Anda di halaman 1dari 30

Laporan Kasus

Gangguan Canpuran Anxietas dan Depresif


F41.2

Oleh :
Khairiah I4A013080
Lisda Rizky Amalia I4A013225
M. Rizki Valian Akbar I4A012083

Pembimbing
dr. Achyar Nawi Husin, Sp.KJ

UPF/Lab Ilmu Kedokteran Jiwa


Fakultas Kedokteraan ULM/RSUD dr. H. M. Anshari Saleh
Banjarmasin
Mei, 2017
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. R

Usia : 56 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Barito Hulu, Pelambuan,

Kalsel

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Agama : Islam

Suku : Banjar

Bangsa : Indonesia

Status Perkawinan : Menikah

Berobat Tanggal : 04 Mei 2017

II. RIWAYAT PSIKIATRIK

Diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis dengan pasien dan

keluarga pasien padatanggal 4 Mei 2017, pukul 11.30 WITA di Poliklinik

Psikiatri RSUD dr. H.M.Anshari Saleh Banjarmasin.


A. KELUHAN UTAMA

Cemas

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Alloanamnesis dengan keluarga pasien (Ny.X) 32 tahun

Pasien banyak pikiran jika dihadapkan dengan masalah, saat banyak pikiran

akan cemas, tangan gemetar, tubuh panas dingin, dan khawatir dengan keluarga

jika pasien meninggal. Nafsu makan pasien menurun, saat dirumah pasien sering

murung.

Pasien mengalami keluhan sejak sekitar 1 bulan yang lalu karena ada

masalah di keluarga. Pasien memiliki 3 anak, anak pertama laki-laki, anak kedua

dan ketiga perempuan, semua anak sudah berkeluarga dan memiliki 6 cucu. Suami

pasien sudah meninggal di tahun 1999. Masalah keluarga yang dimaksud adalah

anak ketiga pasien bercerai dengan suaminya sekitar 3 minggu, anak ketiga dan

suaminya sebelumnya tinggal serumah dengan pasien.

Autoanamnesis dengan pasien (Tn. R) 56 Tahun

Pasien bisa diajak berbicara, respon pasien baik dan kooperatif. Pasien

mengaku berumur 56 tahun, merupakan anak keempat dari delapan bersaudara,

sekarang sebagai ibu rumah tangga, dulu sempat berjualan sembako di rumah.

Pasien telah menikah di umur 12 tahun sebelum menarche, 2 tahun setelah

menikah baru menarche. Suami pasien meninggal di tahun 1999.

Sekitar 5 minggu yang lalu anak bungsu pasien yang tinggal serumah

dengan pasien memiliki masalah dengan suaminya, dan kemudian sekitar 3

minggu yang lalu bercerai dengan suaminya. Cucu pasien dari anak bungsu ini
ada 1 orang berusia 4,5 tahun. Masalah anak pasien dangan suaminya menjadi

masalah bagi pasien dan memenuhi kepala pasien sebagai pikiran.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

1. Riwayat Antenatal dan Prenatal

Riwayat ibu tidak ada keluhan ataupun sakit saat mengandung. Pasien lahir

cukup bulan dengan persalinan normal yang ditolong oleh bidan.

2. Riwayat Infanticy/ Masa Bayi (0-1,5 Tahun) Basic Trust vs

Mistrust

Pertumbuhan dan perkembangan normal sesuai usianya. Pasien memperoleh

ASI sejak usia 0 bulan hingga 2 tahun dan diberi makanan pendamping sejak usia

8 bulan.

3. Riwayat Early Childhood/Masa Kanak (1,5- 3 tahun)

Autonomy vs shame and doubt

Riwayat tumbuh kembang baik seperti anak seusianya. Tidak ada

keterlambatan dalam tumbuh kembangnya gizi cukup. Terdapat riwayat demam

tinggi yang menyebabkan kejang, tidak ada riwayat trauma kepala.

4. Riwayat Pre School Age/ Masa Prasekolah (3 - 6 tahun)

Initiative vs Guilt

Sepengetahuan kakak pasien, pasien merupakan anak yang rajin membantu

orang tua dalam melakukan tugas sehari-sehari.

5. Riwayat School Age/ Masa Sekolah (6 12 tahun) Industry vs

Inferiority
Pasien aktif dalam bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah dan

lingkungan rumah.

6. Riwayat Adolenscance usia (12 20 tahun) Identity vs Role

diffusion/Identity confusion

Pada usia 12 tahun pasien dijodohkan dengan suaminya yang merupakan

sepupu pasien sendiri. Saat menikah pasien belum menarche, menarche di usia 14

tahun.

7. Riwayat Pendidikan

Pasien hanya bersekolah hingga SD dan lulus tidak pernah meraih juara di

bidang akademik maupun non akademik. Pasien tidak melanjutkan kejenjang

berikutnya karena dijodohkan oleh orang tua

8. Riwayat Pekerjaan

Pasien pernah berjualan sembako di rumah saat suami pasien masih hidup.

D. RIWAYAT KELUARGA

Genogram :

Satu rumah

Keterangan :

Laki-laki :
Perempuan :

Meninggal :

Penderita :

Sakit :

Pasien adalah anak pertama dari lima bersaudara, tidak ada riwayat keluarga

serupa dengan keadaan pasien ataupun gangguan jiwa lainnya.

E. RIWAYAT SITUASI SEKARANG

Pasien tinggal bersama anak bungsunya, suami dan cucu pasien.

Lingkungan tempat tinggal pasien cukup baik, pasien tinggal di daerah yang

berdekatan dengan rumah tetangga.

F. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA

Pasien memikirkan masa depan anak dan cucunya jika pasien meninggal.

Pasien menyukai lingkungan di sekitarnya karena hubungan pasien dengan

tetangga cukup baik dan ramah.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LANJUT

1. STATUS INTERNA

Keadaan umum : Pasien rapi dan terawatt tinggi

tegak, kulit sawo matang, dan tampak tenang.

Gizi : Baik

Tanda vital :

TD = 120/90 mmHg
N = 102kali/menit

RR = 20 kali/menit

T = 36,7oC

SpO2= 97%

a) Kulit

Inspeksi : purpura(-),Anemis(-),ikterik(-), hiperpigmentasi(-)

Palpasi :nodul(-),sclerosis(-),atrofi(-)

b) Kepala dan Leher

Inspeksi : normosefali

Palpasi : Pembesaran KGB (-/-),peningkatan JVP (-/-)

c) Mata

Inspeksi : konjungtivaanemis(-/-), skelera ikterik (-/-),

merah (-),pendarahan,mata berair(-), ptosis(-),

pandangan kabur (-/-)

Funduskopi : tidak dilakukan

d) Telinga

Inspeksi : Serumen minimal, Sekret (-/-)

Palpasi : Nyeri mastoid (-/-)

e) Hidung

Inspeksi : epiktasis (-/-)

Palpasi : nyeri (-/-)


f) Mulut

Inspeksi : Perdarahan gusi (-), pucat (-), sianosis(-),

stomatitis(- ),leukoplakia (-)

g) Toraks

Inspeksi : simetris

Palpasi : fremitus vokals simetris

Perkusi :sonor

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, wheezing (-/-) rhonki (-/-)

h) Jantung

Inspeksi : Iktus tidak tampak

Palpasi : Iktus teraba pada ICS v midclavicula sinistra

Perkusi : Batas kanan : ICS IV linea sternalis dekstra

Batas kiri : ICS V linea mid klavikula sinistra

Auskultasi : S1S2tunggal, irama regular,murmur(-),gallop(-)

i) Abdomen

Inspeksi : Bentuk permukaan abdomen cembung, sikatrik(-)

striae(-), hernia(-)
Auskultasi : peristaltik usus normal 5x/menit

Perkusi : timpani

Palpasi : shifting dullness(-), hepatomegaly(-),

splenomegaly(-), massa (-)

Nyeri tekan (-)


- - -
- - -
- - -

j) Punggung

Inspeksi : Skoliosis (-), Kifosis (-), Lordasis(-)

Palpasi : Nyeri (-), nyeri ketok ginjal (-)

k) Ekstrimitas

Inspeksi : gerak sendi normal, deformitas(-), kemerahan (-),

varises (-)

Palpasi : panas(-), nyer(-),massa(-),edema(-)

2. STATUS NEUROLOGIKUS

N I XII : Tidak ada kelainan

Gejala rangsang meningeal : Tidak ada

Gejala TIK meningkat : Tidak ada

Refleks fisiologis : Normal

Refleks patologis : Tidak ada


IV. STATUS MENTAL

A. DESKRIPSI UMUM

1. Penampilan

Pasien laki-laki, usia 45 tahun, wajah sesuai umur, kulit sawo

matang, terawat dan badan berisi, terlihat eksperi murung.

Menggunakan kaos bewarna putih bercorak biru, memakai celana

panjang sampai mata kaki berwarna hitam.

2. Kesadaran

Compos mentis

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor

Normoaktif

4. Pembicaraan

Komunikasi verbal, dengan pembicaraan spontan.

5. Sikap terhadap Pemeriksa

Kooperatif

6. Kontak Psikis

Kontak (+), wajar(+).

A KEADAAN

Afek (mood) : hypothym


Ekspresi afektif :
1. Stabilitas : Labil
2. Pengendalian : Pasien

dapat mengendalikan emosi secara

wajar
3. Sungguh-sungguh/tdk : Sungguh-sungguh
4. Dalam/dangkal : Dalam
5. Skala diferensiasi : Sempit
6. Empati : Dapat diraba rasakan
7. Arus Emosi : Lambat

G. FUNGSI KOGNITIF

1. Kesadaran :

Compos mentis

2. Daya Konsentrasi :

Berkurang

3. Orientasi

- Waktu : Baik

- Tempat : Baik

- Orang : Baik

- Situasional : Baik

4. Daya Ingat

Jangka pendek : Baik

Jangka panjang : Baik

Segera : Baik

6. Pikiran abstrak : Baik

H. GANGGUAN PERSEPSI

1. Halusinasi A/V/G/T/O : ( +/- /- /+ /- )

2. Depersonalisasi/Derealisasi : (- /-)
3. Ilusi A/V/G/T/O : (-)

I. PROSES PIKIR

1. Bentuk Pikir : Nonrealistik


2. Arus pikir : Koheren

3. Isi Pikir

a. Opsesi : (-)

b. Preokupasi : (+)

c. Gangguan pikiran (delusi) :

Waham (-)

J. PENGENDALIAN IMPULS: terganggu

K. DAYA NILAI

1. Daya nilai sosial : Baik

2. Uji Daya nilai : Baik

3. Penilaian Realita : Baik

L. TILIKAN : T1 pasien menyangkal total terhadap penyakitnya

M. TARAF DAPAT DIPERCAYA : Dapat dipercaya

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Anamnesis :

Pasien merasa sedih saat memikirkan masa depan anak dan cucunya.

Ekspresi pasien tampak murung (afek depresi).

Aktivitas masih baik, tetapi badan terasa lemas karena makan sedikit.

Kesadaran : compos mentis (jernih)


Perilaku dan aktifitas psikomotor : normoaktif

Afek : hypothymia

Stabilitas : labil

Pengendalian : pasien dapat mengendalikan emosinya secara wajar

Sungguh-sungguh/tidak: sungguh-sungguh

Dalam/dangkal : dalam

Skala diferensiasi : sempit

Empati : Dapat dirabarasakan

Arus emosi : lambat

Halusinasi A/V : (-/-)

Tilikan : T1

Waham : (-)

Stressor psikososial pasien tinggal dengan anak bungsu yang memiliki masalah

dengan suaminya sampai bercerai.

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL

Aksis I : F. 20.1 Skizofrenia paranoid

Aksis II : none

Aksis III : none

Aksis IV : Perceraiyan dengan istri

Aksis V : GAF scale 60-51

VII. DAFTAR MASALAH


1. Masalah terkait fisik

Hipertensi

2. Masalah terkait psikologis

Adanya gangguan cemes disertai psikosomatis, tubuh gemetar, tangan

terasa panas dingin dan dada terasa sesak dan adanya depresi.

VIII. PROGNOSIS

Diagnosis penyakit : Dubia ad Bonam


Fase prodromal : Dubia ad Malam
Gangguan sistemik : Dubia ad Bonam
Stress Pencetus : Dubia ad Malam
Perjalanan penyakit : Dubia ad Bonam
Usia saat menderita : Dubia ad Bonam
Pola keluarga : Dubia ad Malam
Pendidikan : Dubia ad Malam
Lingkungan sosial : Dubia ad Bonam
Pengobatan psikiatri : Dubia ad Bonam

Kesimpulan : Dubia ad Bonam

IX. RENCANA TERAPI

Psikofarmaka : Chlorpromazine 25 mg 3x1

Haloperidol 1,5 mg 3x1

Trihexyphenidyl 2 mg 3x1

Psikoterapi : Support terhadap penderita dan keluarga (family therapy)

Religius : Bimbingan /ceramah agama, shalat berjamaah dan

pengajian.
Rehabilitasi : Sesuai bakat dan minat penderita
X. DISKUSI

A. Gambaran klinis

Ansietas dan gangguan dapat menampilkan diri dalam tanda dan gejala,

fisik dan fisikologi seperti gemetar, rasa goyah, renjatan, nyeri punggu dan kepala,

ketegangan otot, nafas pendek, mudah leleah, gampang kaget, hiperaktivitas

autonomik, palpitasi, berkeringat, tanggan berasa dinggin, diare, mulut kering,

sering kencing.4

Rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa mengganjal di

tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya. Gejala utama dari depresi adalah

afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang

menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja

sedikit saja) serta menurunnya aktivitas. Beberapa gejala lainnya dari depresi

adalah:

Konsentrasi dan perhatian berkurang.


Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Pandangan masa depan yang suram dan psimistis.
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang

Untuk gangguan campuran anxietas dan depresi, kedua gejala baik gejala anxietas

maupun gejala depresi tetap ada namun kedua-duanya tidak menunjukkan gejala

yang cukup berat atau lebih menonjol antara satu dengan lainnya. 3,4,6
B. Diagnosis

Kriteria DSM-IV-TR mengharuskan adanya gejala subsindrom ansietas

dan depresiserta adanya beberapa gejala somatik, seperti tremor, palpitasi, mulut

kering, dan rasa perutyang bergejolak. Sejumlah studi pendahuluan menunjukkan

bahwa sensitivitas dokter umum untuk sindrom gangguan campuran ansietas

depresi masih rendah walaupun kurangnya pengenalan ini dapat mencerminkan

kurangnya label diagnostik yang sesuai bagi pasien.6,7

Episode depresi berat tampa gejala psikosis :

Semua gejala depresi harus ada : afek depresif, kehilangan minat dan

kegembiraanserta berkurangnya energi yang menuju meningkatnya

keadaan mudah lelah.


Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya : konsentrasi dan

perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan

tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang

suram dan pesimis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau

bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang.


Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang

mencolok, maka mungkin pasien tidak mau atau tidak mampu untuk

melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian

secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih dapat

dibenarkan.
Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2

minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka
masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu dari

2 minggu.
Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,

pekerjaan atauurusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat

terbatas.

Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya

melibatkan idetentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan

pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi audiotorik

atau olfaktorik biasanya berupasuara yang menghina atau menuduh atau bau

kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju

stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai waham

atau halusinasi yang serasi atau tidak serasi dengan afek (mood congruent ).7

Pedoman diagnostik menurut PPDGJ-III

1. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-masing

tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan

diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan

walaupun tidak terus-menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran

berlebihan.
2. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, harus

dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas


fobik.3. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk

menegak kanmasing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut

dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika

karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan

depresif harus diutamakan.4

Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang

jelas, maka harusdigunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.

2.6 DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding mencakup gangguan ansietas dan depresif lainnya serta

gangguankepribadian. Di anatara gangguan ansietas, gangguan ansietas

menyeluruh merupakangangguan yang lebih besar kemungkinannya untuk

bertumpang tindih dengan gangguancampuran ansietas-depresif. Diantara

gangguan mood, gangguan dstimik, dan gangguan depresif ringan adalah

gangguan yang lebih besar kemungkinannya untuk bertumpang tindih dengan

gangguan campuran ansietas-depresif.7

Diantara ganggguan kepribadian, gangguan kepribadian mengindar,

dependen, dan obsesfi kompulsif dapar memliki gejala yang mirip dengan gejala

gangguan campuran ansietas-depresif. Diagnosis gangguan somatoform juga

harus dipertimbangkan.

PENATALAKSANAAN
Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat

dilakukan dengan 2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan

obat-obatan (farmakoterapi). Angka-angka keberhasilan terapi yang tinggi

dilaporkan pada kasus-kasus dengan diagnosisdini. Psikoterapi yang sederhana

sangat efektif, khususnya dalam konteks hubungan pasien dengan dokter yang

baik, sehingga dapat membantu mengurangi farmakoterapi yang tidak perlu. 4,6, 8

Sedangkan pada gangguan depresif, pertimbangkan penggunaan obat-

obatan maupun psikotrofi. Anti depresan yang baru, venlafaksin XR,

tampaknya cukup efektif dan aman untuk pengobatan gangguan cemas

menyeluruh. Gunakan benzodiazepin dengan tidak berlebihan (diazepam, 5

mg per oral, 3-4 kali sehari atau 10mg sebelum tidur) untuk jangka pendek

(beberapa minggu hingga beberapa bulan); biarkan penggunaan obat-obatan

untuk mengikuti perjalanan penyakitnya. Pertimbangkan pemberian buspiron

untuk pengobatan awal atau untuk pengobatan kronis (20-30 mg/hari dalam dosis

terbagi). Pasien tertentu yangtelah terbiasa dengan efek cepat benzodiazepin akan

merasakan kurangnya efektivitas buspiron. Anti depresan

trisiklik, SSRI , dan MAOI bermanfaat terhadap pasien-pasientertentu (terutama

bagi mereka yang disertai dengan depresi). Sedangkan pasien dengan gejala

otonomik akan membaik dengan -bloker (misal, propanolol 80-160 mg/hari). 4, 8

Sedangkan bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai taraf

hebatnya gejaladepresi dan besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan

dengan bijkasana dan penderita sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan

pikiran-pikiran bunuh diri kepada orang yang memahami masalahnya, tetapi pada
beberapa penderita ada yang tidak memberi tahukan keinginan bunuh dirinya

kepada pemeriksa karena takut di cegah. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau

rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawatdi rumah sakit dengan

pemberian terapi elektro konvulsi di samping psikoterapi dan obat antidepresan.7

Sebagian besar klinisi dan peneliti percaya bahwa kombinasi psikoterapi

dan farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi

berat. Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu terapi kognitif, terapi

interpersonal dan terapi perilaku, telah diteliti tentang manfaatnya di dalam

pengobatan gangguan depresi berat. Pada farmakoterapi digunakan obat anti

depresan, dimana anti depresan dibagi dalam beberapa golongan yaitu :

1. Golongan trisiklik, seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan

opipramol.

2. Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine.

3. Golongan MAOI-Reversibel (RIMA)

4. Golongan atipikal, seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine

SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor ), seperti: sertraline,

paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram. Dalam pengaturan dosis perlu

mempertimbangkan onset efek primer (efek klinis) sekitar 2-4 minggu, efek

sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam serta waktu paruh sekitar 12-48 jam

(pemberian 1-2 kali perhari). Ada lima proses dalam pengaturan dosis, yaitu :7,8,9
1.
Initiating Dosage (dosis anjuran), untuk mencapai dosis anjuran selama

minggu I.Misalnya amytriptylin 25 mg/hari pada hari I dan II, 50 mg/hari

pada hari III dan IV, 100mg/hari pada hari V dan VI.
2. Titrating Dosage (dosis optimal), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis

efektif kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150

mg/hari selama 7 sampai 15 hari(miggu II), kemudian minggu III 200

mg/hari dan minggu IV 300 mg/hari.


3. Stabilizing Dosage (dosis stabil), dosis optimal dipertahankan selama 2-3

bulan. Misalnyaamytriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian

diturunkan sampai dosis pemeliharaan.


4. Maintining Dosage (dosis pemeliharaan), selama 3-6 bulan. Biasanya

dosis pemeliharaan dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari.


5. Tapering Dosage (dosis penurunan), selama 1 bulan. Kebalikan dari

initiating dosage.Misalnya amytriptylin 150 mg/hari 100 mg/hari selama

1 minggu, 100 mg/hari 75 mg/hariselama 1 minggu, 75 mg/hari 50

mg/hari selama 1 minggu, 50 mg/hari 25 mg/hari selama1 minggu.

Dengan demikian obat anti depresan dapat diberhentikan total. Kalau

kemudian sindromdepresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan

seterusnya. Pada dosis pemeliharaan dianjurkan dosis tunggal pada malam

hari (single dose one hour before sleep), untuk golongan trisiklik dan

tetrasiklik. Untuk golongan SSRI diberikan dosistunggal pada pagi hari

setelah sarapan.4

Prognosis
Gangguan anxietas menyeluruh merupakan suatu keadaan kronis yang

mungkin berlangsung seumur hidup. Prognosis dipengaruhi oleh usia, onset,

durasi gejala dan perkembangan komorbiditas gangguan cemas dan depresi.

Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien dengan

gangguan kecemasan menyeluruh, perjalanan klinis dan prognosis gangguan


cemas menyeluruh sukar untuk ditentukan. Namun demikian, beberapa data

menyatakan bahwa peristiwa kehidupan berhubungan dengan onset gangguan

kecemasan umum.6
Terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas

meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan cemas menyeluruh.

Menurut definisinya, gangguan kecemasan umum adalah suatu keadaan kronis

yang mungkin seumur hidup. Sebanyak 25% penderita akhirnya mengalami

gangguan panik, juga dapat mengalami gangguan depresi mayor.8

Dapus

1. Sc
2. Dw
3. Dw
4. Dwd
5. Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III.
Jakarta:Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika
Atmajaya. Hal. 72-75. 2001.

6. Adiwena, Nuklear. Anxietas.Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas


Islam Indonesia. 2007

7. Maslim, Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian


IlmuKedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal. 12 2007.

8. Maria, Josetta. Cemas Normal atau Tidak Normal. Program Studi


Psikologi. FakultasKedokteran Universitas Sumatera Utara.

9. Kaplan HI, Saddock BJ. Gangguan Kecemasan. In : Wiguna M, editor.

Sinopsis Psikiatri. Edisi ketujuh Jilid Dua : Phyladelphia. Hal. 60-66.

2011.
LAMPIRAN

Autoanamnesa

Wawancara dilakukan pada tanggal 11 April 2017, pukul 17.30 WITA

P = Pemeriksa

S = Penderita

P = Assalamualaikum, kita kenalan dulu ngaran pian siapa? (sambil

menjulurkan tangan)

S = Normansyah (sambil memandang kadang berpaling dan lambat baru mau

bersalaman)

P = kaya apa perasaan pian hari ini ?

S = biasa ja

P = Berapa umur pian wahini?

S = 35an tahun.
P = rumah pian dimana ?
S = Barito Hulu
P = lawan siapa di rumh?
S = lawan kaka
P = sudah lah menikah?
S= sudah. Tp pisah dah
P = pebila itu ?
S = Januari 2017
P = sedihlah?
S = sedih ai(menunduk)
P = siapa yang membawa kesini?
S = kaka
P = pian tahu dimana lah ini?
S = Tahu ai, rumah sakit
P = ini pagi kah sore ?
S = sore
P = pian tahu kanapa dibawa kamari lah?
S = tahu jua. Aku merasa ada garing pang
P = Pian kenapa mehamuk ?
S=(diam) kada tahu jua aku kada ingat
P= bekisah pang tentang diri pian
S = (diam, menatap bingung, sambil menautkan jari tangan)
P = ada yang menyuruh pian mehamuk lah?
S=kadeda ai
P = pian ada lah malihat nang pina aneh?
S = adaai
P = nang kayapa?
S = bayangan kekanakan bukahan
P = bayangannya bepandir lah
S= ( diam berpikir) kada
P = habistu pang kayapa pian ? kawalah guring?
S= (diam berpikir) kada
P= sakit kepala, pusing adalah?
S= kadada
P = teruspang beapa pian kalo ada bayanganitu
S= aku badiam ai
P = habistu maulah ampih?
S= bahanu, kaina ada pulang
P = suah garing lah? Garing napa
S = suah ai. (diam)
P = masuk rumah sakit karna garing pang suahlah?
S= (diam)
P = pian begawi napa?
S= begawi wasi
P = mulai pabila?
S= lawas ai sudah
P =pabila itu?
S = sekitar 2014 kah
P = siapa kawan nang akrab lawan pian?
S = kadada ai, kakawananku banyak nang hiri wan sangit lawan aku
P = di wadah gawian pang kawan akrab siapa?
S= adaai kawanku (diam) ngarannya .sandi tpi kada akrab jua
P = kenapa jadi kawanan pian hiri lawan pian?
S = kada tahu jua
P = ini masih begawi lah pian?
S = ampih dah
P = pebila tu?
S= tahu lawas dah
P = kenapa ampih begawi?
S= kawa banyak nang kada ketuju wan aku di sana
P= suah maobat lah?
S = kadeda pang
P= suah menzinet lah?
S= kada suah jua
P= minum pang suah ah
S= suah ai pas lagi begawi
P= kenapa jadi meminum?
S= umpat kawan ai
P= kayapa rasnya habis meminum?
S= awak asa nyaman, asa kuat bagawi
P = tu pas begawi di wasi kah?
S= iih
P = coba pang sambat ngaran bulan
S= januari. Februari. Maret, april, mei, juni, juli agustus, september,
oktober, november, desember
P = nah sekarang pian balik urutannya
S = desember. November.
Oktober.september.agustus..juli..junimei, april, maret,
februari, januari. (sambil berhitung dengan tangan)
P = coba pang 100 7 berapa?
S = 9........3?
P = 93 7 pang berapa?
S = (diam)
P = hapali pang angka 212468
S = 212468
P = bila tedapat dompet di jalan pian apai?
S = dibulikakan, takuni ampun siapa
P = anak emas apa artinya?
S = nang disayangi
P = ingat lah tadi berapa nomor nya?
S = 21..24..6.......8
P= mandi sudahlah?
S= sudah
P = ya sudah makasih banyak lah, kena kita sambung lagi
S = .....iih.....
LAMPIRAN

Grafik perjalanan penyakit

Nama : Tn. N

Usia : 35 tahun

Agama : Islam

Status : Menikah

Pendidikan terakhir : SD

2
3

1. Akhir Deseber 2016


2. Awal Januari 2017
3. April 2017
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari


PPDGJ-III. Jakarta : PT Nuh Jaya, 2001.

2. Made wirnata. Skizofrenia. 2009.

3. Rambisa A. Skizofrenia Paranoid. www.google.com. Diakses tanggal 20 Maret


2014.

4. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropik Edisi Ketiga.


Jakarta: PT Nuh Jaya, 2007.

5. Maramis, W.S. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press:


Surabaya. 1994.

6. Kaplan, I. H and Sadock, J.B. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri Klinis,
Edisi Ketujuh. Binarupa Aksara Publisher: Jakarta

7. Hendarsyah F. Diagnosis dan tatalaksana skizofrenia paranoid dengan


gejala-gejala positif dan negatif. J medula Unila 2016;4(3):1-6.

8. American Psychiatric Association. Diagnosis and statistical manual of mental


disorders (DSM IV TM). American psychological Association (APA):
Washington DC/ 1996.