Anda di halaman 1dari 17

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Pengawasan merupakan salah satu unsur penting dalam rangka menjawab penilaian

kinerja atas tuntutan pelaksanaan akuntabilitas organisasi sektor publik terhadap terwujudnya

good governance (Halim, 2007).

Pengawasan berfungsi membantu agar sasaran yang

ditetapkan organisasi dapat tercapai, serta berperan dalam mendeteksi secara dini terjadinya

penyimpangan

pelaksanaan,

penyalahgunaan

wewenang,

pemborosan

dan

kebocoran.

Pemeriksaan laporan keuangan adalah pengawasan yang dilakukan oleh pemeriksa/auditor

independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh untuk menyatakan pendapat

mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut (Mulyadi, 2002).

Jasa pemeriksaan atau audit atas laporan keuangan pemerintah, baik pemerintah pusat

maupun pemerintah daerah, dilaksanakan oleh auditor eksternal yang dalam hal ini adalah

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagimana yang telah dimandatkan oleh Undang-

Undang Dasar 1945. Masyarakat sebagai pengguna informasi laporan keuangan pemerintah

menaruh kepercayaannya kepada BPK untuk melakukan audit atas pengelolaan keuangan

negara.

Audit

ini

merupakan

proses

identifikasi

masalah, analisis,

dan

evaluasi

yang

dilakukan secara independen, obyektif, dan profesional berdasarkan standar pemeriksaan,

untuk

menilai

kebenaran,

kecermatan,

kredibilitas,

dan

keandalan

informasi

mengenai

pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara seperti yang tertuang dalam UU Nomor 15

Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara.

Dalam pasal 16 ayat

1 UU Nomor 15 Tahun 2004 menyatakan bahwa BPK

melaksanakan audit atas laporan keuangan pemerintah untuk memberikan opini mengenai

kewajaran

informasi

keuangan

yang

disajikan

dalam

laporan

keuangan

pemerintah.

Kewajaran informasi keuangan ini didasarkan pada kriteria kesesuaian dengan standar

akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-

undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Namun, meskipun audit telah dilaksanakan masih banyak terjadi permasalahan dalam

pengelolaan keuangan negara sehingga hal ini mendorong perlunya audit yang berkualitas

untuk mengatasi dan mencegah permasalahan tersebut yang mengakibatan kerugian negara.

BPK juga harus melaksanakan audit yang berkualitas untuk menjaga kepercayaan masyarakat

kepada BPK atas perannya dalam melakukan audit atas pengelolaan dan tanggung jawab

keuangan negara. Selain itu, mewujudkan audit yang berkualitas untuk menghasilkan laporan

hasil audit yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan merupakan

salah satu tujuan strategis BPK.

Kualitas audit adalah kemungkinan auditor dapat menemukan dan melaporkan salah

saji material dalam laporan keuangan klien (DeAngelo, 1981).

mendeteksi

salah

saji

material

terkait

dengan

kemampuan

Kemampuan auditor untuk

teknis

auditor,

sedangkan

melaporkan kesalahan atau temuan-temuan hasil audit terkait dengan independensi auditor.

Ini berarti, auditor BPK dapat mendeteksi salah saji material bila memiliki kemampuan teknis

atau kompetensi yang cukup dan dapat melaporkan salah saji yang material bila auditor BPK

memiliki independensi terhadap objek auditnya. Seperti yang tertuang dalam Pernyataan

standar umum kedua Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) menyatakan bahwa

dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan audit, Auditor BPK harus bebas dalam

sikap mental dan penampilan dari gangguan pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat

mempengaruhi independensinya.

Auditor BPK harus menjaga, menjunjung, dan menjalankan nilai-nilai kebenaran dan

moralitas, seperti bertanggungjawab (responsibilities), berintegritas (integrity), bertindak

secara objektif (objectivity) dan menjaga independensinya terhadap kepentingan berbagai

pihak (independence), dan hati-hati dalam menjalankan profesi (due care). Sebab Tanpa

disadari BPK

sebenarnya merupakan

tulang punggung pemberantasan korupsi. Hasil audit

(opini)

BPK

menjadi

rujukan

institusi

penegak

hukum

dalam

menilai

ada

tidaknya

penyimpangan

dalam

pengelolaan

keuangan

negara,

khususnya

ada

tidaknya

kerugian

keuangan negara. Namun, fenomena yang kini terjadi memperlihatkan hasil audit BPK

sedang diuji kredibilitasnya. Bukan hanya hasil audit yang kini tengah menjadi sorotan,

kompetensi dan intergritas anggota BPK pun tak luput dari sorotan publik.

Seperti kasus yang kini tengah hangat diperbincangkan mengenai hasil audit BPK atas

kasus RS. Sumber Waras, belum selesai atas kasus Sumber Waras. Mungkin masih melekat

diingatan

kita

mengenai

hasil

audit

BPK

atas

kasus

Hambalang

yang

dipertanyakan

objektivitasnya. Belum berhenti sampai disitu, hasil peer review yang dilakukan BPK

Polandia

pada

2014

terhadap

BPK

kita

dinilai

belum

patuh

pada

mengharuskannya independen dari pengaruh politik lembaga-lembaga

kode

etik

yang

yang diauditnya.

Diketahui lima dari sembilan anggota BPK saat ini punya afiliasi dan relasi politik dengan

parpol. Hal itu membuat BPK padat konflik kepentingan. Belum lagi kasus penyuapan yang

menjerat auditor BPK akibat opinion shopping, serta kebingungan masyarakat atas kerja BPK

dalam

memberikan

predikat

mendapatkan

predikat

wajar

(opini).

Banyak

tanpa

pengecualian

pemerintah

daerah/kementerian

yang

(WTP),

tetapi

belakangan

diketahui

gubernur/wali kota/menteri/pemda tersebut melakukan tindak pidana korupsi. Sekelumit

permasalahan tersebut membuat publik mempertanyakan kualitas audit BPK.

2.1 Ringkasan Kasus

2.1.1 Kasus Hambalang

BAB II

PEMBAHASAN

Proyek Pembangunan Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar Nasional

(PLOPN)

Hambalang,

merupakan

inisiatif

Direktorat

Jenderal

Olahraga

Kementerian

Pendidikan

Nasional

pada

tahun

2003-2004.

Saat

itu

memang

ada

kebutuhan

pusat

pendidikan

dan

pelatihan

olahraga dalam

persiapan

pembinaan

atlet

nasional

bertaraf

internasional.

Berdasar pada kajian tahun 2004, ada lima pilihan lokasi yakni Karawang,

Cariu, Bogor, Cibinong, Cikarang, dan Bukit Hambalang. Pembangunan sudah mendapat izin

prinsip dari Bupati Bogor pada 19 Juli 2004, tentang penetapan lokasi untuk pembangunan

gedung PLOPN di Hambalang seluas kurang lebih 30 hektar atas nama Dirjen Olahraga.

Pembangunan ini lantas dialihkan menjadi kewenangan Kementerian Negara Pemuda dan

Olahraga tahun 2007, dan ada perubahan nama dari PLOPN menjadi Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional (PPPPON).

Kasus ini banyak diperbincangkan karena adanya dugaan tindak pidana korupsi yang

melibatkan banyak pihak terlibat, di antaranya para elite Partai Demokrat hingga jajaran

pejabat di kementerian dalam persetujuan anggaran dan izin. Atas dasar permintaan DPR,

Badan

Pemeriksa

Keuangan

(BPK)

mulai

melakukan

pemeriksaan

terhadap

kasus

Hambalang sejak 27 Februari 2012 lalu dengan tujuan menghitung kerugian dan melihat

keterkaitan pihak yang memliki kewenangan, namun sayangnya, Laporan Hasil Pemeriksaan

(LHP) baru diserahkan 28 Agustus 2013 lalu. Salah satu hasilnya menyebutkan kerugian

negara mencapai Rp 463,6 miliar.

Publik dibuat terkejut dengan pernyataan Ketua BPK Hadi Purnomo bahwa LHP versi

lengkap yang diserahkan ke DPR tidak dapat dibuka berdasarkan UU Keterbukaan Informasi

Publik. Hadi Purnomo menyatakan hasil audit investigasi tahap-II mengenai Hambalang

termasuk klasifikasi informasi rahasia berdasarkan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 14

tahun 2008

tentang Keterbukaan

Informasi

Publik.

Pernyataan

ini

menuai

kritik

dari

masyarakat sipil, bahwa jika ada informasi yang dirahasiakan karena bersifat pro justicia

seharusnya BPK menyampaikannya ke KPK dan bukannya ke DPR. Justru penyampaian ke

legislatif semestinya dalam versi yang tidak memiliki akibat negatif dalam konteks pro

justicia tadi, karena bagaimanapun juga, DPR merupakan bagian dari ruang publik.

Belum lagi masyarakat dikejutkan dengan adanya dua versi laporan hasil audit. Kopi

laporan

yang beredar

di

kalangan

jurnalis

berbeda dengan

yang diterima oleh DPR.

Ringkasan yang diterima para jurnalis menyebutkan beberapa inisial anggota DPR terlibat

dalam pelanggaran prosedur pencairan anggaran. Mengacu pernyataan Ketua DPR, laporan

yang disampaikan oleh BPK memang tidak menyebut nama legislator. BPK lantas diduga

bermain-main dengan LHP tahap II ini (Kompas, 2013).

Situasi di BPK memang mengundang banyak petanyaan seiring dengan meningkatnya

suhu politik menjelang Pemilu 2014. Anggota BPK, Ali Masykur Musa, masuk dalam

nominasi peserta Konvensi Partai Demokrat. Publik juga telah mengetahui bahwa kasus

Hambalang ini telah menyeret sejumlah nama politisi dari partai Demokrat sebelumnya.

Peraturan BPK tentang Kode Etik mengatur bahwa Anggota BPK dilarang terlibat politik

praktis.

2.1.2

Kasus RS Sumber Waras

RS Sumber Waras merupakan rumah sakit yang berada dalam dua wilayah yaitu jalan

Tomang Utara dan jalan Kyai Tapa yang mengakibatkan kasus ini muncul. BPK telah

menyerahkan hasil audit investigasi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras kepada

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada awal Desember 2015 lalu. Dalam temuannya,

BPK menyebut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersalah dalam pembelian

lahan 3,6 hektare RS Sumber Waras sebesar Rp 755 Miliar (Kompas, 2016). Menurut BPK,

dalam proses pembelian lahan tersebut setidaknya terdapat enam penyimpangan yang tidak

sesuai dengan aturan. Poin yang menurut BPK paling fatal adalah terkait Nilai Jual Objek

Pajak

(NJOP)

RS

Sumber

Waras

yang

mencapai

Rp

20.755.000

per

meter

dan

mengakibatkan negara merugi sebesar 191 Miliar. Menurut BPK, seharusnya NJOP untuk

tanah yang berlokasi di jalan Tomang Utara itu hanya Rp 7.440.000.

Namun, berdasarkan data SIM PBB-P2 dari Direktorat Jenderal Pajak, NJOP lahan

Sumber Waras yang ditentukan pada 2013 naik dan disesuaikan menjadi Rp 20,7 juta. Selain

itu, menurut BPK Lokasi lahan Sumber Waras bukan di Jalan Kiai Tapa, tapi di Jalan

Tomang Utara. Karena letaknya di Jalan Tomang Utara, jadi basis pembelian lahan Sumber

Waras memakai nilai jual obyek pajak jalan itu Rp 7 juta per meter persegi. Namun, faktanya

berdasarkan sertifikat Badan Pertanahan Nasional pada 27 Mei 1998, tanah itu berada di

Jalan Kiai Tapa. Faktur yang ditandatangani Satrio Banjuadji, Kepala Unit Pelayanan Pajak

Daerah Grogol menyebutkan tanah itu di Jalan Kyai Tapa dengan NJOP sebesar Rp 20,7 juta.

BPK juga dinilai keliru dalam menentukan kerugian negara. Menurut BPK Pembelian

lahan Sumber Waras merugikan negara Rp 191 miliar karena ada tawaran PT Ciputra Karya

Utama setahun sebelumnya sebesar Rp 564 miliar. Faktanya bahwa tawaran Ciputra itu

ketika nilai jual obyek pajak belum naik pada 2013. Pada 2014, NJOP tanah di seluruh

Jakarta naik 80 persen. Ditengarai proses audit yang dilakukan oleh BPK

padat konflik

kepentingan, di antaranya auditor BPK pernah menawarkan lahannya untuk dibeli Pemprov

DKI. (Kompas, 2016)

2.1.3

Kasus Penyuapan Auditor BPK

Saat ini status opini 'wajar tanpa pengecualian' (WTP) sudah menjadi komoditi.

Walikota, bupati atau gubernur jika daerahnya mendapatkan opini WTP dianggap memiliki

reputasi yang baik. Sehingga hal ini menyebabkan banyak kepala daerah yang berlomba-

lomba untuk mendapatkan opini WTP dengan cara yang tidak benar, termasuk dengan

menyuap auditor BPK.

Beberapa kali KPK menangkap basah beberapa auditor BPK yang

kedapatan melakukan transaksi jual-beli predikat laporan keuangan.

Pada tahun 2010, Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bekasi, Tjandra Utama Effendi

didakwa terlibat dalam dugaan kasus penyuapan kepada dua auditor BPK Jawa Barat, Enang

Hernawan

dan

Suharto.

Keduanya

disuap

oleh

Tjandra

agar mengubah

laporan

hasil

pemeriksaan keuangan Pemkot Bekasi dari Wajar Dengan Pengecualian menjadi Wajar

Tanpa Pengecualian. Para terdakwa tertangkap tangan oleh petugas KPK saat menyerahkan

uang tahap ke II. Terdakwa Tjandra Utama Effendi baik secara sendiri maupun bersama-

sama Herry Suparjan dan Herry Lukmantohari, dan Mochtar Muhammad selaku Walikota

Bekasi, telah memberi atau menjanjikan sesuatu, yaitu uang sebesar Rp 400 juta kepada

Suharto, Kepala Sub Auditorat Jabar III BPK Jabar dan Enang Hernawan selaku Kepala seksi

wilayah Jabar III BPK Jabar. Jaksa menyatakan, Tjandra telah melakukan pemufakatan untuk

menyuap auditor BPK Jabar antara Januari-Juni 2010 (Hukumonline.com, 2010).

Kasus penyuapan auditor BPK tak hanya berhenti disitu. Pada Tahun 2011, penyidik

KPK menahan dua auditor BPK Provinsi Sulawesi Utara atas dugaan menerima suap dari

Walikota Tumohon nonaktif Jefferson Rumajar yang ada kaitannya dengan pemeriksaan

laporan keuangan daerah Tomohon. Dari hasil penyidikan ditemukan bahwa di saat keduanya

melakukan pemeriksaan laporan Keuangan Tomohon pada 2007, tersangka menerima hadiah

dari walikota nonaktif sebesar Rp 600 juta. Jefferson sendiri sudah ditetapkan tersangka oleh

KPK dengan sangkaan pasal penyuapan. Dalam Tempo (2011) Juru Bicara KPK Johan Budi

menjelaskan

bahwa

pemberian

tersebut

dimaksudkan

untuk

mendapatkan

opini

hasil

pemeriksaan laporan keuangan yang lebih baik dari Tidak Memberikan Pendapat (TPM-

disclaimer) menjadi Wajar dengan Pengecualian (WDP) (detik.com, 2011).

2.2

Analisa Kasus

2.2.1 Kasus Hambalang Jika laporan hasil audit investigasi tersebut hanya diserahkan kepada KPK maka

argumen kerahasiaan berdasarkan UU KIP memiliki relevansi yang kuat. Proses penyelidikan

dan penyidikan oleh KPK dapat terganggu jika dokumen tersebut beredar di publik. Namun

memberikan laporan tersebut secara lengkap kepada DPR, terlepas dari DPR yang meminta

BPK untuk melakukan audit investigasi, relevansi kerahasiaan berdasarkan praduga tersebut

patut dipertanyakan. DPR adalah lembaga negara yang berwenang melakukan pengawasan

dalam rangka akuntabilitas politik. Menyerahkan laporan secara lengkap ke DPR akan

menyebabkan tujuan kerahasiaan substansial dari suatu laporan audit investigasi kehilangan

maknanya pada lembaga semacam ini. Tugas

DPR memang bukan

untuk melakukan

penyelidikan dan penyidikan (pro justicia), meskipun DPR dapat merekomendasikan tindak

lanjut penyidikan ke lembaga yang berwenang melakukannya. DPR merupakan ruang publik,

sehingga penyampaian laporan hasil audit investigasi membutuhkan prasyarat teknis dan

substansial tertentu agar tidak mengganggu kepastian hukum. Apa lagi jika laporan memuat

indikasi keterlibatan anggota DPR.

Membiarkan laporan tersebut tersandera di Pimpinan DPR akan membuat status

kerahasiaan menjadi semu dan sangat memungkinkan adanya intervensi. Membiarkan status

informasi tersebut sebagai suatu ’kerahasiaan semu’ adalah suatu kekliruan mendasar dan

bertentangan dengan tujuan kerahasiaan tersebut. Inilah yang disebut oleh Aftergood sebagai

bad secrecy yang didasarkan atas suatu kepentingan politik. Lebih baik jika laporan hasil

audit investigasi tahap-II BPK mengenai Hambalang yang sudah terlanjur ada di ruang publik

(DPR) ini dibuka ke masyarakat agar tidak menjadi alat tawar-menawar elit berkuasa dan

tindak

lanjut

penyidikan

dapat

diawasi

oleh

publik

luas.

Kredibilitas

BPK

semakin

dipertanyakan, ketika diketahui bahwa ada auditor BPK yang masuk nominasi peserta

Konvensi Partai Demokrat. Hal ini telah melanggar peraturan BPK Nomor 1 tahun 2011

Pasal 6 Ayat 2 yakni Anggota BPK, Pemeriksa, dan Pelaksana BPK Lainnya dilarang

menunjukkan

keberpihakan

dan

dukungan

kepada

kegiatan-kegiatan

politik

praktis.

Seharusnya auditor BPK memiliki kompetensi yang cukup dan dapat melaporkan salah saji

yang material bila auditor BPK memiliki independensi terhadap objek auditnya dan taat

terhadap kode etik serta memiliki independensi sehingga tidak mudah untuk diintervensi oleh

pihak luar.

Banyak partai politik berusaha menancapkan kaki tangan di beberapa lembaga

pemerintahan termasuk di BPK. Kepentingannya adalah mengamankan para koleganya. Ini

sangat berbahaya sekali. Oleh sebab itu idealnya BPK harus steril dari unsur-unsur partai

politik. Kalau kepentingan politik masuk ke wilayah BPK maka keruwetan dapat terjadi

karena ditunggangi kepentingan politik legislatif dan eksekutif dalam penggunaan anggaran

yang cenderung menabrak aturan. Atas semua itu laporan keuangan harus tetap disajikan

secara akuntabel.

2.2.2 Kasus RS Sumber Waras

Ada yang janggal dalam temuan BPK yang mengatakan terjadi pelanggaran prosedur

dalam pembelian lahan RS Sumber Waras oleh Pemda DKI Jakarta. BPK keliru dalam

menggunakan acuan sebagai prosedur pengadaan lahan. Diketahui bahwa BPK masih

menggunakan

Peraturan

Presiden

(Perpres)

Nomor

71

Tahun

2012

yang

mengatur

perencanaan, pembentukan tim, penetapan lokasi, studi kelayakan dan konsultasi publik.

Padahal, sudah ada Perpres baru, yang merupakan perubahan keempat dari Perpres 71/2012,

yakni Perpres 40 tahun 2014. Dalam Pasal 121 Perpres 40 tersebut dikatakan bahwa demi

efisiensi dan efektivitas, maka pengadaan tanah di bawah 5 hektare dapat dilakukan

pembelian langsung

antara instansi yang memerlukan dan pemilik tanah. Konsekuensi

adanya pasal ini adalah pemerintah DKI Jakarta tidak perlu mengikuti prosedur yang diatur

dalam pasal lain dalam undang-undang atau peraturan presiden tersebut. Pemerintah cukup

membentuk tim pembelian tanah.

Kekeliruan lainnya adalah penentuan nilai jual obyek pajak (NJOP) yang digunakan

BPK di mana BPK masih menggunakan NJOP berdasarkan nilai kontrak tahun 2013.

Seharusnya BPK menggunakan NJOP tahun 2014, bukan berdasarkan NJOP tahun 2013.

BPK juga sebenarnya bisa melakukan perhitungan NJOP sendiri sesuai dengan prosedur

sehingga ada pembandingnya. Selain itu, Walaupun semua dokumen menyatakan bahwa

Sumber Waras beralamat di Jalan Kyai Tapa, namun BPK bersikukuh bahwa Sumber Waras

beralamat di Jalan Tomang Utara demi rekayasa menjatuhkan Ahok. Padahal, tidak ada satu

dokumenpun yang membuktikan pendapat BPK tersebut dan kemudian hal ini menjadi jelas,

ketika diketahui bahwa auditor BPK pernah menawarkan lahannya untuk dibeli Pemprov

DKI. Sehingga audit yang dilaksanakan padat akan konflik kepentingan. Pemeriksaan BPK

Jakarta atas pembelian lahan Sumber Waras pada 2014 belum akuntabel. Pelanggaran

prosedur dan kerugian negara yang dituduhkan dalam pembelian lahan tersebut sangat

janggal, belum obyektif dan independen. Karena itu, BPK RI harus mengulang pemeriksaan

dan LHP BPK Jakarta belum bisa dijadikan bukti untuk mengusut kasus ini. Dan BPK dapat

dianggap telah melanggar kode etik dimana semua auditor BPK harus memiliki integritas,

independensi,

dan

profesionalisme

serta

selama

menjalankan

tugasnya

harus

martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas BPK.

2.2.3 Kasus Penyuapan Auditor BPK

menjaga

Opini WTP yang diperoleh pemerintah daerah maupun lembaga dari BPK dapat

dijadikan sebagai sarana pencitraan. Termasuk salah satu upaya menutupi kasus korupsi.

Sebagai modal untuk maju lagi menjadi calon kepala daerah. Atau opini WTP menjadi

tameng pemerintah daerah atau lembaga agar dapat terbebas dari kasus korupsi. Kondisi

seperti ini sangat disayangkan. Hanya untuk meningkatkan citra palsu, maka para menteri,

kepala lembaga, gubernur, bupati dan walikota berlomba-lomba mendapatkan opini WTP

meski dengan cara yang tidak benar, seperti menyuap auditor BPK.

Audit harus dilakukan dengan profesional dan tidak ada unsur politik, apalagi terdapat

persekongkolan di dalamnya. Jangan sampai terjadi audit yang dilakukan oleh BPK adalah

sebagai lahan korupsi. Dimana hasil opini WTP, WDP atau Disclaimer adalah bukan soal

audit tapi soal berapa besar saweran ke BPK. Kalo saweran besar, hasil auditnya akan tetap

kelihatan bagus, walaupun jelas-jelas ada indikasi penyimpangan dan pada akhirnya temuan-

temuan besar adanya penyimpangan berakhir dengan negosiasi.

Jika BPK sebagai Lembaga Tinggi Negara, dan berfungsi sebagai Auditor Negara

sudah terkontaminasi oleh praktek Mafia Korupsi, dan rela menggadaikan independensinya

dalam menjalankan tugas pemeriksaan keuangan negara, dengan memanipulasi opini hasil

audit, seperti yang dilakukan oleh Auditor BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota

Bekasi,

dan

sangat

terbuka

kemungkinan

terjadi

Pemerintah Daerah yang lain, BUMN, BUMD dan

juga

pada

Kementerian/Lembaga,

BLU, maka sangatlah wajar korupsi

menjadi semakin marak, dan sering menemui kegagalan dalam pengungkapannya. Karena

dengan

opini

membawa

Wajar

Tanpa

konsekuensi,

diperiksa/Auditee,

dinyatakan

Pengecualian

(WTP)

terhadap

suatu

Laporan

Keuangan,

bahwa

suatu

instansi

sebagai

pihak

yang

telah mengelola keuangan negara

(APBN/APBD) yang

menjadi tanggung jawabnya, dengan baik dan tanpa ada pelanggaran terhadap peraturan

perundang-undangan

korupsi yang terjadi.

yang berlaku. Dengan demikian, akan tertutuplah praktek-praktek

2.3

Solusi

Beberapa kasus yang telah diuraikan diatas, merupakan bukti bahwa masih lemahnya

komitmen, independensi dan integritas auditor BPK, sehingga auditor BPK tidak dapat

menjaga profesionalitas, moral, dan etika dalam melaksanakan tugasnya dan pada akhirnya

akan mempengaruhi kualitas dari audit yang dilakukan. BPK akan sulit terlepas dari konflik

kepentingan dikarenakan mekanisme pemilihan anggota BPK sebenarnya sudah mengandung

kelemahan mendasar baik dari sisi normatif maupun praktis. Kelemahan normatif dimaksud

terkait dengan ketidaksempurnaan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa

Keuangan

yang

antara

lain

mengatur

mengenai

pemilihan

anggota

BPK.

Sedangkan

persoalan praktis berkaitan dengan realitas proses pemilihan anggota BPK oleh Komisi XI

yang rawan penyimpangan. Kombinasi kedua kelemahan ini pada akhirnya akan mengurangi

jaminan bahwa anggota BPK yang terpilih adalah pribadi-pribadi yang berkualitas baik dari

sisi integritas moral maupun kompetensi. Untuk itu pemerintah dan DPR harus merevisi UU

Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK. Revisi difokuskan pada proses perekrutan anggota BPK

yang steril dari koneksi politik.

Sebagai lembaga pemeriksa ekstern pemerintah, BPK harus mandiri atau independen,

bebas dari berbagai pengaruh dan kepentingan. Syarat ini mutlak agar fungsi kontrol yang

dilakukan BPK dapat dijalankan secara efektif. BPK harus bekerja tanpa kompromi karena

yang dipertaruhkan adalah kepentingan publik. Oleh karena itu, salah satu syarat mutlak

seorang calon anggota BPK adalah tidak boleh memiliki afiliasi dengan partai politik. Bisa

dibayangkan apabila seseorang yang sebelumnya menjadi anggota aktif sebuah partai politik,

tiba-tiba menjadi anggota BPK dan menerima laporan dari para auditor mengenai kasus besar

yang melibatkan kawan-kawannya yang berasal dari partai politik dari mana dia berasal.

Selain itu, banyaknya auditor BPK yang tertangkap tangan menerima suap merupakan

bukti bahwa auditor BPK tersebut tidak bisa menjaga integritasnya. Untuk memelihara dan

meningkatkan

kepercayaan

publik,

setiap

anggota

harus

memenuhi

tanggung

jawab

profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Kasus seperti ini juga terjadi diakibatkan

karena lemahnya pengawasan internal di Instansi Pemerintah yang bersangkutan, turut serta

dalam merekayasa/memanipulasi Opini Hasil Audit/Pemeriksaan oleh BPK atas Laporan

Keuangan Instansi terkait.

Banyak analisa BPK yang masih keliru dalam melakukan pemeriksaan. Hal itu bisa

dilihat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan BPK

belum maksimal.

Diharapkan bagian

penelitian dan pengembangan (litbang) atau pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) BPK

bisa berperan dengan memberikan pendidikan dan pelatihan agar mendukung pekerjaan

auditor dan dapat meningkatkan kompetensi auditor. Kompetensi tidak boleh diabaikan

karena

pekerjaan

BPK

yang

utama

adalah

mengaudit

pengelolaan

keuangan

negara.

Dikarenakan aspek profesionalitas sangat diperlukan, seorang anggota BPK harus memahami

dua hal sekaligus, yaitu seluk beluk pengelolaan anggaran negara dan cara mengaudit

pertanggungjawabannya.

Selain

itu,

dalam

rangka

untuk

memperbaiki

kualitas

audit

BPK,

diharapkan

pemerintah dapat melembagakan partisipasi publik dalam proses audit yang mengkhususkan

diri terlibat dan memantau kerja BPK. Karena BPK bisa saja tidak selalu benar. Untuk itu

diperlukan lembaga yang dapat memantau kerja BPK.

BAB III

PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Pemeriksaan

terhadap

laporan

keuangan

terhadap

Pemerintah

Daerah

dan

Kementerian serta lembaga lainnya, bertujuan untuk memberikan opini tentang kewajaran

penyajian laporan keuangan. Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksaan mengenai

kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Audit yang dilakukan oleh BPK

harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dapat dipertanggungjawabkan kepada

publik dan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

BPK sebagai lembaga pemeriksa keuangan negara seharusnya mempunyai kewajiban

mendeteksi dan mengungkap setiap kemungkinan kecurangan dan penyimpangan yang

terjadi dalam operasional seluruh pemerintahan pusat dan daerah, kementerian, dan lembaga.

Karena yang dilakukan oleh BPK adalah bersifat sebagai kontrol, maka maraknya korupsi

saat ini seharusnya BPK dengan seluruh anggota organisasinya mempunyai sikap ‘skeptis’

yang tinggi terhadap operasional yang dijalankan oleh kebanyakan aparatur sipil negara serta

menjunjung tinggi integritas dan independensi karena BPK sejatinya merupakan

tulang

punggung pemberantasan korupsi. Hasil audit (opini) BPK menjadi rujukan institusi penegak

hukum dalam menilai ada tidaknya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan negara.

Daftar Pustaka

Diunduh dari www.hukumonline.com

Diunduh dari www.kompas.com

Diunduh dari www.detik.com

Halim, Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi keuangan daerah, Edisi Revisi.

Jakarta: Salemba Empat.

Mulyadi. 2002. Auditing Buku 1, Edisi Keenam. Jakarta: Salemba Empat.

Undang-Undang

Nomor

15

Tahun

2004

Pertanggungjawaban Keuangan Negara.

Tentang

Pemeriksaan

Pengelolaan

dan

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Keraguan atas Kualitas Audit BPK

Mata Kuliah:

Pengauditan Sektor Publik

Kualitas Audit BPK Mata Kuliah: Pengauditan Sektor Publik Dosen: Suyanto, Ph.D, CA Disusun Oleh: Sri Rachmawati

Dosen: Suyanto, Ph.D, CA

Disusun Oleh:

Sri Rachmawati Rachman

15/391689/PEK/21135

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2016