah karangan (a
middle) dan bagian akhir karangan (en end). Ketiganya sebagai bagian unsur pembentuk
bangunan karangan yang secara struktur bersifat komplementer (Aristoteles dalam Syafii,
1988:85).
Bagian awal karangan sering disebut sebagai pendahuluan (introduction). Secara
posisi, bagian ini memang mendahului bagian-bagian yang lain (tengah karangan dan akhir
karangan). Isi pendahuluan pada hakekatnya merupakan bagian yang berfungsi untuk
mempersiapkan pembaca memasuki bagian inti karangan (bagian isi). Pembaca akan
merasa kesulitan untuk memahami dan mencari tautan informasi apabila tidak
diprakondisikan dengan memberikan ilustrasi perihal pokok tulisan dan arah pembahasan
yang memandunya.
Karangan yang berupa deskripsi hasil sebuah penelitian tentunya mencakup
pembahasan yang demikian luas dan mendalam. Untuk itu banyak hal yang harus
disampaikan pada bagian pendahuluannya. Karena banyaknya informasi yang harus
disampaikan, bagian pendahluan suatu karangan penelitian berdiri sebagai bab tersendiri,
yaitu pendahuluan, yang isinya mencakup: (1) latar belakang masalah, (2) rumusan
masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) asumsi atau hipotesis, dan (6)
penjelasan istilah atau batasan penelitian.
Jika karangan itu berupa sebuah buku referensi dalam bidang disiplin ilmu tertentu,
maka isi pendahuluan dikemas dalam bentuk yang berbeda. Bagian pendahuluan ini
biasanya diberi judul berbeda-beda, misalnya: introduction, preface, kata pengantar,
pendahuluan, prakata. Namun ada pula pengarang yang meletakan bagian informasi-
informasi awal itu pada bagian bab tersendiri, diberi judul pendahuluan. Isi yang menjadi
muatan pada bagian ini bervariasi, berbeda antar satu penulis dengan penulis lainnya, tapi
umumnya mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) tujuan penulisan, (2) isi karangan secara
garis besar, (3) bentuk pendekatan pembahasan, (4) strategi penyajian pembahasan, dan
(5) petunjuk cara menggunakan buku.
Namun karangan yang tidak luas cakupannya, seperti artikel, makalah, kertas kerja,
dan yang sejenisnya, maka pada bagian awal (pendahuluan) juga akan memuat hal-hal
yang terbatas pula. Isi informasi karangan-karangan semacam itu biasanya memuat: (1)
masalah yang akan dibahas, (2) tujuan pembahasan, dan (3) manfaat yang didapat dari
hasil pembahasan.
Bagian tengah karangan pada hakekatnya merupakan isi yang sesungguhnya dari
sebuah tulisan yang kita rancang dan kita sajikan. Hal-hal yang telah ditentukan sebelumnya
sebagai pokok permasalahan dan bahan (data) yang telah kita siapkan kemudian disusun
dan dikembangkan secara luas dan mendalam pada bagian ini. Proses menulis yang
sesungguhnya terjadi pada saat kita mengembangkan dan membahas permasalahan pada
bagian isi. Karangan yang permasalahannya luas dan kompleks, maka memerlukan uraian
pembahasan panjang dan mendalam. Agar pembahasannya dapat sistematis, bentuk
karangan yang luas ini biasanya dibagi menjadi bab dan sub-bab yang lebih kecil dan
spesifik sesuai dengan tujuan dan kepentingannya masing-masing, misalnya:
1 Karangan eksposisi yang menjelaskan tentang suatu peristiwa atau proses, bagian-
bagian karangan disusun dengan model pola kronologis.
2 Karangan narasi, bagian-bagian karangan disajikan berdasarkan urutan sesuai dengan
kejadian dalam waktu tertentu. Kejadian pertama menyajikan kejadian satu, dan bagian
kedua menyajikan peristiwa kedua, dan seterusnya.
3 Karangan deskripsi yang menyajikan secara verbal tentang orang, tempat, barang, atau
keadaan, penyusunan urutan bagian-bagian karangan bergantung pada pandangan
penulis. Penulis dapat menentukan tata urutan yang paling sesuai dan menarik bagi
pangsa pembaca yang dituju, misalnya umur, tingkat pendidikan, latar belakang sosial,
dan efek tertentu yang menjadi tujuan penulisan.
4 Karangan argumentatif penulis penulis akan menyajikan dan menjelaskan berbagai
fakta yang digunakan untuk mendukung pendapatnya. Setelah itu baru dikemukakan
pendapat atau gagasannya. Namun dapat pula dikembangkan dengan cara sebaliknya,
yaitu dikemukakan dahulu pendapatnya baru kemudian disampaikan berbagai fakta dan
pendapat yang mendukung idenya. Hal yang penting dalam konteks hubungan
kausalitas (sebab akibat) itulah yang menjadi kunci dalam rangka menjelaskan suatu
fakta atau pendapat secara nalar dan masuk akal.

Bagian akhir karangan ini biasanya disebut dengan istilah conclusion atau
kesimpulan. Bagian ini sangat penting disajikan penulis dalam rangka memberikan
gambaran umum tentang keseluruhan isi tulisan. Selain itu bagi pembaca, bagian ini
diharapkan merupakan penegas tentang apa yang difahami dari isi karangan dan menjadi
bagian dari komitmen penulis yang akan disikapinya secara objektif. Oleh karena itu isi
bagian kesimpulan ini hendaknya memuat hal-hal berikut:
1 Kesimpulan berisi tentang gambaran umum dari keseluruhan uraian yang disajikan
dalam karangan.
2 Kesimpulan berbeda dengan pendapat dan saran. Pendapat dan saran sesuatu yang
ditimbulkan dari hasil temuan dan pembahasan.
3 Kesimpulan dapat berupa deskripsi poin-poin penting dari pokok pembahasan, atau
ringkasan singkat dari seluruh uraian.
4 Kesimpulan dirumuskan dengan bahasa yang singkat dan efektif. Oleh karena itu
kalimat atau paragraf yang mendukung simpulan tidak memerlukan contoh dan ilustrasi.

4.6. Pemakaian Ejaan


Hal yang sering terjadi dalam penerapan ejaan adalah banyaknya kesalahan
pemakaian sistem ejaan. Untuk kepentingan tersebut pada pokok bahasan ini akan
dibicarakan tentang penggunaan spasi, cetak tebal/cetak miring, pemenggalan kata,
penulisan di dan ke sebagai awalan dan kata depan, penulisan partikel pun, dan
penggunaan tanda hubung (-). Pembahasan topik teknik penulisan ejaan bahasa Jawa
(penulisan fonem /t/ dan /th/; /d/ dan /dh/; swara jejeg dan miring) beserta aplikasinya akan
disajikan pada pembahasan tersendiri (hand out), yaitu mencakup (1) Penggunaan Spasi,
(2) Cetak Tebal dan Cetak Miring, (3) Pemenggalan Kata, (4) Penulisan Di/Ke sebagai
Awalan dan Kata Depan, (5) Penulisan Partikel /pun/, (6) Penggunaan Tanda Hubung (-),(7)
Pembentukan Kata ,(8) Pemakaian Kalimat, (9) Pemakaian Paragraf, (10) Teknik
Penomoran , (11) Teknik Pengutipan, dan (12) Penulisan Daftar Pustaka

4.7 Menulis Jawa


Bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya Jawa semula diperuntukan guna
kepentingan komunikasi dalam komunitas ke-Jawaan. Sebagaimana budaya mapan
lainnya, budaya Jawa memiliki identitas ortografis yang khas, yaitu tulisan Jawa. Pada kurun
waktu yang panjang tulisan Jawa ini menapaki sejarahnya sebagai perekam budaya Jawa
yang handal dan hingga saat ini dapat kita jumpai dalam bentuk naskah-naskah kuna yang
syarat dengan hiasan jaman yang mempesona. Namun sejalan dengan globalisasi yang
penetrasinya demikian kuat (diawali jaman penjajajahan Belanda) dan kiblat pendidikan di
Indonesia yang berorientasi ke Barat (Eropa dan Amerika), maka bahasa Jawa sebagai
bahasa yang masih hidup (digunakan dan diajarkan di sekolah), mengadaptasi sistem
penulisan bahasa Jawa dengan tulisan Latin, selain menggunakan tulisan Jawa itu sendiri.
Sekalipun tidak menyeluruh, gambaran umumnya dapat diuraikan sebagai berikut:
4.7.1 Penulisan Bahasa Jawa dengan Tulisan Latin
Secara umum sistem penulisan Bahasa Jawa dengan tulisan Latin pada hakekatnya
mengadaptasi sistem Ejaan Bahasa Indonesia (EYD). Dalam modul ini sengaja tidak
membahas sistem ejaan secara khusus, tetapi lebih kepada aplikasinya dalam bentuk
pemakaian umum secara natural dan model transkripsinya secara tulisan Latin sebagai
berikut:
1 Aku ora ngira ketemu kanca lawas. Dheweke isih katon ayu sanadyan kabare wis anak
pitu. Sundari anake bakul brongkos, kembang desa ing mburi kos-kosanku. Sepuluh
tahun kepungkur, aku nate kapiluyu janji urip bebarengan. Nanging kalah awu karo
anake sinder tebu kang tansah nenangi ati sliweran nganggo sedan. Dheweke mesem,
ngajak reoni ing taman endah Kaliurang. Atiku lanang kebranang gegojegan. Oh, dewa
apa iki dosa?
2 Nak, yuswamu pira lan netone apa? Yen kundur sliramu matur bapak ibu, iku penting
nggone wong Jawa. Kabeh kudu dipetung ora mung ngger padha senenge. Wong Jawa
kudu ngreti ing Jawane, aja ninggal suba sita.

3 Panjenengan sadaya kedah pirsa bilih ing jaman modern menika tiyang Jawi ugi kedah
ngenut obyaking jaman. Basa Inggris minangka sarana komunikasi global kedah
dipunsinaoni mekaten supados kita saget ngakses internet lan ngginakaken komputer
kangge kepentingan mengolah data. Sadaya sistem program ing komputer menika
ngginakaken basa Inggris saengga bobot tingkat globalisasi kita ingkang nemtokaken
nilai kompetitif saben tiyang mlebet ing bursa kerja.

Ketiga contoh data kutipan di atas secara linguistis dan tipologi bahasa masuk ke
dalam kategori ragam ngoko, madya dan krama. Secara karakteristik bentuk leksikonnya,
data (1) tergolong ragam ngoko yang penggunaannya tertuju pada model interaksi dengan
teman sebaya (keakraban), adik, dan ungkapan perasaan hati (ngunandika). Selain (ngoko)
ragam bahasa yang paling umum dalam budaya Jawa, juga merupakan bahasa yang
dikuasai pertama-tama oleh segenap anak Jawa dan sekaligus sebagai basis
pengembangan keterampilan bahasa pada umumnya. Di antara unsur leksikon
pembentuknya terdapat kata: ngira, kanca, dheweke, isih, katon, ayu, sepuluh, urip, karo,
dsb. Secara fonologis (pengucapan), vokal /i/ pada kata ngira (ngir ), /i/ pada kata i-sih (
s h) termasuk Suara Jejeg (bunyi alamiah). /i/ pada kata urip (urIp) dan isih (isIh) tergolong
Suara Miring, sebab pengucapannya tidak alamiah (dipengaruhi fonim konsonan
dibelakangnya). Demikian pula pada kata kanca (k nc ), dheweke, (d w ke), katon
(katOn), sepuluh (sepulOh), urip (urIp), karo (karo).
Data kutipan (2) dalam stratifikasi bahasa Jawa tergolong ke dalam ragam madya,
sebab selain hadirnya kata-kata madya sliramu (kowe, panjenengan, kamu), nggone
(kanggone, tumrap, bagi), ngger (anggere, setiap, karena), dsb. Sebagaimana diketahui
bahwa pemakaian ragam madya ini ditandai oleh penggunaan kata madya (slira, sampeyan,
niki, nika, niki), penulisan atau pengucapan yang tidak sempurna ngger (anggere), nggone
(kanggone, tumrap, bagi).
Sedangkan data (3) secara unggah-ungguh bahasa Jawa tergolong ragam krama.
Hal itu dibuktikan dengan unsur pembentuk utamanya jenis kata krama. Sekalipun demikian
diakui bahwa ketiadaan padanan kata yang memdai menjadikan unsur bahasa lain
dipakainya. Hal itu merupakan konsekuensi bahasa hidup, maka perubahan dan
perkembangan merupakan hukum alam yang tidak dapat dibendung kehadirannya, apalagi
berkaitan dengan peristilahan dunia iptek yang semakin akrab di lingkungan masyarakat
Jawa. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar. Sekalipun demikian pola pokok bahasa Jawa
(termasuk ragam krama), seperti afik di pun, di aken tetap dipertahankan secara
konsisiten. Misalnya: dipunsinaoni (di - sinau i), ngakses (ng akses), internet (jaringan
komunikasi), ngginakaken (ng gina aken), komputer (alat pengolah data), sistem
(jaringan), program (rancangan, rencana), Inggris (bangsa, bahasa Eropa), globalisasi
(modern), nemtokaken (n tamtu aken), kompetitif (persaingan), bursa kerja (angkatan
kerja).
4.7.2 Penulisan Bahasa Jawa dengan Tulisan Jawa
Penulisan bahasa Jawa dengan huruf Jawa membutuhkan penguasaan dasar
tentang sistem tulisan Jawa. Hal-hal yang secara umum diperlukan untuk dapat menulis
dengan huruf Jawa secara benar, yaitu penguasaan: (1) sistem abjad dasar (dhentawyan-
jana), (2) sistem sandhangan, (3) sistem pasangan, (4) berbagai tanda baca (diakritik) yang
menyertai penulisan Jawa secara filsafati (pada adeg-adeg, pada lingsa, pada lungsi, pada
pangkat; pada guru, pada pancak; pada andhap, pada madya, dan pada luhur; purwa pada,
madya pada, wasana pada), dan lain sebagainya.
4.7.2.1 Sistem Abjad Jawa (Dhenta Wyanjana)
a n c r k
f t s w l
p d j y v
m g b q z
4.7.2.2 Bentuk Pasangan
H N C R K
F T S W L
P D J Y V
M G B Q Z

4.7.2.3 Bentuk Sandhangan


1 Sandhangan Swara
Wulu (i) i = sapi spi
Suku (u) u = sangu szu
Taling (e) [ = adhine adi[n
Taling tarung (o) [ o = rodhane [rod[n
Pepet (e) e = gela atine gelati[n

2 Sandhangan Sigeg
Layar ( r) / = kabar kb/
Cicak (ng) = = jaring jri/
Wignyan (h) h = gajah gjh
Pangkon (konsonan mati) \ = adhik adik\
(3) Sandhangan Panjing
Cakra (kr) ] = kraton k][ton\
Keret (kr) } = gregeten g}getTen\
Pengkal - = kyai sableng k-aisbLe=
4.7.2.4 Tanda Baca (Pada)
Pada Adeg-adeg ? = Bapak lagi sare. ?bpkLgis[r.
Pada lingsa (koma) , = Aku, Budi, lan Gito. ?aku, bufi,
lnGi[to
Pada lungsi (titik) . = Aku sinau sejarah.
?akusinausejrh.

4.7.3 PELATIHAN
Tulislah menggunakan huruf Jawa yang benar!
1 Aja dumeh kuasa, sakabehane karengkuh dhewe.
2 Kancane wis rampung kuliahe, dheweke kecer.
3 Pancen rada sableng, guyonan ora agon wektu.
4 Pagawean iku kudu dirampungake dina iki uga.
5 Sapa wonge ora nesu, bojone diglandhang seminggu.
6 Mumpung isih esuk, ayo padha disengkut garapane.
7 Kowe kuwi pijer mbolosan, pamit kok saben dina.
8 Ditlateni, kabeh problem mesthi ana solusine
9 Ora ana critane sugih kanthi urip ongkang-ongkang
10 Aman dolanan ciblon ambyur byur-byuran

Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal. 1987. Penulisan Karangan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar.
Pedoman Praktis untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Meltron Putra.

Akhadiah, Sabarti, dkk. 1992. Pembinaan Menulis bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

DAngelo, Frank J. 1980. Process and Thought and Composition. Massachuseetts: Withrop
Publishers, Inc.

Harris, David P. 1969. Testing English As a Second Language. New Delhi: Tata Mc. Grow
Hill.

Ibnu, Suhadi. 2000. Teknik dan Etika Penulisan Artikel Ilmiah, Makalah, Bahan Pelatihan
Penulisan Artikel Ilmiah bagi Dosen-Dosen Universitas Negeri Surabaya, Tanggal 19-
27 Januari 2000.

Keraf, Gorys. 1990. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Percetakan Nusa Indah.

Lado, Robert. 1979. Language Teacheng: A Scientific Approach. Bombay-New Delhi: Tata
Mc. Graw Hill.

Pringgoadisuryo, I. 1993. Sumber Informasi dalam Komunikasi Ilmiah. Makalah


disampaikan dalam Penataran Editor Majalah Ilmiah DP3M, DIKTI di Cisarua,
tanggal 4-9, dan 25-30 juanuari 1993.

Soeseno, Slamet. 1989. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.

Sudjana, Nana. 1987. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Makalah, Skripsi, Tesis,
Disertasi. Bandung: Penerbit Sinar Baru bandung.

Tarigan, Djago dan Henry Guntur Tarigan. 1987. Teknik Pengajaran Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.