Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua

manusia karena dengan memiliki tubuh yang sehat, maka setiap

manusia bisa melakukan berbagai aktifitas dengan baik. Namun saat

ini manusia banyak yang menjalankan gaya hidup yang tidak sehat,

baik dari segi pola makan hingga kurangnya aktifitas fisik. Hal ini

mengakibatkan banyak munculnya penyakit di dalam tubuh, salah

satunya adalah penyakit degeneratif yaitu hipertensi (Indriana, 2014).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan

tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah

diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang

waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat atau tenang.

Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu

lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal

ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan

stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang

memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak

terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi

semua pihak, baik dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi,

pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi

dapat dikendalikan (Anonim, 2014).

1
Hipertensi saat ini masih menjadi masalah utama di dunia.

Dalam statistik kesehatan dunia tahun 2012, Organisasi Kesehatan

Dunia (WHO) melaporkan bahwa hipertensi adalah suatu kondisi

beresiko tinggi yang menyebabkan sekitar 51% dari kematian akibat

stroke, dan 45% dari jantung koroner. Pada tahun 2011, WHO

mencatat satu miliar orang di dunia menderita hipertensi. Dua per tiga

diantaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan

rendah dan sedang. Indonesia berada dalam deretan 10 negara

dengan prevalensi hipertensi tertinggi di dunia, bersama Myanmar,

India, Srilanka, Bhutan, Thailand, Nepal, Maldives (Anonim, 2014).

Angka kejadian hipertensi di Indonesia menurut hasil Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2014 menunjukkan, sebagian besar

kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis (63,2%). Prevalensi

hipertensi di Indonesia sebesar 26,5%. Hal ini terlihat dari hasil

pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan

prevalensi hipertensi sebesar 25,8% dan kuesioner terdiagnosis

tenaga kesehatan untuk responden yang mempunyai tekanan darah

normal tetapi sedang minum obat hipertensi sebesar 0,7% (Kemenkes

RI, 2013).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Erlin Indriani

(2014) zat aktif antihipertensi terbanyak yang digunakan adalah

Amlodipin yaitu sebanyak 3.802 R/ (33,82%) dan peresepan terbanyak

adalah obat dengan nama generik yaitu sebanyak 10.544 R/ (93,78%).

2
Sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Novita Sari

(2013) dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi

terbanyak adalah captopril 60,1% dan jenis terapi terbanyak adalah

terapi tunggal 88,5%.

Penanganan yang tepat serta diagnosis dini penyakit hipertensi

perlu dilakukan mengingat masih rendahnya tingkat kesadaran akan

kesehatan pada masyarakat Indonesia (Depkes RI, 2012). Terapi

dengan obat hipertensi (antihipertensi) juga harus didasarkan pada

bukti ilmiah dalam khasiat untuk menurunkan morbiditas dan

mortalitas, biaya dan adanya penyakit lain serta faktor-faktor resiko

lainnya (Yardi, 2013).

Berdasarkan pengamatan yang telah penulis lakukan,

peresepan obat untuk pasien hipertensi di Rumah Sakit Andi Djemma

Masamba cukup tinggi, dan menurut sumber data dari seksi catatan

medik dan pelaporan Rumah Sakit Andi Djemma Masamba pada tahun

2016, hipertensi merupakan penyakit utama dari 10 besar penyakit

yang ada di rumah sakit ini. Pengelolaan penyakit hipertensi harus

dilakukan dengan baik, terutama pengelolaan farmakologis dengan

pemberian antihipertensi. Tingginya jumlah pasien dapat

menyebabkan terjadinya kekosongan persediaan antihipertensi. Hal ini

menjadi perhatian penting agar ketersediaan obat selalu ada untuk

memberikan pengobatan maksimal terhadap pasien.

3
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk

mengetahui tentang profil peresepan obat antihipertensi di Apotek

Rumah Sakit Umum Andi Djemma Masamba Periode Oktober 2016

Maret 2017.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana profil

obat peresepan obat antihipertensi di Apotek Rumah Sakit Umum Andi

Djemma Masamba Periode Oktober 2016Maret 2017.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah penulis ingin

mengetahui profil peresepan obat antihipertensi di Apotek Rumah

Sakit Umum Andi Djemma Masamba periode Oktober 2016Maret

2017.

2. Tujuan khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah penulis ingin

mengetahui jumlah dan persentase peresepan obat antihipertensi

terbanyak berdasarkan:

a. Jenis kelamin dan usia pasien.

b. Golongan antihipertensi.

c. Lima besar kelas terapi obat lain yang diresepkan bersama

antihipertensi.

4
D. Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis

Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis

serta melatih kemampuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis

resep obat antihipertensi.

2. Bagi akademik

Sebagai referensi di perpustakaan Stikes Luwu Raya Palopo

Jurusan Farmasi mengenai antihipertensi sehingga dapat

bermanfaat bagi mahasiswa yang membacanya.

3. Bagi rumah sakit

Sebagai bahan pertimbangan dalam program monitoring,

evaluasi, penggunaan, perencanaan dan pengadaan obat

antihipertensi di Apotek Rumah Sakit Umum Andi Djemma

Masamba.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Hipertensi

1. Defenisi dan Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi merupakan keadaan dimana seseorang memiliki

tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau tekanan darah

diastolik 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Tekanan

darah sistolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar

penentuan diagnosis hipertensi (Erwinanto, 2015).

Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi pada

seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana

hipertensi (A Statement by the American Society of Hypertension

and the International Society of Hypertension, 2013)

Klasifikasi Sistolik Diastolik


Optimal < 120 < 80
Normal 120 129 80 84
Normal tinggi 130 139 84 89
Hipertensi derajat 1 140 159 90 99
Hipertensi derajat 2 160 179 100 109
Hipertensi derajat 3 180 110
Hipertensi sistolik terisolasi 140 < 90

2. Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi

pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla di otak.

Dari pusat vasomotor ini bermula jarak saraf simpatis, yang

6
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna

medulla spinalis ganglia simpatis di toraks abdomen. Ransangan

pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak

ke bawah melalui sistem syaraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada

titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan

merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,

dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan

konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan

ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap

rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif

terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas

mengapa hal tersebut bisa terjadi (Crea, 2011).

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis

merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi,

kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan

aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang

menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol

dan steroid lainnya, yang memperkuat respons vasokonstriktor

pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan

aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin

merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah

menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada

gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal.

7
Hormon ini menyebaban retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,

menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini

cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Crea, 2011).

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi

perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer

bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi

pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,

hilangnya elastilitas jaringan ikat dan penurunan dan penurunan

dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya

menurunkan kemampuan distensi dan gaya regang pembuluh

darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang

kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang

dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan

penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer

(Rohaendi, 2013).

3. Faktor Resiko

Menurut Purwanty (2011) faktor resiko hipertensi adalah

sebagai berikut :

a. Merokok
Fakta otentik menunjukan bahwa merokok dapat

menyebabkan tekanan darah tinggi. Kebanyakkan efek ini

berkaitan dengan kandungan nikotin. Asap rokok memiliki

kemampuan menarik sel darah merah lebih kuat dari pada

8
kemampuan menarik oksigen ke jantung dan jaringan lainnya.

Nikotin dapat menggangu sistem saraf simpatis yang

mengakibatkan meningkatnya kebutuhan oksigen miokard.

Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga

meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, dan

kebutuhan oksigen jantung, merangsang pelepasan adrenalin,

serta menyebabkan gangguan irama jantung.


b. Status Gizi
Masalah kekurangan atau kelebihan gizi pada orang dewasa

merupakan masalah penting karena selain mempunyai resiko

penyakit-penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi

produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan

tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu

cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal

atau normal. Indeks Masa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara

untuk mengukur status gizi seseorang.

c. Konsumsi Na (Natrium).
Pengaruh asupan garam terhadap terjadinya hipertensi

melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan

darah. Faktor lain yang ikut berperan yaitu sistem renin

angiostensin yang berperan penting dalam pengaturan tekanan

darah. Produksi renin dipengaruhi oleh berbagai faktor antara

lain stimulasi saraf simpatis. Renin berperan dalam proses

konversi angiotensin I menjadi angiotensin II, angiotensin II

9
menyebabkan sekresi aldosteron yang mengakibatkan

menyimpan garam dalam air. Keadaan ini yang berperan pada

timbulnya hipertensi.
d. Stress
Hubungan antara stress dan hipertensi diduga melalui

aktivitas sistem simpatis. Peningkatan saraf dapat menaikkan

darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang

berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah yang

menetap tinggi. Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh

darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi

aktivitas saraf simpatis. Adapun stress ini dapat berhubungan

dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik

personal. Stress merupakan respon tubuh yang sifatnya

nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.

4. Penatalaksanaan Hipertensi
a. Terapi Non-Farmakologis (Erwinanto, 2015)
Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat

menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat

menguntungkan dalam menurunkan resiko permasalahan

kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat

1, tanpa faktor resiko kardiovaskular lain, maka strategi pola

hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus

dijalani setidaknya selama 46 bulan. Bila setelah jangka waktu

tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang

10
diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang

lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.


Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak

guidelines adalah :
1) Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat

dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan

dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan

tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan

dislipidemia.
2) Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi

garam dan lemak merupakan makanan tradisional pada

kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak

menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji,

makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak

jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk

mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi

derajat 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2

gr/ hari
3) Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur

sebanyak 3060 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat

menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang

tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus,

sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki,

mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas

rutin mereka di tempat kerjanya.

11
4) Mengurangi konsumsi alkohol. Walaupun konsumsi alkohol

belum menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun

konsumsi alkohol semakin hari semakin meningkat seiring

dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama

di kota besar. Konsumsi alkohol lebih dari 2 gelas per hari

pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat

meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi

atau menghentikan konsumsi alkohol sangat membantu

dalam penurunan tekanan darah.


5) Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum

terbukti berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah,

tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama

penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan

untuk berhenti merokok.


b. Terapi Farmakologis (Erwinanto, 2015)
Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai

bila pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami

penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani pola

hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat 2.

Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu

diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek

samping, yaitu :
1) Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal
2) Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat
3) Mengurangi biaya
4) Berikan obat pada pasien usia lanjut (diatas usia 80 tahun)

12
5) Seperti pada usia 5580 tahun, dengan memperhatikan faktor

komorbid
6) Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme

inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers

(ARBs)
7) Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai

terapi farmakologi
8) Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.
Dikenal lima kelompok obat lini pertama (first line drug) yang

digunakan untuk pengobatan awal hipertensi yaitu : diuretik,

penyekat reseptor beta adrenergik (-blocker), penghambat

angiotensin converting enzyme (ACE-inhibitor), penghambat

reseptor angiotensin (Angiotensin-receptor blocker, ARB), dan

antagonis kalsium ( Tjay dan Rahardja, 2010)

B. Penggolongan Obat Hipertensi

1. Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor

ACEI bekerja dengan menghambat pembentukan

Angiotensin II dari Angiotensin I yang merupakan vasokonstriksi

poten dan stimulan sekresi aldosteron. ACEI juga menghambat

degradasi bradikinin sehingga menyebabkan batuk kering dan

menstimulasi sintesis agen vasodilator lain seperti prostaglandin E2

dan prostasiklin. Resorpsi dari usus cepat untuk 75% efeknya

sudah maksimal setelah 1.5 jam dan bertahan 12-24 jam,

tergantung pada dosis, pengikatan pada protein 25-30%, eliminasi

13
1
pada ginjal15-90%, plasma-t 2 nya bervariasi 2-24 jam.

Ekskresinya lewat kemih, separuhnya sebagai metabolit inaktif dan

separuh utuh (Wells et all, 2015).

2. -bloker

-bloker digunakan sebagai terapi lini pertama pada specific

compelling indication (seperti post-MI, coronary artery disease).

Mekanisme hipotensi obat golongan ini melibatkan penurunan

cardiac output melalui efek inotropik dan kronotropik negatif pada

jantung dan penghambatan pelepasan renin pada ginjal.

Resorpsinya dari usus pada umumnya cepat dan baik, kecuali zat-

zat hidrofil (atenolol dan sotalol) yang hanya diserap untuk 30

sampai 50%. Distribusi ke jaringan baik, terutama zat lipofil seperti

propanolol, alprenolol, oxprenolol, metoprolol dan timolol. Ekskresi

zat-zat lipofil melalui kemih berlangsung sebagai metabolit dengan

aktivitas lemah. Zat-zat hidrofil praktis tidak dimetabolisme dalam

hati dan hampir seluruhnya dikeluarkan secara utuh.

Pengikatannya pada protein berbeda-beda dan tidak berhubungan

dengan sifat lipofilnya misalnya propanolol kurang leih 90% dan

metoprolol hanya 12%. Plasma t nya pun bervariasi besar antara

2 dan 26 jam (Wells et all, 2015).

3. Calcium Channel Bloker

14
Calcium Channel Bloker menimbulkan relaksasi bagi jantung

dan otot polos, dengan cara menghambat kanal kalsium sehingga

menghambat masuknya kalsium ekstraseluler ke sel. Hal ini akan

menyebabkan vasodilatasi dan menyebabkan penurunan tekanan

darah. Calcium Channel Bloker Dihidropiridin menyebabkan

aktivasi syaraf simpatik dan semua golongan Calcium Channel

Bloker kecuali Amlodipin dan Felodipin) mempunyai efek inotropik

negatif. Resorpsinya di usus baik 90%, mulai kerja dalam 20 menit

dan bertahan 1-2 jam, pengikatan pada protein diatas 90%, plasma

t- nya 2-5 jam. Dalam hati zat ini dirombak menjadi metabolit in

aktif yang dieksresikan lewat kemih 90% dan tinja 10% (Wells et

all, 2015).

4. Angiotensin II Receptor Inhibitor

Angiotensin II diperoleh dari jalur Renin Angiotensin

Aldosteron System dan jalur alternative yang menggunakan enzim

chymase. ACEI hanya memblok jalur Renin Angiotensin Aldosteron

System dan Angiotensin Receptor Bloker memblok Angiotensin II

dari jalur lain. Angiotensin Receptor Bloker memblok reseptor

Angiotensin 1 sehingga Angiotensin II tidak dapat bekerja. Tidak

seperti ACEI, Angiotensin Receptor Bloker tidak menghambat

degradasi bradikinin. Walaupun karena sebab ini maka obat

golongan ARB tidak menimbulkan batuk namun hal ini mungkin

juga menimbulkan konsekuensi negatif karena efek antihipertensi

15
ACEI juga dapat disebabkan karena kenaikan kadar bradikinin

(vasodilator). Resorpsinya di usus baik, kadar puncak dalam darah

dicapai sesudah 3-4 jam. Pengikatan pada protein 99%, plasma t-

nya 2 jam, dari metabolit aktifnya 6-9 jam. Ekskresinya melalui

kemih 35% dan tinja kurang lebih 85% (Wells et all, 2015).

5. Diuretik

Diuretik menurunkan tekanan darah dengan cara diuresis.

Reduksi volume plasma dan volume stroke (jumlah darah jantung

yang dipompa keluar dari ventrikel pada setiap denyut) karena

proses diuresis menurunkan TD dan cardiac output. Penurunan

cardiac output pada awal terapi akan menimbulkan kompensasi

berupa peningkatan resistensi pheripheral vaskular. Pada terapi

jangka panjang (chronic therapy), cairan ekstraseluler dan cairan

plasma akan kembali ke level pre-treatment, dan resistensi

pheripheral vaskular menurun di bawah base-line. Penurunan

resistensi vaskular bertanggung jawab pada efek hipotensi jangka

panjang (Wells et all, 2015).

C. Tinjauan Resep

1. Definisi Resep

Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter

gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola

16
apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta

menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni, 2006).

2. Ukuran Lembaran Resep

Lembaran resep umumnya berbentuk empat persegi

panjang, ukuran ideal lebar 10-12 cm dan panjang 15-20 cm

(Jas, 2009).

3. Jenis Jenis Resep

a. Resep standar (R/. Officinalis), yaitu resep yang

komposisinya telah dibakukan dan dituangkan ke dalam

buku farmakope atau buku standar lainnya. Penulisan resep

sesuai dengan buku standar.

b. Resep magistrales (R/. Polifarmasi), yaitu resep yang sudah

dimodifikasi atau diformat oleh dokter, bisa berupa campuran

atau tunggal yang diencerkan dalam pelayanannya harus

diracik terlebih dahulu.

c. Resep medicinal. Yaitu resep obat jadi, bisa berupa obat

paten, merek dagang maupun generik, dalam pelayanannya

tidak mangalami peracikan. Buku referensi : Organisasi

Internasional untuk Standarisasi (ISO), Indonesia Index

Medical Specialities (IIMS), Daftar Obat di Indonesia (DOI),

dan lain-lain.

d. Resep obat generik, yaitu penulisan resep obat dengan

nama generik dalam bentuk sediaan dan jumlah tertentu.

17
Dalam pelayanannya bisa atau tidak mengalami peracikan

(Jas, 2009).

4. Format Penulisan Resep

Menurut Jas (2009), resep terdiri dari 6 bagian :

a. Inscriptio : Nama dokter, No.SIP, alamat, telepon, No. HP,

kota, tempat, tanggal penulisan resep. Untuk obat narkotika

hanya berlaku untuk satu kota provinsi. Sebagai identitas

dokter penulis resep. Format inscriptio suatu resep dari

rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik

pribadi.

b. Invocatio : permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin

R/ = resipe artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata

pembuka komunikasi dengan apoteker di apotek.

c. Prescriptio/ Ordonatio : nama obat dan jumlah serta

bentuk sediaan yang diinginkan.

d. Signatura : yaitu tanda cara pakai, regimen dosis

pemberian, rute dan interval waktu pemberian harus jelas

untuk keamanan penggunaan obat dan keberhasilan terapi.

e. Subscrioptio : yaitu tanda tangan/ paraf dokter penulis

resep berguna sebagai legalitas dan keabsahan resep

tersebut.

18
f. Pro (diperuntukkan) : dicantumkan nama dan umur pasien.

Teristimewa untuk obat narkotika juga hatus dicantumkan

alamat pasien (untuk pelaporan ke Dinkes setempat).

D. Kerangka Konsep

Pasien usia
Hipertensi
Jenis Kelamin

Resep OAH Apotek

Apoteker

Pelayanan kefarmasian

Golongan Obat selain


Nama OAH
OAH OAH

19
Profil Peresapan OAH di rumah
sakit

E. Definisi Operasional

1. Hipertensi merupakan keadaan dimana seseorang memiliki

tekanan darah sistolik 140 mmHg dan atau tekanan darah

diastolik 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.

Tekanan darah sistolik merupakan pengukuran utama yang

menjadi dasar penentuan diagnosis hipertensi..

2. Golongan adalah golongan obat hipertensi menurut mekanisme

kerja obat yaitu ACE Inhibitor, beta-blockers, Calsium Channel

Bloker, Angiotensin II Receptor Inhibitor, dan Diuretik.

3. Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter

gigi, dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola

20
apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta

menyerahkan obat kepada pasien.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan oleh penulis adalah

deskriptif kuantitatif yaitu dengan mengambil data primer yang

berasal dari seluruh lembar resep yang ada di Apotek Rumah Sakit

Andi Djemma Masamba periode Oktober 2016Maret 2017.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Apotek Rumah Sakit Andi

Djemma Masamba periode Oktober 2016Maret 2017.

Pengambilan data dilakukan pada 30 April 2017.

C. Populasi dan Sampel

21
1. Populasi

Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah

seluruh lembar resep yang ada di Apotek Rumah Sakit Andi

Djemma Masamba periode Oktober 2016Maret 2017.

2. Sampel

Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah seluruh

lembar resep yang mengandung antihipertensi di Apotek Rumah

Sakit Andi Djemma Masamba periode Oktober 2016Maret

2017.

D. Cara Pengumpulan Data

Dengan cara mengumpulkan data primer yang berasal dari

lembar resep di Apotek Rumah Sakit Andi Djemma Masamba

periode Oktober 2016Maret 2017. Kemudian dilakukan

pencatatan terhadap resep-resep yang mengandung antihipertensi.

E. Cara Pengolahan dan Analisa data

Untuk mengetahui jumlah dan persentase (%) peresepan

antihipertensi di Apotek Rumah Sakit Andi Djemma Masamba

periode Oktober 2016Maret 2017, maka langkah-langkah yang

dilakukan adalah:

1. Mengumpulkan dan mengelompokkan lembar resep yang

mengandung antihipertensi.

22
2. Mencatat umur dan jenis kelamin pasien yang mendapatkan

antihipertensi.

3. Mengelompokkan antihipertensi berdasarkan zat aktif, nama

generik, nama dagang dan golongan.

4. Mendata kelas terapi obat lain yang diresepkan dengan

antihipertensi.

5. Menyajikan data dalam bentuk tabel.

6. Melakukan perhitungan jumlah dan persentase.

7. Membahas hasil pengamatan dan menyimpulkan data.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Kementerian Kesehatan RI tentang Hipertensi. Jakarta:


Depkes RI

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.

Crea, M. 2011. Hypertension. Jakarta: Medya

Depkes RI. 2016. Masalah Hipertensi di


Indonesia.http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-
release/1909-masalah-hipertensi-di-indonesia.html. Diakses pada
hari rabu, 2 April 2017

Erwinanto, dkk. 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit


Kardiovaskuler. Jakarta: PERKI

Indriana, Erlin. 2014. Profil Peresepan Antihipertensi Pasien Rawat Jalan


Rumah Sakit Pertamina Jaya Periode Januari-Maret 2014. KTI:
Poltekes Kemenkes II

23
Jas, A., 2009. Perihal Resep & Dosis serta Latihan Menulis Resep. Ed 2.
Medan: Universitas Sumatera Utara Press

Menkes RI. 2010. Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010


Tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Jakarta: Menkes RI.

Purwanty, Y. 2011. Profil Peresepan Obat Hipertensi Golongan Antagonis


Kalsium. KTI: Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Rohaendi. 2013. Hipertensi. Jakarta: Pt Media Komputindo

Sari, Novita. 2013. Pola Peresepan dan Kerasionalan Penggunaan


Antihipertensi pada Pasien dengan Hipertensi di Rawat Jalan
Puskesmas Simpur Periode Januari-Juni 2013. KTI: Universitas
Lampung

Syamsuni, H. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Tjay TH, Raharja K. 2010. Obat-obat Penting. Edisi 6. Jakarta: Elex Media
Komputindo.

Yardi. 2013. Pengaruh Konseling Oleh Apoteker Terhadap Peningkatan


Pengetahuan Pasien tentang Obat dan Kepatuhan Pasien
Meminum Obat Antidiabetes Mellitus Tipe 2 & Antihipertensi di
Apotek Kimia Farma Pasar Minggu Jakarta dan Kimia Farma
Merdeka Bogor. Tesis. Jakarta: FMIPA Universitas Indonesia.

Wells,B.G., DiPiro,J.T., Schwinghammer,T.L., DiPiro,C.V. 2015.


Pharmacotherapy Handbook. Ninth Edition. Philadelphia: McGraw-
Hill Education

24