Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa,


karena dengan berkat dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan
tugas makalah tentang Perlindungan Upah kami dengan tepat
waktu. Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Hukum
Pranata Pembangunan .

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak akan selesai pada


waktunya tanpa teman-teman kelompok kami yang saling bekerja
sama dan belum sepenuhnya sempurna. Oleh karena itu dengan
kerendahan hati kami berharap saran dan kritik demi perbaikan-
perbaikan lebih lanjut.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat


memberikan manfaat bagi yang membaca dan bagi yang
membutuhkan.

Merauke, 10 Oktober
2016

KELOMPOK 2
`1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................1
I.1. LATAR BELAKANG........................................................1
I.2. RUMUSAN MASALAH...................................................1
I.3. TUJUAN.......................................................................1
I.4. BATASAN MASALAH....................................................1
BAB II PEMBAHASAN....................................................................2
II.1. PENGERTIAN UPAH......................................................2
II.2. PENGERTIAN GAJI........................................................2
II.3. PERBEDAAN UPAH DENGAN GAJI................................3
II.4. DASAR HUKUM DALAM PERLINDUNGAN UPAH............3
BAB III PENUTUP..........................................................................7
III.1. KESIMPULAN...............................................................7
III.2. SARAN.........................................................................7
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................8

`2
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG


Upah memegang peranan yang sangat penting dan merupakan
suatu ciri khas suatu hubungan kerja dan juga tujuan utama dari
seorang pekerja untuk melakukan pekerjaan pada orang lain dan
badan hukum ataupun satu perusahaan.
Upah merupakan salah satu hak normatif buruh. Upah yang
diterima oleh buruh merupakan bentuk prestasi dari pengusaha
ketika dari buruh itu sendiri telah memberikan prestasi pula
kepada Pengusaha yakni suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah
atau akan dilakukan. Karena merupakan hak normatif maka
peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah
pengupahan memuat pula sanksi pidana bagi Pengusaha yang
mengabaikan peraturan perundangan terkait dengan masalah
pengupahan dan perlindungan upah. Bila hal tersebut terjadi maka
tindakan Pengusaha yang demikian ini termasuk dalam tindak pidana
kejahatan.

I.2. RUMUSAN MASALAH


Untuk memudahkan pembahasan maka akan dibahas sub
masalah dengan latar belakang diatas yakni sebagai berikut :
1. Apa perbedaan upah dengan gaji ?
2. Apa dasar hukum dalam perlindungan upah ?

I.3. TUJUAN
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, makalah ini bertujuan
untuk :
1. Untuk mengetahui perubahan upah dengan gaji
2. Untuk mengetahui dasar hukum dalam perlindungan upah

I.4. BATASAN MASALAH

`1
Batasan masalah dalam makalah ini yaitu mengenai dasar-dasar
hukum perlindungan upah dan pengertiannya.

`2
BAB II

PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN UPAH

Tujuan pekerja melakukan pekerjaan adalah untuk


mendapatkan penghasilan yang cukup agar dapat membiayai
kehidupan bersama keluarganya. Selama pekerja melakukan
pekerjaanya maka ia berhak mendapat imbalan atau upah yang
dapat menjamin kehidupan dan keluarganya, maka pihak majikan
wajib membayar upah. Upah adalah hak pekerjaan yang diterima
oleh pekerja dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan
kepada pekerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu
perjanjian kerja, kesempatan atau peraturan perundangan-
undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh.

Pengertian pengupahan yang diatur dalam undang-undang


nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dituangkan dalam
Bab X Bagian Kedua, Pasal 88 sampai dengan pasal 98. Pasal 88 ayat
1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 menyatakan bahwa Setiap
pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi
kehidupan yang layak bagi kemanusiaan.

II.2. PENGERTIAN GAJI


Gaji merupakan imbalan bagi karyawan secara teratur atas
pekerjaanya dalam perusahaan yang diberikan untuk mencapai
tujuan dan merupakan dorongan bagi karyawan untuk meningkatkan
aktivitas yang akan datang.
Gaji merupakan balas jasa yang dibayarkan kepada pemimpin-
pemimpin, pengawas-pengawas, pegawai tata usaha dan pegawai-
pegawai kantor serta para menejer lainya. Gaji umumnya
tingkatanya dianggap lebih tinggi daripada pembayaran kepada
pekerja upahan. Seorang karyawan diberitahu bagaimana harus
melakukan pekerjaanya, berada dibawah perintah dan harus
mengikuti petunjuk pemberi kerja mengenai pelaksanaan pekerjaan
tersebut. Atas pekerjaanya tersebut, karyawan diberi imbalan yang
disebut gaji.

II.3. PERBEDAAN UPAH DENGAN GAJI


Dari definisi Gaji dan upah di atas maka dapat disimpulkan
bahwa gaji merupakan pengganti jasa bagi tenaga-tenaga kerja
dengan tugas yang sifatnya lebih konstan. Ditetapkan melalui
perhitungan masa yang lebih panjang misalnya bulanan, triwulan
atau tahunan. Sedangkan upah adalah pembayaran atas penyerahan
jasa yang dilakukan oleh karyawan berdasarkan jumlah pekerjaan
yang telah diselesaikan misalnya jumlah unit produksi.

II.4. DASAR HUKUM PERLINDUNGAN UPAH


Bentuk perlindungan upah itu berupa pengaturan tentang upah
dan pengupahan yang diatur dalam Pasal 88 s/d Pasal 98 Undang
Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. hal hal
penting yang terkandung dalam Pasal ini adalah:
Penetapan upah minimum
Upah kerja lembur
Upah tidak masuk kerja karena berhalangan
Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain
diluar pekerjaannya
Upah menjalankan hak dan waktu istirahat kerjanya
Bentuk dan cara pembayaran upah
Denda dan pemotongan upah
Halhal yang dapat diperhitungkan dengan upah
Struktur dan skala pengupahan yang proporsional
Upah untuk pembayaran pesangon
Upah untuk perhitungan pajak penghasilan

Kalau kita perhatikan secara cermat bunyi undang-


undang diatas kita melihat bahwa ada bagian penting yang
terkandung didalamnya, yaitu komponen upah dan tunjangan-
tunjangan. terkait dengan komponen upah dan tunjangan Pasal
94 secara tegas menyatakan : "Dalam hal komponen upah
terdiri dari upah pokok sedikit-dikitnya 75% dari jumlah upah
pokok dan tunjangan tetap". jadi, pengelompokan tunjangan
dan tunjangan tidak tetap harus diatur secara jelas karena
upah pokok ditambah tunjangan tetap nantinya dipakai
sebagai dasar perhitungan untuk :
Upah lembur
Perhitungan pesangon
Perhitungan pensiun
Perhitungan pembayaran ke jamsostek
THR

Yang termasuk kedalam Komponen upah adalah sebagai


berikut (SE Menaker No. SE-07/Men/1990) :

1. Upah pokok adalah : imbalan dasar yang dibayarkan kepada


pekerja menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya
ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
2. Tunjangan tetap adalah suatu pembayaran yang teratur
berkaitan dengan pekerjaan yang diberikan secara tetap
kepada pekerja dan keluarganya serta dibayarkan dalam
satuan waktu yang sama dengan pembayaran upah pokok
seperti tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan
perumahan, tunjangan kematian, tunjangan jabatan, tunjangan
keahlian dan lain-lain.

Pada hari libur resmi semua pekerja yang bekerja pada


perusahaan berhak mendapat istirahat dengan upah
sebagaimana biasa diterima tanpa membedakan status buruh
(Pasal 1 Permen No. Per-03/Men/1987 Tentang Upah Pekerja
Pada hari Libur Resmi).

Minimum harus mencapai sesuai dengan (Kepmen No.


226/Men/2000 Tentang Perubahan Pasal 1,3,4,8,11,20 dan 21
Permen No. Per-01/Men/1999 Tentang Upah Minimum):

Upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok


termasuk tunjangan tetap (Pasal 1).
Besarnya upah minimum diadakan peninjauan selambat-
lambatnya 1 (satu) tahun sekali (Pasal 4 Kepmen
No.226/Men/2000).
Upah minimum diarahkan kepada pencapaian kebutuhan
hidup layak dan Pengusaha dilarang membayar upah
lebih rendah dari upah minimum (Pasal 89 ayat 2 dan
Pasal 90 ayat 1)

Pengusaha yang membayar upah buruhnya lebih rendah


dari upah minimum dikenakan sanksi pidana penjara paling
singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling
sedikit Rp 100.000.000,- dan paling banyak Rp 400.000.000,-
dan tindakan pengusaha tersebut merupakan tindakan
kejahatan (Pasal 185 UU No. 13/2003.

Setiap keterlambatan membayar upah pekerja menurut


waktu yang ditetapkan, pengusaha wajib memberikan
tambahan upah (bunga) sesuai dengan Peraturan Pemerintah
yaitu :

1. Upah + 5 % untuk tiap hari keterlambatan (mulai hari ke


4 sampai ke 8 terhitung dari hari dimana seharusnya
upah dibayar).
2. Ditambah lagi 1 % /keterlambatan (sesudah hari ke
dengan ketentuan bahwa tambahan itu untuk 1 bulan
tidak boleh melebihi 50 % dari upah yang seharusnya
dibayarkan.
3. Apabila masih belum dibayar (sesudah 1 bulan),
pengusaha diwajibkan pula membayar bunga sebesar
bunga yang ditetapkan oleh bank untuk kredit
perusahaan yang bersangkutan BUNGA ATAS UPAH (Pasal
19 Peraturan Pemerintah No. 8/1981 Tentang
Perlindungan Upah).

Denda yang dapat dilakukan Perusahaan terhadap


karyawan yang dibenarkan (Pasal 20 ayat 1 dan ayat 3
Peraturan Pemerintah No. 8/1981 Tentang Perlindungan Upah)
adalah Denda karena suatu pelanggaran hanya dapat
dilakukan terhadap pekerja jika diatur secara tegas dalam
suatu perjanjian tertulis atau peraturan perusahaan.
Pengusaha dilarang menuntut ganti rugi terhadap pekerja yang
sudah dikenakan denda, pengusaha atau orang yang diberi
wewenang untuk menjatuhkan denda darinya.

Pemotongan upah yang dapat dilakukan Perusahaan


terhadap karyawan yang dibenarkan (Pasal 22 ayat 1 dan ayat
2 Peraturan Pemerintah No. 8/1981 Tentang Perlindungan
Upah) adalah Pemotongan upah untuk pihak ketiga hanya
dapat dilakukan bilamana ada Surat Kuasa dari pekerja kecuali
kewajiban pembayaran oleh pekerja terhadap negara atau
pembayaran iuran sosial, jaminan sosial.
Ganti rugi yang dapat dilakukan Perusahaan terhadap
karyawan yang dibenarkan (Pasal 23 Peraturan Pemerintah No.
8/1981 Tentang Perlindungan Upah) adalah Permintaan ganti
rugi akibat kerusakan barang atau kerugian lainnya baik milik
pengusaha maupun pihak ketiga karena kesengajaan atau
kelalaian pekerja harus diatur terlebih dahulu dalam suatu
perjanjian tertulis atau peraturan perusahaan dengan
ketentuan setiap bulannya tidak boleh melebihi 50% dari upah.

UPAH ADALAH HUTANG YANG HARUS DIDAHULUKAN


(Pasal 27 Peraturan Pemerintah No. 8/1981 Tentang
Perlindungan Upah) Apabila pengusaha dinyatakan pailit maka
upah pekerja merupakan hutang yang harus didahulukan.

Tuntutan dan segala pembayaran yang timbul dari


hubungan kerja menjadi daluwarsa setelah melampaui jangka
waktu 2 tahun Pasal 30 Peraturan Pemerintah No. 8/1981
Tentang Perlindungan Upah.

Dasar hukum yang mengatur tentang upah dan


pengupahan adalah sebagai berikut :

Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang


Ketenagakerjaan mulai Pasal 88 s/d Pasal 98
Peraturan Pemerintah No.8 tahun 1982 tentang
perlindungan upah
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No.SE-01/MEN/1982
Tentang Petunjuk Pelaksana Pemerintah No.8 Tentang
Perlindungan Upah
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Per 01/MEN/1999 Tentang Upah Minimum
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Kep 226/MEN/2000 Tentang Perubahan Pasal 11,
Pasal 20, Pasal 21 peraturan menteri tenaga kerja
Republik Indonesia Nomor Per 01/MEN/1999 Tentang
Upah Minimum.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Kep 231/MEN/2003 Tentang Tatacara
Penangguhan Pelaksanaan Upah Minimum.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Per 02/MEN/1993 Tentang Berakhirnya
Kesepakatan Kerja Waktu Tertentu.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Kep 49/MEN/2004 Tentang Struktur dan Skala
Upah.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia
Nomor Kep 102/MEN/VI/2004 Tentang Waktu Kerja
Lembur dan Upah Kerja Lembur.
Keputusan Presiden No. 107 Tahun 2004 Tentang Dewan
Pengupahan.
BAB III

PENUTUP

III.1. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa
walaupun pekerja sedikit lebih rendah dari seorang karyawan tetapi
dalam pengupahanya terkadang terjadi penyelewengan dan
kecurangan sehingga diperlukan perlindungan pada hak-hak pekerja
tersebut. Yaitu dasar-dasar hukum yang telah disebutkan diatas,
diharapkan dapat mengurangi kecurangan dan penyelewengan yang
ada dengan di berinya sanksi-sanksi.

III.2. SARAN
1. Hukum yang tertulis harus lebih ditegakkan lagi dengan tegas,
karena walaupun sudah ada undang-undangnya, masih saja
ada oknum yang tidak bertanggung jawab dalam memberikan
upah pada pekerja.
DAFTAR PUSTAKA

http://artonang.blogspot.co.id/2014/12/perlindungan-upah-dan-
pengupahan.html
https://www.academia.edu/7009958/Pengertian_dan_perbedaan_Gaji
_dan_Upah
http://rangga-pradipta.blogspot.co.id/2012/08/perlindungan-
upah.html
Bibit Setiawan, 2013. Perlindungan upah bagi pekerja.