Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR DASAR ILMU TANAH


ACARA II
PENETAPAN KADAR AIR TANAH

Disusun Oleh:
Nama : Andita Eka Putri
NIM : A1L013146
Rombongan : C2
Asisten :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

1
I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanah merupakan media utama tempat tanaman tumbuh dan

berkembang. Oleh karena itu, tanah menjadi suatu kajian yang penting dalam

perkembangan dunia pertanian. Tanah dilihat secara luas, bukan hanya

sekedar tanah yang berdiri sendiri, tetapi lebih dari itu, tanah merupakan

suatu benda alam yang kompleks dan dengan keberadaannya, saling

mempengaruhi apa yang berada di sekitarnya, contohnya adalah air dan

segala organisme yang memanfaatkan tanah sebagai tempat hidup.

Begitu juga dengan air. Berbicara tanah tanpa menyinggung air

merupakan suatu hal yang tidak mungkin, mengingat fungsi mereka yang

saling terkait dalam menunjang perkembangan tumbuhan. Didalam tanah

terdapat dua zat primer yaitu udara dan air. Karena itu, perlu bagi kita untuk

sekiranya memahami interaksi antara 3 zat ini secara langsung di alam.

B. TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini adalah menetapkan kadar air contoh

tanah kering angin, kapasitas lapang dan kadar air maksimum tanah dengan

metode gravimetric (perbandingan massa air dengan massa padatan tanah)

atau disebut berdasarkan % berat.

2
II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam pertanian, tanah diartikan lebih khusus yaitu sebagai media

tumbuhnya tanaman darat. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur

degnan sisa sisa bahan organic dan organisme (vegetasi dan hewan) yang hidup

diatasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udar dan air

(Hardjowigeno, 2010)

Dalam definisi ilmiahnya tanah (soil) adalah kumpulan dari benda alam di

permukaan bumi yang tersusun dalam horizon horizon, terdiri dari campuran

bahan mineral, bahan organic, air dan udara, dan merupakan media untuk

tumbuhnya tanaman (Hardjowigeno, 2010)

Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk

kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air

menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air diperlukan untuk kelangsungan

proses biokimiawi organisme hidup, sehingga sangat essensial(Wulan, 2011).

Air tanah adalah semua air yang terdapat pada lapisan pengandung air (akuifer) di

bawah permukaan tanah, mengisi ruang pori batuan dan berada di bawah water

table. Akuifer merupakan suatu lapisan, formasi atau kumpulan formasi geologi

yang jenuh air yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan meluluskan

air dalam jumlah cukup dan ekonomis, serta bentuk dan kedalamannya terbentuk

ketika terbentuknya cekungan air tanah. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah

yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis

seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung

(Sosiawan, 2010).

3
Tanah terdiri dari 5 ( lima ) komponen yaitu bahan mineral, bahan organic,

udara, air, dan jasad renik. Bahan penyusun tanah yakni bahan organik, bahan

mineral, dan air merupakan satu kesatuan yang bercampur didalam tanah sehingga

sulit dipisahkan satu sama lainnya ( Sitanala, 1980)

4
III

METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain : botol

timbang, timbangan analitis, keranjang kuningan, cawan tembaga porus,

bejana seng, kertas label, spidol, pipet ukur 2 mm, bak perendam, serbet,

kertas saring, oven, tang penjepit dan eksikator.

Bahan yang digunakan adalah tanah kering angin yang berdiameter

2 mm dan 0,5 mm.

B. PROSEDUR KERJA

1. Kadar Air Tanah Kering Angin (Udara)


a. Botol timbang dan penutupnya dibersihkan, diberi label, lalu ditimbang (=

a gram).
b. Botol timbang diisi dengan contoh tanah kering angin yang berdiameter 2

mm, kurang lebih setengahnya, ditutup, lalu ditimbang kembali (= b

gram).
c. Botol timbang yang berisi tanah dimasukan ke dalam oven dengan

keadaan tutup terbuka. Pengovenan dilakukanpada suhu 105-1100C

selaqma minimal 4 jam.


d. Setelah waktu pengovenan selesai, botol timbang ditutup kembali dengan

menggunakan tang penjepit.


e. Botol timbang yang telah ditutup dikeluarkan dari oven dengan

menggunakan tang penjepit, lalu dimasukkan ke dalam eksikator selama

15 menit.
f. Setelah itu, botol timbang diambil satu persatu dengan menggunakan tang

penjepit untuk ditimbang dengan timbangan yang sama (= c gram).

5
2. Kadar Air Kapasitas Lapang
a. Keranjang kuningan dibersihkan, diberi label kemudian ditimbang (= a

gram).
b. Keranjang kuningan yang telah ditimbang diletakkan ke dalam bejana

seng.
c. Contoh tanah kering angin 2 mm dimasukkan ke dalam keranjang

kuningan setinggi 2,5 cm (sampai tanda batas) secara merata tanpa

ditekan.
d. Diteteskan air sebanyak 2 mL dengan pipet ukur secara perlahan-lahan

pada 3 titik tanpa persinggungan (1 titik = 0,67 mL ), kemudian bejana

seng ditutup, diletakkan ditempat yang teduh dan dibiarkan selama 15

menit.
e. Keranjang kuningan dikeluarkan dari bejana seng, diayak dengan hati-hati

hingga tertinggal 3 gumpalan tanah lembab, lalu ditimbang (= b gram).

3. Kadar Air Maksimum Tanah


a. Cawan tembaga porus dan petridis dibersihkan dan diberi label

secukupnya.
b. Pada dasar cawan tembaga porus diberi kertas saring, dijenuhi air dengan

menggunakan botol semprot. Kelebihan air dibersihkan dengan serbet/lap,

dimasukkan ke dalam petridis kemudian ditimbang (a=gram).


c. Cawan tembaga porus dikeluarkan dari petridis, isi dengan contoh tanah

halus (0,5 mm) kurang lebih 1/3 nya, cawan diketuk ketuk perlahan

sampai permukaan tanahya rata. Contoh tanah halus dtimbang lagi 1/3 nya

dengan jalan yang sama sampai cawan tembaga porus penuh dengan tanah.

Kelebihan tanah diatas cawan diratakan dengan colet.

6
d. Cawan tembaga porus direndam dalam bak perendam dengan ditumpu

batu dibawahnya agar air bebas masuk kedalam cawan tembaga porus.

Perendaman dilakukan selama 12 16 jam.


e. Setelah waktu perendaman selesai, cawan tembaga porus diambil dari bak

perendam. Permukaan tanah yang mengembang diratakan dengan colet,

dibersihkan dengan serbet (lap), dimasukkan kedalam cawan petridis yang

digunakan pada waktu penimbangan pertama, lalu ditimbang (= b gram ).


f. Cawan tembaga porus dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan

suhu 105 110C.


g. Setelah waktu pengovenan selesai, cawan diangkat dengan tang penjepit

dn dimasukan kedalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu diambil

dengan tang penjepit kemudian ditimbang beratnya (= c gram).


h. Tanah yang ada di dalam cawan tembaga porus dibuang, cawan tembaga

porus dibersuhkan dengan kuas, dialasi dengan petridis yang sama lalu

ditimbang beratnya (= d gram ).

7
IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

1. Kadar Air Tanah Kering Angin (Udara)

Kadar Air
Botol Timbang (a) + contoh (b) + setelah Tanah
Ulangan
Kosong (a g) tanah (b g) dioven (c g) Kering
Udara (%)
U1 24, 0459 33,4729 32,2681 14,6530 %

U2 22,5142 32,5859 31,2889 14,781 %

U3 21,7754 32,2150 30,8754 14,72 %

Rata - Rata 14,718 %

2. Kapasitas Lapang

Keranjang
(a) + Gumpalan Kadar Air Kapasitas
Ulangan Kuningan
Tanah Basah (b g) Lapang
Kosong (a g)
U1 75,4209 87,0086 35,5720 %

U2 79,5526 91,9878 33,88 %

8
Rata Rata 34,729 %

3. Kadar Air Maksimum

Petridis +
Cawan +
Cawan
Kertas (a) + tanah (b) setelah Kadar Air
Kertas
Ulangan Saring basah jenuh dioven 24 Maksimum
Saring
Jenuh (a air (b g) jam (%)
setelah
g)
dioven
U1 91,1129 148,754 115,0970 90,3750 133,157%

U2 92,3037 147,3740 114,7323 90,3742 126,0861%

Rata - Rata 129,6215%

B. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini mengkaji tentang air di dalam suatu massa

tanah. Baik kadarnya dalam tanah kering udara, kapasitas lapang, dan kadar

air maksimum. Air itu sendiri adalah suatu zat yang terdiridari H dan O yang

terdapat di alam bebas. Air dalam tanah dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a. Air bebas. Air kohesi dan air adhesi dalam pori mikro diikat kuat

melebihi gaya gravitasi, tetapi dalam pori pori mikro diikat kuat

9
melebihi gaya gravitasi, tetapi dalam pori pori makro tidak begitu

kuat sehingga segera terpengaruh oleh gaya gravitasi mengalir

kebawah, air inilah yang disebut air gravitasi (Hanafiah, 2009)


b. Air kapiler, menempati ruang pori makro di dalam tanah dimana daya

kohesi (tarik menarik antara butir butir air) dan daya adhesi (antara

air dan tanah) lebih kuat dari gravitasi. Air ini dapat bergerak ke

samping atau keatas karena gaya gaya kapiler. Sebagian besar dari air

kapiler merupakan air yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman

(Hardjowigeno, 2010).
c. Air higroskopik, menempati ruang pori sangat kecil dan menyelimuti

partikel padat tanah, yang ditahan tanah pada tegangan 31 10.000

atm. atau disebut juga air adhesi terjadi ketika adanya daya tarik

menarik antara air maupun liat kolidal yang bermuatan listrik. Air ini

juga terbentuk pada permukaan partikel nonkoloidal (tanpa muatan)

melalui gaya matrik. Adanya fenomena ini menyebabkan terjadinya

penurunan aktivasi gerakan molekul molekul air tersebut dan

penurunan energy air, sehingga terjadi pelepasan panas (Hanafiah,

2009).

Faktor faktor yang mempengaruhi ketesediaan air tanah menurut Hanafiah

(2009) adalah:

a. Tekstur tanah. Kadar air tanah bertekstur liat > lempung > pasir,

misalnya pada tegangan 1/3 atm (kapasitas lapangan), kadar air tanah

pada masing masingnya adalah sekitar 55%, 40% dan 15%. Hal ini

terkait dengan pengaruh tekstur terhadap proporsi bahan koloidal,

ruang pori dan luas permukaan adsorptive, yang makin halus

10
teksturnya akan makin banyak, sehingga makin besar kapasitas simpai

airnya. Hasilnya berupa peningkatan kadar dan ketersediaan air tanah.


b. Kadar Bahan Organik Tanah (BOT). BOT mempunyai pori pori

mikro yang jauh lebihbanyak ketimbang partikel mineral tanah

yangberarti luas permukaan penjerap (kapasitas simpan) air juga lebih

banyak, sehingga makin tinggi kadar BOT akan makin tinggi kadar

dan ketersediaan air tanah.


c. Senyawa Kimia. Garam garam dan senyawa senyawa

pupuk/ameliorant (pembenah tanah) baik alamiah maupun non

alamiah mempunyai gaya osmotic yang dapat menarik dan

menghidrolisis air, sehingga koefisien layu meningkat.

Konsekuensinya, makin banyak senyawa kimiawi di dalam tanh akan

menyebabkan kadar dan ketersediaan air tanah menurun.


d. Kedalaman solum/lapisan tanah menentukan volume simpan air tanah,

makin dalam makin besar sehingga kadar dan ketersediaan air juga

makin banyak. Kedalaman solum/apisan ini sangat penting bagi

tetanaman berakar tunggang dan dalam.

Penetapan kadar air tanah sangat penting untuk pertanian. Air merupakan

komponen primer untuk tanaman dapat melakukan fungsi fotosintesisnya. Tetapi

bukan berarti air dibutuhkan begitu saja dengan jumlah yang sembarang. Menurut

Hanafiah (2009), air tanah memiliki koefisien yang menunjukkan potensi

ketersediaan air anah untuk mensuolai kebutuhan tanaman, diantaranya adalah:

a. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi dimana seluruh ruang pori

tanah terisi oleh air. Air kondisi jenuh ini disebut air bebas atau air

gravitasi, mudah hilang dan bergerak relative cepat sehingga dapat

meilindi (leaching) unsure unsure hara yang dilaluinya. Pada kondisi

11
tanah berdrainase buruk atau suplai berlebihan (banjir atau tergenang)

pada periode lama akan berdampak buruk terhadap aerasi tanah, sehingga

respirasi akar, dan aktivitas mikrobia aerobic seperti bakeri amonifikasi

dan nitrifikasi akan terhenti sama sekali.


b. Koefisien Layu (titik layu permanen aau titik kelembaban kritis) adalah

kondisi kadar air tanah tang ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang

kebutuhan tanaman untuk aktivitas dan mempertahankan turgrnya,

sehingga tanaman menjadi layu secara permanen atau tak dapat pulih lagi.

Hal ini merupakan akibat terbatasnya suplai air / hujan padahal absorpsi

air oleh tanaman dan evaporasi terus terjadi.


c. Kadar Air Kapasitas Lapangan (field capacity), adalah kondisi dimana

tebal lapisan air dalam pori pori tanah mulai menipis, sehingga tegangan

antara air udara meningkat hingga lebih besar dari gaya gravitasi, air

gravitasi (pori pori makro) habis dan air tersedia (pada pori pori meso

dan mikro) bagi tanaman dalam keadaan optimum. Kondisi ini terhadi

pada tegangan permukaan laposan air sekitar 1/3 atm. Atau bisa disebutkan

bahwa kadar air kapasitas lapang adalah suatu keadaan tanah yang

merupakan tanah paling lembab dan mampu untuk menahan kadar air

terbanyak terhadap adanya gaya tarik menarik bumi atau gaya gravitasi.
d. Kadar air maksimum suatu jenis tanah ditentukan oleh daya hisap matriks

atau partikel tanah, kedalaman tanah dan pelapisan tanah (Hakim, 1986).

Tekstur tanah yang halus menyebabkan menyebabkan porositasnya rendah

sehingga mampu menahan air. Tinggi rendahnya kadar air maksimum

tergantung juga pada jenis tanah, sebab tanah juga mempunyai tekstur

yang berbeda pula.

Data diatas bisa didapatkan ketika kita menghitung kadar air pada tanah,

untuk itu, kadar air tanah adalah pentinguntuk dipelajari bagi mahasiswa

12
pertanian. Karena berdasarkan analisis diatas, dengan mengetahui kadar air tanah,

kita dapat mengetahui proses pelapukan mineral dan bahan organic, menduga

kebutuhan tanah akan air pada saat proses irigasi, agar tidak terjadi layu permanen

atau kekeringan.

Penetapan kurva retensi air tanah bisa didapat dengan metode langsung

dan tidak langsung, metode langsung dilakukan di lapangan yaitu dengan

mengukur kadar air di lapangan pada berbagai potensial matriks dengan

menggunakan tensiometer sedangkan metode laboratorium menggunakan pressure

plate apparatus dimana tanah diberikan tekanan tertentu (misal pF 1,0; pF 2,0 pF

2,54 dan pF 4,2) menggunakan alat tersebut dan dihitung kadar airnya

(Departemen Pertanian 2006).

Perbedaannya dengan penetapan kadar air kapasitas lapang dengan metode

pendekatan adalah, pada metode ini, tidak digunakan piringan yang akan

memberikan tekanan, melainkan hanya menetesi tanah pada tiga titik yang

berbeda. Sehingga akan didapatkan tanah yang dapat menyerap air secara

sempurna ditandai dengan bentuknya yang menggumpal.

Kadar air yang optimum untuk tanah adalah sekitar 25% dari keseluruhan

komponen tanah itu sendiri. Selebihnya tergantung pada jenis tanaman itu sendiri,

ada yang tahan terhadap kelembaban tinggi dan sebaliknya. Namun kenyataan

menunjukkan bahwa untuk pertumbuhan optimum, air harus ditambahkan bila

50% hingga 85% air tersedia telah habis dipakai (Hakim, 1986).

Tanah yang digunakan dalam praktikum adalah tanah vertisol. Tanah

dengan tekstur pasir dan berwarna kelabu, yang telah di ayak pada saringan 0,5

dan 2,0. Kami melakukan tiga kali percobaan yang menghitung kapasitas tanah

kering udara, kapasitas lapang, dan kadar air maksimum.

13
Secara garis besar, untuk mengetahui kapasitas air pada tanah kering udara

adalah dengan mengoven tanah tersebut selama beberapa jam dan dihitung massa

sebelum dan sesudah pengovenan.

( bc )
100
Kadar Air = ( ca )

Dalam 3 kali pengulangan, didapatkan bahwa kadar air tanah kering udara

pada tipe vertisol adalah 14,718%. Tanah yang diovenkan beratnya akan

berkurang dari berat awal. Hal ini dikarenakan hilangnya kadar air yang

terkandung pada tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan literatur Craig (1994) yang

menyatakan bahwa energi yang telah dilepaskan ketika air berubah dari uap air

menjadi cairan. Pembebasan panas dan pembentukanair hujan merupakan sumber

energi utama untuk sistem hujan. Bila butir-butir air hujan jatuh ke atas tanah

kering dan diserap oleh permukaan partikel tanah, terjadi penurunan lebih lanjut

dalam pergerakan dan mempunyai tapak positif dan negative.

Hal ini disebabkan oleh kadungan bahan organik antara 2- 8 % dengan

kapasitas pengikatan air yang tinggi sehingga terasa seperti sabun jika diremas

(Munir, 1996).

Setelah itu kami melakukan kapasitas lapang tanah dengan meneteskan 2

ml air pada tanah di tiga titik yang berbeda. Air ini akan diserap oleh suatu massa

tanah dengan berbentuk gumpalan. Gumpalan tanah ini akan dipisahkan dari

kesatuan tanah dalam bejana aluminium dengan cara diayak. Setelahnya, massa

tanah tersebut diukur dan dimasukkan kedalam perhitungan.

14
2
100 + Ka
Kapasitas Lapang: b(a+2)

Pada dua kali pengulangan, didapatkan rata rata kapasitas lapang tanah vertisol

adalah 34,729%. Prosentase yang tidak terlalu tinggi. Hal ini sesuai dengan Foth

(1988) bahwa kapasitas tanah untuk menahan air juga berhubungan erat dengan

struktur dan tekstur tanah. Penelitian menunjukkan bahwa air tersedia pada

beberapa tanah berhubungan erat dengan kandungan liat, debu, dan pasir. Tanah-

tanah dengan tekstur halus (liat) sangat mudah menahan air tersedia yang lebih

banyak, sedangkan tanah pasir lebih mudah kering dibandingkan dengan tanah

bertekstur liat (Foth, 1988).

Kegiatan terakhir pada acara II adalah menghitung kadar air maksimum

dari suatu tanah, dalam hal ini adalah tanah vertisol. Kadar air maksimum tanah

secara garis besar adalah membiarkan tanah menyerap air selama 12 16 jam

sampai ia mencapai titik jenuh, atau keadaan dimana air sudah tidak dapat terserap

lagi kedalam tanah.

( ba )(cd )
Kadar Air Maksimum: 100
(cd )

Setelah dua kali pengulangan, didapatkan bahwa kadar air maksimum tanah rata

rata dalah 129,6215%. Prosentase yang cukup tinggi untuk ukuran tanah vertisol.

Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan

(diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan

drainase yang kurang baik. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena

adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan gravitasi.

15
Kadar air maksimum suatu jenis tanah ditentukan oleh daya hisap matriks atau

partikel tanah, kedalaman tanah dan pelapisan tanah (Hakim, 1986). Tekstur tanah

yang halus menyebabkan menyebabkan porositasnya rendah sehingga mampu

menahan air. Tinggi rendahnya kadar air maksimum tergantung juga pada jenis

tanah, sebab tanah juga mempunyai tekstur yang berbeda pula. Dalam hal ini,

tanah vertisol yang telah diayak menjadi 0,5 termasuk kedalam tanah dan

mempunyai daya serap yang tinggi terhadap air, oleh karena itu didapatkan hasil

kadar air maksimum yang melebihi 100%.

16
V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Didapatkan bahwa kadar air tanah kering udara untuk tipe vertisol

setelah tiga kali pengulangan dan diambil rataannya adalah 14,718%.

Kapasitas lapang untuk tanah vertisol setelah dua kali pengulangan dan

diambil rataannya adalah 34,729%. Kadar Air Maksimum untuk tanah

vertisol setelah dua kali pengulangan dan diambil rataannya adalah

129,6215%

B. SARAN

Ada baiknya untuk menaruh perhatian lebih pada pengukuran, baik

pengukuran panjang maupun massa, karena pada praktikum kali ini, pengukuran

hasil pengamatan merupakan suatu hal primer yang dapat mempengaruhi

penarikan kesimpulan nantinya. Serta untuk menunjang ada baiknya dilakukan

perbaikan pada timbangan sensitive dengan ketelitian sampai 0,0001 agar

pengukuran menjadi akurat.

17
DAFTAR PUSTAKA

Craig, R.F. 1994. Mekanika Tanah. Edisi ke 4. Erlangga, Jakarta

Foth, Henry. 1988. Dasar Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press :

Yogyakarta.

Hakim, Nurhajati dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. UNILA. Lampung.

Hanafiah, K., A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Press. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2010. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo : Jakarta

Munir, Moch. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT Dunia Pustaka Jaya.

Jakarta.

Sosiawan, Hendri. 2010. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Diakses pada

12 April 2013

Wulan, 2011. Penetapan Kadar Air Metode Oven Pengering.

http://wulaniriky.wordpress.com/2011/01/19/penetapan-kadar-air-

metode-oven-pengering-aa/, diakses 27 Maret 2014

18
LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR DASAR ILMU TANAH
ACARA III
DERAJAT KERUT TANAH

Disusun Oleh:
Nama : Andita Eka Putri
NIM : A1L013146
Rombongan : C2
Asisten :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

19
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tanah sebagai benda alam mempunyai karakterisitik yang khusus

untuk menunjang fungsinya sebagai media tumbuh tanaman. Salah satu sifat

tanah adalah kemampuannya untuk mengembang dan mengerut sesuai

dengan kondisi alam.


Pada kondisi lembab, atau cenderung basah dan menggenang,

maka tanah akan terlihat lebih mengembang dan banyak daripada

sebelumnya. Seperti yang sudah dilakukan pada Acara I bahwa ini disebabkan

oleh sifat tanah yang dapat menyerap air sampai ke batas serapan maksimum,

dimana tanah pada saat itu sudah tidak dapat menyerap air lagi.
Tak jarang pula, ketika musim kemarau datang, tanah tanah di

persawahan, yang biasanya selalu tergenang, karena kenaikan suhu maka

lapisan permukaan tanah menjadi kering sampai pecah pecah. Atau jika kita

analisa lagi, pecahan ini timbul karena tanah yang mengerut. Mengapa tanah

dapat mengembang dan mengerut sesuai dengan perubahan iklim?. Inilah

yang disebut dengan derajat kerut tanah.

B. TUJUAN
Untuk mengetahui besarnya derjat kerut tanah dari beberapa jenis

tanah dan membandingkan besarnya derajat kerut antar jenis tanah yang

diamati.

20
II

TINJAUAN PUSTAKA

Secara kasaran, zarah mineral tanah dapat dipilah menjadi 3

kategori. Yang berdiameter lebih besar daripada 2 cm disebut batu, berdiameter

antara 2 cm dan 2 mm disebut krikil, dan berdiameter lebih kecil daripada 2 mm

disebut bahan tanah halus (Kohke, 1968).

Dalam analisis agihan besar zarah, bahan tanah halus dipisahkan

lebih lanjut menjadi tiga fraksi utama pasir, debu (lanau), dan lempung. Fraksi

tanah ialah sekelompok zarah tanah yang berukuran diantara batas-batas tertentu

(Notohadiprawiro, 1998).

Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan mengerut

(bila kering). Berat ringannya tanah akan menentukan besarnya derajat kerut

tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain

itu, bahan organik tanah berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan

bahan organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil (Notohadiprawiro,

1998).

Beberapa jenis tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah)

dan mengkerut (bila kering). Akibatnya pada musim kering karena tanah

mengerut maka tanah menjadi pecah-pecah. Sifat mengembang dan mengerutnya

tanah disebabkan oleh kandungan mineral liat montmorillonit yang tinggi.

Besarnya pengembangan dari pengerutan tanah dinyatakan dalam nilai COLE

(Coefficient Of Linear Extensibility) (Hardjowigeno,2010).

21
III

METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN

Contoh tanah halus (>0,5 mm), botol semprot, air, cawanporselin, colet,

cawan dakhil, jangka sorong, dan serbet/tissue.

B. PROSEDUR KERJA

1. Tanah halus diambil secukupnya, dimasukan kedalam cawan porselin,

ditambah air dengan menggunakan botol semprot, lalu diaduk secara

merata dengan colet sampai pasta tanah menjadi homogen.


2. Pasta tanah yang sudah homogen tadi dimasukan kedalam cawan dakhil

yang telah diketahui diameternya dengan menggunakan jangka soron

(diameter awal).
3. Cawan dakhil yang telah berisi pasta tanah tersebut dijemur dibawah

terik matahari, kemudian dilakukan pengukuran besarnya pengkerutan

setiap 2 jam sekali sampai diameternya konstan (diameter akhir).

22
IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

No Jenis Ulanga Pengamatan ke Derajat


1 2 3 4
. tanah n Kerut
U1 34,0 32,33 32,0 31,5 7,3529
1 Vertisol U2 35,1 33,6 32,1 31,9 9,1168
X 34,55 32.95 32,05 31,7 8,24
U1 34,1 32,6 28,09 28,02 17,82
2 Inceptisol U2 34,1 31,2 28,07 28,07 17,68
X 34,1 31,9 28,08 28,045 17,75
U1 35,6 33,8 32,5 32,5 8,77
3 Ultisol U2 35,5 33,7 32,4 32,4 8,73
X 35.55 33,75 32,45 32,45 8,72
U1 35,4 35,1 34,9 34,5 2,54
4 Andisol U2 35,4 35,1 35 34,5 2.54
X 35,4 35,1 34,5 34,5 2.54
U1 35,1 35,1 34,6 33,3 5,12
5 Entisol U2 35,7 35,1 33,7 32,7 8,4
X 35,4 35,1 34,15 33,0 6,77

B. PEMBAHASAN

Tanah mineral adalah tanah pada lapisan bagian atas di bawah

lapisan humus, yang umumnya terdapat pada tanah di bawah hutan. Humus

umumnya meloloskan air ke bawah secara cepat, sedangkan tanah mineral

oleh para hidrologis dipandang sebagai lapisan tanah yang juga meloloskan

air (infiltrasi) namun tidak secepat humus (Anonim 1, 2012). Sedangkan

humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan

batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.Humus dikenal sebagai sisa-

23
sisa tumbuhan dan hewan yang mengalami perombakan oleh organisme

dalam tanah, berada dalam keadaan stabil, berwarna coklat kehitaman. Secara

kimia, humus didefinisikan sebagai suatu kompleks organik makromolekular

yang mengandung banyak kandungan seperti fenol, asam karboksilat, dan

alifatik hidroksida. (Anonim 2, xxxx)

Derajat kerut tanah adalah kemapuan tanah untuk mengembang

dan mengerut. Tanah mempunyai sifat mengembang (bila basah) dan

mengerut (bila kering).Tanah yang banyak mengandung pasir akan

mempunyai tekstur yang kasar, mudah diolah, mudah merembaskan air dan

disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya tanah yang banyak mengandung liat

akan sulit meloloskan air, aerasi jelek, lengket dan sukar pengolahannya

sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986). Sehingga derjaat kerut tanah

dapat diartikan sebagai koefisien yang dimiliki tanah untuk mengerut dan

mengembang.

Pada pengukuran derajat kerut tanah, tahap pertama dilakukan

pembuatan pasta dari tanah. Hal ini dilakukan untuk menciptakan kondisi

yang mendekati dengan kondisi alam. Karena menurut literature sebelumnya

bahwa tanah mempunyai kemampuan mengembang pada kondisi basah, dan

mengerut pada kondisi kering. Untuk menciptakan kondisi basah ini maka

diubah bentuk pasir menjadi pasta dengan menambahkan air secukupnya.

Setelahnya, pasta ditaruh dalam cawan dakhil yang telah diketahui

diameternya lalu di jemur di bawah sinar matahari. Jika sebelumnya dibuat

pasta untuk menciptakan kondisi basah, maka dijemur adalah untuk

menciptakan kondisi kering, agar air dalam pasta tanah tersebut dapat

24
menguap, sehingga kita dapat melihat fenomena mengembang dan mengkerut

yang membuktikan bahwa derajat kerut pada suatu tanaman itu dapat diamati.

Cawan dakhil dijemur selama kurang lebih 10 jam dibawah terik

matahari. Setiap dua jam sekali dicatat ukuran dari setiap pasta tanah yang

mulai mengkerut. Pengamatan dilakukan hingga empat kali sampai

didapatkan diameter kerutan yang kurang lebih telah konstan atau tak lagi

mengkerut, pada saat itulah penjemuran dihentikan. Tetapi karena cuaca yang

tidak memungkinkan ketika kami melakukan praktikum, maka penjemuran

dilakukan selam dua hari sampai tanah benar benar kering dan teguh.

Setelah empat kali, data pengamatan dikumpulkan dari masing

masing tipe tanah dan dimasukkan ke dalam perhitungan

diameter awaldiameter akhir


100
Derajat Kerut: diameter awal

Dari kelima tipe tanah, didapatkan derajat kerut, mulai dari yang tertinggi

adalah inceptisol dengan derajat kerut mencapai 17,75%, lalu ultisol dengan

8,72%, vertisol dengan 8,24%, entisol dengan 6,77%, dan andisol dengan

2,54%. Jadi dapat disimpulkan bahwa inceptisol mempunyai potensi untuk

mengembang dan mengurut paling tinggi dibanding yang lain dan andisol

sebaliknya. Mengapa ini terjadi?

Tanah andisol mempunyai unsur hara yang cukup tinggi hasil dari

abu vulkanik. Tanah ini sangat subur sehingga tanah jenis ini baik untuk

ditanami. Selain unsur hara, tanah andisol memiliki kandungan zat-zat

organic yang berada di lapisan tengah dan atas sementara pada bagian tanah

sangat sedikit unsure hara dan zat organiknya (Hardjowigeno, 2010). Hal ini

berarti tanah andisol memiliki bahan organic dan unsure hara yang cukup

25
tinggi. Kandungan bahan organic yang tinggi mencegah tanah mengalami

pengerutan dan pengembangan secara radikal karena perbedaan suhu. Hakim

(1986) pun senada dengan hal ini, ia berpendapat bahwa bahan organic adalah

bahan pemantap agregat tanah, yang artinya bahwa bahan organic merupakan

bahan yang dapat mempertahankan tanah dalam bentuk asalnya.

Sedangkan pada tanah inceptisol yang mempunyai derajat kerut

paling tinggi ini, disebabkan oleh profilnya mengandung horizon yang

diperkirakan terbentuk agak cepat dan kebanyakan hasil dari perubahan

batuan induk. Horizon tidak menggambarkan pelapukan yang hebat

(Buckman, 1982). Karena kebanyakan berasal dari pelapukan batuan induk

menyebabkan tanah inceptisol disebut tanah kurus yang minim bahan organic

dan unsure hara. Oleh karena itu tanah inceptisol mempunyai derajat kerut

yang tinggi karena hanya mempunyai sedikit bahan organic yang menjadi

bahan pemantap agregat tanah.

Pada Vertisol dan Ultisol, menunjukkan nilai derajat kerut yang

hampir sama, hal ini disebabkan oleh komponen penyusun yang hampir sama.

Dalam Buckman dan Brady (1982), vertisols (berasal dari L. Vertere; verto;

vertic atau pembalikan) adalah jenis tanah mineral yang mempunyai warna

abu kehitaman, bertekstur liat dengan kandungan lempung lebih dari 30%

pada horizon permukaan sampai kedalaman 50 cm yang didominasi jenis

lempung montmorillonit sehingga dapat mengembang dan mengerut. Pada

musim kering tanah ini membentuk retakan yang dalam dan lebar, sehingga

sejumlah bahan yang ada di lapisan atas tanah dapat runtuh masuk ke dalam

retakan, akan menimbulkan pembalikan sebagian massa tanah (invert).

26
Ultisol lebih hebat dilapukkan, tanah ini juga mempunyai horizon

argilik (lempung) dengan kejenuhan basa lebih rendah dari 35 %. Hal ini

membuktikan bahwa pada tanah basa dengan kandungan bahan organic

rendah, menyebabkan derajat kerut yang ditimbulkan besar.

Dari hasil pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa derajat

kerut tanah dipengaruhi oleh jumlah bahan organic dan liat dari suatu massa

tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Hakim ddk (1986), bahwa semakin

tinggi kandungan liat, semakin besar derajat kerut tanah. Selain itu, bahan

orgaik tana berpengaruh sebaliknya. Semakin tinggi kandungan bahan

organik tanah, maka derajat kerut tanah semakin kecil. Tanah-tanah dengan

kandungan bahan organik atau dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK

lebih tinggi dari pada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah

atau tanah-tanah berpasir. Jenis-jenis mineral liat juga menentuka besarnya

KTK tanah.

Tanah secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu tanah yang

banyak mengandung pasir akan mempunyai tekstur yang kasar, mudah

diolah, mudah merembaskan air dan disebut sebagai tanah ringan. Sebaliknya

tanah yang banyak mengandung liat akan sulit meloloskan air, aerasi jelek,

lengket dan sukar pengolahannya sehingga disebut tanah berat (Sarief, 1986).

Menurut Mashudi (2006), pengolahan tanah ringan cukup

dilakukan dengan membajak dan menggaru satu kali bila dirasa perlu dan

akhirnya dikerjakan dengan brujul. Apabila lahan yang digunakan tidak dapat

dilalui bajak, tanah tersebut harus dicangkul. Jika pada saat menggaru masih

didapati sisa sisa tanaman padi / jerami, maka sisa sisa tanaman itu

dibenamkan dalam tanah dengan cangkul. Saluran air cukup dibuat pada

27
bagian tepi petak saja. Saluran ini dibuat sebelum atau sesudah penggaruan.

Sedangkan pengolahan lahan yang memiliki kondisi tanah berat, diawali

dengan proses pembajakan. Setelah pembajakan pertama selesai, kemudian

baru dibuat saluran air (drainase). Pembuatan saluran air ini diusahakan

dengan penggalian tanah dari tempat yang tinggi membujur ke tempat yang

rendah. Penggalian tanah menurun ini dimaksudkan untuk mempermudah

pembasahan tanah, memperlancar aliran air, dan menghindari adanya

penggenangan disekitar bedengan. Setelah pembuatan saluran ini selesai dan

kondisi tanah sudah cukup kering, pekerjaan dilanjutkan dengan penggaruan.

Penggaruan ini dimaksudkan untuk menghancurkan gumpalan gumpalan

tanahdan sekaligus meratakannya. Apabila pada saat itu masih terdapat

gumpalan tanah yang tidak dapat dihancurkan oleh garu, gumpalan tanah tadi

dapat dihancurkan dengan cangkul, sehingga tanah itu betul betul bisa

menjadi gembur. Pada tanah yang gembur proses pergantian udara dapat

lancer. Di samping itu bakal kuncup buah (ginofora) bisa menembus lapisan

tanah dengan mudah, perkembangan serta pembesaran polong pun lebih

cepat, tanpa mengalami kesulitan (Mashudi,2006 )

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

28
Besarnya derajat kerut tanah dapat diketahui dari menghitung

perbandingan antara selisih volume dan volume awal. Didapatkan 5 derajat

kerut dari 5 tipe tanah berbeda yaitu:

Vertisol = 8,24%
Inceptisol = 17,75%
Ultisol = 8,72%
Andisol = 2,54%
Entisol = 6,77%

Dari kelima tipe itu didapatkan bahwa tipe tanah Incepisol mempunyai

derajat kerut yang tinggi karena kandungan litany, sedangkan andisol

terendah karena berasal dari pelapukan langsung batuan induk.

B. SARAN

Faktor cuaca adalah hal penting mengingat ada proses pengeringan

dalam praktikum kali ini, oleh karena itu harapnya ditaruh perhatian lebih

terhadap cuaca agar objek amatan tidak rusak sehingga harus diulang lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1 .2012. Tanah Mineral. http://pengertian-

definisi.blogspot.com/2012/01/tanah-mineral.html. (diakses 28 Maret

2014)

29
Anonim 2. xxxx. Humus. http://id.wikipedia.org/wiki/Humus. (diakses 28 Maret

2014)

Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr.

Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Hakim, N. Et all. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung :

Lampung.

Hardjowigeno, Sarwono.2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo : Jakarta.

Kohnke, H. 1968. Soil Physic.Tata Mc Graw- Hill Publishing. Company Ltd :

Bombay.

Mashudi. 2006. Bertanama Kacang Tanah dan Pemanfaatannya. Azka Press.

Jakarta

Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 1998. Tanah Dan Lingkungan. Direktorat

Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta.

Sarief, Saifuddin.1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana : Bandung.

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR DASAR ILMU TANAH
ACARA IV
PENGAMATAN TANAH DENGAN INDRA

30
Disusun Oleh:
Nama : Andita Eka Putri
NIM : A1L013146
Rombongan : C2
Asisten :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanah mempunyai ciri cirri khas sehingga dapat dibedakan oleh

manusia. Ciri cirri tersebut menyangkut warna, tekstur, struktur dan lain lain.

31
Hal yang dapat di rasakan melalui kelima indera manusia. Pengidentifikasian

tanah dengan indra dapat sangat membantu ketika sudah terjun ke lapangan

dan dihadapkan pada kondisi mendadak, dimana kita dipaksa berfikir

bagaimana cara yang tepat sesuai dengan jenis tanah, tanpa adanya catatan

atau persiapan terlebih dahulu, karena memang, indera manusia adalah alat

paling canggih yang diberikan Tuhan kepada kita.

Setiap cirri tanah sebenarnya mewakili paling tidak satu sifat ak

terlihat dari tanah tersebut, misalnya, jika tanah tersebut berwarna hitam

maka kemungkinan besar tanah tersebut mengandung bahan organic yang

cukup banyak dan baik untuk pertumbuhan tanaman, dan banyak lagi contoh

lainnya. Tetapi walaupun begitu, ternyata pengamatan tanah dengan indra

bukan suatu hal yang mudah, tetapi juga membutuhkan pengalaman dan

kontak langsung terhadap objek amatan, yaitu tanah.

B. TUJUAN

Menetapkan warna dasar beberapa jenis tanah dengan

menggunakan buku MSCC, tekstur tanah, struktur tanah, dan konsistensi.

II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi tanah menurut Foth adalah bahan mineral yang tidak pepat

(unconsolidated) pada permukaan tanah yang dipengaruhi oleh factor-faktor

genetic dan lingkungan, yaitu: iklim,organisme serta topografi yang semuanya

32
berlangsung pada suatu periode. Tanah itu adalah tubuh alam (natural body) yang

terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural

forces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) dipermukaan bumi.(Hakim,

1986).

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa fungsi pertama tanah sebagai

media tumbuh adalah sebagai tempat akar mencari ruang untuk berpenetrasi

(menelusup), baik secara lateral maupun horizontal atau vertical. Kemudahan

tanah untuk dipenetrasi ini tergantung pada ruang pori ori yangterbentuk

diantara partikel partikel tanah (tekstur dan struktur), sedangkan stabilitas

ukuran ruang ini tergantung pada konsistensi tanah terhadap pengaruh tekanan.

Kerapatan porositas tersebut menentukan kemudahan air untuk bersirkulasi

dengan udara (drainase dan aerasi). Sifat fisik lain yang pentingadalah warna dan

suhu tanah. Warna mencerminkan jenis mineral penyusun tanah, reaksi kimiawi,

intensitas oelindian dan akumulasi bahan bahan yang terjadi, sedangkan suhu

merupakan indicator energy matahri yang dapat diserap oleh bahan bahan

penyusun tanah (Hanafiah, 2009)

Lebih lanjut lagi Hanafiah (2009) menjelaskan secaa keseluruhan

tentang sifat sifat fisik tanah ditentukan oleh:

a. Ukuran dan komposisi partikel partikel hasil pelapukan bahan penyusun

tanah
b. Jenis dan proporsi komponen komponen penyusun partikel partikel ini.
c. Keseimbangan antara suplai air, energy, dan bahan dengan kehilangannya.
d. Intensitas reaksi kimiawi dan biologis yang telah atau sedang berlangsung.

33
III

METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah buku

Munsell Soil Color Chart, cawan porselin, botol semprot, dan alat

tulis.Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, contoh

tanah kering yang terdiri dari andisol, vertisol, ultisol, entisol, dan inceptisol.

34
B. PROSEDUR KERJA

1. Warna Tanah

Diambil sedikit tanah gumpal yang lembab secukupnya (permukaannya

tidak mengkilap), diletakan dibawah lubang kertas buku Munsell Soil

Color Chart. Dicatat notasi warna (Hue ,Value, Chorma) dan nama

warna. Pengamatan tanah tidak boleh terkena cahaya matahari langsung.

2. Tekstur tanah

Penetapan tekstur tanah di lapang dilakukan dengan cara merasakan atau

meremas tanah antara ibu jari dan telunjuk. Diambil sebongkah tanah

kira-kira sebesar kelereng, dibasahi dengan air hingga tanah dapat

ditekan. Contoh tanah dipijit kemudian dibuat benang dan sambil

dirasakan kasar halusnya tanah.

Jika:

Bentukan benang mudah dan membentuk pita panjang, maka

besar kemungkinan teksturnya liat.


Mudah patah, kemungkinan tekstur tanahnya lempung berliat.
Tidak berbentuk benang, kemungkinan lempung atau pasir. Jika

terasa lembut dan licin, berarti lempung berdebu, terasa kasar

berarti lempung berpasir.


3. Struktur tanah

Sebongkah tanah diambil dari horizon tanah, kemudian dipecah

dengan cara menekan dengan ibu jari atau dengan dijatuhkan dari

ketinggian tertentu, sehingga bongkah tanah akan pecah secara alamai.

Pecahan tersebut menjadi agregat mikro(ped)yang merupakan kelas

struktur tanah.

4. Konsistensi

35
Contoh tanah dengan berbagai kandungan air diamati dengan cara

dipijit dengan ibu jari dan telunjuk,. Pengamatan dimulai pada kondisi

kering, lembab, dan basah dengan cara menambah air pada contoh

tanahnya.

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Warna dan Tekstur

Warna Tanah
No Jenis Tanah Tekstur Tanah
Notasi Warna Nama Warna
Lempung liat
1 Vertisol 5 YR 3/1 Very dark grey
berdebu
Lempung
2 Andisol 10 YR 2/2 Very dark brown
berpasir
3 Ultisol 2,5 YR Dark brown Liat berpasir

36
Lempung liat
4 Inceptisol 5 YR 2,5/2 Dark redish brown
berdebu
Lempung
5 Entisol 10 YR 2/2 Very dark brown
berliat

B. Struktur

Struktur Tanah
No Jenis Tanah Derajat
Tipe Kelas
1 Vertisol Gumpal Sangat Kasar 3 kuat
2 Andisol Gumpal Sangat Halus 2 cukupan
3 Ultisol Gumpal Kasar 3 kuat
4 Inceptisol Gumpal Halus 2 cukupan
5 Entisol Gumpal Halus 1 - lemah

C. Konsistensi

Konsistensi Basah Konsistensi Konsistensi


No Jenis Tanag
Kelekatan Keliatan Lembab Kering

1 Vertisol S VP Et Eh
2 Andisol SS PS T H
3 Ultisol S PS T H
4 Inceptisol VS PO T H
5 Entisol SS P T S

37
B. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, kami mencoba melakukan pengamatan

sifat sifat tanah dengan panca indera. Sifat sifat yang diamati adalah

warna tanah, tekstur, struktur, dan konsistensi tanah. Hal ini dilakukan dengan

dan tanpa perlakuan khusus. Hal pertama yang diamati adalah warna tanah.

Warna merupakan salah satu sifat fisik tanah yang lebih banyak

digunakan untuk pendeskrisian karakter tanah, karena tidak mempunyai efek

langsung terhadap tanaman tetapi secara tidak langsung berpengaruh lewat

dampaknya teradap pengaruh temperature dan kelembababn tanah (Hanafiah,

2009)

Pada pengamatan warna tanah, sebelum diamati, tanah harus dalam

kondisi lembab, atau diberi air terlebih dahulu agar warna asli dari tanah

tersebut muncul. Setelah tanah dalam kondisi lembab, warna yang muncul

baru dicocokkan dengan Munsell Soil Color Chart.

38
Soil Munsell Color Chart ditemukan oleh Albert Henry Munsell,

seorang pelukis dan guru seni di Massachusetts Normal Art School (sekarang

menjadi Massachusetts College of Art and Design). Munsell menjadi terkenal

atas penemuan sistem warna Munsell, sebuah gagasan awal untuk

menciptakan sebuah sistem yang akurat untuk menggambarkan warna dengan

angka (Valkauts, 2014).

Sistem warna Munsell terdiri dari tiga dimensi independen yang

dapat diibaratkan seperti silinder tiga dimensi sebagai warna yang tak teratur

yang solid :

a. Hue, diukur dengan derajat sekitar lingkaran horizontal, chroma,

diukur radial keluar dari netral (warna abu-abu) sumbu vertikal, dan

value, diukur vertikal dari 0 (hitam) sampai 10 (putih). Munsell

menentukan jarak warna sepanjang dimensi ini dengan mengambil

pengukuran dari respon visual manusia.


b. Value (brilliance) yang mengekspresikan variasi berkas sinar yang

terjadi jika dibandingkan warna putih absolute. Value ini merujuk

pada gradasi warna dari putih (skala 10) ke hitam (skala 0).
c. Chroma didefinisikan sebagai gradasi kemurnian dari warna atau

derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral

(skala 0) ke warna lainnya (skala 19).

(Hanafiah, 2009)

Untuk mengetahui hue, chroma dan value dalam Munsell Soil

Color Chart, dapat dilihat sebagai berikut.

Hue, adalah tulisan yang berada di bagian pojok, misalnya 2,5 YR; 5

R; atau 10 YR.
Value adalah tulisan yang berada di bagian tepi sebelah kanan,

misalnya 4/ , 6/ ,atau 7/

39
Chroma adalah tulisan yang berada di bagian bawah, misalnya /3, /

4, atau /6
Sehingga warna tanah dengan hue 2,5 YR, value 7/ dan chroma /4,

akan di tulis 2,5 YR 7/4.

Dari pengamatan warna tanah dapat diketahui pula sifat fisik dan

kimia suatu tanah. Menurut Hanafiah (2009), Warna tanah merupakan

gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. Warna tanah

berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang

dipantulkan permukaan tanah. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas

permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing

terhadap tanah. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan

menentukan warna tanah, sehingga warna butir koloid tanah (koloid

anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang

sangat luas, sehingga sangat mempengaruhi warna tanah. Warna humus, besi

oksida dan besi hidroksida menentukan warna tanah. Besi oksida berwarna

merah, agak kecoklatan atau kuning yang tergantung derajat hidrasinya. Besi

tereduksi berwarna biru hijau. Kuarsa umumnya berwarna putih. Batu kapur

berwarna putih, kelabu, dan ada kala berwarna olive-hijau. Feldspar berwarna

merah. Liat berwarna kelabu, putih, bahkan merah, ini tergantung proporsi

tipe mantel besinya.

Kebanyakan warna tanah mempunyai warna yang tak murni tetapi

campuran kelabu, coklat, dan bercak (rust), kerapkali 2 - 3 warna terjadi

dalam bentuk spot - spot, disebut karatan (mottling). Karatan merupakan

warna hasil pelarutan dan pergerakan beberapa komponen tanah, terutama

40
besi dan mangan, yang terjadi selama musim hujan, yang kemudian

mengalami presipitasi (pengendapan) dan deposisi (perubahan posisi) ketika

tanah mengalami pengeringan. Hal ini terutama dipicu oleh terjadinya: (a)

reduksi besi dan mangan ke bentuk larutan, dan (b) oksidasi yang

menyebabkan terjadinya presipitasi. Karatan berwarna terang hanya sedikit

terjadi pada tanah yang rendah kadar besi dan mangannya, sedangkan karatan

berwarna gelap terbentuk apabila besi dan mangan tersebut mengalami

presipitasi.

Bahan organic juga mempengaruhi warna tanah dan sifat kimianya

ketika terjadi interaksi dengan lingkungan. Makin tinggi kandungan bahan

organik, warna tanah makin gelap. Sedangkan dilapisan bawah, dimana

kandungan bahan organik umumnya rendah, warna tanah banyak dipengaruhi

oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. Di daerah berdrainase

buruk, yaitu di daerah yang selalu tergenang air, seluruh tanah berwarna abu-

abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+). Pada tanah

yang berdrainase baik, yaitu tanah yang tidak pernah terendam air, Fe

terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3

(hematit) yang berwarna merah, atau Fe2O3. 3 H2O (limonit) yang berwarna

kuning cokelat. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan

kadang-kadang kering, maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi)

didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning, yaitu di tempat-tempat

dimana udara dapat masuk, sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut

(Hardjowigeno, 2010).

Menurut Buckman and Brady (1992), Tanah vertisol / grumusol

memiliki kandungan bahan organik yang cenderung rendah (antara 1,5-4%),

41
tetapi terdifusi sempurna pada lempunnya sehingga menyebabkan warna

menjadi lebih gelap. Warna tanah vertisol dipengaruhi oleh kadar humus dan

kadar kapurnya. Tanah yang kaya akan kapur dan karbon berwarna hitam.

Oleh karena itu ketika dibandingkan dengan MSCC, warna vertisol

menghasilkan notasi 5 YR 3/1 dengan nama very dark gray dan bertekstur

lempung liat berdebu.

Pada tanah andisol dihasilkan warna dengan notasi 10 YR 2/2

dengan nama very dark brown dengan tekstur lempung berpasir. Hal ini

sesuai dengan Darmawijaya (1990), Tanah Andisol adalah tanah yang

berwarna hitam kelam, sangat porous, mengandung bahan organik dan

lempung tipe amorf, terutama alofan serta sedikit silika, alumina atau

hodroxida-besi. Tanah yang terbentuk dari abu vulkanik ini umumnya

ditemukan didaerah dataran tinggi (>400 m di atas permukaan laut). Karena

berasal dari material material vulkanik, menyebabkan tanah andisol

berwarna coklat pekat atau very dark brown.

Pada tanah ultisol umumnya berwarna kuning kecoklatan hingga

merah. Pada klasifikasi lama menurut Soepraptohardjo (1961), Ultisol

diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK). Warna tanah pada

horizon argilik sangat bervariasi dengan hue dari 10YR hingga 10R, nilai 36

dan kroma 48 (Subagyo et al. 1986). Pengamatan menghasilkan notasi

warna 2,5 YR dengan tekstur liat berpasir.

Pada tanah inceptisol dihasilkan warna dengan notasi 5 YR 2,5/2

dengan nama dasrk redish brown dan bertekstur lempung liat berdebu.

Pernyataan ini sesuai dengan Arifin (2013), yaitu warna dari tanah latosol

42
adalah merah, coklat sampai kekuning-kuningan. Kandungan bahan

organiknya berkisar antara 3-9 % tapi biasanya sekitar 5% saja.

Tanah Entisol mempunyai ciri solumnya berkisar dari dangkal

sampai dalam, berwarna kelabu hingga kuning, mempunyai horison (A)-C

tetapi batasannya sangat tegas, bertekstur pasir hingga debu ( > 60% ),

berstruktur butir tunggal, dan konsistensi gembur serta lepas (Munir, 1996).

Hal ini sesuai dengan pengamatan tanah entisol pada paktikum yang

menghasilkan notasi warna 10 YR 2/2 dengan nama very dark brown dan

bertekstur lempung berliat.

Sifat yang diamati selanjutnya adalah tekstur tanah. Menurut

Hardjowigeno (2010) tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah.

Tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan

liat.Tekstur tanah dapat ditetapkan secara kualitatif dilapangn dengan

menggunakan perasaan. Tanah yang bisa diletakkan diantara ibu jari dengan

jari telunjuk dan kemudian saling ditekan dan dirasakan. Terdapatnya tekstur

profil tanah terkadang dapat member keuntungan tetapi, tetapi kadang

memberikan kerugian, tergantung pada tingkatan perkembangan tanah sampai

batas batas tertentu. Tekstur tanah menunjukkan kasar dan halusnya tanah,

tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir butir pasir debu dan liat.

Teksur tanah dibedakan berdasarkan presentase kandungan pasir, debu dan

liat (Hadjowigeno, 2010).

Sedangkan dengan metode pipet, Metode pipet merupakan metode

langsung pengambilan contoh partikel tanah dari dalam suspensi dengan

menggunakan pipet pada kedalaman h dan waktu t. Metode pipet ini lebih

43
banyak digunakan di laboratorium dan peneletian yang serius, karena

menggunakan hukum stokes yang rumit (Agus, xxxx)

Sifat yang diamati selanjutnya adalah struktur tanah. Menurut

Hanafiah (2009), struktur merupakan kenampakan bentuk atau susunan

partikel partikel primer tanah (pasir, debu, dan liat individual) hingga

partikel partikel sekunder yang membentuk agregat atau bongkahan. Faktor

faktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah:

a. Bahan organic, bahan organik dalma tanah berfungsi sebagai perekat


b. Aktivitas makhluk hidup. Bila didalam tanah banyak aktivitas

makhluk hidupnya, maka tanah akan menjadi gembur dan akibatnya

struktur tanah menjadi lemah


c. Tekstur. Tekstur menunjukkan perbandingan relative pasir, debu, dan

liat dalam tanah. Tekstur jugamenunjukkan keadaan kasar atau

halusnya suatu tanah.


d. Perakaran. Akar berfungsi untuk mendukung berdirinya tanaman dan

mengangkut serta menyerap air dengan zat zat makanan dari dalam

tanah. Bila akar tanaman tersebut kuat maka akan mengubah struktur

dari tanah tersebut, yang semua gumpalan menjadi gumpal bersudut.


e. Organisme. Bila di dalam tanah banyak terdapat organisme maka

tanah menjadi gembur dan berakibat pada struktur tanahnya yang

menjadi lemah.

Struktur tanah vertisol mempunyai tipe gumpal, sangat kasar dan

berderajat 3 atau kuat. Hal ini sesuai dengan Arifin (2013) yaitu struktur tanah

vertisol adalah keras dibagian atas dan gumpal dibagian bwaah, dengan

konsistensi teguh atau keras kalau kering. Batas horizon dari susunan horizon

AC ini adalah agak nyata, tetapi tidak terdapat horizon aluvial dan iluviasi.

44
Struktur tanah Andisol adalah gumpal, sangat halus, dna

mempunyai derjat 2 yaitu kuat. Hal ini sesuai dengan Tan (1984) dalam

Yulistiani (2012) mengemukakan bahwa sifat fisika penting lainnya dari

Andisol adalah struktur tanahnya. Struktur tanahnya terdiri dari

makrostruktur dan mikrostuktur. Dalam kaitan dengan makrostruktur, horizon

A umumnya dicirikan oleh struktur granular yang khas, yang terbentuk oleh

proses yang disebut mountain granulation. Struktur ini berlainan dengan

struktur granular tanah-tanah lainnya karena satuan-satuan strukturnya sangat

resisten terhadap daya tumbuk air hujan. Kerena ketahanannya ini dan terasa

seperti pasir pada musim kering, maka unit-unit struktur tersebut disebut

pseudo-sand (pasir semu).

Tanah Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya

mempunyai tekstur yang kasar seperti liat berpasir, sedangkan tanah Ultisol

dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa cenderung mempunyai tekstur yang

halus seperti liat dan liat halus. Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang

hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut. Pada pengamatan ditemukan

bahwa tanah ultisol mempunyai tekstur gumpal, kasar dengan derajat 3 atau

kuat.

Pada tanah inceptisol mempunyai struktur gumpal, halus, dan

berderajat 2 atau cukupan. Hal ini hampir mirip dengan struktur tanah entisol

hanya berbeda pada derajat kekuatan dengan entisol yang berderajat 1 atau

lemah, sehingga mudah untuk dihancurkan dengan ibu jari dan jari telunjuk

padasaat pengamatan.

Sifat selanjutnya yang diamati adalah konsistensi tanah. Hanafiah

(2009) membagi konsistensi tanah dalam 3 kadar air tanah yaitu:

45
a. Konsistensi basah (pada kadar air sekitar kapasitas lapangan) untuk

menilai: derajat kelekatan tanah terhadap benda benda yang

menempelinya, yang dideskripsikan menjadi tak lekat, agak lekat, lekat,

dan sangat lekat, derajat keenturan tanah terhadap perubahan bentuknya

yaitu nonplastis, agak plastis, plastis, dan sangat plastis.


b. Konsistensi lembab (kadar air kapasitas lapangan dan kering udara),

untuk menilai derajat kegemburan keteguhan tanah, dipilah menjadi

lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh dan ekstrem teguh.
c. Konsistensi kering (kadar air kondisi kering udara) untuk menilai derajat

kekerasan tanah, yaitu lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan

ekstrem keras.

Konsistensi tanah yang baik untuk budidaya adalah yang gembur, sehingga

tidak terlalu keras ataupun terlalu lunak. Konsistensinya ketika kering adalah

agak keras, sehingga nantinya akar tanaman dapat dengan mudah menembus

tanah tetapi tetap teguh ketika ditanam. Keliatannya plastis dengan bahan

organic cukup dan kadar air tak berlebih.

Pada pengamatan, didapatkan tanah vertisol mempunyai kelekatan

agak lekat, hal ini seperti yang sudah dijelaskan pada literature sebelumnya,

bahwa vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat yang cukup tinggi

sehingga ketika dia dibasahkan dengan air akan sedikit melekat pada satu jari

dan termasuk kedalam kategori vp atau sangat plastis. Sifat ini pun

mempengaruhi konsistensinya ketika lembab yang menunjukkan kategori

konsistensi yang sangat teguh sekali sehingga sangat tahan terhadap tekanan,

dan konsistensinya ketika kering adalah sangat keras sekali, sehingga massa

tidak dipecahkan hanya dengan tangan.

46
Pada tanah andisol, pada konsistensi lembab dihasilkan kategori

kelekata yang sama dengan vertisol yaitu agak lekat dan agak plastis,

sehingga disinyalir bahwa kadar liat andisol berada dibawah vertisol.

Konsistensinya ketika lembab adalah teguh, cukup kuat tetapi tidak tahan

pada tekanan sedang. Sedangkan konsistensinya ketika kering adalah hard

atau kuat, hampir sama dengan konsistensinya ketika lembab.

Pada tanah ultisol, konsistensi basah menghasilkan kelekatan yang

cukup lekat sehingga tanahnya ketika dipegang akan melekat pada kedua jari

dan agak plastis. Hal ini menunjukkan bahwa tanah ultisol mempunyai sedikit

kemiripan dengan tanah vertisol yaitu mempunyai kadar keliatan yang tinggi

sehingga ketika basah menjadi lengket dan sangat plastis. Konsistensi ultisol

ketika lembab adalah teguh dan sejalan dengan itu, ketika konsistensinya

kering juga menghasilkan sifat yang keras, yang keduanya menunjukkan

tidak akan hancur pada tekanan sedang.

Pada tanah inceptisol, konsistensi basahnya menunjukkan ia

mempunyai sifat yang sangat lekat tetapi tidak plastis. Konsistensinya ketika

lembab adalah teguh dan pada kondisi kering juga menunjukkan sifat yang

keras. Hal ini menunjukkan bahwa tanah inceptisol mempunyai cukup keras

tetapi tidak terlalu liat.

Pada tanah entisol, ketika dalam kondisi basah kelekatannya tidak

terlalu lekat walaupun masih melekat pada satu jari ketika dipegang,

keliatannya termasuk kedalam kategori cukup liat tetapi tidka terlalu liat,

bentuknya masih dapat berubah jika ditekan dengan tangan. Konsistensinya

ketika lembab adalah teguh tetapi ketika kering mempunyai konsistensi yang

lembut atau soft.

47
V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Secara garis besar, dari kelima tipe tanah yang diamati

menunjukkan bahwa range warna tanah berkisar antara kuning kecoklatan

sampai merah dan beberapa menyentuh warna kelabu. Vertisol berwana

kelabu pekat, andisol, ultisol dan entisol hampir mirip dan berwarna coklat

pekat sedangkan Inceptisol berwarna coklat kemerahan.

Struktur kelima tipe tanah didapatkan pada tipe gumpalan, dan

kelasnya berkisar antara sangat kasar samapai sangat halus. Vertisol berkelas

sangat kasar, ultisol berkelas kasar, inceptisol dan entisol sama sama berkelas

pada halus, dan yang palinghalus adalah andisol.

Konsistensi tanah dibedakan menjadi 3 yaitu konsistensi kering,

lembab, dan basah. Kelima tipe tanah diamati dan dihasilkan konsistensi

kering yang dominan kuat. Sedangkan pada keadaan lembab dihasilkan

konsistensi yang kebanyakan teguh, dan pada basah, beberapa tanah seperti

vertisol dan andisol menunjukkan keliatan yang tidka terlalu lekat, dan yang

paling lekat adalah tipe inceptisol.

B. SARAN

48
Metode yang digunakan dalam pengamatan tanah dengan indra ini

menggunakan metode kualitatif sehingga sifat yang dihasilkan terantung pada

individu yang mengukur, sehingga ada baiknya pengukuran tidak hanya

dilakukan oleh satu individu sehingga ketidak telitian dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Fahmudin. xxxx. Penetapan Tekstur Tanah.

http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/lainnya/NOMOR

%2005.pdf. diakses 29 maret 2014

Arifin, Muhammad. 2013. Karakteristik Tanah Inceptisol, Vertisol. http://agro-

sosial.blogspot.com/2013/01/karakteristik-tanah-latosol-atau.html.

diakses 29 maret 2014

Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Prof. Dr.

Soegiman. Penerbit Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

Darmawijaya, I. 1990. Klasifikasi Tanah, Dasar dasar Teori Bagi Penelitian

Hakim, N. Et all. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung :

Lampung.

Hanafiah, K., A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Press. Jakarta.

Hardjowigeno, Sarwono.2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo : Jakarta.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT. Dunia Pusataka Jaya :

Jakarta.

Valkauts. 2014. Penentuan Warna di Lapangan.

http://valkauts.wordpress.com/2014/02/12/penentuan-warna-tanah-di-

lapangan/. diakses 29 maret 2014

49
Yulistiani, Winda. 2012. Sifat dan Karakteristik Tanah Andisol di Indonesia.

diakses 29 maret 2014

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR DASAR ILMU TANAH
ACARA V
PENGANALAN PROFIL TANAH

Disusun Oleh:
Nama : Andita Eka Putri
NIM : A1L013146
Rombongan : C2
Asisten :

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

50
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanah adalah komponen alam yang tidak terjadi dengan sendirinya.

Lebih dari itu, keberadaan tanah memerlukan waktu yangtidak sebentar untuk

mencapai kondisinya sampai ke tahap dimana dapat bermanfaat bagi

manusia. Butuh waktu bertahun tahun agar tanah dapat menunjang kehidupan

manusia, mulai dari pangan, papan, dan sandang. Semuanya sudah diciptakan

alam sebegitu terencananya hingga akhirnya manusia dapat hidup seiring

dengan berkembangnya alam.

Mempelajari tanah dan proses terbentuknya menjadi suatu hal yang

penting ketika kita ingin memanfaatkannya dengan cara yang teapt sehingga

dicapai keuntungan optimal. Proses inti dari terbentuknya tanah itu sendiri

adalah pelapukan batuan induk selama berates ratus tahun. Proses

pelapukan ini menyebabkan adanya pembagian lapisan tanah secara

horizontal, sehingga pada akhirnya inilah yang kita ketahui sebagai profil

tanah.

B. TUJUAN

51
Mengenal suatu jenis tanah, profil tanah itu sendiridan pengamatan

faktor sekeliling yang mempengaruhi proses pembentukan tanah.

II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada mulanya, tanah dipandang sebagai lapisan permukaan bumi

(natural body) yang berasal dari bebatuan (natural material) yang telah mengalami

serangkaian pelapikan oleh gaya gaya alam (natural force), sehingga

membentuk regolith (lapisan berpartikel halus). Konsep ini dikembangakan oleh

para geologis pada akhir abad XIX. Dinamika dan evolusi ala mini terhimpun

dalam definisi bahwa tanah adalah bahan mineral yang tidak padat

(unconsolidated) terletak di permukaan bumi, yang telah dan akan tetap

mengalami perlakuan dan dipengaruhi oleh faktor faktor genetic dan lingkungan

yang meluiputi bahan induk, iklim (termasuk kelembaban dan suhu), organisme

(makro dan mikro) dan topografi pada suatu periode waktu tertentu (Hanafiah,

2009).

Proses pelapukan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan

batuan yang terjadi akibat pengaruh langsung atmosfer dan hidrosfer (Beavis dkk.,

1992). Proses perubahan dicapai melalui dua proses utama, yaitu pelapukan fisik

dan pelapukan kimia, yang berada dalam sebuah keseimbangan fisika-kimia baru.

Berlangsungnya kedua proses tersebut dapat dikatakan relatif lambat, tetapi

52
keberadaannya dalam batuan menjadi hal yang cukup penting dari sudut pandang

keteknikan. Proses pelapukan ini yang nantinya akan menghasilkan profil tanah.

Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia

dan biologi tanah. Pengenalan ini penting dalam hal mempelajari pembentukan

dan klasifikasi tanah dengan pertumbuhan tanaman serta kemungkinan

pengolahan tanah yang lebih tepat. Adapun faktor-faktor pembentuk tanah, maka

potensi untuk membentuk berbagai jenis tanah yang berbeda amat besar ( Foth,

1994 ).

Lapisan-lapisan pembentuk tanah ditentukan pada ketebalan solum

tanah (medium bagi pertumbuhan tanaman) yang diukur ketebalannya mulai dari

lapisan batu-batuan samapai ke permukaan tanah. Setelah diketahui solum tanah

itu kemudian ditentukan ketebalan solum tanah itu, kemudian ditentukan tebalnya

lapisan atas tanah dan lapisan bawah nya satu sama lainnya akan menunjukkan

perbedaan yang mencolok. Lapisan atas (top soil) merupakan tanah yang relative

subur dibandingkan subsoil karena banyak mengandung bahan organik dan

biasanya merupakan lapisan olah tanah bagi pertanian yang memungkinkan dapat

terjadi keberhasilan usaha penanaman diatasnya (Hanafiah, 2009).

Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat

membangun tubuh alam yang di sebut tanah. Tiap tanah di cirikan oleh susunan

horizon tertentu. Secara umum dapat di sebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri

atas dua atau lebih horizon utama. Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan

warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya (Pairunan,1985 ).

53
III

METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN

Alat dan bahan yang digunakan adalah bor tanah, abney level

untuk mengukur kemirinan tanah, kompas, altimeter, pH saku, botol semprot,

kertas label, meteran, larutan H2O3 %, larutan HCL, 10%, larutan dipiridil

dalam 1N NH4O acnetral, aquades, buku Munsell Soil Color Chart, kantong

plastic, spidol, buku pedoman pengamatan tanah di lapang, dan daftar isian

profil.

B. METODE KERJA

1. Memilih tempat pembuatan profil. Sebelumnya dilakukan dengan

pengeboran, di tempat tempat sekitar profil yang akan dibuat

sedalam 1 meter pada 2 atau 3 tempat berjarak 1 meter, yang berguna

supaya tercapai keseragaman.


2. Menggali lubang sedemikian rupa sehingga terbentuk profil tanah

dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1,5 m dan kedalaman 1,5 m.

Didepan bidang pengamatan profil dibuat tangga kebawa untuk

memudahkan pengamat turun.

54
3. Setelahnya dinding tanah yang terbuka ditandai setiap lapisannya

dengan tongkat kayu agar terlihat perbedaan antar horizonnya.

Dicatat cirri khusus dari setiap horizon.

IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Nomor
1 2 3 4 5
Lapisan
Dalam
0 - 28 28 - 49 44 - 58 58 - 75 75 -91
Lapisan
Simbol
A B C D E
Lapisan
Batas
d d d d D
Lapisan
Batas
Topogra s s s s S
fi
Dark Dark
Warna Very dark
7,5 YR 3/4 7,5 YR 3/4 yellowish Yellow
Tanah brown
brown Brown
Tekstur
cl cl sl l Cl
Tanah
Struktur V V V
2 I M I P I 2 M
Tanah F F F
B L K B L K B L K B L K B L K
Konsist S V S S V S V S S V
S I F I S
ensi O F H S S S F O S F
P P P
P
S O S
pH
6 5 5,5 5 5,5
tanah
Reaksi
thdp Banyak Sedikit Sedikit Tidak ada Tidak ada
HCL
Reaksi
thdp Sedang Banyak Banyak Tidak ada Tidak ada
H2O2
Perakar
Sedang Sedikit Sedang Sedikit Sedikit
an

55
B. PEMBAHASAN

Menurut Hanafiah (2009), profil tanah merupakan irisan vertical

tanah dari lapisan paling atas hingga kebatuan induk tanah (regolith), yang

biasanya terdiri dari horizon horizon O-A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas

yang masih dipengaruhi cuaca disebut solum tanah, horizon O dan A disebut

lapisan tanah atas dan horizon B E disebut lapisan tanah bawah.

Lebih lanjut lagi Hanafiah (2009) menjelaskan bahwa Faktor faktor yang

mempengaruhi pembentukan tanah adalah:

1. Iklim, merupakan rerataan cuaca pada jangka panjang, minimal per

musim atau per periode atau pertahun, dan seterusnya, sedangkan

cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek,

misalnya harian, mingguan, bulanan, dan maksimal semusim atau

seperiode.
2. Pengaruh curah hujan, air hujan akan mempengaruhi: (1) komposisi

kimiawi mineral mineral penyusunan tanah, (2) kedalaman dan

diferensiasi profil tanah, dan (3) sifat fisik tanah.


3. Pengaruh temperature, temperature berfungsi sebagai pemicu proses

fisik dalam pembentukan liat dari mineral mineral bahan induk

tanah, dengan mekanisme identik proses pelapukan bebatuan.


4. Jasad Hidup, diantara berbagai jasad hidup, vegetasiatau makroflora

merupakan yang paling berperan dalam mempengaruhi proses genesis

dan perkembangan profil tanah, karena merupakan sumber utama

biomass atau bahan organic tanah (BOT). BOT ini apabila

56
terdekomposisi oleh mikrobia heterofik akan menjadi sumber energy

dan hara bagi mikrobia sendiri, juga merupakan sumber senyawa

senyawa organic dan anorganik yang terlibat dalam berbagai proses

kemogenesis dan biogenesis tanah.


5. Bahan induk, jenis bahan induk akan menentukan sifat fisikmaupun

kimiawi tanah yang terbentuk secara endodinamomorf, tetapi

pengaruhnya menjadi tidak jelas terhadap tanah yang terbentuk secara

ektodinamomorf.
6. Topografi, topografi adalah perbedaan tinggi atau bentuk wilayah

suatu daerah, termasuk perbedaan kecuraman dan bentuk lereng.


7. Waktu, periode waktu pembentukan akan menentukan jenis dan sifat

sifat tanah yang terbentuk di suatu kawasan, karena waktu

memberikan kesempatan kepada 4 faktor pembentukan tanah lainnya

untuk mempengaruhi proses proses pembentukan tanah, makin lama

makin intensif.

Horizon tanah adalah lapisan-lapisan yang kurang lebih seragam di dalam

profil, batas antar horizon yang bertetangga sejajar atau hampis sejajar

dengan permukaan tanah. Pengenalan awal horizon dapat dilakukan secara

visual dengan membedakan perubahan yang terjadi dari horizon satu dengan

yang lain. Horizon dibagi menjadi:

1. Horizon O adalah horizon organic tanah tanah mineral:


Horizon ini didominasi oleh bahan bahan organic segar

ataupun bahan bahan organic yang sudah dilapuki


Horizon terbentuk diatas tanah mineral
Jika fraksi mineral mengandung lebih dari 30% liat, horizon

ini mengandung lebih dari 30% bahan organic. Jika fraksi

mineral tidak mengandung liat, maka kandungan bahan

organic lebih dari 20%.


2. Horizon A yaitu horizon horizon mineral yang terdiri atas:

57
Horizon horizon yang bahan organiknya terbentuk dan

terakumulasi di permukaan tanah.


Horizon horizon yang kehilangan liat, besi dan aluminium

dengan hasil resultannya berupa kwarsa atas mineral mineral

resisten yang lain.


Bisa juga berupa transisi dari horizon b dan c yang ada di

bawahnya.
3. Horizon B yaitu horizon yang memiliki satu atau lebih sifat sifat

dibawah ini:
Horizon terbentuk dari akumulasi liat silikat, besi, aluminium

atau humus, baik sendiri sendiri ataupun akumulasinya.

Bahan bahan ini berasal dari Horizon A.


Merupakan konsentrasi dari sesquioksida atau liat liat silikat

(baik secara sendiri sendiri ataupun tercampur) yang

terbentuk dengan keluarnya garam garam karbonat atau

garam garam terlarut lainnya dari lapisan ini.


Horizon ini berwaarna gelap atau kemerahan. Warna gelap

dihasilkan dari mantel mineral mineral sesquioksida. Warna

gelap dan kemerahan pada horizon ini lebih kuat bila

dibandingkan dengan warna warna horizon dibawahnya

ataupun diatasnya.
Merupakan altrasi dari bahan bahan asalnya yang berupa

struktur atuan.
4. Horizon C yaitu lapisan ineral yang tidak atau sedikit sekali memiliki

sifat sifat horizon A dan B


5. Horizon R terdiri atas batuan batuan dibawah tanah seperti batuan

granit, batuan pasir, atau batuan kapur.

58
Praktikum kali ini dilakukan dengan tanah yang sudah dibor

dahulu, bentuknya menjadi lubang besar dengan tinggi kurang lebih 2 meter.

Beberapa orang masuk dan mengamati dinding tanah yang tersisa karena

pengeboran. Dari pengamatan sekilas warna, tekstur dan kelunakan, bagian

bagian setiap profil tanah ditandai dengan tongkat kayu, membentuk batasan

batasan yang membagi tanah secara vertical menjadi 5 bagian yang

selanjutnya akan diberi symbol dengan A sampai E.

Hal pertama yang diamati adalah ketebalan dari setiap lapisan.

Dihitung dari lapisan paling atas tanah sampai ke lapisan horizon. Hal ini

dilakukan sampai pada tanah yang paling bawah. Setelah didapatkan

angkanya, lalu dmasukkan kedalam table yang telah dibuat sebelumnya.

Hal kedua yang diamati adalah batas dari setiap lapisan tanah.

Menurut Harjowigeno (2010), batas batas horizon dibagi menjadi beberapa

tingkatan yaitu nyata (lebar peralihan kurang dari 2,5 cm), jelas (lebar

peralihan 2,5 6,5 cm), berangsur (lebar peralihan lebih dari 12,5 cm).

Berdasarkan pengamatan, semua profil tanah mempunyai batas lapisan yang

sama yaitu diffuse (d) yang berarti baur. Hal ini tidak seharusnya terjadi

karena pada tanah normal biasanya lapisan akan terlihat jelas. Hal ini

dikarenakan mungkin kaena cuaca beberapa hari sebelum praktikum yang

terus menerus hujan, sehingga tanah tercampur dan hampir tidak dapat

dibedakan batasannya.

Sifat yang selanjutnya diamati adalah topografi tanah. Pengamatan

topografi pun kurang lebih menunjukkan hasil yang sama. Menurut

Harjowigeno (2010), bentuk topografi dari batas horizon dibagi menjadi rata,

berombak, tidak teratur dan terputus. Hasil dari pengamatan topografi dari

59
kelima lapisan menunjukkan hasil yang sama yaitu smooth atau rata. Hal ini

masih dikarenakan alasan yang sama yaitu terjadinya hujan beberapa hari

sebelum pengamatan.

Setelah itu dilakukan pengamatan terhadap tekstur, struktur dan

konsistensi tanah dengan metode yang kurang lebih sama dengan percobaan

sebelumnya. Pada tekstur tanah, lapisan A, B dan E menunjukkan hasil yang

sama yaitu CL yang berarti lempung berliat. Sedangkan lapisan C

menunjukkan tektur lempung berpasir dan lapisan D menunjukkan tekstur

lempung.

Selain pengamatan terhadap sifat fisik, dilakukan juga pengamatan

terhadap sifat kimiawi dari tanah disetiap masing masing lapisan. Pertama

tama dilakukan pengukuran pH dengan cara mencampur tanah dengan air lalu

dibiarkan mengendap sehingga pHnya dapat diukur dengan indicator pH

universal. Dari kelima lapisan didapatkan pH yang cenderung asam, berkisar

antara 5 sampai 6.

Untuk menentukan ada tidaknya kandungan kapur, tanah sampel

dai setiap lapisan direaksi dengan HCl. HCl akan menunjukkan hasil postif

dengan terbentuknya buih ketika diteteskan ke tanah. Itu menunjukkan berarti

tanah tersebut memiliki kandungan zat kapur. Dari kelima lapisan tanah, yang

bereaksi dengan HCl adalah lapisan A, B, dan C dengan jumlah buih yang

makin kebawah makin menurun. Hal ini menunjukkan bahwa semakin

kebawah tanah, kuantitas zat kapur semakin berkurang.

Untuk mengetahui adanya Bahan Organik, dilakukan juga reaksi

dengan H2O2 Bahan Organik banyak jika buih yang muncul banya ketika

hydrogen peroksida diteteskan di tanah. Pada pengamatan, untuk yang kedua

60
kali lapisan D dan E menunjukkan hasil yang negative, dengan tidak

munculnya buih ketika direaksikan dengan hydrogen peroksida. Ini berarti

pada lapisan bawah tidak tersimpan bahan organic. Kandungan bahan organic

paling banyak terdapat pada lapisan B dan C, sedangkan lapisan A

menunjukkan jumlah buih yang biasa saja. Hal ini mungkin dikarenakan

lapisan paling atas telah mengalami pencucian sehingga bahan organic dan

unsure haranya sedikit banyak merembes ke lapisan dibawahnya.

Tanah yang sudah berkembang atau tanah tua adalah tanah yang

sudah mengalami diferensiasi horizon horizon sehingga perbedaan setiap

horizon tanah sudah terlihat jelas dengan cirri khusus yang berbeda.

Sedangkan tanah yang berlum berkembang adalah tanah yangbelum

mengalami diferensiasi menjadi horizon horizon tanah.

KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Masing masing tanah dalam setiap horizon mempunyai sifat yang

berbeda beda. Tanah pada lapisan paling atas karena telah mengalami

pencucian cenderung mempunyai bahan organic yang lebih sedikit

61
disbanding lapisan dibawahnya. Sedangkan tanah paling bawah, dinilai

sebagai tanah kurus karena proses pelapukannya belum sempurna sehingga

kandungan bahan organic dan unsure hara masih sedkit.

B. SARAN

Cuaca adalah faktor penting dalam pengamatan profil tanah, karena

hujan bisa mempengaruhi hasil pengamatan kita dan membawanya kea rah

yang kurang akurat. Oleh karena itu, ada baiknya dilakukan suatu daya dan

upaya untuk mencegah ini terjadi, missal, membuat tenda sederhana untuk

melindungi galian, atau, disediakan sampel yang sebelumnya sudah disiapkan

terlebih dahulu.

DAFTAR PUSTAKA

Beavis, F. C., Roberts, F. I., dan Minskaya, L. 1970 Engineering aspects of


weathering of low grade metapelites in an arid climatic zone, Q. J.
England.

Foth, Henry.D.1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Edisi Keenam .PT.Gelora Aksara


Pratama. Jakarta.

Hanafiah,K.A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Persada. Jakarta

62
Hardjowigeno, Sarwono.2010. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo : Jakarta.

Pairunan, A.K. 1985. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. BKPT INTIM. Ujung Pandang.

63