Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN UMUM LAPANGAN MILAN

Lapangan Milan merupakan salah satu Lapangan yang berproduksi sejak


1972 dan berada di Blok ONWJ (Offshore North West Java) yang merupakan
bagian dari cekungan Jawa Barat Utara (North West Java Basin). Sub cekungan
yang terdapat pada Cekungan Jawa Barat Utara antara lain Sub Cekungan
Ciputat, Sub Cekungan Pasir Putih, Sub Cekungan Jatibarang, dan Sub
Cekungan Arjuna. Daerah penelitian merupakan bagian dari Cekungan Jawa
Barat Utara (North West Java Basin), yaitu lebih tepatnya berada pada Sub
Cekungan Arjuna bagian tengah (Central Arjuna). Sub Cekungan Arjuna
berada pada bagian tengah dari Cekungan Jawa Barat Utara yang letaknya 90
km ke arah timur laut dari kota Jakarta. Sub Cekungan ini merupakan satu dari
seri cekungan di ujung selatan lempeng mikro Sunda yang berupa sistem
setengah graben/half graben (Gresko dkk, 1995). Sub Cekungan Arjuna dibagi
menjadi 3 bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan (Gresko dkk, 1995).
Pembagian dari Sub Cekungan Arjuna bisa dilihat pada Gambar 1. Masing-
masing bagian mempunyai luas 700 km2 dan paling sedikit terdiri dari satu
sistem setengah graben.

Gambar 1.
Lokasi Sub Cekungan Arjuna pada Cekungan Jawa
Barat Utara (Noble dkk, 1997)
PRAKTIKUM PEMODELAN SIMULASI
Lokasi daerah telitian dapat dilihat pada Gambar 2.
250000 300000 350000 400000 450000

9450000
-5 00'

AV
AVS AA

APN
9400000
ZU

-5 30'

LL B
9350000
MM BQ HZ
L BZZ Y EW E FW FN
MQ
M
KLX/Y LESK - 6 00'
MB
UR
ES
F
U
KL KK FXE
JJ FF
OW
FS O
X

9300000 OC

GG
-6 30'

OFFSHORE NORTHWEST JAVA PSC BOUNDARY

106 30' 107 00' 107 30' 108 00' 108 30'
9250000

Gambar 2.
Lokasi Lapangan Milan

Terdapat lima even tektonik yang mempengaruhi perkembangan struktur dan juga
stratigrafi di Cekungan Jawa Barat Utara (Gresko dkk, 1995), antara lain :
1. Pre Rift (Kapur Akhir-Awal Eosen)
Subduksi dan perkembangan busur meratus menghasilkan metamorfisme regional
pada passive margin dataran Sunda. Terjadi deformasi, pengangkatan, erosi, dan
pembekuan magma dalam kurun Paleosen pada seluruh bagian di Arjuna (Gresko
dkk, 1995).
2. Syn-Rift I (Eosen)
Lempeng Hindia bertumbukan dengan lempeng Eurasia menyebabkan dextral
wrenching pada bagian selatan Paparan Sunda. Periode ini merupakan episode
ekstensional yang mengawali terjadinya rifting. Terdapat dua arah patahan yang
mempengaruhi perkembangan fase Rift I ini, berarah U 600 B sampai U 400 B
dan berarah utara-selatan dengan arah ekstensional U 300 - 700 T.
Endapan pada fase ini merupakan Formasi Jatibarang yang terdiri dari sedimen
asal daratan yang berumur Awal Oligosen terendapkan di atas basement dan
berada di bawah ketidakselarasan. Terdiri dari endapan lakustrin dan
vulkaniklastik yang terisolasi pada sistem half graben. Endapan vulkanik pada
Formasi Jatibarang terdiri dari vulkaniklastik andesitik dan tuf (Gresko dkk,
1995).
3. Syn-Rift II (Oligosen)
Pada Awal Oligosen, vulkanisme dan rifting I berhenti di wilayah Arjuna. Periode
ini berlainan dengan even tumbukan di busur depan Jawa dan Sumatera. Fase
tumbukan ini menyebabkan reorientasi dari arah kompresi regional yang
menghasilkan beberapa pengangkatan regional dan erosi sepanjang bagian selatan
Paparan Sunda. Terjadi rifting kembali pada akhir Awal Oligosen yang
berhubungan dengan pergerakan lateral blok Indocina dan membukanya Laut
Cina Selatan.
Pada Akhir Oligosen terjadi penghentian pergerakan sistem patahan pada
semenanjung Malay dan Thailand, selanjutnya terjadi pengangkatan yang
menyebabkan pergantian arah provenance dari sekitar punggung cekungan
menjadi arah regional dari utara Paparan Sunda.
Sedimen pada fase ini merupakan endapan sedimen Formasi Talang Akar Bagian
Bawah yang terendapkan di atas Formasi Jatibarang. Litologi pada Formasi
Talang akar bagian bawah terdiri dari konglomerat masif dan batupasir sedang-
kasar, batulempung lakustrin dan paleosols. Kemudian endapan ini disebut
dengan Anggota Kontinental Formasi Talang Akar (Ponto, 1998).
4. Post-Rift ( Oligosen Akhir - Miosen Awal)
Berhentinya pemekaran pada Laut Cina Selatan disebabkan tumbukan antara
fragmen Gondwana (Australia Timur/Papua) dengan batas timur Paparan Sunda.
Pada Oligosen Akhir, terendapakan Formasi Talang Akar Bagian Atas yang
terendapakan di atas Formasi Talang Akar Bagian Bawah dan terendapkan pada
bagian atasnya oleh batuan karbonat dari Formasi Baturaja. Anggota ini terdiri
dari perselingan batupasir halus-sedang, batulempung, batulanau, batubara, dan
batugamping yang terendapkan pada kondisi umum transgresif.
Batupasir pada Anggota Deltaik Formasi Talang Akar umumnya terpilah lebih
baik dan berbutir lebih halus daripada anggota Kontinental Formasi Talang Akar.
Terdapat pula endapan batubara dengan jumlah yang cukup banyak pada bagian
bawah dan berkurang ke arah atas seiring perubahan setting pengendapan menuju
marine Talang Akar. Pada Miosen Awal terendapkan Formasi Baturaja yang
terdiri dari batuan karbonat selaras di atas Formasi Talang Akar Bagian Atas
(Gresko dkk, 1995).
5. Inversi (Miosen Tengah Miosen Akhir)
Barat laut Australia bertumbukan dengan Palung Sunda yang mengakibatkan
terjadinya rezim kompresi pada cekungan Arjuna. Endapan yang dihasilkan pada
fase ini, terdiri dari Formasi Cibulakan dan Formasi Cisubuh.

2.1. Stratigrafi Regional


Secara keseluruhan terdapat enam unit Formasi yang terdapat pada daerah
penelitian. Formasi ini berkisar dari Oligocene-Resent dan terendapkan pada
lingkungan non marin, marginal marin dan laut dangkal. Kolom stratigrafi dari
Cekungan Jawa Barat Utara dapat dilihat pada Gambar 3. Formasi-formasi
tersebut dari tua ke muda antara lain:
1. Basement
Basement terdiri dari batuan metamorfik (metaquartzite).
2. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar merupakan unit sedimen tertua yang berumur Oligosen-
Awal Miosen. Formasi Talang Akar ini terdiri dari dua bagian antara lain Formasi
Talang Akar Atas dan Formasi Talang Akar Bawah. Formasi Talang Akar Atas
terdiri dari batulempung, batugamping dengan sedikit lapisan-lapisan tipis
batubara. Formasi Talang Akar Bawah terdiri dari batulempung karbonat,
batupasir, bitumen, dan batubara antrasit. Pada bagian bawahnya terdapat
batupasir konglomeratik dan batulempung non-kalkareous.
Batulempung pada formasi ini berwarna kecoklatan-abu-abu, lanauan, secara
lokal bergradasi menjadi bataulanau, non-calcareous, dan terdapat jejak burrow
setempat. Batupasir berkisar sangat kasar-konglomeratik setempat, menyudut
membundar tanggung, lanauan, dan bermatriks non-calcareous. Pada batupasir
juga terdapat sebagian kecil lamina-lamina batubara dan struktur sedimen
gradded bedding. Porositas pada batupasir beragam dari baik-buruk. Sementara
batugamping pada Formasi Talang Akar Bagian Atas berwarna krem-putih,
terkristalisasi, sebagian terdolomitisasi dan terdapat foram besar. Secara umum
berdasarkan data biostratigrafi diketahui bahwa Formasi Talang Akar Bagian Atas
terendapkan pada lingkungan inner sublitoral-11 outer litoral dan Formasi Talang
Akar Bagian Bawah terendapkan pada lingkungan litoral-continental supralitoral
(Bishop, 2000).
3. Formasi Baturaja
Formasi ini terbentuk pada Miosen Bawah, terdiri dari batugamping masif,
terekristalisasi sedang-kuat dan sebagian mengalami dolomitisasi. Berwarna
putih-krem, tersusun atas nodul-nodul rijang dan jarang terdapat foram besar,
tersementasi sedang dan memiliki matriks kristalin. Batugamping formasi ini
memiliki porositas buruk. Formasi Baturaja terendapkan pada lingkungan marin
khususnya inner sublitoral (Bishop, 2000).
4. Formasi Cibulakan Atas
Berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, interval formasi ini adalah pada
bagian bawah batugamping Formasi Parigi sampai bagian atas Formasi Baturaja.
Formasi Cibulakan Atas terdiri dari batulempung dan batupasir dengan lapisan
tipis batugamping. Batulempung berwarna abu-abu hijau calcareous-non-
calcareous, dibeberapa bagian batulempung ini bergradasi menjadi batulanau
seiring dengan bertambahnya kedalaman.
Batupasir pada Interval Main berbutir halus-kasar dan terpilah buruk, terdapat
glaukonit dibeberapa bagian dan berporositas sedang-baik. Semakin ke arah
bawah batupasirnya menjadi lebih berbutir halus, terpilah lebih baik, glaukonitik,
dan tersusun atas runtuhan cangkang dan bersifat calcareous. Sedimentasi pada
formasi ini terjadi pada laut terbuka (inner-middle sublitoral) (Bishop, 2000).
5. Formasi Parigi
Formasi Parigi terbentuk pada Miosen Atas, terdiri dari batugamping masif yang
tersusun atas cangkang serta batulempung yang terendapkan di atasnya.
Batugamping dari Formasi Parigi ini berwarna putih-krem, dapat diremas,
bertekstur packstone-grainstone yang terkristalisasi, tersusun atas glaukonit,
foraminifera besar, runtuhan cangkang dan koral. Sementara batulempung yang
ada sama dengan litologi yang terdapat di Formasi Cisubuh namun secara umum
tersusun atas material cangkang dan fauna bentonik. Batugamping Formasi Parigi
secara keseluruhan terbentuk pada lingkungan laut (inner-middle sublitoral)
(Bishop, 2000).
6. Formasi Cisubuh dan Sedimen Resen
Formasi ini terbentuk pada Miosen Atas - Resent, terdiri dari batulempung dan
batulanau dengan lapisan tipis batupasir dan batugamping dolomitik.
Batulempung berwarna abu-abu-kehijauan-cokelat keabuan, karbonan, lanauan,
dan bergradasi menjadi batulanau. Batulempung ini juga tersusun atas glaukonit
dan runtuhan cangkang. Sementara batupasir yang ada berbutir halus-sedang,
tersusun atas kuarsa, fragmen litik, dan material piroklastik. Pada bagian paling
atas terdapat sedimen Recent, yang terdiri dari batulempung, kuarsa alluvial dan
sedimen vulkaniklastik (Bishop, 2000) .
Gambar 3.
Kolom Stratigrafi dan Lithologi Cekungan Jawa Barat
Utara (Noble dkk, 1997)

PRAKTIKUM PEMODELAN SIMULASI