Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau yang sering disingkat dengan ISPA
adalah salah satu jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat di
Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang berbagai usia mulai dari balita, anak-
anak, remaja bahkan seorang lanjut usia dengan berbagai macam jenis
komplikasinya

Infeksi Saluran Pernafasan Akut masih merupakan masalah kesehatan


yang penting di Indonesia karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang
cukup tinggi, yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. Sekitar 40% - 60%
dari kunjungan yang dilakukan ke Puskesmas adalah akibat dari penyakit ISPA.
Angka kematian yang disebabkan akibat penyakit ini mencapai 20% - 30%.
Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan

Pada anak-anak yang memiliki resiko kurang gizi dan tinggal pada
lingkungan yang tidak sehat dapat beresiko menderita penyakit ISPA yang
berlanjut, yang dapat menjadi pneumonia (radang paru-paru). Risiko terjadi
karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu
besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya
atau malah berlebihannya pemakaian antibiotik.

Hingga saat ini angka kematian akibat ISPA yang berat masih sangat
tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat
dalam keadaan parah/lanjut dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi.
Peran tenaga kesehatan diperlukan dalam mengurangi angka penderita ISPA dan
angka kematian akibat komplikasi penyakit tersebut. Oleh karena itu penting bagi
seorang bidan untuk mengetahui mengenai penyakit ISPA agar dapat memberikan
asuhan dan penatalaksanaan yang tepat dalam menghadapi seorang penderita
Infeksi Saluran Pernafasan Akut.

1.2 Rumusan Masalah


1 Apa yang dimaksud dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut?
2 Apa saja klasifikasi dalam penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut?
3 Bagaimana tanda dan gejala yang muncul pada penderita Infeksi
Saluran Pernafasan Akut?
4 Bagaimana proses terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan Akut?
5 Bagaimana penyebab dan cara penularan Infeksi Saluran Pernafasan
Akut?
6 Bagaimana cara penanggulangan Infeksi Saluran Pernafasan Akut?

1.3 Tujuan Penulisan


1 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak
Balita;
2 Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca;
3 Agar dapat mengetahui dan memahami pengertian, etiologi, dan
patofisiologi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA);
4 Agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan pada kasus Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA).

1.4 Manfaat Penulisan


1 Mahasiswa mampu menyusun makalah dengan kreatif dan inovatif;
2 Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan definisi, etiologi, serta
patofisiologi dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA);
3 Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA).

BAB II
TINJAUAN TEORI
1.1 Pengertian

Menurut Nelson, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dibedakan


menjadi dua, ISPA atas dan bawah. Infeksi saluran pernapasan atas adalah infeksi
yang disebabkan oleh virus dan bakteri termasuk nasofaringitis atau common
cold, faringitis akut, uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis kronis, sinusitis.
Sedangkan, infeksi saluran pernapasan akut bawah merupakan infeksi yang telah
didahului oleh infeksi saluran atas yang disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder,
yang termasuk dalam penggolongan ini adalah bronkhitis akut, bronkhitis kronis,
bronkiolitis dan pneumonia aspirasi.

Gambar 4. Anatomi Saluran Pernafasan Berdasarkan Lokasi Anatomi

Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan


seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun
demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan
antibiotik dapat mengakibat kematian.

1.2 Klasifikasi
Penyakit Infeksi akut menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari
saluran nafas mulai hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk
jaringan aksesoris seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Istilah ISPA
meliputi tiga unsur yakni antara lain :
a Infeksi

Infeksi merupakan masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh


manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b Saluran pernapasan

Saluran pernapasan merupakan organ mulai dari hidung hingga alveoli


beserta organ aksesorinya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
c Infeksi Akut

Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari ditentukan


untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat
digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

Berdasarkan kelompok umur program-program pemberantasan ISPA (P2


ISPA) mengklasifikasikan ISPA sebagai berikut kelompok umur kurang dari 2
bulan, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia berat : apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya
penarikan yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam dan
adanya nafas cepat, frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih.
b. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa) : bila tidak ditemukan tanda tarikan
yang kuat dinding dada bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat,
frekuensi kurang dari 60 menit.

Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan atas :


a Pneumonia berat : apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya tarikan
dinding dada dan bagian bawah ke dalam.
b Pneumonia : tidak ada tarikan dada bagian bawah ke dalam, adanya nafas
cepat, frekuensi nafas 50 kali atau lebih pada umur 2 - <12 bulan dan 40
kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan-bulan - <5 tahun.
c Bukan pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam, tidak ada nafas cepat, frekuensi kurang dari 50 kali per menit pada
anak umur 2- <12 bulan dan kurang dari 40 permenit 12 bulan - <5 bulan.

1.3 Tanda dan Gejala

Gejala dari ISPA ringan seseorang balita dinyatakan menderita ISPA


ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
A Gejala dari ISPA ringan
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
1 Batuk
2 Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (pada
waktu berbicara atau menangis)
3 Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
4 Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37C.
B Gejala dari ISPA sedang
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala
dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
1 Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu : untuk kelompok
umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih
untuk umur 2-<12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12
bulan - < 5 tahun.
2 Suhu tubuh lebih dari 39C
3 Tenggorokan berwarna merah
4 Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5 Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6 Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

C Gejala dari ISPA Berat


Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-
gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai
berikut :
1 Bibir atau kulit membiru.
2 Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
3 Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah.
4 Sela iga tetarik ke dalam pada waktu bernafas.
5 Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
6 Tenggorokan berwarna merah.

1.4 Proses Terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan


Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran
mukosa bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan,
dan dilembutkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang
terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam
membran mukosa. Gerakan silia mendorong membran mukosa ke posterior ke
rongga hidung dan ke arah superior menuju faring.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat
berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh
bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan
penyempitan saluran pernafasan dan makrofag di saluran pernafasan. Akibat dari
dua hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing
tertarik dan bakteri tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan
memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan (Mukono, 2008: 17).

1.5 Penyebab dan Cara Penularan ISPA


2.5.1 Penyebab ISPA
1. Menurut Nelson (2002, 1455-1457), Virus penyebab ISPA meliputi virus
parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, koronavirus, koksaka virus A dan
B, Streptokokus dan lain-lain.
2. Perilaku individu, seperti sanitasi fisik rumah, kurangnya ketersediaan air
bersih (Depkes RI, 2005: 30).

2.5.2 Cara Penularan ISPA


Penyebaran ISPA melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda
yang telah dicemari virus dan bakteri penyebab ISPA (hand to hand transmission)
dan dapat juga ditularkan melalui udara tercemar (air borne disease) pada
penderita ISPA yang kebetulan mengandung bibit penyakit melalui sekresi berupa
saliva atau sputum.

1.6 Penanggulangan ISPA

2.6.1 Pencegahan dapat dilakukan dengan :


A Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
B Imunisasi.
C Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
D Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

2.6.2 Pemberantasan yang dilakukan adalah :


A. Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu.
B. Pengelolaan kasus yang disempurnakan.
C. Immunisasi

2.6.3 Pengobatan
A Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotic
parenteral, oksigen dan sebagainya.
B Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat
antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
C Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk
tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang
merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila
demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita
dengan gejala batuk pilek bila
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA


An. A UMUR 4 BULAN DENGAN ISPA SEDANG
DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

NO REGISTER : 01-18-15-74
TANGGAL PENGKAJIAN : 30 Maret 2013
TEMPAT PENGKAJIAN : Di Ruang Melati

BIODATA BAYI
Nama : An. A
Umur : 4 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal/jam lahir : 30 November 2013/ 09.05 WIB

BIODATA : IBU BAPAK


Nama : Ny W Tn. J
Umur : 25 tahun 27 tahun
Agama : Islam Islam
Suku Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : Swasta Wiraswasta

Alamat : RT/RW 27/29 Ds. H, Kec. RT/RW 27/29 Ds. H, Kec.


G, Kab. C G, Kab. C
No.Telp/HP : 081xxxxxxxxx 085xxxxxxxxx

DATA SUBJEKTIF
1. Alasan kunjungan
Ibu mengatakan ingin memeriksakan anaknya
2. Keluhan
Ibu mengatakan anaknya selalu menangis dan tangisannya bersuara serak.
Anaknya demam, pilek, dan nafsu makan berkurang. Hal ini terjadi sudah
terjadi sejak 3 hari terakhir.
3. Riwayat Perinatal
a Riwayat ANC

ANC sejak umur kehamilan 10 minggu. ANC di Bidan.


b Frekuensi: Trimester 1 :1 kali

Trimester 2 : 2 kali
Trimester 3 : 3 kali
c Imunisasi :
1. Hb0 tanggal 30 November 2012
2. BCG tanggal 21 Desember 2012
3. DPT 1 tanggal 21 Januari 2013
4. DPT 2 tanggal 23 februari 2013
5. DPT 3 tanggal 23 maret 2013
6. Polio 1 tanggal 21 Desember 2013
7. Polio 2 tanggal 21 Januari 2013
8. Polio 3 tanggal 23 februari 2013
9. Polio 4 tanggal 23 maret 2013
10. HB 1 tanggal 21 Juni 2013
11. Hb 2 tanggal 23 februari 2013
12. Hb 3 tanggal 23 Maret 2013
d Kenaikan BB ibu saat hamil 10 kg.

e Ibu mengatakan tidak memiliki keluhan apapun saat hamil.


f Ibu mengatakan tidak memiliki penyakit menurun dan penyakit menular
apapun saat hamil
g Ibu mengatakan tidak ada pantangan untuk makanan yang di konsumsi.
h Ibu mengatakan tidak mengonsumsi jamu-jamuan, tetapi mengonsumsi
Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan.
i Ibu mengatakan tidak merokok selama hamil.
j Ibu mengatakan tidak ada komplikasi yang terjadi saat ia hamil.
k Menurut ibu, keadaan janinnya sehat.
4. Riwayat Persalinan

a Ibu mengatakan bahwa bayi lahir tanggal 30 November 2013 jam : 09.05
WIB
b Ibu mengatakan bahwa persalinannya bertempat di RSUD Dr.
MOEWARDI dengan penolong Bidan.
c Ibu mengatakan bahwa bayi lahir secara spontan dengan presentasi
belakang kepala.
d Lama persalinan :
Kala I : 12 jam
Kala II : 2 jam
Kala III : 15 menit
Kala IV : 2 jam
e Komplikasi :
- Ibu : Ibu mengatakan tidak ada komplikasi.
- Bayi : Ibu mengatakan bahwa ini adalah anak pertamanya, dan
menurutnya kelahiran bayinya terjadi secara normal tanpa
komplikasi.
5. Keadaan bayi baru lahir

a BB/PB : 3000 gram/ 50 cm


b Caput Sucedanium : tidak ada
c Cepal Hematoma : tidak ada
d Resusitasi : rangsangan : tidak
e Penghisapan lendir : ya
f Ambubag : tidak
g O2 : tidak
h Cacat bawaan : tidak ada
i Riwayat Imunisasi :

6. Data Psikososial dan Spiritual Orang Tua/keluarga

a Ibu mengatakan bahwa ia dan keluarganya senang serta menerima kelahiran


sang bayi.
b Ibu mengatakan bahwa keputusan dalam keluarga diambil secara
musyawarah dengan suami dan keluarganya.
c Ibu telah mengetahui tata cara merawat bayi dan ia juga mengetahui
bagaimana cara memandikan bayi dengan benar, yang informasinya ia
dapat dari ibu dan ibu mertuanya.
d Ibu mengatakan bahwa tidak ada kebiasaan atau ritual dalam keluarga
berkaitan dengan kelahiran dan perawatan bayi.
7. Data Kebutuhan Biologis

Kebutuhan nutrisi
Jenis makanan danASI
minuman
Frekuensi 8x sehari
Banyaknya
Kebutuhan eliminasi BAK BAB
Frekuensi : 6-7 x/hari Frekuensi : 1x/hari
Warna : kuning Warna : kuning
Masalah : tidak ada Masalah : tidak ada
Konsistensi : lunak
Kebutuhan Personal
Hygiene
Frekuensi mandi 2x/hari
Frekuensi ganti pakaian 2x/hari

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Umum
a Kesadaran : Compos mentis
b Suhu : 39 oC : axial
c Nadi : 120 kali/menit
d Respirasi : 60 x/menit
e BB : 5,6 kg
f PB : 64,5 cm
g Tali pusat : sudah terlepas sejak anak berusia 4 minggu
2. Pemeriksaan Khusus

a Inspeksi:
1 Kepala : Rambut hitam, ada lanugo, kulit rambut bersih
2 Muka : Tidak ada oedem, kemerahan pada muka
3 Mata : Simetris, Konjungtiva merah muda, sklera putih
4 Mulut : Bibir simetris, Tidak sumbing, berwarna merah, gigi
belum keluar, Bagian tenggorokan berwarna merah
5 Hidung : Ada pengeluaran secret berwarna putih kental (ingus)
6 Telinga : Ada pengeluaran secret berupa nanah
7 Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
8 Dada : Simetris, gerakan rongga dada teratur, tidak ada tarikan
intercostae, ada suara wheezing (mengi).
9 Perut : Simetris, tidak kembung, tidak ada bunyi obstruksi.
10 Genetalia : Terlihat Labia mayora menutupi labia minora.
11 Tungkai dan kaki : bentuk normal, jumlah jari normal, gerakan aktif
(fleksi)
12 Anus : Terdapat lubang anus.
13 Punggung : tidak terdapat spina bifida
14 Kulit : Pada kulit terdapat bercak kemerahan seperti campak.
b Refleks:

1 Moro : ada
2 Rotting : ada
3 Swallowing : ada
4 Graphs : ada
5 Sucking : ada
6 Tonic neck : ada
c Data Perkembangan
Motorik kasar : bayi sudah bisa tengkurap
Motorik Halus : bayi sudah bisa memegang dan menggerakkan mainan,
mulai bisa menanggapi mainan yang didekatkan.
Bahasa : bayi sudah bisa berbicara papa mama
Sosial : bayi bisa menanggapi respon orang disekitarnya

d Antropometri:
1 PB : 50 cm
2 LK : 34 cm
3 LD : 32 cm
4 LILA : 11 cm
3. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

ANALISIS
1 Diagnosa Kebidanan : An. A umur 4 bulan dengan ISPA sedang.
2 Masalah : Suara tangisan bayi abnormal (serak), bayi pilek, demam
dan nafsu makan berkurang.
3 Kebutuhan : Pemberian asupan nutrisi berupa makanan dan cairan dan
terapi penyembuhan ISPA sedang.
4 Diagnosa Potensial : ISPA berat
5 Masalah Potensial : Tidak ada
6 Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien : kolaborasi dengan
dokter untuk memberikan therapi (antibiotik dan paracetamol) dan obat batuk
pilek.

PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa anaknya mengalami ISPA
sedang dan harus dirawat di rumah sakit.
Ibu mengerti dan bersedia anaknya dirawat di rumah sakit.
2. Memasang Okigenasi agar bayi bisa bernafas dengan baik akibat secret yang
menutupi nasalnya.
Oksigen 1 liter/menit telah di pasang pada bayi.
3. Memasang infus pada bayi agar bayi tidak kekurangan cairan dan mengalami
dehidrasi.
Cairan Intravena berupa Ringer Laktat (RL) telah di pasang pada bayi dengan
kecepatan 6 tetes per menit.
4. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi cetrizine 250 mg,
ambroxol 250 mg, metil prednisolon 75 mg, amoxillin 250 mg, dan Vitamin C.
5. Menganjurkan ibu menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap
bersih dengan cara membersihkan lendir di hidung menggunakan tissue dan
mengganti pakaian bila basah atau kotor, serta menjauhkan bayi dari udara
tercepat ataupun asap rokok.
Ibu sudah mengerti cara menjaga kebersihan anaknya dan bersedia
melakukannya.
6. Memberi pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA sedang pada ibu beserta
tanda bahaya dan tindakan yang harus dilakukan apabila ada tanda bahaya
penyakit ISPA yaitu memberitahu petugas kesehatan.
Ibu mengerti tentang penyakit ISPA sedang dan mampu mengulang tanda-tanda
bahaya penyakit ISPA.
Tanggal 4 Desember 2013 jam 10.00 WIB

BAB IV
PEMBAHASAN

1 Pada pengkajian data subyektif keluhan yang di sampaikan ibu adalah


anaknya selalu menangis dan tangisannya bersuara serak. Anaknya demam,
pilek, dan nafsu makan berkurang yang terjadi semenjak 3 hari terakhir. Hal
ini sudah mengarah pada tanda-tanda infeksi.

2 Pemeriksaan fisik bayi pada data obyektif kasus diatas ditemukan:


- Pengukuran Suhu menunjukkan 39 oC yang di ukur secara axial, bayi sudah
mengalami demam. Hal ini merupakan salah satu tanda infeksi (karena suhu
cukup tinggi pada bayi)
- Respirasi bayi adalah 60 x/menit, yaitu salah satu gejala yang terdapat pada
bayi berusia lebih dari 2 bulan yang terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut
sedang.
- Pada hidung bayi di temukan pengeluaran secret berwarna putih kental yang
berupa ingus, dan ini merupakan tanda bahwa bayi mengalami pilek
sehingga saluran nasalnya tertutup cairan tersebut dan pernafasan terhambat.
- Pada telinga bayi terdapat pengeluaran secret berupa nanah, akibat infeksi
saluran pernafasan. Perlu di ketahui bahwa saluran pernafasan berhubungan
dengan saluran pendengaran, sehingga nanah di keluarkan melalui indra
pendengaran.
- Kulit bayi mengalami bercak kemerahan seperti campak, yang merupakan
salah satu tanda infeksi.
- Pada dada bayi terdapat suara wheezing (mengi) tetapi tidak ada tarikan
intercostae dan gerakan rongga dada teratur. Suara wheezing pada bayi
merupakan indikasi adanya infeksi pada saluran pernafasan sang bayi, tetapi
pernafasan belum terlalu parah karena tidak terdapat retraksi intercostae.
3 Berdasarkan data subyektif yang berupada anamnese pada ibu dan pengkajian
data obyektif yang berupa pemeriksaan fisik pada bayi dapat di diagnosis
bahwa bayi Ny. W yang berusia 4 bulan mengalami Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) sedang, sedangkan muncul diagnosis potensial
sebagai komplikasi dari ISPA sedang yang berupa ISPA berat. Hal ini di
mungkinkan terjadi apabila ISPA sedang tidak segera di tangani.
4 Penatalaksanaan yang di lakukan adalah Memasang Okigenasi dengan
kecepatan 1 liter/menit agar bayi bisa bernafas dengan baik. Di samping itu,
bayi perlu dipasang infus cairan intravena berupa Ringer Laktat dengan
kecepatan 6 tetes per menit agar bayi tidak kekurangan cairan dan mengalami
dehidrasi.
5 Pada kasus ini, bidan perlu berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian
terapi cetrizine 250 mg, ambroxol 250 mg, metil prednisolon 75 mg, amoxillin
250 mg, dan Vitamin C karena ada beberapa obat-obatan yang bukan
kewenangan bidan dalam memberikan kepada si bayi.
6 Selain penatalaksanaan di atas, perlu adanya pemberian konseling kepada
orang tua mengenai kebersihan perorangan dan lingkungan dan selalu
menjauhkan bayi dari udara tercemar seperti asap rokok serta memberi
pendidikan kesehatan tentang penyakit ISPA pada orang tua beserta tanda
bahaya dan tindakan yang harus dilakukan apabila ada tanda bahaya penyakit
ISPA dengan cara membawa bayi ke palayanan kesehatan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1 Infeksi Saluran Pernafasan Akut adalah infeksi yang terjadi pada saluran
pernafasan, meliputi organ mulai dari hidung sampai gelembung paru,
beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan
selaput paru.
2 Infeksi saluran pernafasan akut diklasifikasikan berdasarkan P2 ISPA
menjadi pneumonia berat dan bukan pneumonia untuk usia dibawah 2
bulan serta pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia untuk
ana usia 2 bulan hingga 5 tahun.
3 Infeksi Saluran Pernafasan Akut dapat disebabkan oleh Virus
parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, koronavirus, koksakavirus A dan
B, Streptokokus dan lain- lain, serta perilaku individu, seperti sanitasi
fisik rumah, kurangnya ketersediaan air bersih.

5.2 Saran
1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami mengenai penyakit ISPA dan
cara penatalaksanaan yang tepat
2. Pembaca khususnya tenaga kesehatan diharapkan bisa memahami dan
ikut mengurangi angka penderita ISPA di Indonesia.
3. Para pemimbing atau pengajar serta mahasiswa diharapkan mampu
memberi pendidikan mengenai ISPA kepada masyarakat terutama kaum
ibu.

DAFTAR PUSTAKA

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20483/.../Chapter%20II.pdf