Anda di halaman 1dari 7

Terwujudnya Tertib Bangunan di Kota Bandung Oleh: Deddy Pandji Santosa

TERWUJUDNYA TERTIB BANGUNAN DI KOTA BANDUNG SANGAT DIPENGARUHI


OLEH SIKAP WARGA MASYARAKAT DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN MELALUI
EFEKTIVITAS PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN OLEH : Deddy Pandji Santosa
ABSTRAK Pelaksanaan penataan ruang kota dan pembangunan fisik kota di Kota Bandung
sampai saat ini belum sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota ( RUTRK) dan Rencana
Tata Ruang Wilayah ( RTRW) Kondisi ini disebabkan oleh beberapa factor yaitu bahwa unsure
aparat pelaksana pengawasan dan pengendalian di lapangan belum bekerja secara optimal, juga
karena masih kurangnya kesadaran masyarakat di dalam hal tata cara pendirian bangunan Dari
hasil pengujian hipotesis di simpulkan bahwa pelaksanaan kebijakan tentang bangunan dan sikap
warga masyarakat sangat berpengaruh terhadap efektivitas pengawasan dan pengendalian yang
bermuara kepada terwujudnya tertib bangunan di kota Bandung Implikasi dari berbagai
kelemahan dan kendala sebagai temuan ini pada akhirnya membawa pengaruh terhadap
pelaksanaan kebijakan tentang bangunan dan sikap warga masyarakat dan juga terhadap
efektivitas pengaasan pengendalian serta terhadap terwujudnya tertib bangunan di kota Bandung
Untuk mengatasi masalah tersebut maka langkah yang harus diambil oleh pemerintah kota
Bandung adalah agar sumber dana untuk operasional sebagai salah satu hambatan di dalam
rangka pelaksanaan tugas Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya harus dipenuhi sesuai dengan
kebutuhan dan juga dilakukan peningkatan kemampuan dan ketrampilan ( skills) para pegawai
dalam rangka pelaksanaan tugasnya, kemudian dilakukan pemeriksaan anggaran sebagai bentuk
pengawasan oleh pimpinan, meningkatkan motivasi kerja pegawai Pengawasan dan
pengendalian tentang bangunan akan efektif apabila setiap penertiban yang dilakukan sesuai
dengan norma/peraturan yang berlaku dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan Kata
Kunci: Pelaksanaan Kebijakan, Sikap Wagra Masyarakat, Efektivitas, Pengawasan pengendalian.
I. PENDAHULUAN Sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung merupakan Kota
besar yang mempunyai kedudukan sangat penting dan strategis terutama sebagai salah satu kota
penyangga ibukota Negara yaitu Jakarta. Kota Bandung juga merupakan kota tujuan wisata, kota
pendidikan, kota jasa, yang karena itu pembangunan dan penataan sarana dan prasarananya
sangat ditentukan oleh keberadaan lingkungan yang mempengaruhinya, seperti perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, pertambahan jumlah penduduk yang semakin pesat, dan
perkembangan kota-kota di sekitarnya yang kian meningkat. Sehingga perkembangan dan
pertumbuhan tersebut memerlukan pengaturan tata ruang dan peruntukan lahan yang sesuai
dengan kegiatan penataan kota yang sehat, rapi, aman dan nyaman, tidak terjadi tumpang tindih
fungsi kota yang dapat menimbulkan ketidaktertiban dan kesemrawutan kota. Harapan-harapan
tersebut dapat terwujud apabila seluruh aparat yang terkait dalam Dinas Tata Ruang dan Cipta
Karya Kota Bandung dapat menjalankan tugasnya secara profesional sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya ( Tupoksi), wewenang dan tanggung jawab masing-masing, sehingga visi dan misi
organisasi dapat tercapai. Secara umum tugas pokok dan fungsi Dinas Tata Ruang dan Cipta
Karya adalah mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah-masalah
bangunan yang ada di wilayah Kota Bandung. Hal ini mengandung arti bahwa seluruh
pelaksanaan kebijakan tentang bangunan ( Perda tentang bangunan) dalam rangka penertiban,
pengawasan dan pengendalian, penyuluhan, perizinan bangunan yang ada di wilayahnya menjadi
tanggungjawabnya. Sesuai dengan keberadaan Kota Bandung yang semakin meningkat
pertumbuhannya, menyebabkan Kota Bandung memiliki beban semakin berat terutama yang
berkaitan dengan masalah-masalah potensi, keadaan geografis dan demografis, serta prospek
pengembangan wilayah dimasa mendatang disamping tugas-tugas internalnya yang menyangkut
pelayanan public/masyarakat di dalam hal pembinaan rancang bangun bagi masyarakat,
penyuluhan dan pendataan, pengawasan dan pengendalian bangunan dan tindak lanjut dari
pelanggaran-pelanggaran bangunan. Mengingat kompleksnya tugas yang dipikul oleh Dinas,
maka dukungan penuh dari seluruh pegawainya adalah kunci utama bagi tercapainya tujuan
organisasi dalam hal ini Pemerintah Kota Bandung, yaitu terwujudnya tertib bangunan di Kota
Bandung. Akan tetapi harapan-harapan tersebut tidak akan terwujud apabila dihubungkan dengan
keberadaan Distarcip dimana proses pelaksanaan pekerjaan belum mencapai hasil yang optimal
yang juga dipengaruhi oleh rendahnya motivasi pegawai dalam pelaksanaan tugasnya.
Keterangan tersebut di atas sangat beralasan berdasarkan pengamatan dan data yang
dikumpulkan oleh penulis yang mengindikasikan adanya permasalahan-permasalahan di dalam
proses pendirian bangunan. Permasalahan-permasalahan tersebut di sebabkan oleh beberapa
factor antara lain: A. Aktivitas kerja pegawai pada Distarcip belum optimal sehingga pencegahan
dini terhadap pelanggaran pendirian bangunan sering terlambat. Keadaan ini dapat diartikan
bahwa pemeriksaan-pemeriksaan dan pengawasan dilapangan terhadap bangunan-bangunan,
baik rumah tinggal, bangunan gudang, bangunan pertokoan, perkantoran dan bangunan industry
tidak dilaksanakan secara kontinyu dan terus menerus, sehingga terjadi pelanggaran dan
penyimpangan di dalam pelaksanaannya yang tidak sesuai denga peraturan yang berlaku Sebagai
contoh dalam satu tahun masyarakat yang mendirikan bangunan maupun yang merenovasi rata-
rata di seluruh wilayah Kota Bandung mencapai 4000 unit, sementara yang mengajukan
permohonan Ijin mendirikan bangunan ( IMB) hanya sekitar 50% saja, sisanya adalah bangunan
yang tidak memiliki IMB. Masyarakat yang tidak mengajukan permohonan IMB itu terdiri dari
beberapa tipe factor penyebabnya diantaranya: 1. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dan
pemehaman tentang pentingnya memiliki IMB 2. Karena masalah-masalah yang menyangkut
data-data surat kepemilikan tanah yang tidak lengkap 3. Bangunan-bangunannya didirikan di atas
lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya 4. Belum optimalnya penyuluhan tentang
peraturan-peraturan dan kenijakan tentang bangunan di Kota Bandung kepada masyarakat B.
Proses tindak lanjut dari pelanggaran bangunan yang didirikan tanpa memiliki surat Ijin
mendirikan Bangunan ( SIMB) sering mengalami keterlambatan, diantaranya pembuatan surat-
surat pemanggilan, surat perintah penghentian pekerjaan, surat perintah pembongkaran
bangunan, sehingga akibatnya bangunan-bangunan yang sudah terlanjur didirikan menjadi
sebuah permasalahan baru bagi Dinas, hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pengawasan dan
pengendalian belum berjalan secara efektif, sehingga akhirnya terpaksa harus dilakukan tindakan
represif berupa pembongkaran bangunan yang berimplikasi permasalahan sosial yang baru. Data
yang diperoleh dari Distarcip perihal proses tindak lanjut dari pelanggaran bangunan yang
didirikan tanpa memiliki SIMB dan yang melanggar ketentuan Tata Ruang di Kota Bandung
setiap tahunnya hampir mencapai 2000 unit, sementara yang telah dilaksanakan tindakan sesuai
sangsi hukum hanya berkisar 60% saja atau rata-rata pertahun 1200 unit, sehingga masih tersisa
bangunan-bangunan yang tidak memiliki legalitas formal berupa SIMB 40% atau sekitar 800
unit. Faktor-faktor penyebab tidak tuntasnya penertiban melalui tindakan pensegelan dan
pembongkaran bangunan yang didirikan tanpa memiliki SIMB antara lain: 1.
Kurangnya/terbatasnya SDM/karyawan pada Distarcip baik dari sisi kuantitas maupun kualitas di
bidang teknik pengawasan dan pengendalian bangunan 2. Mobilitas pegawai dan motivasi
pegawai masih rendah di dalam pelaksanaan tugas-tugasnya 3. Masih terbatasnya sarana dan
prasarana operasional bagi pelaksanaan tugas pengawasan 4. Masih rendahnya koordinasi antara
Distarcip dengan instansi-instansi terkait lainnya seperti aparat Kelurahan dan Kecamatan,
Satpol PP dll. C. Tertundanya tindakan-tindakan dari Distarcip terhadap pelaksanaan pensegelan
dan pembongkaran bangunan yang melakukan pelanggaran tata ruang dan tidak memiliki SIMB,
itu diakibatkan karena fungsi pimpinan yang dijalankan oleh kepala Distarcip kurang
mempengaruhi sikap dan perilaku sebagian karyawannya, baik secara persuasive maupun secara
edukatif sehingga belum mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada proses
pelaksanaan pekerjaan. Penundaan tindakan yang berupa pensegelan dan pembongkaran
bangunan-bangunan akan menimbulkan masalah lain yaitu masalah social dimana tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap aparat khususnya Distarcip akan menurun. Menurut data yang
diperoleh dari Distarcip mengenai jumlah bangunan yang masih tertunda tindakan hukumnya
setiap tahun sekitar 40% yaitu sekitar 800 unit. Faktor penyebab lainnya yang menjadikan
tertundanya tindakan represif terhadap pelanggaran bangunan adalah: 1. Para pegawai/karyawan
Distarcip khususnya di bagian pengawasan dan pembongkaran bangunan belum mampu
melaksanakan tugasnya dalam rangka mengatasi permasalahan-permasalahan penindakan 2.
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk membongkar sendiri bangunannya yang melanggar
peraturan 3. Kurangnya sarana peralatan penunjang yang dimiliki Dinas untuk melaksanakan
tindakan pembongkaran bangunan 4. Kurang tersedianya dana/anggaran untuk pembiayaan
pelaksanaan tindakan pembongkaran bangunan. Dengan demikian disadari atau tidak,
perkembangan pendirian bangunan di Kota Bandung saat ini masih terjadi berbagai
permasalahan-permasalahan, dimana permasalahan yang pokoknya antara lain adalah: 1.
Pengaruh pelaksanaan Kebijakan tentang bangunan sebagai alat kendali pengawasan
pembangunan fisik kota kurang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari
masih banyaknya warga masyarakat yang kurang perduli mengenai peraturan serta tata cara
mendirikan bangunan di Kota Bandung 2. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi
secara aktif dalam mewujudkan ketertiban bangunan, serta kurangnya kesadaran mereka untuk
menata lingkungan pemukiman-pemukiman yang semrawut dan kumuh yang tidak sesuai dengan
perencanaan kota 3. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh masyarakat kurang lebih baru 60%
yang telah memiliki Surat Ijin Mendirikan Bangunan (SIMB), sisanya sekitar 40% belum
memiliki SIMB. II. SOLUSI DAN HARAPAN Sebagaimana telah diuraikan pada pendahuluan
di atas bahwa salah satu factor penyebab terjadinya banyak pelanggaran-pelanggaran di dalam
hal pelaksanaan pendirian bangunan-bangunan di wilayah kota Bandung adalah pelaksanaan
Kebijakan tentang bangunan yang merupakan alat pengawasan dan pengendalian terhadap
pelaksanaan pendirian bangunan. Merujuk kepada beberapa ahli mengenai Kebijakan public
seperti diuraikan oleh Friederick dalam Wahab(2004:3) yang menyatakan bahwa: Kebijakan
ialah sesuatu yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau
pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu
seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang
diinginkan. Sementara ahli lainnya yaitu Anderson dalam Wahab ( 2004:3) mengemukakan:
Kebijakan adalah sebagai langkah tindakan yang secara sengaja dilakukan oleh seorang actor
atau sejumlah actor berkenaan dengan adanya masalah atau persoalan tertentu yang dihadapi.
Dimensi-dimensi dari pelaksanaan kebijakan menurut Edward III dalam Iskandar ( 245:35)
adalah : A. Komunikasi. 1. Komunikasi. Dimana komunikasi adalah proses saling
berbagi/menggunakan informasi secara bersama dan pertalian antara para peserta proses
informasi 2. Komunikasi adalah proses pertukaran informasi antara dua orang atau lebih dan
dalam proses ini terjadi kegiatan-kegiatan member/mengirim, menerima dan menanggapi
( sebagai umpan balik) pesan-pesan diantara orang-orang yang berinteraksi B. Sumber Daya
Faktor lain dari pelaksanaan kebijakan adalah :Upaya peningkatan Kualitas Sumber Daya 1.
Sumber daya bukan manusia yang tersedia atau dapat disediakan oleh organisasi selalu terbatas
vis a vis tujuan individual dan organisasional yang tidak terbatas 2. Meskipun sumber daya dana
dan sarana serta prasarana kerja mutlak diperlukan hal-hal tersebut pada dirinya tidak
meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi C. Struktur Birokrasi 1. Untuk
merombak lembaga-lembaga pemerintah adalah pekerjaan besar. Agar berhasil, harus
mendapatkan dongkrak yang mempu memindahkan gunung, harus mendapatkan strategi yang
menyebabkan reaksi berantai dalam organisasi atau sistem. Ada efek domino yang akan
menentukan kartu-kartu lain yang harus dijatuhkan. Istilah yang tepat untuk ini adalah, harus
bersifat strategis. Memahami tentang Sikap masyarakat di dalam studi kepustakaan dapat
diuraikan bahwa : Sikap merupakan produk dari proses sosialisasi, dimana seseorang bereaksi
sesuai dengan rangsang yang diterima. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti behwa
penyesuaian diri terhadap objek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan social dan kesediaan untuk
bereaksi dari orang tersebut sebagai objek. Menurut Robbin ( 2003:90) bahwa: Sikap adalah
pernyataan evaluative baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan mengenai
objek, orang, atau peristiwa. Sikap mencerminkan bagaimana seseorang merasakan sesuatu.
Sikap tidak sama denga nilai tetapi keduanya saling berhubungan. Sikap dapat diketahui dengan
memandang pada tiga komponen dari suatu sikap yaitu : Pengertian ( Cognition),
Keharuan/emosi ( Affect) dan Perilaku/psikomotorik ( Behavior). Menurut Davis dan Newstrom
( 1996:10) mengatakan : Orang-orang banyak memiliki kesamaan tetapi setiap orang dalam
dunia ini juga berbeda secara individual. Perbedaan individu anggota masyarakat
mengisyaratkan bahwa kepantasan perlakuan terhadap setiap anggota masyarakat seyogyanya
bersifat individual jadi tidak bersifat statistic. Demikian pula perlakuan Pemerintah Kota
Bandung dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan tentang bangunan berdasarkan prinsip-
prinsip tersebut diatas, perlu dilakukan pengklasifikasian kelompok masyarakat yang satu
dengan kelompok masyarakat yang lain berdasarkan tingkat kemampuan ekonomi masing-
masing. Masyarakat adalah suatu komunitas yang diidentifikasi sebagai penduduk suatu wilayah
yang dapat menjadi tempat terlaksananya segenap kegiatan kehidupan kelompok manusia itu.
(Iskandar, 2005:256). Masyarakat menurut Ross dalam Iskandar(2005:154) adalah sebagai
berikut: 1. Masyarakat adalah keseluruhan orang yang tinggal disuatu daerah geografis seperti
desa, kota, atau daerah. 2. Masyarakat adalah kelompok orang-orang yang mempunyai minat
atau fungsi yang sama misalnya dibidang kesejahteraan social, pendidikan, agama, dan lain
sebagainya. Pembangunan fisik kota dan tertib bangunan di Kota Bandung akan terwujud apabila
Efektivitas Pengawasan dan Pengendalian yang dilaksanakan oleh aparat birokrasi dalam halini
Distarcip dapat terlaksana dan dicapai secara optimal. Pengertian Efektivitas menurut Emerson
dalam Iskandar(2005:329) yaitu : Sebagai pengukuran dalam arti tercapainya sasaran dan tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya, hal ini berarti dapat dikatakan suatu kegiatan dapat mencapai
efektivitas jika terjadi sasaran dan tujuan yang ditentukan sebelumnya. Menurut Rosjidi
( 2003:330) memberikan pengertian bahwa:Efektivitas adalah hasil guna yang dapat dicapai
dengan melakukan serangkaian kegiatan sesuai peraturan dan perencanaan yang telah
ditetapkan. Pengawasan adalah proses pengamatan pada pelaksanaan seluruh kegiatan
organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan
rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut Siagian ( 2005:146) : Kegiatan
pengawasan terutama perlu ditujukan untuk melihat adanya penyimpangan-penyimpangan dari
tujuan organisasi ataupun melihat hal-hal yang perlu dilakukan organisasi demi tercapainya
tujuan organisasi secara efisien dan efektif. Pengawasan adalah salah satu fungsi manajemen
yang mencakup semua aktivitas-aktivitas yang dilakukan pihak manajer. Pengawasan ( control),
mempunyai beberapa arti yang lebih spesifik serta beberapa konotasi seperti yang disampaikan
Kast dan Rosenzweig dalam Iskandar ( 2005:147) sebagai berikut: 1. Mencek atau memeriksa 2.
Mengatur 3. Membandingkan 4. Melaksanakan wewenang (mengarahkan atau memerintah) 5.
Mengekang atau mengendalikan Tertib Bangunan sebagai sasaran dari Pelaksanaan Kebijakan
Pemerintah Kota Bandung melalui pengawasan dan pengendalian secara efektif juga akan
berpengaruh terhadap Ketertiban social yang ada di masyarakat. Menurut Iskandar (2005:201)
mengatakan: Ketertiban social (social order) tercipta bilamana kegiatan biasa orang berlangsung
dengan menyenangkan dan dapat diramalkan. Tidak ada satupun masyarakat bahkan masyarakat
yang paling sederhanapun dapat bekerja secara baik jika perilaku kebanyakan anggota
masyarakat itu tidak selalu dapat diramalkan. Pada masyarakat sederhana sosialisasi
menciptakan ketertiban social dengan cara mempersiapkan orang agar bersedia, berperilaku
sebagaimana diharapkan dan tekanan social ( social pressure) memberi imbalan berupa
penerimaan dan pengakuan bilamana orang berperilaku seperti yang diharapkan. Pada
masyarakat yang lebih kompleks juga diperlukan kekuatan demi menjamin berlangsungnya
ketertiban. Pengawasan dan pengendalian yang dikemukakan dalam hal ini yang berkaitan
dengan pelaksanaan kebijakan tentang bangunan serta hubungannya denga sikap warga
masyarakat di dalam hal pelaksanaan peraturan-peraturan dan tata cara pendirian bangunan.
Fungsi pengawasan disini adalah dalam rangka menghindarkan dan mengurangi tingkat
penyimpangan dalam hal pendirian bangunan oleh masyarakat. Mengendalikan setiap kegiatan
membangun oleh masyarakat agar pelaksanaannya sesuai dengan Kebijakan Pemerintah Kota
yang tertuang di dalam Peraturan Daerah No 14 tahun 1998 tentang tata cara pendirian
bangunan. Penulis memiliki asumsi dan anggapan dasar bahwa: Apabila pelaksanaan kebijakan
tentang bangunan dan sikap warga masyarakat yang positif akan dapat mewujudkan terciptanya
ketertiban didalam hal pendirian bangunan oleh masyarakat melalui pelaksanaan pengawasan
dan pengendalian yang dilakukan secara efektif oleh aparat pemerintah, dalam hal ini
dilaksanakan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung. III. Langkah-Langkah
Strategis Yang dilakukan untuk terwujudnya Tertib Bangunan di Kota Bandung Bila kita merujuk
pada teori kebijakan yang dikemukakan oleh Dunn ( 2000:2) yang menyatakan: ...Metodologi
Analisis Kebijakan bisa diartikan sebagai sistem standar dari aturan dan prosedur untuk
menciptakan dan secara kritis menilai serta mengkomunikasikan pengetahuan yang relevan
dengan kebijakan. Dengan demikian maka langkah strategis adalah: 1. Dalam melaksanakan
kebijakan tentang bangunan, jalinan komunikasi pihak-pihak terkait di lingkungan Distarcip
melalui forum dialog telah berhasil mewujudkan saling pengertian yang sangat konstruktif dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari. 2. Kegiatan pengarahan sebagai bagian dari aspek komunikasi
harus dilakukan secara berkala dan konsisten, untuk menghilangkan hambatan-hambatan tertentu
didalam rangka mencapai peluang atau tujuan. 3. Jumlah personil sebagai SDM yang dimiliki
Distarcip baik secara kualitas maupun secara kuantitas harus memadai untuk mengantisipasi
dinamika pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. 4. Penataan Organisasi di lingkungan
Distarcip harus sederhana, tidak berbelit-belit sehingga kualitas pelayanan kepada masyarakat
menjadi lebih cepat dan efisien. 5. Transparansi dan keterbukaan yang diterapkan oleh Distarcip
sebagai bagian dari penataan birokrasi dan bentuk pelayanan kepada masyarakat, harus berjalan
seperti yang diharapkan, sehingga masyarakat betul-betul diberi bantuan kemudahan dalam
rangka memenuhi kebutuhannya. 6. Pemerintah Kota Bandung harus berhasil melakukan
pembinaan tentang tatacara pendirian bangunan sehingga masyarakat memiliki kesadaran dalam
mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Pembinaan dan sosialisasi yang dilakukan aparat
pemerintah itu akan menunjukkan bahwa pelaksanaan dari kinerja aparat sudah optimal. 7.
Masyarakat harus sepenuhnya patuh terhadap kebijakan tentang bangunan dan sebagian masih
ada yang terkesan terpaksa, maka diharapkan kegiatan pembinaan bagi masyarakat lebih
ditingkatkan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan sikap pengabdian dan partisipasi dari
masyarakat yang tinggi untuk tujuan dan kepentingan masyarakat itu sendiri 8. Pemahaman
masyarakat terhadap pengendalian tata ruang Kota sebagai refleksi dari kognisi masyarakat harus
berjalan dengan baik dan tidak bersifat subyektif, dan pemahaman masyarakat terhadap
pelaksanaan pembangunan di Kota Bandung harus ditingkatkan secara maksimal 9. Pelaksanaan
Kebijakan Pemerintah Kota Bandung harus memberikan kepuasan kepada masyarakat sehingga
masyarakat suka dan peduli dengan kegiatan penataan kota. 10. Pemerintah kota harus
melibatkan masyarakat secara langsung didalam proses pembangunan agar ada kesesuaian reaksi
dan kesesuaian kepentingan sehingga masyarakat mendapatkan rangsangan-rangsangan social
dan reaksi yang bersifat emosional positif. 11. Pemrintah diharapkan untuk lebih konsisten dalam
setiap kebijakan yang dibuatnya agar masyarakat mendukung dan tidak menentang , sehingga
pada pelaksanaan pembangunan dikaitkan dengan aturan-aturan yang berlaku tentang bangunan
kesatuan yang efektif, efisien dan berorientasi pada tujuan. 12. Pemerintah Kota Bandung perlu
meningkatkan dan mewujudkan Prestasi individu pegawai di lingkungan Distarcip secara
periodic dengan melalui pendidikan dan pelatihan, baik penjenjangan mauoun teknis dalam
upaya meningkatkan kemampuan pegawai. 13. Dalam rangka penerapan disiplin, maka
pembinaan sikap/karakter terhadap pegawai harus sering dilakukan di lingkungan Distarcip
secara optimal. 14. Meningkatkan prestasi organisasi yaitu dengan pemenuhan kelengkapan
sarana dan prasarana pelaksanaan tugas dan selalu diupayakan agar memadai sehingga tugas
dapat berjalan secara efektif. 15. Dilakukan konsultasi dan koordinasi dengan instansi terkait
sebagai bentuk usaha kerjasama dalam rangka optimalisasi pelaksanaan tugas 16. Keuntungan
dan kesejahteraan pegawai menjadi hal yang sangat penting untuk terus diupayakan agar
motivasi kerja pegawai terus meningkat 17. Kemampuan pegawai untuk menyesuaikan dengan
iklim kerja dan sistem kerja yang berlaku melalui pembinaan dan pelatihan harus terus
ditingkatkan kembali agar para pegawai bisa beradaptasi dengan iklim kerja dan sistem kerja 18.
Dalam rangka pengembangan komitmen pegawai di lingkungan Distarcip maka pimpinan Dinas
harus selalu berupaya melakukan berbagai macam pendekatan agar timbul jalinan kerjasama
yang terintegrasi, diawali dengan komunikasi yang baik dan akan menimbulkan pengertian yang
harmonis/sejalan yang pada akhirnya akan mengarah pada kebersamaan untuk mencapai tujuan
bersama. 19. Harus ditumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi serta keberadaannya
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Dinas/Organisasi, maka loyalitas yang ditujukan
para pegawai akan cukup tinggi 20. Perilaku individu pegawai menjadi gambaran perilaku
organisasi secara keseluruhan, intuk itu pimpinan Dinas harus sering melakukan pembinaan agar
terbentuk perilaku organisasi yang positif. 21. Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat yang
dilaksanakan oleh Distarcip telah berjalan dengan baik sehingga menciptakan ketertiban social,
lokasi yang ditetapkan untuk kegiatan sosialisasi mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat. 22.
Distarcip senantiasa harus memiliki perencanaan yang matang dalam hal sosialisasi, melalui
persiapan-persiapan, baik secara kemampuan pegawai ataupun secara materi sehingga hasilnya
pemahaman tentang tertib bangunan dapat diserap oleh masyarakat dengan maksimal. 23.
Pemerintah harus menghilangkan konflik atau pertentangan antara masyarakat dengan
pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan tentang bangunan yang diakibatkan oleh
perbedaan kepentingan antara masyarakat dengan pemerintah 24. Pemerintah dalam setiap
pengambilan kebijakan senantiasa perlu memahami karakteristik dan sikap masyarakat yang ada.
Proses penentuan kebijakan melalui prosedur yang benar serta manjalin komunikasi dua arah
yang saling menguntungkan yang akan mampu memperkecil dampak negatif baik bagi
pemerintah maupun bagi masyarakat. IV. SIMPULAN Berdasarkan hasil kajian dan temuan
penting dari makalah ini dapat dikemukakan bahwa : 1. Di dalam pelaksanaan kebijakan tentang
bangunan, permasalahan yang dihadapi berada pada dimensi Sumber Daya, yaitu terhambatnya
pelaksanaan tugas Distarcip yang diakibatkan sumber dana untuk operasional dan kurang
memadainya latar belakang pendidikan para pegawai di lingkungan Dinas. 2. Menyangkut Sikap
warga masyarakat, permasalahan yang dihadapi ada pada dimensi Kognisi, yaitu rendahnya
pemahaman masyarakat terhadap pengendalian tata ruang Kota Bandung, rendahnya obyektivitas
pemahaman masyarakat terhadap pelaksanaan pembangunan di Kota Bandung dan kesadaran
masyarakat untuk mematuhi aturan tentang bangunan di Kota Bandung. Kemudian pada dimensi
perilaku ( behavior), yaitu tingkat emosi yang cenderung destruktif dan perilaku konfrontatif
yang lebih akibat ketidakpuasan masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan tentang bangunan.
3. Menyangkut Efektivitas Pengawasan dan Pengendalian, permasalahan yang dihadapi ada pada
dimensi Prestasi, yaitu kurangnya pendidikan dan pelatihan yang dilakukan Dinas untuk
mewujudkan prestasi individu, kurangnya anjuran pimpinan untuk mengikuti pendidikan formal
maupun pendidikan informal/kursus-kursus yang berkaitan dengan peningkatan prestasi
pegawai, kurangnya pembinaan sikap/karakter pegawai Distarcip, kurangnya evaluasi penetapan
sasaran terhadap prestasi individu dan prestasi kelompok, kurang lengkap serta kurang
memadainya sarana dan prasarana untuk meningkatkan prestasi organisasi dan kurangnya upaya
kongkrit mobilisasi sumber-sumber termasuk penyediaan dana untuk optimalisasi pelaksanaan
tugas. Kemudian pada dimensi tujuan, yaitu kurangnya pemeriksaan anggaran sebagai bentuk
pengawasan oleh pimpinan, rendahnya motivasi kerja pegawai akibat dari keuntungan dan
kesejahteraan para pegawai yang kurang memadai. 4. Kemudian menyangkut Tertib Bangunan,
permasalahan yang dihadapi ada pada dimensi sosialisasi, kurangnya rencana kegiatan dan
persiapan sosialisasi tentang tertib bangunan yang dilaksanakan oleh Dinas, kurangnya daya
serap masyarakat terhadap materi sosialisasi tentang tertib bangunan, minimnya dana yang
dianggarkan untuk kegiatan sosialisasi, rendahnya konsistensi kegiatan sosialisasi. Implikasi dari
berbagai kelemahan dan kendala sebagai temuan ini pada akhirnya membawa dampak terhadap
pelaksanaan kebijakan tentang bangunan dan terhadap Sikap warga masyarakat dalam tujuan
mewujudkan tertib bangunan di kota Bandung melalui efektivitas pengawasan dan pengendalian
yang dilaksanakan oleh aparat Distarcip. Kelemahan dan hambatan tersebut juga merupakan
tantangan bagi Distarcip untuk bekerja lebih baik lagi dimasa mendatang. Berdasarkan simpulan
di atas diketahui secara umum kelengkapan sarana sebagai bagian dari sumber daya material
belum dimiliki sebagaimana mestinya, maka pemerintah harus segera memenuhi kebutuhan
sarana dan prasarana operasioanal, serta sarana transportasi untuk lebih meningkatkan mobilitas
pegawai meningkat sehingga efektivitas pengawasan dan pengendalian dapat tercapai.
Selanjutnya factor lain yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan tentang bangunan adalah
sumber daya manusia. Kuantitas maupun kualitas SDM dalam hal ini para pegawai harus
ditingkatkan kemampuannya di bidang teknik disamping factor yang tidak kalah pentingnya
yaitu meningkatkan motivasi kerja pegawai dengan cara meningkatkan kesejahteraan dan gaji
yang mencukupi. Faktor lain yang harus dibenahi agar masyarakat memiliki sikap yang
konstruktif adalah dengan menghilangkan kesenjangan social, salah satu caranya maka
pemerintah harus menyediakan dan memperluas lapangan pekerjaan dan membuka kesempatan
kerja yg luas kepada masyarakat, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga
kesejahteraan masyarakat benar-benar terwujud