Anda di halaman 1dari 2

Dokter Bijak

[Minggu, Agustus 03, 2008 | 3 komentar anda ]

Bagaimana hubungan yang ideal antara dokter dengan pa-


sien? Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Banyak dokter menganggap dirinya serba-
bisa, sementara pasien minim sekali pengetahuan mengenai penyakitnya. Akhirnya, pa-
sien hanya "pasrah" di tangan dokter. Padahal, sebagai pasien, ia memiliki hak untuk
menentukan dan memilih kesehatannya sendiri.

Harus diakui, ada dokter yang bijak dan ada dokter yang tidak bijak. Dokter yang tidak
bijak akan mementingkan diri sendiri, memberi resep yang mahal, menyuruh pasien
untuk melakukan pemeriksaan yang tidak perlu, yang tergawat melakukan malapraktik
karena kurang ahli. Sedangkan dokter yang memiliki empati, moral, etika, logika yang
baik, ilmu yang luas, serta ketrampilan mutakhir. Itulah dokter bijak.
Kesimpulan di atas disampaikan Prof. Dr. dr. Daldiyono, SpPD-KGEH dalam bukunya
"Dokter Bijak dan Pasien Cerdas". Menurut Prof. Dal, begitu biasa disapa, pelayanan
penyembuhan penyakit seyogyanya berlangsung dalam suasana harmonis, kekeluargaan,
dan membahagiakan. Hal ini bisa berlangsung apabila dokter bekerja dengan
profesionalisme tinggi sehingga mampu memuaskan pasien. Salah satu aspek kepuasan
pasien adalah pasien memperoleh haknya dan diberi kesempatan melaksanakan
kewajibannya. Itu hanya dapat dilakukan oleh dokter bijak.
Tapi bukankah setiap dokter itu harus bijak? Penulis tidak sedang memilah-milah, ada
dokter bijak dan tidak bijak. Prof. Dal sedang berupaya meletakkan profesi kedokteran
pada fungsi luhurnya, setelah terjadi pergeseran nilai dalam pelayanan kesehatan saat ini.
Dimana kebanyak dokter saat ini berorientasi pada uang, bukan dokter yang tulus
membantu menyembuhkan si sakit.
Disorientasi dalam praktik ini, penulis ilustrasikan dalam bukunya sesuai dengan apa
yang diamati. Tidak sedikit dokter senior yang sangat diminati pasien, sehingga harus
berpraktik hingga dini hari. Padahal kelebihan pasien, bisa dirujuk atau didelegasikan
kepada dokter lain. Kondisi ini menyebabkan dokter tidak bisa bekerja maksimal dan me-
ngecewakan pasien. Seseorang pernah meminta pendapatnya mengenai resep yang
dituliskan oleh seorang dokter senior. Orang tersebut mendapatkan resep tersebut pada
pukul dua pagi. Menurutnya sang dokter sempat tertidur sejenak sebelum menuliskan
resep itu.
Adapula, sebagian dokter yang gemar menggunakan peralatan kedokteran meskipun tidak
pada tempatnya. Misalnya, penyakit batuk-pilek pun membuat dokter harus melakukan
pemeriksaan laboratorium lengkap. Keluhan pusing ditanggapi dengan CT-Scan. Situasi
yang kacau seperti ini direspon pula oleh pengacara, dengan dalih melindungi hak pasien.
Sayangnya, tidak semua pengacara mampu memilah mana yang kesalahan dokter dengan
mana yang kegagalan atau komplikasi. Beberapa pengacara yang tidak memiliki etika se-
ring membujuk pasien untuk mengajukan tuntutan kepada dokter, bahkan tanpa bayaran
bila kliennya kalah dalam pengadilan. Pada akhirnya, banyak pasien yang mengajukan
tuntutan hukum kepada dokter, sementara dokter bersikap defensif. Akhirnya semakin
banyak pasien yang lari berobat keluar negeri karena tak lagi mempercayai kompetensi
dokter Indonesia.
Hubungan dokter-pasien seperti ini, menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Uni-
versitas Indonesia ini, disebut provider dan consumer relationship. Hubungan ini
membuat jarak psikologis antara dokter dan pasien. Seolah ada dua belah pihak yang
menandatangani kontrak perjanjian dimana pasien harus membayar dan dokter harus
bekerja. Dengan demikian terasa unsur bisnis yang kental.
Akibat dari pola hubungan ini, membuat hubungan pasien dan dokter sedikit me-
renggang. Masyarakat mudah merasa tidak puas dan dokter bersikap defensif. Ber-
dasarkan pola hubungan ini tak heran bahwa dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen, praktik dokter dimasukan kedalam industri jasa, dan dengan sendirinya
praktik dokter masuk dalam undang-undang pelindungan Konsumen. Kondisi ini
membuat gelisah para dokter, sehingga beberapa dokter senior berusaha merumuskan
suatu pola hubungan baru, yaitu pola kemitraan pasien dan dokter.
Hubungan kemitraan adalah upaya bersama antara dokter dan pasien. Inilah hubungan
ideal yang dicita-citakan penulis dan dijabarkan dalam buku ini. Dalam kondisi sakit,
baik berat maupun ringan, baik sakit fisik maupun mental, seorang pasien membutuhkan
dokter. Di lain pihak, budaya di Indonesia jangan sampai disalah gunakan oleh dokter
yang tujuan utamanya adalah mencari uang tanpa memperhatikan kondisi pasien. Budaya
saling menghargailah yang mesti dikembangkan agar ada rasa saling percaya antara
pasien dan dokter.